Tampilkan postingan dengan label Kitab Sajatining Mulyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Sajatining Mulyo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-4) KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu



Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-4) KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu

KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu

وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَنِيَتْ نَفْسُهُ

"Barangsiapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenali Tuhannya, maka binasalah (fana) dirinya.

(Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razi الشيخ يحيى بن معاذ الرازي)

Setelah seorang salikin berjalan dalam penempuhan dan penempahannya, maka ia akan masuk pada puncak kepahaman “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” (ilmu rasa, rasanya kesejatian hidup), dimana posisi maqamat itu akan mengantarkan seorang salikin pada martabat “Sajaning Mulyo” (kemuliaan yang sejati). Pelaku suluk yang sudah memahami sejatinya hidup, ia telah mengenali dirinya sendiri, dan ia juga telah mengenali Allah sebagai Penciptanya, ia juga akan masuk dan memahami elmu roso, yaitu ilmu luhur tentang kesejatian rasa, puncak kecintaan seorang hamba yang tidak lagi terganti dengan apapun, tidak tergeser oleh apapun, dan tidak terpengaruh oleh badai kehidupan sebesar apapun, karena baginya hanya Allah-lah yang ia cinta, hanya Allah-lah yang ia damba, dan walaupun ada rasa cinta terhadap selain Allah, semisal cinta terhadap makhluk, apakah cintanya seorang suami kepada istri, cintanya istri kepada suami, cintanya orang tua kepada anak, cinta seorang anak kepada orang tua, maka semua itu akan ia dasari atas dasar karena Allah. Jelaslah sudah, semuanya benar-benar untuk Allah, cinta terhadap makhluk pun karena Allah. Semua itu membuktikan bahwa ia berhasil melewati dan menembus tujuh tahapan yang telah ia jalani, telah ia tempuh, telah ia lewati dan juga sedang ia nikmati.

Ingatlah, mengenal Allah itu bukan dengan mata, telinga ataupun diraba. Tetapi mengenal Allah itu hanya bisa dilakukan dengan rasa (elmu roso). Maka orang yang sampai kepada maqam “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip”, walaupun posisinya baru berada di maqam muhadharah, maka ia akan benar-benar sampai pada tahapan bermakrifat kepada Allah, walaupun baru ditahap dasar. Apalagi jika posisinya sudah berada di maqam mukasyafah dan maqam musyahadah.

Muhadharah merupakan kehadiran hati, selanjutnya setelah itu terjadi mukasyafah, yakni kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), lalu timbulah musyahadah, yakni adanya kehadiran Al-Haqq (dalam hati) tanpa bingung dan linglung.

إِذَا صَفَا سَمَاءُ السِّرِّ مِنَ الغَمَامِ، طَلَعَتْ شَمْسُ الشُّهُودِ مِنْ نَجْمِ الكَرَامَةِ

“Apabila langit sirri (rahasia ke-Tuhanan) bersih dari mendung, maka matahari kesaksian akan muncul atau terbit dari bintang kemuliaan.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

السِّرّ adalah rahasia batin terdalam seorang hamba dalam kaitannya dengan Tuhan)

الغَمَام adalah awan mendung, simbol dari hijab atau kegelapan batin

الشُّهُود adalah penyaksian spiritual (musyahadah)

نَجْمُ الكَرَامَةِ adalah bintang kemuliaan, simbol dari puncak anugerah Ilahiyah

Kalimat ini menggambarkan bahwa saat hati (batin sirri) telah jernih dari hijab duniawi, maka cahaya penyaksian Ilahi akan tampak jelas, lahir dari anugerah kemuliaan Allah. Ini adalah ungkapan Abah Leuweunggede yang menggambarkan keadaan ruhani maqamat kaum Arifin.

وُجُودُ الْحَقِّ مَعَ فَنَائِكَ، وَالسَّالِكُ الَّذِي يُدْرِكُ الْمُحَاضَرَةَ مُرْتَبِطٌ بِآيَاتِهِ، وَالَّذِي يَصِلُ إِلَى الْمُكَاشَفَةِ مُنْفَتِحٌ بِصِفَاتِهِ، وَالَّذِي يَحْصُلُ عَلَى الْمُشَاهَدَةِ يُوجَدُ بِذَاتِهِ

“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu. Salik yang mengalami muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan Salik yang memiliki musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya.”

(Syekh Junaidi Al-Baghdadi)

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, salik yang muhadharah akal menunjukannya. Salik yang mukasyafah ilmu mendekatkannya. Dan salik yang musyahadah makrifat menghapusnya.

Tidaklah bertambah penjelasan mengenai hakikat musyahadah kecuali diperkuat dengan apa yang diutarakan.

Inti dari ungkapan yang disampaikan adalah menerangkan bahwa hakikat musyahadah adalah cahaya tajalli Dzat yang datang susul-menyusul pada hati seorang salikin tanpa disusupi mendung dan keterputusan, sebagaimana susul-menyusulnya kedatangan kilat. Malam yang gelap gulita dengan disertai kilat yang datang susul-menyusul dan sambung­menyambung, itu semua dapat menjadikan malam menjadi terang seperti siang.

Demikian juga hati, jika senantiasa diterangi dengan keabadian tajalli, maka kenikmatan “anugerah siang” akan selalu ada, sehingga malam tidak lagi ada.

----------------------------------------------------------------------------------------

1. “anugerah siang” disana adalah kiasan tentang kontinuitas anugerah ke-Ilahian dan ketersingkapan ke-Tuhanan dengan pemanjangan waktu siang hingga menjangkau malam hari.

2. “Kontinuitas” adalah keadaan atau sifat sesuatu yang berlangsung secara terus menerus dan tidak terputus.

---------------------------------------------------------------------------------

لَيْلِي بِوَجْهِكَ أَشْرَقَ، وَتَلَأْلَأَ بِالْأَنْوَارِ

“malamku dengan wajah-Mu, terbit bersinar penuh dengan cahaya.”

Kegelapan pada manusia biasa berjalan di waktu malam. Pada umumnya, manusia berada dalam kepekatan malam yang gelap gulita, sedangkan kami berada dalam cahaya siang yang bisa menembus sampai waktu malam.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Jika melihat dari syair-syair di atas, maka sudah jelas bahwa muhadharah mukasyafah dan musyahadah merupakan kondisi spiritual seorang salik untuk sampai kepada Al-Haq, yakni Allah SWT (wushul), bukan berkaitan dengan supranatural kebatinan yang tercampur kesesatan, yang oleh sebagian orang “di plintir” untuk kepentingan kelompok-nya, seakan-akan mereka itu golongan ahli tasawuf.

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu” adalah kalimat terakhir pada Suluk Raden Syair Langit.

Sedangkan tujuh tahapan itu adalah,

1. Perjanjian عَهْدٌ (Di Alam Azali)

2. Pelepasan ٱلِٱنْفِصَالُ (Saat kita lahir kedunia)

3. Perjalanan السَّفَرُ (Menjalani kehidupan)

4. Penempuhan السُّلُوكُ (Menjadi seorang salik)

5. Pemastian الْـتَثْبِيتُ (Meyakini atas apa yang ia jalani)

6. Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ (Menempah diri atas apa yang sudah ia jalani)

7. Pendalaman تَعَمُّق (Mendalami dan memastikan hasil dari perjalan itu sendiri)

Perjanjian عَهْدٌ adalah peristiwa di alam azali saat manusia meridhai ketentuan Allah yang telah ditentukan kepadanya saat ia akan hidup didunia fana.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Dan penuhilah perjanjian. Sesungguhnya perjanjian itu akan diminta pertanggungjawabannya."

(QS. Al-Isra: 34)

Pelepasan ٱلِٱنْفِصَالُ adalah saat manusia terlahir dari rahim ibunya untuk memulai perjalanan hidup di dunia yang fana.

خُرُوجُ ٱلرُّوحِ وَٱلْجَسَدِ مِنْ حَضْنِ ٱلرَّحِمِ، وَٱلِٱنْفِصَالُ عَنْ عَالَمِ ٱلْغَيْبِ إِلَى ظُلُمَاتِ ٱلدُّنْيَا

“Keluarnya ruh dan jasad dari pelukan rahim, sebagai pelepasan dari alam gaib menuju kegelapan dunia.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Perjalanan السَّفَرُ adalah semua hal yang akan kita lewati dalam menjalankan kehidupan didunia ini untuk berbakti kepada Allah dan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Dalam konteks syariat, manusia diberikan pilihan. Kalian ingkar Allah tak rugi, kalian ta’at Allah tak untung. Kerugian dan keuntungan itu bukan terletak pada Allah, tetapi kerugian dan keuntungan itu terletak pada kita. Kita ingkar Allah sediakan neraka, kita ta’at Allah sediakan surga.

سَفَرُ ٱلْإِنْسَانِ فِي طَرِيقِ ٱلْحَقِّ، بَيْنَ ظُلُمَاتِ ٱلدُّنْيَا وَنُورِ ٱلْآخِرَةِ

“Perjalanan manusia di jalan al-Haqq, antara kegelapan dunia dan cahaya akhirat”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Penempuhan السُّلُوكُ adalah garis hidup yang akan ia pilih, kemana ia akan melangkah, hitam kah atau putih kah, ridha Allah kah atau murka Allah kah, melaksanakan atau mengingkari, menghadap pada kewajiban atau berpaling menuju kemungkaran. Dan bagi pelaku tarekat sendiri, atau pelakunya kita sebut salikin, maka pada penempuhan ini disebut juga sebagai suatu awal atau permulaan ia mencari Allah.

هَلْ سَيَسْلُكُ طَرِيقَ ٱلنُّورِ أَمِ ٱلظُّلْمَةِ، نَحْوَ رِضْوَانِ اللهِ أَمْ سَخَطِهِ

Akankah ia menempuh jalan cahaya atau kegelapan, menuju keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya?

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pemastian الْـتَثْبِيتُ adalah jalan yang harus ia yakini agar mendapat ridha Allah, sehingga ia akan berpedoman teguh terhadap apa yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Ia akan mempunyai prinship yang kuat terhadap apa yang telah ia tentukan, karena ia telah berhasil dan memiliki kepastian sebagai langkah awal menuju makrifatullah (berawal dari maqam muhadharah).

Untuk seorang salikin, semua itu sudah berarti bahwa tarekat yang ia jalani sudah benar-benar ia yakini kebaikannya, dan diapun sudah yakin bahwa tarekat yang ia jalani tidaklah sesat dan menyesatkan.

وَٱلثَّبَاتُ عَلَى ٱلطَّرِيقِ يَحْتَاجُ إِلَى تَثْبِيتٍ وَيَقِينٍ لَا يَزُولُ، لِكَيْ يَبْلُغَ ٱلرِّضْوَانَ الإِلٰهِيّ

Keteguhan di atas jalan (kebenaran) memerlukan pemastian (peneguhan) dan keyakinan yang tak tergoyahkan, agar sampai pada ridha Ilahi.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ adalah perkara berat yang akan dirasakan oleh seorang salikin, karena badai besar akan selalu menerpa, rintangan datang bertubi-tubi, bisikan-bisikan sesat menjadi makanan sehari-hari, jiwa dan raganya akan ditempah begitu dalam, sehingga ketika ia berhasil, ia akan semakin mudah dalam melangkah menuju puncak kenikmatan hakikat makrifatullah.

Pada tahap ini ia akan di sudutkan dari berbagai rasa, kesesatan dan kesucian seakan menjadi hal yang sama, bagaikan dua insan yang terhalang satu helai keretas, begitu mirip, begitu samar, membuat hati penuh dengan seribu pertanyaan. Dan apabila ia lulus ditahapan ini, maka ia akan dengan mudah menuju tahap selanjutnya yaitu tahap pendalaman.

وَتَهْذِيبُ ٱلنَّفْسِ وَتَصْفِيَتُهَا هُوَ ٱلطَّرِيقُ إِلَى ٱلْمَعْرِفَةِ بِٱللَّهِ، فَلَا مَعْرِفَةَ صَادِقَةَ إِلَّا بَعْدَ صَقْلِ ٱلرُّوحِ وَتَزْكِيَةِ ٱلنَّفْسِ.

Penempahan dan pembersihan jiwa adalah jalan menuju makrifat kepada Allah. Tiada makrifat yang sejati kecuali setelah ruh ditempa dan jiwa disucikan.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pendalaman تَعَمُّق adalah segala hal yang telah ia tempuh dari enam tahapan sebelumnya. Tahap perjanjian, pelepasan, perjalanan, penempuhan, pemastian, dan penempahan. Setelah itu ia akan masuk ke tahapan yang ketujuh yaitu tahap pendalaman.

فِي سَفَرِ ٱلسَّالِكِ إِلَى ٱللّٰهِ، يَكُونُ ٱلتَّعَمُّقُ فِيمَا مَضَى مِنَ ٱلطَّرِيقِ سَبَبًا لِلتَّجَلِّي وَٱلرُّقِيِّ

Dalam perjalanan seorang salik menuju Allah, pendalaman terhadap apa yang telah dilaluinya adalah sebab munculnya tajalli dan kemajuan ruhani.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Segala yang telah ia lewati akan ia dalami, dari situlah ia akan sampai pada “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” dalam tiga posisi maqam, yang diawali dari maqam muhadharah, lalu mukasyafah dan puncak musyahadah.

Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian setelah itu terjadi mukasyafah, yaitu kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), kemudian timbul musyahadah, yaitu kehadiran Al-Haqq Allah SWT dalam hati tanpa bingung dan linglung.

Pendalaman yang telah matang, akan mengantarkan seorang salikin mencapai kedekatan dengan Allah ‘azza wa jalla. Semua itu sudah jelas bahwa pada pelaksanaanya akan dilewati dengan jalan yang berdebu, dimana jalan yang berdebu mempunyai maksud, semua yang dilakukannya akan penuh dengan halangan dan badai yang menerjang.

Seorang salikin juga harus berhasil melewati tujuh lembah kasal, tujuh gunung riya, tujuh rimba sum’ah, tujuh samudra ujub dan tujuh benteng hajbun.

Kasal كسل 

Kasal (كسل): Penyakit malas dalam beribadah

Kasal (الكسل) adalah salah satu penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya dalam perjalanan ruhani seorang salik menuju Allah. Ia merupakan bentuk kemalasan dalam menunaikan ibadah dan melakukan ketaatan, yang pada hakikatnya adalah hijab batiniah yang menghalangi cahaya tajalli Ilahi menyinari hati hamba.

Kasal bukan sekadar enggan bergerak secara jasmani, namun lebih dalam lagi, ia adalah kelemahan semangat ruhani, kehilangan gairah untuk bermunajat, dan kelalaian dalam menyambut panggilan cinta dari Sang Kekasih Abadi.

Rasulullah saw sendiri memohon perlindungan kepada Allah dari sifat ini. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan"

(HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 2706)

Sungguh, tidaklah seseorang terjatuh dalam kasal, kecuali karena hatinya telah dirundung kabut kelalaian (ghaflah غَفْلَة), yang menutupi cita-cita tinggi dalam ubudiyah. Seorang salik yang sejati tidak boleh membiarkan satu pun titik kemalasan bersarang di dalam qalbunya, sebab itu pertanda surutnya mahabbah dan lemahnya rasa butuh kepada Allah SWT.


Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ۝١٤٢

Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.

(QS. An-Nisa’: 142)

Lihatlah, disana Allah menyandingkan kasal dengan kemunafikan. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kemalasan dalam beribadah bukan sekedar kekurangan, tetapi sebuah penyakit yang bisa menyeret hati pada kehampaan makna ubudiyah عبودية (penghambaan), dan bisa menyebabkan kemunafikan.

Dalam khazanah tasawuf, para arifin menyebut kasal sebagai satu dari banyak hijab antara hamba dengan Tuhannya. Imam Abu Thalib Al-Makki (الإمام أبو طالب المكي) dalam Qut al-Qulub قوت القلوب menekankan bahwa kemalasan dalam amal salih adalah buah dari kelemahan niat dan lemahnya keyakinan terhadap janji Allah.

Bagi para salik, melawan kasal adalah bagian dari mujahadah (perjuangan jiwa). Barangsiapa yang malas berdzikir, maka jiwanya akan kering dari cahaya, dan barangsiapa malas shalat, maka ia akan terhalang dari kemanisan munajat. Karena itu, para guru suluk selalu menanamkan semangat kepada murid-muridnya agar senantiasa menjaga himmah همة (cita-cita ruhani) dan tidak membiarkan hari-harinya kosong dari dzikrullah.

Obat dari Kasal

1. Menanamkan rasa cinta dan takut kepada Allah secara seimbang. Cinta mendorong untuk mendekat, takut mencegah dari berpaling.

2. Mengingat mati dan menyandari akan pendeknya waktu hidup di dunia, agar hati terjaga dan senantiasa bersiap menuju akhirat.

3. Bersahabat dengan orang-orang yang semangat dalam ketaatan, karena semangat itu menular, sebagaimana malas pun menular.

4. Berdoa memohon perlindungan dari kasal, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sebagaimana hadits beliau yang lain:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di masa tua, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur."

(HR. Bukhari no. 6376)

Wahai para salikin, jangan biarkan kasal membelenggu langkahmu. Bangkitlah! bersihkan hati dari karat lalai dan peliharalah semangat ibadah seperti api yang menyala dalam dada. Setiap rakaat yang engkau dirikan, setiap dzikir yang engkau lantunkan, adalah jejakmu menuju Sang Kekasih, jangan biarkan satu pun langkahmu tertinggal oleh kemalasan.

Riya’ الرياء 

Riya’ (الرِّيَاء): Bahaya tersembunyi di dalam amal

Riya’ (الرِّيَاء) adalah racun halus dalam amal saleh, sebuah penyakit hati yang menjelma dalam wujud indah namun membawa kehancuran ruhani. Ia adalah memperlihatkan kebaikan dan amal ibadah kepada manusia, bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan sanjungan, pujian, atau kedudukan di mata makhluk. Maka tidaklah dinamakan ubudiyah jika pandangannya tertuju kepada selain Allah.

Para salaf menyebut riya’ sebagai "syirik khafī" (الشِّرْكُ الْخَفِيُّ), syirik yang tersembunyi, karena ia menyekutukan Allah dalam niat dan tujuan amal.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Riya’.”

(HR. Ahmad)

Dalam pandangan ruhani, riya’ adalah pengkhianatan terhadap ikhlas. Ia adalah noda pada cermin amal, yang merusak pantulan nur Ilahi dalam hati seorang salik. Amal yang dibangun di atas riya’ ibarat istana megah di atas pasir, tampak indah namun rapuh tak berakar.

Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ  ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”

(QS. Al-Ma’un: 4-6)

Betapa banyak orang yang amalnya terlihat indah di mata manusia, namun kosong nilainya di sisi Tuhan. Riya’ menjadikan amal bukan lagi persembahan cinta kepada Allah, melainkan sekedar pementasan di hadapan manusia. Ia adalah bentuk lain dari penjajahan ego, ketika hamba lebih senang dipuji makhluk daripada diridhai oleh Al-Khaliq.

Hakikat Riya’ menurut salah satu ulama sufi, yaitu Hujjatul Isalm Imam Al-Ghazali (حجة الإسلام الإمام الغزالي), dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din إحياء علوم الدين berkata:

الرِّيَاءُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِالطَّاعَةِ لِلَّهِ

“Riya’ adalah mencari kedudukan dalam hati manusia melalui ketaatan kepada Allah.”

Dan Imam Dzun-Nun al-Miṣri (الإمام ذو النون المصري) berkata:

ثَلَاثَةٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْمُرَائِي: يَكْسَلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ مَعَ النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ

“Tiga tanda orang yang riya’: ia malas beramal saat sendiri, semangat saat bersama orang lain, dan menambah amalnya saat dipuji.”

Maka, salik sejati harus waspada terhadap segala bentuk upaya mencuri perhatian makhluk dalam ibadahnya. Tidak ada yang lebih layak menjadi tujuan kecuali Allah. Amal yang dilakukan karena selain-Nya adalah seperti tubuh tanpa ruh, bergerak namun mati.

Tazkiyatun Nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ): Menyucikan Niat dari Riya’

Menghindari riya’ bukan dengan meninggalkan amal, tetapi dengan menyucikan niat dan menundukkan ego. Obatnya adalah muraqabah المُرَاقَبَةُ, merasa diawasi Allah setiap saat, dan muhasabah المُحَاسَبَةُ, mengoreksi niat sebelum, saat, dan setelah beramal.

Para guru suluk mengajarkan agar salik senantiasa berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا حَظًّا لِغَيْرِكَ

“Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami murni karena-Mu semata, dan jangan Engkau biarkan ada bagian untuk selain-Mu di dalamnya.”

Wahai para salikin, amalmu adalah persembahan cintamu kepada Dzat Yang Maha Melihat. Jangan kotori persembahan itu dengan harapan pujian makhluk, karena hanya wajah Allah yang pantas dijadikan tujuan. Beribadahlah seolah tidak ada yang melihatmu selain Dia. Dan beramallah seperti seorang kekasih yang sedang membisikkan cinta kepada Sang Kekasih dalam kesunyian malam.

Jauhilah riya’, karena ia adalah pencuri pahala dan pemutus hubungan batin dengan Tuhanmu. Sungguh, hanya amal yang dibangun di atas ikhlas yang akan sampai kepada-Nya.

Sum’ah سمعة 

Sum‘ah (السُّمْعَة): Suara amal yang dirusak oleh ego

Sum‘ah (السُّمْعَة) berasal dari kata sami‘a (سَمِعَ) yang berarti mendengar, namun dalam istilah ruhani, ia menjelma menjadi suatu penyakit hati, yakni keinginan agar manusia mendengar tentang amal kebaikan yang dilakukan seorang hamba, yang sebelumnya tersembunyi dan dilakukan dalam kesendirian.

Sum‘ah adalah ketika seorang hamba menceritakan amalnya sendiri, bukan karena niat menyebar manfaat atau menasihati, melainkan agar dikenal, dipuji, atau dihormati oleh manusia. Ia adalah jerat halus dari hawa nafsu yang menyelinap ke dalam niat, dan membelokkan tujuan amal dari Allah menuju makhluk.

Maka, sum‘ah adalah saudara kandung dari riya’, hanya berbeda dalam bentuknya:

Riya’ terjadi saat amal diperlihatkan langsung di hadapan manusia, sedangkan sum‘ah terjadi saat amal diceritakan atau diperdengarkan setelahnya, agar manusia menaruh kekaguman.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ سَمَّعَ، سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي، يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan sum‘ah (ingin didengar amalnya oleh orang lain), maka Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barang siapa yang berbuat riya’, maka Allah akan memperlihatkan keburukannya.”

(HR. Bukhari no. 6134, Muslim no. 2987)

Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya penyakit ini. Bukan hanya amalnya tidak diterima, bahkan aibnya akan disingkap oleh Allah, karena ia telah menukar keikhlasan dengan ambisi duniawi.

Allah SWT juga berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

(QS. Al-Kahfi: 110)

Imam al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menjelaskan, bahwa sum‘ah termasuk cabang dari riya’, dan sama-sama menghapus nilai keikhlasan.

Beliau ngadawuh:

الرِّيَاءُ أَنْ تَرَى وَالسُّمْعَةُ أَنْ تُسْمِعَ، وَكِلَاهُمَا طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ النَّاسِ

“Riya’ adalah engkau memperlihatkan, dan sum‘ah adalah engkau memperdengarkan. Keduanya adalah upaya mencari kedudukan di hati manusia.”

Para sufi menegaskan, bahwa orang yang suka membanggakan amalnya bukan sedang memperdengarkan kebaikannya, melainkan menyerahkan hatinya pada pujian, dan itu adalah awal dari kehancuran batin. Amal yang dahulu murni, berubah arah karena hasrat disanjung.

Untuk membersihkan diri dari sum‘ah, seorang salik harus menempuh jalan tazkiyah nafs (penyucian jiwa) melalui:

Ikhlas yang terus diperbarui, niat harus diawasi sebelum, saat, dan setelah amal.

Muraqabah (المراقبة), merasa selalu diawasi oleh Allah.

Muhasabah (المحاسبة), mengoreksi apakah dalam ucapan tersembunyi keinginan dipuji.

Menutupi amal dari manusia, kecuali jika maslahatnya besar dan niatnya murni.

Dan hendaklah seorang salik senantiasa berdoa, sebagaimana diajarkan para guru ruhani:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْعُجْبِ، وَاجْعَلْ نِيَّتِي خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ

“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari riya’, sum‘ah, dan ujub, serta jadikanlah niatku tulus karena wajah-Mu yang mulia.”

Wahai para salik, jangan rusak mutiara amalmu hanya demi kilau sorotan manusia. Amalmu adalah persembahan cinta, maka persembahkanlah ia hanya kepada Sang Kekasih yang Maha Mendengar, bukan kepada telinga makhluk yang terbatas.

Jika engkau ingin didengar oleh langit, jangan sibuk memperdengarkan amalmu di bumi. Biarlah malaikat yang menulisnya, dan biarlah Allah yang menilainya. Sebab tiada kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan di sisi-Nya.

‘Ujub عجب 

‘Ujub (عُجْب): Keangkuhan Tersembunyi di Balik Amal

‘Ujub (عُجْب) adalah penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya. Ia muncul ketika seorang hamba mengagumi dirinya sendiri, merasa bahwa amal, ilmu, atau kelebihannya adalah keistimewaan yang menjadikan dirinya lebih utama dari orang lain. Padahal, segala yang ada pada diri kita, baik ilmu, ibadah, atau kebaikan, hanyalah anugerah dari Allah, bukan hasil dari kekuatan kita semata.

Secara hakikat, ‘ujub adalah penggelapan terhadap nikmat Allah, karena seseorang yang ‘ujub, lupa bahwa semua kebaikan bersumber dari taufik dan inayah Ilahi, bukan dari kehebatannya pribadi.

Perbedaan Halus Antara ‘riya’, sum‘ah, dan ‘ujub

Riya’ (الرِّيَاء): Beramal agar dilihat manusia.

Sum‘ah (السُّمْعَة): Menceritakan amal agar dipuji manusia.

‘Ujub (العُجْب): Merasa bangga dengan amal, walau tidak dilihat atau dipuji manusia.

Maka, ‘ujub adalah akar yang tersembunyi. Riya’ dan sum‘ah bisa dihentikan dengan menyembunyikan amal. Tapi ‘ujub mengendap di dalam dada, meski amal itu tersembunyi. Ia tetap merusak karena menganggap amal itu adalah hasil dari kehebatannya sendiri.

Rasulullah saw bersabda:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

(HR. Al-Bazzar dan Al-Bayhaqi)

Perhatikanlah wahai salik, bahwa ‘ujub disebut sebagai hal yang membinasakan, karena ia adalah racun ruhani yang mematikan hati pelan-pelan, menghancurkan keikhlasan, dan menghapus pahala amal tanpa disadari.

Imam al-Ghazali berkata di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din:

العُجْبُ يَكُونُ بِالنِّعْمَةِ، وَيَكُونُ بِالدِّينِ، وَكِلَاهُمَا هَلَاكٌ

‘Ujub bisa terjadi karena nikmat duniawi, dan bisa pula karena urusan agama. Keduanya adalah jalan kehancuran.”

Imam Ibnu ‘Aṭa’illah As-Sakandari (الإمام ابن عطاء الله السكندري) berkata di dalam Al-Hikam الحكم:

رُبَّ مَعْصِيَةٍ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَٱنْكِسَارًا خَيْرٌ مِّن طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَٱسْتِكْبَارًا

“Betapa banyak maksiat yang menimbulkan rasa hina dan hancur, maka itu lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan sombong.”

Betapa mendalam kalimat ini. Sebab tujuan utama amal adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan menebalkan ego. Maka ketika amal menumbuhkan ‘ujub, ia kehilangan cahaya dan makna.

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati dari ‘Ujub, sadar bahwa semua amal adalah taufik dari Allah. Jangan pernah merasa “aku telah melakukan ini,” tetapi katakanlah, “Ini semua karena pertolongan Rabb-ku.”

Selalu melihat kekurangan diri, jangan lihat berapa banyak amal yang telah dilakukan, tetapi lihat sejauh mana ia diterima.

Bandingkan amalmu dengan amal para kekasih Allah, maka engkau akan tahu bahwa kita belum ada apa-apanya di hadapan mereka.

Berdoa agar Allah menjaga dari ‘ujub dan sombong,

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْنِي عَبْدًا فَقِيرًا إِلَيْكَ فِي كُلِّ حَالٍ

“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari ‘ujub dan kesombongan, dan jadikanlah aku hamba yang fakir kepada-Mu dalam setiap keadaan.”

Wahai para salikin, jangan kagum pada amalmu, sebab engkau hanyalah alat di tangan Tuhanmu. Jika engkau diberi taufik untuk taat, bersyukurlah, bukan membanggakan diri. Sebab yang paling utama bukan banyaknya amal, melainkan sejauh mana ia dilakukan karena Allah, dengan kerendahan dan pengakuan akan kelemahan. Oleh karena itu, siapa pun yang masih menyimpan ‘ujub dalam hatinya, hendaknya segera bertaubat sebelum amalnya menjadi debu yang berterbangan.

Hajbun الحجب 

Hijab yang Menghalangi Perjalanan Menuju Allah

Dalam perjalanan ruhani menuju Allah, seorang salik (penempuh jalan spiritual) akan senantiasa mendaki maqam demi maqam untuk meraih kedekatan dengan-Nya. Namun di antara bahaya terbesar dalam suluk ini adalah "al-ḥujub", hijab-hijab batin yang menutupi hati dari menyaksikan cahaya kehadiran Allah.

Inilah yang disebut dengan istilah الحجب (hajbun), yaitu segala sesuatu yang menjadi tirai penghalang antara hamba dan Rabb-nya.

الحجب bukan sekedar dosa lahiriah, namun bisa berupa sifat-sifat batin yang halus namun berbahaya: kekaguman terhadap amal sendiri, cinta pujian, keterikatan kepada dunia, bahkan merasa telah sampai. Semua ini dapat menjadi hijab, walau amal zahirnya tampak mulia.

Makna Hajbun dalam Pandangan Para Arifin

Imam Ibnu ‘Aṭa’illah as-Sakandari berkata dalam Al-Ḥikam:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tiada yang lebih bermanfaat bagi hati seperti uzlah (menyendiri) yang membawanya ke medan tafakkur.”

Karena dalam keheningan dan pengasingan itulah, hijab-hijab batin dapat disingkap. Sebaliknya, sibuk dengan makhluk, popularitas, atau amal yang diselimuti ujub dan riya, itu semua hanya akan menebalkan tirai hati.

Al-Imam Al-Ghazali juga menjelaskan dalam Iḥya’ ‘Ulum ad-Din:

وَمِنَ الْحُجُبِ مَا يَكُونُ مِنْ صُورَةِ الطَّاعَاتِ، إِذَا كَانَتْ خَالِيَةً مِنَ الْإِخْلَاصِ

“Termasuk hijab adalah bentuk ketaatan yang kosong dari keikhlasan.”

Amal-amal yang zahirnya baik namun batinnya tertipu, itulah hijab yang paling samar, namun paling halus dan sangat menyesatkan.

Allah SWT berfirman:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup (terhijab) dari (melihat) Tuhan mereka.”

(QS. Al-Muthaffifin: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa hijab dari Allah adalah hukuman bagi hati yang kotor dan berpaling, bahkan di akhirat kelak.

Dalam hadits qudsi Allah juga berfirman:

مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku fardukan kepadanya”

(HR. Bukhari)

Ini adalah petunjuk bahwa jalan untuk menyingkap hijab adalah dengan istiqamah dalam fardhu dan ikhlas dalam ibadah, bukan semata amal banyak, namun kosong dari kehadiran hati.

“Menyingkap Hijab, Menemukan Wujud”

Wahai jiwa yang merindu Tuhan, ketahuilah, bahwa Allah tidak jauh, namun hijab-hijab kitalah yang menjauhkan kita dari-Nya. Maka sucikanlah niat, hancurkanlah berhala ego, dan kembalilah ke hadirat-Nya dengan hati yang tunduk dan penuh kerinduan. Karena di balik setiap hijab, ada lautan cinta-Nya yang menanti untuk kita selami.

وَلَوْ كُشِفَتِ الْحُجُبُ، مَا ازْدَدْتُ يَقِينًا

“Seandainya hijab-hijab itu disingkap, aku tidak akan bertambah yakin.”

Kasauran Sayyidina ‘Ali bin Abi Ṭhalib كرم الله وجهه

Itulah makna dari “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.” Sebuah renungan di ujung perjalanan maqam keimanan.

"Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu", kalimat ini bukan sekedar metafora puitis. Ia adalah isyarat agung bagi perjalanan panjang yang melelahkan, mendaki bukit-bukit tajalli, menyusuri lembah-lembah mujahadah, hingga menapaki gurun pengingkaran terhadap nafsu dan dunia.

Debu di jalan itu adalah simbol dari fana-nya diri. Sebuah pertanda bahwa jalan menuju Allah tidak akan pernah bersih dari luka, sakit, air mata, dan penolakan terhadap segala selain Dia. Debu itu adalah saksi bisu dari perjuangan seorang salik (penempuh jalan ruhani) yang membakar ego, menanggalkan hijab-hijab, dan melepaskan ketergantungan terhadap selain Allah.

Dan ketika seorang salik benar-benar menempuh jalan ini dengan sungguh-sungguh, dengan adab yang terjaga, dengan bimbingan mursyid yang warasatul anbiya, serta dengan keikhlasan yang murni, maka insyaAllah, ia akan sampai kepada tujuan tertinggi yang selama ini dicari, dan dirindukan oleh jiwa, yaitu hakikat makrifatullah.

Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi:

مَنْ طَلَبَنِي وَجَدَنِي، وَمَنْ وَجَدَنِي عَرَفَنِي، وَمَنْ عَرَفَنِي أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي عَبَدَنِي، وَمَنْ عَبَدَنِي أَسْكَنْتُهُ جَنَّتِي

"Barangsiapa mencari-Ku, niscaya ia akan menemukan-Ku. Barangsiapa telah menemukan-Ku, ia akan mengenal-Ku. Barangsiapa mengenal-Ku, niscaya ia akan mencintai-Ku. Barangsiapa mencintai-Ku, niscaya ia akan menyembah-Ku. Dan barangsiapa menyembah-Ku, niscaya Aku akan tempatkan ia di Surga-Ku."

Kitab Syu‘ab al-Iman (شُعَبِ الإِيمَانِ), karya agung dari Imam Al-Bayhaqi (الإمام البيهقي)

Maka wahai para kekasih Allah, sebelum lembaran pasal ini kita tutup, izinkan satu pesan agung ditanamkan dalam sanubari: Bahwa siapa pun yang ingin menempuh jalan menuju Allah, hendaklah ia menjaga keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Ketiganya adalah tiga mata air yang satu hulunya. Jika salah satu ditinggalkan, maka perjalanan itu akan pincang.

Syariat adalah pagar keselamatan. Tarekat adalah jalan pengolahan jiwa. Hakikat adalah cahaya penyaksian.

مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

“Barangsiapa bertasawuf namun tidak mempelajari fiqh, ia telah menjadi zindiq (sesat). Barangsiapa mempelajari fiqh namun tidak bertasawuf, ia telah menjadi fasiq. Dan barangsiapa menggabungkan keduanya, maka sungguh ia telah mencapai hakikat.”

Wahai para salikin, jangan terjebak dalam fatamorgana maqam, jangan tertipu oleh ilusi kebatinan, dan jangan merasa sampai sebelum benar-benar sampai. Pegang teguh syariat, istiqamah dalam tarekat, dan mohonkan cahaya hakikat. Sesungguhnya Allah tidak menilai seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa tulus niatmu menuju kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.”

(QS. Al-Insyiqaq: 6)

Semoga jalan yang berdebu itu membawa kita pada taman keabadian. Di sana tiada lagi hijab, tiada lagi kesamaran. Hanya ada Dia, yang selama ini menjadi tujuan segala rindu.

Kasauran ini ngamuat hikmah klasik nu mindeng diucapkeun ku para Masyaikh sufi, serta parantos sering dikedalkeun deui ku Abah Leuweunggede dina piwulang tasawufna,

ٱلشَّرِيعَةُ بِغَيْرِ ٱلْحَقِيقَةِ هَبَاءٌ، وَٱلْحَقِيقَةُ بِغَيْرِ ٱلشَّرِيعَةِ زِنْدَقَةٌ

Syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

 


Minggu, 12 Juli 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-3) Kulewati Waktu Dengan Bijaksana




Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-3) Kulewati Waktu Dengan Bijaksana

Kulewati Waktu Dengan Bijaksana

أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ

Pada kalimat ketiga tertulis: “Kulewati waktu dengan bijaksana.” Sebuah ungkapan yang bukan sekedar barisan kata, melainkan pancaran maqam ruhani seorang salik yang telah mengarungi samudra perjalanan menuju Sang Kekasih. Kalimat ini mengisyaratkan sampainya seorang penempuh jalan (salik) pada puncak tujuan hidupnya: makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dengan pengenalan yang diliputi cahaya tauhid, kesadaran Ilahiah, dan ketundukan total kepada Yang Maha Ada.

Kepahaman itu tak diperoleh dalam satu malam, tapi merupakan buah dari proses panjang, tarbiyah demi tarbiyah, mujahadah demi mujahadah, dalam bimbingan mursyid dan penjagaan terhadap syariat yang lurus. Ia menempuh jalan yang tak menyelisihi batas-batas Allah dan sunnah Nabi-Nya. Maka ketika sampai pada derajat ini, langkahnya kokoh, pandangannya jernih, dan hatinya terjaga. Ia tak mudah tergelincir oleh bisikan dunia, sebab ia telah menempuhnya dengan ilmu, adab, dan mahabbah.

Kebijaksanaan yang memancar dari dirinya bukan berasal dari retorika atau buku-buku filsafat, melainkan dari pancaran nur hakikat, hasil perjalanannya dalam mencari makna cinta yang murni dari Sang Pemilik Cinta, yakni Allah ʿ’azza wa jalla. Betapa dalam rasa itu. Sulit dijelaskan dengan kata, tak terlukis oleh pena. Sebab apa yang terjadi dalam batin seseorang yang tengah jatuh cinta kepada Allah, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang juga sedang diliputi cinta-Nya. Dalam cinta itu, jiwa menjadi tentram, hati menjadi damai, karena ia sedang bersama Dzat yang menciptakan rasa damai itu sendiri.

Dan ketika sampai pada tahapan ini, perjalanannya menjadi ringan. Hatinya hanya tertuju kepada-Nya. Ia hidup untuk Allah, bergerak karena Allah, dan kembali kepada Allah. Seluruh denyut hidupnya adalah لِلَّهِ، بِاللَّهِ، مِنَ اللَّهِ، إِلَى اللَّهِ

لِلَّهِ Untuk Allah

بِاللَّهِ Dengan (pertolongan/kuasa) Allah

مِنَ اللَّهِ Dari Allah

إِلَى اللَّهِ Menuju kepada Allah

Keempat ungkapan ini adalah intisari dari jalan para salik dan ruh kalimat ikhlas, yaitu: seluruh amal diniatkan untuk Allah, dilakukan dengan pertolongan Allah, sadar bahwa semua berasal dari Allah, dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.

Ia memulai dengan kehendak untuk mencari ("Aku berjalan di atas udara"), lalu ia melangkah dengan kewaspadaan dan kehati-hatian ("Air mengalir di bawah kakiku"). Lalu ia berkata penuh kesadaran ruhani ("Kulewati waktu dengan bijaksana"), karena ia mencari dengan niat yang murni, melangkah dengan waspada, maka akhirnya ia menemukan. Ia menemukan dan ia larut dalam cahaya perjumpaan.

Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad Saʿid Ramadhan Al-Buṭi (الشيخ محمد سعيد رمضان البوطي)

العَارِفُ بِاللَّهِ هُوَ الَّذِي يَبْلُغُ بِالتَّوْحِيدِ وَالثِّقَةِ وَالتَّوَكُّلِ وَالتَّفْوِيضِ إِلَى اللَّهِ دَرَجَةً تَفْنَى فِيهَا إِرَادَاتُهُ تَحْتَ إِرَادَةِ اللَّهِ، وَتَذُوبُ الْأَسْبَابُ تَحْتَ قُدْرَتِهِ، وَيَنْصَهِرُ كُلُّ مَا يَظْهَرُ تَحْتَ نُورِ شُهُودِهِ.

“ʿArif billah adalah orang yang dengan tauhid, kepercayaan, tawakal, dan kepasrahannya kepada Allah, mencapai derajat di mana kehendaknya fana dalam kehendak Allah. Segala sebab meleleh di bawah kekuasaan-Nya, dan segala yang tampak meleleh dalam cahaya penyaksian-Nya”

Jumat, 10 Juli 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-2) Air Mengalir Dibawah Kakiku


Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-2) Air Mengalir Dibawah Kakiku


Penjelasan oleh: Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Kitab Sajatining Mulyo adalah kitab karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Air Mengalir Dibawah Kakiku

وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ

"Seorang mukmin sejati adalah ia yang menyelaraskan antara syariat dan hakikat, memadukannya dalam keseimbangan yang hakiki. Syariat tanpa hakikat ibarat jasad tanpa ruh, sementara hakikat tanpa syariat adalah kesesatan yang berujung pada zindiq. Adapun jalan yang menghubungkan keduanya adalah tarekat"

Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Mutiara hikmah dari Abah Leuweunggede ini ditujukan kepada siapapun itu para salikin, yang menapaki jalan suci menuju makrifatullah.

Dalam bait syairnya, terpantul kebijaksanaan yang dalam, mengandung pelajaran ruhani yang agung, bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah jalan yang datar, melainkan lembah terjal yang penuh jebakan tersembunyi.

Seorang salik dalam pencarian kesejatian, harus menempuh jalur yang tepat dan berhati-hati. Bila salah menapak, bukan makrifat yang digapai, melainkan kesesatan yang membinasakan. Namun jika ia istiqamah di jalan yang benar, ia akan sampai pada puncak kesempurnaan, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan.

Semakin tinggi maqam seseorang dalam iman, semakin halus pula ujian dan bisikan yang datang padanya. Tidak lagi hanya ujian maksiat zahir, namun ujian kehalusan rasa, bisikan batin, dan ilusi keagungan diri yang samar.

Sebagian salikin tergelincir bukan karena syahwat dunia, melainkan karena merasa telah sampai padahal ia baru melangkah. Mereka mengira telah berada dalam derajat makrifat, hingga berani meninggalkan kewajiban syariat seperti shalat, lalu ia pun berkata. “Shalat hanyalah bagi orang awam, adapun aku telah sampai pada hakikatnya.”

Mereka pun tertipu oleh rasa keakuan, seolah seluruh capaian ruhani itu adalah hasil dari dirinya sendiri. Lebih tragis lagi, muncul perasaan “lebih suci” daripada sesama, merasa lebih dekat dengan Allah, dan meremehkan amal-amal syariat. Padahal, sesungguhnya ia telah jatuh dalam lubang tak terlihat, kesombongan ruhani yang lebih berbahaya dari maksiat lahir.

Sesungguhnya, semua itu adalah bentuk istidraj yang tersembunyi, ketika Allah membiarkan seorang hamba terlena dalam ilusi keberhasilan, padahal sejatinya ia sedang tersesat. Ia pun tanpa sadar mengenakan selendang kesombongan milik Allah, dan menyentuh mahkota keangkuhan yang bukan haknya.

Abah Leuweunggede pernah berkata, “Air mengalir di bawah kakiku.” Sebuah kiasan yang sarat makna bagi seorang salik, bahaya bisa datang dari arah yang tak disadari. Ia berdiri di atas tanah yang tampak kokoh, namun di bawahnya mengalir arus deras yang siap menyeretnya jatuh bila tidak waspada. Demikianlah halusnya tipu daya jalan ruhani yang seakan benar, terdengar benar, bahkan terasa benar, padahal menjerumuskan.

Maka wajib atas setiap salikin untuk bertarekat dengan ilmu, adab, dan bimbingan mursyid yang kamil. Bukan sekedar semangat, tetapi juga disertai disiplin spiritual yang bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, dan warisan para wali.

Seorang penempuh jalan ruhani harus terlebih dahulu melakukan takhalli (تخلي), membersihkan diri dari akhlak tercela dan dosa. Lalu dihiasi dengan tahalli (تحلي), menghias jiwa dengan akhlak yang luhur dan memperbanyak amal ibadah yang mengangkat derajat di sisi Allah. Setelah itu, ia akan sampai pada tajalli (تجلي), tersingkapnya cahaya Allah dalam qalbu, hingga ia mengenal Tuhannya dalam kehadiran yang hakiki.

Dan ketika tajalli menyinari relung jiwanya, Allah memanggilnya, “wahai hamba-Ku.” Maka dengan penuh cinta dan tunduk, ia pun menjawab, “labbaik, ya Rabbi” seruan yang lahir dari kedalaman fana' dan mahabbah.

Namun perlu di ingat, jalan ini bukan jalan main-main. Ini jalan para pecinta sejati, jalan para wali, jalan para kekasih Tuhan. Hanya yang jujur dalam adab dan tulus dalam mujahadah yang akan sampai. Maka jangan pernah lepas dari syariat, karena itulah pijakan awal dan akhir setiap perjalan ruhani. Hakikat dan tarekat tidak akan berdiri tanpa syariat.

Sebagaimana pesan Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami (الشيخ طيفور أبو يزيد البسطامي),

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ أَوْ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ، فَلَا تَنْخَدِعْ بِهِ، وَلَكِنِ انْظُرْ كَيْفَ حِفْظُهُ لِلشَّرِيعَةِ وَأَدَبِهِ مَعَ اللهِ

"Jika kamu melihat seseorang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, maka janganlah engkau terpedaya. Tetapi lihatlah bagaimana ia menjaga syariat dan adab kepada Allah."

Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi (سيد بكري شطا الدمياطي) menegaskan dalam kitab كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya:

وَالْمَعْنَى أَنَّ الطَّرِيقَةَ وَالْحَقِيقَةَ كِلَاهُمَا مُتَوَقِّفَتَانِ عَلَى الْشَّرِيعَةِ، فَلَا يَسْتَقِيمَانِ وَلَا يَحْصُلَانِ إِلَّا بِهَا، فَالْمُؤْمِنُ إِنْ بَلَغَ شَأْنًا وَارْتَفَعَتْ مَنْزِلَتُهُ وَصَارَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ، فَإِنَّ أَحْكَامَ الشَّرِيعَةِ كَمَا جَاءَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ تَبْقَى جَارِيَةً عَلَيْهِ.

“Tarekat dan hakikat bergantung pada pengamalan syariat. Keduanya takkan tegak dan hasil tanpa syariat. Sekalipun derajat dan kedudukan seseorang sudah mencapai level yang sangat tinggi, dan ia termasuk salah satu wali Allah, ibadah yang wajib sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an dan sunnah tidak gugur darinya.” 

Kutipan ini menjadi pengingat agung, bahwa antara ajaran lahir (syariat) dan pengalaman batin (tarekat dan hakikat), adalah inti ajaran tasawuf yang benar. Maka berhati-hatilah wahai penempuh jalan Allah, jangan biarkan air itu mengalir tanpa kau sadari ternyata derasnya air itu ada di bawah kakimu. Jangan sampai engkau tergelincir, karena menyangka telah sampai. Berpeganglah pada tali Allah, bimbingan Nabi, dan jejak para wali. Itulah jalan selamat, jalan suci, jalan pulang yang hakiki.



Minggu, 28 Juni 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-1) Aku Berjalan di Atas Udara

 


Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4

Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-1)



أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ، وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ، أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ، وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

“Aku berjalan diatas udara, air mengalir dibawah kakiku, kulewati waktu dengan bijaksana, kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.”

Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ

Aku berjalan di atas udara

وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ

Air mengalir di bawah kakiku

أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ

Kulewati waktu dengan bijaksana

وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu

Mutiara hikmah diatas adalah salah satu syair yang disampaikan oleh Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit), yang dimana syair itu memiliki makna yang dalam, dan penuh dengan pelajaran, bagi para salikin yang sedang melakukan perjalanan ruhaniyah menuju Allah.

Aku Berjalan Diatas Udara

أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ

Perjalanan menuju makrifatullah bukanlah tapak ringan di jalan tanah yang rata. Ia adalah lintasan sunyi yang tidak bisa dilalui oleh sembarang jiwa. Seorang salik, tatkala mengikrarkan niatnya untuk sampai kepada Allah SWT, niscaya akan dihadapkan pada ujian dan tempaan yang tidak ringan. Ia akan melewati medan tarbiyah yang keras, jalan pengguguran nafsu, dan samudra keheningan yang menyakitkan, demi menyucikan diri dan menyempurnakan kehambaannya.

Perjalanan ruhani ini laksana berjalan di atas udara, tidak ada tempat berpijak selain keyakinan. Tidak ada tumpuan selain cinta. Dan tidak ada penglihatan selain cahaya dari arah yang tak terlihat. Ini adalah perjalanan yang berbeda dari kebanyakan manusia yang menjadikan bumi sebagai pijakan, dunia sebagai tujuan, dan hawa nafsu sebagai penuntun.

Bagi para penempuh jalan hakikat, segala sesuatu yang terjadi bukanlah keanehan, tetapi kelaziman dalam dunia fana yang sedang diguncang oleh nur ilahi. Mereka mengalami hal-hal yang tidak dapat dinalar oleh akal biasa. Namun, semuanya masih dalam lingkup sunnatullah, tidak melanggar hukum syariat, hanya saja jalannya tidak serupa. Sebab hati mereka telah diikat oleh kerinduan yang dalam kepada Dzat Yang Maha Suci.

Betapa banyak manusia yang hidup hanya dalam pusaran syahwat, mengikuti hawa nafsunya tanpa pernah bertanya: untuk apa aku diciptakan? ke mana aku akan kembali? Mereka tidak pernah mengecap manisnya sajatining urip (kesejatian hidup). Maka, jangan heran bila banyak di antara mereka yang menjadikan Islam hanya sebatas identitas, hanya sebatas nama dalam dokumen dan ritual seremonial, tanpa ruh, tanpa cinta, tanpa makrifat.

Syair, "Aku berjalan di atas udara," bukanlah sekedar ungkapan puitis, melainkan simbol dari maqam seorang salik yang telah melepas kebergantungan pada dunia, dan menggantungkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah. Ketika yang lain berpijak pada dunia, ia berpijak pada keyakinan. Ketika yang lain berlari dengan logika, ia terbang dengan mahabbah.

Allah SWT berfirman:

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

(QS. Al-Baqarah: 46)

Para salikin telah meyakini ayat ini sepenuh hati, bukan hanya dengan bacaan lisan, tapi dengan langkah kehidupan. Islam bagi mereka bukan sekedar nama, tetapi jalan pengabdian yang disusuri siang dan malam. Mereka tidak hanya berdiri dalam shalat, tetapi larut dalam cinta. Tidak hanya menyebut nama Allah, tetapi tenggelam dalam zikir hingga fana. Mereka berjalan, berlari, bahkan merangkak demi mengenal siapa yang mereka sembah.

Sungguh, banyak yang mengaku menyembah Allah, namun sedikit yang benar-benar mengenal-Nya. Dan hanya yang mengenal, yang dapat mencinta. Dan hanya yang mencinta, yang rela menempuh perjalanan di atas udara.


Minggu, 31 Mei 2026

Mahabah محبة Didalam Amalan Tarekat (Bagian Ke-1) - Kajian Kitab Sajatining Mulyo

 


Mahabah محبة

Konsep mahabbah dalam tarekat, merujuk pada tingkatan cinta yang mendalam dan totalitas, pada pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Mahabbah bukan sekedar rasa cinta biasa, tetapi merupakan perwujudan cinta Ilahi yang menjadi tujuan tertinggi dalam tasawuf, yang melibatkan seluruh jiwa dan raga dalam mencintai Allah. 


Didalam tarekat, mahabbah dipandang sebagai puncak perjalanan spiritual, di mana seorang sufi berusaha mencapai tingkatan cinta tertinggi kepada Allah. Mahabbah bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan nyata. Semua itu akan melibatkan kepatuhan, ketundukan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, serta menjauhi segala hal yang dapat menghalangi cinta tersebut. 

Mahabbah dalam tasawuf berbeda dengan cinta dunia atau cinta karena mengharapkan imbalan. Mahabbah adalah cinta murni tanpa pamrih, yang didorong oleh kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk mencapai mahabbah, seorang sufi akan melakukan amalan-amalan yang luar biasa, berbagai upaya ia lakukan demi sampai pada puncak cinta sejatinya cinta. Perilaku mahabbah dapat dilihat dalam ketaatan seorang salik dalam menjalankan ibadah. Para sufi seperti hal nya Rabi'ah Al-Adawiyah (رابعة العدوية), beliau menekankan pentingnya cinta Ilahi yang tulus, bukan cinta yang didorong oleh rasa takut atau mengharapkan imbalan.

Dengan demikian, mahabbah dalam tarekat adalah konsep cinta yang mendalam, total, dan murni kepada Allah, yang menjadi tujuan utama dalam perjalanan spiritual seorang sufi.

Inilah diantara syair-syair Rabiah Al-Adawiyah yang menggetarkan hati, berbicara tentang cinta murni kepada Allah, tanpa pamrih, tanpa mengharap surga atau takut neraka. Beliau menekankan ibadah karena kecintaan semata kepada Sang Pencipta.

1. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka, maka bakarlah aku didalam neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka tutuplah surga itu untukku. Namun jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangan palingkan wajah-Mu dariku"

2. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Aku mencintai-Mu dengan dua macam cinta. Cinta karena diriku, dan cinta karena Engkau layak dicinta. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu. Sedangkan cinta karena Engkau, adalah keadaan-Mu yang menyingkapkan hijab dariku, hingga aku dapat memandang-Mu,"

3. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu, hingga tak ada satupun yang menggangguku dalam jumpa-Mu,"

4. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية 

"Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula mengharap surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya,"

Kisah dari Rabi’ah Al-Adawiyah yang ingin membakar Surga dan memadamkan api Neraka

Nama Rabiah Al-Adawiyah dalam jagad tasawuf cukup melegenda. Keikhlasannya didalam beribadah banyak dinukilkan di berbagai kitab tasawuf. Rabiah dikenal dengan keikhlasannya dalam beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.

Kecintaan Rabiatul Adawiyah kepada Allah SWT membuatnya kian dekat dari waktu ke waktu. Dikisahkan bahwa suatu hari, Rabiah Al-Adawiyah tengah berjalan di kota Baghdad, sambil menenteng air dan memegangi obor di kedua tangannya. Seseorang pun bertanya kepada Beliau, “hendak dikemanakan air dan obor tersebut wahai Rabiah?” 

Rabiah pun menjawab, “aku hendak membakar surga dengan obor ini, dan aku akan memadamkan neraka dengan air ini. Agar manusia tidak lagi mengharapkan surga dan takut akan neraka didalam ibadahnya.”

Keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah merupakan bukti bahwa jiwanya tenang dan nyaman. Tak ada yang perlu ditakutkan dan tak ada yang perlu dirisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Mencintai Allah bagi Rabiah adalah segalanya.

Gusti Allah ngadawuh, 

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

(QS. Ar-Ra'd:28)

Mereguk hikmah keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita, dimana kita masih sering beribadah dengan mengharap dunia, atau berharap surga dan takut akan neraka. Keikhlasan sang pencinta seperti Rabi’ah Al- Adawiyah memang layak menjadi teladan seluruh umat muslim di dunia.

Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah diperkirakan lahir pada tahun 717 Masehi atau 95 Hijriah. Dan beliau diperkirakan meninggal pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.

Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut masehi adalah 84 tahun. Sedangkan Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut hijriyah adalah 90 tahun.

Beliau bergelar:

السيدة رَبِيعَةُ الْأَدَوِيَّةِ شَهِيدَةُ الْعِشْقِ الإِلٰهِىِّ

Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah Sang Pencinta Ilahi.


Senin, 25 Mei 2026

Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة Didalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Abah Raden Syair Langit

 


Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة


Secara umum, khalwat خلوة berarti menyendiri atau menarik diri dari keramaian. Khalwat juga merujuk pada keadaan diri untuk menyepi, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, melalui amalan-amalan ibadah yang khusus.

Sedangkan uzlah عزلة dalam tasawuf adalah sebuah praktik mengasingkan diri dari keramaian duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Jadi secara tidak langsung, khalwat ataupun uzlah memiliki makna dan tujuan yang sama. Ini bukan sekedar tentang menjauhi manusia, tetapi ini tentang membersihkan hati dari hal-hal yang melalaikan ibadah kepada Allah, dan untuk meningkatkan maqamat perjalanan ruhaniyah kita menuju kepada-Nya.

Secara bahasa, uzlah berarti menarik diri atau mengasingkan diri. Dalam terminologi tasawuf, uzlah adalah tindakan menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Uzlah bukan berarti lari dari tanggung jawab sosial, tetapi lebih kepada mencari waktu dan tempat untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan. 

Uzlah atau (mengasingkan diri) adalah suatu perbuatan yg termasuk disukai Allah. Karena barangsiapa yang dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan yang kelak Allah SWT berikan, dan segera menganggap hina kenikmatan dan semua kelezatan duniawi, yang sebenarnya terus menipu.

Begitu pun seseorang yang berakal akan mengabaikan keindahan dunia, kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan seseorang yang memahami akhirat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran, sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akhirat yang penuh dengan ridha-Nya.

Dalam urusan uzlah, para ulama terbagi tiga saat memandang keutamaannya. Sebagian dari mereka ada yang mengutamakan uzlah dari pada bercampur dengan masyarakat. Sebagian lagi lebih mengutamakan bercampur dengan masyarakat. Sedangkan yang lainnya lagi memilih jalan pertengahan, atau dengan kata lain menentukan kapan ia harus bercampur dengan masyarakat, dan kapan pula ia mesti uzlah. Mereka yang memilih untuk uzlah telah mendasarkan perbuatannya dengan dalil berikut,

Rasulullah saw ngadawuh,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hatinya dan tersembunyi”

HR Muslim)

Sedangkan mereka yang memilih bercampur dengan masyarakat, mendasarkan perbuatannya itu dengan dalil berikut,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang yang bercampur dengan masyarakat dan bersabar menanggung gangguan mereka, itu lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan masyarakat dan tidak bersabar menanggung gangguan mereka”

(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan mereka yang memilih jalan pertengahan, tentu mendasarkan perbuatannya pada kedua dalil di atas, untuk kemudian diambil sebagai kesimpulan yang terbaik. Yaitu memilih kedua hal diatas, lalu di pertimbangkan dengan penuh kesadaran diri. Mereka tidak berat kepada satu diantara kedua pandangan diatas, karena baginya keduanya tidak salah dan mendatangkan manfaat.

Jika seseorang uzlah, maka ia akan mendapatkan manfaat seperti dapat mencurahkan waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, merenung, mengoreksi diri, bermunajat kepada-Nya, serta memikirkan tentang kekuasaan-Nya. Dan semua itu hanya bisa maksimal dilakukan saat ia mau uzlah, atau memisahkan diri dari keramaian manusia.

Selain itu, uzlah juga dapat menyelamatkan diri seseorang dari perbuatan maksiat, yang biasa ia lakukan saat bercampur dengan orang lain. Seperti riya`, gibah, zinah, dan dosa-dosa lainnya. Uzlah juga bisa melepaskan seseorang dari kejahatan manusia, bahkan uzlah dapat pula menjaga diri dari pertikaian dan kerusuhan, atau melindungi Agama dari fitnah dan mara bahaya lainnya. Selain itu, pelaku uzlah juga dapat melepaskan diri dari kejahatan manusia, bahkan mengajak dirinya untuk terus menghilangkan ketamakan dan menjauhkannya dari kebodohan.

“Hati adalah cermin diri. Selama ia bersih dari debu dan karat, maka cahaya Ilahi dapat memantul di atasnya. Dan saat cahaya Ilahi telah memantul dari hati yang suci, tentu jalan kebenaran dapat diketahui. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat kehidupan”

Namun, bercampur dengan masyarakat juga sesuatu yang baik dilakukan. Ini merupakan perbuatan yang dulu terus dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan hingga beliau wafat. Sebagaimana hadist berikut ini,

وَعَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرِيضًا حَتَّى بَلَغَ أَقْصَى الْمَدِينَةِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjenguk orang sakit sampai ke ujung Madinah."

(HR. At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, dengan mencermati semuanya, maka bercampur dengan masyarakat adalah baik untuk dilakukan, sepanjang ia tidak melalaikan seseorang dari urusan yang menjadi ketentuan-Nya. Namun demikian pula, uzlah pun amatlah baik untuk dilakukan. Terutama di akhir zaman ini, dimana serangan dari tipu daya duniawi terus merangsek masuk ke dalam setiap lini kehidupan. Siapa saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan gemerlapnya kesenangan duniawi. Sehingga jika tidak hati-hati, yang tertinggal hanyalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kian menggunung.

Untuk itu, sudah saatnya kita sering uzlah dengan penuh kesadaran demi kebaikan diri. Cukupkanlah setiap kebutuhanmu agar dapat menjalani kehidupan ini secara normal.

Jangan berlebih-lebihan dalam menuruti setiap keinginan dari hawa nafsu, karena ia cenderung mengajakmu untuk melanggar semua aturan dan ketetapan-Nya.

Kanjeng Nabi Muhammad saw sering melakukan khalwat di gua hiro, begitupun Beliau berperan aktif dalam bersosial di masyarakat. Baginda Nabi mengajarkan kita untuk mengambil jalan tengah, antara uzlah dan bermasyarakat. Jika seandainya Beliau tidak bercampur baur dengan orang lain, pertanyaannya bagaimana Beliau bisa berdakwah?

Oleh karena itu, gunakanlah kedua-duanya. Hal itu selaras juga dengan apa yang diajarkan oleh Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar (الشيخ ستي جنر) terkait konsep madya (mengambil jalan tengah) seperti saat kita memandang dunia dan akhirat haruslah seimbang, tidak boleh terlalu condong terhadap salah satunya.

Saat kita sedang bergumul dengan masyarakat, maka fisik kita tetap bersosial, namun hati kita tetap uzlah. Dan saat kita mencari dunia, maka fisik kita tetap berusaha, tapi hati kita tidak tertunduk oleh dunia itu sendiri. Adapun dalam usaha mencari dunia, semuanya dilandasi untuk bekal beribadah kepada Allah SWT.


Rabu, 20 Mei 2026

Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit


Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit

Wara‘ adalah mahkota kebeningan jiwa, cahaya yang menerangi langkah para salik dalam perjalanan menuju Allah SWT. Ia bukan sekedar menjauhi yang haram, tapi juga bersikap waspada terhadap segala yang samar dan syubhat, dan apa pun yang berpotensi menggelapkan hati dan menjauhkan diri dari ridha-Nya.

الوَرَعُ طَرِيقُ الأَبْرَارِ، وَزَادُ السَّالِكِينَ، وَعِصْمَةُ الْمُقَرَّبِينَ

“Wara‘ adalah jalannya orang-orang shalih, bekal para penempuh, dan penjaga bagi mereka yang didekatkan kepada Allah.”

Wara‘ tumbuh dari akar rasa takut dan cinta kepada Allah. Ia bukan karena takut celaan manusia, melainkan karena malu kepada Tuhan Yang Maha Melihat. Hati yang memiliki wara‘ akan lebih memilih lapar daripada kenyang yang syubhat, lebih memilih sepi daripada keramaian yang menyesatkan, dan lebih memilih diam daripada kata-kata yang bisa menodai cahaya hatinya.

Dalam dunia tasawuf, wara‘ bukanlah sikap kaku atau menutup diri dari dunia, melainkan ekspresi dari kehalusan nurani yang telah disucikan. Ia adalah penjaga gerbang tazkiyatun nafs تَزْكِيَةُ النَّفْسِ (penyucian jiwa). Tanpa wara‘, jiwa mudah dikotori oleh kelalaian yang samar dan maksiat yang tersembunyi.

Antara Zuhud dan Wara‘

Zuhud dan wara‘ adalah dua sayap burung ruhani yang terbang menuju langit makrifat. Zuhud adalah sikap meninggalkan cinta dunia karena lebih cinta kepada akhirat, sementara wara‘ adalah penjagaan hati dari segala yang meragukan, meskipun tampak kecil atau sepele.

Bersama-sama, kedua sifat ini menjadi pilar utama dalam tazkiyatun-nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ), penyucian jiwa dari kotoran duniawi dan sifat-sifat tercela. Jiwa yang telah mengenal wara‘ akan enggan mencicipi yang tidak jelas asalnya, bahkan meski halal secara zahir, bila hatinya tidak tenang, maka ia tinggalkan demi kebersihan batin.

الوَرَعُ نُورٌ يَتَجَلَّى فِي الْقَلْبِ، فَيَهْدِي صَاحِبَهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْأَقْرَبِ إِلَى اللهِ

“Wara‘ adalah cahaya yang tampak di dalam hati, yang membimbing pemiliknya menuju jalan tercepat menuju Allah.”

مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ، لَا يُوثَقُ بِقَلْبِهِ، وَلَا يُنْتَظَرُ مِنْهُ قُرْبٌ

“Barang siapa tidak memiliki wara‘, maka tak dapat dipercaya hatinya, dan tak diharap darinya kedekatan dengan Allah.”

Wara‘ adalah diam yang penuh cahaya, menahan diri yang penuh kemuliaan, dan kehati-hatian yang melahirkan kedekatan. Ia menempatkan hamba di hadapan Allah dengan keadaan yang bersih, hati yang ringan, dan ruh yang siap menampung limpahan nur Ilahi.


Rabu, 13 Mei 2026

Zuhud زهد Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit

 


Zuhud زهد Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit


Zuhud adalah sebuah sikap meninggalkan keterikatan duniawi, dan tidak terlalu terpaku pada kesenangan dunia, serta lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Zuhud bukan berarti menolak atau meninggalkan dunia, atau tidak boleh memiliki dunia, tetapi zuhud itu lebih pada cara pandang dan sikap hati yang tidak dikuasai oleh keinginan duniawi.

Zuhud tidak mengajarkan kita miskin atau compang camping. Zuhud mengajarkan kita agar hati tidak tunduk kepada sesuatu selain Allah.


Umat Islam dipersilahkan memiliki kekayaan dunia, agar tujuannya bisa menjadi bekal untuk ibadah. Jadi jika ada ajaran tarekat mencerca orang yang banyak hartanya, maka perlu dipertanyakan lagi ajaran tarektnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (الشيخ عبدالقادرالجيلاني البغدادي) itu kaya, banyak hartanya. Begitupun juga dengan Syekh Ibnu Arrabi (الشيخ ابن عربي), beliau pun memiliki banyak harta, padahal beliau termasuk pencetus ajaran wahdatul wujud.

Banyak para wali yang memiliki harta banyak, tetapi mereka tidak tertunduk oleh dunia, justru dunia yang tertunduk kepada mereka. Yang tidak boleh itu الوَهْنُ (al-wahn) salah satu penyakit hati, cinta dunia dan takut mati.

Penyakit al-wahn ini telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw dalam sabdanya yang shahih, dari Tsauban bin Bujdud (ثوبان بن بجدد),

Beliau ngadawuh,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah saw bersabda,

“’Hampir-hampir umat-umat (kafir) menyeru untuk menguasai kalian (umat Islam) sebagaimana mereka memperebutkan makanan yang berada di dalam piring’. Seorang laki-laki berkata, ‘Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?’ Beliau menjawab, ‘bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di lautan. Sungguh, benar-benar Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn’. Seseorang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?’ beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.

Pada hadits ini, Nabi Muhammad saw mengumpamakan kaum muslimin kelak terlihat seperti santapan orang-orang kafir. Kaum muslimin saat itu lemah, sehingga orang-orang kafir ingin berebut mengambil kekuasaan.

Apakah kondisi ini telah terjadi atau belum? Sebagian ulama memandang bahwa hal ini telah terjadi, bahkan kondisi ini tidak hanya terjadi satu kali, namun bisa berulang-ulang.

Di antara kisah yang disebutkan oleh para ulama sebagai contoh adalah kisah kaum tatar, penaklukan Hulagu Khan terhadap umat Islam di Persia, yang padahal di masa itu umat Islam sedang berjaya, namun banyak diantara mereka yang lacut dan terlena oleh dunia, termasuk para pejabatnya seperti Khalifah Al-Musta'sim.

(pembahasan ini sudah di ulas di bab sebelumnya terkait sejarah tarekat didalam Islam).

Kita juga diingatkan dengan kisah runtuhnya Andalusia. Runtuhnya Andalusia, atau jatuhnya Granada sebagai wilayah terakhir kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia, terjadi pada 2 Januari 1492 M. Pada tanggal tersebut, Sultan terakhir Granada, Abu Abdullah (أبو عبد الله) (Muhammad XII), menyerah kepada pasukan Kristen yang dipimpin oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella.

Dengan jatuhnya Granada, berakhirlah kekuasaan Islam di Andalusia, yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh abad (711M-1492M). Penaklukan ini menandai akhir dari periode Reconquista, yaitu upaya penguasaan kembali wilayah Semenanjung Iberia oleh kekuatan Kristen.

Semua itu tidak berhenti disana, termasuk di zaman sekarang. Banyak orang-orang kafir yang sudah terlihat mulai menguasai kaum muslimin. Mungkin kita melihat bahwa kondisi-kondisi tersebut tidak sama persis, namun kita katakan bahwa hadits tersebut benar-benar terjadi, disetiap zaman yang umat Islam lalui.

Kemudian, para sahabat didalam hadits ini yang mendengar dawuh Nabi Muhammad saw, mereka bertanya, apakah jumlah kaum muslimin ketika itu sedikit atau banyak? Ternyata Nabi Muhammad saw menepis hal tersebut, jumlah kaum muslimin saat itu ternyata lebih banyak, hanya saja kaum muslimin seperti buih di lautan, mereka banyak, namun tidak bisa berbuat apa-apa, sangat mudah diatur dan sangat mudah untuk dihancurkan. Kemudian Nabi Muhammad saw menyebutkan bahwasanya rasa takut orang-orang kafir terhadap kaum muslimin akan hilang, padahal seharusnya orang-orang kafir itu gentar terhadap kaum muslimin. Ternyata, Nabi Muhammad saw menyebutkan sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin akan diserang dan didominasi oleh orang-orang kafir itu. Diantaranya adalah karena banyaknya umat Islam yang cinta dunia dan takut mati. الوَهْنُ (al-wahn) telah menguasai kaum muslimin.

الوَهْنُ (al-wahn). Penyakit halus yang melemahkan ruh

الوَهْنُ secara bahasa berarti kelemahan, namun dalam timbangan ruhani para arif, ia adalah penyakit batin yang halus namun mematikan. Ia bukan sekedar lemahnya tubuh, melainkan lunturnya semangat jiwa untuk menuju Allah. Ia mengendap dalam hati yang lelah mencintai dunia, dan tumbuh dalam jiwa yang takut berpisah darinya.

الوَهْنُ adalah ketika ruh tidak lagi bertenaga karena hatinya terlalu berat menengok ke belakang, yaitu menuju ke dunia yang fana, dan terlalu takut menatap ke depan, yaitu ke akhirat yang abadi. Ia adalah kabut yang menghalangi mata batin dari cahaya keyakinan, dan tali halus yang mengikat kaki manusia agar tidak mampu melangkah menuju hadirat Tuhan.

Orang yang terkena wahn akan mudah letih dalam ibadah, cepat kecewa dalam perjuangan, dan ragu dalam pengorbanan. Padahal, jalan ini adalah jalan para kekasih yang menyerahkan segalanya demi meraih liqa’ Allah لِقَاءُ اللَّهِ (perjumpaan dengan Allah).

Berkata seorang arif,

مَنْ عَلِقَ قَلْبُهُ بِالدُّنْيَا، ضَعُفَتْ رُوحُهُ عَنِ الْمَسِيرِ إِلَى اللهِ

"Barang siapa hatinya tergantung pada dunia, maka ruhnya akan lemah dalam menempuh perjalanan menuju Allah."

Obat dari al-Wahn

Obat dari al-wahn adalah mujahadah مُجَاهَدَةٌ (kesungguhan melawan hawa nafsu), dzikrullah ذِكْرُ اللَّهِ (selalu menghadirkan Allah dalam hati), muraqabah مُرَاقَبَةٌ (merasa diawasi Allah), dan dzikrul maut ذِكْرُ الْمَوْتِ (mengingat kematian). Bila ruh disiram dengan dzikir dan harapan akhirat, maka kelemahan akan berganti menjadi kekuatan, ketakutan menjadi keberanian, dan cinta dunia berganti menjadi kerinduan kepada Tuhan semesta alam.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Selasa, 12 Mei 2026

Mengamalkan Syariat عمل الشريعة Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Mengamalkan Syariat عمل الشريعة Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Di dalam khazanah thariqah yang hakiki, yang diwarisi dari para pewaris Nabi, pengamalan syariat bukan sekedar kewajiban lahiriyah, tetapi merupakan pintu awal bagi perjalanan ruhani menuju Allah. Ia adalah pondasi utama yang tak bisa digantikan oleh maqam atau hal apa pun. Para sufi sunni yang mukhlis memandang bahwa setiap langkah menuju hakikat dan makrifat harus bertumpu pada tegaknya syariat.

Syariat bukanlah kulit yang dibuang ketika isi telah diperoleh, tetapi ia adalah tubuh bagi ruh tasawuf. Siapa yang menanggalkan syariat demi merasa cukup dengan hakikat, maka sesungguhnya ia telah terjerumus ke dalam ilusi batin yang menyesatkan. Karena hakikat yang tidak disinari oleh cahaya syariat, itu hanya akan menjadi bayang-bayang hawa nafsu yang menjelma dalam rupa keruhanian.

Bagi para salikin, para penempuh jalan Allah, ibadah-ibadah syariat, baik yang bersifat wajib maupun sunnah, adalah madrasah pembentukan ruh dan pembersih cermin hati. Bersuci dari hadast adalah simbol pensucian dari kekeruhan dosa, shalat adalah mi'raj ruhani yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya, puasa adalah pengendalian syahwat untuk menata batin agar lebih peka terhadap getaran ilahiah. Setiap amal lahir menjadi jembatan menuju keterbukaan batin.

Salik yang sungguh-sungguh tidak akan membedakan antara wajib dan sunnah dalam rasa tanggung jawab. Ia akan memandang ibadah sunnah seperti ibadah wajib, bukan dari sisi hukum fiqih, melainkan dari kedalaman mahabbah (cinta) dan  kerinduan kepada Tuhannya.

Ibadah-ibadah sunnah menjadi tempat ia mengungkapkan rasa rindu dan kerelaan untuk selalu hadir di hadapan-Nya. Ia melatih jiwanya untuk istiqamah dalam khidmah kepada Sang Kekasih, bahkan dalam hal yang tidak diwajibkan secara hukum.

Dengan demikian, syariat bukan sekedar perintah formal, tetapi merupakan latihan rohani untuk tahdzib al-nafs تَهْذِيبُ النَّفْسِ (pembinaan jiwa), tazkiyah al-qalb تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ (penyucian hati), dan taqwiyah al-ruḥ تَقْوِيَةُ الرُّوحِ (penguatan ruh).

Setiap gerak dalam syariat, jika dilakukan dengan niat ikhlas dan pandangan batin yang jernih, akan membuka jalan menuju hakikat. 


Inilah yang disebut sebagai,

ٱلشَّرِيعَةُ أَصْلٌ، وَٱلطَّرِيقَةُ سُلُوكٌ، وَٱلْحَقِيقَةُ ذَوْقٌ 

“Syariat adalah akar, thariqah adalah jalan, dan hakikat adalah rasa.”

Maka, siapa yang hendak meraih cahaya makrifat, wajib baginya menegakkan tiang-tiang syariat dalam hidupnya. Tidak ada makrifat tanpa syariat, dan tidak ada kesempurnaan ruhani tanpa pengabdian zahir yang ikhlas dan tertib. Inilah jalan para kekasih Allah, jalan yang menggabungkan zahir dan batin, syariat dan hakikat, cinta dan takut, harap dan rindu.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9