Abah Raden Syair Langit Meluruskan Sejarah dan Ajaran Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar yang Selama ini di Palsukan
Untuk penjelasan selengkapnya, silahkan buka video yang sudah dicantumkan, penjelasan yang langsung disampaikan oleh Abah Raden Syair Langit, dan juga untuk versi lengkapnya, silahkan bisa dilihat di Kitab karya Abah Raden Syair Langit alias Abah leuweunggede, didalam Kitab Sajatining Mulyo.
Nama Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar hingga hari ini masih menjadi salah satu nama yang paling banyak diperdebatkan dalam sejarah Islam di tanah Jawa. Ironisnya, semakin banyak orang membicarakan beliau, justru semakin banyak pula fitnah yang disandarkan kepada beliau.
Ada yang mengatakan beliau lahir dari seekor cacing. Ada yang mengatakan beliau tidak pernah shalat. Ada yang mengatakan beliau meninggalkan puasa. Bahkan ada yang menuduh beliau mengaku sebagai Tuhan melalui ajaran *Manunggaling Kawulo Gusti*. Semua tuduhan itu terus beredar dari generasi ke generasi, hingga akhirnya banyak orang membenci Syekh Siti Jenar tanpa pernah mengkaji sejarahnya secara utuh.
Padahal, jika kita meneliti berbagai naskah kuno, tradisi lisan, dan berbagai sumber sejarah Nusantara secara lebih mendalam, akan terlihat bahwa persoalan Syekh Siti Jenar bukan hanya persoalan ajaran tasawuf, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan pergolakan politik pada masa awal Kesultanan Demak.
Pada masa itu terjadi berbagai konflik perebutan kekuasaan, perselisihan antare lit kerajaan, hingga muncul ketegangan antara pihak kerajaan dengan kelompok masyarakat yang dipimpin para murid Syekh Siti Jenar, khususnya dari wilayah Pengging di bawah Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenongo.
Selain itu, Syekh Siti Jenar dikenal melakukan perubahan sosial yang sangat besar. Beliau menghapus sistem yang membedakan antara *gusti* dan *kawulo*. Di desa-desa Lemah Abang yang beliau bina, rakyat diperlakukan sebagai manusia yang memiliki hak, kehormatan, keluarga, tanah, dan kebebasan menjalankan agama, bukan sekadar objek kekuasaan kerajaan.
Perubahan sosial inilah yang kemudian dianggap sebagai ancaman politik. Maka tidak mengherankan apabila nama Syekh Siti Jenar kemudian menjadi sasaran berbagai fitnah sejarah.
Namun fitnah terhadap beliau ternyata tidak berhenti di situ.
Ada persoalan lain yang sering dilupakan banyak orang, yaitu munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Pada masa itu belum ada kamera, belum ada dokumentasi sebagaimana sekarang. Sangat mudah seseorang mengaku sebagai tokoh tertentu, lalu mengajarkan pemikiran yang sebenarnya bukan berasal dari tokoh tersebut.
Salah satu nama yang disebut dalam beberapa tradisi adalah San Ali Anshar, yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Ia mengajarkan bahwa setelah mencapai hakikat, seseorang tidak lagi wajib shalat, tidak lagi wajib puasa, dan syariat dianggap tidak diperlukan.
Inilah ajaran yang kemudian diluruskan sendiri oleh Syekh Siti Jenar bersama Sunan Kalijaga dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pertemuan Agung di Tri Tingal. Di sanalah Ki Ageng Pengging yang sempat mengikuti guru palsu akhirnya mengetahui bahwa selama ini ia telah tertipu.
Di Tri Tingal ditegaskan kembali bahwa **Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah meninggalkan syariat, melainkan menyempurnakan syariat dengan hakikat.**
Karena itu, wahai sedulur sedayana...
Hari ini banyak orang mengaku sebagai pengikut Syekh Siti Jenar. Namun marilah kita mengujinya dengan pertanyaan yang sangat sederhana.
**Apakah Syekh Siti Jenar menegakkan shalat?**
Kalau benar beliau shalat, mengapa mereka meninggalkan shalat?
**Apakah beliau berpuasa?**
Kalau benar beliau berpuasa, mengapa mereka justru menganggap puasa tidak lagi wajib?
**Apakah beliau senantiasa berdzikir kepada Allah?**
Kalau benar demikian, mengapa mereka lebih sibuk membicarakan maqam dirinya daripada mengingat Allah?
Maka ketahuilah wahai sedulur sedayana...
Orang yang meninggalkan syariat dengan alasan sudah mencapai hakikat, bukanlah murid Syekh Siti Jenar.
Sebab Syekh Siti Jenar yang sejati justru mengajarkan bahwa **syariat adalah fondasi, hakikat adalah isi, sedangkan makrifat adalah buahnya. Tidak mungkin seseorang memetik buah apabila ia menebang batang pohonnya.**
Sesungguhnya mereka tidak sedang mengikuti Syekh Siti Jenar, tetapi sedang mengikuti hawa nafsunya sendiri, lalu meminjam nama Syekh Siti Jenar untuk membenarkan kesesatan yang mereka buat.
Adapun ajaran **Manunggaling Kawulo Gusti** yang sebenarnya, bukan berarti manusia menjadi Tuhan.
Ajaran itu memiliki tujuan yang sama dengan konsep **fana', baqa', ittihad, hulul**, maupun **Wahdatul Wujud** sebagaimana dijelaskan para ulama tasawuf, yaitu lenyapnya ego seorang hamba di hadapan kebesaran Allah.
Yang hilang adalah kesombongan dirinya, bukan syariatnya.
Yang hancur adalah keakuannya, bukan shalatnya.
Yang sirna adalah hawa nafsunya, bukan puasanya.
Yang lenyap adalah ujub dan riya', bukan dzikirnya kepada Allah.
Semakin tinggi maqam seseorang, justru semakin sempurna syariatnya.
Karena orang yang benar-benar mengenal Allah akan semakin takut kepada Allah, semakin istiqamah dalam ibadah, semakin rendah hati kepada sesama manusia.
Itulah sebabnya Syekh Siti Jenar sepanjang hidupnya tetap dikenal sebagai ahli ibadah, ahli dzikir, ahli tahajud, dan seorang wali Allah yang sangat menjaga syariat.
Beliau bahkan meninggalkan wasiat yang sangat tegas agar para muridnya tidak mengkultuskan dirinya.
Beliau melarang mencium kaki guru secara berlebihan, melarang mengambil berkah dengan cara-cara yang melampaui syariat, serta melarang menjadikan manusia sebagai objek pengagungan yang berlebihan.
Beliau menegaskan bahwa siapa saja yang mengkultuskan dirinya, maka orang itu bukanlah muridnya.
Inilah wajah Syekh Siti Jenar yang sebenarnya.
Bukan tokoh yang anti syariat.
Bukan tokoh yang mengaku Tuhan.
Bukan tokoh yang menghalalkan meninggalkan shalat.
Tetapi seorang wali Allah yang memperjuangkan tauhid, keadilan sosial, penyucian hati, dan keseimbangan antara syariat, hakikat, serta makrifat.
Karena itu, marilah kita bersikap adil dalam membaca sejarah.
Jangan mudah mempercayai cerita yang hanya bersumber dari film, cerita rakyat, atau potongan kisah yang tidak pernah diteliti kembali.
Kembalilah kepada kajian, kepada naskah, kepada ilmu, dan kepada akhlak para ulama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membimbing kita semua untuk mencintai para wali-Nya tanpa berlebihan, menghormati mereka tanpa mengkultuskan mereka, serta mengikuti jejak mereka dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, syariat, hakikat, dan makrifat yang benar.
Penjelasannya lengkapnya ada didalam Kitab Sajatining Mulyo karya Raden Syair Langit
Beredar Vidoe Uu Ruzhanul Ulum Klaim "Saya Layak Menjadi
Gubernur JABAR" Tanggapan Raden Syair Langit "Ini Panglima Santri
Atau Panglima hibah?"
Beredar video lama, Uu Ruzhanul Ulum sedang orasi menggebu-gebu,
teriak-teriak mengklaim dirinya paling layak jadi Gubernur Jawa Barat karena
punya segudang pengalaman.
Sebelum ditanggapi, perlu diketahui, bahwa ini video lama. Kejadian
aslinya itu awal 2023 di Bekasi saat dia masih menjabat. Tapi, gak ada salahnya
untuk dibahas lagi sekarang. Biar publik tidak lupa.
Mantan wakil gubernur ini yang suka disebut Panglima Santri, kalau
menurut saya sih lebih cocok disebut Panglima Hibah, apalagi kalau mendengar
narasinya yang berteriak lantang, "Saya layak jadi gubernur Jawa
Barat." Jujur, telinga saya langsung geli. Orang yang di depan publik
masih berani mengaku-ngaku, "Aku layak," "Aku bisa,"
"Aku hebat," itu sejatinya adalah cerminan dari kesombongan yang
nyata.
Di dalam sejarah dan peradaban manusia, ada tiga tipikal manusia
yang suka sekali menonjolkan kalimat "Aku":
Pertama, manusia yang kelakuannya persis seperti Firaun, yang
dengan keakuannya berani merasa paling tinggi di atas segalanya.
Kedua, manusia yang kelakuannya mirip Abu Jahal, yang menutup mata
dari kebenaran hanya karena ego keakuannya yang terlalu besar.
Dan yang ketiga, ya itu kamu, kalian, atau siapapun yang
teriak-teriak di podium merasa paling bisa dan paling layak memimpin rakyat.
Uu ini katanya ustadz, keluarga pesantren, punya pondok, dekat
dengan dunia pendidikan Islam. Masa tidak paham? Di dalam ajaran tarekat dan
pengamalan tasawuf yang mendalam, terkhusus ajaran yang kami amalkan di Tarekat
Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya, terkhusus yang di wariskan oleh Guru
Agung Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al Busthami dan Guru
Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, hal mendasar yang pertama kali harus
dihancurkan adalah ego. Ada konsep ajaran untuk melepaskan segala bentuk
"keakuan" atau ananiyah. Menghilangkan rasa merasa diri penting,
merasa diri mampu, demi bisa membersihkan hati untuk mencapai derajat wahdatul
wujud, yang menjadi puncak keimanan sekaligus penutup dari segala ilmu.
Kalau hatinya masih dipenuhi rasa "Aku layak," berarti
ngajinya belum tuntas, atau jangan-jangan tasawufnya cuma jadi pajangan politik
saja? Lucu sih, seekarang banyak para pemuka Agama mengadakan kajian salah satu
kitab tasawuf seperti kitab Hikam, tapi kajian atau pasarannya hanya jadi ajang
gaya-gayaan, nih gue hebat, Pesantren gue ngadain rutinan kajian Hikam, tapi
prilakunya keluar dari isi ajarannya itu sendiri. Kayaknya mereka harus
mengkaji Kitab Sajatining Mulyo yang Abah buat, agar setidaknya mereka merasa
tertampar dengan kelakuan meereka yang hidup dari Agama bukan hidup untuk
Agama.
Perlu digarisbawahi dengan tinta tebal, salah satu ciri pemimpin
yang baik itu bukan mereka yang menjajakan dirinya sendiri sambil mengatakan
"Aku bisa." Justru dalam sejarah Islam dan kearifan para ulama,
pemimpin yang tulus itu untuk mencalonkan diri pun mereka tidak mau. Mereka
tidak pernah berambisi mengejar jabatan. Yang ada, mereka justru dipaksa oleh
umat, didorong oleh masyarakat karena kredibilitas, ketulusan, dan rekam jejak
mereka yang sudah terbukti, bukan karena mereka yang meminta-minta jabatan.
Pemimpin yang baik dan mengerti agama itu, bahkan jika pada
akhirnya terpilih, dia tidak akan menggelar pesta pora kegirangan. Dia justru
akan menangis dan mengatakan bahwa jabatan ini adalah sebuah musibah dan
tanggung jawab yang berat kelak di akhirat, bukan sebuah anugerah untuk ajang
gagah-gagahan. Itulah konsep berpikir orang-orang tasawuf yang benar-benar
mengerti arti hakikat hidup yang sebenarnya. Bukan malah haus kekuasaan sambil
memamerkan keakuan di atas podium.
Kenapa saya bilang begitu? Di saat orasi dulu gayanya paling
merakyat dan peduli umat, ternyata di balik layar, aliran dana pemerintah
daerah justru mengalir deras ke lingkaran sendiri. Ini bukan fitnah, ini data
resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Bayangkan, Yayasan Perguruan Al-Ruzhan yang didirikan dan dikelola
keluarga besarnya di Tasikmalaya, tercatat menelan dana hibah dengan total
fantastis mencapai kurang lebih Rp45,16 miliar! Angka puluhan miliar itu
dikuras bertahap selama lima tahun berturut-turut, dari tahun 2020 sampai 2024.
Pas sekali dengan masa-masa dia sedang berkuasa dan setelah lengser.
Mari kita bedah datanya biar makin jelas:
Tahun 2020, yayasan ini mencicipi dana lewat SMKS Al-Ruzhan sebesar
Rp59,4 juta dan SMK Al-Ruzhan Manonjaya sebesar Rp600 juta.
Tahun 2021, lewat Dinas Perumahan dan Permukiman, langsung cair
modal jumbo Rp10 miliar untuk bangun gedung Sekolah Tinggi Agama Islam atau
STAI Al-Ruzhan.
Masuk tahun 2022 sampai 2023, lewat Biro Kesra, kucurannya makin
tidak masuk akal. Anggaran sebesar Rp30 miliar cair untuk kampus STAI
Al-Ruzhan, ditambah lagi bonus Rp2,5 miliar untuk pondok pesantrennya.
Dan puncaknya di tahun 2024, aliran dana itu masih terus berlanjut
untuk pemantapan fasilitas mereka.
Pertanyaannya sederhana:
di mana asas keadilan bagi masyarakat Jawa Barat? Di luar sana, ada
ribuan Madrasah, Pesantren kecil, dan yayasan keagamaan yang atapnya mau roboh,
fasilitasnya memprihatinkan, dan harus berdarah-darah mengajukan proposal
bantuan yang sering kali berujung ditolak.
Tapi kenapa yayasan milik pejabat tinggi bisa dengan mudahnya
mendapatkan puluhan miliar rupiah setiap tahun? Makanya, saya angkat jempol
tinggi-tinggi buat langkah berani Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang langsung
mengambil tindakan ekstrem. Di bawah kepemimpinannya, Pemprov Jabar secara
tegas memutuskan untuk menghentikan sementara pos dana hibah keagamaan dan
melakukan pemangkasan anggaran secara besar-besaran. Langkah ini ibarat menabur
garam di atas luka para penikmat anggaran instan, tapi bagi saya, ini adalah
keadilan yang sesungguhnya.
Keputusan membekukan dana hibah ini bukan tanpa alasan kuat.
Pemprov Jabar menemukan fakta lapangan yang bikin geleng-geleng kepala:
Ada yayasan baru yang belum terverifikasi, tapi bisa mencairkan
miliaran rupiah, bahkan ditemukan adanya dugaan yayasan fiktif alias bodong
yang ikut menguras uang rakyat. Kang Dedi Mulyadi sendiri sampai menyentil
keras bahwa selama ini, distribusi dana hibah itu pincang, karena hanya
dinikmati oleh lembaga-lembaga yang punya kedekatan atau akses politik kuat.
Bayangkan saja, saking serakahnya, ada satu lembaga yang total akumulasi
bantuannya bisa menembus angka 25 hingga 50 miIiar rupiah! Sementara itu,
ribuan pesantren kecil di pelosok Jabar sama sekali tidak tersentuh bantuan.
Lebih menohok lagi, Gubernur sekarang tidak cuma menyetop
anggarannya, tapi juga menagih pembuktian fisik dan audit investigatif. Beliau
menegaskan, laporan di atas kertas itu gampang dimanipulasi. Kalau ada yayasan
yang menerima puluhan miliar untuk pembangunan tapi kualitas atau kuantitas
bangunan fisiknya tidak kelihatan, maka laporan administrasinya sudah pasti
fiktif alias palsu! Hasil temuan dari audit investigatif ini pun tidak
main-main, karena langsung diserahkan kepada pihak penyidik kepolisian.
Jadi, kebijakan pembersihan sistem ini wajib kita dukung penuh.
APBD itu uang rakyat, bukan warisan nenek moyang pejabat yang bisa dibagi-bagi
ke keluarga sendiri dengan kedok dana aspirasi partai. Bantuan ke depan harus
transparan, adil, berbasis kebutuhan riil di masyarakat, dan bebas dari
kepentingan politik dinasti.
Jadi, kalau sekarang potongan videonya viral lagi dan dia teriak
"Saya layak jadi gubernur", mungkin kita harus ingatkan si Panglima
Hibah ini: rakyat Jawa Barat tidak butuh pemimpin yang jago orasi di podium,
tapi lebih butuh pemimpin yang adil membagi anggaran untuk seluruh umat, bukan
cuma buat memakmurkan yayasan pribadi. Sok, silakan mikir.
"Barangsiapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenali Tuhannya, maka binasalah (fana) dirinya.
(Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razi الشيخ يحيى بن معاذ الرازي)
Setelah seorang salikin berjalan dalam penempuhan dan penempahannya, maka ia akan masuk pada puncak kepahaman “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” (ilmu rasa, rasanya kesejatian hidup), dimana posisi maqamat itu akan mengantarkan seorang salikin pada martabat “Sajaning Mulyo” (kemuliaan yang sejati). Pelaku suluk yang sudah memahami sejatinya hidup, ia telah mengenali dirinya sendiri, dan ia juga telah mengenali Allah sebagai Penciptanya, ia juga akan masuk dan memahami elmu roso, yaitu ilmu luhur tentang kesejatian rasa, puncak kecintaan seorang hamba yang tidak lagi terganti dengan apapun, tidak tergeser oleh apapun, dan tidak terpengaruh oleh badai kehidupan sebesar apapun, karena baginya hanya Allah-lah yang ia cinta, hanya Allah-lah yang ia damba, dan walaupun ada rasa cinta terhadap selain Allah, semisal cinta terhadap makhluk, apakah cintanya seorang suami kepada istri, cintanya istri kepada suami, cintanya orang tua kepada anak, cinta seorang anak kepada orang tua, maka semua itu akan ia dasari atas dasar karena Allah. Jelaslah sudah, semuanya benar-benar untuk Allah, cinta terhadap makhluk pun karena Allah. Semua itu membuktikan bahwa ia berhasil melewati dan menembus tujuh tahapan yang telah ia jalani, telah ia tempuh, telah ia lewati dan juga sedang ia nikmati.
Ingatlah, mengenal Allah itu bukan dengan mata, telinga ataupun diraba. Tetapi mengenal Allah itu hanya bisa dilakukan dengan rasa (elmu roso). Maka orang yang sampai kepada maqam “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip”, walaupun posisinya baru berada di maqam muhadharah, maka ia akan benar-benar sampai pada tahapan bermakrifat kepada Allah, walaupun baru ditahap dasar. Apalagi jika posisinya sudah berada di maqam mukasyafah dan maqam musyahadah.
Muhadharah merupakan kehadiran hati, selanjutnya setelah itu terjadi mukasyafah, yakni kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), lalu timbulah musyahadah, yakni adanya kehadiran Al-Haqq (dalam hati) tanpa bingung dan linglung.
“Apabila langit sirri (rahasia ke-Tuhanan) bersih dari mendung, maka matahari kesaksian akan muncul atau terbit dari bintang kemuliaan.”
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
السِّرّ adalah rahasia batin terdalam seorang hamba dalam kaitannya dengan Tuhan)
الغَمَام adalah awan mendung, simbol dari hijab atau kegelapan batin
الشُّهُود adalah penyaksian spiritual (musyahadah)
نَجْمُ الكَرَامَةِ adalah bintang kemuliaan, simbol dari puncak anugerah Ilahiyah
Kalimat ini menggambarkan bahwa saat hati (batin sirri) telah jernih dari hijab duniawi, maka cahaya penyaksian Ilahi akan tampak jelas, lahir dari anugerah kemuliaan Allah. Ini adalah ungkapan Abah Leuweunggede yang menggambarkan keadaan ruhani maqamat kaum Arifin.
“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu. Salik yang mengalami muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan Salik yang memiliki musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya.”
(Syekh Junaidi Al-Baghdadi)
Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, salik yang muhadharah akal menunjukannya. Salik yang mukasyafah ilmu mendekatkannya. Dan salik yang musyahadah makrifat menghapusnya.
Tidaklah bertambah penjelasan mengenai hakikat musyahadah kecuali diperkuat dengan apa yang diutarakan.
Inti dari ungkapan yang disampaikan adalah menerangkan bahwa hakikat musyahadah adalah cahaya tajalli Dzat yang datang susul-menyusul pada hati seorang salikin tanpa disusupi mendung dan keterputusan, sebagaimana susul-menyusulnya kedatangan kilat. Malam yang gelap gulita dengan disertai kilat yang datang susul-menyusul dan sambungmenyambung, itu semua dapat menjadikan malam menjadi terang seperti siang.
Demikian juga hati, jika senantiasa diterangi dengan keabadian tajalli, maka kenikmatan “anugerah siang” akan selalu ada, sehingga malam tidak lagi ada.
1.“anugerah siang” disana adalah kiasan tentang kontinuitas anugerah ke-Ilahian dan ketersingkapan ke-Tuhanan dengan pemanjangan waktu siang hingga menjangkau malam hari.
2.“Kontinuitas” adalah keadaan atau sifat sesuatu yang berlangsung secara terus menerus dan tidak terputus.
“malamku dengan wajah-Mu, terbit bersinar penuh dengan cahaya.”
Kegelapan pada manusia biasa berjalan di waktu malam. Pada umumnya, manusia berada dalam kepekatan malam yang gelap gulita, sedangkan kami berada dalam cahaya siang yang bisa menembus sampai waktu malam.”
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Jika melihat dari syair-syair di atas, maka sudah jelas bahwa muhadharah mukasyafah dan musyahadah merupakan kondisi spiritual seorang salik untuk sampai kepada Al-Haq, yakni Allah SWT (wushul), bukan berkaitan dengan supranatural kebatinan yang tercampur kesesatan, yang oleh sebagian orang “di plintir” untuk kepentingan kelompok-nya, seakan-akan mereka itu golongan ahli tasawuf.
Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu” adalah kalimat terakhir pada Suluk Raden Syair Langit.
Sedangkan tujuh tahapan itu adalah,
1. Perjanjian عَهْدٌ (Di Alam Azali)
2. Pelepasan ٱلِٱنْفِصَالُ (Saat kita lahir kedunia)
3. Perjalanan السَّفَرُ (Menjalani kehidupan)
4. Penempuhan السُّلُوكُ (Menjadi seorang salik)
5. Pemastian الْـتَثْبِيتُ (Meyakini atas apa yang ia jalani)
6. Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ (Menempah diri atas apa yang sudah ia jalani)
7. Pendalaman تَعَمُّق (Mendalami dan memastikan hasil dari perjalan itu sendiri)
Perjanjian عَهْدٌ adalah peristiwa di alam azali saat manusia meridhai ketentuan Allah yang telah ditentukan kepadanya saat ia akan hidup didunia fana.
“Keluarnya ruh dan jasad dari pelukan rahim, sebagai pelepasan dari alam gaib menuju kegelapan dunia.”
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Perjalanan السَّفَرُ adalah semua hal yang akan kita lewati dalam menjalankan kehidupan didunia ini untuk berbakti kepada Allah dan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Dalam konteks syariat, manusia diberikan pilihan. Kalian ingkar Allah tak rugi, kalian ta’at Allah tak untung. Kerugian dan keuntungan itu bukan terletak pada Allah, tetapi kerugian dan keuntungan itu terletak pada kita. Kita ingkar Allah sediakan neraka, kita ta’at Allah sediakan surga.
“Perjalanan manusia di jalan al-Haqq, antara kegelapan dunia dan cahaya akhirat”
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Penempuhan السُّلُوكُ adalah garis hidup yang akan ia pilih, kemana ia akan melangkah, hitam kah atau putih kah, ridha Allah kah atau murka Allah kah, melaksanakan atau mengingkari, menghadap pada kewajiban atau berpaling menuju kemungkaran. Dan bagi pelaku tarekat sendiri, atau pelakunya kita sebut salikin, maka pada penempuhan ini disebut juga sebagai suatu awal atau permulaan ia mencari Allah.
Akankah ia menempuh jalan cahaya atau kegelapan, menuju keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya?
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Pemastian الْـتَثْبِيتُ adalah jalan yang harus ia yakini agar mendapat ridha Allah, sehingga ia akan berpedoman teguh terhadap apa yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Ia akan mempunyai prinship yang kuat terhadap apa yang telah ia tentukan, karena ia telah berhasil dan memiliki kepastian sebagai langkah awal menuju makrifatullah (berawal dari maqam muhadharah).
Untuk seorang salikin, semua itu sudah berarti bahwa tarekat yang ia jalani sudah benar-benar ia yakini kebaikannya, dan diapun sudah yakin bahwa tarekat yang ia jalani tidaklah sesat dan menyesatkan.
Keteguhan di atas jalan (kebenaran) memerlukan pemastian (peneguhan) dan keyakinan yang tak tergoyahkan, agar sampai pada ridha Ilahi.
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ adalah perkara berat yang akan dirasakan oleh seorang salikin, karena badai besar akan selalu menerpa, rintangan datang bertubi-tubi, bisikan-bisikan sesat menjadi makanan sehari-hari, jiwa dan raganya akan ditempah begitu dalam, sehingga ketika ia berhasil, ia akan semakin mudah dalam melangkah menuju puncak kenikmatan hakikat makrifatullah.
Pada tahap ini ia akan di sudutkan dari berbagai rasa, kesesatan dan kesucian seakan menjadi hal yang sama, bagaikan dua insan yang terhalang satu helai keretas, begitu mirip, begitu samar, membuat hati penuh dengan seribu pertanyaan. Dan apabila ia lulus ditahapan ini, maka ia akan dengan mudah menuju tahap selanjutnya yaitu tahap pendalaman.
Penempahan dan pembersihan jiwa adalah jalan menuju makrifat kepada Allah. Tiada makrifat yang sejati kecuali setelah ruh ditempa dan jiwa disucikan.
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Pendalaman تَعَمُّق adalah segala hal yang telah ia tempuh dari enam tahapan sebelumnya. Tahap perjanjian, pelepasan, perjalanan, penempuhan, pemastian, dan penempahan. Setelah itu ia akan masuk ke tahapan yang ketujuh yaitu tahap pendalaman.
Dalam perjalanan seorang salik menuju Allah, pendalaman terhadap apa yang telah dilaluinya adalah sebab munculnya tajalli dan kemajuan ruhani.
Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Segala yang telah ia lewati akan ia dalami, dari situlah ia akan sampai pada “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” dalam tiga posisi maqam, yang diawali dari maqam muhadharah, lalu mukasyafah dan puncak musyahadah.
Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian setelah itu terjadi mukasyafah, yaitu kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), kemudian timbul musyahadah, yaitu kehadiran Al-Haqq Allah SWT dalam hati tanpa bingung dan linglung.
Pendalaman yang telah matang, akan mengantarkan seorang salikin mencapai kedekatan dengan Allah ‘azza wa jalla. Semua itu sudah jelas bahwa pada pelaksanaanya akan dilewati dengan jalan yang berdebu, dimana jalan yang berdebu mempunyai maksud, semua yang dilakukannya akan penuh dengan halangan dan badai yang menerjang.
Seorang salikin juga harus berhasil melewati tujuh lembah kasal, tujuh gunung riya, tujuh rimba sum’ah, tujuh samudra ujub dan tujuh benteng hajbun.
Kasal كسل
Kasal (كسل): Penyakit malas dalam beribadah
Kasal (الكسل) adalah salah satu penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya dalam perjalanan ruhani seorang salik menuju Allah. Ia merupakan bentuk kemalasan dalam menunaikan ibadah dan melakukan ketaatan, yang pada hakikatnya adalah hijab batiniah yang menghalangi cahaya tajalli Ilahi menyinari hati hamba.
Kasal bukan sekadar enggan bergerak secara jasmani, namun lebih dalam lagi, ia adalah kelemahan semangat ruhani, kehilangan gairah untuk bermunajat, dan kelalaian dalam menyambut panggilan cinta dari Sang Kekasih Abadi.
Rasulullah saw sendiri memohon perlindungan kepada Allah dari sifat ini. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan"
(HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 2706)
Sungguh, tidaklah seseorang terjatuh dalam kasal, kecuali karena hatinya telah dirundung kabut kelalaian (ghaflah غَفْلَة), yang menutupi cita-cita tinggi dalam ubudiyah. Seorang salik yang sejati tidak boleh membiarkan satu pun titik kemalasan bersarang di dalam qalbunya, sebab itu pertanda surutnya mahabbah dan lemahnya rasa butuh kepada Allah SWT.
Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.
(QS. An-Nisa’: 142)
Lihatlah, disana Allah menyandingkan kasal dengan kemunafikan. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kemalasan dalam beribadah bukan sekedar kekurangan, tetapi sebuah penyakit yang bisa menyeret hati pada kehampaan makna ubudiyah عبودية (penghambaan), dan bisa menyebabkan kemunafikan.
Dalam khazanah tasawuf, para arifin menyebut kasal sebagai satu dari banyak hijab antara hamba dengan Tuhannya. Imam Abu Thalib Al-Makki (الإمام أبو طالب المكي) dalam Qut al-Qulub قوت القلوب menekankan bahwa kemalasan dalam amal salih adalah buah dari kelemahan niat dan lemahnya keyakinan terhadap janji Allah.
Bagi para salik, melawan kasal adalah bagian dari mujahadah (perjuangan jiwa). Barangsiapa yang malas berdzikir, maka jiwanya akan kering dari cahaya, dan barangsiapa malas shalat, maka ia akan terhalang dari kemanisan munajat. Karena itu, para guru suluk selalu menanamkan semangat kepada murid-muridnya agar senantiasa menjaga himmah همة (cita-cita ruhani) dan tidak membiarkan hari-harinya kosong dari dzikrullah.
Obat dari Kasal
1.Menanamkan rasa cinta dan takut kepada Allah secara seimbang. Cinta mendorong untuk mendekat, takut mencegah dari berpaling.
2.Mengingat mati dan menyandari akan pendeknya waktu hidup di dunia, agar hati terjaga dan senantiasa bersiap menuju akhirat.
3.Bersahabat dengan orang-orang yang semangat dalam ketaatan, karena semangat itu menular, sebagaimana malas pun menular.
4.Berdoa memohon perlindungan dari kasal, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di masa tua, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur."
(HR. Bukhari no. 6376)
Wahai para salikin, jangan biarkan kasal membelenggu langkahmu. Bangkitlah! bersihkan hati dari karat lalai dan peliharalah semangat ibadah seperti api yang menyala dalam dada. Setiap rakaat yang engkau dirikan, setiap dzikir yang engkau lantunkan, adalah jejakmu menuju Sang Kekasih, jangan biarkan satu pun langkahmu tertinggal oleh kemalasan.
Riya’ الرياء
Riya’ (الرِّيَاء): Bahaya tersembunyi di dalam amal
Riya’ (الرِّيَاء) adalah racun halus dalam amal saleh, sebuah penyakit hati yang menjelma dalam wujud indah namun membawa kehancuran ruhani. Ia adalah memperlihatkan kebaikan dan amal ibadah kepada manusia, bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan sanjungan, pujian, atau kedudukan di mata makhluk. Maka tidaklah dinamakan ubudiyah jika pandangannya tertuju kepada selain Allah.
Para salaf menyebut riya’ sebagai "syirik khafī" (الشِّرْكُ الْخَفِيُّ), syirik yang tersembunyi, karena ia menyekutukan Allah dalam niat dan tujuan amal.
“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Riya’.”
(HR. Ahmad)
Dalam pandangan ruhani, riya’ adalah pengkhianatan terhadap ikhlas. Ia adalah noda pada cermin amal, yang merusak pantulan nur Ilahi dalam hati seorang salik. Amal yang dibangun di atas riya’ ibarat istana megah di atas pasir, tampak indah namun rapuh tak berakar.
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”
(QS. Al-Ma’un: 4-6)
Betapa banyak orang yang amalnya terlihat indah di mata manusia, namun kosong nilainya di sisi Tuhan. Riya’ menjadikan amal bukan lagi persembahan cinta kepada Allah, melainkan sekedar pementasan di hadapan manusia. Ia adalah bentuk lain dari penjajahan ego, ketika hamba lebih senang dipuji makhluk daripada diridhai oleh Al-Khaliq.
Hakikat Riya’ menurut salah satu ulama sufi, yaitu Hujjatul Isalm Imam Al-Ghazali (حجة الإسلام الإمام الغزالي), dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din إحياء علوم الدين berkata:
“Tiga tanda orang yang riya’: ia malas beramal saat sendiri, semangat saat bersama orang lain, dan menambah amalnya saat dipuji.”
Maka, salik sejati harus waspada terhadap segala bentuk upaya mencuri perhatian makhluk dalam ibadahnya. Tidak ada yang lebih layak menjadi tujuan kecuali Allah. Amal yang dilakukan karena selain-Nya adalah seperti tubuh tanpa ruh, bergerak namun mati.
Tazkiyatun Nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ): Menyucikan Niat dari Riya’
Menghindari riya’ bukan dengan meninggalkan amal, tetapi dengan menyucikan niat dan menundukkan ego. Obatnya adalah muraqabah المُرَاقَبَةُ, merasa diawasi Allah setiap saat, dan muhasabah المُحَاسَبَةُ, mengoreksi niat sebelum, saat, dan setelah beramal.
Para guru suluk mengajarkan agar salik senantiasa berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami murni karena-Mu semata, dan jangan Engkau biarkan ada bagian untuk selain-Mu di dalamnya.”
Wahai para salikin, amalmu adalah persembahan cintamu kepada Dzat Yang Maha Melihat. Jangan kotori persembahan itu dengan harapan pujian makhluk, karena hanya wajah Allah yang pantas dijadikan tujuan. Beribadahlah seolah tidak ada yang melihatmu selain Dia. Dan beramallah seperti seorang kekasih yang sedang membisikkan cinta kepada Sang Kekasih dalam kesunyian malam.
Jauhilah riya’, karena ia adalah pencuri pahala dan pemutus hubungan batin dengan Tuhanmu. Sungguh, hanya amal yang dibangun di atas ikhlas yang akan sampai kepada-Nya.
Sum’ah سمعة
Sum‘ah (السُّمْعَة): Suara amal yang dirusak oleh ego
Sum‘ah (السُّمْعَة) berasal dari kata sami‘a (سَمِعَ) yang berarti mendengar, namun dalam istilah ruhani, ia menjelma menjadi suatu penyakit hati, yakni keinginan agar manusia mendengar tentang amal kebaikan yang dilakukan seorang hamba, yang sebelumnya tersembunyi dan dilakukan dalam kesendirian.
Sum‘ah adalah ketika seorang hamba menceritakan amalnya sendiri, bukan karena niat menyebar manfaat atau menasihati, melainkan agar dikenal, dipuji, atau dihormati oleh manusia. Ia adalah jerat halus dari hawa nafsu yang menyelinap ke dalam niat, dan membelokkan tujuan amal dari Allah menuju makhluk.
Maka, sum‘ah adalah saudara kandung dari riya’, hanya berbeda dalam bentuknya:
Riya’ terjadi saat amal diperlihatkan langsung di hadapan manusia, sedangkan sum‘ah terjadi saat amal diceritakan atau diperdengarkan setelahnya, agar manusia menaruh kekaguman.
“Barang siapa yang melakukan sum‘ah (ingin didengar amalnya oleh orang lain), maka Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barang siapa yang berbuat riya’, maka Allah akan memperlihatkan keburukannya.”
(HR. Bukhari no. 6134, Muslim no. 2987)
Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya penyakit ini. Bukan hanya amalnya tidak diterima, bahkan aibnya akan disingkap oleh Allah, karena ia telah menukar keikhlasan dengan ambisi duniawi.
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
(QS. Al-Kahfi: 110)
Imam al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menjelaskan, bahwa sum‘ah termasuk cabang dari riya’, dan sama-sama menghapus nilai keikhlasan.
“Riya’ adalah engkau memperlihatkan, dan sum‘ah adalah engkau memperdengarkan. Keduanya adalah upaya mencari kedudukan di hati manusia.”
Para sufi menegaskan, bahwa orang yang suka membanggakan amalnya bukan sedang memperdengarkan kebaikannya, melainkan menyerahkan hatinya pada pujian, dan itu adalah awal dari kehancuran batin. Amal yang dahulu murni, berubah arah karena hasrat disanjung.
Untuk membersihkan diri dari sum‘ah, seorang salik harus menempuh jalan tazkiyah nafs (penyucian jiwa) melalui:
Ikhlas yang terus diperbarui, niat harus diawasi sebelum, saat, dan setelah amal.
Muraqabah (المراقبة), merasa selalu diawasi oleh Allah.
Muhasabah (المحاسبة), mengoreksi apakah dalam ucapan tersembunyi keinginan dipuji.
Menutupi amal dari manusia, kecuali jika maslahatnya besar dan niatnya murni.
Dan hendaklah seorang salik senantiasa berdoa, sebagaimana diajarkan para guru ruhani:
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari riya’, sum‘ah, dan ujub, serta jadikanlah niatku tulus karena wajah-Mu yang mulia.”
Wahai para salik, jangan rusak mutiara amalmu hanya demi kilau sorotan manusia. Amalmu adalah persembahan cinta, maka persembahkanlah ia hanya kepada Sang Kekasih yang Maha Mendengar, bukan kepada telinga makhluk yang terbatas.
Jika engkau ingin didengar oleh langit, jangan sibuk memperdengarkan amalmu di bumi. Biarlah malaikat yang menulisnya, dan biarlah Allah yang menilainya. Sebab tiada kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan di sisi-Nya.
‘Ujub عجب
‘Ujub (عُجْب): Keangkuhan Tersembunyi di Balik Amal
‘Ujub (عُجْب) adalah penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya. Ia muncul ketika seorang hamba mengagumi dirinya sendiri, merasa bahwa amal, ilmu, atau kelebihannya adalah keistimewaan yang menjadikan dirinya lebih utama dari orang lain. Padahal, segala yang ada pada diri kita, baik ilmu, ibadah, atau kebaikan, hanyalah anugerah dari Allah, bukan hasil dari kekuatan kita semata.
Secara hakikat, ‘ujub adalah penggelapan terhadap nikmat Allah, karena seseorang yang ‘ujub, lupa bahwa semua kebaikan bersumber dari taufik dan inayah Ilahi, bukan dari kehebatannya pribadi.
Perbedaan Halus Antara ‘riya’, sum‘ah, dan ‘ujub
Riya’ (الرِّيَاء): Beramal agar dilihat manusia.
Sum‘ah (السُّمْعَة): Menceritakan amal agar dipuji manusia.
‘Ujub (العُجْب): Merasa bangga dengan amal, walau tidak dilihat atau dipuji manusia.
Maka, ‘ujub adalah akar yang tersembunyi. Riya’ dan sum‘ah bisa dihentikan dengan menyembunyikan amal. Tapi ‘ujub mengendap di dalam dada, meski amal itu tersembunyi. Ia tetap merusak karena menganggap amal itu adalah hasil dari kehebatannya sendiri.
“Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Bayhaqi)
Perhatikanlah wahai salik, bahwa ‘ujub disebut sebagai hal yang membinasakan, karena ia adalah racun ruhani yang mematikan hati pelan-pelan, menghancurkan keikhlasan, dan menghapus pahala amal tanpa disadari.
Imam al-Ghazali berkata di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din:
“Betapa banyak maksiat yang menimbulkan rasa hina dan hancur, maka itu lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan sombong.”
Betapa mendalam kalimat ini. Sebab tujuan utama amal adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan menebalkan ego. Maka ketika amal menumbuhkan ‘ujub, ia kehilangan cahaya dan makna.
Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati dari ‘Ujub, sadar bahwa semua amal adalah taufik dari Allah. Jangan pernah merasa “aku telah melakukan ini,” tetapi katakanlah, “Ini semua karena pertolongan Rabb-ku.”
Selalu melihat kekurangan diri, jangan lihat berapa banyak amal yang telah dilakukan, tetapi lihat sejauh mana ia diterima.
Bandingkan amalmu dengan amal para kekasih Allah, maka engkau akan tahu bahwa kita belum ada apa-apanya di hadapan mereka.
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari ‘ujub dan kesombongan, dan jadikanlah aku hamba yang fakir kepada-Mu dalam setiap keadaan.”
Wahai para salikin, jangan kagum pada amalmu, sebab engkau hanyalah alat di tangan Tuhanmu. Jika engkau diberi taufik untuk taat, bersyukurlah, bukan membanggakan diri. Sebab yang paling utama bukan banyaknya amal, melainkan sejauh mana ia dilakukan karena Allah, dengan kerendahan dan pengakuan akan kelemahan. Oleh karena itu, siapa pun yang masih menyimpan ‘ujub dalam hatinya, hendaknya segera bertaubat sebelum amalnya menjadi debu yang berterbangan.
Hajbun الحجب
Hijab yang Menghalangi Perjalanan Menuju Allah
Dalam perjalanan ruhani menuju Allah, seorang salik (penempuh jalan spiritual) akan senantiasa mendaki maqam demi maqam untuk meraih kedekatan dengan-Nya. Namun di antara bahaya terbesar dalam suluk ini adalah "al-ḥujub", hijab-hijab batin yang menutupi hati dari menyaksikan cahaya kehadiran Allah.
Inilah yang disebut dengan istilah الحجب (hajbun), yaitu segala sesuatu yang menjadi tirai penghalang antara hamba dan Rabb-nya.
الحجب bukan sekedar dosa lahiriah, namun bisa berupa sifat-sifat batin yang halus namun berbahaya: kekaguman terhadap amal sendiri, cinta pujian, keterikatan kepada dunia, bahkan merasa telah sampai. Semua ini dapat menjadi hijab, walau amal zahirnya tampak mulia.
Makna Hajbun dalam Pandangan Para Arifin
Imam Ibnu ‘Aṭa’illah as-Sakandari berkata dalam Al-Ḥikam:
“Tiada yang lebih bermanfaat bagi hati seperti uzlah (menyendiri) yang membawanya ke medan tafakkur.”
Karena dalam keheningan dan pengasingan itulah, hijab-hijab batin dapat disingkap. Sebaliknya, sibuk dengan makhluk, popularitas, atau amal yang diselimuti ujub dan riya, itu semua hanya akan menebalkan tirai hati.
Al-Imam Al-Ghazali juga menjelaskan dalam Iḥya’ ‘Ulum ad-Din:
“Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku fardukan kepadanya”
(HR. Bukhari)
Ini adalah petunjuk bahwa jalan untuk menyingkap hijab adalah dengan istiqamah dalam fardhu dan ikhlas dalam ibadah, bukan semata amal banyak, namun kosong dari kehadiran hati.
“Menyingkap Hijab, Menemukan Wujud”
Wahai jiwa yang merindu Tuhan, ketahuilah, bahwa Allah tidak jauh, namun hijab-hijab kitalah yang menjauhkan kita dari-Nya. Maka sucikanlah niat, hancurkanlah berhala ego, dan kembalilah ke hadirat-Nya dengan hati yang tunduk dan penuh kerinduan. Karena di balik setiap hijab, ada lautan cinta-Nya yang menanti untuk kita selami.
وَلَوْ كُشِفَتِ الْحُجُبُ، مَا ازْدَدْتُ يَقِينًا
“Seandainya hijab-hijab itu disingkap, aku tidak akan bertambah yakin.”
Kasauran Sayyidina ‘Ali bin Abi Ṭhalib كرم الله وجهه
Itulah makna dari “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.” Sebuah renungan di ujung perjalanan maqam keimanan.
"Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu", kalimat ini bukan sekedar metafora puitis. Ia adalah isyarat agung bagi perjalanan panjang yang melelahkan, mendaki bukit-bukit tajalli, menyusuri lembah-lembah mujahadah, hingga menapaki gurun pengingkaran terhadap nafsu dan dunia.
Debu di jalan itu adalah simbol dari fana-nya diri. Sebuah pertanda bahwa jalan menuju Allah tidak akan pernah bersih dari luka, sakit, air mata, dan penolakan terhadap segala selain Dia. Debu itu adalah saksi bisu dari perjuangan seorang salik (penempuh jalan ruhani) yang membakar ego, menanggalkan hijab-hijab, dan melepaskan ketergantungan terhadap selain Allah.
Dan ketika seorang salik benar-benar menempuh jalan ini dengan sungguh-sungguh, dengan adab yang terjaga, dengan bimbingan mursyid yang warasatul anbiya, serta dengan keikhlasan yang murni, maka insyaAllah, ia akan sampai kepada tujuan tertinggi yang selama ini dicari, dan dirindukan oleh jiwa, yaitu hakikat makrifatullah.
Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi:
"Barangsiapa mencari-Ku, niscaya ia akan menemukan-Ku. Barangsiapa telah menemukan-Ku, ia akan mengenal-Ku. Barangsiapa mengenal-Ku, niscaya ia akan mencintai-Ku. Barangsiapa mencintai-Ku, niscaya ia akan menyembah-Ku. Dan barangsiapa menyembah-Ku, niscaya Aku akan tempatkan ia di Surga-Ku."
Kitab Syu‘ab al-Iman (شُعَبِ الإِيمَانِ), karya agung dari Imam Al-Bayhaqi (الإمام البيهقي)
Maka wahai para kekasih Allah, sebelum lembaran pasal ini kita tutup, izinkan satu pesan agung ditanamkan dalam sanubari: Bahwa siapa pun yang ingin menempuh jalan menuju Allah, hendaklah ia menjaga keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat.
Ketiganya adalah tiga mata air yang satu hulunya. Jika salah satu ditinggalkan, maka perjalanan itu akan pincang.
Syariat adalah pagar keselamatan. Tarekat adalah jalan pengolahan jiwa. Hakikat adalah cahaya penyaksian.
“Barangsiapa bertasawuf namun tidak mempelajari fiqh, ia telah menjadi zindiq (sesat). Barangsiapa mempelajari fiqh namun tidak bertasawuf, ia telah menjadi fasiq. Dan barangsiapa menggabungkan keduanya, maka sungguh ia telah mencapai hakikat.”
Wahai para salikin, jangan terjebak dalam fatamorgana maqam, jangan tertipu oleh ilusi kebatinan, dan jangan merasa sampai sebelum benar-benar sampai. Pegang teguh syariat, istiqamah dalam tarekat, dan mohonkan cahaya hakikat. Sesungguhnya Allah tidak menilai seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa tulus niatmu menuju kepada-Nya.
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)
Semoga jalan yang berdebu itu membawa kita pada taman keabadian. Di sana tiada lagi hijab, tiada lagi kesamaran. Hanya ada Dia, yang selama ini menjadi tujuan segala rindu.
Kasauran ini ngamuat hikmah klasik nu mindeng diucapkeun ku para Masyaikh sufi, serta parantos sering dikedalkeun deui ku Abah Leuweunggede dina piwulang tasawufna,
“Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tetap bertahan di saat yang lain telah lari bersembunyi dari medan perang.
Terkadang seorang kesatria dan pecundang itu memiliki perbedaan yang hanya terhalang sehelai keretas. Kesatria mati-matian memperjuangkan kemenangan, sedangkan pecundang mencari keuntungan dari kemenangan tersebut.
Seorang kesatria itu bisa melihat setiap masalah bisa ditangani, karena itu ia akan berani menceburkan diri ke dalam bahaya sebesar apapun.
Engkau tak akan mampu mengajak seorang kesatria untuk berprilaku tak jujur, karena jika engkau berhasil, sebenarnya engkau hanya berhasil menggoda orang-orang yang berpura-pura menjadi seorang kestria, dan pada hakikatnya mereka itu hanyalah pecundang.
Seorang kesatria akan menempa dirinya dengan ribuan hari pelatihan, karena jika tidak demikian, tidak mungkin mereka mampu bertahan dalam kondisi yg sangat menakutkan.
Bagaikan sebilah pedang, semakin keras ditempah, semakin kuat pula pedang tersebut. Begitulah para kesatria memaknai penderitaan yang dialaminya”
Penjelasan:
Kesatria adalah simbol keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati. Seorang kesatria bukan sekadar mereka yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi juga mereka yang berperang melawan hawa nafsu, melawan ketakutan dalam dirinya, serta menegakkan kebenaran walau seluruh dunia menentangnya.
Perbedaan antara kesatria dan pecundang terkadang sangat tipis. Pecundang mungkin terlihat gagah dari luar, namun ketika berhadapan dengan ujian yang nyata, ia akan mencari aman, lari dari tanggung jawab, bahkan mengambil keuntungan dari hasil perjuangan orang lain. Sedangkan kesatria, betapapun berat ujian yang menimpanya, tetap memilih untuk bertahan. Ia tidak bersembunyi, ia tidak lari, karena dalam dirinya ada jiwa pengorbanan.
Seorang kesatria sejati tidak akan tergoda dengan tipu daya untuk berbuat curang atau meninggalkan kejujuran. Jika ia masih bisa diperdaya untuk berlaku tidak jujur, itu tanda bahwa ia belum menjadi kesatria, melainkan hanya berpura-pura. Kesatria juga sadar bahwa dirinya tidak lahir dalam keadaan siap, tetapi ia ditempa oleh latihan, pengalaman, dan penderitaan yang panjang. Penderitaan yang dialaminya bukan dianggap beban, tetapi justru ditempatkan sebagai jalan pembentukan diri.
Bagaikan sebilah pedang, semakin lama ditempa api dan pukulan palu, semakin tajam dan kuatlah ia. Demikian pula seorang kesatria, semakin besar rintangan yang ia hadapi, semakin kuat jiwanya, semakin tinggi derajatnya, dan semakin layak ia disebut sebagai kesatria sejati.
Al-Qur’an - Tentang Kesabaran dan Keberanian di Medan Perjuangan
Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa kesatria sejati bukan hanya kuat fisiknya, melainkan kuat jiwanya, mampu menahan nafsu, dan tetap menjaga kejujuran serta kesabaran.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Raden Syair Langit "Jangan Bangga Dengan Amalmu, Banggalah Dengan Rahmat Allah"
Salah satu hijab yang paling halus adalah ketika seseorang mulai memandang besar amal yang telah ia kerjakan.
Ia merasa telah banyak shalat, banyak bersedekah, banyak berdakwah, dan banyak berbuat baik. Padahal, semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin kecil ia memandang dirinya sendiri.
Para kekasih Allah tidak pernah bergantung kepada amal mereka. Mereka lebih menggantungkan harapan kepada rahmat-Nya.
Sebab mereka memahami, seandainya Allah tidak memberikan taufik, niscaya mereka pun tidak akan mampu bersujud walau hanya satu kali.
Maka janganlah engkau menghitung-hitung amalmu, tetapi hitunglah betapa banyak nikmat Allah yang belum mampu engkau syukuri.
Ketika engkau melihat amal sebagai karunia, bukan sebagai prestasi, saat itulah kesombongan mulai sirna, dan keikhlasan tumbuh di dalam hati.
Semoga Allah menjaga hati kita dari rasa ujub, melimpahkan keikhlasan dalam setiap amal, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya.
Raden Syair Langit "Jangan Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan Manusia"
Ada satu kelelahan yang tidak pernah selesai, yaitu ketika seseorang menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan hidupnya.
Ia akan terus berusaha terlihat hebat, ingin dipuji, ingin diakui, dan ingin dimengerti oleh semua orang. Padahal, hati manusia selalu berubah, sedangkan ridha Allah tidak pernah berubah.
Orang yang telah mengenal Tuhannya akan lebih sibuk memperbaiki batinnya daripada menghias penampilannya.
Sebab yang menjadikan seorang hamba mulia bukanlah banyaknya mata yang memandang, melainkan sejauh mana Allah berkenan memandangnya dengan rahmat.
Jangan gelisah apabila engkau tidak dikenal manusia. Gelisahlah apabila hatimu mulai jauh dari Allah.
Karena ketika hubunganmu dengan Allah telah baik, maka engkau tidak lagi hidup untuk mengejar tepuk tangan dunia. Engkau akan hidup dengan hati yang tenang, langkah yang ringan, dan jiwa yang telah mengerti akan makna dari hakikat hidup yang sebenarnya.
DRAMA 10 GOL DI PEREBUTAN JUARA KE-3 PIALA DUNIA 2026
Pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 menyajikan salah satu laga paling gila dalam sejarah sepak bola. Inggris sukses membungkam Prancis dengan skor ketat 6-4 lewat drama yang menguras emosi.
The Three Lions tampil kesetanan di babak pertama dan langsung unggul telak 4-0 berkat gol cepat Declan Rice, Ezri Konsa, serta brace dari Bukayo Saka. Namun, Les Bleus menolak menyerah di babak kedua. Dipimpin sang kapten Kylian Mbappé yang mencetak dua gol (brace) plus sumbangan gol Bradley Barcola, Prancis sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3.
Ketegangan memuncak di menit-menit akhir. Bukayo Saka berhasil melengkapi catatan hat-trick-nya lewat titik putih untuk memperlebar keunggulan Inggris.
Prancis sempat membalas lagi lewat aksi Ousmane Dembélé pada masa injury time, sebelum akhirnya Jude Bellingham mengunci kemenangan mutlak Inggris menjadi 6-4.
Dengan hasil ini, Inggris berhak membawa pulang medali perunggu, yang menjadi pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia sejak tahun 1966.
Di sisi lain, dua gol Kylian Mbappé di laga ini resmi membuatnya memimpin perburuan Sepatu Emas sekaligus memecahkan rekor gol sepanjang masa turnamen.
Pertandingan penutup yang luar biasa dari kedua tim.
“Jangan banyak berdebat dengan orang bodoh, agar engkau tidak kehilangan wibawamu. Dan jangan banyak bercanda apalagi berlebih-lebihan, semua itu agar engkau tidak dikurang ajari”
Penjelasan:
Mutiara ini mengajarkan adab seorang salik dalam menjaga kehormatan diri dan kemuliaan ilmu. Seorang murid jalan sufi tidak boleh membuang waktunya untuk berdebat dengan orang bodoh, yakni orang yang keras kepala, tidak mencari kebenaran, hanya ingin memenangkan ucapan, dan menutup diri dari hikmah. Berdebat dengan mereka tidak akan menghasilkan kebenaran, justru hanya menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan hilangnya wibawa. Ilmu seorang salik tidak akan nampak indah bila dihamburkan dalam perdebatan yang sia-sia.
Ulama salaf mengatakan: “Aku tidak pernah menang dalam berdebat dengan orang berilmu, dan tidak pernah kalah bila berdebat dengan orang bodoh.” Maksudnya, orang berilmu jika kalah akan menerima dan mengambil hikmah, tetapi orang bodoh walau kalah akan tetap membantah. Maka seorang yang berakal lebih memilih diam, karena diamnya lebih bijaksana daripada membuang tenaga untuk menghadapi kebodohan.
Demikian pula dalam pergaulan, seorang salik diajarkan untuk menjaga ucapannya dari terlalu banyak bercanda. Canda yang sedikit dapat menyenangkan hati, namun bila berlebihan akan menjatuhkan kewibawaan. Terlalu banyak canda membuat orang lain meremehkan, bahkan menganggapnya kurang ajar. Sementara hati seorang salik haruslah selalu terjaga, serius dalam ibadah, lembut dalam akhlak, dan bercanda secukupnya tanpa melampaui batas.
Jalan tasawuf adalah jalan keseimbangan. Seorang salik boleh bergurau untuk menghibur hati, tetapi tetap menjaga kesopanan. Ia boleh berbicara untuk menasihati, tetapi tidak tenggelam dalam debat kusir. Inilah adab yang memelihara wibawa, menjaga ilmu dari kehinaan, dan menjadikan lisannya cahaya kebaikan.
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan adab para hamba Allah yang arif: mereka tidak melayani kebodohan dengan kebodohan, melainkan dengan kedamaian dan meninggalkan perdebatan.
“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”
(HR. Tirmidzi)
Inti Hikmah
Mutiara ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang salik terletak pada diam yang bijaksana dan ucapan yang terjaga.
Jangan habiskan waktumu untuk berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu hanya menurunkan martabat.
Jangan berlebihan dalam bercanda, karena itu hanya akan menghilangkan kewibawaan.
Jagalah lisan, karena ia adalah cermin hati dan kunci kemuliaan seorang pencari Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Tidak sedikit manusia yang telah tiada namun nama baik mereka tetap terjaga, kehidupannya dikenang sepanjang masa, meninggalkan kebaikan kepada sesama.
Jasad mereka telah mati, namun hakikatnya mereka tetap hidup. Kenangan mereka selalu di hati, dan cerita hidupnya tak pernah redup.
Lalu sebaliknya, banyak manusia yang masih hidup, tapi sekaan-akan mereka ini telah mati. Kehidupannya tidak berguna, ke-ingkarannya semakin merajalela. Saat ada, mereka dibenci. Saat mati, mereka disyukuri.
Jadilah manusia yang disaat engkau meninggal, semua orang menangisimu, dan saat engkau hidup, semua orang merindukanmu”
Penjelasan:
Mutiara ini mengajarkan bahwa ukuran hidup manusia bukanlah panjang pendeknya usia, bukan pula banyak sedikitnya harta, melainkan jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Ada manusia yang telah wafat ratusan tahun, tetapi nama mereka tetap harum, doa-doa terus dipanjatkan untuknya, dan manfaat ilmu serta amalnya terus mengalir hingga hari kiamat. Inilah tanda kehidupan yang hakiki: meski jasad telah kembali ke tanah, ruh dan amalnya tetap hidup di hati manusia.
Sebaliknya, ada manusia yang meski masih hidup, namun seakan-akan ia telah mati. Hidupnya tidak memberi manfaat, kehadirannya menjadi beban, ucapannya menyakiti, tindakannya merusak. Orang-orang tidak merindukannya, bahkan merasa lega bila ia tiada. Hidup semacam ini sesungguhnya adalah kematian dalam kehidupan, karena yang bergerak hanyalah jasad, sementara hatinya mati dari cahaya Allah.
Oleh karena itu, seorang salik diingatkan agar menjadi manusia yang dikenang kebaikannya, dirindukan amalnya, ditangisi kepergiannya, dan disyukuri keberadaannya. Hidupnya menjadi rahmat, wafatnya menjadi kehilangan, karena di dalam dirinya ada cahaya Allah yang selalu memberi manfaat bagi sesama.
“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa meskipun jasad terkubur, amalnya tetap hidup dan terus mengalir manfaatnya.
Rasulullah saw juga bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, Thabrani)
Maka ukuran kemuliaan hidup adalah seberapa besar manfaat yang ia berikan.
Inti Hikmah
Kehidupan sejati adalah yang meninggalkan jejak kebaikan. Kematian sejati bukanlah ketika ruh keluar dari jasad, melainkan ketika hati mati dari dzikrullah.
Manusia yang dirindukan adalah manusia yang menghadirkan cahaya Allah dalam hidupnya, hingga ia tetap hidup meski jasad telah terkubur.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya