Tampilkan postingan dengan label Tanggapan Abah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanggapan Abah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2026

Bikin Mual! Abah Raden Syair Langit Bongkar ‘Kejahatan Intelektual’ Buku Islam ala Prabowo


Bikin Mual! Abah Raden Syair Langit Bongkar ‘Kejahatan Intelektual’ Buku Islam ala Prabowo

Sedulur sedulur yang semoga diberkahi Allah. Belakangan ini media sosial kita bising oleh sebuah karya literasi yang jujur, membuat dahi saya berkerut dalam-dalam, dan terus terang bikin perut saya sedikit agak mual. Sebuah buku berjudul 'Islam ala Prabowo'.

Saat pertama kali mendengar judul ini, refleks intelektual saya langsung bertanya: Sejak kapan metodologi, pemikiran, dan amaliah keislaman di negeri ini bersandar pada nama seorang politisi model Prabowo?

Kalau kita bicara 'Islam ala Mbah Hasyim Asy'ari', kita paham. Ada sanad keilmuan, ada kitab-kitab yang ditulis, ada tradisi pesantren yang mengakar.

Kalau kita bicara 'Islam ala KH. Ahmad Dahlan', kita mengerti. Ada rekam jejak pembaharuan sosial dan pendidikan yang nyata.

Tapi... 'Islam ala Prabowo'? Maaf, landasan epistemologi agamanya dari mana?"

"Mari kita berpikir jernih dan elegan. Menempatkan nama seorang tokoh politik dalam frasa 'Islam ala...' seolah-olah mengesankan bahwa Prabowo adalah seorang ulama, seorang 'alim, atau pemikir orisinal Islam yang fatwa dan ijtihadnya layak dijadikan rujukan umat.

Kalian tau kan, Prabowo pernah dengan terang terangan. bahwa dia termasuk orang yang menyukai sosok Mustafa Kemal Ataturk (tokoh sekuler radikal yang meruntuhkan Kekhalifahan Turki Utsmani dan dinilai mayoritas ulama telah merusak tatanan Islam).

Terus saya mau tanya, tidak usah jauh-jauh. Saya mau tahu bagaimana pehaman Islam sosok Prabowo? minimal saya mau tau dan mendengar kualitas bacaan Al Quran nya, minimal saya mau tau pehamana fiqih dasar nya, atau saya mau tau pemahaman tauhid dasar nya. Setidaknya dia paham safinah sebagai fiqih dasar, dan paham tijan sebagai landasan dasar dalam urusan aqidah.

Kita semua mengakui kalau Prabowo sebagai Kepala Negara, sebagai pemimpin politik. Itu ranah dia. Tetapi, memaksakan branding politik ke dalam wilayah sakralitas agama dengan judul sementereng itu, justru terasa seperti lelucon intelektual yang dipaksakan. Ini bukan lagi soal menghargai pemimpin, ini namanya mengaburkan batasan antara otoritas keagamaan dan panggung kekuasaan.

Pertanyaannya: Apakah demi sebuah syahwat politik, sebuah mazhab pemikiran baru harus dipaksakan lahir dari balik meja tim sukses?"

Kejanggalan buku ini ternyata tidak berhenti di sampul luar yang menggelitik itu. Begitu buku ini dibuka, isinya justru menceritakan cacat etika yang luar biasa parah. Beberapa ulama besar, tokoh yang benar-benar punya otoritas keilmuan, seperti Gus Kautsar, TGB Zainul Majdi, hingga Kiai Said Aqil Siradj, satu per satu angkat bicara. Mereka melayangkan protes keras karena nama mereka dicatut sebagai penulis naskah tanpa izin dan tanpa konfirmasi.

Bayangkan, sebuah buku yang mengklaim ingin memotret cara mengamalkan ajaran Islam, justru lahir dari sebuah proses yang melanggar etika dasar kejujuran. Islam mengajarkan tabayyun dan amanah. Tapi buku ini justru diproduksi dengan cara mengklaim tulisan orang lain demi mencari legitimasi dari para ulama. Apakah menipu identitas penulis di dalam buku agama adalah bagian dari 'Islam ala' yang ingin diajarkan oleh tim penyusun ini?

Ini bukan sekadar kelalaian administrasi, ini adalah bentuk pelecehan terhadap integritas ilmiah."

Dan yang paling menyedihkan dari seluruh drama ini adalah keterlibatan institusi keagamaan tertinggi kita seperti MUI. Bagaimana mungkin proyek buku yang sarat akan kepentingan branding politik, dan terbukti cacat etika sejak dalam kandungan, bisa diinisiasi dan diluncurkan secara megah oleh elite Majelis Ulama Indonesia? Di mana marwah lembaga fatwa ketika mereka justru sibuk menjadi tim pemandu sorak untuk sebuah buku politik yang merugikan nama baik para ulama di jajarannya sendiri?"

Minim Jejak Intelektual Independen:

Profil mendalam dari ketiga penulis ini (Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas) tergolong sangat minim dan hampir tidak memiliki rekam jejak independen yang menonjol di dunia literasi, riset akademik, maupun kajian keislaman nasional sebelum buku ini terbit.

Banyak pengamat literasi di media sosial menilai mereka sebagai nama-nama baru yang rekam jejak independennya "kurang terdengar" di ruang publik.

Bagian dari Tim Penyusun Tim Sukses/Afiliasi Politik:

Penulisan buku ini tidak murni lahir dari inisiatif riset independen secara personal. Ketiganya bergerak sebagai sebuah tim penyusun atau tim penulis yang bekerja di bawah arahan inisiator utama. Diketahui bahwa proyek buku ini diinisiasi oleh Ketua MPR RI yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, bersama dengan unsur pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dengan demikian, posisi ketiga penulis ini lebih berperan sebagai eksekutor naskah (ghostwriter atau tim perumus) yang bertugas menghimpun opini, melakukan wawancara, dan mengumpulkan data terkait citra keislaman Prabowo Subianto.

Banyak pihak menyayangkan mengapa elite MUI ikut menggagas buku politik yang pada akhirnya justru tersandung masalah serius berupa "kejahatan intelektual" karena mencatut nama-nama ulama besar NU seperti Kiai Said Aqil tanpa izin.

Sedulur sedulur yang semoga diberkahi Allah, menghormati pemimpin itu wajib. Menghargai kinerjanya itu adil. Tetapi, memperlakukan figur politik seolah-olah dia adalah rujukan teologis, adalah sebuah lompatan logika yang kebablasan. Buku ini tidak sedang mengedukasi umat, buku ini sedang mempertontonkan bagaimana agama bisa dikemas dengan begitu murah demi sebuah kepentingan.

Umat Islam di Indonesia sudah cerdas. Kita tahu mana ulama yang bicaranya berlandaskan kitab, dan mana buku yang ditulis sekadar untuk memoles citra.


Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had thoriqotul Auliya


Rabu, 09 September 2026

Abah Raden Syair Langit (Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar) Skakmat Abah Setu yang Telah Melakukan Penghinaan Kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

 


Abah Raden Syair Langit (Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar) Skakmat Abah Setu yang Telah Melakukan Penghinaan Kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

 


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam takzim bagi para pencari kebenaran.

Akhir-akhir ini, jagat media sosial sering dihebohkan oleh celotehan yang keluar dari congor congor menyesatkan seeperti Si Setu.

Sebenanrya bukan hanya dia, karena bannyak makhluk makhluk model manusia ini yang celotehannya banyak membahayakan umat.

Tapi kali ini saya akan membahas khusus terkait si tua bangka ini. yang makin tua bukan nya makin merendah tapi malah makin pongah.

Mulai dari menafsirkan agama sesuka isi kepalanya, hingga puncaknya kemarin—dengan lancang, congornya menyebut Nabi Muhammad tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Melihat fenomena ini, saya tidak bisa tinggal diam. Perkenalkan, saya Raden Syair Langit. Sebagian besar dari Anda pasti sudah tahu siapa saya, dan apa yang selama ini saya perjuangkan.

Saya adalah orang yang berdiri di garda terdepan untuk meluruskan sejarah palsu Syekh Siti Jenar—sang wali yang selama ini difitnah seolah-olah meninggalkan syariat agama.

Dengarkan baik-baik, Setu! Anda ini tipikal orang yang sok bicara thariqah, sok bicara tasawuf, tapi isi kepala Anda justru menyepelekan syariat! Anda merasa sudah sampai ke puncak spiritual lalu menganggap enteng rukun Islam dan merendahkan kedudukan Baginda Rasulullah. Ingat Gusti Allah mboten sare.

Sebelum video penghinaan Nabi ini viral, kelakuan Anda juga sudah bikin gaduh karena dengan bodohnya menyebut salat lima waktu tidak ada di dalam Al-Qur'an. Ini adalah ciri nyata dari orang yang buta sanad dan ingkar sunnah! Memang angka lima waktu tidak ditulis secara ejaan matematika dalam satu ayat, tetapi perintahnya tersebar jelas di berbagai ayat Al-Qur'an, (seperti QS. Al-Isra: 78 dan QS. Hud: 114) dan detail rakaat serta waktunya diturunkan mutlak melalui hadis dan praktik langsung Nabi Muhammad SAW.

Menolak salat lima waktu sama saja Anda sedang merubuhkan fondasi Islam. Saya berbicara di sini sebagai pelaku tarekat khash. Saya adalah penganut Tarekat Thaifuriyah, tarekat pertama yang ada di muka bumi, pelanjut dari ajaran luhur Sultan al-Arifin Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, dan Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Di dalam lingkaran kami, kami memahami betul apa itu ajaran puncak: Ittihad, Hulul, Wahdatul Wujud, hingga Manunggaling Kawulo Gusti.

Tetapi, kami melihatnya dari kacamata yang haq, kacamata yang benar, bukan kacamata sesat seperti pemahaman Anda.

Dalam spiritualitas yang lurus, semakin tinggi tauhid seseorang, semakin ia fana di hadapan syariat, bukan malah mengangkanginya. Syariat tanpa hakikat adlaah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan.

Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku sampai pada maqam Fana’ wal Baqo’, tapi lisannya masih kotor merendahkan Rasulullah? Nabi Muhammad adalah pintu gerbang utama dari segala makrifat. Menolak sang pintu, berarti Anda sedang tersesat di dalam kegelapan ilusi Anda sendiri.

Secara hakikat, ya, siapapun termasuk Baginda Nabi Muhammad SAW tidak bisa menolong dirinya sendiri, karena hakikatnya hanya Allah Sang Maha penolong. Tapi adab mu kepada Baginda Nabi, dengan mengatakan Muhammad orang madinah itu, caramu menyembuut manusia mulia, sudah sangat meerendahkan dan bikin sakit hati seluruh umat Islam yang otaknya waras tidak terpapar virus kesesatan.

Bagi saya, Setu ini hanyalah makhluk yang sok thariqah padahal thothoriqohan, sok tasawuf padahal tak sanggup. ngaku Ahlussunnah wal Jama'ah, padahal aslinya Ahlul Jabrah wal Gagabah. Kamu itu sama dengan yang lainnya, kaum perusak yang hanya mengandalkan omong kosong tanpa dasar sanad keilmuan yang jelas.

Sadar diri Setu. Makrifatmu itu palsu, dan apa yang keluar dari mulutmu hanyalah racun yang sangat berbahaya bagi umat.

Sebagai penutup, kepada kaum muslimin wal muslimat, jika kalian melihat ada makhluk makhluk macam si Setu ini yang suka ngomong thoriqoh, ngomong tasawuf, ngomong makrifat, jangan kalian pukul rata semua pelaku thoriqoh. Karena pada hakikatnya, orang yang benar-benar ber-thoriqoh itu bukan macam si Setu atau siapapuun yang sejenisnya.

Orang yang benar berthoriqoh akan tetap apik didalam syariat Agama. Orang yang benar berthoriqoh akan ssemakin me rasa rendah, selalu menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya.

Ingat,

Didalam Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46, yang kesemuanya sudah tersimpan didalam Kitab Sajatining Mulyo karangan saya. Disana saya menjelaskan,

 

          “Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.

Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.

Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Dan Didalam Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58, yang kesemuanya juga sama, sudah tersimpan didalam Kitab Sajatining Mulyo karangan saya.

Disana saya menjelaskan,

 

 “Wali Allah itu ibadahnya semakin luar biasa, berbeda dengan manusia biasa, jangankan yang wajib, yang sunnah pun serasa wajib. Jadi tidak ada Wali Allah yang menyepelekan urusan-urusan wajib seperti shalat.

Kalau kalian menemukan orang yang disebut Wali atau mengaku-ngaku Wali tetapi meninggalkan shalat atau perkara-perkara lainnya yang diwajibkan oleh Allah, maka dia bukanlah Wali Allah, tetapi hanya pecundang yang mengaku-ngaku Wali Allah, diikuti oleh orang-orang bodoh, disanjung oleh orang-orang linglung.

Maha Guru Mursyid kami Syekh Siti Jenar dan Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami adalah pelaku amal ibadah yang luar biasa, jangankan shalat wajib, yang sunnah-pun serasa wajib. Diceritakan dalam manaqbinya, shalat sunnah tahajud Beliau semenjak dari usia tujuh tahun tidak pernah putus semalam seratus raka’at.

Ucapan seorang Wali adalah hikmah, diamnya adalah tafakkur, penglihatannya adalah pelajaran dan amalnya adalah kebaikan.

Apa penjelasannya,

          Hakikat seorang Wali adalah manusia yang paling tunduk, taat, dan patuh terhadap perintah Allah. Kedekatan mereka dengan Allah tidak menjadikan mereka bebas dari syariat, justru semakin kuat berpegang pada syariat. Karena syariat adalah pondasi, dan hakikat adalah buahnya.

Seorang Wali sejati tidak akan pernah menyepelekan shalat, karena shalat adalah tiang agama.

Rasulullah saw bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ

"Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama."

(HR. Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman)

Allah SWT juga berfirman - menegaskan tanda para Wali:

إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."

(QS. Yunus: 62–63)

Ketakwaan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan di lisan, melainkan ketaatan penuh terhadap perintah dan larangan Allah. Sehingga tidak mungkin seorang yang benar-benar Wali Allah menyepelekan syariat.

Adapun orang yang mengaku Wali tetapi meninggalkan shalat, ataupun menyepelekan masalah adab dan perkara-perkara syariat, maka sesungguhnya mereka hanyalah tukang tipu yang memperdaya orang-orang jahil. Maka jangan kaget saudara, orang-orang yang doyan mengikuti kelompok nyeleneh, tidak kurang tidak lebih, hanyalah orang-orang bahlul murokab, yang gak punya otak.

Ulama besar seperti Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:

كُلُّ طَرِيقٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ زَنْدَقَةٌ

"Setiap jalan (tarekat) yang tidak disaksikan (didukung) oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah zindiq (sesat)."

Wali Allah justru menambah amal-amal sunnah hingga terasa wajib dalam dirinya. Seperti yang dicontohkan oleh Syekh Abu Yazid al-Busthami, yang sejak kecil melatih diri dengan shalat sunnah ratusan rakaat setiap malam. Itu adalah bukti bahwa cinta kepada Allah melahirkan pengabdian tanpa batas.

 

Maaf jika kalian menganggap apa yang saya sampaikan terkesan sombong atau terlalu jumawa.

Ingat Setu, para ulama kekasih Allah telah menanamkan satu kaidah yang sangat kuat:

اَلتَّكَبُّـرُ عَلَى الْمُتَكَبِّـرِ صَدَقَـةٌ

Menyombongi orang yang sombong, menghantam orang yang takabur dengan kesesatannya, adalah ibadah sedekah!

Jika di hadapan makhluk angkuh dan ingkar sunnah seperti Anda kami bersikap tawadhu atau lemah lembut, itu sama saja kami membiarkan Anda semakin tenggelam dalam kesesatan.

Maka ketegasan dan hantaman keilmuan yang saya lontarkan hari ini adalah sedekah terbaik untuk menyadarkan ketololan berpikir Anda!

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَذَااْلعَالمَ َصَغِيْرًا اَ مَامَنَا وَدَعْ اِسْمَكَ يَقِفُ  دَائِمًافِيْ قُلُوْبِنَا, كُلُّ شَيْءٍ هَاِلكٌ اِ لاَّ وَجْهَهُ

رَبِّ يَسِّرْ لَنَا وَلاَ تُعَسِّرْ عَلَيْنَا رَبِّ تَمِّمْ لَنَا بِالـْخَيْرِ أَعْمَالَنَا

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya


Rabu, 19 Agustus 2026

Raden Syair Langit Menanggapi Ada Seorang Kuwu Di Sukamantri Ciamis yang Mengadakan Hiburan di Pelataran Masjid & Menyuruh Pemuda Untuk Mabok di Peringatan HUT RI ke-81

 

Raden Syair Langit Menanggapi Ada Seorang Kuwu Di Sukamantri Ciamis yang Mengadakan Hiburan di Pelataran Masjid & Menyuruh Pemuda Untuk Mabok di Peringatan HUT RI ke-81

“KDM Minta Maaf Kepada Rakyat Pejabat Berdiri Orang Susah Duduk di VIV | Sikap Luar Biasa di HUT RI ke-81, Tanggapan Abah Raden Syair Langit”


“KDM Minta Maaf Kepada Rakyat Pejabat Berdiri Orang Susah Duduk di VIV | Sikap Luar Biasa di HUT RI ke-81, Tanggapan Abah Raden Syair Langit”

Sikap kesatria  seroang Dedi mulyadi ini mendapatkan pujian dari Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya, Abah Leuweunggede Raden Syair Langit

Saat  diwawancaara tim Jejak Makrifat, Beliau berpendapat seperti ini :

Ada kurang lebih sekitar 433.000 pejabat di Indoensia dari skup baawah sampai atas. Dari ke 433.000 pejabaat itu, ada kurag lebih sektiar 92.000 pejabat yang memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi Inspektur Upacara pada Hari Kemerdekaan Indonesia.

Tapi maaf jika saya salah data, karena tidak semua terekspos media. kemungkinan hanya ada satu orang yang dalam pidato peringatan hari kemerdekaan Indoensia meminta maaf kepada rakyatnya. Dialah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dulu di kisaran tahun 2016 saya sangat membencinya, namun kebencian itu berubah saat melihat sosok KDM yang suka berbagi kepada rakyat kecil, menolong tanpa melihat siapa yang di tolong, lebih memuliakan orang susah, ketimbang jadi penjilat orang-orang yang berkuasa di atasnya.

Maaf, sekali lagi saya minta maaf, jika ternyata ada yang berpidato dengan redaksi yang hampir sama,  selain KDM di peringtaan upacara Kemerdekaaan Indoensia yang ke-81. Karena sekali lagi saya tegaskan, banyak yang menjadi inspektur upacara, namun tidak semua terekspos media.

Satu hal  lagi yang ingin saya garis bawahi di peringatan hari kemerdekana Indoensia yang ke 81 ini. Kayaknya hanya di jawa barat, yang rakyat kecil nya di suruh duduk di panggung kehormatan kelas VIP, dan justru para pejabatnya yang disuruh  berdiri di lapangan, merasakan panasnya teerik matahari.

Di tengah riuhnya seremonial, kepulan asap jabat tangan, dan klaim keberhasilan yang dibacakan dari teks yang hampir seragam, mungkin hanya ada satu orang pejabat tinggi yang justru menggunakan podium kemerdekaan untuk mengetuk pintu kesadaran kita semua.

Beliau berani menundukkan kepala dan meminta maaf secara terbuka kepada rakyatnya. Dialah Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.

Mungkin baru pertama kali dalam sejarah upacara resmi negara, aturan protokoler dibalik total atas nama kemanusiaan.

Di Jawa Barat, tenda megah dan kursi empuk panggung kehormatan kelas VIP yang biasanya diisi oleh barisan jas mewah para pejabat, hari itu diserahkan sepenuhnya untuk diduduki oleh rakyat kecil. Para petani, nelayan, kuli bangunan, hingga petugas kebersihan jalan.

Sementara para pejabat, anggota dewan, dan petinggi instansi? Mereka diminta mengalah. Berdiri di lapangan terbuka, merasakan langsung teriknya matahari, persis seperti apa yang dirasakan rakyatnya setiap hari selama puluhan tahun.

Tentu, ruang media kita terbatas. Saya memohon maaf jika ada redaksi serupa atau ada inspektur upacara di pelosok desa lain yang juga berpidato meminta maaf namun tidak terekspos kamera.

Tetapi poin utamanya bukan sekedar siapa yang masuk berita. Poin utamanya adalah pesan kuat yang dikirimkan dari halaman Gedung Sate:

Bahwa kemerdekaan bukan tentang seberapa nyaman pejabatnya duduk di dalam tenda, melainkan seberapa menderita pejabatnya saat rakyatnya belum merdeka.

Untuk para pejabat yang soleh, saya doakan kalian masuk kedalam golongan para pemimpin yang adil, yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah, di hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya.

Namun untuk kalian para pejabat b4ngsat, upacara sudah selesai. Sekarang saatnya berkaca.

Kematian tidak pernah bertanya kalian masih muda, sudah tua, sedang sakit atau dalam keadaan sehat. lebih baik segera bertaubat, jatuhkan ambisi dan keserakahanmu, mumpung nyawa masih di badan, karena saat kalian mati, penyesalan tidak akan pernah berarti.

Sabtu, 15 Agustus 2026

Komentar Raden Syair Langit "Saya Gak Pernah Ngerasa Sepengen Ini Jadi Tukang kupas Bawang Setalah Mendengar Prabowo Bilang Gajihnya 700 Ribu Per Kilo"


 

Komentar Raden Syair Langit "Saya Gak Pernah Ngerasa Sepengen Ini Jadi Tukang kupas Bawang Setalah Mendengar Prabowo Bilang Gajihnya 700 Ribu Per Kilo"


Spill Donk Pak Lokasinya !

"Luar biasa. Akhirnya ada profesi di Indonesia yang gajinya mengalahkan software engineer Silicon Valley, yaitu: buruh kupas bawang.

Bayangkan, 700 ribu rupiah per kilogram ! Kalau sehari bisa kupas 10 kilo saja, berarti penghasilan harian mencapai 7 juta. Sebulan ! penghasilan mencapai 210.000.000.

Hanya butuh 30 hari untuk bisa beli mobil Avanza. Dan kalau mau sabar sedikit, hanay butuh waktu 3  bulan untuk bissa beli mobil Pajero.

Apakah ini yang di namakan Indonesia Emas ? atau Indonesia 'Emas Batangan'?

Tapi tunggu dulu. Mari kita pakai logika rakyat kecil seperti saya. Kalau upah kupasnya saja 700 ribu per kilo, lalu harga bawangnya berapa? saya cek di pasaran, harga bawang ada di kisaran 30 ribaun. Ini dampaknya akan sangat jauh lho. Kita ambil satu contoh saja. Tukang bakso itu butuh bawang, lah terus apakah nanti satu porsi bakso harganya jadi tiga juta per porsi?

Baiklah, kita akan meencoba husnudzon. Ini 'katanya' ya. Katanya cuma salah sebut atau keseleo lidah di pidato kenegaraan kemarin. Tapi masalahnya, urusan perut rakyat miskin itu bukan hal yang bisa dibawa bercanda lewat salah sebut angka nominal.

Kekeliruan fatal seperti ini menunjukkan satu hal: tim penyusun teks dan pembisik di lingkaran Istana sepertinya sudah terlalu lama hidup di ruang ber-AC yang nyaman. Sampai-sampai, mereka lupa mengecek berapa harga bawang riil di pasar tradisional.

Pak, tolong, staf-stafnya itu sekali-kali disuruh ikut belanja ke pasar subuh. Biar tahu kalau rakyat di bawah itu berjuang demi rupiah yang angkanya nolnya sedikit, bukan angka khayalan yang bikin kita tepuk jidat berjamaah.

Saran saya, tim data istana perlu ditatar ulang. Jangan sampai niat baik memamerkan program kesejahteraan, malah jadi panggung komedi yang ditertawakan ibu-ibu se-Indonesia.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Pandangan Spiritual Raden Syair Langit Terkait Syekh Siti Jenar Diangkat Didalam Tesis Ilmiah Resmi UIN Antasari Banjarmasin


 

Pandangan Spiritual Raden Syair Langit Terkait Syekh Siti Jenar Diangkat Didalam Tesis Ilmiah Resmi UIN Antasari Banjarmasin


Khazanah tasawuf Nusantara selalu menyimpan ruang diskusi yang mendalam. Menariknya, pemikiran Raden Syair Langit, pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya, pengarang Kitab Sajatining Mulyo, pengarang Sholawat Sirrul makrifat, sekaligus seorang musisi independen, dan juga figur spiritual sufi modern, kini telah bertransformasi menjadi salah satu rujukan berbobot di ranah akademis kampus Islam negeri.

Hal ini terbukti dari dokumen ilmiah yang tersimpan dalam sistem arsip digital resmi (Institutional Digital Repository) UIN Antasari Banjarmasin,

dengan tautan legal idr.uin-antasari.ac.id. Pernyataan dan sudut pandang Raden Syair Langit ini dicatut secara formal dalam Tesis S2 Program Pascasarjana Akhlak Tasawuf tahun 2021 yang berjudul: “Studi Komparatif Ajaran Tasawuf Syekh Siti Jenar dan Datu Abulung”

Tepat pada Halaman 12 dokumen Bab I Pendahuluan tesis tersebut, peneliti mensejajarkan pandangan akademis Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan pandangan spiritual dari Raden Syair Langit.

Sebenarnya ini bukan hanya yang pertama, pandangan Raden Syair Langit diterima dikalangan akademisi. Karena sebelum-sebelumnya, karya-karya dan pendapat Raden Syair Langit banyak juga dijadikan rujukan dan acuan para peniliti yang lain.

Sebagai salah satu orang yang konsisten berjalan di jalur tasawuf, Raden Syair Langit membawa data silsilah tarekat yang menarik: beliau menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar memiliki nama asli Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dan dilahirkan di bumi Persia, Iran.

Diterimanya argumen ini dalam karya ilmiah S2, menunjukkan bahwa kapasitas Raden Syair Langit sangat banyak diakui. Karya musik spiritualnya seperti Suluk Wahdatul Wujud, bukan sekedar pemanis dengar, melainkan representasi dari pemahaman makrifat yang mendalam, dan bersumber dari sanad lisan yang valid.

Rekam jejak digital ini mengukuhkan nama Raden Syair Langit sebagai salah satu tokoh sufi kontemporer yang pemikirannya diakui, dikaji, dan dihormati oleh para akademisi dan peneliti tasawuf di Indonesia.

Rabu, 29 Juli 2026

Beredar Vidoe Uu Ruzhanul Ulum Klaim "Saya Layak Menjadi Gubernur JABAR" Tanggapan Raden Syair Langit "Ini Panglima Santri Atau Panglima hibah?"


Beredar Vidoe Uu Ruzhanul Ulum Klaim "Saya Layak Menjadi Gubernur JABAR" Tanggapan Raden Syair Langit "Ini Panglima Santri Atau Panglima hibah?"


Beredar video lama, Uu Ruzhanul Ulum sedang orasi menggebu-gebu, teriak-teriak mengklaim dirinya paling layak jadi Gubernur Jawa Barat karena punya segudang pengalaman.

Sebelum ditanggapi, perlu diketahui, bahwa ini video lama. Kejadian aslinya itu awal 2023 di Bekasi saat dia masih menjabat. Tapi, gak ada salahnya untuk dibahas lagi sekarang. Biar publik tidak lupa.

Mantan wakil gubernur ini yang suka disebut Panglima Santri, kalau menurut saya sih lebih cocok disebut Panglima Hibah, apalagi kalau mendengar narasinya yang berteriak lantang, "Saya layak jadi gubernur Jawa Barat." Jujur, telinga saya langsung geli. Orang yang di depan publik masih berani mengaku-ngaku, "Aku layak," "Aku bisa," "Aku hebat," itu sejatinya adalah cerminan dari kesombongan yang nyata.

Di dalam sejarah dan peradaban manusia, ada tiga tipikal manusia yang suka sekali menonjolkan kalimat "Aku":

Pertama, manusia yang kelakuannya persis seperti Firaun, yang dengan keakuannya berani merasa paling tinggi di atas segalanya.

Kedua, manusia yang kelakuannya mirip Abu Jahal, yang menutup mata dari kebenaran hanya karena ego keakuannya yang terlalu besar.

Dan yang ketiga, ya itu kamu, kalian, atau siapapun yang teriak-teriak di podium merasa paling bisa dan paling layak memimpin rakyat.

Uu ini katanya ustadz, keluarga pesantren, punya pondok, dekat dengan dunia pendidikan Islam. Masa tidak paham? Di dalam ajaran tarekat dan pengamalan tasawuf yang mendalam, terkhusus ajaran yang kami amalkan di Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya, terkhusus yang di wariskan oleh Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al Busthami dan Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, hal mendasar yang pertama kali harus dihancurkan adalah ego. Ada konsep ajaran untuk melepaskan segala bentuk "keakuan" atau ananiyah. Menghilangkan rasa merasa diri penting, merasa diri mampu, demi bisa membersihkan hati untuk mencapai derajat wahdatul wujud, yang menjadi puncak keimanan sekaligus penutup dari segala ilmu.

Kalau hatinya masih dipenuhi rasa "Aku layak," berarti ngajinya belum tuntas, atau jangan-jangan tasawufnya cuma jadi pajangan politik saja? Lucu sih, seekarang banyak para pemuka Agama mengadakan kajian salah satu kitab tasawuf seperti kitab Hikam, tapi kajian atau pasarannya hanya jadi ajang gaya-gayaan, nih gue hebat, Pesantren gue ngadain rutinan kajian Hikam, tapi prilakunya keluar dari isi ajarannya itu sendiri. Kayaknya mereka harus mengkaji Kitab Sajatining Mulyo yang Abah buat, agar setidaknya mereka merasa tertampar dengan kelakuan meereka yang hidup dari Agama bukan hidup untuk Agama.

Perlu digarisbawahi dengan tinta tebal, salah satu ciri pemimpin yang baik itu bukan mereka yang menjajakan dirinya sendiri sambil mengatakan "Aku bisa." Justru dalam sejarah Islam dan kearifan para ulama, pemimpin yang tulus itu untuk mencalonkan diri pun mereka tidak mau. Mereka tidak pernah berambisi mengejar jabatan. Yang ada, mereka justru dipaksa oleh umat, didorong oleh masyarakat karena kredibilitas, ketulusan, dan rekam jejak mereka yang sudah terbukti, bukan karena mereka yang meminta-minta jabatan.

Pemimpin yang baik dan mengerti agama itu, bahkan jika pada akhirnya terpilih, dia tidak akan menggelar pesta pora kegirangan. Dia justru akan menangis dan mengatakan bahwa jabatan ini adalah sebuah musibah dan tanggung jawab yang berat kelak di akhirat, bukan sebuah anugerah untuk ajang gagah-gagahan. Itulah konsep berpikir orang-orang tasawuf yang benar-benar mengerti arti hakikat hidup yang sebenarnya. Bukan malah haus kekuasaan sambil memamerkan keakuan di atas podium.

Kenapa saya bilang begitu? Di saat orasi dulu gayanya paling merakyat dan peduli umat, ternyata di balik layar, aliran dana pemerintah daerah justru mengalir deras ke lingkaran sendiri. Ini bukan fitnah, ini data resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Bayangkan, Yayasan Perguruan Al-Ruzhan yang didirikan dan dikelola keluarga besarnya di Tasikmalaya, tercatat menelan dana hibah dengan total fantastis mencapai kurang lebih Rp45,16 miliar! Angka puluhan miliar itu dikuras bertahap selama lima tahun berturut-turut, dari tahun 2020 sampai 2024.

Pas sekali dengan masa-masa dia sedang berkuasa dan setelah lengser.

Mari kita bedah datanya biar makin jelas:

Tahun 2020, yayasan ini mencicipi dana lewat SMKS Al-Ruzhan sebesar Rp59,4 juta dan SMK Al-Ruzhan Manonjaya sebesar Rp600 juta.

Tahun 2021, lewat Dinas Perumahan dan Permukiman, langsung cair modal jumbo Rp10 miliar untuk bangun gedung Sekolah Tinggi Agama Islam atau STAI Al-Ruzhan.

Masuk tahun 2022 sampai 2023, lewat Biro Kesra, kucurannya makin tidak masuk akal. Anggaran sebesar Rp30 miliar cair untuk kampus STAI Al-Ruzhan, ditambah lagi bonus Rp2,5 miliar untuk pondok pesantrennya.

Dan puncaknya di tahun 2024, aliran dana itu masih terus berlanjut untuk pemantapan fasilitas mereka.

Pertanyaannya sederhana:

di mana asas keadilan bagi masyarakat Jawa Barat? Di luar sana, ada ribuan Madrasah, Pesantren kecil, dan yayasan keagamaan yang atapnya mau roboh, fasilitasnya memprihatinkan, dan harus berdarah-darah mengajukan proposal bantuan yang sering kali berujung ditolak.

Tapi kenapa yayasan milik pejabat tinggi bisa dengan mudahnya mendapatkan puluhan miliar rupiah setiap tahun? Makanya, saya angkat jempol tinggi-tinggi buat langkah berani Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang langsung mengambil tindakan ekstrem. Di bawah kepemimpinannya, Pemprov Jabar secara tegas memutuskan untuk menghentikan sementara pos dana hibah keagamaan dan melakukan pemangkasan anggaran secara besar-besaran. Langkah ini ibarat menabur garam di atas luka para penikmat anggaran instan, tapi bagi saya, ini adalah keadilan yang sesungguhnya.

Keputusan membekukan dana hibah ini bukan tanpa alasan kuat. Pemprov Jabar menemukan fakta lapangan yang bikin geleng-geleng kepala:

Ada yayasan baru yang belum terverifikasi, tapi bisa mencairkan miliaran rupiah, bahkan ditemukan adanya dugaan yayasan fiktif alias bodong yang ikut menguras uang rakyat. Kang Dedi Mulyadi sendiri sampai menyentil keras bahwa selama ini, distribusi dana hibah itu pincang, karena hanya dinikmati oleh lembaga-lembaga yang punya kedekatan atau akses politik kuat. Bayangkan saja, saking serakahnya, ada satu lembaga yang total akumulasi bantuannya bisa menembus angka 25 hingga 50 miIiar rupiah! Sementara itu, ribuan pesantren kecil di pelosok Jabar sama sekali tidak tersentuh bantuan.

Lebih menohok lagi, Gubernur sekarang tidak cuma menyetop anggarannya, tapi juga menagih pembuktian fisik dan audit investigatif. Beliau menegaskan, laporan di atas kertas itu gampang dimanipulasi. Kalau ada yayasan yang menerima puluhan miliar untuk pembangunan tapi kualitas atau kuantitas bangunan fisiknya tidak kelihatan, maka laporan administrasinya sudah pasti fiktif alias palsu! Hasil temuan dari audit investigatif ini pun tidak main-main, karena langsung diserahkan kepada pihak penyidik kepolisian.

Jadi, kebijakan pembersihan sistem ini wajib kita dukung penuh. APBD itu uang rakyat, bukan warisan nenek moyang pejabat yang bisa dibagi-bagi ke keluarga sendiri dengan kedok dana aspirasi partai. Bantuan ke depan harus transparan, adil, berbasis kebutuhan riil di masyarakat, dan bebas dari kepentingan politik dinasti.

Jadi, kalau sekarang potongan videonya viral lagi dan dia teriak "Saya layak jadi gubernur", mungkin kita harus ingatkan si Panglima Hibah ini: rakyat Jawa Barat tidak butuh pemimpin yang jago orasi di podium, tapi lebih butuh pemimpin yang adil membagi anggaran untuk seluruh umat, bukan cuma buat memakmurkan yayasan pribadi. Sok, silakan mikir.

Kamis, 04 Juni 2026

Dadan Eks Ketua MBG Tersandung Korupsi 1 Miliar Sehari, Raden Syair Langit Angkat Bicara

 


Dadan Eks Ketua MBG Tersandung Korupsi 1 Miliar Sehari, Raden Syair Langit Angkat Bicara

Raden Syair Langit bersuara, Asli, saya masih ngelus dada. Tiga tersangka sekaligus, Kepala BGN, Si Dadan Hindayana, dan dua wakilnya, Sony Sonjaya dan juga Lodewych Pusung, ternyata hanya kurang lebih 24 jam, mereka sudah memakai baju KOTORBLOK sudah diborgol oleh Kejaksaan Agung.

KOTORBLOK ( Koruptor G0bl0k)

Harus tahu kasusnya. Kejagung bilang ketiga tersangka melakukan pengaturan verifikasi pada portal mitra BGN, sehingga yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra SPPG adalah yayasan yang terafiliasi dengan pejabat atau pegawai BGN. Tahu kan kalian? Yayasan-yayasan itu ngelola program MBG dengan anggaran tahun 2025, 85 triliun lebih. 2026 melonjak 268 triliun.

Tiap hari mereka dapat insentif miliaran rupiah dari yayasan-yayasan itu. Gila enggak? 1 miliar sehari.

Gilanya lagi, ketiga tersangka ini juga melakukan intervensi penyusunan anggaran, sehingga pengadaan tidak sesuai kebutuhan nyata di lapangan dan mark up harga pengadaan. Tahu kan kemarin yang rame-rame? Pengadaan barang fiktif, mark up anggaran mulai dari puluhan ribu motor listrik—masih ingat nilainya? 1 triliun rupiah—hingga 30.000 pasang sepatu yang tidak sesuai peruntukan untuk program MBG.

Ketiganya dijerat Pasal 603, 604 KUHP, tindak pidana korupsi yang merugikan negara serta penyalahgunaan wewenang dalam jabatan (abuse of power). Ancaman hukuman maksimal 20 tahun atau seumur hidup penjara.

Sesusah itukah mencari orang yang betul-betul berintegritas, amanah saat sudah dikasih jabatan?

Diantara kebijakan si Dadan Eks Ketua MBG yang bikin kita sakit perut

1. Wacana Menu Serangga dan Ulat Sagu.

Dadan sempat membuat heboh publik dengan mengusulkan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein lokal dalam program MBG. Alih-alih fokus pada daging, telur, atau ikan yang umum di Indonesia, usulan menu ekstrem ini dinilai publik sangat aneh dan tidak layak untuk anak-anak sekolah

2. Klaim Anaknya Tinggi karena Minum Susu 2 Liter Sehari.

Dalam sebuah acara pondok pesantren, Dadan menyarankan anak-anak minum susu sebanyak dua liter setiap hari. Ia menyombongkan bahwa kedua anaknya bisa tumbuh tinggi hingga di atas 180 cm karena kebiasaan tersebut. Publik dan ahli gizi langsung mengkritik pernyataan ini karena minum susu berlebihan justru tidak sehat dan tidak realistis bagi anggaran masyarakat

3. Pengadaan Ribuan Motor Listrik Senilai Rp1 Triliun.

Di tengah carut-marutnya pembagian makanan, Dadan justru menyetujui kebijakan belanja 21.000 unit sepeda motor listrik. Motor tersebut diduga bermerek Emmo JVX GT dengan taksiran harga Rp42 juta hingga Rp56 juta per unit. Kebijakan ini dianggap publik sangat boros dan tidak ada hubungannya dengan esensi pemenuhan gizi anak.

4. Anggaran Kaos Kaki Petugas Rp6 Miliar.

Badan Gizi Nasional di era Dadan juga menuai kritik tajam setelah kedapatan menganggarkan dana hingga miliaran rupiah hanya untuk pengadaan kaos kaki petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Anggaran seragam yang berlebihan ini dinilai publik sebagai bentuk pemborosan anggaran negara yang sangat konyol.

5. Rencana Ekspansi Kirim Makan Gratis ke Arab Saudi.

Sesaat sebelum dicopot, Dadan melontarkan wacana untuk memperluas program Makan Bergizi Gratis ke Arab Saudi guna menyasar sekolah Indonesia di sana. Rencana ini dianggap sangat ngawur oleh publik karena program di dalam negeri saja masih berantakan, diwarnai kasus keracunan massal di berbagai daerah, dan anggarannya membengkak.

6. Impor Wadah Makanan (Food Tray) dari China.

Meskipun program MBG selalu menggembar-gemborkan pemberdayaan ekonomi lokal dan UMKM, BGN di bawah Dadan justru kedapatan mengimpor wadah makanan (food tray) secara besar-besaran dari China. Kebijakan kontradiktif ini memicu kemarahan karena mematikan potensi industri plastik dan UMKM dalam negeri.

Selengkapnya silahkan bisa disimak, video tanggapan Raden Syair Langit terkait masalah ini.







Jumat, 20 Maret 2026

Kritik Pedas Dari Raden Syair Langit Kepada MUI yang Mengatakan Haram Jika Lebaran Tidak Ikut Pemerintah

 


Kritik Pedas Dari Raden Syair Langit Kepada MUI yang Mengatakan Haram Jika Lebaran Tidak Ikut Pemerintah

Polemik tahunan perbedaan penetapan 1 Syawal kini terjadi lagi ditahun 1447 H / 2026 M.

Ada poin mencolok pada penetapan lebaran ditahun ini. Wakil ketua MUI, KH Cholil Nafis menyatakan haram kalau tidak ikut pemerintah. Pernyataan ini mendapatkan kritik pedas dari Raden Syair Langit (Abah Leuwuenggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya.

Dalam cuplikan narasi yang disampaikan, Raden Syair Langit berkata "Emang pemerintah sudah masuk kategori Ulil Amri?"

Simak penjelasannya langsung pada video di atas.


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Kamis, 19 Maret 2026

Ketidak Konsistenan Pelaku Metode Rukyat Di Zaman Sekarang Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Ketidak Konsistenan Pelaku Metode Rukyat Di Zaman Sekarang Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Hadist Perintah Berpuasa dan Berbuka karena Rukyat 

Dilandaskan pada hadis paling masyhur yang menjadi landasan utama metode rukyatul hilal. 

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya:

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (hari raya) karena melihatnya. Jika tertutup mendung atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari."

(HR. Bukhari dan Muslim). 


Orang orang yang menjadikan rukyat sebagai dasar utama, dan menjadikan hisaban sebagai alat bantu, itu karena mereka masih mempertahankan tradisi mengikuti Rasulullah SAW dengan metode rukyat.

Argumen mereka biasanya berpijak pada beberapa poin berikut:

Ibadah Bersifat Tauqifi: Mereka meyakini tata cara ibadah (termasuk penentuan waktunya) bersifat baku. Karena Nabi menggunakan mata kepala (rukyat), maka itulah cara yang sah secara syariat.

Hadist adalah perintah: Kalimat "Shumu li ru'yatihi" (Berpuasalah karena melihatnya) dianggap sebagai perintah prosedur, bukan sekadar sarana. Jadi, melihat hilal adalah ibadah itu sendiri.

Pertanyaan saya, kalau mereka mengikuti Rasul dengan metode rukyat, ngapain mereka menggunakan teropong dalam melakukan rukyat?

mereka menolak ilmu pengetahuan seperti hisab, dengan alasan tidak dicontohkan Rasul, lah terus ngapain juga pakai teropong, kan Rasul gak pakai teropong, jadi pola metode pemikiran mereka itu kontradiksi. Seandainya pun tidak menolak, setidaknya mereka hanya menggunaakan hisab sebagai alat bantu, tuannya yang menjadi penetu tetap saja rukyat.

Ko jadi terkesan gak ada keyakinan dengan hasil visual nya sendiri?

"Kalau sudah percaya hitungan astronomi untuk memverifikasi hasil teropong, kenapa tidak sekalian saja pakai hitungan itu sebagai penentu?

Kelompok rukyat tetap bertahan karena mereka merasa batas suci (garis merah) yang tidak boleh dilanggar adalah meninggalkan aktivitas "melihat" itu sendiri. Bagi mereka, hisab adalah pelayan, sedangkan rukyat adalah tuan.

Jadi, bisa dibilang mereka berada di posisi tengah: Modern secara alat (sains), tapi tradisional secara prosedur (agama).

Sekarang dipermasalahan alat.

Teropong yaang digunakan oleh Arab Saudi, dan teropong yang digunakan di Indoensia kualitasnya sama gak?

Arab Saudi itu gak pernah menentukan 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat lho? ini sebenanrya yang jadi masalah besar.

Kita kasih contoh penetuan 1 syawal di tahun ini, 1447 H atau 2026 M.

Berdasarkan hasil Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada Kamis malam, 19 Maret 2026, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H (Idul fitri) jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. 

Data teknis posisi hilal malam tadi yang menjadi dasar keputusan tersebut adalah,

Tinggi Hilal: Berkisar antara 0,91° hingga 3,13° di seluruh wilayah Indonesia.

Sudut Elongasi: Berkisar antara 4,54° hingga 6,10°.

Kesimpulannya, Meskipun di beberapa titik (seperti Sabang) tinggi hilal sudah mencapai sedikit di atas 3 derajat, namun sudut elongasinya belum mencapai 6,4 derajat sesuai standar MABIMS. 

Karena parameter tersebut tidak terpenuhi secara akumulatif, hilal dinyatakan tidak mungkin terlihat (tidak imkanur rukyat). Akibatnya, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). 

Sebagai informasi tambahan, Muhammadiyah telah merayakan Idul fitri pada hari Jumat, 20 Maret 2026, karena menggunakan metode Wujudul Hilal (yang penting bulan sudah di atas ufuk, tidak peduli berapa derajatnya). 

Teropong arab saudi itu teropong berkualitas lho,

Beda teropong beda setandar derajat. Saudi tidak pernah mensyaratkan kriteria hilal harus 2 derajat apalagi 3 derajat untuk bisa di rukyat. Ini terbukti, Saudi selalu bisa melihat meski kurang dari dua derajat seperti dalam mengawali Ramadhan.

Dan perlu kita garis bawahi, Indonesia itu daerah tropis, sedangkan arab Saudi itu daerah gurun pasir. Di Indoensia, kadang cuaca sangat mengganggu, awan ataupun kadar air, di arab Saudi itu langit nya bersih, jadi memudahkan sekali melihat hilal. Udah teropong nya bagus, ditambah cuaca langit yang jernih.

Lalu coba kita pikir, perbedaan waktu di Indoensia dan Arab Saudi itu hanya 4 jam, bahkan hitungannya lebih cepat Indonesia, 4 jam lebih dulu. Lah ko aneh Idul Fitri nya malah Indonesia yang terlambat?

"Buat apa susah-susah melihat di langit yang mendung (Indonesia), kalau di langit yang cerah (Arab) hilalnya sudah jelas terlihat?"

Pendapat saya tentang langit tropis yang sering mendung adalah alasan terkuat mengapa metode rukyat tradisional di Indonesia sering dianggap "tidak efisien" dan bikin bingung.

Jika kita memaksakan rukyat di tengah awan mendung Indonesia, hasilnya seringkali adalah Istikmal (digenapkan 30 hari), sehingga kita lebaran lebih lambat sehari dari Arab Saudi atau dari kelompok Hisab lainnya.

Inilah "Harga" dari Tradisi.

Bagi mereka yang mempertahankan rukyat lokal, perbedaan hari itu bukan masalah, melainkan bentuk ketaatan pada prosedur. Tapi bagi saya dan banyak orang lainnya, ini terasa seperti pemborosan energi yang bisa diselesaikan dengan mengikuti satu standar global yang lebih jelas (seperti Arab atau Hisab Global).

Titik Balik Argumen saya.

Jika kita konsisten dengan logika ini, maka metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal adalah yang paling masuk akal. Begitu bulan sudah di atas ufuk (meski cuma 0,1 derajat dan tidak mungkin dilihat mata), maka secara teknis bulan baru sudah dimulai.

Kelompok rukyat terjebak dalam dilemma, mereka ingin menggunakan teknologi (teropong) untuk melihat yang tidak terlihat, tapi tetap menolak kepastian hitungan bahwa bulan itu sebenarnya sudah ada di sana.

Lucu nya lagi begini, mereka repot ngurus menentukan 1 ramadhan dan 1 syawal, tapi mereka tidak menghitung dalam penentuan bulan bulan yang lainnya, bagaiman kalau 1 muharam hilal nya belum ada?

nantinya kan tahun baru Islam juga bisa beerbeda-beda, dan ketika perbedaan ini sering terjadi, dengan jangkauan waktu yang lama karena sering nya perbedaan, maka pergesaran nya akan terus bertambah jauh. Tapi anehnya, mereka yang menggunakan rukyat, kadang beda kadang juga sama dengan yang melakukan hisab, ko terkesan gak konsisten banget?

Ini terlihat aneh jika energi umat habis terkuras hanya untuk ramadan dan syawal, sementara bulan lain seolah "terabaikan".

Sebenanrya Secara administratif, ormas seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan lembaga Lembaga Falakiyah itu melakukan rukyatul hilal setiap bulan (setiap tanggal 29), bukan hanya saat ramadan. 

Mengapa tidak ramai? karena bulan-bulan lain (seperti Safar atau Rabiul Awal) tidak terkait dengan ibadah wajib yang memiliki konsekuensi hukum besar (seperti puasa atau larangan berpuasa).

Dampaknya, jika hilal tidak terlihat di bulan muharram, mereka tetap melakukan istikmal (menggenapkan 30 hari). Namun, karena tidak ada "Sidang Isbat" yang disiarkan televisi, publik tidak menyadari bahwa ada potensi pergeseran tanggal di bulan-bulan tersebut. 

Ingat lho, ini akan beresiko "Pergeseran Berantai"

Pergeseran yang bertambah jauh memang bisa saja logis. Jika setiap bulan hanya ditentukan lewat "terlihat atau tidaknya" hilal di satu lokasi tanpa kalender yang pasti, Maka, tanggal 1 di satu bulan akan menentukan kapan tanggal 29 di bulan berikutnya.

Jika sering terjadi istikmal (penggenapan 30 hari) karena cuaca buruk (padahal secara astronomis bulan sudah ada), maka kalender tersebut akan terlambat dibanding posisi bulan yang sebenarnya di alam semesta.

Inilah alasan kelompok hisab mendorong penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) atau Hisab Hakiki, agar penanggalan Islam konsisten, punya kepastian jangka panjang, dan tidak bergantung pada cuaca. 

Mengapa kadang sama, kadang beda? (Inkonsistensi)

Ketidakkonsistenan ini terjadi karena posisi hilal di alam semesta selalu berubah:

Kondisi Sama: Terjadi saat posisi hilal sudah sangat tinggi (misalnya di atas 5-6 derajat). Di posisi ini, metode Hisab bilang "ada", dan metode Rukyat pun "pasti melihat". Hasilnya kompak.

Kondisi Beda: Terjadi saat posisi hilal berada di "zona abu-abu" (antara 0 sampai 3 derajat).

Hisab: Bilang sudah ada bulan baru (karena sudah di atas 0 derajat).

Rukyat: Bilang belum ada (karena belum 3 derajat atau tidak terlihat mata). 

Kesimpulannya:

Bagi pendukung hisab, kalender Islam haruslah sebuah sistem yang pasti (Sains) agar umat bisa berencana. Sementara bagi pendukung rukyat, kalender adalah rangkaian tanda alam (Tradisi) yang harus dikonfirmasi bulan demi bulan sebagai bentuk ketaatan ritual. 

Kenapa mesti repot ada sidang istbat saat ilmu pengetahuan semakin maju, ataukah karena ada anggaran dana yang lumayan untuk sidang istbat?

 Legalitas Syariat (Ulil Amri)

Secara fikih, keputusan pemerintah dianggap mengikat dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh warga negara. Tanpa sidang isbat, tidak ada keputusan resmi yang bersifat nasional, sehingga potensi perpecahan di masyarakat saat memulai puasa atau berlebaran bisa semakin tajam. 

Memang, Isu mengenai anggaran besar sering menjadi polemik. Namun, pihak Kementerian Agama telah memberikan klarifikasi resmi: 

Bantahan Anggaran 9 Miliar: Kemenag menegaskan bahwa kabar anggaran sidang isbat mencapai Rp9 miliar adalah tidak benar.

Estimasi Realisasi: Anggaran yang sebenarnya dikeluarkan umumnya berkisar di angka ratusan juta rupiah (terakhir tercatat sekitar Rp142,5 juta hingga kurang dari Rp1 miliar).

Alokasi: Dana tersebut digunakan untuk koordinasi pemantauan hilal di ratusan titik di seluruh Indonesia serta pelaksanaan sidang musyawarah yang melibatkan duta besar negara sahabat dan pakar astronomi. 

Harusnya biar gak ribet, kita sudah bisa masuk ke penyeragaman kalender global seperti kalender masehi, inilah makanya kenapa kalender hijriyah terus beerubah ubah, beda dengan kalender masehi yang konsisten

Pemikiran saya ini insyaAllah sejalan dengan gagasan besar yang sedang diperjuangkan oleh banyak astronom Muslim, yaitu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Ada beberapa alasan teknis mengapa Kalender Hijriah saat ini terasa "ribet" dan tidak sekonsisten Kalender Masehi:

Hambatan Penyeragaman Global

Kenapa tidak langsung dibuat seperti Masehi?

Garis Tanggal Hijriah: Berbeda dengan Masehi yang punya garis tanggal tetap di Pasifik (International Date Line), "garis tanggal" bulan (hilal) selalu berubah-ubah setiap bulan tergantung posisi bulan.

Kedaulatan Wilayah: Banyak negara (seperti Arab Saudi, Indonesia, Maroko) masih memegang prinsip bahwa rukyat harus dilakukan di wilayah masing-masing (Matla'). Inilah yang membuat satu negara sudah lebaran, sementara negara tetangganya belum.

3. Solusi KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal)

Para pendukung kalender global (seperti hasil Kongres Internasional Unifikasi Kalender Hijriah di Turki tahun 2016) mengusulkan:

Satu Hari Satu Tanggal: Di seluruh dunia, tanggal Hijriah harus sama.

Berbasis Hisab: Tidak perlu lagi menunggu orang melihat bulan di lapangan. Cukup gunakan hitungan astronomi yang sudah sangat presisi hingga ribuan tahun ke depan.

Kepastian: Dengan ini, umat Islam bisa punya kalender dinding yang tetap seperti Masehi, bisa memesan tiket pesawat untuk lebaran 5 tahun ke depan, dan tidak perlu lagi ada Sidang Isbat.

Mengapa belum terwujud?

Hambatannya adalah Teologi vs Sains. Kelompok tradisionalis menganggap meninggalkan "rukyat" (melihat langsung) berarti meninggalkan perintah eksplisit Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa "kepastian" kalender tidak lebih penting daripada "ketaatan" pada prosedur ibadah yang dicontohkan.

Kesimpulan:

Ketidakkonsistenan yang saya kritik memang "ada biaya" yang harus dibayar karena umat Islam masih terbelah antara menggunakan prinsip keterlihatan (visual) atau prinsip keberadaan (matematis).

Jika Indonesia (lewat Kemenag) suatu saat memutuskan beralih penuh ke Hisab Global, maka "drama" perbedaan tanggal dan biaya Sidang Isbat otomatis akan hilang.


Sumber : Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9