Sabtu, 11 April 2026

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi 


Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi Transformasi

Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )


Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, rangkaian karya musik Raden Syair Langit telah sampai pada satu fase yang patut disyukuri.

Sebanyak 71 karya lagu utama, serta 24 lagu edisi transformasi dalam berbagai nuansa dan warna,

kini telah tersusun dan dipersembahkan melalui kanal resmi Syair Langit Studio.

Setiap karya bukan sekedar rangkaian nada, namun jejak perjalanan rasa, doa, dan makna yang diikat dalam syair.

InsyaAllah perjalanan ini belum usai. Apabila waktu dan ilham kembali beriring, karya-karya baru akan kembali dihadirkan.

Bahkan saat ini, proses penggarapan karya ke-72 tengah berlangsung,

sebagai kelanjutan dari alur rasa yang belum selesai.

Ke depan, kami juga akan menghadirkan kisah-kisah di balik setiap lagu, agar makna yang tersembunyi dapat lebih dekat dirasakan, bukan hanya didengar.

Terima kasih atas setiap doa dan dukungan. Semoga setiap nada yang mengalun, menjadi jalan kebaikan dan pengingat akan-Nya.

Jumat, 10 April 2026

Rabithah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Rabithah رابطة

Dalam konteks tarekat, rabithah secara harfiah berarti ikatan atau hubungan. Secara khusus, rabithah merujuk pada ikatan batin yang kuat antara seorang murid dengan gurunya dalam sebuah tarekat, serta ikatan dengan Rasulullah SAW, dan akhirnya dengan Allah SWT. Tujuan dari ikatan ini adalah untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritualnya, membantu melawan hawa nafsu, serta mempererat hubungan dengan Allah.

Rabithah juga bisa dilaksanakan dengan mengingat rupa guru (Syekh) dalam ingatan seorang murid. Praktek rabithah ini merupakan adab dalam pelaksanaan dzikir seorang salik, yaitu sebelum seorang salik berdzikir untuk melaksanakan dzikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mengingat gurunya yang telah menalqin dzikir kepadanya. Mengingat itu bisa dilakukan seperti mengingat  wajah guru, mengingat seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Ingat, hal ini tidak boleh dilakukan dalam shalat, rabithah hanya dilakukan saat kita akan melakukan amaliyah seperti dzikir, atau amaliyah-amaliyah lainnya yang diajarkan guru mursyid. Maksud dari rabithah ini adalah sebagai bentuk mengingat guru yang menjadi wasilah pelantara Allah kepadanya, sehingga ia berharap mendapatkan  keberkahan dari Allah dengan rabithah itu sendiri.

Sedangkan dalam urusan shalat, maka semuanya harus disandarkan secara utuh kepada Allah.

Maksudnya adalah, jangan sampai ada pelaku tarekat yang sedang melakukan shalat malah mengingat guru, ini adalah pemahaman yang salah kaprah, bahkan pada dasarnya, dalam melakukan amaliyah apapun diluar shalat, melakukan rabithah itu maksudnya adalah diawal, selain mengingat guru, kita bisa tawasul mengirimkan fatihah kepada guru, agar semoga mendapatkan keberkahan dari Allah. Namun saat pelaksanaan dzikir, semua nya harus tetap tertuju kepada Allah, sudah tidak ada lagi guru, tidak ada lagi kita, tidak ada lagi seluruh alam semesta dan isinya, karena dihati hanya ada Allah, tidak ada lagi tempat untuk yang lainnya.

Rabithah yang paling utama itu dengan mengaplikasan adab kita terhadap Guru. Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, apalagi kepada guru tarekat, maka semua itu akan menimbulkan dampak yang buruk kepadanya. Seperti diantaranya hilang berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, tidak dapat menyebarkan ilmunya, dan dia tidak bisa mencicipi manisnya makrfiat walaupun setetes.

Syariatnya, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu tarekat, karena guru yang mengajarkan ilmu tarekat, mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu lahir dan ilmu bathin agar engkau mengenal Allah.

Para pewaris Nabi, begitulah julukan mereka para pemegang kemulian ilmu Agama Allah, dan mereka itu memiliki derajat yang tinggi dihadapan Allah SWT.

Ketahuilah sedulur-sedulur, para pengajar Agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, pada hakikatnya mereka semua ada didalam pesan Rasulullah saw.

Beliau ngadawuh,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama”

(HR. Ahmad)

Tersirat dari kasauran Kanjeng Nabi Muhammad saw, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Para ulama adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya. Karena mereka telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.

Sahabat Abu Sa’id Al Khudri (أبو سعيد الخدري) berkata,

كُنَّا جُلُوساً فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَينَا فَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَيْرُ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ مِنَّا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara”

(HR. Bukhari)

Ibnu Abbas (ابن عباس), seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari ahli bait Nabi, beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit Al-Anshari (زيد بن ثابت الأنصاري) dan berkata,

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami.”

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al-Aslami (عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي),

“Tidaklah seorangpun berani bertanya kepada Said bin Musayyib (سعيد بن المسيب), sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang Raja.”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman (الربيع بن سليمان) berkata,

 “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Guruku Asy-Syafi’i (الإمام الشافعي) melihatku karena segan kepadanya.”


Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي), bahwasannya Umar bin Khattab (عمر بن الخطاب) mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ العِلْمَ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang kalian pelajari ilmu darinya.”

Imam Syafi’i (الإمام الشافعي) berkata,

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan guruku Imam Malik bin Anas (الإمام مالك بن أنس) dengan sangat lembut, karena segan padanya, dan supaya dia tak mendengarnya.”

Abu ‘Ubaid Al Qosim (أبو عبيد القاسم) berkata,

“Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS. Al-Hujurat: 5)

Sungguh mulia akhlak mereka semua, diantara yang menjadi suri tauladan untuk kaum muslimin. Tidaklah heran mengapa mereka semua menjadi ulama besar, sungguh keberkahan ilmu yang mereka dapat, diantaranya karena akhlak mulia mereka terhadap guru-gurunya.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama tasawuf menafsirkan, bahwa mahabbah ruhaniyyah yang mendalam kepadaNabi Muhammad saw atau kepada mursyid akan menghadirkan kebersamaan ruhani (rabithah), meskipun secara fisik berjauhan.

Penjelasan Ulama Tasawuf:

Imam an-Nabhani dan Syekh Ahmad Zarruq menegaskan bahwa rabithah merupakan bagian dari adab dan ta’alluq ruhani antara murid dan mursyid.

Di dalam setiap tarekat, rabithah diajarkan sebagai latihan untuk menghadirkan mursyid dalam hati, agar hati tidak kosong dan tetap terjaga dalam muraqabah. 


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Kamis, 09 April 2026

Muraqabah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Muraqabah مراقبة


Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.

Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.

Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

(QS. Al-Ḥadid: 4)

Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.

Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.

---------------------------------------------------------------------------------

Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:

Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):

Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.

Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):

Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.

---------------------------------------------------------------------------------

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Muslim, no. 8)

Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.

Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.

Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 07 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32 (Kebaikan Didalam Tiga Perkara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32

(Kebaikan Didalam Tiga Perkara)


“Ada kebaikan didalam tiga perkara. Penglihatan, diam, dan pembicaraaan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil pelajarannya, itu semua adalah kesia-siaan. Sedangkan pembicaraan yang bukan dzikir, itu juga adalah kesia-siaan. Dan diam yang tidak disertai pemikiran, itu adalah kelalaian. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil pelajaran, diamnya karena berfikir, dan pembicaraannya berisi kan dzikir, sembari menangisi dan menyesali kesalahan-kesalahannya.






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Senin, 06 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31 (Antara Melihat dan Mendengar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31

(Tanda Orang yang Arif & Bijaksana)


“Tanda orang arif dan bijak itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristigfar”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Minggu, 05 April 2026

Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)

 


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)


Acara: Halal Bihalal

Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Alamat: Dusun Banjaransari Desa Selacai Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis




Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)

 


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)


Acara: Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Alamat: Majelis Ta'lim Nurul Iman, Rt. 05 Rw. 06 Baleendah Bandung


71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...