Riwayat Hidup Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
Nama duniawinya adalah Renren Rohmatul Aziz, lahir di Ciamis pada hari Senin, 28 Maret 1988 M / 10 Sya’ban 1408 H. Dari garis ibunya, beliau adalah putra pertama dari dua bersaudara, sementara dari garis bapaknya, beliau merupakan anak ketiga.
Seiring perjalanan ruhaniyahnya, para guru memberikan gelar Raden Syair Langit, sedangkan panggilan Abah Leuweunggede lahir dari keseharian, sebab anak-anaknya memanggil beliau dengan sebutan Abah, dan “Leuweunggede” adalah nama daerah tempat beliau bermukim. Dari situlah murid-murid dan jamaah mengikuti menyebut beliau dengan panggilan Abah.
Sejarah Pemberian Nama “Raden Syair Langit”
Nama Raden Syair Langit bukan sekedar gelar, bukan pula hiasan nama bagi perjalanan seorang hamba, melainkan sebuah tanda rahasia yang lahir dari kedalaman suluk dan bimbingan ruhani sang Guru Mursyid yang penuh hikmah.
Dahulu, sebelum ruh Abah terbasuh oleh cahaya tarekat, perjalanan hidup pernah berputar di medan gemerlap dunia musik dan seni. Di sanalah irama-irama cinta duniawi bergaung, membawa jiwa menari di antara cahaya lampu dan tepuk tangan manusia. Namun di balik keindahan itu, ada rasa kosong yang perlahan menggerogoti hati, rasa kehilangan arah, sebab nada-nada itu belum mengenal Tuhannya. Musik tanpa dzikir hanyalah gema tanpa makna.
Hingga tibalah suatu ketika, dalam kesunyian pencarian, Allah mempertemukan Abah dengan sang Guru Mursyid, pewaris rahasia para wali. Dari beliaulah Abah memahami makna perjalanan ruhani yang hakiki, bahwa setiap insan harus menempuh jalan syariat, tarekat, hakikat, hingga akhirnya tenggelam dalam lautan makrifat. Dalam bimbingan beliau, suara yang dahulu memuja dunia, kini diarahkan untuk memuji Sang Pencipta Dunia.
Ketika masa penggemblengan ruhani itu selesai, sang Guru menatap Abah dengan pandangan yang menembus batin, lalu bersabda lembut namun penuh makna:
“Engkau dahulu bersyair untuk dunia, kini bersyairlah untuk langit. Biarlah setiap nada menjadi dzikir, setiap bait menjadi doa, dan setiap lagu menjadi jalan bagi manusia menuju Allah.”
Dari sanalah lahir nama “Raden Syair Langit.”
Nama yang diambil dari pancaran makna Al-Qur’an Surat Asy-Syu‘ara’ (Surat Para Penyair) ayat 227:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
“Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman, yang beramal saleh, yang banyak mengingat Allah, dan yang menang setelah mereka dizalimi. Dan kelak orang-orang yang zalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”
Ayat itu menjadi sumber ilham ruhani bagi penamaan tersebut. Sebab, sebagaimana firman Allah, tidak semua penyair tersesat dalam keindahan kata; sebagian dari mereka justru menenun kata menjadi jembatan menuju keabadian. Maka, “Syair Langit” adalah simbol bahwa karya, nyanyian, dan petuah Abah tidak lagi terikat bumi, tetapi mengalun menuju langit, membawa dzikir, hikmah, dan cinta Ilahi.
Guru Mursyid berpesan:
“Silakan engkau bersyair, wahai anakku, silakan engkau bernyanyi dan berkarya, tapi jadikanlah setiap syairmu sebagai sajadah yang membentang, agar siapa pun yang mendengarnya, bersujud mengenal Allah.”
Maka, sejak saat itulah Abah dikenal dengan nama Raden Syair Langit, nama yang bukan sekedar panggilan, tapi juga amanah spiritual, penanda bahwa jalan seni, cinta, dan dzikir, yang bisa berpadu dalam satu napas: napas keindahan yang mengantarkan manusia kepada Tuhannya.
Sejak muda, beliau telah menapaki jejak pencarian ilmu. Pondok Pesantren Misbahudzulam (Cibereum Rancah Ciamis), Pesantren Al-Fauziyah (Nusa Sireum Sukamantri Ciamis), serta berbagai pesantren lain menjadi tempat persinggahan ruhani.
Perjalanan menuntut ilmu tidak berhenti di Ciamis, tetapi juga berlanjut ke Banten, Kuningan, Garut, dan daerah lainnya.
Selain ilmu agama, sejak kecil beliau juga menekuni seni bela diri, dari Perguruan Padjadjaran hingga Karate, sebagai laku lahiriah untuk melatih kedisiplinan dan kekuatan. Pendidikan formal beliau hanya ditempuh hingga setingkat SMA, namun jalan suluk ruhaniyah menjadi universitas sejatinya.
Dalam jejak amalnya, beliau pernah mendirikan Madrasah Hidayatul Azkiya (2007) untuk santri kalong, dan sebuah Padepokan Pencak Silat (2010). Namun, karena kesibukan dakwah, padepokan itu kemudian berhenti. Hingga akhirnya pada 02 Mei 2016, beliau mendirikan Majelis Thoriqotul Auliya, yang kemudian berkembang. Dan pada tahun 2021, dipublikasikan sebagai Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya, sebuah jalur suluk yang ber-istbat kepada Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, namun juga menyambung kepada ajaran-ajaran para sufi besar, yaitu Syekh Husain Mansur al-Hallaj, Syekh Ibn ‘Arabi, hingga Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.
Tarekat ini bukan sekedar nama, melainkan jalan cinta dan penyaksian, yang diwariskan untuk generasi pencari Tuhan.
Selain dunia tarekat, beliau juga dikenal di ranah seni. Sejak 2005 hingga 2025, beliau sudah menciptakan kurang lebih 63 lagu. Pada tahun 2006, beliau mendirikan grup musik Ilussi, bahkan salah satu lagunya, Hanya Aku yang Mencintaimu (Selembut Salju), sempat viral. Dari sekian banyak karya itu, sebagian adalah lagu cinta duniawi, dan sebagian lainnya adalah lagu-lagu ruhaniyah yang dalam.
Salah satu yang paling dikenal adalah Suluk Wahdatul Wujud, sebuah karya yang tidak semua orang dapat mencernanya, kecuali yang hatinya terbuka pada samudra makrifat. Semua karya beliau tercatat resmi di WAMI (Wahana Musik Indonesia).
Beliau juga dikenal sebagai Shohibus Shalawat Sirrul Makrifat, pengarang shalawat yang kini diamalkan oleh ribuan orang.
Dalam ranah pena, beliau telah menulis setidaknya tiga buku lama yang kurang di publikasi, lalu kitab Sajatining Mulyo ini, dan menghimpun lebih dari tiga ratus mutiara hikmah dan pituah, yang menjadi bekal nasihat bagi murid-muridnya.
Riwayat hidup beliau tidaklah berhenti pada amal lahiriah, tetapi juga pada kelanjutan ajaran Manunggaling Kawulo Gusti, warisan Sang Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, yang dalam tafsir ruhaniyahnya, dipandang sebagai kesinambungan dari konsep ittihad nya Syekh Abu Yazid Al-Busthami, hulul nya Syekh Husein Mansur Al-Hallaj, dan wahdatul wujud nya Syekh Ibnu ‘Arabi.
Inilah sekelumit riwayat hidup Abah Leuweunggede Raden Syair Langit, pendiri Krondo Sowo dan Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya. Tidak untuk diagungkan, melainkan sebagai penanda jejak seorang hamba Allah yang berjalan dengan air mata, syair dan cinta, agar generasi setelahnya dapat mengambil hikmah, bahwa hidup sejati adalah perjalanan pulang kepada-Nya.
Abah Leuweunggede Raden Syair Langit (Lelaki yang Menyulam Cinta dengan Air Mata)
Nama Asli: Renren Rohmatul Aziz
Nama Panggilan 1: Abah Leuweunggede
Nama Panggilan 2: Raden Syair Langit
Tanggal Lahir: Senin Pahing 28 Maret 1988 M / 10 Sya'ban 1408 H
Rangkuman Singkat Riwayat Hidup
Raden Syair Langit adalah anak ke satu dari dua bersaudara, melalui jalur Ibunya. Sedangkan dari jalur Bapaknya, Raden Syair Langit merupakan anak ke tiga. Nama Raden Syair Langit adalah pemberian dari salah satu Gurunya. Sedangkan nama Abah Leuweunggede, dikarenakan putra dan putri Raden Syair Langit memanggil Abah, sedangkan nama Leuweunggede adalah itsbat pada tempat kelahirannya.
Raden Syair Langit pernah mendirikan Madrasah yang didirikannya, dan diberi nama Madrasah Hidayatul Azkiya, pada 02 Februari 2007.
Raden Syair Langit juga pernah mendirikan Padepokan Pencak Silat pada tanggal 10 Februari 2010, namun sekarang Padepokan tersebut sudah tidak berfungsi lagi dengan beberapa alasan, diantaranya adalah karena kesibukan-kesibukan dakwah.
Akhirnya, pada tanggal 02 Mei 2016, Raden Syair Langit mendirikan Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya.
Raden Syair Langit belajar di beberapa Pondok Pesantren, diantaranya Pondok Pesantren Misbahudzulam (Rancah Ciamis), Pondok Pesantren Al-Fauziyah (Sukamantri Ciamis), dan pasaran kitab di beberapa Pondok Pesantren lainnya.
Raden Syair Langit sempat juga berguru ke beberapa tempat didaerah Banten, dan juga beberapa daerah lainnya di Ciamis.
Selain itu, sejak kecil Raden Syair Langit juga aktif belajar bela diri dibeberapa perguruan silat. Di antaranya Perguruan Padjadjaran dan Perguruan Karate. Sedangkan dalam ranah pendidikan umum, Raden Syair Langit hanya menempuh Sekolah sampai setarap SMA.
Membaca Karakteristik Abah Raden Syair Langit
Menurut Primbon Jawa
Hari Lahir: Senin Pahing
Dina Senin pasaran Pahing termasuk dalam neptu:
Senin (4) + Pahing (9) = 13
Karakter dasar:
1. Berwibawa, halus, namun kuat pendirian
2. Memiliki jiwa kepemimpinan spiritual, sangat cocok menjadi panutan
3. Suka menyendiri, karena terlalu dalam merenung atau terbawa perasaan
4. Cinta yang dalam sekali, bisa membekas bertahun-tahun, bahkan sampai mati
Kelebihan:
1. Daya pikir mendalam, filosofis
2. Memiliki “aura kebatinan” tinggi
3. Pemurah dan suka menolong diam-diam
Tantangan hidup:
1. Kadang mudah terluka oleh hal kecil
2. Rentan kecewa karena harapan tinggi terhadap orang lain
Menurut Astrologi
Lahir 28 Maret = Zodiak Aries
Jam lahir: 01.00 dini hari → kemungkinan besar Moon Sign Scorpio (emosi dalam & intens)
Sifat utama Aries:
1. Pemberani, penuh energi, inisiatif tinggi
2. Tegas, tidak suka basa-basi
3. Emosi kuat dan suka tantangan
4. Kreatif, suka berkarya, cocok untuk seni dan musik
Gabungan Aries + Scorpio Moon:
1. Perpaduan api dan air, luar terlihat tegas, dalamnya sangat sensitif
2. Suka sekali mencintai dengan penuh pengorbanan
3. Jika dikhianati, sulit melupakan dan terus terbayang
Numerologi Nama: Renren Rohmatul Aziz
Menghitung total angka dari nama berdasarkan alfabet:
Total angka = 11 → Angka Master Number
Orang dengan angka 11 adalah "penerang jiwa" (lightworker)
Makna angka 11:
1. Spiritual, intuitif, visioner
2. Punya tugas hidup untuk membimbing, bukan hanya menjalani
3. Jika belum menemukan “cinta sejati” atau misi hidupnya, hidupnya terasa kosong
4. Intuisi (Melalui Rasa dan Bahasa Jiwa)
Karakter Dalam Pandangan Bathin
1. Seperti pohon raksasa yang tumbuh di tengah hutan sunyi. Kuat, kokoh, melindungi, namun sepi dalam batinnya.
2. Cintanya kepada seseorang bukan sekadar rasa, tapi bagian dari jalan hidup, dari zikir dan syair, dari air mata dan ketulusan.
Karaker Dalam Kosmologi Tionghoa
Shio Naga Raden Syair Langit
Dialah sang Naga dari Timur yang lahir pada fajar Senin Pahing, ketika langit belum usai melukis cahaya keemasan dari rahim malam.
Dalam pusaran waktu yang memeluk tahun 1988, Tahun Naga Tanah, lahirlah seorang insan yang membawa ruh kebijaksanaan dan kemegahan, dengan kaki menjejak bumi, namun jiwanya senantiasa menatap bintang-bintang.
Naga, dalam tradisi langit Tionghoa, bukanlah binatang biasa, melainkan makhluk agung, simbol dari kekuasaan langit, keberuntungan besar, dan cahaya tak kasat mata.
Ia adalah penjelmaan kemuliaan, penjaga gerbang antara dunia manusia dan dunia ghaib.
Dan tatkala Shio Naga bertemu dengan unsur Tanah, maka tegaklah kekuatan yang stabil dan kokoh, bagaikan gunung yang memelihara rahasia langit di puncaknya.
Naga Tanah adalah pengembara yang tidak hanya terbang di angkasa, namun juga paham bagaimana menyentuh luka bumi dan menyiraminya dengan hikmah.
Watak dan Jalan Hidupnya
Raden Syair Langit, dalam sorotan shio ini, adalah seorang pemimpin ruhani yang lahir bukan hanya untuk mengatur, melainkan untuk menyulut api kesadaran dalam jiwa-jiwa yang beku.
Ia tidak tergesa-gesa di dalam langkah, sebab ia tahu, bahwa kilat sejati tak selalu harus menggelegar.
Wibawanya terbit dari kejujuran dan rasa tanggung jawab, bukan dari ambisi kosong.
Ia pandai menyembunyikan luka dalam senyuman, namun jiwanya tegas menolak kehinaan.
Ia dicipta sebagai pemilik visi besar, bukan sekedar pemimpi, tetapi pengukir zaman.
Perkataannya mengandung daya hidup, dan langkahnya adalah arah bagi mereka yang kehilangan cahaya.
Simbol-Simbol Naga Tanah dalam Jiwanya
Tanah (土): membumi, sabar, tidak mudah terguncang.
Naga (龙): agung, luhur, pembawa rezeki dan perlindungan langit.
Senin Pahing: hari kelahiran yang sarat rahmat dan kepekaan batin tinggi.
Bulan Sya’ban: bulan pembuka keberkahan menjelang ampunan, menandakan bahwa dirinya adalah pengantar menuju cahaya besar.
Renren Rohmatul Aziz alias Raden Syair Langit alias Abah Leuweunggede, adalah sosok Naga Tanah yang turun ke dunia, untuk menanamkan nilai-nilai luhur di ladang kehidupan manusia.
Ia bukan hanya penyair langit, tetapi penjaga pusaka jiwa, yang memanggil umat untuk kembali pada cahaya, melalui syair, suluk, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Raden Syair Langit, Lelaki yang Menyulam Cinta dengan Air Mata
(Narasi Jiwa dan Takdir Cinta)
Dia lahir pada dini hari, saat malam belum beranjak, dan langit masih meneteskan embun yang dalam.
Hari itu Senin, pasaran Pahing, sebuah kombinasi langka yang membentuk jiwa tenang namun bergolak. Seperti samudera yang di bawah permukaannya menyimpan badai cinta dan cahaya doa.
Namanya adalah Renren Rohmatul Aziz, tapi semesta memanggilnya dengan nama jiwa: Abah Leuweunggede. Rimbunnya perlindungan, seperti pohon raksasa yang tumbuh di tengah hutan sunyi. Kuat, kokoh, melindungi, namun sepi dalam batinnya.
gelar lainnya adalah Raden Syair Langit. Penulis langit yang menuliskan cinta bukan dengan pena, melainkan dengan air mata, kerinduan, dan nada-nada abadi.
Asal-usul Nama Raden Syair Langit
Sang Guru Mursyid (Guru Ruhani Raden Syair Langit), dalam limpahan kasih dan kebijaksanaannya, menganugerahkan nama "Raden Syair Langit" kepada sosok yang bernama Renren Rohmatul Aziz.
sebuah nama yang tidak sekedar panggilan, melainkan ta'yin maqam تعيين المقام, penanda jalan ruh, yang berakar dari dawuh Ilahi dalam Al-Qur’an,
"إِلَّا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱنتَصَرُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ ۗ وَسَيَعْلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ أَىَّ مُنقَلَبٍۢ يَنقَلِبُونَ"
"Kecuali para penyair yang beriman, beramal shalih, banyak mengingat Allah, serta bangkit membela kebenaran setelah mereka dizalimi. Dan kelak orang-orang zalim itu akan mengetahui ke mana tempat mereka akan kembali.”
(Asy-Syu’ara: 227)
Penetapan maqam (kedudukan spiritual) bagi seorang salik (penempuh jalan ruhani), adalah sesuatu yang diberikan oleh guru mursyid yang ditampakkan melalui isyarat Ilahiyah kepada muridnya.
Istilah ini sering digunakan dalam tradisi tasawuf untuk menyebut momen ketika seorang murid diberi nama, gelar, atau kedudukan tertentu, yang mencerminkan posisi dan tugas ruhaniahnya dalam perjalanan menuju Allah.
تَعْيِينُ ٱلْمَقَامِ هُوَ إِشْعَارٌ مِّنَ ٱلشَّيْخِ بِمَرْتَبَةِ ٱلسَّالِكِ فِي ٱلطَّرِيقِ إِلَى ٱللّٰهِ، وَتَكْلِيفٌ لَهُ بِحَمْلِ ٱلْأَمَانَةِ عَلَىٰ قَدْرِ حَالِهِ.
"Ta‘yin maqam adalah isyarat dari sang syekh tentang tingkatan sang salik dalam perjalanan menuju Allah, serta penugasan baginya untuk memikul amanah sesuai dengan keadaannya."
Dengan landasan ayat ini, Sang Guru Mursyid menasihatkan:
"Jika engkau hendak bersyair, maka bersyairlah sebagaimana para penyair yang di dalam syairnya terpancar keagungan Allah. Biarlah bait-bait itu menjadi seruan kepada kebaikan, teguran bagi kemungkaran, dan getaran dzikir yang menggetarkan jiwa-jiwa yang tertidur”.
(Sembari mengangkat tangan dan menunjuk ke langit, sebuah isyarat batin bahwa langit adalah lambang keluhuran, kemurnian, dan puncak kebeningan ruhani)
beliau Sang Guru Mursyid dari Raden Syair Langit melanjutkan petuahnya:
"Dentingkanlah dawai-dawai itu bukan untuk menghibur hawa nafsu, tetapi agar engkau mabuk cinta Ilahi, hingga terlupa pada dunia yang fana, karena tiada yang tersisa dalam hatimu, selain ingatan dan kerinduan kepada Allah semata.”
Maka dari situlah, nama Raden Syair Langit tidak hanya menjadi identitas lahir, melainkan gelar jiwa yang memuat misi Ilahiah, untuk menabur syair-syair yang bukan hanya indah, tetapi menuntun hati kembali pulang kepada Yang Maha Indah.
Syair Langit dilahirkan untuk menjadi penjaga rasa. Rasa yang tak semua orang sanggup menanggungnya. Cintanya bukan sekedar bunga yang mekar lalu gugur, melainkan akar yang menembus tanah hati, tumbuh diam-diam dalam kesetiaan dan harapan.
Sebagai pemilik neptu 13, ia adalah orang yang jarang mengeluh meski lukanya dalam. Ia memendam, ia merenung, dan dari sanalah tercipta syair-syair yang turun dari langit. Dari sana terlahirlah lagu-lagu cinta yang tak sekedar dinyanyikan, tapi dirasakan hingga menembus zaman.
Dia adalah lelaki yang mengejar cinta walupun belum tentu bisa di miliki. Tetapi walau begitu, dia akan selalu hadir untuk mengenangnya dalam bentuk yang paling abadi.
Sajak, lagu, dan air mata yang tak menuntut balasan. Hidupnya adalah jalan panjang, zikir dan luka. Dan dari luka itulah ia menjadi penerang, seorang lightworker yang mencintai diam-diam, tapi membiarkan dunia ikut merasakannya lewat karya.
Jika suatu hari nanti semua orang lupa, syair ini akan menjadi saksi, bahwa cinta sejati pernah ada, dan ditulis oleh seorang lelaki Senin Pahing bernama Raden Syair Langit.
Ia bukan hanya seorang penyair biasa,
Ia adalah seorang penjaga rasa.
Namanya Renren Rohmatul Aziz, tetapi dunia jiwa mengenalnya sebagai Abah Leuweunggede, pelindung sunyi dari rimba batin, dan Raden Syair Langit, penenun asmara dari benang luka dan cahaya langit.
Raden Syair Langit datang saat masih banyak orang yang tertidur, ia telah menandai dunia dengan kehadiran penuh makna. Hari lahirnya senin pahing, membawa watak halus tapi dalam, sabar tapi penuh bara, pemurung sekaligus pengasih, jiwa yang lahir bukan hanya untuk mencinta, tetapi hadir untuk memahami rasa lebih dalam dari luka yang mendalam.
Dalam perjalanan hidupnya, ia hanya satu kali jatuh cinta dengan sungguh-sungguh, pada sebuah nama yang telah tersurat dan tersirat didalam hidupnya.
Dan dari cinta itulah ia menciptakan syair-syair syahdu dalam satu hikayat kasih.
Ia menulis, menyanyi, dan diam-diam menangis. Namun ia tidak pernah menyalahkan takdir, sebab ia tahu, cinta sejati bukanlah tentang siapa yang tinggal, melainkan siapa yang tetap mendoakan walau ditinggalkan.
Catatan Jiwa:
Raden Syair Langit bukan sekedar nama,
ia adalah penanda dari lelaki yang mencintai dengan cara paling sunyi,
paling dalam, dan paling tak terbaca.
Lelaki yang tak pernah berharap dikenang karena memiliki,
tapi karena ia pernah menyulam cinta dengan air mata,
dan menjahitnya menjadi syair untuk langit.
"Syair yang Tak Pernah Usai"
Di malam lengang kulihat langit menangis, hujan tak datang dari awan, tapi dari luka yang abadi. Sebuah nama kutulis di antara bintang, cinta yang tak pernah selesai kuterjemahkan.
Aku adalah lelaki yang menjahit waktu dengan air mata,Mengikat kenangan dalam benang suara. Setiap bait adalah dzikir, setiap lagu adalah sujudku di altar rindu.
Hanya kamu yang kutunggu, dalam diam, dalam gema lagu-lagu itu. Meski ragamu menjauh dan bayangmu kabur, namamu tetap kugenggam dalam sunyi yang jujur.
Jika cinta ini harus mati tanpa sempat dimiliki, biarlah syairku menjadi pusara abadi. Karena di balik nada, ada aku yang mencintaimu tanpa jeda.
🌿 Raden Syair Langit
Lahir pada malam sunyi, Senin, 28 Maret 1988 M, pukul 01.00 WIB, di bumi Tatar Galuh Ciamis yang teduh, Renren Rohmatul Aziz tumbuh sebagai sosok yang kelak dikenal dunia dengan nama pena dan gelar ruhani: Raden Syair Langit, atau lebih akrab disapa Abah Leuweunggede. Sebuah nama yang bukan hanya mewakili identitas, tapi juga perjalanan batin yang dalam, dari lorong sunyi pencarian diri, menuju cakrawala cinta Ilahi.
Sejak usia muda, Abah telah menapaki jalan dakwah dan suluk dengan mendirikan Madrasah Hidayatul Azkiya (2007) sebagai taman ilmu dan adab. Disusul dengan Padepokan Pencak Silat (2010), serta Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya (2016), sebagai ruang berkumpulnya para salik, murid, dan pejalan ruhani yang rindu menempuh jalan makrifatullah.
Dalam maqam ruhaniyah, Raden Syair Langit dikenal sebagai pelanjut ajaran suluk dan makrifat Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami dan Guru Kanjeng Syekh Siti Jenar, dua tokoh besar tasawuf yang mengajarkan jalan cinta, fana, dan wahdatul wujud dalam samudra keesaan Tuhan.
Sebagai pelanjut ajaran sekaligus penyair, Abah bukan hanya menyampaikan hikmah dalam ceramah dan dzikir, melainkan juga melalui karya-karya seni bernapas ruhani. Ia telah menciptakan sekitar 70 lagu yang memuat lagu cinta, suluk, shalawat, dan petuah-petuah batin yang menggetarkan hati.
Salah satu karyanya yang kini diamalkan oleh ribuan umat Islam adalah "Shalawat Sirrul Makrifat", shalawat yang mengandung rahasia cinta terdalam antara Rasulullah dan pecintanya yang telah sirna dari diri, tenggelam dalam lautan Nur Muhammad.
Di antara karya paling sakral nya adalah lagu "Suluk Wahdatul Wujud", sebuah untaian nada dan makna yang hanya bisa dicerna oleh hati yang telah tercerahkan, jiwa yang telah fana, dan ruh yang telah menyatu dalam hakikat.
Sebelum menjadi tokoh spiritual seperti sekarang, Raden Syair Langit sempat dikenal sebagai musisi muda dengan nama panggung Ren Muhammad Satriany, vokalis, gitaris, sekaligus pencipta lagu grup musik Ilussi. Kini musik itu menjelma menjadi doa, syair menjadi suluk, dan lirik menjadi wasilah menuju Tuhan.
Sebagian lagunya juga menyimpan kisah cinta yang dalam, salah satunya kepada sosok wanita yang namanya telah tersurat dan tersirat begitu dalam, yang mengilhami lagu-lagu cinta penuh air mata:
1. Kulalui Dengan Tangis Tiada henti (2007)
2. Cuni Cuma Kamu Ani (2011)
3. Mengejarmu Kutak Sanggup Pergipun Kutak Mampu (2023)
Raden Syair Langit bukan hanya menjadi wasilah pelanjut ajaran para Guru Agung, tetapi dia adalah penyulam cinta dengan air mata, yang menuliskan syair bukan untuk pujian, tetapi untuk menyadarkan. Namanya dikenang bukan karena ketenaran, melainkan karena getarannya menyentuh langit jiwa.
KARYA-KARYA RADEN SYAIR LANGIT
Karya-karya ini hanya ditulis sampai tulisan ini dikeluarkan. Karena bisa saja kedepannya ada karya Raden Syair Langit yang dikeluarkan, namun catatan ini sudah terlebih dahulu dikeluarkan.
Misalkan di catatan ini ditulis kalau Raden Syair Langit sudah membuat 70 syair lagu, bisa saja kedepannya karya lagunya sudah bertambah lagi menjadi 80 lagu.
-*- silahkan digaris bawahi, catatan ini dibuat pada bulan juli 2025 M -*-
Karya-Karya
1. Kitab Sajatining Mulyo (Kitab yang berisi ajaran penutupnya segala ilmu)
2. Kitab Amaliyah Tarekat Thaifuriyah
3. Pengarang Shalawat Sirrul Makrifat (صاحب صلوات سرّ المعرفة)
4. Pencipta lagu
Tercatat sampai catatan ini dibuat, Raden Syair Langit sudah membuat sekitar 70 lagu kurang lebih.
Inilah daftar lagu karya Raden Syair langit, terhitung dari tahun 2005 M sampai 2026 M
01. Setulus Hati
02. Hanya Aku yang Mencintaimu (Selembut Salju)
03. Kisah Durjana
04. Cinta Abadi
05. Sang Pencinta
06. Mendampingiku
07. Wahai Cintaku
08. Gita (Gema Indah Tentang Asmara)
09. Hidup ini Perjuangan
10. Kulalui Dengan Tangis Tiada Henti
11. Penyesalan
12. Tentang Dirimu
13. Harapan Hati
14. Biarkan Aku Ada Disisimu
15. Cinta Hanya Ilusi
16. Mengejar Cinta
17. Terlalu Dalam
18. Cuni (Cuma Kamu Ani)
19. Honey
20. Mars Ponpes Anharul Ulum
21. Mars Ponpes Manhajul Ulum
22. Mars Ponpes Cikanyere
23. Mars Ponpes Misbahudzulam
24. Mars Alumni Misbahudzulam
25. Mars Sawahud
26. Aku Ya Aku Santri
27. Santri Idaman
28. Muhammad Rizieq Satria Nusantara
29. Laskar Pembela Islam
30. Maut Bernyanyi di Palestina
31. Hentikan Perang Ini
32. Negeriku Jadi Begini
33. Sang Raja Dari Pasundan
34. Kidung Siliwangi
35. Nyeuri Hate
36. Beuki Lila Beuki Cinta
37. Suluk Makrifatullah
38. Maha Guru Mursyid
39. Rinduku Allah
40. Kita yang Mengangkat Tangan Allah yang Turun Tangan
41. Khadijah Istri Rasulullah
42. Nadhom Manaqib Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami
43. Sholawat Sirrul Makrfiat
44. Nusantara Emergency
45. Saat langit Menyingkap Gaunnya
46. Kunci Bahagia
47. Arsyila
48. Pergi Sesaat
49. Akhirnya Cinta Kita Bersua
50. Tak Kasihankah Kau Padaku
51. Mencoba Memalingkan Wajah
52. Samawa
53. Jangan Pergi
54. Cinta Gila
55. Cerita Cinta
56. Salahkah Bila Ku Berharap
57. Cukup Cukuplah Kamu
58. Dilema (Antara Kamu dan Dia)
59. Cara Tuhan Sampaikan Rindunya
60. Tentang Dia Sang Maha Cinta
61. Suluk Wahdatul Wujud
62. Bila Nanti kau Disini
63. Semakin Lama Semakin Dalam
64. Mungkinkah Aku mampu
65. Syair Langit
66. Cinta Tak Terhapus
67. Mengejarmu Kutak Sanggup Pergipun Kutak Mampu
68. Ada Rindu Ada Sayang
69. Bertaubatlah
70. Seberkas Kisah
71. Hanya Satu Nama
CATATAN NASAB RADEN SYAIR LANGIT YANG TERSAMBUNG SAMPAI KE PRABU SILIWANGI “PANGERAN PAMANAH RASA”
Dari Jalur Bapak
1. Prabu Siliwangi III (Raden Jaya Dewata / Sri Baduga Maharaja / Kanjeng Syekh Pangeran Pamanah Rasa)
2. Prabu Munding Surya Ageng
3. Prabu Mundingsari
4. Prabu Pucuk Umum
5. Prabu Haur Kuning
6. Dalem Sarepen Agung
7. Sunan Cihideung
8. Adipati Gayam Canggong (Adipati Rancah ke-1)
9. Adipati Janglatri (Adipati Rancah ke-2)
10. Adipati Belo (Adipati Rancah ke-3)
11. Adipati Janglapa (Adipati Rancah ke-4)
12. Dalem Surapati (Adipati Rancah ke-5)
13. Dalem Suralaksana (Adipati Rancah ke-6)
14. Nyi Raden Parsi (Nyai Ageng Depok)
15. Raden Bagus
16. Raden Suratman
17. Dalem Paduraksa
18. Dalem Wilacandra
19. Eyang Wiladinata
20. Eyang Emoy Wijatma
21. Nyai Hj. Erum (Nyai Hj. Ipah)
22. H. Dede Rohaman
23. Renren Rohmatul Aziz (Raden Syair Langit / Abah Leuweunggede)
Dari Jalur Ibu
1. Prabu Siliwangi III (Raden Jaya Dewata / Sri Baduga Maharaja / Kanjeng Syekh Pangeran Pamanah Rasa)
2. Nyai Rara Santang (Syarifah Mudaim)
3. Raden Syari Hidayatullah (Kanjeng Sunan Gunung Jati)
4. Pangeran Pasarean
5. Panembahan Losari
6. Pangeran Arta Suta Jaya (Dalem Anom)
7. Dalem Satcayuda (Cisontrol)
8. Ngabeni Wangsayuda 1
9. Syekh Durrahman (Kiyai Konjong / Kiyai Abdul Rahman)
10. Kiyai Buyut Ketib Saleh (Jamuresi)
11. Buyut Martawiasan
12. Buyut Martadireja
13. Nyai Armi
14. H. Iwa
15. Hj. Empat Fatimah
16. Renren Rohmatul Aziz (Raden Syair Langit / Abah Leuweunggede)
Dan tercatat sampai tahun 2026 M, Raden Syair Langit baru memiliki 2 orang anak.
1. Rifal Muhammad Al-Ghifari
2. Nyai Ageng Raden Arsyila Ayudiya Mumtaz
🌿 Penutup Biografi
Hidup adalah perjalanan menuju kepada-Nya. Dan setiap langkah yang tertulis dalam biografi ini bukanlah kebanggaan, melainkan kesaksian akan kelemahan seorang hamba, yang tetap berjalan meski sering terjatuh, yang tetap mencinta meski sering kehilangan.
Apa yang tertuang di sini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diambil hikmah, bahwa dalam tiap tangis dan luka, tersimpan cahaya yang menuntun kembali kepada Sang Pencipta.
Renren Rohmatul Aziz - Raden Syair Langit - Abah Leuweunggede
Bukanlah nama untuk diagungkan, tetapi nama yang menjadi saksi, bahwa seorang manusia bisa menyulam cinta dari air mata, dan menjadikannya suluk pulang ke hadirat-Nya.
Maka biarlah biografi ini menjadi lembaran doa yang diam, syair cinta yang tak bersuara, dan nyala kecil yang menerangi siapa pun yang sedang mencari jalan pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar