Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah Raden Syair Langit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58 (Tidak Ada Wali yang Meyepelekan Syariat)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58

(Tidak Ada Wali yang Meyepelekan Syariat)


 “Wali Allah itu ibadahnya semakin luar biasa, berbeda dengan manusia biasa, jangankan yang wajib, yang sunnah pun serasa wajib. Jadi tidak ada Wali Allah yang menyepelekan urusan-urusan wajib seperti shalat.

Kalau kalian menemukan orang yang disebut Wali atau mengaku-ngaku Wali tetapi meninggalkan shalat atau perkara-perkara lainnya yang diwajibkan oleh Allah, maka dia bukanlah Wali Allah, tetapi hanya pecundang yang mengaku-ngaku Wali Allah, diikuti oleh orang-orang bodoh, disanjung oleh orang-orang linglung.

Maha Guru Mursyid kami, Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, beigitupun Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, adalah pelaku amal ibadah yang luar biasa, jangankan shalat wajib, yang sunnah-pun serasa wajib. Diceritakan dalam manaqbinya, shalat sunnah tahajud Beliau semenjak dari usia tujuh tahun tidak pernah putus semalam seratus raka’at.

Ucapan seorang Wali adalah hikmah, diamnya adalah tafakkur, penglihatannya adalah pelajaran dan amalnya adalah kebaikan.


Penjelasan:

Hakikat seorang Wali adalah manusia yang paling tunduk, taat, dan patuh terhadap perintah Allah. Kedekatan mereka dengan Allah tidak menjadikan mereka bebas dari syariat, justru semakin kuat berpegang pada syariat. Karena syariat adalah pondasi, dan hakikat adalah buahnya.

Seorang Wali sejati tidak akan pernah menyepelekan shalat, karena shalat adalah tiang agama.

Rasulullah saw bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ

"Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama."

(HR. Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman)

Allah SWT juga berfirman - menegaskan tanda para Wali:

إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."

(QS. Yunus: 62–63)

Ketakwaan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan di lisan, melainkan ketaatan penuh terhadap perintah dan larangan Allah. Sehingga tidak mungkin seorang yang benar-benar Wali Allah menyepelekan syariat.

Adapun orang yang mengaku Wali tetapi meninggalkan shalat, maka sesungguhnya mereka hanyalah tukang tipu yang memperdaya orang-orang jahil. Ulama besar seperti Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:

كُلُّ طَرِيقٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ زَنْدَقَةٌ

"Setiap jalan (tarekat) yang tidak disaksikan (didukung) oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah zindiq (sesat)."

Wali Allah justru menambah amal-amal sunnah hingga terasa wajib dalam dirinya. Seperti yang dicontohkan oleh Syekh Abu Yazid al-Busthami, yang sejak kecil melatih diri dengan shalat sunnah ratusan rakaat setiap malam. Itu adalah bukti bahwa cinta kepada Allah melahirkan pengabdian tanpa batas.


Senin, 07 September 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-57 (Saat Engkau Mengecewakan Orang Lain)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-57

(Saat Engkau Mengecewakan Orang Lain)


“Jangan pernah engkau mengharap kembali kejernihan hubungan dengan orang yang pernah kau cemari nama baiknya, kau kecewakan hidupnya, kau ingkari janji dengan dirinya, dan kau hianati kebaikannya.

Terkadang saat seseorang mulai menghindar darimu, itu semua dikarenakan ia lebih baik pergi, dari pada membalas semua keburukanmu.

Mungkin ia tidak dendam, tetapi luka yang pernah engkau berikan bisa saja membekas seumur hidupnya.



Minggu, 30 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-56 (Hari itu Ada Tiga)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-56 (Hari itu Ada Tiga)


“Hari itu ada tiga, pertama adalah hari yang telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Yang kedua adalah hari ini, maka carilah kebaikan sebanyak mungkin. Dan yang ketiga adalah hari esok yang masih merupakan angan-angan dan harapan, dimana hari itu entah akan kita temui atau tidak.

Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia telah celaka. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui apakah ada tambahan kebaikan untuk dirinya, disetiap hari yang telah ia lewati, maka ia telah berada dalam kekurangan. Dan barangsiapa yang berada dalam kekurangan, maka matinya lebih baik daripada hidupnya.”

Rabu, 26 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-55 (Saat Terluka dan Kecewa)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-55 (Saat Terluka dan Kecewa)


“Saat kita terluka, saat kita kecewa, adakalanya kita menangis, tidak apa-apa, namanya juga manusia, asalkan air mata yang menetes itu engkau curahkan kepada yang Maha Memiliki kita, yakni Allah ‘azza wa jalla, maka setiap tetesan air mata yang mengalir, kelak akan menjadi saksi, bahwa engkau adalah hamba yang lemah, yang selalu memasrahkan segala sesuatunya hanya kepada Dia Sang Maha Cinta yakni Allah SWT.”

Sabtu, 22 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-54 (Hati itu Ibarat Ibu Kota Sebuah Negara)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-54

(Hati itu Ibarat Ibu Kota Sebuah Negara)


“Hati itu ibarat Ibu Kota sebuah Negara, jika Ibu Kotanya hancur, maka Negara-pun ikut hancur. Begitulah juga dengan hati manusia, jika hati rusak dan sakit, maka badan-pun akan ikut rusak dan sakit. Yang lebih berbahaya, adalah ketika mental, akhlak dan kelakuan manusia menjadi hancur rusak dan sakit.

Marodul qulub مرض القلوب bisa menyebabkan marodul abdan مرض الأبدان, sedangkan marodul abdan tidak menjadikan marodul qulub” 


*penjelasan per bait* 
. ٱلْقَلْبُ كَعَاصِمَةِ ٱلدَّوْلَةِ، فَإِذَا خَرِبَتِ ٱلْعَاصِمَةُ خَرِبَتِ ٱلدَّوْلَةُ بِأَسْرِهَا
Artinya:
Hati itu laksana ibu kota sebuah negara. Jika ibu kotanya hancur, maka seluruh negara pun ikut hancur.
Penjelasan:
Dalam tatanan wujud manusia, hati (qalb) adalah pusat komando batin, tempat lahirnya niat, cinta, makrifat, dan arah perjalanan spiritual. Sebagaimana ibu kota menjadi pusat kekuasaan dan pengatur segala urusan negara, hati pun mengatur seluruh laku, ucapan, dan arah hidup seseorang. Jika hati rusak, maka semua aspek hidup pun rusak.
وَكَذَلِكَ قَلْبُ ٱلْإِنسَانِ، إِذَا فَسَدَ وَمَرِضَ، فَسَدَ ٱلْجَسَدُ وَمَرِضَ
Artinya:
Demikian pula hati manusia. Jika rusak dan sakit, maka tubuh pun akan ikut rusak dan sakit.
Penjelasan:
Hadits Nabi saw menyatakan:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik; dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati."
Penyakit hati (hasad, riya', ujub, ghurur) bisa menimbulkan penyakit jasmani karena menyiksa batin, memunculkan stres, dan memutus ketenangan ruhani.
وَٱلْأَخْطَرُ مِنْ ذَٰلِكَ: إِذَا فَسَدَتِ ٱلنَّفْسِيَّةُ، وَٱلْأَخْلَاقُ، وَٱلسُّلُوكُ
Dan yang lebih berbahaya dari itu adalah: jika rusak jiwa, akhlak, dan perilaku.
Penjelasan:
Kerusakan hati yang tidak segera diobati akan merusak nafsiyah (mental spiritual), lalu menjalar ke akhlak (moral), dan akhirnya terlihat nyata dalam suluk (perilaku). Ini adalah kehancuran berlapis: dari dalam batin, keluar menjadi keburukan sosial dan moral. Dalam tasawuf, ini disebut tadarruj fi al-suquṭ التدرّج في السقوط (jatuhnya ruhani secara bertahap).
. فَإِنَّهَا تُدَمِّرُ ٱلْإِنسَانَ تَدْمِيرًا
Maka sesungguhnya itu akan menghancurkan manusia sehancur-hancurnya.
Penjelasan:
Ini adalah peringatan spiritual. Rusaknya jiwa dan akhlak akan membawa manusia menuju kehancuran total, tidak hanya secara fisik dan sosial, tapi juga di hadapan Allah. Ia kehilangan jati diri sebagai ‘abd (hamba), kehilangan cahaya ruhaniyah, dan akhirnya terpuruk dalam gelapnya hawa nafsu dan syahwat.
فَمَرَضُ ٱلْقُلُوبِ قَدْ يُسَبِّبُ مَرَضَ ٱلْأَبْدَانِ
Penyakit hati bisa menyebabkan penyakit badan.
Penjelasan:
Dalam dunia medis pun, telah terbukti bahwa stres, dengki, marah, dan perasaan negatif lainnya berdampak langsung pada kondisi fisik: tekanan darah naik, jantung terganggu, imunitas melemah. Dalam pandangan tasawuf, qalbun maridh akan menarik bala (ujian), karena hatinya sudah menyimpang dari fitrah dzikir dan tawakal.
وَلَٰكِنَّ مَرَضَ ٱلْأَبْدَانِ لَا يُؤَدِّي إِلَىٰ مَرَضِ ٱلْقُلُوبِ
Tetapi penyakit badan tidak menyebabkan penyakit hati.
Penjelasan:
Penyakit badan adalah ujian lahir, dan tidak serta-merta menjadikan seseorang berdosa atau rusak secara batin. Justru banyak auliya’ Allah diuji dengan penyakit fisik, namun hati mereka bersih, sabar, ridha, dan makin dekat kepada Allah. Maka siapa yang menjaga hatinya tetap sehat, ia tetap mulia di sisi Allah, meski raga lemah dan sakit.

Kamis, 20 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-53 (Kami atau Kalian yang Gila)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-53

(Kami atau Kalian yang Gila)


“Sejatinya, merekalah manusia yg tak mengenal Allah yg gila, mereka melihat kami gila, karena justru merekalah yang gila dan tak sampai kepada maqam kami.

Pada hakikatnya, orang yg gila itu adalah orang yg mengaku ber-Tuhan kepada Allah, tapi mereka tidak ber-makrifat kepada-Nya, ingkar kepada-Nya, dan tak mau taat kepada-Nya. Dan mereka itu belum mampu memahami, dan belum mampu untuk mengerti, tentang hakikat sajatining urip yang sebenanrya.

Kalian melihat kegilaan dari kegilaan kalian sendiri, sedangkan kami melihat kegilaan dari kewarasan kami sendiri”


Penjelasan:

Sejak dahulu para pecinta Allah (ahlullah) sering dituduh “gila” oleh manusia biasa. Mereka dianggap aneh, bahkan tidak waras, karena hidup mereka berbeda dari kebanyakan orang. Namun, yang sesungguhnya gila adalah orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi tidak mengenal-Nya, tidak taat kepada-Nya, bahkan mengingkari-Nya.

Hakikat kegilaan menurut para arif adalah keterputusan dari Allah. Sebab, bila hati tidak mengenal Allah, ruh tidak mengingat Allah, dan hidup tidak diarahkan kepada Allah, maka sejatinya ia berada dalam kegilaan yang lebih dalam daripada sekadar sakit jiwa.

Sedangkan kewarasan sejati ialah mengenal Allah, mencintai-Nya, dan tenggelam dalam cahaya makrifat. Itulah sebabnya, Abah mengatakan: “Jika cinta kami kepada Allah disebut gila, maka biarlah dunia menyebut kami gila, karena dalam kegilaan itu kami menemukan kewarasan yang sejati.”

Mereka yang belum mencapai maqam makrifat hanya menilai lahiriah: cara bicara, cara ibadah, atau sikap zahir para pecinta Allah. Padahal, hakikat sejati (sajatining urip) hanya bisa dipahami dengan hati yang jernih, bukan dengan akal yang dangkal.

Gusti Allah ngadawuh di dalam Al-Qur’an:

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

 “Tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabut: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa memahami hakikat, hanya mereka yang diberi ilmu dan makrifat oleh Allah.

Tuduhan Kaum Kafir kepada Rasulullah saw:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

 Dan mereka berkata: ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar gila’.”

(QS. Al-Hijr: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tuduhan “gila” kepada orang yang dekat dengan Allah sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda:

أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْمَجَانِينُ

 “Kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang yang (dulu dianggap) gila.”

(HR. Ad-Dailami)

Maknanya: orang-orang yang oleh manusia dinilai gila karena zuhud, ibadah, dan cintanya kepada Allah, padahal merekalah yang waras di sisi Allah.

Inti Hikmah

Gila yang hakiki: mengaku ber-Tuhan tapi tidak mengenal Allah.

Waras yang hakiki: mengenal, mencinta, dan taat kepada Allah.

Dunia melihat para pencinta Allah sebagai gila, padahal kewarasan sejati ada di pihak mereka.

Rabu, 19 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-52 (Menganggap Allah Ada Tapi Merasa Allah Tiada)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-52 (Menganggap Allah Ada Tapi Merasa Allah Tiada)

“Bagaimana bisa engkau menyebut Allah itu ada tapi sekaligus engkau merasa Dia tidak ada? Dan bagaimana mungkin engkau menganggap Allah itu nampak, namun dirimu tidak melihat Allah nampak?

Kosongkan dirimu dari khayalan semu, angkatlah tubuhmu dari manusia serta makhluk lainnya.

Bicaralah tentang Allah sesuai dengan pengetahuanmu, dan tenggelamkanlah dirimu dalam lautan cinta kepada-Nya, agar engkau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”

Penjelasan:
Banyak orang meyakini bahwa Allah itu ada (wujudullah), tetapi dalam kehidupan sehari-harinya ia merasa seakan-akan Allah tiada. Bibir mengucapkan “Allah ada”, namun hati tidak menghadirkan-Nya dalam rasa dan kesadaran. Itulah yang disebut dengan iman yang hanya sebatas lisan dan pikiran, tetapi belum turun ke dalam hati dan ruh.
Orang yang benar-benar mengenal Allah (arif billah), ia tidak hanya berhenti pada ucapan, melainkan hatinya senantiasa hadir bersama Allah. Baginya, Allah lebih nyata daripada segala sesuatu, meski Allah tidak bisa dijangkau oleh pancaindra.
Kekosongan hati dari kesadaran Allah membuat seseorang terjebak pada ilusi, khayalan, dan keterikatan dengan makhluk. Sebaliknya, jika ia mengosongkan dirinya dari segala bayangan semu, melepaskan ketergantungannya pada manusia dan makhluk, maka jiwanya akan terangkat kepada Allah, hingga ia merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupannya.
Mengenal Allah bukanlah sekedar wacana, melainkan pengalaman batin yang lahir dari cinta, dzikir, dan penyerahan diri total. Ketika seorang hamba tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, ia akan mencapai maqam makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Gusti Allah ngadawuh:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu ada dan menyertai, namun banyak manusia lalai hingga merasa seolah Allah tidak ada.
Gusti Allah ngadawuh di dalam Hadis Qudsi:
أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari Muslim)
Ini menegaskan pentingnya menghadirkan Allah dalam hati. Barang siapa menyangka Allah dekat dan ada, maka ia akan merasakan kehadiran-Nya.

Senin, 17 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-51 (Lebih Baik Diam)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-51 (Lebih Baik Diam)


“Lebih baik kamu diam, sekiranya apa yang kamu bicarakan tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak sedikit orang yang banyak bicara, namun tidak sesuai dengan realita. Bicaranya tinggi, namun tidak sesuai dengan bukti. Bicaranya manis, namun sayang mulutnya lamis.

Oleh karena itu, diam akan lebih baik dari pada bicara yang hanya mengandung omong kosong belaka”



Sabtu, 25 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50

(Sifat Seorang Kesatria)


“Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tetap bertahan di saat yang lain telah lari bersembunyi dari medan perang.

Terkadang seorang kesatria dan pecundang itu memiliki perbedaan yang hanya terhalang sehelai keretas. Kesatria mati-matian memperjuangkan kemenangan, sedangkan pecundang mencari keuntungan dari kemenangan tersebut.

Seorang kesatria itu bisa melihat setiap masalah bisa ditangani, karena itu ia akan berani menceburkan diri ke dalam bahaya sebesar apapun.

Engkau tak akan mampu mengajak seorang kesatria untuk berprilaku tak jujur, karena jika engkau berhasil, sebenarnya engkau hanya berhasil menggoda orang-orang yang berpura-pura menjadi seorang kestria, dan pada hakikatnya mereka itu hanyalah pecundang.

Seorang kesatria akan menempa dirinya dengan ribuan hari pelatihan, karena jika tidak demikian, tidak mungkin mereka mampu bertahan dalam kondisi yg sangat menakutkan.

Bagaikan sebilah pedang, semakin keras ditempah, semakin kuat pula pedang tersebut. Begitulah para kesatria memaknai penderitaan yang dialaminya”


Penjelasan:

Kesatria adalah simbol keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati. Seorang kesatria bukan sekadar mereka yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi juga mereka yang berperang melawan hawa nafsu, melawan ketakutan dalam dirinya, serta menegakkan kebenaran walau seluruh dunia menentangnya.
Perbedaan antara kesatria dan pecundang terkadang sangat tipis. Pecundang mungkin terlihat gagah dari luar, namun ketika berhadapan dengan ujian yang nyata, ia akan mencari aman, lari dari tanggung jawab, bahkan mengambil keuntungan dari hasil perjuangan orang lain. Sedangkan kesatria, betapapun berat ujian yang menimpanya, tetap memilih untuk bertahan. Ia tidak bersembunyi, ia tidak lari, karena dalam dirinya ada jiwa pengorbanan.
Seorang kesatria sejati tidak akan tergoda dengan tipu daya untuk berbuat curang atau meninggalkan kejujuran. Jika ia masih bisa diperdaya untuk berlaku tidak jujur, itu tanda bahwa ia belum menjadi kesatria, melainkan hanya berpura-pura. Kesatria juga sadar bahwa dirinya tidak lahir dalam keadaan siap, tetapi ia ditempa oleh latihan, pengalaman, dan penderitaan yang panjang. Penderitaan yang dialaminya bukan dianggap beban, tetapi justru ditempatkan sebagai jalan pembentukan diri.
Bagaikan sebilah pedang, semakin lama ditempa api dan pukulan palu, semakin tajam dan kuatlah ia. Demikian pula seorang kesatria, semakin besar rintangan yang ia hadapi, semakin kuat jiwanya, semakin tinggi derajatnya, dan semakin layak ia disebut sebagai kesatria sejati.
Al-Qur’an - Tentang Kesabaran dan Keberanian di Medan Perjuangan
اللَّهُ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.”
(QS. Ash-Shaff: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang kesatria adalah sosok yang teguh, tidak goyah, dan penuh pengorbanan.
Hadis Rasulullah saw - Tentang Kesatria Sejati
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الغَضَبِ
Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa kesatria sejati bukan hanya kuat fisiknya, melainkan kuat jiwanya, mampu menahan nafsu, dan tetap menjaga kejujuran serta kesabaran.

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Jumat, 17 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49 (Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49

(Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)

“Jangan banyak berdebat dengan orang bodoh, agar engkau tidak kehilangan wibawamu. Dan jangan banyak bercanda apalagi berlebih-lebihan, semua itu agar engkau tidak dikurang ajari”


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan adab seorang salik dalam menjaga kehormatan diri dan kemuliaan ilmu. Seorang murid jalan sufi tidak boleh membuang waktunya untuk berdebat dengan orang bodoh, yakni orang yang keras kepala, tidak mencari kebenaran, hanya ingin memenangkan ucapan, dan menutup diri dari hikmah. Berdebat dengan mereka tidak akan menghasilkan kebenaran, justru hanya menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan hilangnya wibawa. Ilmu seorang salik tidak akan nampak indah bila dihamburkan dalam perdebatan yang sia-sia.

Ulama salaf mengatakan: “Aku tidak pernah menang dalam berdebat dengan orang berilmu, dan tidak pernah kalah bila berdebat dengan orang bodoh.” Maksudnya, orang berilmu jika kalah akan menerima dan mengambil hikmah, tetapi orang bodoh walau kalah akan tetap membantah. Maka seorang yang berakal lebih memilih diam, karena diamnya lebih bijaksana daripada membuang tenaga untuk menghadapi kebodohan.

Demikian pula dalam pergaulan, seorang salik diajarkan untuk menjaga ucapannya dari terlalu banyak bercanda. Canda yang sedikit dapat menyenangkan hati, namun bila berlebihan akan menjatuhkan kewibawaan. Terlalu banyak canda membuat orang lain meremehkan, bahkan menganggapnya kurang ajar. Sementara hati seorang salik haruslah selalu terjaga, serius dalam ibadah, lembut dalam akhlak, dan bercanda secukupnya tanpa melampaui batas.

Jalan tasawuf adalah jalan keseimbangan. Seorang salik boleh bergurau untuk menghibur hati, tetapi tetap menjaga kesopanan. Ia boleh berbicara untuk menasihati, tetapi tidak tenggelam dalam debat kusir. Inilah adab yang memelihara wibawa, menjaga ilmu dari kehinaan, dan menjadikan lisannya cahaya kebaikan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا 

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”

 (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini menunjukkan adab para hamba Allah yang arif: mereka tidak melayani kebodohan dengan kebodohan, melainkan dengan kedamaian dan meninggalkan perdebatan.

Rasulullah saw bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia berada di pihak yang benar.”

(HR. Abu Dawud)

Dan tentang bercanda, Rasulullah saw bersabda:

لَا تُكْثِرِ الضِّحْكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضِّحْكِ تُـمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”

(HR. Tirmidzi)

Inti Hikmah

Mutiara ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang salik terletak pada diam yang bijaksana dan ucapan yang terjaga.

Jangan habiskan waktumu untuk berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu hanya menurunkan martabat.

Jangan berlebihan dalam bercanda, karena itu hanya akan menghilangkan kewibawaan.

Jagalah lisan, karena ia adalah cermin hati dan kunci kemuliaan seorang pencari Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Rabu, 15 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48 (Seseorang yang Selalu di Rindukan)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48

(Seseorang yang Selalu di Rindukan)


“Tidak sedikit manusia yang telah tiada namun nama baik mereka tetap terjaga, kehidupannya dikenang sepanjang masa, meninggalkan kebaikan kepada sesama.

Jasad mereka telah mati, namun hakikatnya mereka tetap hidup. Kenangan mereka selalu di hati, dan cerita hidupnya tak pernah redup.

Lalu sebaliknya, banyak manusia yang masih hidup, tapi sekaan-akan mereka ini telah mati. Kehidupannya tidak berguna, ke-ingkarannya semakin merajalela. Saat ada, mereka dibenci. Saat mati, mereka disyukuri.

Jadilah manusia yang disaat engkau meninggal, semua orang menangisimu, dan saat engkau hidup, semua orang merindukanmu” 


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan bahwa ukuran hidup manusia bukanlah panjang pendeknya usia, bukan pula banyak sedikitnya harta, melainkan jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Ada manusia yang telah wafat ratusan tahun, tetapi nama mereka tetap harum, doa-doa terus dipanjatkan untuknya, dan manfaat ilmu serta amalnya terus mengalir hingga hari kiamat. Inilah tanda kehidupan yang hakiki: meski jasad telah kembali ke tanah, ruh dan amalnya tetap hidup di hati manusia.

Sebaliknya, ada manusia yang meski masih hidup, namun seakan-akan ia telah mati. Hidupnya tidak memberi manfaat, kehadirannya menjadi beban, ucapannya menyakiti, tindakannya merusak. Orang-orang tidak merindukannya, bahkan merasa lega bila ia tiada. Hidup semacam ini sesungguhnya adalah kematian dalam kehidupan, karena yang bergerak hanyalah jasad, sementara hatinya mati dari cahaya Allah.

Oleh karena itu, seorang salik diingatkan agar menjadi manusia yang dikenang kebaikannya, dirindukan amalnya, ditangisi kepergiannya, dan disyukuri keberadaannya. Hidupnya menjadi rahmat, wafatnya menjadi kehilangan, karena di dalam dirinya ada cahaya Allah yang selalu memberi manfaat bagi sesama.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

(QS. Ali ‘Imran: 169)

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan bukanlah jasad, tetapi ruh yang terhubung dengan Allah.

Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Hadist ini menegaskan bahwa meskipun jasad terkubur, amalnya tetap hidup dan terus mengalir manfaatnya.

Rasulullah saw juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Ahmad, Thabrani)

Maka ukuran kemuliaan hidup adalah seberapa besar manfaat yang ia berikan.

Inti Hikmah

Kehidupan sejati adalah yang meninggalkan jejak kebaikan. Kematian sejati bukanlah ketika ruh keluar dari jasad, melainkan ketika hati mati dari dzikrullah.

Manusia yang dirindukan adalah manusia yang menghadirkan cahaya Allah dalam hidupnya, hingga ia tetap hidup meski jasad telah terkubur.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Rabu, 24 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47 (Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47

(Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)


“Wahai Guru-Guruku tercinta, maafkanlah aku karena aku belum bisa seperti kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran-ajaran kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari wasiat-wasiat kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari perintah-perintah kalian. Dan aku merasa gagal karena belum berhasil melanjutkan perjuangan kalian.

Habis-habisan aku berdakwah kepada umat, habis-habisan aku mendidik seluruh murid, habis-habisan aku mengajak seluruh jamaah. Namun aku sadar, bahwa aku bukanlah kalian. Siapalah aku yang fakir dengan ilmu, yang lemah dan buruk dalam beribadah. Ilmuku, amalku, dan kebajikanku jauh tak seperti kalian.

maafkanlah aku wahai Guru-Guruku tercinta.

Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku disana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian ke surganya Allah ‘Azza Wajalla”


Penjelasan:

Mutiara ini adalah curahan hati seorang murid kepada para guru ruhaninya. Ia memuat kerendahan hati seorang salik yang menyadari bahwa dirinya belum mampu menyamai kemuliaan para masyayikh, ulama, dan mursyid yang membimbingnya di jalan Allah.

Seorang murid yang tulus akan selalu merasa kecil di hadapan gurunya. Semakin ia beramal, semakin ia mengajar, semakin ia berdakwah, semakin ia merasa belum layak. Inilah buah dari ilmu hakiki: bukan kesombongan, melainkan kerendahan diri.


Ungkapan “Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran, wasiat, dan perintah kalian” adalah cerminan kesadaran bahwa warisan ruhani para guru itu amat agung, sementara dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan. Ia telah berusaha sekuat tenaga berdakwah, mendidik, dan membimbing umat, tetapi ia tahu bahwa hasilnya tidak sebanding dengan jerih payah para guru yang menjadi matahari penerang jalan sufi.

Rasa gagal yang ia sebutkan bukanlah kegagalan sejati, melainkan tawadhu’. Sebab seorang murid sejati tidak pernah merasa berhasil, sekalipun orang banyak memujinya. Ia justru merasa hina, lemah, dan fakir di hadapan Allah. Kesadaran seperti inilah yang justru mengangkat derajatnya di sisi Allah dan para guru ruhani.

Kalimat penutup mutiara ini sangat menyentuh: “Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku di sana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian.”

Inilah puncak dari adab seorang murid: ia tidak meminta surga kepada Allah karena ibadahnya, tetapi berharap bisa bersama para gurunya di surga karena cinta dan tawasulnya. Ia sadar amalnya tak cukup, tetapi ia yakin kasih sayang guru akan menolongnya.

Para ulama sufi dahulu pun berdoa serupa,

“Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan guru-guruku di akhirat, karena jika Engkau memisahkan aku, niscaya aku binasa. Surga tanpa mereka bagiku adalah neraka.

Inti Hikmah

Mutiara ini mengajarkan tawadhu’ murid terhadap guru, meskipun sudah beramal besar. Ia menegaskan bahwa ilmu, amal, dan kebajikan murid tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para guru.

Harapan tertingginya bukan hanya surga, melainkan bersama para guru di surga Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat



Kamis, 11 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46 (Tasawuf itu Bukan Teori)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46

(Tasawuf itu Bukan Teori)


“Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.

Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.

Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Penjelasan:

Tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam mutiara ini, bukanlah ilmu yang bisa dimiliki hanya dengan menghafal istilah atau membaca kitab. Ia bukan teori yang bisa diperdebatkan, bukan pula retorika indah yang bisa dibanggakan di hadapan orang banyak. Tasawuf adalah jalan hidup, ia harus dialami, dirasakan, dijalani, dan dibuktikan dengan akhlak serta laku yang nyata.

Seorang salik yang baru mengenal tasawuf seringkali terjebak pada kesombongan ilmu. Ia merasa telah memahami hakikat karena membaca kitab-kitab para ulama sufi, lalu berbicara panjang lebar tentang fana’, baqa’, wujudiyyah, atau makrifatullah. Padahal semua itu hanya kata-kata di bibir, sementara hati dan amalnya jauh dari kenyataan hakikat. Inilah yang diperingatkan: jangan sampai tasawuf menjadi sekadar bualan belaka.

Hakikat tasawuf bukanlah terletak pada lidah, melainkan pada kerendahan hati. Seorang sufi sejati adalah ia yang memandang dirinya hina dibandingkan orang lain, tidak merasa lebih mulia meski mungkin banyak beribadah. Kerendahan diri inilah inti tasawuf, karena ia lahir dari kesadaran bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, sedangkan keburukan semata-mata dari kelemahan diri sendiri.

Tasawuf juga tampak pada sikap tidak membalas kedengkian dengan kedengkian. Seorang sufi tidak menyimpan dendam meski disakiti, karena ia sadar bahwa semua perlakuan makhluk hanyalah perantara dari Allah. Ia memandang bahwa orang yang iri, dengki, dan memusuhi, hanyalah cermin untuk menguji kejernihan hatinya. Bila ia mampu membalas dengan doa, sabar, dan kasih sayang, maka ia telah berjalan di atas jalan tasawuf yang benar.

Lebih dalam lagi, tasawuf adalah kesadaran yang membongkar tabir keakuan. Seorang salik dituntun untuk menyadari bahwa dirinya hanyalah bangkai yang diberi nyawa. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari tubuh ini, sebab hakikatnya hanyalah jasad fana yang suatu saat akan kembali menjadi tanah. Ruh yang ada di dalamnya bukan miliknya, melainkan titipan Allah. Maka siapa yang sombong dengan dirinya, sesungguhnya ia sombong dengan sesuatu yang bukan miliknya.

Puncaknya, tasawuf adalah ketika kata “aku”, “kamu”, dan “kita” lenyap. Hilang segala dualitas, hilang segala sekat, dan yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’, di mana ego luluh, keakuan sirna, dan seorang hamba hanya menyaksikan Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘azza wa jalla yang Maha Hidup, Maha Kekal, dan Maha Berdiri Sendiri. Pada maqam ini, hamba tidak lagi berkata “aku mencintai Allah”, karena “aku” sudah tiada; yang ada hanyalah Allah Yang Mencintai dan Allah Yang Dicintai.

Maka benar adanya, tasawuf bukanlah sekadar teori untuk dipelajari, melainkan laku yang mesti dijalani. Ia adalah perjalanan panjang: dari ilmu menuju amal, dari amal menuju akhlak, dari akhlak menuju fana’, dari fana’ menuju baqa’ billah. Barangsiapa berhenti pada teori, ia hanya akan menjadi orang alim yang sombong; tetapi barangsiapa berjalan dengan rendah hati, maka Allah sendiri yang akan membimbingnya menuju makrifatullah yang hakiki.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45 (Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45

(Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)


“Jika cintamu kepada makhluk tidak berbalas, maka yakinlah, bahwa cintamu kepada Allah akan selalu berbalas.

Berputus asa lah terhadap cintamu kepada makhluk. Dengan berputus asa, hatimu akan beristirahat, dan melupakan segala kesakitan yang tidak berujung.

Tergila-gila lah terhadap cintamu kepada Allah, dengan tergila-gila, hatimu akan tenang, dan mengerti terhadap kesejatian cinta yang sebenarnya.

Cintamu kepada makhluk adalah fana, cintamu kepada Allah adalah abadi. Cintamu kepada makhluk bagaikan lautan kehampaan, dan cintamu kepada Allah, bagaikan lautan kebahagiaan”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44 (Omong Besar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44

(Omong Besar)


“Rencanamu terlalu muluk-muluk, bicaramu terlalu banyak, namun sayang, rencana dan bicaramu tidak sesuai dengan realita.

Omonganmu sepanjang jalan, realisasinya nol besar. Hindari tipikal orang-orang semacam itu, karena mereka adalah tipikal orang-orang yang omong besar. Mereka hanya akan menjauhkan dirimu terhadap perkara yang dekat, dan mendekatkan dirimu terhadap perkara yang jauh”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Selasa, 09 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43 (Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43

(Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)


“Dunia ini bagaikan pasar, ada yang beruntung, ada yang merugi. Manusai didunia berjaya dengan hartanya, sedangkan manusia berjaya di akhirat dengan amalnya.

Dunia itu laksana ular yang berbisa, yang licin dan lembut sentuhannya. Namun bisa racunnya dapat mematikan.

Orang yang bodoh akan terpesona dengannya, sedangkan orang yang berakal akan berhati-hati darinya”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 08 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42 (Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42

(Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)


“Jangan sekali-kali memisahkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dan jangan pula menganggap ada perbedaan antara Ulama ahli syariat dan Ulama ahli hakikat. 

Ingatlah, syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

Jika aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa hakikat, padahal mereka bodoh terhadap hakikat itu sendiri, maka aku akan menjadi Sunan Kalijaga.

Sedangkan, bila aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa syariat, maka aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.

Ngelmuning Sakti Kanjeng Syekh Sunan Kalijogo, Rosone Matih Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Penjelasan:

Mutiara ini menjelaskan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara syariat dan hakikat.

Syariat adalah jalan lahiriah: shalat, puasa, zakat, haji, halal, haram, dan semua tata aturan syar’i yang lainnya.

Hakikat adalah pemahaman batiniah: makna terdalam dari ibadah, penyaksian hati, makrifatullah.

Jika syariat dijalankan tanpa menyentuh hakikat, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, bila hanya mengejar hakikat tanpa syariat, seseorang akan tergelincir pada kesesatan (zindiq), karena menafikan aturan Allah.

Para wali Allah tidak pernah memisahkan keduanya, bahkan menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan yang menyatu: syariat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan keduanya bertemu dalam makrifatullah.

Makna Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam Hikmah Ini

Sunan Kalijaga dikenal dengan keluwesan, mampu menghadapi mereka yang menyalahgunakan hakikat. Beliau memakai bahasa rakyat, seni budaya, dan pendekatan bijaksana untuk mengajarkan bahwa hakikat tanpa syariat tidak bernilai.

Syekh Siti Jenar di sisi lain menjadi simbol keberanian menghadapi ulama yang hanya berpegang pada syariat tanpa memahami hakikat, hingga syariat dijadikan dogma kaku tanpa ruh.

Maka ungkapan Abah:

Jika aku menghadapi ulama su yang merasa hakikat, aku akan menjadi Sunan Kalijaga. Jika aku menghadapi ulama su yang merasa syariat, aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.”

adalah keseimbangan sikap: lembut seperti Sunan Kalijaga di hadapan kebodohan hakikat, tegas seperti Syekh Siti Jenar di hadapan kejumudan syariat.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Buka halaman : 908

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Jumat, 05 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

“Harga dirimu akan tetap terpelihara, sedangkan yang akan merusaknya adalah permintaan mengemis. Oleh karena itu, perhatikanlah kepada siapa kamu meminta tolong, dan kepada siapa kamu mencucurkan air matamu”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Rabu, 03 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-40 (Selalu Menganggap Orang Lain Lebih Baik Dari Kita)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-40

(Selalu Menganggap Orang Lain Lebih Baik Dari Kita)


“Jika engkau ingin membuang keangkuhan, dan merasa diri paling baik, maka lakukanlah hal-hal ini. Saat engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu, bisa jadi kedudukannya disisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.

Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu, orang ini memperoleh karunia yang belum tentu kuperoleh, dia beribadah dengan ilmunya, sedangkan aku beribadah dengan kebodohanku, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang bodoh, maka ucapkanlah dalam hatimu, orang ini bermaksiat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat kepada Allah, padahal aku mengetahui akibatnya, dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu, aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi diakhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk, dia tentu lebih baik dariku.

Jika bertemu dengan orang kaya, maka katakanlah dalam hatimu, dia banyak bershadaqah karena dia kaya, sedangkan shadaqah ku sedikit karena aku miskin, dia tentu lebih baik dariku.

Dan jika bertemu dengan orang miskin, maka katakanlah dalam hatimu, hisaban dia kelak pasti sedikit, karena dia miskin, sedangkan hisabanku kelak pasti lama karena aku kaya, dia tentu lebih baik dariku.

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Sabtu, 30 Mei 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39 (Sakarepmu)

 Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39

(Sakarepmu)


“Kalian memang bebas mengatur hidup kalian, tapi ingat, ada Allah yang mengatur hidupku, hidup kita dan hidup kalian.

Seandainya seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersujud kepada Allah, Allah tidak untung. Dan sebaliknya, jika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini ingkar kepada Allah, Allah pun tidak rugi. Karena keuntungan atau pun kerugian itu ada pada diri kita, bukan pada Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla.

Kalian taat, Allah sediakan surga. Kalian ingkar, Allah sediakan neraka. Silahkan, kalian bebas mengambil jalan hidup kalian masing-masing”

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9