Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-20
(Rahasia di Usia Empat Puluh Tahun)
“Jika engkau telah mencapai usia 40 tahun atau lebih, dan berada pada suatu perangai atau sikap tertentu, maka engkau akan sulit berubah. Dan itulah gambaran akhir kematianmu.
Jadi jika dalam usia 40 tahun engkau masih menjadi manusia yang ingkar kepada Allah, masih suka dengan maksiat, masih malas dalam beribadah kepada Allah, maka itu adalah gambaran besar kelak kematianmu seperti itu.
Namun jika sebaliknya, di usiamu yang bahkan sebelum 40 tahun engkau yang masih muda sudah mampu menjadi orang yang rajin dan ahli dalam beribadah, maka insyaAllah itu adalah gambaran kelak kematianmu, meninggal dalam keadaan husnul khatimah”
Penjelasan:
Mutiara ini mengandung pesan yang sangat dalam, sebab usia empat puluh tahun adalah titik penting dalam perjalanan seorang hamba. Usia itu bukan sekedar angka, melainkan sebuah gerbang menuju kematangan ruhani dan ketetapan watak. Apa yang tertanam di usia itu ibarat ukiran pada batu: sulit dihapus, sulit pula diubah.
Apabila seseorang telah mencapai umur empat puluh tahun, namun tetap berada dalam kelalaian, tenggelam dalam maksiat, dan enggan kembali kepada Allah, maka itu pertanda keras dari Allah. Sebab hati yang keras di usia itu akan semakin jauh dari cahaya iman. Namun sebaliknya, jika sejak usia muda ia menghiasi hidupnya dengan ibadah, dzikrullah, dan amal saleh, maka InsyaAllah, ia akan dipelihara Allah hingga akhir hayatnya dalam keadaan husnul khatimah.
Dengan kata lain, usia empat puluh adalah cermin kematian: bagaimana engkau hidup, demikian pula engkau akan wafat.
Al-Qur’an - tentang doa usia 40 tahun
Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًۭا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًۭا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Artinya:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanyA, hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar aku tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”
Ayat ini memberi isyarat bahwa usia 40 tahun adalah waktu taubat besar dan peneguhan amal saleh.
Hadis tentang tanda hati keras setelah 40 tahun
Rasulullah aw bersabda:
مَنْ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ
Artinya:
"Barangsiapa yang telah mencapai usia 40 tahun, namun kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah menuju neraka."
(HR. Abu Ya’la, Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Hadis mengenai peringatan usia 40 tahun ini adalah hadist yang dinilai lemah (ḍaʻif) atau bahkan ada yang tidak jelas status periwayatannya, karena keterbatasan sanad dan periwayatan yang kurang kuat dari kitab-kitab hadist yang kredibel, meskipun maknanya sering dijadikan renungan untuk lebih bertaqwa di usia matang, seperti yang dicontohkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang doa bersyukur di usia 40 tahun.
Status Hadis:
Hadis Da'if/Tidak Jelas:
Sebagian ulama hadist menyatakan bahwa hadist ini memiliki status yang lemah (ḍaʻif) atau bahkan tidak jelas periwayatannya.
Tidak Ada Sumber Kuat:
Ketidakjelasan ini disebabkan oleh sanad (rantai periwayatan) yang tidak memenuhi syarat hadist sahih, seperti yang ada pada kitab-kitab hadis primer yang terpercaya.
Makna dan Renungan:
Meskipun status hadisnya tidak kuat, maknanya mengandung pesan moral yang sangat penting.
Usia 40 tahun dianggap sebagai usia "kematangan" di mana seseorang diharapkan memiliki kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 15: Ayat ini mengabadikan doa Nabi Muhammad SAW ketika usia Beliau dan sahabat Abu Bakar mencapai 40 tahun, yang memohon bimbingan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan dapat beramal saleh yang diridai-Nya.
Pesan yang Disampaikan:
Hadist ini meskipun lemah, dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah dan amal baik, meniru teladan para Nabi dan Sahabat yang menjadikan usia 40 tahun sebagai titik tolak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan
Usia 40 adalah puncak ujian sekaligus cermin kematian. Barangsiapa yang masih lalai, maka hatinya semakin sulit berubah. Namun barangsiapa yang menempuh jalan taubat, mengokohkan ibadah, dan menjaga diri dari maksiat, maka Allah akan menjaganya hingga akhir hayat.
Perlu digarisbawahi dengan penuh kehati-hatian, jangan sampai mutiara hikmah ini disalahpahami. Ia bukanlah isyarat bahwa sebelum usia empat puluh tahun manusia boleh bersantai dalam kelalaian. Tidak demikian. Sebab umur adalah rahasia Allah, dan kematian tidak pernah bertanya: “Apakah engkau masih muda atau telah renta, sedang sehat atau sedang sakit” Hakikat ajal hanyalah Allah yang mengetahuinya, dan ia datang tanpa menunggu kesiapan hamba.
Mutiara ini hanya menegaskan satu perkara: apabila seseorang telah melewati usia empat puluh tahun, namun masih juga gemar mengingkari Allah, masih bergelimang dalam maksiat, dan belum juga tersentuh oleh ingatan akan kematian, maka sungguh betapa buruk perangainya. Umur yang seharusnya menjadi lentera pengingat justru dibiarkan redup tanpa cahaya. Ia telah beranjak tua, namun jiwanya tetap kanak-kanak dalam kelalaian.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar