Tampilkan postingan dengan label Tanggapan Abah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanggapan Abah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2026

Kritik Pedas Dari Raden Syair Langit Kepada MUI yang Mengatakan Haram Jika Lebaran Tidak Ikut Pemerintah

 


Kritik Pedas Dari Raden Syair Langit Kepada MUI yang Mengatakan Haram Jika Lebaran Tidak Ikut Pemerintah

Polemik tahunan perbedaan penetapan 1 Syawal kini terjadi lagi ditahun 1447 H / 2026 M.

Ada poin mencolok pada penetapan lebaran ditahun ini. Wakil ketua MUI, KH Cholil Nafis menyatakan haram kalau tidak ikut pemerintah. Pernyataan ini mendapatkan kritik pedas dari Raden Syair Langit (Abah Leuwuenggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya.

Dalam cuplikan narasi yang disampaikan, Raden Syair Langit berkata "Emang pemerintah sudah masuk kategori Ulil Amri?"

Simak penjelasannya langsung pada video di atas.


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Kamis, 19 Maret 2026

Ketidak Konsistenan Pelaku Metode Rukyat Di Zaman Sekarang Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Ketidak Konsistenan Pelaku Metode Rukyat Di Zaman Sekarang Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Hadist Perintah Berpuasa dan Berbuka karena Rukyat 

Dilandaskan pada hadis paling masyhur yang menjadi landasan utama metode rukyatul hilal. 

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya:

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (hari raya) karena melihatnya. Jika tertutup mendung atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari."

(HR. Bukhari dan Muslim). 


Orang orang yang menjadikan rukyat sebagai dasar utama, dan menjadikan hisaban sebagai alat bantu, itu karena mereka masih mempertahankan tradisi mengikuti Rasulullah SAW dengan metode rukyat.

Argumen mereka biasanya berpijak pada beberapa poin berikut:

Ibadah Bersifat Tauqifi: Mereka meyakini tata cara ibadah (termasuk penentuan waktunya) bersifat baku. Karena Nabi menggunakan mata kepala (rukyat), maka itulah cara yang sah secara syariat.

Hadist adalah perintah: Kalimat "Shumu li ru'yatihi" (Berpuasalah karena melihatnya) dianggap sebagai perintah prosedur, bukan sekadar sarana. Jadi, melihat hilal adalah ibadah itu sendiri.

Pertanyaan saya, kalau mereka mengikuti Rasul dengan metode rukyat, ngapain mereka menggunakan teropong dalam melakukan rukyat?

mereka menolak ilmu pengetahuan seperti hisab, dengan alasan tidak dicontohkan Rasul, lah terus ngapain juga pakai teropong, kan Rasul gak pakai teropong, jadi pola metode pemikiran mereka itu kontradiksi. Seandainya pun tidak menolak, setidaknya mereka hanya menggunaakan hisab sebagai alat bantu, tuannya yang menjadi penetu tetap saja rukyat.

Ko jadi terkesan gak ada keyakinan dengan hasil visual nya sendiri?

"Kalau sudah percaya hitungan astronomi untuk memverifikasi hasil teropong, kenapa tidak sekalian saja pakai hitungan itu sebagai penentu?

Kelompok rukyat tetap bertahan karena mereka merasa batas suci (garis merah) yang tidak boleh dilanggar adalah meninggalkan aktivitas "melihat" itu sendiri. Bagi mereka, hisab adalah pelayan, sedangkan rukyat adalah tuan.

Jadi, bisa dibilang mereka berada di posisi tengah: Modern secara alat (sains), tapi tradisional secara prosedur (agama).

Sekarang dipermasalahan alat.

Teropong yaang digunakan oleh Arab Saudi, dan teropong yang digunakan di Indoensia kualitasnya sama gak?

Arab Saudi itu gak pernah menentukan 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat lho? ini sebenanrya yang jadi masalah besar.

Kita kasih contoh penetuan 1 syawal di tahun ini, 1447 H atau 2026 M.

Berdasarkan hasil Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada Kamis malam, 19 Maret 2026, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H (Idul fitri) jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. 

Data teknis posisi hilal malam tadi yang menjadi dasar keputusan tersebut adalah,

Tinggi Hilal: Berkisar antara 0,91° hingga 3,13° di seluruh wilayah Indonesia.

Sudut Elongasi: Berkisar antara 4,54° hingga 6,10°.

Kesimpulannya, Meskipun di beberapa titik (seperti Sabang) tinggi hilal sudah mencapai sedikit di atas 3 derajat, namun sudut elongasinya belum mencapai 6,4 derajat sesuai standar MABIMS. 

Karena parameter tersebut tidak terpenuhi secara akumulatif, hilal dinyatakan tidak mungkin terlihat (tidak imkanur rukyat). Akibatnya, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). 

Sebagai informasi tambahan, Muhammadiyah telah merayakan Idul fitri pada hari Jumat, 20 Maret 2026, karena menggunakan metode Wujudul Hilal (yang penting bulan sudah di atas ufuk, tidak peduli berapa derajatnya). 

Teropong arab saudi itu teropong berkualitas lho,

Beda teropong beda setandar derajat. Saudi tidak pernah mensyaratkan kriteria hilal harus 2 derajat apalagi 3 derajat untuk bisa di rukyat. Ini terbukti, Saudi selalu bisa melihat meski kurang dari dua derajat seperti dalam mengawali Ramadhan.

Dan perlu kita garis bawahi, Indonesia itu daerah tropis, sedangkan arab Saudi itu daerah gurun pasir. Di Indoensia, kadang cuaca sangat mengganggu, awan ataupun kadar air, di arab Saudi itu langit nya bersih, jadi memudahkan sekali melihat hilal. Udah teropong nya bagus, ditambah cuaca langit yang jernih.

Lalu coba kita pikir, perbedaan waktu di Indoensia dan Arab Saudi itu hanya 4 jam, bahkan hitungannya lebih cepat Indonesia, 4 jam lebih dulu. Lah ko aneh Idul Fitri nya malah Indonesia yang terlambat?

"Buat apa susah-susah melihat di langit yang mendung (Indonesia), kalau di langit yang cerah (Arab) hilalnya sudah jelas terlihat?"

Pendapat saya tentang langit tropis yang sering mendung adalah alasan terkuat mengapa metode rukyat tradisional di Indonesia sering dianggap "tidak efisien" dan bikin bingung.

Jika kita memaksakan rukyat di tengah awan mendung Indonesia, hasilnya seringkali adalah Istikmal (digenapkan 30 hari), sehingga kita lebaran lebih lambat sehari dari Arab Saudi atau dari kelompok Hisab lainnya.

Inilah "Harga" dari Tradisi.

Bagi mereka yang mempertahankan rukyat lokal, perbedaan hari itu bukan masalah, melainkan bentuk ketaatan pada prosedur. Tapi bagi saya dan banyak orang lainnya, ini terasa seperti pemborosan energi yang bisa diselesaikan dengan mengikuti satu standar global yang lebih jelas (seperti Arab atau Hisab Global).

Titik Balik Argumen saya.

Jika kita konsisten dengan logika ini, maka metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal adalah yang paling masuk akal. Begitu bulan sudah di atas ufuk (meski cuma 0,1 derajat dan tidak mungkin dilihat mata), maka secara teknis bulan baru sudah dimulai.

Kelompok rukyat terjebak dalam dilemma, mereka ingin menggunakan teknologi (teropong) untuk melihat yang tidak terlihat, tapi tetap menolak kepastian hitungan bahwa bulan itu sebenarnya sudah ada di sana.

Lucu nya lagi begini, mereka repot ngurus menentukan 1 ramadhan dan 1 syawal, tapi mereka tidak menghitung dalam penentuan bulan bulan yang lainnya, bagaiman kalau 1 muharam hilal nya belum ada?

nantinya kan tahun baru Islam juga bisa beerbeda-beda, dan ketika perbedaan ini sering terjadi, dengan jangkauan waktu yang lama karena sering nya perbedaan, maka pergesaran nya akan terus bertambah jauh. Tapi anehnya, mereka yang menggunakan rukyat, kadang beda kadang juga sama dengan yang melakukan hisab, ko terkesan gak konsisten banget?

Ini terlihat aneh jika energi umat habis terkuras hanya untuk ramadan dan syawal, sementara bulan lain seolah "terabaikan".

Sebenanrya Secara administratif, ormas seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan lembaga Lembaga Falakiyah itu melakukan rukyatul hilal setiap bulan (setiap tanggal 29), bukan hanya saat ramadan. 

Mengapa tidak ramai? karena bulan-bulan lain (seperti Safar atau Rabiul Awal) tidak terkait dengan ibadah wajib yang memiliki konsekuensi hukum besar (seperti puasa atau larangan berpuasa).

Dampaknya, jika hilal tidak terlihat di bulan muharram, mereka tetap melakukan istikmal (menggenapkan 30 hari). Namun, karena tidak ada "Sidang Isbat" yang disiarkan televisi, publik tidak menyadari bahwa ada potensi pergeseran tanggal di bulan-bulan tersebut. 

Ingat lho, ini akan beresiko "Pergeseran Berantai"

Pergeseran yang bertambah jauh memang bisa saja logis. Jika setiap bulan hanya ditentukan lewat "terlihat atau tidaknya" hilal di satu lokasi tanpa kalender yang pasti, Maka, tanggal 1 di satu bulan akan menentukan kapan tanggal 29 di bulan berikutnya.

Jika sering terjadi istikmal (penggenapan 30 hari) karena cuaca buruk (padahal secara astronomis bulan sudah ada), maka kalender tersebut akan terlambat dibanding posisi bulan yang sebenarnya di alam semesta.

Inilah alasan kelompok hisab mendorong penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) atau Hisab Hakiki, agar penanggalan Islam konsisten, punya kepastian jangka panjang, dan tidak bergantung pada cuaca. 

Mengapa kadang sama, kadang beda? (Inkonsistensi)

Ketidakkonsistenan ini terjadi karena posisi hilal di alam semesta selalu berubah:

Kondisi Sama: Terjadi saat posisi hilal sudah sangat tinggi (misalnya di atas 5-6 derajat). Di posisi ini, metode Hisab bilang "ada", dan metode Rukyat pun "pasti melihat". Hasilnya kompak.

Kondisi Beda: Terjadi saat posisi hilal berada di "zona abu-abu" (antara 0 sampai 3 derajat).

Hisab: Bilang sudah ada bulan baru (karena sudah di atas 0 derajat).

Rukyat: Bilang belum ada (karena belum 3 derajat atau tidak terlihat mata). 

Kesimpulannya:

Bagi pendukung hisab, kalender Islam haruslah sebuah sistem yang pasti (Sains) agar umat bisa berencana. Sementara bagi pendukung rukyat, kalender adalah rangkaian tanda alam (Tradisi) yang harus dikonfirmasi bulan demi bulan sebagai bentuk ketaatan ritual. 

Kenapa mesti repot ada sidang istbat saat ilmu pengetahuan semakin maju, ataukah karena ada anggaran dana yang lumayan untuk sidang istbat?

 Legalitas Syariat (Ulil Amri)

Secara fikih, keputusan pemerintah dianggap mengikat dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh warga negara. Tanpa sidang isbat, tidak ada keputusan resmi yang bersifat nasional, sehingga potensi perpecahan di masyarakat saat memulai puasa atau berlebaran bisa semakin tajam. 

Memang, Isu mengenai anggaran besar sering menjadi polemik. Namun, pihak Kementerian Agama telah memberikan klarifikasi resmi: 

Bantahan Anggaran 9 Miliar: Kemenag menegaskan bahwa kabar anggaran sidang isbat mencapai Rp9 miliar adalah tidak benar.

Estimasi Realisasi: Anggaran yang sebenarnya dikeluarkan umumnya berkisar di angka ratusan juta rupiah (terakhir tercatat sekitar Rp142,5 juta hingga kurang dari Rp1 miliar).

Alokasi: Dana tersebut digunakan untuk koordinasi pemantauan hilal di ratusan titik di seluruh Indonesia serta pelaksanaan sidang musyawarah yang melibatkan duta besar negara sahabat dan pakar astronomi. 

Harusnya biar gak ribet, kita sudah bisa masuk ke penyeragaman kalender global seperti kalender masehi, inilah makanya kenapa kalender hijriyah terus beerubah ubah, beda dengan kalender masehi yang konsisten

Pemikiran saya ini insyaAllah sejalan dengan gagasan besar yang sedang diperjuangkan oleh banyak astronom Muslim, yaitu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Ada beberapa alasan teknis mengapa Kalender Hijriah saat ini terasa "ribet" dan tidak sekonsisten Kalender Masehi:

Hambatan Penyeragaman Global

Kenapa tidak langsung dibuat seperti Masehi?

Garis Tanggal Hijriah: Berbeda dengan Masehi yang punya garis tanggal tetap di Pasifik (International Date Line), "garis tanggal" bulan (hilal) selalu berubah-ubah setiap bulan tergantung posisi bulan.

Kedaulatan Wilayah: Banyak negara (seperti Arab Saudi, Indonesia, Maroko) masih memegang prinsip bahwa rukyat harus dilakukan di wilayah masing-masing (Matla'). Inilah yang membuat satu negara sudah lebaran, sementara negara tetangganya belum.

3. Solusi KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal)

Para pendukung kalender global (seperti hasil Kongres Internasional Unifikasi Kalender Hijriah di Turki tahun 2016) mengusulkan:

Satu Hari Satu Tanggal: Di seluruh dunia, tanggal Hijriah harus sama.

Berbasis Hisab: Tidak perlu lagi menunggu orang melihat bulan di lapangan. Cukup gunakan hitungan astronomi yang sudah sangat presisi hingga ribuan tahun ke depan.

Kepastian: Dengan ini, umat Islam bisa punya kalender dinding yang tetap seperti Masehi, bisa memesan tiket pesawat untuk lebaran 5 tahun ke depan, dan tidak perlu lagi ada Sidang Isbat.

Mengapa belum terwujud?

Hambatannya adalah Teologi vs Sains. Kelompok tradisionalis menganggap meninggalkan "rukyat" (melihat langsung) berarti meninggalkan perintah eksplisit Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa "kepastian" kalender tidak lebih penting daripada "ketaatan" pada prosedur ibadah yang dicontohkan.

Kesimpulan:

Ketidakkonsistenan yang saya kritik memang "ada biaya" yang harus dibayar karena umat Islam masih terbelah antara menggunakan prinsip keterlihatan (visual) atau prinsip keberadaan (matematis).

Jika Indonesia (lewat Kemenag) suatu saat memutuskan beralih penuh ke Hisab Global, maka "drama" perbedaan tanggal dan biaya Sidang Isbat otomatis akan hilang.


Sumber : Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Antara Hisab Rukyat & Unggut Sumuhun Dalam Penetapan 1 Syawal Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Antara Hisab Rukyat & Unggut Sumuhun Dalam Penetapan 1 Syawal Menurut Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Perbedaan penetapan 1 Syawal bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, melainkan cerminan dari dinamika ijtihad dalam memahami hubungan antara nash syariat dan realitas kosmik. Ia bukan perdebatan sederhana, tetapi pertemuan antara teks, pengamatan, dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Dalam konteks ini, dua pendekatan utama yang dikenal dalam penentuan awal bulan Hijriyah adalah rukyat dan hisab—masing-masing berdiri di atas landasan epistemologis yang berbeda.

Simak penjelasan didalam videonya, agar tidak gagal paham.



ttd. Penulis Jejak Makrifat

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...