Tampilkan postingan dengan label Kitab Sajatining Mulyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Sajatining Mulyo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2026

Rabithah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Rabithah رابطة

Dalam konteks tarekat, rabithah secara harfiah berarti ikatan atau hubungan. Secara khusus, rabithah merujuk pada ikatan batin yang kuat antara seorang murid dengan gurunya dalam sebuah tarekat, serta ikatan dengan Rasulullah SAW, dan akhirnya dengan Allah SWT. Tujuan dari ikatan ini adalah untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritualnya, membantu melawan hawa nafsu, serta mempererat hubungan dengan Allah.

Rabithah juga bisa dilaksanakan dengan mengingat rupa guru (Syekh) dalam ingatan seorang murid. Praktek rabithah ini merupakan adab dalam pelaksanaan dzikir seorang salik, yaitu sebelum seorang salik berdzikir untuk melaksanakan dzikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mengingat gurunya yang telah menalqin dzikir kepadanya. Mengingat itu bisa dilakukan seperti mengingat  wajah guru, mengingat seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Ingat, hal ini tidak boleh dilakukan dalam shalat, rabithah hanya dilakukan saat kita akan melakukan amaliyah seperti dzikir, atau amaliyah-amaliyah lainnya yang diajarkan guru mursyid. Maksud dari rabithah ini adalah sebagai bentuk mengingat guru yang menjadi wasilah pelantara Allah kepadanya, sehingga ia berharap mendapatkan  keberkahan dari Allah dengan rabithah itu sendiri.

Sedangkan dalam urusan shalat, maka semuanya harus disandarkan secara utuh kepada Allah.

Maksudnya adalah, jangan sampai ada pelaku tarekat yang sedang melakukan shalat malah mengingat guru, ini adalah pemahaman yang salah kaprah, bahkan pada dasarnya, dalam melakukan amaliyah apapun diluar shalat, melakukan rabithah itu maksudnya adalah diawal, selain mengingat guru, kita bisa tawasul mengirimkan fatihah kepada guru, agar semoga mendapatkan keberkahan dari Allah. Namun saat pelaksanaan dzikir, semua nya harus tetap tertuju kepada Allah, sudah tidak ada lagi guru, tidak ada lagi kita, tidak ada lagi seluruh alam semesta dan isinya, karena dihati hanya ada Allah, tidak ada lagi tempat untuk yang lainnya.

Rabithah yang paling utama itu dengan mengaplikasan adab kita terhadap Guru. Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, apalagi kepada guru tarekat, maka semua itu akan menimbulkan dampak yang buruk kepadanya. Seperti diantaranya hilang berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, tidak dapat menyebarkan ilmunya, dan dia tidak bisa mencicipi manisnya makrfiat walaupun setetes.

Syariatnya, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu tarekat, karena guru yang mengajarkan ilmu tarekat, mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu lahir dan ilmu bathin agar engkau mengenal Allah.

Para pewaris Nabi, begitulah julukan mereka para pemegang kemulian ilmu Agama Allah, dan mereka itu memiliki derajat yang tinggi dihadapan Allah SWT.

Ketahuilah sedulur-sedulur, para pengajar Agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, pada hakikatnya mereka semua ada didalam pesan Rasulullah saw.

Beliau ngadawuh,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama”

(HR. Ahmad)

Tersirat dari kasauran Kanjeng Nabi Muhammad saw, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Para ulama adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya. Karena mereka telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.

Sahabat Abu Sa’id Al Khudri (أبو سعيد الخدري) berkata,

كُنَّا جُلُوساً فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَينَا فَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَيْرُ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ مِنَّا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara”

(HR. Bukhari)

Ibnu Abbas (ابن عباس), seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari ahli bait Nabi, beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit Al-Anshari (زيد بن ثابت الأنصاري) dan berkata,

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami.”

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al-Aslami (عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي),

“Tidaklah seorangpun berani bertanya kepada Said bin Musayyib (سعيد بن المسيب), sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang Raja.”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman (الربيع بن سليمان) berkata,

 “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Guruku Asy-Syafi’i (الإمام الشافعي) melihatku karena segan kepadanya.”


Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي), bahwasannya Umar bin Khattab (عمر بن الخطاب) mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ العِلْمَ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang kalian pelajari ilmu darinya.”

Imam Syafi’i (الإمام الشافعي) berkata,

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan guruku Imam Malik bin Anas (الإمام مالك بن أنس) dengan sangat lembut, karena segan padanya, dan supaya dia tak mendengarnya.”

Abu ‘Ubaid Al Qosim (أبو عبيد القاسم) berkata,

“Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS. Al-Hujurat: 5)

Sungguh mulia akhlak mereka semua, diantara yang menjadi suri tauladan untuk kaum muslimin. Tidaklah heran mengapa mereka semua menjadi ulama besar, sungguh keberkahan ilmu yang mereka dapat, diantaranya karena akhlak mulia mereka terhadap guru-gurunya.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama tasawuf menafsirkan, bahwa mahabbah ruhaniyyah yang mendalam kepadaNabi Muhammad saw atau kepada mursyid akan menghadirkan kebersamaan ruhani (rabithah), meskipun secara fisik berjauhan.

Penjelasan Ulama Tasawuf:

Imam an-Nabhani dan Syekh Ahmad Zarruq menegaskan bahwa rabithah merupakan bagian dari adab dan ta’alluq ruhani antara murid dan mursyid.

Di dalam setiap tarekat, rabithah diajarkan sebagai latihan untuk menghadirkan mursyid dalam hati, agar hati tidak kosong dan tetap terjaga dalam muraqabah. 


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Kamis, 09 April 2026

Muraqabah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Muraqabah مراقبة


Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.

Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.

Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

(QS. Al-Ḥadid: 4)

Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.

Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.

---------------------------------------------------------------------------------

Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:

Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):

Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.

Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):

Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.

---------------------------------------------------------------------------------

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Muslim, no. 8)

Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.

Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.

Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 30 Maret 2026

Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Dzikir الذكر


Kata dzikir sebenarnya merupakan ungkapan dan pemendekkataan dari kalimat “dzikrullah” (mengingat Allah). Ia merupakan amalan khas yang mesti ada di dalam setiap tarekat.

Yang dimaksud dengan dzikir dalam suatu tarekat, adalah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahr dan sirri/khafi).

Dzikir Jahar (ذكر جهر) adalah "dzikir dengan suara keras" atau "dzikir yang diucapkan dengan lantang.”

Dzikir Khafi (ذكر خفي) atau Dzikir Sirri (ذكر سرِي) adalah "dzikir yang tersembunyi" atau "dzikir rahasia", yang merujuk pada dzikir yang dilakukan dalam hati tanpa suara.

Di dalam tarekat, dzikir diyakini sebagai cara yang paling efektif dan efesien untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoron dan penyakit-penyakitnya, sehingga hampir semua tarekat mempergunakan metode ini. Bahkan dalam istilah tasawuf, setiap yang disebut tarekat, maka yang dimaksudkan adalah tarekat dzikir.

Keutamaan dzikir didalam tarekat dibanding dzikir orang yang tidak bertarekat

Ketahuilah wahai salik yang mengharap ridha Allah, sesungguhnya dzikir adalah ruh dari seluruh amal ibadah, dan kunci pembuka segala pintu kedekatan kepada-Nya. Namun, dzikir yang diambil melalui talqin dari seorang guru tarekat, yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah saw, apakah melalui jalan taraqqi ataupun jalan tanazul, maka itu semua memiliki derajat dan kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding dzikir yang dilakukan tanpa bimbingan dan sanad ruhani. Sebab dzikir dalam tarekat mengandung tiga unsur agung: (1) Lafadz yang sahih, (2) Adab yang terjaga, (3) Sirr dan barakah yang diberikan dari qalbu guru ke qalbu murid.

Dalil Al-Qur’an

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًۭا

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang ia pilih, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”

(QS. An-Nisa’: 115)

Sabilul Mu’minin adalah jalan para pewaris Nabi saw, yaitu para ulama dan mursyid yang mengajarkan dzikir secara bersanad. Mengikuti mereka adalah bagian dari kesempurnaan dzikir.

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang, mengharap wajah-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini memerintahkan duduk bersama ahli dzikir. Ini adalah majelis dzikir yang dipimpin oleh guru tarekat, bukan dzikir sendirian yang rawan lalai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ.

Dari Abu Hurairah raḍiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan, mencari orang-orang yang berzikir kepada Allah. Maka apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling menyeru: ‘Mari, temuilah apa yang kalian cari!’”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits talqin Sayyidina ‘Ali

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Pejamkan matamu dan dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illa Allah.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa dzikir yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw mengandung transfer ruhani yang tidak bisa didapat hanya dengan membaca sendiri.

Penjelasan Ulama Tasawuf, Imam al-Qusyairi الإمام القشيري:

“Dzikir yang diambil dari ahlinya dengan sanad bersambung, itu lebih kuat dalam membersihkan hati, daripada dzikir yang hanya dihafalkan, karena yang pertama disertai adalah warisan sirr dari guru kepada murid.”

Imam al-Ghazali الإمام الغزالي:

“Dzikir bersama seorang Syekh mursyid bagaikan api yang diambil dari api yang menyala, sedangkan dzikir tanpa mursyid bagaikan menyalakan api tanpa sumber, bisa menyala, tetapi kecil dan cepat padam.”

Syekh Ahmad Zarruq الشيخ احمد زروق:

مَنْ لَمْ يَتَلَقَّ الذِّكْرَ مِنْ أَهْلِ النَّقْلِ وَأَهْلِ الْحَالِ، كَانَ ذِكْرُهُ أَقَلَّ بَرَكَةً وَأَثَرًا

“Siapa yang tidak menerima dzikir dari ahli sanad dan ahli hal (mursyid), maka dzikirnya lebih sedikit keberkahan dan pengaruhnya.”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Jumat, 27 Maret 2026

Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Yang dimaksud dengan amalan khusus di sini adalah amalan yang benar-benar harus diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat, dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat, atau pengikut tarekat lain. Amalan khusus ini bisa jadi bersifat individual, maupun berjamaah.

Yang dimaksud dengan amalan individual adalah amalan yang harus dikerjakan oleh seorang murid (pengikut) tarekat, yang dimana amalan itu bisa saja hanya diberikan kesebagian diantara murid tarekat, yang sudah dianggap layak oleh guru mursyid untuk menerimanya.

Setiap murid pasti memiliki maqamat (tingkatan tahapan spiritual) yang berbeda-beda. Maka amalan khusus akan diberikan kepada murid yang sudah dianggap layak, karena telah lulus mengikuti tarbiyah-tarbiyah yang dilakukan olehnya.

Sedangkan amalan khusus secara umum, adalah amalan di tarekat tersebut, yang hanya bisa diamalkan oleh murid-murid pengikut tarekat tersebut, setelah mendapatkan talqin dzikir, dan mendapatkan ijazah untuk mengamalkannya, sehingga orang yang diluar tarekat tersebut tidak bisa mengamalkannya, kecuali atas izin dari guru mursyidnya.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)




Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Amalan di dalam tarekat, sebuah jalan ruhaniyah

Di dalam setiap tarekat yang bersanad dan berakar dari sumber yang murni, senantiasa terdapat amalan-amalan yang diwariskan secara turun-temurun kepada para muridnya. Amalan ini bukan sekedar rutinitas ibadah lahiriah, melainkan merupakan washilah, jembatan ruhani, yang mengantarkan sang salik menuju penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.

Setiap tarekat memiliki susunan amalan yang khas dan tersendiri, sesuai dengan warisan dari silsilah para mursyidnya. Namun secara hakikat, inti dari semua tarekat sejati tetaplah satu, yaitu menghidupkan hati dengan dzikir, memperkuat ikatan batin dengan Allah, serta membersihkan nafs dari kegelapan duniawi.

Secara umum, amalan-amalan tarekat mencakup unsur-unsur yang serupa: dzikir lisan dan dzikir qalbu, muraqabah, mujahadah, serta riyadhah yang terukur dan dibimbing. Perbedaan-perbedaan di antara tarekat hanyalah dalam rincian bentuk dan metode, namun semua berpulang pada tujuan yang sama, yaitu “Sajatining Mulyo”, kemuliaan sejati, yang hanya dapat diraih dengan taufik dan inayah dari Sang Maha Mulya.

Talqin Dzikir تلقين الذكر

Pengertian Talqin Dzikir

Secara bahasa, talqin (التلقين) berasal dari kata laqana yulaqinu talqinan (لَقَّنَ – يُلَقِّنُ – تَلْقِينًا) yang berarti mengajarkan sesuatu secara langsung dari guru kepada murid dengan cara menanamkan di hati dan lisan.

لَقَّنَ (laqana) jenis: Fi‘il maḍi (kata kerja lampau) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Memberitahukan dengan ucapan secara langsung. Membimbing lisan seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Menuntun atau menanamkan kalimat tertentu agar melekat di hati.

Contoh lughawi:

لَقَّنَهُ الشَّهَادَةَ → “Dia menuntunnya membaca syahadat.”

يُلَقِّنُ (yulaqqinu) jenis: Fi‘il muḍari‘ (kata kerja sekarang/akan datang) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Sedang atau akan mengajarkan secara langsung. Menuntun seseorang mengucapkan sesuatu saat ini atau di masa mendatang.

Contoh lughawi:

هُوَ يُلَقِّنُ الطِّفْلَ السُّورَةَ → “Dia sedang mengajarkan surat itu kepada anak kecil.”

تَلْقِينًا (talqinan) jenis: Maṣdar (kata benda dasar dari kata kerja) Akar kata: ل ق ن

Makna lughawi: Proses mengajarkan atau menuntun ucapan. Penanaman bacaan dalam ingatan dan hati. Mengulang-ulang agar seseorang hafal dan paham.

Contoh lughawi:

التَّلْقِينُ فِي التَّعْلِيمِ مُهِمٌّ → “Talqin dalam pengajaran adalah hal yang penting.”

Sedangkan dzikr (الذِكْر) berarti mengingat. Dalam konteks tasawuf, dzikir adalah mengingat Allah Ta‘ala dengan hati, lisan, dan seluruh wujud.

Jadi, talqin dzikir adalah proses pengajaran dzikir dari seorang guru tarekat kepada muridnya, dengan tata cara yang terjaga sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, dan memiliki tujuan agar dzikir itu masuk ke dalam qalbu, menembus sirr, dan menghidupkan ruhani murid di jalan suluk.

Talqin dzikir تلقين الذكر adalah salah satu amalan yang dilakukan didalam sebuah tarekat, yang melibatkan bimbingan atau pengajaran dzikir dari seorang guru kepada muridnya.

Jadi, "talqin dzikir" secara harfiah berarti "pengajaran dzikir" atau "mengajarkan untuk mengingat Allah.”

Didalam tarekat, talqin dzikir merujuk pada proses membimbing seseorang untuk mengucapkan dzikir tertentu, seperti kalimat tauhid لا إله إلا الله (la ilaha illallah) atau mengucapkan dzikir Ismu Dzat الله (Allah).

Talqin dzikir itu mendiktekan ismu Dzat Allah secara lahir dan bathin, jadi tidak hanya mencakup pengajaran dzikir secara lahir, karena kalau bicara lahir, orang yang bukan Islam pun tahu dan bisa menyebutkan lafadz lailahaillallah atau-pun lafadz Allah, karena memang lafadz-nya pendek dan mudah di hafal. Tetapi talqin dzikir ini harus berkaitan juga dengan mendiktekan ismu Dzat Allah secara batin.

Kedudukan Talqin Dzikir dalam Tarekat

Talqin dzikir adalah pintu gerbang utama dalam perjalanan seorang salik di jalan tarekat. Sebab, dzikir yang diajarkannya langsung diberikan oleh guru tarekat yang bersambung sanadnya, yang dimana hasil dari talqin tersebut, akan memberikan asrar (rahasia) dan barakah yang tidak didapatkan sekedar dari membaca sendiri.

Tujuan utama talqin dzikir adalah membersihkan hati dari kelalaian dan penyakit hati, serta membimbing seseorang untuk mengingat Allah secara lebih mendalam. Dalam arti lain, orang yang di talqin dzikir, berharap bisa menjadi ahli dzikir.

Ahli dzikir dan tukang dzikir itu beda. Ahli dzikir pasti tukang dzikir, sedangkan tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli dzikir itu tak dibatasi lisan, tak dibatasi ruang, dan tak dibatasi waktu. Sedang apapun, sedang dimanapun, hati-nya selalu hidup untuk mengingat Allah. Dzikir nya tak terhalang pekerjaan. Jangankan sedang shalat, ataupun sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, sedang apapun ia, sedang mengobrol, sedang bekerja, hatinya tetap berdzikir kepada Allah.

Tukang dzikir itu baru mampu berdzikir saat dia memang sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, seperti wiridan ba’da shalat fardhu, atau sedang menghadiri amaliyah di majelis-majelis yang ia datangi.

Mirisnya, terkadang sedang melafalkan dzikirpun, yang keluar dari lisannya adalah kalimat pujian kepada Allah, ternyata Allah tidak ada dihatinya. Allah hanya ada dilisannya.

Ahli dzikir itu, saat melafalkan dzikirnya, sembari hidup juga hatinya. Begitupun saat lisannya tidak sedang melafalkan dzikir, tapi hatinya tetap berdzikir, disetiap waktu yang ia lewati, disetiap hembusan nafas yang ia lalui.

Para ulama sufi menjelaskan:

مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ

“Barang siapa tidak memiliki syekh (pembimbing), maka syekhnya adalah setan.”

Dengan talqin, seorang salik menerima warisan ruhani yang bersambung dari hati Rasulullah saw, dan bukan hanya sekedar rangkaian lafadz.

Dzikir itu bagaikan cahaya yang diterima dari cahaya sebelumnya. Sehingga cahayanya terus berpindah, sambung menyambung dari qalbu guru ke qalbu murid-muridnya.

Dalil-Dalil Tentang Talqin Dzikir

Al-Qur’an

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ

“Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.”

(QS. Al-Muzzammil: 8)

Ayat ini menjadi dasar dzikir, sedangkan talqin adalah metode Rasulullah saw mengajarkan dzikir kepada para sahabatnya.

فَسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)

Ahli dzikir di sini termasuk para guru tarekat yang mewarisi ilmu dan amalan dzikir.

Hadits Nabi Muhammad saw

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْكَبَ سُفُنَ النَّجَاةِ، وَيَسْتَمْسِكَ بِعُرَى الإِيمَانِ، وَيَرْكَبَ سُبُلَ الرَّشَادِ، فَلْيُوَالِ وَلِيِّي، وَلْيُعَادِ عَدُوِّي، وَلْيَأْتَمَّ بِالأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِي

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa yang mencintai untuk menaiki kapal-kapal keselamatan, berpegang teguh pada tali-tali iman, dan menempuh jalan-jalan petunjuk, maka hendaklah ia mencintai waliku, memusuhi musuhku, dan mengikuti para pemimpin (imam) setelahku."

Hadits ini meskipun tidak secara eksplisit menyebut talqin, namun memberi isyarat bahwa mengikuti pimpinan ruhani (imam/mursyid) adalah kunci keselamatan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mentalqin Sayyidina ‘Ali dengan dzikir la ilaha illallah, dengan meletakkan tangan beliau di dada ‘Ali, seraya bersabda:

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tutup matamu, dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illallah.”

Inilah yang menjadi dasar praktik talqin dalam tarekat.

Ijma’ Ulama Tasawuf

Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah menegaskan, bahwa dzikir yang diambil langsung dari guru tarekat, akan membawa nur (cahaya) yang berbeda dengan dzikir yang hanya dibaca tanpa bimbingan sanad.

Proses Talqin Dzikir

Pelaksanaan talqin dzikir dalam tarekat memiliki adab yang tinggi. Dan pada pelaksanaannya, disetiap tarekat memiliki metode yang mungkin berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.

Persiapan: Murid berwudhu, membersihkan hati dari kesibukan dunia, dan duduk dengan penuh adab di hadapan orang yang akan mentalqin.

Izin guru: Talqin dilakukan dengan izin dan kesiapan batin kedua belah pihak.

Pembacaan Dzikir: Guru mengucapkan dzikir dengan tartil, menghembuskan nafas ruhani ke qalbu murid.

Penanaman Rahasia Dzikir: Guru terkadang meletakkan tangan di dada, atau tangan memegang tangan, atau juga memegang kepala murid sebagai simbol perpindahan sir.

Pengulangan: Murid mengulangi lafadz dzikir sesuai bimbingan guru, hingga terasa hidup di dalam hati.

Wasiyyah: Guru memberi pesan adab dalam menjaga dzikir itu sepanjang hidup.

Hikmah Talqin Dzikir

Menghubungkan sanad ruhani dari Rasulullah saw kepada salik. Menghidupkan qalbu sehingga dzikir menjadi hadir, bukan sekedar lafadz. Menanamkan adab dalam berdzikir. Mendapat limpahan barakah dari guru dan silsilah tarekat. Dan membuka pintu makrifat dengan izin Allah.

Penutup Hikmah

التَّلْقِينُ بَابُ الدُّخُولِ إِلَى حَضْرَةِ اللهِ، فَمَنْ دَخَلَ بِغَيْرِ التَّلْقِينِ كَمَنْ دَخَلَ بَيْتًا مِنْ غَيْرِ بَابِهِ 

“Talqin adalah pintu masuk ke hadirat Allah. Siapa yang masuk tanpa talqin, bagaikan masuk ke rumah tanpa pintunya.”

Dengan demikian, talqin dzikir bukan sekedar formalitas, melainkan warisan agung dari hati ke hati yang telah berjalan sejak zaman Rasulullah saw, dipelihara oleh para sahabat, tabi’in, hingga sampai kepada para mursyid di zaman ini.

Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla ngadawuh didalam Al-Quran,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٧٤

“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Talqin dzikir dapat memberikan berbagai manfaat spiritual, dan bisa menjadi sala satu sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Minggu, 22 Maret 2026

Sejarah Tarekat Didalam Islam - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Sejarah Tarekat Didalam Islam - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Sejarah mencatat, bahwa tarekat yang pertama kali muncul di dunia Islam itu ada pada abad ke-9 M di Persia (Persia itu kalau sekarang adalah Iran dan Iraq), dan tarekat pertama yang ada didunia adalah Tarekat Thaifuriyah (طريقة طيفورية) yang di istbatkan kepada Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami, atau lebih dikenal dengan nama Syekh Abu Yazid Al-Busthami.

Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami (الشيخ طيفور أبو يزيد البسطامي) adalah seorang ulama sufi besar dari Persia, yang lahir pada tahun 804 M/188 H. Di kalangan sufi, Beliau dikenal sebagai "Sulthan Al Arifin (سلطان العارفين) rajanya orang-orang bijak, atau Rajanya para ahli makrifat.” Beliau juga bergelar sebagai Guru Agung (ٱلشيخ ٱلأعظم), dan Gurunya para Wali (الشيخ الأولياء). Beliau wafat pada tahun 874 M/261 H di Bustham Iran. Usia Beliau menurut perhitungan hijriah adalah 73 tahun, sedangkan usia Beliau menurut perhitungan masehi adalah 70 tahun.


Gelar Beliau secara lengkap adalah:

سلطان ٱلعارفين ٱلشيخ ٱلأعظم شيخ ٱلأولياء ٱلغوث ٱلأعظم قطب ٱلعالمين كنجڠ ٱلشيخ طيفور بن عيسى بن سروسيان أبي يزيد ٱلبسطامي قدس ٱلله سره

"Rajanya para ‘Arif (Sulṭan al-‘Arifin), Guru Agung (asy-Syekh al-A‘ẓam), Gurunya para Wali (Syekh al-Awliya’), Penolong Tertinggi (al-Ghawts al-A‘ẓam), Kutubnya seluruh alam (Quṭb al-‘Alamin), yaitu Kanjeng Syekh Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan, Abu Yazid Al-Buṣṭhami, semoga Allah mensucikan rahasianya (Qaddasallahu Sirrah)"

Tarekat dalam Islam muncul sebagai sebuah metode atau praktik tasawuf yang sistematis. Munculnya tarekat tidak terlepas dari perkembangan tasawuf itu sendiri, yang pada awalnya lebih bersifat personal, kemudian berkembang menjadi bentuk perkumpulan, untuk memudahkan pengamalan dan penyebaran ajaran tasawuf.

Latar belakang munculnya tarekat di dunia Islam

Jika ditela’ah secara sosiologis dengan lebih mendalam, tampak ada hubungan antara latar belakang lahirnya pola hidup sufistik dengan perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat. Sebagai contoh adalah munculnya gerakan kehidupan zuhud dan ‘uzlah yang dipelopori oleh Imam Hasan Al-Bashri (إمام الحسن البصري) (110 H) dan Syekh Ibrahim bin Adam (الشيخ إبراهيم بن آدم) (159 H).

Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoya-foya), yang dipraktekkan oleh para pejabat Bani Umayyah. Lalu setelah itu mucul pengaruh ajaran tasawuf dari Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, kemudian setelah itu tasawuf semakin berkembang dengan munculnya Syekh Husein Mansur Al-Hallaj (الشيخ حسين منصور الحلاج), dan Syekh Ibnu Arabi (الشيخ ابن عربي), dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini tidak bisa lepas dari adanya pengaruh gaya hidup baru didalam masyarakat Islam, yang cenderung tersilaukan oleh tipu muslihat dunia.

Dikala itu banyak pemimpin-pemimpin lacut, masyarakat yang semakin carut marut, mereka menggunakan Islam hanya sebatas identitas dan seremonial saja. Kemunculan tarekat didalam Islam bukan sebatas catatan sejarah, karena kemunculannya memiliki latar belakang yang cukup beralasan, baik secara sosiologis, maupun politis di waktu itu. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada masa itu, yaitu faktor kultural dan struktural. Dari segi politik, dunia Islam sedang mengalami krisis hebat. Di bagian barat dunia Islam, seperti wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir, mereka sedang menghadapi serangan orang-orang Kristen Eropa, yang terkenal dengan Perang Salib, selama kurang lebih dua abad (490-656 H / 1096-1258 M) dan dikurun waktu itu telah terjadi delapan kali peperangan yang dahsyat.

            Di bagian timur, dunia Islam menghadapi serangan Bangsa Mongol yang haus darah dan kekuasan. Gerombolan pasukan tatar itu melahap setiap wilayah yang dijarahnya. Demikian juga halnya di Baghdad, sebagai pusat kekuasaan dan peradaban Islam di masa itu. Situasi politik kota Baghdad tidak menentu, karena  selalu terjadi perebutan kekuasan di antara para amir (Turki dan Dinasti Buwihi). Secara formal, khalifah memang masih diakui, tetapi secara praktis penguasa, yang sebenarnya berkuasa adalah para amir dan para sultan. Keadaan yang buruk ini disempurnakan keburukannya dengan penyerangan Hulagu Khan yang memporak porandakan pusat peradaban Umat Islam. Tragedi ini terjadi pada tahun 1258 M, para ulama tarekat dan jutaan umat Islam dibunuh, Baghdad yang pada waktu itu menjadi salah satu tempat peradaban umat Islam, berhasil di luluh lantahkan oleh kekejaman Hulagu Khan.

Dalam tragedi penyerbuan Hulagu Khan ke wilayah dunia Islam, khususnya dalam penaklukan Baghdad tahun 1258 M, korban dari kalangan umat Islam sangat besar, dan dianggap sebagai salah satu bencana paling kelam dalam sejarah peradaban Islam.

Perkiraan jumlah korban bervariasi dalam sumber-sumber sejarah, karena catatan pada masa itu tidak selalu konsisten. Namun, para sejarawan sepakat bahwa:

Jumlah korban di Baghdad saja diperkirakan antara 200.000 hingga lebih dari 1.000.000 jiwa. Mayoritas korban adalah umat Islam, termasuk ulama fuqaha, ulama sufi, santri, wanita, anak-anak, dan warga sipil.

Banyak madrasah, masjid, perpustakaan, dan karya ilmu pengetahuan dihancurkan. Bahkan perpustakaan Bayt al-Hikmah بيت الحكمة yang menyimpan ribuan manuskrip dibakar dan dilempar ke Sungai Tigris.

Sumber-sumber sejarah:

Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam Al-Bidayah wan-Nihayah (البداية والنهاية) menyebut pembantaian ini sangat luas dan kejam.

Al-Dhahabi (الذهبي) dan Ibnu al-Athir (ابن الأثير) menggambarkan suasana mencekam, kota penuh mayat, sungai Tigris berubah warna karena tinta kitab dan darah. Steven Runciman dan sejarawan barat memperkirakan sekitar 800.000 - 1.000.000 jiwa tewas.

Hulagu adalah cucu Jenghis Khan, yang memimpin ekspedisi Mongol ke barat. Ia menggulingkan tahta Khalifah Al-Mu’tashim (الخليفة المعتصم), khalifah Abbasiyah terakhir di Baghdad.

Tragedi ini mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah secara de facto, dan merupakan awal runtuhnya supremasi politik Islam Sunni di kawasan tersebut.

Dimasa itu yang berkuasa adalah Kekhalifahan Abbasyiyah. Pimpinan Kekhalifahan Abbasiyah saat dibantai oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M adalah Khalifah Al-Musta'sim. Ia adalah khalifah terakhir dari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Penyerangan dan penjarahan Baghdad oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan mengakhiri kekuasaan Abbasiyah dan menandai berakhirnya era kejayaan mereka.



Hikmah ruhani di balik runtuhnya Baghdad

Tragedi berdarah di tahun 656 H / 1258 M telah tercatat dalam lembaran sejarah umat, bahwa pada tahun 656 Hijriah, kota Baghdad sebagai mahkota peradaban Islam, pusat ilmu dan cahaya kebijaksanaan, telah tenggelam dalam lautan darah dan abu kehancuran, di tangan pasukan Hulagu Khan, cucu dari Jenghis Khan yang datang seperti badai dari Timur.

Di singgasana yang sepi dari kewibawaan ruhani, duduk seorang khalifah yang bernama Al-Musta‘ṣim Billah. Ia adalah pewaris tahta agung Bani Abbas, namun tidak mewarisi kejernihan basirah para pendahulunya.

Diceritakan oleh para imam sejarawan, bahwa ia seorang yang lemah dalam عَزْمٌ (keteguhan), tumpul dalam kebijakan, dan terkepung oleh para pembisik istana yang menjauhkan dia dari suara ulama dan orang-orang saleh.

Dalam masa pemerintahannya, suara adzan masih menggema, namun ruh syariat mulai memudar di jantung kekuasaan. Kitab-kitab masih ditulis dan dibacakan, namun tidak lagi menjadi suluh penerang dalam kegelapan kebijakan. Majelis-majelis masih ramai, tapi ruhnya kosong dari hakikat dan makrifat. Maka turunnya musibah, bukanlah semata-mata peristiwa duniawi, melainkan isyarat langit bahwa bangunan yang ditinggalkan ruhnya pasti akan runtuh.

Imam Ibnu al-Jawzi (الإمام ابن الجوزي) berkata:

"Kerajaan tanpa adab adalah bangkai yang belum dikubur, dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan adalah fitnah yang ditunggu ajalnya."

Apakah Allah tidak kuasa menjaga kota suci ilmu seperti Baghdad? tentu kuasa-Nya meliputi segala sesuatu. Namun ketika para pemimpin lalai, dan umat menjauh dari hakikat ubudiyyah, maka Allah datangkan cambuk sejarah, agar mereka yang hidup sesudahnya bisa mengambil pelajaran.

Dalam nalar suluk, tragedi ini adalah bentuk dari tajalli al-Qahhar (تَجَلِّي القَهَّارِ), penampakan sifat Maha Perkasa-Nya yang menghancurkan bangunan sombong, agar ruh kebenaran kembali mencari jalan pulang.

Pelajaran Ruhani yang bisa kita ambil:

Kekuasaan tanpa ruh adalah debu. Bila pemimpin hanya menjadi simbol, tanpa jiwa kepemimpinan yang bersandar pada ilmu, hikmah, dan amanah, maka kekuasaan itu hanya tinggal menunggu saat kehancurannya.

Umat yang jauh dari ilmu dan suluk akan terjebak pada dunia lahir yang fana. Ketika kitab dibaca tanpa diamalkan, dan masjid ramai namun pasar lebih menggema, maka hancurnya peradaban adalah pengingat, bukan sebuah kebetulan.

Allah tidak menzalimi siapapun. Tapi manusia lah yang menzalimi dirinya sendiri, dengan membiarkan kegelapan batin melingkupi cahaya Ilahi dalam jiwa dan masyarakatnya.

Maka menangisnya langit Baghdad bukan hanya karena darah yang tumpah, tapi karena cahaya makrifat telah lama redup sebelum pedang Mongol tiba.

Dan barang siapa membaca sejarah hanya dengan mata lahir, ia akan melihat kehancuran semata. Tapi barang siapa membacanya dengan mata batin, ia akan melihat tajalli Allah yang mengajarkan kebangkitan lewat kehancuran.



Tragedi Baghdad dan kebangkitan ruhani melalui trah Mongolia Sultan Berke Khan

Nasab dan Latar Belakang Keluarga Hulagu Khan

Hulagu Khan (1217–1265 M) adalah cucu dari Jenghis Khan (1162–1227 M), pendiri dan pemimpin pertama Kekaisaran Mongolia yang dikenal luas karena kekuatan militernya yang brutal dan ekspansi imperiumnya yang luar biasa.

Jenghis Khan memiliki empat orang putra utama:

1. Jochi Khan (1179–1227 M)

2. Chagatai Khan (1183–1241 M)

3. Ogedei Khan (1186–1241 M)

4. Tolui Khan (1192–1232 M)

Dari putra keempatnya, yaitu Tolui Khan, lahirlah empat putra penerus dinasti, yaitu:

1. Möngke Khan (1208–1259 M)

2. Kubilai Khan (1215–1294 M)

3. Hulagu Khan (1217–1265 M)

4. Ariq Böke Khan (1219–1285 M)

Maka nasab Hulagu Khan secara lengkap adalah:

Hulagu Khan bin Tolui Khan bin Jenghis Khan.

Sultan Berke Khan, cahaya Islam dalam Dinasti Mongol

Di tengah kekerasan dan gelapnya kekuasaan Mongol, muncullah satu sosok cucu Jenghis Khan yang justru menjadi cahaya petunjuk bagi umat Islam.

Sultan Berke Khan (السلطان بركي خان) (1209–1266 M), putra dari Jochi Khan, anak pertama Jenghis Khan.

Nasab lengkapnya:

Berke Khan bin Jochi Khan bin Jenghis Khan.

Sultan Berke Khan merupakan pemimpin Horde Emas (Golden Horde), salah satu pecahan besar Kekaisaran Mongol yang menguasai wilayah Rusia, Kaukasus (Daerah Kaukasus sekarang terletak di perbatasan antara Eropa Timur dan Asia Barat, tepatnya di utara Iran, selatan Rusia, dan di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia), dan Eropa Timur.

Hidayah Islam menyinari hatinya melalui perantara seorang wali agung, yaitu Syekh Saifuddin Al-Bakharzi (الشيخ سيف الدين الباخرزي), seorang ulama sufi, mursyid dari Tarekat Kubrawiyyah (الطريقة الكبروية), yang merupakan murid langsung dari Sufi Agung Syekh Najmuddin Al-Kubra (الشيخ نجم الدين الكبرى), pendiri dan pemegang sanad itsbat tarekat tersebut.

Perang Saudara Mongol dan Tragedi Baghdad

Tahun 1258 M, dunia Islam mengalami malapetaka besar yang mengguncang sendi ruhani dan intelektualnya. Hulagu Khan, dengan pasukannya yang brutal, menyerbu Baghdad, sebagai pusat kekhalifahan Abbasiyah, dan menghancurkan kota itu hingga rata dengan tanah. Ribuan ulama fuqaha, ulama sufi, wanita, dan anak-anak dibantai. Khalifah al-Musta‘ṣim terbunuh, dan Perpustakaan Bayt al-Hikmah dibakar.

Tragedi ini menandai tajalli sifat al-Qahhar (Yang Maha Menghancurkan), sebagai pelajaran ruhani atas lemahnya kepemimpinan umat dan jauhnya masyarakat dari hakikat agama.

Berke Khan yang telah memeluk Islam merasa marah dan tersayat hati melihat kehancuran Baghdad. Ia menganggap serangan itu bukan hanya serangan politik, tapi juga agresi terhadap umat Islam dan kehormatan kaum muslimin.



Latar Belakang Perang Berke - Hulagu

1. Tragedi Baghdad (1258 M). Penjarahan dan pembunuhan massal oleh Hulagu terhadap umat Islam.

2. Kematian Mongke Khan (1259 M). Menyebabkan perebutan takhta antara Kubilai Khan dan Ariq Boke Khan, yang pada akhirnya memicu Perang Saudara Toluid.

3. Keislaman Berke Khan. Hatinya terpaut pada Islam, dan ia tidak rela melihat saudaranya sesama cucu Jenghis Khan menindas kaum Muslimin.

Perang Berke - Hulagu dan Perubahan Sejarah

Karena itu, Sultan Berke Khan bangkit. Ia menolak ekspansi Hulagu ke negeri Syam (Palestina, Yordania, Suriah, Libanon). Meskipun sempat terlambat menghentikan invasi ke Persia, ia tidak ingin kecolongan kedua kalinya.

Sultan Berke Khan bersekutu dengan Dinasti Mamluk di Mesir, yang juga tengah bersiap menghadapi ancaman Mongol. Ia juga mendukung saudaranya, Ariq Boke Khan, dalam perang melawan Kubilai Khan, sebagai bagian dari strategi membelah kekuatan musuh.

Pasukan Berke Khan, dipimpin oleh adiknya Nogai Khan, menyerbu wilayah Ilkhanat (kekuasaan Hulagu). Pertempuran besar terjadi di dekat Sungai Terek, sungai yang mengalir melalui Kaukasus hingga Laut Kaspia. Dalam pertempuran ini, pasukan Hulagu mengalami kekalahan telak.

Dampak Perang Berke - Hulagu

1. Menghentikan ekspansi Hulagu ke wilayah Islam.

2. Memperkuat posisi umat Islam di Mesir dan Syam.

3. Memecah Kekaisaran Mongol menjadi wilayah-wilayah independen, terutama Golden Horde dan Ilkhanat.

4. Menandai babak baru, masuknya unsur Islam dalam struktur kekuasaan Mongol.

Hulagu Khan mati pada tahun 1265 M, tak lama setelah kekalahan tersebut. Maka berakhirlah kekejaman kekuasaannya, dan sejarah mencatat, seorang cucu Jenghis Khan menghancurkan Baghdad, dan cucu yang lain membelanya.

Hikmah dari Sejarah

Peristiwa ini bukan sekadar perang saudara antar keturunan Mongol. Ia adalah medan tajalli Allah, tempat di mana iman menundukkan darah, dan hidayah menundukkan kekuasaan.

Sultan Berke Khan menjadi simbol bahwa kekuasaan tak selalu melahirkan kezaliman, dan hidayah dapat bersinar bahkan di dalam istana kekaisaran paling kejam sekalipun.

            Kerunyaman politik dan krisis kekuasaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat Islam di wilayah tersebut. Pada masa itu umat Islam mengalami masa disintegrasi sosial yang sangat parah, pertentangan antar golongan banyak terjadi, seperti antara golongan sunni dengan syi’ah, golongan Turki dan golongan Arab dan juga Persia. Selain itu, keadaan semakin di perparah oleh suasana banjir yang melanda sungai Dajlah yang mengakibatkan separuh dari tanah Iraq menjadi rusak. Akibatnya, kehidupan sosial merosot, keamanan terganggu, dan kehancuran umat Islam semakin terasa di mana-mana.

            Masyarakat Islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya, yang dapat digunakan sebagai pegangan. Mereka kembali kepada ajaran tasawuf yang dikemas dalam ajaran tarekat. Dan yang tidak kalah pentingnya, adalah kepedulian para ulama sufi, mereka memberikan pengayoman kepada masyarakat Islam yang sedang mengalami krisis moral yang sangat hebat (ibarat anak ayam kehilangan induk).

Dengan dibukanya kembali ajaran tasawuf kepada orang awam, secara praktis akan lebih berfungsi sebagai psikoterapi yang bersifat massal. Maka kemudian banyak orang awam yang memasuki majelis dzikir dan halaqahnya para ulama sufi, yang lama kelamaan berkembang menjadi suatu kelompok tersendiri (eksklusif) yang disebut dengan tarekat.

            Di antara ulama sufi yang kemudian memberikan pengayoman kepada masyarakat umum untuk mengamalkan tasawuf secara praktis (tasawuf ‘amali), dan bisa dikatakan menjadi penyempurna ajaran tasawuf yang diajarkan oleh ulama-ulama sebelumnya adalah, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (حجة الإسلام الإمام أبو حامد محمد الغزالي). Kemudian diikuti oleh ulama sufi berikutnya, seperti  Shultonul Auliya Kanjeng Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (الشيخ عبدالقادرالجيلاني), dan Syekh Ahmad Ali Al-Rifa’i (الشيخ أحمد علي الرفاعي). Ketiga tokoh sufi tersebut kemudian dianggap sebagai pendiri Tarekat Ghazaliyah (طريقة الغزالية) Tarekat Qadiriyah (طريقة القادرية) dan Tarekat Rifa’iyah (طريقة الرفاعية), yang tetap berkembang sampai sekarang.



Sejarah perkembangan tarekat

            Sejarah perkembangan tarekat secara garis besar dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap khanqah (خانقاه), tahap thariqah (طريقة) dan tahap tha’ifah (طائفة).

a. Tahap khanaqah (خانقاه)

Secara makna, khanaqah adalah bangunan atau tempat yang secara khusus digunakan sebagai pusat kegiatan dan pertemuan bagi para sufi, terutama dalam tradisi tarekat. Di khanaqah, para sufi melakukan ritual spiritual, belajar, dan beruzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

     Tahap khanaqah (pusat pertemuan para ulama sufi), dimana seorang syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama dibawah peraturan. Aturan dari syekh mursyid harus di ikuti oleh para murid. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual ataupun berjamaah. Ini terjadi dan dimulai sekitar abad 9 M. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

b. Tahap thariqah (طريقة)

Thariqah, atau tarekat dalam bahasa Arab, secara harfiah berarti "jalan" atau "metode.” Dalam konteks tasawuf, thariqah mengacu pada jalan atau metode yang ditempuh oleh seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyucian jiwa dan hati. Thariqah juga bisa merujuk pada organisasi atau perkumpulan yang didirikan berdasarkan ajaran seorang mursyid (guru spiritual) dalam aliran tarekat tertentu.

            Sekitar abad 9 M, di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Pada akhirnya berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Allah SWT. Disini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk, pola ataupun cara, agar pengikutnya bisa menyempurnakan syariat dan hakikat, yang dimana tarekat menjadi jembatannya agar sampai pada maqam makrifat.

c. Tahap tha’ifah (طائفة)

Dalam konteks tarekat dan perjalanan spiritual (suluk), tha’ifah (الطائفة) merupakan tahap awal dalam meniti jalan menuju Allah (سلوك إلى الله). Kata ṭha’ifah secara bahasa berarti kelompok atau golongan, namun dalam istilah tasawuf, ia mengacu pada:

Tahapan ketika seorang murid (salik) mulai bergabung dengan komunitas spiritual atau jamaah tarekat yang membimbingnya menuju makrifatullah.

Disini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada masa ini muncul kelompok tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah, tarekat mengandung arti lain, yaitu kelompok sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Tercatatlah tarekat-tarekat yang ada didunia, dan berkembang secara pesat dikalangan umat Islam.

Diantara beberapa tarekat yang ada di dunia

1. Tarekat Thaifuriyah طريقة طيفورية

Didirikan oleh Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami

(الشيخ طيفور بن عيس بن سوروسيان ابويزيد البسطامي)

(804 M/188 H - 874 M/261 H)

2. Tarekat Junaidiyah طريقة الجنيدية

Didirikan oleh Syekh Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Baghdadi

(الشيخ أبو القاسم الجنيد بن محمد البغدادي)

(825 M/210 H - 910 M/298 H)

3. Tarekat Ghazaliyah طريقة الغزالية

Didirikan oleh Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali

(حجة الإسلام الإمام أبو حامد محمد الغزالي)

(1058M/450 H - 1111 M/505 H)

4. Tarekat Qadiriyah طريقة القادرية

Didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdadi

(الشيخ عبدالقادرالجيلاني البغدادي)

(1078 M/470 H - 1166 M/561 H) 

5. Tarekat Rifa'iyah طريقة الرفاعية

Didirikan oleh Syekh Ahmad bin Ali Abu Al-Abbas Ar-Rifa'i

(الشيخ أحمد بن علي أبو العباس الرفاعي)

(1118 M/512 H - 1182 M/578 H)

6. Tarekat Kubrowiyah طريقة كبروية

Didirikan oleh Syekh Najmuddin Kubro

(الشيخ نجم الدين الكبرى)

(1145 M/540 H - 1221 M/618 H)

7. Tarekat Syadziliyah الطريقة الشاذلية

Didirikan oleh Tuan Syekh Imam Abu Hasan Asy Syadzili

(الشيخ الإمام أبو الحسن الشاذلي)

(1197 M/593 H - 1258 M/656 H)

8. Tarekat Maulawiyah طريقة المولويّة

Didirikan oleh Syekh Jalaluddin Rumi

(الشيخ جلال الدين الرومي)

(1207 M/604 H - 1273 M/672 H )

9. Tarekat Naqsyabandiyah طريقة النقشبندية

Didirikan oleh Syekh Muhammad Bahauddin an Naqsyabandi

(الشيخ محمد بهاء الدين النقشبندي)

(1317 M/717 H - 1389 M/791 H)

10. Tarekat Syattariyah طريقة الشطارية

Didirikan oleh Syekh Abdullah Asy Syattari

(الشيخ عبد الله الشطار)

( kelahiran beliau tidak diketahui - 1485 M/890 H)

11. Tarekat Samaniyah طريقة السمانية

Didirikan oleh Syekh Muhammad Abdul Karim as Samani

(الشيخ محمد عبد الكريم السماني)

(1718 M/1130 H - 1775 M/1189 H)

12. Tarekat Tijaniyah الطريقة التيجانية

Didirikan oleh Syekh Ahmad at Tijani

(الشيخ أحمد التجاني)

(1737 M/1150 H - 1815 M/1230 H)

13. Tarekat Idrisiyah طريقة الإدريسية

Didirikan oleh Sayyid Ahmad bin Idris Al-Fasi Al-Hasani

(السيد أحمد بن إدريس الفاسي الحسني)

(1758 M/1172 H - 1837 M/1253 H)

14. Tarekat Sanusiyah طريقة السنوسية         

Didirikan oleh Syekh Muhammad bin Ali Sanusi

(الشيخ محمد بن علي السنوسي)

(1787 M/1202 H - 1858 M/1276 H)

Dan masih banyak lagi tarekat-tarekat lainnya yang tersebar diseluruh dunia, yang tidak mungkin dijabarkan disini semua karena saking banyaknya, apalagi jika dijabarkan dengan cabang-cabang tarekat nya.

Pada hakikatnya, semua tarekat memiliki tujuan yang sama. Dan yang membedakan hanyalah cara, jalan, atau metode yang berbeda. Setiap pendiri tarekat yang menjadi istbat tarekat tersebut, memiliki cara pola jalan atau metode masing-masing untuk sampai bermakrifat kepada Allah. Dan cara-cara itulah yang diajarkan kepada murid-muridnya.

Suatu yang menjadi kepastian, bahwa metode atau jalan tarekat-tarekat tersebut, tetap akan bersandar kepada Al-Quran dan Sunnah.   

Sebenarnya, munculnya banyak tarekat didalam Islam, pada dasarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak madzhab dalam urusan fiqih. Termasuk didalam urusan teologi, berkembanglah madzhab-madzhab yang disebut dengan firqoh, seperti murji’ah, mu’tazillah, khawarij, syi’ah, farrabi, asy’ariyah, maturidiyah, qadariyah dan jabariyah. Di sini istilah yang digunakan bukan mazhab tetapi firqoh.

Didalam fiqih juga berkembang banyak firqoh yang disebut dengan madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zhahiri dan Syi’i.

Di dalam tasawuf juga berkembang banyak madzhab yang disebut dengan thariqah atau tarekat. Thariqah dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perkembangan madzhab dan firqah dalam urusan fiqih dan kalam (teologi). Oleh karena itu dapat dikatakan juga, bahwa tarekat memiliki kedudukan atau posisi yang sama, sebagaimana madzhab dan firqoh di dalam syari’at Islam.

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah. Perlu diingat juga, bahwa kita harus berhati-hati terhadap orang-orang yang mencatut nama tarekat, namun tarekatnya sesat.

Peringatan untuk berhati-hati terhadap tarekat sesat adalah penting, karena tarekat atau thariqah dapat menyimpang dari ajaran Islam yang benar, jika tidak berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah. Tarekat yang menyimpang dapat menyesatkan pengikutnya, dan membawa mereka pada ajaran yang batil. Pentingnya memahami tarekat, dimana tarekat itu adalah sebagai jalan. Yaitu jalan atau metode yang ditempuh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tujuan utama tarekat adalah membersihkan hati dari sifat-sifat buruk, dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, serta berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Diantara tanda-tanda tarekat sesat

1. Menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah

Tarekat yang tidak berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, atau bahkan bertentangan dengan keduanya, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.

2. Penyimpangan Aqidah

Jika tarekat mengajarkan keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam yang benar, seperti mengakui adanya Nabi baru, atau ajaran lain yang menyimpang, dan tarekatnya keluar dari aqidah ahlussunah wal jamaaah, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.



3. Menyepelkan urusan syariat

Jika ada tarekat yang menyepelekan urusan syariat Islam, seperti mengatakan tidak perlu shalat, karena shalat hanya untuk tingkatan awam, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.

Sikap terhadap tarekat-tarekat yang sesat:

1. Waspada dan hati-hati

Masyarakat perlu waspada dan berhati-hati terhadap tarekat yang ajarannya sesat dan menyimpang. 

2. Meminta bimbingan ulama

Jika ragu terhadap suatu tarekat, mintalah bimbingan dari ulama yang terpercaya, dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam. 

3. Meninggalkan tarekat sesat

Jika terbukti ada tarekat yang menyimpang dari ajaran Islam, segera tinggalkan dan jauhi tarekat tersebut. 

Kesimpulannya, tarekat adalah jalan yang baik jika ditempuh dengan cara yang baik, dengan berlandaskan pada ajaran Islam yang benar. Bahkan mengikuti tarekat bisa menjadi wajib, untuk menyempurnakan syariat dan hakikat agar sampai pada makrifat.

كل ما يتوصل به إلى الواجب فهو واجب

"segala sesuatu yang menjadi perantara untuk mencapai suatu kewajiban, maka perantara tersebut juga menjadi wajib"

(kaedah ushul fiqih)


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 17 Maret 2026

Makna dan Tujuan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Makna dan Tujuan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Diambil dari : Kitab Sajatining Mulyo karya : Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)


Tarekat atau thariqah secara lughoh adalah jalan, sedangkan secara istilah, thariqah adalah jalan atau metode yang ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Didalam istilah tasawuf, thariqah sering disebut juga dengan “suluk”, dan pelaku suluk disebut dengan “salik.”

Suluk adalah proses atau perjalanan spiritual yang melibatkan berbagai praktik ibadah untuk menyucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan salik adalah orang yang melakukan atau menempuh jalan suluk tersebut.

Orang yang berthariqah atau bertarekat memiliki tujuan untuk menyempurnakan syariat dan hakikat, agar sampai pada makrifat. Makrifat apa? jawabannya adalah makrifatullah (mengenal Allah), mengapa harus menempuh perjalanan agar sampai bermakrifatullah? karena ibadah kepada Allah itu harus menyempurnakan keduanya, antara ibadah cangkang dan ibadah isi, antara syariat dan hakikat.

Contohnya didalam ibadah shalat, gerakan shalat adalah ibadah lahiriyahnya, sedangkan khusyuk adalah ibadah batiniyahnya.

Jika kita shalat hanya cangkangnya saja, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah. Ada shalat yang sah, ada shalat yang diterima, shalat yang sah belum tentu diterima, sedangkan shalat yang diterima pasti sah.

Pada hakikatnya, diterima atau tidaknya shalat memang itu urusan Allah, namun Allah memberikan syarat agar shalat kita diterima oleh-Nya.

Dan jika kita berbicara tentang shalat yang sah, maka jawabannya adalah shalat yang sesuai dengan syarat-syarat ataupun rukunnya, yang diatur oleh ilmu fiqih. Sedangkan jika kita berbicara tentang shalat yang diterima, maka itu bukan bagian dari urusan fiqih.

Shalat yang diterima memiliki beberapa syarat, diantara syarat diterimanya shalat ada yang berkaitan dengan urusan syariat, dan ada yang berkaitan dengan urusan makrifat.










Syarat diterimanya shalat itu ada empat,

1. Ibadahnya harus ikhlas karena Allah

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ

“Dan tidaklah kamu diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya, semata-mata hanya karena (menjalankan) Agama.”

(QS. Al Bayyinah: 5)

Orang yang beribadah bukan karena Allah, maka amalnya hanya sia-sia belaka, bahkan Allah menggambarkan ibadah mereka seperti debu yang beterbangan.

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”

(QS. Al-Furqon: 23)

2. Ibadah harus dengan ilmunya

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

(HR. Muslim no. 1718)

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ – أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ

“Dan setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalan-amalannya tertolak, tidak diterima.”

(Syeikh Ahmad Ibnu Ruslan Asy Syafi’iy

الشيخ أحمد بن رسلان الشافعي) (770H – 844H)

Jika seseorang beribadah tanpa ilmunya, maka ia akan beribadah mengikuti hawa nafsunya. Segala yang ia lakukan tidak disandarkan pada keilmuan, bahkan bisa sesat dan menyesatkan.

Contohnya didalam shalat. Jika seseorang shalat tanpa memakai ilmunya, maka ia akan melakukan shalat tidak mengikuti aturan yang seharusnya. Kita diajarkan bagaimana tata cara shalat yang benar, dari mulai urusan bersuci, sampai syarat dan rukun shalatnya itu sendiri.

3. Tidak boleh  memakan dan memakai barang yang haram

مَنْ صَلَّى فِيْ ثَوْبٍ بِعَشْرَةِ دَرَاهِمَ وَفِيْهَا دِرْهَمٌ مِنْ حَرَامٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَ ةٌ

“Barangsiapa yang shalat memakai pakaian seharga sepuluh dirham, dan didalam sepuluh dirham itu ada satu dirham hasil dari yang haram, maka shalatnya tidak akan diterima.”

(HR. Ahmad)

Jika satu dirham saja mencampuri pakaian kita yang digunakan shalat sudah menyebabkan shalat kita tidak diterima oleh Allah, apalagi jika harta yang kita miliki haram semuanya. Orang yang memakan ataupun memakai harta haram, maka ibadah apapun yang ia lakukan akan tertolak dihadapan Allah. Contoh lain diluar shalat, misalkan ada orang yang bershadaqah dengan harta haram, sebanyak apapun yang ia shadaqahkan, maka shadaqahnya tidak akan diterima oleh Allah. Hak dan bathil itu tidak bisa dicampur, haq ditambah bathil, jawabannya adalah bathil.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

(QS. Al Baqarah: 42)

Allah dan juga Rasul-Nya telah memberikan peringatan bagi siapapun yang mencari harta dunia dengan jalan yang haram.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ 

“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

(QS. Al Baqarah: 168)

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal, dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.”

(HR. Tirmidzi no. 3563)

4. Khusyuk

"Khusyuk" itu merujuk pada keadaan hati yang tenang, fokus, dan penuh penghayatan, terutama saat beribadah. Ini melibatkan rasa tunduk, rendah diri, dan kesadaran penuh terhadap Allah, serta perasaannya sampai pada merasa akan kehadiran Allah. Seperti halnya dalam urusan shalat, khusyuk berarti menjalankan ibadah dengan kesadaran penuh, sehingga seorang hamba saat sedang melakukan shalat, maka sudah tak ada lagi yang lain didalam hati dan pikirannya, kecuali Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘azza wa jalla.

Khusyuk itu berkaitan dengan nafi itsbat. Menafikan segala sesuatu selain Allah, dan mengistbatkan segalanya hanya kepada Allah.

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ , الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”

(QS.  Al Mu’minun: 1-2)

فَوَيۡلٌ لِّلۡمُصَلِّيۡنَۙ‏ , الَّذِيۡنَ هُمۡ عَنۡ صَلَاتِهِمۡ سَاهُوۡنَۙ‏ 

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”

(QS. Al Ma’un: 4-5)

--------------------------------------------------------------------------------

Nafi النفي adalah peniadaan

Itsbat الاثبات adalah penetapan

---------------------------------------------------------------------------------

Pada hakikatnya, khusyuk bukan hanya dilakukan saat shalat saja, tapi khusyuk harus dilakukan disetiap hembusan nafas yang kita lewati, selama dua puluh empat jam waktu yang kita lalui, siang ataupun malam, sedang tidur ataupun terjaga, karena bagi para salikin, tidak boleh ada satu detik pun yang terlewati tanpa mengingat Allah.

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngadawuh,

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

(HR. Bukhari)

Hadist ini menjelaskan, setidaknya kita harus memiliki kesadaran bahwa Allah itu melihat kita, (maqam muhadharah) walaupun kita belum sampai pada maqam melihat Allah (maqam mukasyafah dan maqam musyahadah).

1. Muhadharah (محاضرة) adalah kesadaran bahwa Allah hadir. Hati menghadapkan diri pada Allah.

2. Mukasyafah (مكاشفة) adalah tabir tersingkap. Rahasia Allah mulai tampak bagi hati.

3. Musyahadah (مشاهدة) adalah penyaksian langsung dengan mata hati. Allah tidak hanya disadari, tapi disaksikan.

Melihat Allah disini bukanlah melihat Wujud Dzatiyah-Nya, karena seorang hamba saat ingin melihat Wujud Dzatiyah Allah, itu harus melalui proses kematian, itu-pun bagi hamba-hamba-Nya yang meninggal dalam keadaan baik, dan mendapatkan anugerah dari Allah untuk berjumpa dengan-Nya di akhirat.

Diantara makhluk, hanya Baginda Nabi Muhammad saw saja yang bisa melihat Dzatiyah Allah sebelum meninggal. Kejadian itu terjadi saat peristiwa isra mi’raj, bahkan jangankan kita, para Nabi yang lainnya-pun tidak bisa melihat Dzatiyah Allah didunia, seperti halnya kisah Nabi Musa as, yang meminta kepada Allah agar berjumpa dengan-Nya didunia, namun Nabi Musa tidak diberikan kemampuan untuk itu.

Kisah Nabi Musa yang ingin melihat Allah itu diabadikan didalam Al-Qur'an,

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ 

“Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu, dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

(QS. Al A’raf: 143)

Saat itu Nabi Musa berdialog dengan Allah di Gunung Sinai setelah melakukan tirakat selama 40 hari 40 malam, disana timbulah keinginan kuat untuk melihat wujud Allah. Ia memohon kepada Allah, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." 

Allah menjawab, "Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku." 

Ketika Allah menampakkan diri-Nya pada gunung itu, gunung tersebut hancur luluh lantah, dan Nabi Musa jatuh pingsan. Setelah siuman, Nabi Musa menyadari ke-Besaran dan ke-Mahakuasaan Allah, serta kelemahan dirinya sebagai manusia. Ia pun bertaubat dan beriman kepada Allah dengan sepenuh hati. 

Kisah ini mengajarkan tentang keagungan Allah dan keterbatasan manusia dalam memahami dan melihat Dzat Allah. Nabi Musa meskipun seorang Nabi dan Rasul pilihan Allah, tetaplah ia adalah seorang manusia yang memiliki keterbatasan. Kisah ini juga menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk senantiasa bertakwa dan memperbanyak ibadah kepada Allah.

---------------------------------------------------------------------------------

Nabi Musa bermunajat di Gunung Sinai, yang juga dikenal sebagai Gunung Tursina atau Bukit Tursina. Jadi, Gunung Sinai dan Gunung Tursina adalah satu tempat yang sama. Lokasi ini sangat penting didalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi, karena di sinilah Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT, termasuk kitab Taurat. 

Gunung Sinai/Tursina terletak di Semenanjung Sinai, Mesir. Gunung ini disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti dalam surat At-Tin ayat 2 dan Al-Qashash ayat 46, serta surat Al-A'raf ayat 143. Dalam Al-Qur'an, Bukit Tursina disebutkan sebagai tempat Nabi Musa menerima peringatan dari Allah dan tempat ia berdialog dengan Allah. 

---------------------------------------------------------------------------------

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, melihat Allah disini adalah maqamat seorang salikin yang sudah sampai pada puncak wahdatul wujud, dan berada pada maqam musyahadah.

Melihat Allah disini bukanlah melihat dengan mata telanjang, makrifatullah itu bukan dilihat dengan mata, bukan didengar oleh telinga, bukan diraba dengan kulit kasar, tetapi makrifatullah itu hanya bisa dimengerti oleh rasa, oleh karena itu kita harus merasa, sampai pada titik rasa yang sesungguhnya. Para Masyaikh mengajarkan kami, agar kami bisa mengerti terhadap “Ngelmuning Roso Rosone Sajatining Urip”, (ilmu rasa, rasanya kesejatian hidup), untuk mencapai derajat “Sajatining Mulyo”, (kemuliaan yang sejati).

Itulah keempat syarat agar ibadah kita diterima oleh Allah, termasuk dalam urusan shalat, ibadah yang paling sakral, bahkan ibadah yang akan dihisab lebih dahulu kelak dihadapan Allah, sebelum hisaban amalan lainnya.

Shalat merupakan tiang dari agama Islam. Setiap muslim wajib menjalankan ibadah shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Bahkan amalan yang pertama kali ditanyakan/dihisab pada hari kiamat adalah ibadah shalat.

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah saw

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ عَزَّ وَجَلَّ  : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا 

 )رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ( 

“Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Muhammad saw ngadawuh, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajbinya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’, maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajbinya, kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” 

(HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, hukum berthariqah itu wajib, bukan masalah sampai atau tidaknya kita bermakrifat, tapi ikhtiarnya yang Allah lihat. urusan sampai ataupun tidak, itu bukanlah urusan kita, tapi insyaAllah, biidznillah waridhallah, jika kita nyari’at dengan sungguh-sungguh, kita akan bisa menyempurnakan syariat dan hakikat, sehingga sampailah kita pada maqam makrifat.

Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami, atau lebih dikenal dengan nama Sykeh Abu Yazid Al-Busthami pernah menyampaikan,

طلب الشيخ في الطريق واجب على كل مريد ولو كان من أكبر العلماء

“Mencari seorang syekh (guru) didalam thariqah adalah suatu kewajiban bagi setiap murid, bahkan bagi mereka yang termasuk ulama besar.”

Pernyataan ini menegaskan pentingnya seorang murid, bahkan yang sudah memiliki ilmu tinggi sekalipun, untuk tetap mencari dan berguru kepada seorang syekh yang mursyid (pembimbing spiritual). Hal ini dikarenakan seorang syekh mursyid memiliki peran kunci dalam membimbing murid untuk mencapai tingkatan spiritual yang lebih tinggi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit hati dan menjauhkannya dari sifat-sifat tercela.

Seorang guru mursyid adalah manusia yang syariatnya bisa mengantarkan kita untuk menyempurnakan syariat dan hakikat agar sampai pada makrifat. Terlepas dari semua itu, memang pada hakikatnya akan tetap bermuara pada kehendak Allah, karena jika Allah berkehendak, bisa saja seorang hamba menjadi waliyullah tanpa bimbingan guru mursyid, karena ia dibimbing tanpa pelantara, mendapatkan anugerah dari Allah, dengan mendapatkan pencerahan langsung dari-Nya.

Dalam konteks tasawuf, seorang syekh mursyid dianggap sebagai "pemandu" yang akan membimbing murid melalui tahapan-tahapan perjalanan spiritual menuju Allah. Meskipun seorang murid telah memiliki pengetahuan agama yang luas, namun tanpa bimbingan seorang mursyid, perjalanan spiritualnya mungkin akan menemui banyak hambatan dan kesulitan. 

Oleh karena itu, mencari dan mengikuti bimbingan seorang syekh mursyid dianggap sebagai kewajiban bagi setiap murid, bahkan bagi mereka yang sudah memiliki ilmu agama yang tinggi sekalipun. Hal ini sejalan dengan konsep tasawuf yang menekankan pentingnya pengalaman spiritual langsung (dzauq ذوق) dalam mendekatkan diri kepada Allah, yang mana seorang syekh mursyid berperan dalam membimbing murid untuk mencapai pengalaman spiritual tersebut.


---------------------------------------------------------------------------------

"Dzauq"( ذوق ) dalam bahasa Arab berarti "rasa," atau "perasaan yang mendalam." Dalam konteks spiritual, terutama dalam tasawuf, dzauq merujuk pada perasaan yang mendalam, atau kecerdasan batin tentang Tuhan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Dzauq adalah tentang merasakan kehadiran Tuhan, sebuah pengalaman yang melampaui pemikiran atau logika.

---------------------------------------------------------------------------------


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...