Kamis, 30 April 2026
Selasa, 28 April 2026
Senin, 27 April 2026
Minggu, 26 April 2026
Jumat, 24 April 2026
Frekuensi Rindu Syair Langit Studio - Bila Nanti Kau Disini
Frekuensi Rindu Syair Langit Studio - Bila Nanti Kau Disini
“Selamat malam di Frekuensi Rindu 99.99 FM, Syair Langit Studio.
pernahkah kita menyadari arti seseorang justru setelah ia pergi. Saat semuanya telah berubah, barulah kita mengerti, bahwa dia, adalah rumah yang pernah kita sia-siakan.
Dan malam ini, sebuah lagu tentang penyesalan, berjudul Bila Nanti Kau Disini, karya Raden Syair Langit, lagu lama yang lahir di tahun 2012 silam, yang masih menyimpan harapan”
Kamis, 23 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-38 (Jangan Bersahabat Dengan Orang yang Kikir)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-38
(Jangan Bersahabat Dengan Orang yang Kikir)
“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan orang yang kikir, karena dia tidak akan membantumu dengan hartanya disaat engkau sangat membutuhkannya. Dan berhati-hatilah, jangan berteman dengan seorang pembohong, karena dia itu laksana fatamorgana, mendekatkan sesuatu yang jauh padamu, dan menjauhkan sesuatu darimu terhadap sesuatu yang dekat”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Selasa, 21 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-37 (Saling Menghargai Adalah Budi Pekerti)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-37
(Saling Menghargai Adalah Budi Pekerti)
“Orang yang ingin dihargai itu adalah orang sombong, namun ingat, saling menghargai adalah budi pekerti.
Tidak sedikit kita menemukan orang-orang yang dengan pongah memperlihatkan kesombongannya. Mungkin mereka berfikir, dengan bersikap seperti itu mereka merasa tinggi, namun mereka lupa, mereka tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka sedang berada didalam posisi yang terendah.
Tidak usahlah repot-repot meninggikan dirimu, karena semakin engkau berusaha meninggikan dirimu, maka justru engkau akan semakin rendah. Lebih baik rendahkan dirimu, sehingga tidak akan ada satu pun orang yang mampu merendahkanmu”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Kitab Sajatining Mulyo Karya Raden Syair Langit Telah Terbit Secara Resmi
Kitab Sajatining Mulyo Karya Raden Syair Langit Telah Terbit Secara Resmi
Dengan penuh rasa syukur dan khidmat, kami sampaikan kepada seluruh pembaca, jamaah, serta pecinta ilmu dan hikmah, bahwa Kitab Sajatining Mulyo karya Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) kini telah resmi diterbitkan melalui penerbit dan dilengkapi dengan QRSBN sebagai tanda legalitas dan keabsahan karya.
Terbitnya edisi resmi ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kitab yang sarat makna, yang sebelumnya sempat beredar dalam bentuk cetakan awal secara mandiri. Adapun versi terdahulu tersebut merupakan bentuk ikhtiar awal dalam menyampaikan isi dan ruh keilmuan, namun belum melalui proses penerbitan secara formal.
Kini, melalui penerbit resmi, Kitab Sajatining Mulyo hadir dengan penyempurnaan dari berbagai sisi—baik dari segi tata tulis, struktur, maupun kelayakan penerbitan—tanpa mengurangi sedikit pun kedalaman makna dan hakikat yang terkandung di dalamnya. Dengan adanya QRSBN, kitab ini telah memiliki identitas penerbitan yang sah, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan maupun legalitas.
Kami berharap, terbitnya edisi resmi ini dapat menjadi wasilah yang lebih luas dalam menyebarkan cahaya ilmu, memperdalam pemahaman hakikat ibadah, serta menuntun hati menuju kemuliaan sejati, sebagaimana makna yang terkandung dalam “Sajatining Mulyo” itu sendiri.
Akhir kata, semoga setiap huruf yang tertulis menjadi jalan kebaikan, setiap makna yang dipahami menjadi cahaya petunjuk, dan setiap amal yang lahir darinya menjadi saksi di hadapan-Nya.
Salam takzim dan penuh hormat,
Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Jumat, 17 April 2026
Frekuensi Rindu Syair Langit Studio - Jangan Pergi
Frekuensi Rindu Syair Langit Studio - Jangan Pergi
“Selamat malam di Frekuensi Rindu, Syair Langit Studio. Untuk hati yang pernah memohon agar seseorang tetap tinggal. Kadang kita tahu, dia tak sepenuhnya milik kita, tapi tetap saja kita tak sanggup kehilangannya.
Dan malam ini, sebuah lagu yang berjudul "Jangan Pergi" karya Raden Syair Langit, yang lahir dari permohonan yang paling dalam, kami persembahkan untuk anda”.
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Baleendah Bandung, 25 April 2026)
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Baleendah Bandung, 25 April 2026)
Acara: Halal Bihalal
Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Alamat: Jln. Kulalet Rt. 07 Rw. 07 Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-36 (Ilmu Tanpa Amal Adalah Kesia-siaan)
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Kamis, 16 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-35 (Penempahan Ilmu & Dzikir)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-35
(Penempahan Ilmu & Dzikir)
“Ahli ilmu itu banyak, yang sedikit itu ahli dzikir. Ahli dizkir itu tukang dzikir, tapi tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli ilmu dan ahli bicara itu banyak, yang sedikit itu adalah ahli amal. Yang dimana, ilmunya dan bicaranya sesuai dengan apa yang di amalkannya”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Selasa, 14 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34 (Hakekat Makna Wahdatul Wujud)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34
(Hakekat Makna Wahdatul Wujud)
“Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, maka pertanyaannya adalah apa yang kami akukan? Jangankan mengaku Allah, mengakui diri pun kami tidak mampu. Kami, kalian, dan seluruh alam semesta beserta isinya ini pada hakikatnya tidak ada, karena yang ada hanyalah Allah.
Pengakuan itu hanya ada bagi yang menganggap dirinya ada, sedangkan kami telah melepaskan keakuan itu. Kita ini berasal dari Allah, untuk Allah, dan kembali lagi kepada Allah.
Segala sesuatu ini terjadi hanya atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi atas kehendak kita. Bagi kami Allah adalah segalanya. Kecintaan kami kepada-Nya tidak akan terukur oleh tingginya gunung dan luasnya samudra.
Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿ’azza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini"
Penjelasan:
Mutiara ini berangkat dari sebuah kesalahpahaman yang kerap dilontarkan kepada para ahli tasawuf, yaitu tuduhan “mengaku Allah”. Padahal, hakikat yang mereka maksud justru sebaliknya: bukan mengaku Allah, bahkan mengaku adanya diri pun mereka tidak mampu.
Sebenanarnya penjelasan tentang Wahdatul Wujud ini sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya, namun disini Abah akan memberikan penjabaran singkat, terkait memaknai Mutiara hikmah ke-34 ini.
Sesungguhnya, “aku” yang dipandang oleh manusia biasa itu hanyalah bayangan, fatamorgana dari wujud Allah yang Maha Esa. Hakikatnya, segala sesuatu selain Allah adalah fana, lenyap, tidak memiliki keberadaan sejati.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۢ • وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ
“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26-27)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan makhluk pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Yang benar-benar wujud hanyalah Allah.
Menghapus “Keakuan”
Pengakuan hanya muncul dari mereka yang masih merasa dirinya ada. Adapun para arif sejati telah menanggalkan “keakuan”, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata.
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata:
ٱلتَّصَوُّفُ هُوَ أَنْ يَمُوتَ ٱلْعَبْدُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَحْيَا بِرَبِّهِ
“Tasawuf adalah ketika seorang hamba mati dari dirinya, lalu hidup dengan Rabb-nya.”
Inilah inti mutiara: lenyapnya ego, tenggelamnya “aku”, sehingga yang tinggal hanyalah Allah Yang Maha Hidup.
Segalanya dari Allah dan untuk Allah
Mutiara ini menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, berjalan untuk Allah, dan kelak kembali kepada Allah.
Firman-Nya:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.”
(QS. al-Baqarah: 156)
Maka tidak ada satu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dengan izin-Nya.
Wahdatul Wujud dan Cinta
Bagi para sufi, Wahdatul Wujud bukanlah teori filsafat kering, melainkan pengalaman cinta yang membakar. Cinta kepada Allah tidak dapat diukur oleh luas samudra, tidak dapat ditakar oleh tingginya gunung. Ia melampaui ruang dan waktu, meliputi semesta, dan kembali meniadakan semesta dalam lautan keesaan-Nya.
Rasulullah saw bersabda:
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ
“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu.”
(HR. Tirmidzi)
Dan cinta yang sejati itu akan menghapus segala sesuatu selain Allah.
Doa Abah yang disampaikan pada mutiara ini,
Mutiara ini ditutup dengan doa yang sangat indah:
“Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿazza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini.”
Doa ini adalah jeritan hati seorang arif yang telah merasakan fana’ dari dirinya, lalu memohon agar Allah meneguhkannya dalam baqa’ bersama-Nya.
Kesimpulan
Hakikat Wahdatul Wujud bukanlah pengakuan sebagai Allah, melainkan kesadaran bahwa tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah. Ego dan keakuan telah ditanggalkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’ dan baqa’ dalam suluk tasawuf: fana’ dari diri, baqa’ bersama Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Abah Raden Syair Langit Menjelaskan "Jika Engkau Ingin Mendapati Nikmatnya Ibadah Maka Jatuh Cintalah Engkau Kepada Allah"
Abah Raden Syair Langit Menjelaskan "Jika Engkau Ingin Mendapati Nikmatnya Ibadah Maka Jatuh Cintalah Engkau Kepada Allah"
Didalam penjelasan video diatas, walaupun memakain bahasa sunda, Abah Raden Syair Langit menjelaskan pentingnya jatuh cinta kepada Allah, karena dengan cinta tidak akan ada paksaan. Beliau menjelaskan, bahwa kenikmatan ibadah akan didapat jika memang kita sudah mencapai maqomat kecintaan kepada Allah yang luar biasa. Dengan cinta, orang akan menikmati ibadahnya, bukan hanya sebatas melaksanakan perintah yang justru nantinya serasa ada paksaan didalam melaksanakannya.
Selengkapnya, silahkan simak video diatas sampai selesai.
Senin, 13 April 2026
Lirik & Certia Dibalik Lagu "Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti" Karya Raden Syair Langit
Lirik & Certia Dibalik Lagu "Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti" Karya Raden Syair Langit
Lagu ini tidak lahir dari kebahagiaan, tapi dari air mata yang bahkan tak sempat aku sembunyikan.
Ada satu masa di mana aku ingin melupakan, tapi semakin aku melangkah pergi, justru semakin dalam aku terikat.
Bukan karena aku lemah, tapi karena rasa itu terlalu nyata untuk diingkari.
Setiap malam aku berbicara dengan sepi, mengulang kenangan yang seharusnya sudah aku kuburkan.
Aku mencoba menghapusnya, tapi hatiku sendiri menolak untuk lupa.
Sampai akhirnya aku sadar, ini bukan hanya tentang ingin memilikinya, tapi Tuhan mengajarkanku untuk bisa mengenal cinta yang lebih tinggi.
Lirik lagu : Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti
Cipta : Raden Syair Langit
Lagu ini Dibuat Pada : 2007 M
[Intro]
[Verse 1]
Tetes air mata yang ku jalani
Kini ku pun merindukanmu
Hilangkanlah cinta ini tapi aku pun tak bisa
Tolonglah aku
[Verse 2]
Embun selimuti pagi menghantui hati
Saat teringat wajahmu
Ku harap ku lupakan tapi aku pun tak bisa
Tolonglah aku
[Reff]
Saat malam pun datang
Ku tangisi lagi masa lalu ku yang kelam
Melewati waktu-waktu
Ku lalui dengan tangis tiada henti
[Intro]
[Verse 3]
Mencintai yang fana tiada kan bermakna
Hanya lautan kehampaan
Biarkanlah aku ini tenggelam di dalam hakikat
Cinta kepada-Nya
[Chorus]
Kau juga anugerah yang diberikan-Nya
Cintamu adalah cinta-Nya
Hanya kepada-Nya berikan seluruh hidupku
Terima kasih untuk-Mu
[Reff]
Dialah Sang Maha Cinta
Mencintai-Nya adalah sebuah cinta kesejatian
Engkau hanyalah ujian
Dalam penempahan jiwaku untuk sampai kepada-Nya
Dialah sang Maha Cinta
Mencintai-Nya adalah sebuah cinta kesejatian
Engkau hanyalah ujian
Dalam penempaan jiwaku untuk sampai kepada-Nya
[Intro]
Untuk mendapatkan lagu full nya silahkan tonton video dibawah ini :
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33
(Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)
“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketiga macam manusia ini. Pejabat pemerintah yang kejam, seorang ‘alim yang bermuka-muka, dan orang tasawuf gadungan yang pura-pura paham padahal bodoh tentang hakikat tasawuf.
Pejabat pemerintah yang kejam akan mendholimimu. Dan orang ‘alim yang bermuka-muka akan menipumu. Sedangkan orang tasawuf gadungan, dia akan memberika khayalan semu kepadamu.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Sabtu, 11 April 2026
71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi
Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi Transformasi
Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )
Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, rangkaian karya musik Raden Syair Langit telah sampai pada satu fase yang patut disyukuri.
Sebanyak 71 karya lagu utama, serta 24 lagu edisi transformasi dalam berbagai nuansa dan warna,
kini telah tersusun dan dipersembahkan melalui kanal resmi Syair Langit Studio.
Setiap karya bukan sekedar rangkaian nada, namun jejak perjalanan rasa, doa, dan makna yang diikat dalam syair.
InsyaAllah perjalanan ini belum usai. Apabila waktu dan ilham kembali beriring, karya-karya baru akan kembali dihadirkan.
Bahkan saat ini, proses penggarapan karya ke-72 tengah berlangsung,
sebagai kelanjutan dari alur rasa yang belum selesai.
Ke depan, kami juga akan menghadirkan kisah-kisah di balik setiap lagu, agar makna yang tersembunyi dapat lebih dekat dirasakan, bukan hanya didengar.
Terima kasih atas setiap doa dan dukungan. Semoga setiap nada yang mengalun, menjadi jalan kebaikan dan pengingat akan-Nya.
Jumat, 10 April 2026
Rabithah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Rabithah رابطة
Dalam konteks tarekat, rabithah secara harfiah berarti ikatan atau hubungan. Secara khusus, rabithah merujuk pada ikatan batin yang kuat antara seorang murid dengan gurunya dalam sebuah tarekat, serta ikatan dengan Rasulullah SAW, dan akhirnya dengan Allah SWT. Tujuan dari ikatan ini adalah untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritualnya, membantu melawan hawa nafsu, serta mempererat hubungan dengan Allah.
Rabithah juga bisa dilaksanakan dengan mengingat rupa guru (Syekh) dalam ingatan seorang murid. Praktek rabithah ini merupakan adab dalam pelaksanaan dzikir seorang salik, yaitu sebelum seorang salik berdzikir untuk melaksanakan dzikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mengingat gurunya yang telah menalqin dzikir kepadanya. Mengingat itu bisa dilakukan seperti mengingat wajah guru, mengingat seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Ingat, hal ini tidak boleh dilakukan dalam shalat, rabithah hanya dilakukan saat kita akan melakukan amaliyah seperti dzikir, atau amaliyah-amaliyah lainnya yang diajarkan guru mursyid. Maksud dari rabithah ini adalah sebagai bentuk mengingat guru yang menjadi wasilah pelantara Allah kepadanya, sehingga ia berharap mendapatkan keberkahan dari Allah dengan rabithah itu sendiri.
Sedangkan dalam urusan shalat, maka semuanya harus disandarkan secara utuh kepada Allah.
Maksudnya adalah, jangan sampai ada pelaku tarekat yang sedang melakukan shalat malah mengingat guru, ini adalah pemahaman yang salah kaprah, bahkan pada dasarnya, dalam melakukan amaliyah apapun diluar shalat, melakukan rabithah itu maksudnya adalah diawal, selain mengingat guru, kita bisa tawasul mengirimkan fatihah kepada guru, agar semoga mendapatkan keberkahan dari Allah. Namun saat pelaksanaan dzikir, semua nya harus tetap tertuju kepada Allah, sudah tidak ada lagi guru, tidak ada lagi kita, tidak ada lagi seluruh alam semesta dan isinya, karena dihati hanya ada Allah, tidak ada lagi tempat untuk yang lainnya.
Rabithah yang paling utama itu dengan mengaplikasan adab kita terhadap Guru. Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, apalagi kepada guru tarekat, maka semua itu akan menimbulkan dampak yang buruk kepadanya. Seperti diantaranya hilang berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, tidak dapat menyebarkan ilmunya, dan dia tidak bisa mencicipi manisnya makrfiat walaupun setetes.
Syariatnya, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu tarekat, karena guru yang mengajarkan ilmu tarekat, mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu lahir dan ilmu bathin agar engkau mengenal Allah.
Para pewaris Nabi, begitulah julukan mereka para pemegang kemulian ilmu Agama Allah, dan mereka itu memiliki derajat yang tinggi dihadapan Allah SWT.
Ketahuilah sedulur-sedulur, para pengajar Agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, pada hakikatnya mereka semua ada didalam pesan Rasulullah saw.
Beliau ngadawuh,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama”
(HR. Ahmad)
Tersirat dari kasauran Kanjeng Nabi Muhammad saw, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.
Para ulama adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya. Karena mereka telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.
Sahabat Abu Sa’id Al Khudri (أبو سعيد الخدري) berkata,
كُنَّا جُلُوساً فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَينَا فَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَيْرُ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ مِنَّا
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara”
(HR. Bukhari)
Ibnu Abbas (ابن عباس), seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari ahli bait Nabi, beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit Al-Anshari (زيد بن ثابت الأنصاري) dan berkata,
“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami.”
Berkata Abdurahman bin Harmalah Al-Aslami (عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي),
“Tidaklah seorangpun berani bertanya kepada Said bin Musayyib (سعيد بن المسيب), sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang Raja.”
Ar-Rabi’ bin Sulaiman (الربيع بن سليمان) berkata,
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Guruku Asy-Syafi’i (الإمام الشافعي) melihatku karena segan kepadanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي), bahwasannya Umar bin Khattab (عمر بن الخطاب) mengatakan,
تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ العِلْمَ
“Tawadhulah kalian terhadap orang yang kalian pelajari ilmu darinya.”
Imam Syafi’i (الإمام الشافعي) berkata,
“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan guruku Imam Malik bin Anas (الإمام مالك بن أنس) dengan sangat lembut, karena segan padanya, dan supaya dia tak mendengarnya.”
Abu ‘Ubaid Al Qosim (أبو عبيد القاسم) berkata,
“Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,
وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥
“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(QS. Al-Hujurat: 5)
Sungguh mulia akhlak mereka semua, diantara yang menjadi suri tauladan untuk kaum muslimin. Tidaklah heran mengapa mereka semua menjadi ulama besar, sungguh keberkahan ilmu yang mereka dapat, diantaranya karena akhlak mulia mereka terhadap guru-gurunya.
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ulama tasawuf menafsirkan, bahwa mahabbah ruhaniyyah yang mendalam kepadaNabi Muhammad saw atau kepada mursyid akan menghadirkan kebersamaan ruhani (rabithah), meskipun secara fisik berjauhan.
Penjelasan Ulama Tasawuf:
Imam an-Nabhani dan Syekh Ahmad Zarruq menegaskan bahwa rabithah merupakan bagian dari adab dan ta’alluq ruhani antara murid dan mursyid.
Di dalam setiap tarekat, rabithah diajarkan sebagai latihan untuk menghadirkan mursyid dalam hati, agar hati tidak kosong dan tetap terjaga dalam muraqabah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Kamis, 09 April 2026
Muraqabah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Muraqabah مراقبة
Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.
Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.
Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Ḥadid: 4)
Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.
Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.
---------------------------------------------------------------------------------
Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:
Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):
Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.
Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):
Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.
---------------------------------------------------------------------------------
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
(HR. Muslim, no. 8)
Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.
Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.
Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Selasa, 07 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32 (Kebaikan Didalam Tiga Perkara)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32
(Kebaikan Didalam Tiga Perkara)
“Ada kebaikan didalam tiga perkara. Penglihatan, diam, dan pembicaraaan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil pelajarannya, itu semua adalah kesia-siaan. Sedangkan pembicaraan yang bukan dzikir, itu juga adalah kesia-siaan. Dan diam yang tidak disertai pemikiran, itu adalah kelalaian. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil pelajaran, diamnya karena berfikir, dan pembicaraannya berisi kan dzikir, sembari menangisi dan menyesali kesalahan-kesalahannya.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Senin, 06 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31 (Antara Melihat dan Mendengar)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31
(Tanda Orang yang Arif & Bijaksana)
“Tanda orang arif dan bijak itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristigfar”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Minggu, 05 April 2026
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)
Acara: Halal Bihalal
Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Alamat: Dusun Banjaransari Desa Selacai Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)
Acara: Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Alamat: Majelis Ta'lim Nurul Iman, Rt. 05 Rw. 06 Baleendah Bandung
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Rajadesa Ciamis, 03 Januari 2026)
Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Rajadesa Ciamis, 03 Januari 2026)
Acara: Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Alamat: Masjid Nurul Iman, Cibulakan Parakan Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30 (Antara Melihat dan Mendengar)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30
(Antara Melihat dan Mendengar)
“Tidak sedikit manusia yang mudah terhasut dengan hasutan orang lain. Padahal apa yang ia dengar, belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Ingatlah, manusia itu diberikan dua mata oleh Allah. Maka jangan sampai engkau menilai orang lain dengan telingamu. Nilailah manusia dengan apa yang engkau lihat, bukan dengan apa yang engkau dengar”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Sabtu, 04 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-29 (Ini Tentang Apa yang Kita Jalani)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-29
(Ini Tentang Apa yang Kita Jalani)
“Tidak perlu memikirkan apa yang dibicarakan oleh orang lain tentang dirimu. Ini kehidupan. Ada yang suka, ada yang tidak. Yang penting kamu hidup di jalan Allah. Ingatlah, hidup ini tentang apa yang kita jalani, bukan tentang apa yang mereka komentari”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Jumat, 03 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-28 (Diantara Sifat Orang yang Berakal)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-28
(Diantara Sifat Orang yang Berakal)
“Orang yang berakal itu tidak akan berbicara dengan orang yang akan mendustakannya. Dan dia juga tidak akan meminta kepada orang yang akan menolaknya, serta tidak akan berjanji pada orang atas sesuatu yang tidak disanggupinya. Dan dia tidak akan berbuat hal-hal yang akan merusak harapannya, serta tidak akan memikul hal-hal yang tidak sanggup memikulnya”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-27 (Banyak Ilmu Bagaikan Mutu Manikam)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-27
(Banyak Ilmu Bagaikan Mutu Manikam)
“Banyak ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebarluaskan bukan pada maqamnya, niscaya orang-orang akan menganggapku gila dan sesat. Ilmu itu adalah apa yang pernah kita selami dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah, yang di mana sebagian di antaranya tidak boleh disampaikan kalau bukan pada tempatnya. Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya, dan bukan pada tempatnya. Seperti halnya mengupas Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar keilmuan syariat yang kuat, dan tarekat yang benar, justru akan menyebabkan gagal paham dan sesat menyesatkan”
Penjelasan:
Ilmu yang hakiki itu ibarat mutu manikam, permata suci yang berkilauan. Namun, sebagaimana permata tidak boleh dipersembahkan kepada sembarang tangan, demikian pula ilmu tidak layak dibuka kepada setiap telinga. Ada ilmu yang dapat disampaikan kepada khalayak, ada pula yang mesti dijaga dalam dada, hanya untuk mereka yang memiliki kesiapan maqam dan kelayakan ruhani.
Rasulullah saw sendiri bersabda:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(HR. Bukhari no. 127)
Hadist ini menegaskan bahwa ilmu harus diletakkan pada tempatnya, jangan dipaksakan pada jiwa yang belum siap. Sebab bila rahasia ruhaniah dibuka pada orang awam, niscaya mereka akan menuduh gila, sesat, atau bahkan kafir, padahal hakikatnya mereka hanya tidak memahami.
Ilmu Lahir dan Ilmu Batin
Ilmu itu ada dua sisi: ilmu lahir yang bersandar pada syariat, dan ilmu batin yang menyingkap rahasia hakikat. Syariat adalah pagar, tarekat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan makrifat adalah penyaksian. Barangsiapa mengupas rahasia batin (Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip) tanpa fondasi syariat yang kokoh dan perjalanan tarekat yang benar, maka yang muncul bukanlah cahaya, melainkan kegelapan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(QS. al-Isra’: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa mengobral rahasia ilmu tanpa dasar adalah kezaliman terhadap ilmu itu sendiri.
Kerusakan dan Kebinasaan Ilmu
Mutiara ini juga mengingatkan bahwa kerusakan ilmu terjadi ketika ia hilang dari hati, sedangkan kebinasaan ilmu terjadi ketika ia diajarkan kepada yang bukan ahlinya.
Imam ‘Ali karramallahu wajhah berkata:
لَا تُعْطُوا الْحِكْمَةَ غَيْرَ أَهْلِهَا فَتَظْلِمُوهَا، وَلَا تَمْنَعُوهَا أَهْلَهَا فَتَظْلِمُوهُمْ
“Jangan berikan hikmah kepada orang yang bukan ahlinya, karena engkau menzalimi hikmah itu. Dan jangan pula engkau menahannya dari ahlinya, karena engkau menzalimi mereka.”
Inilah makna sejati mutiara: ilmu adalah amanat, ia harus dijaga, disampaikan sesuai maqam, agar ia menjadi cahaya penunjuk, bukan api yang membakar.
Kesimpulan
Mutiara ini mengajarkan kehati-hatian dalam menebarkan ilmu. Sebab tidak semua orang siap menanggung rahasia, dan tidak semua telinga layak mendengar kebenaran yang dalam. Ilmu adalah permata, dan permata hanya indah bila berada di tangan yang tepat. Karena itu, seorang murid harus menempuh jalan syariat dan tarekat terlebih dahulu sebelum menyentuh hakikat. Barangsiapa mendahului maqam, niscaya ia akan tersesat oleh bayangannya sendiri.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Rabu, 01 April 2026
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-26 (Allah Menyembunykan Ridha-Nya Didalam Taat Seorang Hamba)
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-26
(Allah Menyembunykan Ridha-Nya Didalam Taat Seorang Hamba)
“Allah menyembunyikan ridha-Nya di dalam perbuatan taat seseorang kepada Allah. Maka jangan sekali-kali meremehkan atau menghina perbuatan taat seseorang. Karena banyak sekali ketaatan seseorang yang diremehkan. Justru itu yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kita semua tidak tahu taat siapa, perbuatan taat kita yang bagaimana, dan yang seperti apa yang diterima oleh Allah Subhanahu wa taala”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip)
Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip) Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment ) ...
-
Riwayat Hidup Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit) Nama duniawinya adalah Renren Rohmatul Aziz, lahir di Ciamis pada hari Senin, 28 Mare...
-
Kitab Sajatining Mulyo Karya Raden Syair Langit Telah Terbit Secara Resmi Dengan penuh rasa syukur dan khidmat, kami sampaikan kepada selu...
-
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-2 (Melepaskan Keakuan) “Tabir penutup kalbumu tak akan tersibak selama engkau belum lepas dari alam c...



.jpg)
.jpg)






.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)



%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)



%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)