“Kalian memang bebas mengatur hidup kalian, tapi ingat, ada Allah yang mengatur hidupku, hidup kita dan hidup kalian.
Seandainya seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersujud kepada Allah, Allah tidak untung. Dan sebaliknya, jika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini ingkar kepada Allah, Allah pun tidak rugi. Karena keuntungan atau pun kerugian itu ada pada diri kita, bukan pada Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla.
Kalian taat, Allah sediakan surga. Kalian ingkar, Allah sediakan neraka. Silahkan, kalian bebas mengambil jalan hidup kalian masing-masing”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan orang yang kikir, karena dia tidak akan membantumu dengan hartanya disaat engkau sangat membutuhkannya. Dan berhati-hatilah, jangan berteman dengan seorang pembohong, karena dia itu laksana fatamorgana, mendekatkan sesuatu yang jauh padamu, dan menjauhkan sesuatu darimu terhadap sesuatu yang dekat”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Orang yang ingin dihargai itu adalah orang sombong, namun ingat, saling menghargai adalah budi pekerti.
Tidak sedikit kita menemukan orang-orang yang dengan pongah memperlihatkan kesombongannya. Mungkin mereka berfikir, dengan bersikap seperti itu mereka merasa tinggi, namun mereka lupa, mereka tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka sedang berada didalam posisi yang terendah.
Tidak usahlah repot-repot meninggikan dirimu, karena semakin engkau berusaha meninggikan dirimu, maka justru engkau akan semakin rendah. Lebih baik rendahkan dirimu, sehingga tidak akan ada satu pun orang yang mampu merendahkanmu”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Ibadah tanpa ilmu adalah sesat, dan ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan. Sedangkan amal tanpa khusyuk, adalah kerugian.
Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu, dari kebodohan yang menyesatkan, ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyuk, juga amal perbuatan yang tidak diterima di sisi-Mu, dan do’a yang tidak Engkau ijabah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Ahli ilmu itu banyak, yang sedikit itu ahli dzikir. Ahli dizkir itu tukang dzikir, tapi tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli ilmu dan ahli bicara itu banyak, yang sedikit itu adalah ahli amal. Yang dimana, ilmunya dan bicaranya sesuai dengan apa yang di amalkannya”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Jika ajaran kami dan para pendahulu kami disebut mengaku Allah, maka pertanyaannya adalah apa yang kami akukan? Jangankan mengaku Allah, mengakui diri pun kami tidak mampu. Kami, kalian, dan seluruh alam semesta beserta isinya ini pada hakikatnya tidak ada, karena yang ada hanyalah Allah.
Pengakuan itu hanya ada bagi yang menganggap dirinya ada, sedangkan kami telah melepaskan keakuan itu. Kita ini berasal dari Allah, untuk Allah, dan kembali lagi kepada Allah.
Segala sesuatu ini terjadi hanya atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi atas kehendak kita. Bagi kami Allah adalah segalanya. Kecintaan kami kepada-Nya tidak akan terukur oleh tingginya gunung dan luasnya samudra.
Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿ’azza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini"
Penjelasan:
Mutiara ini berangkat dari sebuah kesalahpahaman yang kerap dilontarkan kepada para ahli tasawuf, yaitu tuduhan “mengaku Allah”. Padahal, hakikat yang mereka maksud justru sebaliknya: bukan mengaku Allah, bahkan mengaku adanya diri pun mereka tidak mampu.
Sebenanarnya penjelasan tentang Wahdatul Wujud ini sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya, namun disini Abah akan memberikan penjabaran singkat, terkait memaknai Mutiara hikmah ke-34 ini.
Sesungguhnya, “aku” yang dipandang oleh manusia biasa itu hanyalah bayangan, fatamorgana dari wujud Allah yang Maha Esa. Hakikatnya, segala sesuatu selain Allah adalah fana, lenyap, tidak memiliki keberadaan sejati.
“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26-27)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan makhluk pada hakikatnya hanyalah pinjaman. Yang benar-benar wujud hanyalah Allah.
Menghapus “Keakuan”
Pengakuan hanya muncul dari mereka yang masih merasa dirinya ada. Adapun para arif sejati telah menanggalkan “keakuan”, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata.
“Tasawuf adalah ketika seorang hamba mati dari dirinya, lalu hidup dengan Rabb-nya.”
Inilah inti mutiara: lenyapnya ego, tenggelamnya “aku”, sehingga yang tinggal hanyalah Allah Yang Maha Hidup.
Segalanya dari Allah dan untuk Allah
Mutiara ini menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, berjalan untuk Allah, dan kelak kembali kepada Allah.
Firman-Nya:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.”
(QS. al-Baqarah: 156)
Maka tidak ada satu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dengan izin-Nya.
Wahdatul Wujud dan Cinta
Bagi para sufi, Wahdatul Wujud bukanlah teori filsafat kering, melainkan pengalaman cinta yang membakar. Cinta kepada Allah tidak dapat diukur oleh luas samudra, tidak dapat ditakar oleh tingginya gunung. Ia melampaui ruang dan waktu, meliputi semesta, dan kembali meniadakan semesta dalam lautan keesaan-Nya.
“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu.”
(HR. Tirmidzi)
Dan cinta yang sejati itu akan menghapus segala sesuatu selain Allah.
Doa Abah yang disampaikan pada mutiara ini,
Mutiara ini ditutup dengan doa yang sangat indah:
“Wahai Sang Maha Cinta, Gusti Sajatining Mulyo Allah ʿazza wa jalla, jangan biarkan kami tenggelam lagi di dalam lautan kehampaan yang fana ini.”
Doa ini adalah jeritan hati seorang arif yang telah merasakan fana’ dari dirinya, lalu memohon agar Allah meneguhkannya dalam baqa’ bersama-Nya.
Kesimpulan
Hakikat Wahdatul Wujud bukanlah pengakuan sebagai Allah, melainkan kesadaran bahwa tiada yang benar-benar wujud kecuali Allah. Ego dan keakuan telah ditanggalkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’ dan baqa’ dalam suluk tasawuf: fana’ dari diri, baqa’ bersama Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketiga macam manusia ini. Pejabat pemerintah yang kejam, seorang ‘alim yang bermuka-muka, dan orang tasawuf gadungan yang pura-pura paham padahal bodoh tentang hakikat tasawuf.
Pejabat pemerintah yang kejam akan mendholimimu. Dan orang ‘alim yang bermuka-muka akan menipumu. Sedangkan orang tasawuf gadungan, dia akan memberika khayalan semu kepadamu.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Ada kebaikan didalam tiga perkara. Penglihatan, diam, dan pembicaraaan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil pelajarannya, itu semua adalah kesia-siaan. Sedangkan pembicaraan yang bukan dzikir, itu juga adalah kesia-siaan. Dan diam yang tidak disertai pemikiran, itu adalah kelalaian. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil pelajaran, diamnya karena berfikir, dan pembicaraannya berisi kan dzikir, sembari menangisi dan menyesali kesalahan-kesalahannya.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Tanda orang arif dan bijak itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristigfar”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Tidak sedikit manusia yang mudah terhasut dengan hasutan orang lain. Padahal apa yang ia dengar, belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Ingatlah, manusia itu diberikan dua mata oleh Allah. Maka jangan sampai engkau menilai orang lain dengan telingamu. Nilailah manusia dengan apa yang engkau lihat, bukan dengan apa yang engkau dengar”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Tidak perlu memikirkan apa yang dibicarakan oleh orang lain tentang dirimu. Ini kehidupan. Ada yang suka, ada yang tidak. Yang penting kamu hidup di jalan Allah. Ingatlah, hidup ini tentang apa yang kita jalani, bukan tentang apa yang mereka komentari”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Orang yang berakal itu tidak akan berbicara dengan orang yang akan mendustakannya. Dan dia juga tidak akan meminta kepada orang yang akan menolaknya, serta tidak akan berjanji pada orang atas sesuatu yang tidak disanggupinya. Dan dia tidak akan berbuat hal-hal yang akan merusak harapannya, serta tidak akan memikul hal-hal yang tidak sanggup memikulnya”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Banyak ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebarluaskan bukan pada maqamnya, niscaya orang-orang akan menganggapku gila dan sesat. Ilmu itu adalah apa yang pernah kita selami dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah, yang di mana sebagian di antaranya tidak boleh disampaikan kalau bukan pada tempatnya. Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya, dan bukan pada tempatnya. Seperti halnya mengupas Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar keilmuan syariat yang kuat, dan tarekat yang benar, justru akan menyebabkan gagal paham dan sesat menyesatkan”
Penjelasan:
Ilmu yang hakiki itu ibarat mutu manikam, permata suci yang berkilauan. Namun, sebagaimana permata tidak boleh dipersembahkan kepada sembarang tangan, demikian pula ilmu tidak layak dibuka kepada setiap telinga. Ada ilmu yang dapat disampaikan kepada khalayak, ada pula yang mesti dijaga dalam dada, hanya untuk mereka yang memiliki kesiapan maqam dan kelayakan ruhani.
“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(HR. Bukhari no. 127)
Hadist ini menegaskan bahwa ilmu harus diletakkan pada tempatnya, jangan dipaksakan pada jiwa yang belum siap. Sebab bila rahasia ruhaniah dibuka pada orang awam, niscaya mereka akan menuduh gila, sesat, atau bahkan kafir, padahal hakikatnya mereka hanya tidak memahami.
Ilmu Lahir dan Ilmu Batin
Ilmu itu ada dua sisi: ilmu lahir yang bersandar pada syariat, dan ilmu batin yang menyingkap rahasia hakikat. Syariat adalah pagar, tarekat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan makrifat adalah penyaksian. Barangsiapa mengupas rahasia batin (Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip) tanpa fondasi syariat yang kokoh dan perjalanan tarekat yang benar, maka yang muncul bukanlah cahaya, melainkan kegelapan.
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(QS. al-Isra’: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa mengobral rahasia ilmu tanpa dasar adalah kezaliman terhadap ilmu itu sendiri.
Kerusakan dan Kebinasaan Ilmu
Mutiara ini juga mengingatkan bahwa kerusakan ilmu terjadi ketika ia hilang dari hati, sedangkan kebinasaan ilmu terjadi ketika ia diajarkan kepada yang bukan ahlinya.
“Jangan berikan hikmah kepada orang yang bukan ahlinya, karena engkau menzalimi hikmah itu. Dan jangan pula engkau menahannya dari ahlinya, karena engkau menzalimi mereka.”
Inilah makna sejati mutiara: ilmu adalah amanat, ia harus dijaga, disampaikan sesuai maqam, agar ia menjadi cahaya penunjuk, bukan api yang membakar.
Kesimpulan
Mutiara ini mengajarkan kehati-hatian dalam menebarkan ilmu. Sebab tidak semua orang siap menanggung rahasia, dan tidak semua telinga layak mendengar kebenaran yang dalam. Ilmu adalah permata, dan permata hanya indah bila berada di tangan yang tepat. Karena itu, seorang murid harus menempuh jalan syariat dan tarekat terlebih dahulu sebelum menyentuh hakikat. Barangsiapa mendahului maqam, niscaya ia akan tersesat oleh bayangannya sendiri.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
(Allah Menyembunykan Ridha-Nya Didalam Taat Seorang Hamba)
“Allah menyembunyikan ridha-Nya di dalam perbuatan taat seseorang kepada Allah. Maka jangan sekali-kali meremehkan atau menghina perbuatan taat seseorang. Karena banyak sekali ketaatan seseorang yang diremehkan. Justru itu yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kita semua tidak tahu taat siapa, perbuatan taat kita yang bagaimana, dan yang seperti apa yang diterima oleh Allah Subhanahu wa taala”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajiban mereka, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan urusan akhirat. Apabila manusia sibuk mengurusi aib cela orang lain, maka uruslah aibmu sendiri. Jika manusia saling memperindah dunianya, maka hiasilah akhiratmu. Dan jika engkau melihat manusia sibuk dengan memperbanyak amal, maka beramallah yang ikhlas. Dan ketika engkau melihat manusia menjadikan makhluk sebagai sesembahannya, maka jadikanlah Allah sebagai sesembahanmu”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
(Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)
“Sifat kesombongan yang ada pada seseorang hanya akan menambah kehinaan bagi penyandangnya. Andai yang ada di tanganmu itu adalah biji-bijian, kemudian ada orang yang mengatakan bahwa yang ada di tanganmu itu adalah permata, maka kata-kata itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagimu. Sebab engkau pun mengetahui bahwa itu hanyalah biji-bijian. Dan andai yang ada di tanganmu itu adalah permata. Lalu manusia berkata bahwa itu hanyalah biji-bijian, maka kata-kata itu pun tidak akan berpengaruh untukmu. Sebab apa? Sebab engkau tahu bahwa itu adalah permata”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Janganlah mudah terkesima dengan seseorang yang engkau nilai hanya dari ucapannya ataupun tulisannya. Sehingga engkau menyimpulkan bahwa orang itu adalah manusia yang luar biasa.
Jangankan hanya baru sekedar rangkaian kata-kata indah bak mutiara, yang dirangkai melalui ucapan ataupun tulisan. Walaupun engkau telah melihat seseorang yang diberikan perkara luar biasa, sampai-sampai dia mampu terbang di atas udara, ataupun berjalan di atas air, maka janganlah tertipu dengannya, sebelum engkau dapat melihat kesungguhannya, dalam melaksanakan perintahan Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan juga dalam menjaga batasan-batasan hukum Allah”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Pada umumnya, manusia akan merasakan sakit saat ia kehilangan apa yang ia cintai. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, sangat manusiawi. Namun agar hati ini tidak jauh lebih terluka, maka ingatlah, sejatinya kita tidak pernah kehilangan apapun. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun.
Allah Subhanahu wa taala berfirman,
"Miliknyalah apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah." Quran surah Thaha ayat 6.
Jika kita mengingat firman Allah tersebut, maka kita akan sadar, bahwa apa yang ada di dalam diri kita, dan apa yang selama ini kita akui milik kita, semuanya hanyalah titipan. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah milik Allah Subhanahu wa taala”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngadawuh, barangsiapa yang bangun dipagi hari, namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat haq Allah padanya, maka ingat, Allah akan menanamkan 4 penyakit pada dirinya.
Kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tiada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan keinginan yang tidak tercapai”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Jika engkau telah mencapai usia 40 tahun atau lebih, dan berada pada suatu perangai atau sikap tertentu, maka engkau akan sulit berubah. Dan itulah gambaran akhir kematianmu.
Jadi jika dalam usia 40 tahun engkau masih menjadi manusia yang ingkar kepada Allah, masih suka dengan maksiat, masih malas dalam beribadah kepada Allah, maka itu adalah gambaran besar kelak kematianmu seperti itu.
Namun jika sebaliknya, di usiamu yang bahkan sebelum 40 tahun engkau yang masih muda sudah mampu menjadi orang yang rajin dan ahli dalam beribadah, maka insyaAllah itu adalah gambaran kelak kematianmu, meninggal dalam keadaan husnul khatimah”
Penjelasan:
Mutiara ini mengandung pesan yang sangat dalam, sebab usia empat puluh tahun adalah titik penting dalam perjalanan seorang hamba. Usia itu bukan sekedar angka, melainkan sebuah gerbang menuju kematangan ruhani dan ketetapan watak. Apa yang tertanam di usia itu ibarat ukiran pada batu: sulit dihapus, sulit pula diubah.
Apabila seseorang telah mencapai umur empat puluh tahun, namun tetap berada dalam kelalaian, tenggelam dalam maksiat, dan enggan kembali kepada Allah, maka itu pertanda keras dari Allah. Sebab hati yang keras di usia itu akan semakin jauh dari cahaya iman. Namun sebaliknya, jika sejak usia muda ia menghiasi hidupnya dengan ibadah, dzikrullah, dan amal saleh, maka InsyaAllah, ia akan dipelihara Allah hingga akhir hayatnya dalam keadaan husnul khatimah.
Dengan kata lain, usia empat puluh adalah cermin kematian: bagaimana engkau hidup, demikian pula engkau akan wafat.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanyA, hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar aku tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”
Ayat ini memberi isyarat bahwa usia 40 tahun adalah waktu taubat besar dan peneguhan amal saleh.
"Barangsiapa yang telah mencapai usia 40 tahun, namun kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah menuju neraka."
(HR. Abu Ya’la, Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Hadis mengenai peringatan usia 40 tahun ini adalah hadist yang dinilai lemah (ḍaʻif) atau bahkan ada yang tidak jelas status periwayatannya, karena keterbatasan sanad dan periwayatan yang kurang kuat dari kitab-kitab hadist yang kredibel, meskipun maknanya sering dijadikan renungan untuk lebih bertaqwa di usia matang, seperti yang dicontohkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang doa bersyukur di usia 40 tahun.
Status Hadis:
Hadis Da'if/Tidak Jelas:
Sebagian ulama hadist menyatakan bahwa hadist ini memiliki status yang lemah (ḍaʻif) atau bahkan tidak jelas periwayatannya.
Tidak Ada Sumber Kuat:
Ketidakjelasan ini disebabkan oleh sanad (rantai periwayatan) yang tidak memenuhi syarat hadist sahih, seperti yang ada pada kitab-kitab hadis primer yang terpercaya.
Makna dan Renungan:
Meskipun status hadisnya tidak kuat, maknanya mengandung pesan moral yang sangat penting.
Usia 40 tahun dianggap sebagai usia "kematangan" di mana seseorang diharapkan memiliki kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 15: Ayat ini mengabadikan doa Nabi Muhammad SAW ketika usia Beliau dan sahabat Abu Bakar mencapai 40 tahun, yang memohon bimbingan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan dapat beramal saleh yang diridai-Nya.
Pesan yang Disampaikan:
Hadist ini meskipun lemah, dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah dan amal baik, meniru teladan para Nabi dan Sahabat yang menjadikan usia 40 tahun sebagai titik tolak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan
Usia 40 adalah puncak ujian sekaligus cermin kematian. Barangsiapa yang masih lalai, maka hatinya semakin sulit berubah. Namun barangsiapa yang menempuh jalan taubat, mengokohkan ibadah, dan menjaga diri dari maksiat, maka Allah akan menjaganya hingga akhir hayat.
Perlu digarisbawahi dengan penuh kehati-hatian, jangan sampai mutiara hikmah ini disalahpahami. Ia bukanlah isyarat bahwa sebelum usia empat puluh tahun manusia boleh bersantai dalam kelalaian. Tidak demikian. Sebab umur adalah rahasia Allah, dan kematian tidak pernah bertanya: “Apakah engkau masih muda atau telah renta, sedang sehat atau sedang sakit” Hakikat ajal hanyalah Allah yang mengetahuinya, dan ia datang tanpa menunggu kesiapan hamba.
Mutiara ini hanya menegaskan satu perkara: apabila seseorang telah melewati usia empat puluh tahun, namun masih juga gemar mengingkari Allah, masih bergelimang dalam maksiat, dan belum juga tersentuh oleh ingatan akan kematian, maka sungguh betapa buruk perangainya. Umur yang seharusnya menjadi lentera pengingat justru dibiarkan redup tanpa cahaya. Ia telah beranjak tua, namun jiwanya tetap kanak-kanak dalam kelalaian.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya