Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Amalan di dalam tarekat, sebuah jalan ruhaniyah
Di dalam setiap tarekat yang bersanad dan berakar dari sumber yang murni, senantiasa terdapat amalan-amalan yang diwariskan secara turun-temurun kepada para muridnya. Amalan ini bukan sekedar rutinitas ibadah lahiriah, melainkan merupakan washilah, jembatan ruhani, yang mengantarkan sang salik menuju penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.
Setiap tarekat memiliki susunan amalan yang khas dan tersendiri, sesuai dengan warisan dari silsilah para mursyidnya. Namun secara hakikat, inti dari semua tarekat sejati tetaplah satu, yaitu menghidupkan hati dengan dzikir, memperkuat ikatan batin dengan Allah, serta membersihkan nafs dari kegelapan duniawi.
Secara umum, amalan-amalan tarekat mencakup unsur-unsur yang serupa: dzikir lisan dan dzikir qalbu, muraqabah, mujahadah, serta riyadhah yang terukur dan dibimbing. Perbedaan-perbedaan di antara tarekat hanyalah dalam rincian bentuk dan metode, namun semua berpulang pada tujuan yang sama, yaitu “Sajatining Mulyo”, kemuliaan sejati, yang hanya dapat diraih dengan taufik dan inayah dari Sang Maha Mulya.
Talqin Dzikir تلقين الذكر
Pengertian Talqin Dzikir
Secara bahasa, talqin (التلقين) berasal dari kata laqana yulaqinu talqinan (لَقَّنَ – يُلَقِّنُ – تَلْقِينًا) yang berarti mengajarkan sesuatu secara langsung dari guru kepada murid dengan cara menanamkan di hati dan lisan.
لَقَّنَ (laqana) jenis: Fi‘il maḍi (kata kerja lampau) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Memberitahukan dengan ucapan secara langsung. Membimbing lisan seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Menuntun atau menanamkan kalimat tertentu agar melekat di hati.
Contoh lughawi:
لَقَّنَهُ الشَّهَادَةَ → “Dia menuntunnya membaca syahadat.”
يُلَقِّنُ (yulaqqinu) jenis: Fi‘il muḍari‘ (kata kerja sekarang/akan datang) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Sedang atau akan mengajarkan secara langsung. Menuntun seseorang mengucapkan sesuatu saat ini atau di masa mendatang.
Contoh lughawi:
هُوَ يُلَقِّنُ الطِّفْلَ السُّورَةَ → “Dia sedang mengajarkan surat itu kepada anak kecil.”
تَلْقِينًا (talqinan) jenis: Maṣdar (kata benda dasar dari kata kerja) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Proses mengajarkan atau menuntun ucapan. Penanaman bacaan dalam ingatan dan hati. Mengulang-ulang agar seseorang hafal dan paham.
Contoh lughawi:
التَّلْقِينُ فِي التَّعْلِيمِ مُهِمٌّ → “Talqin dalam pengajaran adalah hal yang penting.”
Sedangkan dzikr (الذِكْر) berarti mengingat. Dalam konteks tasawuf, dzikir adalah mengingat Allah Ta‘ala dengan hati, lisan, dan seluruh wujud.
Jadi, talqin dzikir adalah proses pengajaran dzikir dari seorang guru tarekat kepada muridnya, dengan tata cara yang terjaga sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, dan memiliki tujuan agar dzikir itu masuk ke dalam qalbu, menembus sirr, dan menghidupkan ruhani murid di jalan suluk.
Talqin dzikir تلقين الذكر adalah salah satu amalan yang dilakukan didalam sebuah tarekat, yang melibatkan bimbingan atau pengajaran dzikir dari seorang guru kepada muridnya.
Jadi, "talqin dzikir" secara harfiah berarti "pengajaran dzikir" atau "mengajarkan untuk mengingat Allah.”
Didalam tarekat, talqin dzikir merujuk pada proses membimbing seseorang untuk mengucapkan dzikir tertentu, seperti kalimat tauhid لا إله إلا الله (la ilaha illallah) atau mengucapkan dzikir Ismu Dzat الله (Allah).
Talqin dzikir itu mendiktekan ismu Dzat Allah secara lahir dan bathin, jadi tidak hanya mencakup pengajaran dzikir secara lahir, karena kalau bicara lahir, orang yang bukan Islam pun tahu dan bisa menyebutkan lafadz lailahaillallah atau-pun lafadz Allah, karena memang lafadz-nya pendek dan mudah di hafal. Tetapi talqin dzikir ini harus berkaitan juga dengan mendiktekan ismu Dzat Allah secara batin.
Kedudukan Talqin Dzikir dalam Tarekat
Talqin dzikir adalah pintu gerbang utama dalam perjalanan seorang salik di jalan tarekat. Sebab, dzikir yang diajarkannya langsung diberikan oleh guru tarekat yang bersambung sanadnya, yang dimana hasil dari talqin tersebut, akan memberikan asrar (rahasia) dan barakah yang tidak didapatkan sekedar dari membaca sendiri.
Tujuan utama talqin dzikir adalah membersihkan hati dari kelalaian dan penyakit hati, serta membimbing seseorang untuk mengingat Allah secara lebih mendalam. Dalam arti lain, orang yang di talqin dzikir, berharap bisa menjadi ahli dzikir.
Ahli dzikir dan tukang dzikir itu beda. Ahli dzikir pasti tukang dzikir, sedangkan tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli dzikir itu tak dibatasi lisan, tak dibatasi ruang, dan tak dibatasi waktu. Sedang apapun, sedang dimanapun, hati-nya selalu hidup untuk mengingat Allah. Dzikir nya tak terhalang pekerjaan. Jangankan sedang shalat, ataupun sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, sedang apapun ia, sedang mengobrol, sedang bekerja, hatinya tetap berdzikir kepada Allah.
Tukang dzikir itu baru mampu berdzikir saat dia memang sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, seperti wiridan ba’da shalat fardhu, atau sedang menghadiri amaliyah di majelis-majelis yang ia datangi.
Mirisnya, terkadang sedang melafalkan dzikirpun, yang keluar dari lisannya adalah kalimat pujian kepada Allah, ternyata Allah tidak ada dihatinya. Allah hanya ada dilisannya.
Ahli dzikir itu, saat melafalkan dzikirnya, sembari hidup juga hatinya. Begitupun saat lisannya tidak sedang melafalkan dzikir, tapi hatinya tetap berdzikir, disetiap waktu yang ia lewati, disetiap hembusan nafas yang ia lalui.
Para ulama sufi menjelaskan:
مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
“Barang siapa tidak memiliki syekh (pembimbing), maka syekhnya adalah setan.”
Dengan talqin, seorang salik menerima warisan ruhani yang bersambung dari hati Rasulullah saw, dan bukan hanya sekedar rangkaian lafadz.
Dzikir itu bagaikan cahaya yang diterima dari cahaya sebelumnya. Sehingga cahayanya terus berpindah, sambung menyambung dari qalbu guru ke qalbu murid-muridnya.
Dalil-Dalil Tentang Talqin Dzikir
Al-Qur’an
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ
“Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.”
(QS. Al-Muzzammil: 8)
Ayat ini menjadi dasar dzikir, sedangkan talqin adalah metode Rasulullah saw mengajarkan dzikir kepada para sahabatnya.
فَسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ahli dzikir di sini termasuk para guru tarekat yang mewarisi ilmu dan amalan dzikir.
Hadits Nabi Muhammad saw
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْكَبَ سُفُنَ النَّجَاةِ، وَيَسْتَمْسِكَ بِعُرَى الإِيمَانِ، وَيَرْكَبَ سُبُلَ الرَّشَادِ، فَلْيُوَالِ وَلِيِّي، وَلْيُعَادِ عَدُوِّي، وَلْيَأْتَمَّ بِالأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِي
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa yang mencintai untuk menaiki kapal-kapal keselamatan, berpegang teguh pada tali-tali iman, dan menempuh jalan-jalan petunjuk, maka hendaklah ia mencintai waliku, memusuhi musuhku, dan mengikuti para pemimpin (imam) setelahku."
Hadits ini meskipun tidak secara eksplisit menyebut talqin, namun memberi isyarat bahwa mengikuti pimpinan ruhani (imam/mursyid) adalah kunci keselamatan.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mentalqin Sayyidina ‘Ali dengan dzikir la ilaha illallah, dengan meletakkan tangan beliau di dada ‘Ali, seraya bersabda:
غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tutup matamu, dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illallah.”
Inilah yang menjadi dasar praktik talqin dalam tarekat.
Ijma’ Ulama Tasawuf
Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah menegaskan, bahwa dzikir yang diambil langsung dari guru tarekat, akan membawa nur (cahaya) yang berbeda dengan dzikir yang hanya dibaca tanpa bimbingan sanad.
Proses Talqin Dzikir
Pelaksanaan talqin dzikir dalam tarekat memiliki adab yang tinggi. Dan pada pelaksanaannya, disetiap tarekat memiliki metode yang mungkin berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Persiapan: Murid berwudhu, membersihkan hati dari kesibukan dunia, dan duduk dengan penuh adab di hadapan orang yang akan mentalqin.
Izin guru: Talqin dilakukan dengan izin dan kesiapan batin kedua belah pihak.
Pembacaan Dzikir: Guru mengucapkan dzikir dengan tartil, menghembuskan nafas ruhani ke qalbu murid.
Penanaman Rahasia Dzikir: Guru terkadang meletakkan tangan di dada, atau tangan memegang tangan, atau juga memegang kepala murid sebagai simbol perpindahan sir.
Pengulangan: Murid mengulangi lafadz dzikir sesuai bimbingan guru, hingga terasa hidup di dalam hati.
Wasiyyah: Guru memberi pesan adab dalam menjaga dzikir itu sepanjang hidup.
Hikmah Talqin Dzikir
Menghubungkan sanad ruhani dari Rasulullah saw kepada salik. Menghidupkan qalbu sehingga dzikir menjadi hadir, bukan sekedar lafadz. Menanamkan adab dalam berdzikir. Mendapat limpahan barakah dari guru dan silsilah tarekat. Dan membuka pintu makrifat dengan izin Allah.
Penutup Hikmah
التَّلْقِينُ بَابُ الدُّخُولِ إِلَى حَضْرَةِ اللهِ، فَمَنْ دَخَلَ بِغَيْرِ التَّلْقِينِ كَمَنْ دَخَلَ بَيْتًا مِنْ غَيْرِ بَابِهِ
“Talqin adalah pintu masuk ke hadirat Allah. Siapa yang masuk tanpa talqin, bagaikan masuk ke rumah tanpa pintunya.”
Dengan demikian, talqin dzikir bukan sekedar formalitas, melainkan warisan agung dari hati ke hati yang telah berjalan sejak zaman Rasulullah saw, dipelihara oleh para sahabat, tabi’in, hingga sampai kepada para mursyid di zaman ini.
Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla ngadawuh didalam Al-Quran,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٧٤
“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Talqin dzikir dapat memberikan berbagai manfaat spiritual, dan bisa menjadi sala satu sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar