Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49 (Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49

(Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)

“Jangan banyak berdebat dengan orang bodoh, agar engkau tidak kehilangan wibawamu. Dan jangan banyak bercanda apalagi berlebih-lebihan, semua itu agar engkau tidak dikurang ajari”


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan adab seorang salik dalam menjaga kehormatan diri dan kemuliaan ilmu. Seorang murid jalan sufi tidak boleh membuang waktunya untuk berdebat dengan orang bodoh, yakni orang yang keras kepala, tidak mencari kebenaran, hanya ingin memenangkan ucapan, dan menutup diri dari hikmah. Berdebat dengan mereka tidak akan menghasilkan kebenaran, justru hanya menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan hilangnya wibawa. Ilmu seorang salik tidak akan nampak indah bila dihamburkan dalam perdebatan yang sia-sia.

Ulama salaf mengatakan: “Aku tidak pernah menang dalam berdebat dengan orang berilmu, dan tidak pernah kalah bila berdebat dengan orang bodoh.” Maksudnya, orang berilmu jika kalah akan menerima dan mengambil hikmah, tetapi orang bodoh walau kalah akan tetap membantah. Maka seorang yang berakal lebih memilih diam, karena diamnya lebih bijaksana daripada membuang tenaga untuk menghadapi kebodohan.

Demikian pula dalam pergaulan, seorang salik diajarkan untuk menjaga ucapannya dari terlalu banyak bercanda. Canda yang sedikit dapat menyenangkan hati, namun bila berlebihan akan menjatuhkan kewibawaan. Terlalu banyak canda membuat orang lain meremehkan, bahkan menganggapnya kurang ajar. Sementara hati seorang salik haruslah selalu terjaga, serius dalam ibadah, lembut dalam akhlak, dan bercanda secukupnya tanpa melampaui batas.

Jalan tasawuf adalah jalan keseimbangan. Seorang salik boleh bergurau untuk menghibur hati, tetapi tetap menjaga kesopanan. Ia boleh berbicara untuk menasihati, tetapi tidak tenggelam dalam debat kusir. Inilah adab yang memelihara wibawa, menjaga ilmu dari kehinaan, dan menjadikan lisannya cahaya kebaikan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا 

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”

 (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini menunjukkan adab para hamba Allah yang arif: mereka tidak melayani kebodohan dengan kebodohan, melainkan dengan kedamaian dan meninggalkan perdebatan.

Rasulullah saw bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia berada di pihak yang benar.”

(HR. Abu Dawud)

Dan tentang bercanda, Rasulullah saw bersabda:

لَا تُكْثِرِ الضِّحْكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضِّحْكِ تُـمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”

(HR. Tirmidzi)

Inti Hikmah

Mutiara ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang salik terletak pada diam yang bijaksana dan ucapan yang terjaga.

Jangan habiskan waktumu untuk berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu hanya menurunkan martabat.

Jangan berlebihan dalam bercanda, karena itu hanya akan menghilangkan kewibawaan.

Jagalah lisan, karena ia adalah cermin hati dan kunci kemuliaan seorang pencari Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Rabu, 15 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48 (Seseorang yang Selalu di Rindukan)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48

(Seseorang yang Selalu di Rindukan)


“Tidak sedikit manusia yang telah tiada namun nama baik mereka tetap terjaga, kehidupannya dikenang sepanjang masa, meninggalkan kebaikan kepada sesama.

Jasad mereka telah mati, namun hakikatnya mereka tetap hidup. Kenangan mereka selalu di hati, dan cerita hidupnya tak pernah redup.

Lalu sebaliknya, banyak manusia yang masih hidup, tapi sekaan-akan mereka ini telah mati. Kehidupannya tidak berguna, ke-ingkarannya semakin merajalela. Saat ada, mereka dibenci. Saat mati, mereka disyukuri.

Jadilah manusia yang disaat engkau meninggal, semua orang menangisimu, dan saat engkau hidup, semua orang merindukanmu” 


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan bahwa ukuran hidup manusia bukanlah panjang pendeknya usia, bukan pula banyak sedikitnya harta, melainkan jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Ada manusia yang telah wafat ratusan tahun, tetapi nama mereka tetap harum, doa-doa terus dipanjatkan untuknya, dan manfaat ilmu serta amalnya terus mengalir hingga hari kiamat. Inilah tanda kehidupan yang hakiki: meski jasad telah kembali ke tanah, ruh dan amalnya tetap hidup di hati manusia.

Sebaliknya, ada manusia yang meski masih hidup, namun seakan-akan ia telah mati. Hidupnya tidak memberi manfaat, kehadirannya menjadi beban, ucapannya menyakiti, tindakannya merusak. Orang-orang tidak merindukannya, bahkan merasa lega bila ia tiada. Hidup semacam ini sesungguhnya adalah kematian dalam kehidupan, karena yang bergerak hanyalah jasad, sementara hatinya mati dari cahaya Allah.

Oleh karena itu, seorang salik diingatkan agar menjadi manusia yang dikenang kebaikannya, dirindukan amalnya, ditangisi kepergiannya, dan disyukuri keberadaannya. Hidupnya menjadi rahmat, wafatnya menjadi kehilangan, karena di dalam dirinya ada cahaya Allah yang selalu memberi manfaat bagi sesama.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

(QS. Ali ‘Imran: 169)

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan bukanlah jasad, tetapi ruh yang terhubung dengan Allah.

Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Hadist ini menegaskan bahwa meskipun jasad terkubur, amalnya tetap hidup dan terus mengalir manfaatnya.

Rasulullah saw juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Ahmad, Thabrani)

Maka ukuran kemuliaan hidup adalah seberapa besar manfaat yang ia berikan.

Inti Hikmah

Kehidupan sejati adalah yang meninggalkan jejak kebaikan. Kematian sejati bukanlah ketika ruh keluar dari jasad, melainkan ketika hati mati dari dzikrullah.

Manusia yang dirindukan adalah manusia yang menghadirkan cahaya Allah dalam hidupnya, hingga ia tetap hidup meski jasad telah terkubur.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Rabu, 24 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47 (Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47

(Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)


“Wahai Guru-Guruku tercinta, maafkanlah aku karena aku belum bisa seperti kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran-ajaran kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari wasiat-wasiat kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari perintah-perintah kalian. Dan aku merasa gagal karena belum berhasil melanjutkan perjuangan kalian.

Habis-habisan aku berdakwah kepada umat, habis-habisan aku mendidik seluruh murid, habis-habisan aku mengajak seluruh jamaah. Namun aku sadar, bahwa aku bukanlah kalian. Siapalah aku yang fakir dengan ilmu, yang lemah dan buruk dalam beribadah. Ilmuku, amalku, dan kebajikanku jauh tak seperti kalian.

maafkanlah aku wahai Guru-Guruku tercinta.

Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku disana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian ke surganya Allah ‘Azza Wajalla”


Penjelasan:

Mutiara ini adalah curahan hati seorang murid kepada para guru ruhaninya. Ia memuat kerendahan hati seorang salik yang menyadari bahwa dirinya belum mampu menyamai kemuliaan para masyayikh, ulama, dan mursyid yang membimbingnya di jalan Allah.

Seorang murid yang tulus akan selalu merasa kecil di hadapan gurunya. Semakin ia beramal, semakin ia mengajar, semakin ia berdakwah, semakin ia merasa belum layak. Inilah buah dari ilmu hakiki: bukan kesombongan, melainkan kerendahan diri.


Ungkapan “Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran, wasiat, dan perintah kalian” adalah cerminan kesadaran bahwa warisan ruhani para guru itu amat agung, sementara dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan. Ia telah berusaha sekuat tenaga berdakwah, mendidik, dan membimbing umat, tetapi ia tahu bahwa hasilnya tidak sebanding dengan jerih payah para guru yang menjadi matahari penerang jalan sufi.

Rasa gagal yang ia sebutkan bukanlah kegagalan sejati, melainkan tawadhu’. Sebab seorang murid sejati tidak pernah merasa berhasil, sekalipun orang banyak memujinya. Ia justru merasa hina, lemah, dan fakir di hadapan Allah. Kesadaran seperti inilah yang justru mengangkat derajatnya di sisi Allah dan para guru ruhani.

Kalimat penutup mutiara ini sangat menyentuh: “Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku di sana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian.”

Inilah puncak dari adab seorang murid: ia tidak meminta surga kepada Allah karena ibadahnya, tetapi berharap bisa bersama para gurunya di surga karena cinta dan tawasulnya. Ia sadar amalnya tak cukup, tetapi ia yakin kasih sayang guru akan menolongnya.

Para ulama sufi dahulu pun berdoa serupa,

“Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan guru-guruku di akhirat, karena jika Engkau memisahkan aku, niscaya aku binasa. Surga tanpa mereka bagiku adalah neraka.

Inti Hikmah

Mutiara ini mengajarkan tawadhu’ murid terhadap guru, meskipun sudah beramal besar. Ia menegaskan bahwa ilmu, amal, dan kebajikan murid tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para guru.

Harapan tertingginya bukan hanya surga, melainkan bersama para guru di surga Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat



Kamis, 11 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46 (Tasawuf itu Bukan Teori)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46

(Tasawuf itu Bukan Teori)


“Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.

Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.

Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Penjelasan:

Tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam mutiara ini, bukanlah ilmu yang bisa dimiliki hanya dengan menghafal istilah atau membaca kitab. Ia bukan teori yang bisa diperdebatkan, bukan pula retorika indah yang bisa dibanggakan di hadapan orang banyak. Tasawuf adalah jalan hidup, ia harus dialami, dirasakan, dijalani, dan dibuktikan dengan akhlak serta laku yang nyata.

Seorang salik yang baru mengenal tasawuf seringkali terjebak pada kesombongan ilmu. Ia merasa telah memahami hakikat karena membaca kitab-kitab para ulama sufi, lalu berbicara panjang lebar tentang fana’, baqa’, wujudiyyah, atau makrifatullah. Padahal semua itu hanya kata-kata di bibir, sementara hati dan amalnya jauh dari kenyataan hakikat. Inilah yang diperingatkan: jangan sampai tasawuf menjadi sekadar bualan belaka.

Hakikat tasawuf bukanlah terletak pada lidah, melainkan pada kerendahan hati. Seorang sufi sejati adalah ia yang memandang dirinya hina dibandingkan orang lain, tidak merasa lebih mulia meski mungkin banyak beribadah. Kerendahan diri inilah inti tasawuf, karena ia lahir dari kesadaran bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, sedangkan keburukan semata-mata dari kelemahan diri sendiri.

Tasawuf juga tampak pada sikap tidak membalas kedengkian dengan kedengkian. Seorang sufi tidak menyimpan dendam meski disakiti, karena ia sadar bahwa semua perlakuan makhluk hanyalah perantara dari Allah. Ia memandang bahwa orang yang iri, dengki, dan memusuhi, hanyalah cermin untuk menguji kejernihan hatinya. Bila ia mampu membalas dengan doa, sabar, dan kasih sayang, maka ia telah berjalan di atas jalan tasawuf yang benar.

Lebih dalam lagi, tasawuf adalah kesadaran yang membongkar tabir keakuan. Seorang salik dituntun untuk menyadari bahwa dirinya hanyalah bangkai yang diberi nyawa. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari tubuh ini, sebab hakikatnya hanyalah jasad fana yang suatu saat akan kembali menjadi tanah. Ruh yang ada di dalamnya bukan miliknya, melainkan titipan Allah. Maka siapa yang sombong dengan dirinya, sesungguhnya ia sombong dengan sesuatu yang bukan miliknya.

Puncaknya, tasawuf adalah ketika kata “aku”, “kamu”, dan “kita” lenyap. Hilang segala dualitas, hilang segala sekat, dan yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’, di mana ego luluh, keakuan sirna, dan seorang hamba hanya menyaksikan Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘azza wa jalla yang Maha Hidup, Maha Kekal, dan Maha Berdiri Sendiri. Pada maqam ini, hamba tidak lagi berkata “aku mencintai Allah”, karena “aku” sudah tiada; yang ada hanyalah Allah Yang Mencintai dan Allah Yang Dicintai.

Maka benar adanya, tasawuf bukanlah sekadar teori untuk dipelajari, melainkan laku yang mesti dijalani. Ia adalah perjalanan panjang: dari ilmu menuju amal, dari amal menuju akhlak, dari akhlak menuju fana’, dari fana’ menuju baqa’ billah. Barangsiapa berhenti pada teori, ia hanya akan menjadi orang alim yang sombong; tetapi barangsiapa berjalan dengan rendah hati, maka Allah sendiri yang akan membimbingnya menuju makrifatullah yang hakiki.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45 (Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45

(Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)


“Jika cintamu kepada makhluk tidak berbalas, maka yakinlah, bahwa cintamu kepada Allah akan selalu berbalas.

Berputus asa lah terhadap cintamu kepada makhluk. Dengan berputus asa, hatimu akan beristirahat, dan melupakan segala kesakitan yang tidak berujung.

Tergila-gila lah terhadap cintamu kepada Allah, dengan tergila-gila, hatimu akan tenang, dan mengerti terhadap kesejatian cinta yang sebenarnya.

Cintamu kepada makhluk adalah fana, cintamu kepada Allah adalah abadi. Cintamu kepada makhluk bagaikan lautan kehampaan, dan cintamu kepada Allah, bagaikan lautan kebahagiaan”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44 (Omong Besar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44

(Omong Besar)


“Rencanamu terlalu muluk-muluk, bicaramu terlalu banyak, namun sayang, rencana dan bicaramu tidak sesuai dengan realita.

Omonganmu sepanjang jalan, realisasinya nol besar. Hindari tipikal orang-orang semacam itu, karena mereka adalah tipikal orang-orang yang omong besar. Mereka hanya akan menjauhkan dirimu terhadap perkara yang dekat, dan mendekatkan dirimu terhadap perkara yang jauh”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Selasa, 09 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43 (Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43

(Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)


“Dunia ini bagaikan pasar, ada yang beruntung, ada yang merugi. Manusai didunia berjaya dengan hartanya, sedangkan manusia berjaya di akhirat dengan amalnya.

Dunia itu laksana ular yang berbisa, yang licin dan lembut sentuhannya. Namun bisa racunnya dapat mematikan.

Orang yang bodoh akan terpesona dengannya, sedangkan orang yang berakal akan berhati-hati darinya”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 08 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42 (Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42

(Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)


“Jangan sekali-kali memisahkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dan jangan pula menganggap ada perbedaan antara Ulama ahli syariat dan Ulama ahli hakikat. 

Ingatlah, syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

Jika aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa hakikat, padahal mereka bodoh terhadap hakikat itu sendiri, maka aku akan menjadi Sunan Kalijaga.

Sedangkan, bila aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa syariat, maka aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.

Ngelmuning Sakti Kanjeng Syekh Sunan Kalijogo, Rosone Matih Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Penjelasan:

Mutiara ini menjelaskan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara syariat dan hakikat.

Syariat adalah jalan lahiriah: shalat, puasa, zakat, haji, halal, haram, dan semua tata aturan syar’i yang lainnya.

Hakikat adalah pemahaman batiniah: makna terdalam dari ibadah, penyaksian hati, makrifatullah.

Jika syariat dijalankan tanpa menyentuh hakikat, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, bila hanya mengejar hakikat tanpa syariat, seseorang akan tergelincir pada kesesatan (zindiq), karena menafikan aturan Allah.

Para wali Allah tidak pernah memisahkan keduanya, bahkan menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan yang menyatu: syariat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan keduanya bertemu dalam makrifatullah.

Makna Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam Hikmah Ini

Sunan Kalijaga dikenal dengan keluwesan, mampu menghadapi mereka yang menyalahgunakan hakikat. Beliau memakai bahasa rakyat, seni budaya, dan pendekatan bijaksana untuk mengajarkan bahwa hakikat tanpa syariat tidak bernilai.

Syekh Siti Jenar di sisi lain menjadi simbol keberanian menghadapi ulama yang hanya berpegang pada syariat tanpa memahami hakikat, hingga syariat dijadikan dogma kaku tanpa ruh.

Maka ungkapan Abah:

Jika aku menghadapi ulama su yang merasa hakikat, aku akan menjadi Sunan Kalijaga. Jika aku menghadapi ulama su yang merasa syariat, aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.”

adalah keseimbangan sikap: lembut seperti Sunan Kalijaga di hadapan kebodohan hakikat, tegas seperti Syekh Siti Jenar di hadapan kejumudan syariat.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Buka halaman : 908

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Jumat, 05 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

“Harga dirimu akan tetap terpelihara, sedangkan yang akan merusaknya adalah permintaan mengemis. Oleh karena itu, perhatikanlah kepada siapa kamu meminta tolong, dan kepada siapa kamu mencucurkan air matamu”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Rabu, 03 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-40 (Selalu Menganggap Orang Lain Lebih Baik Dari Kita)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-40

(Selalu Menganggap Orang Lain Lebih Baik Dari Kita)


“Jika engkau ingin membuang keangkuhan, dan merasa diri paling baik, maka lakukanlah hal-hal ini. Saat engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu, bisa jadi kedudukannya disisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.

Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu, orang ini memperoleh karunia yang belum tentu kuperoleh, dia beribadah dengan ilmunya, sedangkan aku beribadah dengan kebodohanku, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang bodoh, maka ucapkanlah dalam hatimu, orang ini bermaksiat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat kepada Allah, padahal aku mengetahui akibatnya, dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu, aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi diakhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan orang kaya, maka katakanlah dalam hatimu, dia banyak bershadaqah karena dia kaya, sedangkan shadaqah ku sedikit karena aku miskin, dia tentu lebih baik dariku.

Dan jika bertemu dengan orang miskin, maka katakanlah dalam hatimu, hisaban dia kelak pasti sedikit, karena dia miskin, sedangkan hisabanku kelak pasti lama karena aku kaya, dia tentu lebih baik dariku.

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Sabtu, 30 Mei 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39 (Sakarepmu)

 Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39

(Sakarepmu)


“Kalian memang bebas mengatur hidup kalian, tapi ingat, ada Allah yang mengatur hidupku, hidup kita dan hidup kalian.

Seandainya seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersujud kepada Allah, Allah tidak untung. Dan sebaliknya, jika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini ingkar kepada Allah, Allah pun tidak rugi. Karena keuntungan atau pun kerugian itu ada pada diri kita, bukan pada Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla.

Kalian taat, Allah sediakan surga. Kalian ingkar, Allah sediakan neraka. Silahkan, kalian bebas mengambil jalan hidup kalian masing-masing”

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Kamis, 23 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-38 (Jangan Bersahabat Dengan Orang yang Kikir)




Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-38

(Jangan Bersahabat Dengan Orang yang Kikir)


“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan orang yang kikir, karena dia tidak akan membantumu dengan hartanya disaat engkau sangat membutuhkannya. Dan berhati-hatilah, jangan berteman dengan seorang pembohong, karena dia itu laksana fatamorgana, mendekatkan sesuatu yang jauh padamu, dan menjauhkan sesuatu darimu terhadap sesuatu yang dekat”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 21 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-37 (Saling Menghargai Adalah Budi Pekerti)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-37

(Saling Menghargai Adalah Budi Pekerti)


“Orang yang ingin dihargai itu adalah orang sombong, namun ingat, saling menghargai adalah budi pekerti.

Tidak sedikit kita menemukan orang-orang yang dengan pongah memperlihatkan kesombongannya. Mungkin mereka berfikir, dengan bersikap seperti itu mereka merasa tinggi, namun mereka lupa, mereka tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka sedang berada didalam posisi yang terendah.

Tidak usahlah repot-repot meninggikan dirimu, karena semakin engkau berusaha meninggikan dirimu, maka justru engkau akan semakin rendah. Lebih baik rendahkan dirimu, sehingga tidak akan ada satu pun orang yang mampu merendahkanmu”







Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Jumat, 17 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-36 (Ilmu Tanpa Amal Adalah Kesia-siaan)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-36
(Ilmu Tanpa Amal Adalah Kesia-siaan)

“Ibadah tanpa ilmu adalah sesat, dan ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan. Sedangkan amal tanpa khusyuk, adalah kerugian.
Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu, dari kebodohan yang menyesatkan, ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyuk, juga amal perbuatan yang tidak diterima di sisi-Mu, dan do’a yang tidak Engkau ijabah.















Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Kamis, 16 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-35 (Penempahan Ilmu & Dzikir)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-35

(Penempahan Ilmu & Dzikir)


“Ahli ilmu itu banyak, yang sedikit itu ahli dzikir. Ahli dizkir itu tukang dzikir, tapi tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli ilmu dan ahli bicara itu banyak, yang sedikit itu adalah ahli amal. Yang dimana, ilmunya dan bicaranya sesuai dengan apa yang di amalkannya”

















Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat



Selasa, 14 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34 (Hakekat Makna Wahdatul Wujud)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-34

(Hakekat Makna Wahdatul Wujud)


“Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, maka pertanyaannya adalah apa yang kami akukan? Jangankan mengaku Allah, mengakui diri pun kami tidak mampu. Kami, kalian, dan seluruh alam semesta beserta isinya ini pada hakikatnya tidak ada, karena yang ada hanyalah Allah.

Pengakuan itu hanya ada bagi yang menganggap dirinya ada, sedangkan kami telah melepaskan keakuan itu. Kita ini berasal dari Allah, untuk Allah, dan kembali lagi kepada Allah.

Segala sesuatu ini terjadi hanya atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi atas kehendak kita. Bagi kami Allah adalah segalanya. Kecintaan kami kepada-Nya tidak akan terukur oleh tingginya gunung dan luasnya samudra.

Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿ’azza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini"

Penjelasan:

Mutiara ini berangkat dari sebuah kesalahpahaman yang kerap dilontarkan kepada para ahli tasawuf, yaitu tuduhan “mengaku Allah”. Padahal, hakikat yang mereka maksud justru sebaliknya: bukan mengaku Allah, bahkan mengaku adanya diri pun mereka tidak mampu.


Sebenanarnya penjelasan tentang Wahdatul Wujud ini sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya, namun disini Abah akan memberikan penjabaran singkat, terkait memaknai Mutiara hikmah ke-34 ini.

Sesungguhnya, “aku” yang dipandang oleh manusia biasa itu hanyalah bayangan, fatamorgana dari wujud Allah yang Maha Esa. Hakikatnya, segala sesuatu selain Allah adalah fana, lenyap, tidak memiliki keberadaan sejati.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۢ • وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

(QS. Ar-Rahman: 26-27)

Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan makhluk pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Yang benar-benar wujud hanyalah Allah.

Menghapus “Keakuan”

Pengakuan hanya muncul dari mereka yang masih merasa dirinya ada. Adapun para arif sejati telah menanggalkan “keakuan”, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata.

Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata:

ٱلتَّصَوُّفُ هُوَ أَنْ يَمُوتَ ٱلْعَبْدُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَحْيَا بِرَبِّهِ 

“Tasawuf adalah ketika seorang hamba mati dari dirinya, lalu hidup dengan Rabb-nya.”

Inilah inti mutiara: lenyapnya ego, tenggelamnya “aku”, sehingga yang tinggal hanyalah Allah Yang Maha Hidup.


Segalanya dari Allah dan untuk Allah

Mutiara ini menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, berjalan untuk Allah, dan kelak kembali kepada Allah.

Firman-Nya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.”

(QS. al-Baqarah: 156)

Maka tidak ada satu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dengan izin-Nya.

Wahdatul Wujud dan Cinta

Bagi para sufi, Wahdatul Wujud bukanlah teori filsafat kering, melainkan pengalaman cinta yang membakar. Cinta kepada Allah tidak dapat diukur oleh luas samudra, tidak dapat ditakar oleh tingginya gunung. Ia melampaui ruang dan waktu, meliputi semesta, dan kembali meniadakan semesta dalam lautan keesaan-Nya.


Rasulullah saw bersabda:

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ

“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu.”

(HR. Tirmidzi)

Dan cinta yang sejati itu akan menghapus segala sesuatu selain Allah.

Doa Abah yang disampaikan pada mutiara ini,

Mutiara ini ditutup dengan doa yang sangat indah:

“Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿazza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini.”

Doa ini adalah jeritan hati seorang arif yang telah merasakan fana’ dari dirinya, lalu memohon agar Allah meneguhkannya dalam baqa’ bersama-Nya.

Kesimpulan

Hakikat Wahdatul Wujud bukanlah pengakuan sebagai Allah, melainkan kesadaran bahwa tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah. Ego dan keakuan telah ditanggalkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’ dan baqa’ dalam suluk tasawuf: fana’ dari diri, baqa’ bersama Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat



Senin, 13 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

 

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33

(Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)


“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketiga macam manusia ini. Pejabat pemerintah yang kejam, seorang ‘alim yang bermuka-muka, dan orang tasawuf gadungan yang pura-pura paham padahal bodoh tentang hakikat tasawuf.

Pejabat pemerintah yang kejam akan mendholimimu. Dan orang ‘alim yang bermuka-muka akan menipumu. Sedangkan orang tasawuf gadungan, dia akan memberika khayalan semu kepadamu.







Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat






Selasa, 07 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32 (Kebaikan Didalam Tiga Perkara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32

(Kebaikan Didalam Tiga Perkara)


“Ada kebaikan didalam tiga perkara. Penglihatan, diam, dan pembicaraaan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil pelajarannya, itu semua adalah kesia-siaan. Sedangkan pembicaraan yang bukan dzikir, itu juga adalah kesia-siaan. Dan diam yang tidak disertai pemikiran, itu adalah kelalaian. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil pelajaran, diamnya karena berfikir, dan pembicaraannya berisi kan dzikir, sembari menangisi dan menyesali kesalahan-kesalahannya.






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Senin, 06 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31 (Antara Melihat dan Mendengar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31

(Tanda Orang yang Arif & Bijaksana)


“Tanda orang arif dan bijak itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristigfar”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Minggu, 05 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30 (Antara Melihat dan Mendengar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30

(Antara Melihat dan Mendengar)


“Tidak sedikit manusia yang mudah terhasut dengan hasutan orang lain. Padahal apa yang ia dengar, belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Ingatlah, manusia itu diberikan dua mata oleh Allah. Maka jangan sampai engkau menilai orang lain dengan telingamu. Nilailah manusia dengan apa yang engkau lihat, bukan dengan apa yang engkau dengar”









Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria) “Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tet...