Minggu, 08 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-2 (Melepaskan Keakuan)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-2

(Melepaskan Keakuan)


“Tabir penutup kalbumu tak akan tersibak selama engkau belum lepas dari alam ciptaan dan isinya, dan tidak berpaling darinya, dalam keadaan hidup selama hawa nafsumu belum pupus. Engkau harus mampu melepaskan diri dari kemaujudan dunia dan akhirat, agar jiwamu bisa bersatu dengan kehendak Allah SWT. Jiwamu akan bersatu dengan kehendak Allah SWT dan mencapai kedekatan dengan-Nya, lewat pertolongan-Nya.

Makna hakiki bersatu dengan Allah SWT ialah berlepas diri dari makhluk dan kedirian atau keakuan, serta sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa gerakmu, yang ada hanya kehendak-Nya.

Inilah keadaan fana dirimu, dan dalam keadaaan itulah engkau bersatu dengan-Nya, bukan bersatu dengan ciptaan-Nya”

Penjelasan:

لَنْ يُكْشَفَ ٱلسِّتْرُ عَنْ قَلْبِكَ، مَا دُمْتَ لَمْ تَتَخَلَّصْ مِنَ ٱلْخَلْقِ وَمَا فِيهِ، وَلَمْ تَتَوَلَّ عَنْهُ، وَأَنْتَ حَيٌّ مَا لَمْ تَمُتْ نَفْسُكَ.

Artinya:

Tabir penutup hatimu tidak akan tersingkap selama engkau belum lepas dari makhluk dan seluruh isinya, dan belum berpaling darinya, selama hawa nafsumu belum mati.

Penjelasan:

Ini menyentuh maqam tajrid تجريد dan zuhud زهد yang hakiki. Penempuh jalan makrifat tak akan dapat menyaksikan cahaya Allah (kasyf) selama hatinya masih sibuk dengan ciptaan (makhluk), keduniaan, dan hawa nafsu. Nafsu harus "mati" agar ruh dapat "hidup.”

يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تَتَخَلَّصَ مِنْ وُجُودِ ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ، لِتَتَّحِدَ نَفْسُكَ بِمَشِيئَةِ ٱللّٰهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ.

Artinya:

Engkau harus mampu melepaskan diri dari keberadaan dunia dan akhirat, agar jiwamu bersatu dengan kehendak Allah SWT.

Penjelasan:

Ini adalah maqam ittihad al-iradah اتحاد الإرادة, yakni menyatunya kehendak hamba dengan kehendak Allah. Bukan berarti hamba menjadi Tuhan (نعوذبالله من ذالك) "kami berlindung kepada Allah dari hal itu”, tapi ini tentang semua keinginannya melebur dan menyatu dalam ridha dan kehendak Allah. Bahkan keinginan terhadap surga pun ditanggalkan, demi murninya sebuah mahabbah.

وَتَتَّحِدُ نَفْسُكَ بِمَشِيئَةِ ٱللّٰهِ، وَتَنَالُ ٱلْقُرْبَ مِنْهُ، بِعَوْنِهِ وَمَعُونَتِهِ.

Artinya:

Jiwamu akan bersatu dengan kehendak Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya, melalui pertolongan dan bantuan-Nya.

Penjelasan:

Kedekatan kepada Allah (taqorruban Ilallah تقربا إلى اللّه) bukan karena usaha pribadi semata, tapi karena pertolongan dan rahmat-Nya. Fana’ fil-masyi’ah فَنَاءٌ فِي ٱلْمَشِيئَةِ akan membawa si hamba ke dalam maqam tafwidh تفويض, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah sepenuhnya.

وَمَعْنَى ٱلْإِتِّحَادِ ٱلْحَقِيقِيِّ بِٱللّٰهِ، هُوَ ٱلْبَرَاءَةُ مِنَ ٱلْخَلْقِ وَمِنَ ٱلنَّفْسِ وَمِنَ ٱلْأَنَانِيَّةِ، وَٱلْمُوَافَقَةُ لِمَشِيئَتِهِ، دُونَ حَرَكَتِكَ، فَٱلْمَوْجُودُ هُوَ مَشِيئَتُهُ وَحْدَهُ

Artinya:

Makna hakiki bersatu dengan Allah ialah berlepas diri dari makhluk, dari nafsu, dan dari keakuan, serta sejalan dengan kehendak-Nya, tanpa campur gerakmu. Yang ada hanyalah kehendak-Nya.

Penjelasan:

Ini adalah inti dari fana’ anil khalq wa an-nafs فَنَاءٌ عَنِ ٱلْخَلْقِ وَٱلنَّفْسِ, dan puncak maqam tawhid af‘al توحيد ٱلأفعال. Dalam keadaan ini, hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku, semua disandarkan kepada Allah semata. Seperti dawuhan Rasul saw, yang diabadikan didalam Al-Quran,

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

“Aku tidak melempar, tapi Allah yang melempar.”

(QS. Al-Anfal: 17) (potongan ayat)

هٰذَا هُوَ حَالُ فَنَائِكَ، وَفِي هٰذَا ٱلْحَالِ تَتَّحِدُ بِهِ، لَا بِخَلْقِهِ.

Artinya:

Inilah keadaan fana dirimu. Dan dalam keadaan itulah engkau bersatu dengan-Nya, bukan dengan makhluk-Nya.

Penjelasan:

Fana’ bukan berarti menyatu secara dzat (ittihad dzati اتحاد ذاتي, yang sesat), melainkan lenyapnya kesadaran terhadap selain Allah. Dalam keadaan ini, hati tidak melihat kecuali Dia. Dan yang dirasa hanya Dia. Inilah maqam tertinggi dalam perjalanan ruhani, yang hanya dicapai oleh orang-orang yang Allah kehendaki.


1. Tajrid تجريد

Tajrid berarti melepas segala keterikatan dari makhluk dan melepaskan pengakuan akan daya upaya diri.

Segala perbuatan yang tampak berasal dari hamba, sejatinya adalah perbuatan Allah.

Bahkan ketika engkau "merasa" telah melakukan sesuatu, hakikatnya engkau hanyalah wadah, bukan pelaku sejati.

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

“Aku tidak melempar, tapi Allah yang melempar.”

 (QS. Al-Anfal: 17) (potongan ayat)

فِعْلُ العَبْدِ ظَاهِرًا، وَفِعْلُ اللهِ حَقِيقَةً.

Perbuatan hamba hanyalah lahiriah, tetapi perbuatan Allah-lah yang hakiki.

ٱلْإِنْسَانُ مِرْآةٌ، وَلَـٰكِنِ ٱلْحَرَكَةُ فِيهَا ظِلٌّ لِنُورِهِ سُبْحَانَهُ.

Manusia adalah cermin, tetapi gerak yang tampak padanya hanyalah bayangan dari Cahaya-Nya.

حَقِيقَةُ التَّجْرِيدِ فِي هٰذِهِ ٱلْآيَةِ

(Hakikat Tajrid dalam Ayat ini):

وَمَا رَمَيْتَ

Menafikan daya dari hamba secara hakiki.

إِذْ رَمَيْتَ

Menetapkan bahwa secara lahir engkau melakukan suatu perbuatan.

وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

Menegaskan bahwa pelaku sejati adalah Allah.

ٱلْفَنَاءُ عَنِ النَّفْسِ، وَٱلْبَقَاءُ بِٱللَّهِ، وَعَدَمُ رُؤْيَةِ الأَعْمَالِ إِلَّا أَنَّهَا صُدُورٌ عَنْ إِرَادَةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ.

Fana dari diri, baqa bersama Allah, dan tidak memandang amal kecuali sebagai pancaran dari iradah dan qudrah-Nya.

2. fana’ anil khalq wa an-nafs فَنَاءٌ عَنِ ٱلْخَلْقِ وَٱلنَّفْسِ

Makna: Lenyap (melepaskan diri) dari makhluk dan dari nafsu diri

Penjelasan Maknawi:

Frasa ini merujuk pada maqam tinggi dalam perjalanan suluk, yaitu:

Fana’ ‘anil khalq (فَنَاءٌ عَنِ ٱلْخَلْقِ): lenyapnya keterikatan hati terhadap makhluk, dunia, dan apa pun selain Allah.

Fana’ ‘an-nafs (فَنَاءٌ عَنِ ٱلنَّفْسِ): lenyapnya ego diri, hawa nafsu, dan kehendak pribadi, sehingga yang tersisa hanyalah kehendak Allah semata.

Maqam ini adalah pintu menuju baqa’ billah بَقَاءٌ بِٱللَّهِ (kekal bersama Allah), di mana hamba tidak lagi melihat dirinya atau makhluk, hanya menyaksikan al-Ḥaqq (Allah) dalam segala sesuatu.

3. Fana’ fil-Masyi’ah فَنَاءٌ فِي ٱلْمَشِيئَةِ

Fana’ fī al-Masyi’ah (فَنَاءٌ فِي ٱلْمَشِيئَةِ) adalah maqam spiritual di mana seorang salik lenyap dalam kehendak Allah.

Artinya: Seorang hamba tidak lagi memiliki kehendak pribadi, seluruh kehendak dirinya telah lebur dalam masyi’ah (kehendak) Allah. Ia tidak bergerak kecuali karena digerakkan, tidak memilih kecuali yang telah Allah pilihkan.

الفناء في المشيئة adalah bentuk fana’ iradi, yaitu hancurnya keinginan hamba dalam keinginan Tuhan.

Seorang salik pada maqam ini telah mewakilkan segala urusannya kepada Allah, karena ia menyadari:

لَا مَشِيئَةَ لِلْعَبْدِ إِلَّا تَحْتَ مَشِيئَةِ اللهِ.

Tiada kehendak bagi hamba kecuali di bawah kehendak Allah.

Ia bukan hanya pasrah (tawakkal), tapi telah larut sepenuhnya dalam qadha’ dan qadar Allah, tanpa keluhan, tanpa perlawanan batin.

Buah dari Fana’ fil-Masyi’ah:

Jiwa menjadi ringan, karena tidak terbebani oleh keinginan pribadi.

Hati menjadi tenang, karena menyatu dengan kehendak Ilahi.

Perjalanan spiritual naik ke maqam baqa’ billah بَقَاءٌ بِٱللَّهِ, hidup bersama Allah, dengan Allah, dalam Allah.

4. Maqam Tafwidh مقام ٱلتفويض

Maqam at-Tafwiḍh (مَقَامُ ٱلتَّفْوِيضِ) adalah maqam penyerahan total kepada Allah, dengan penuh ridha dan yakin, tanpa menggugat qadar dan tanpa menuntut kehendak pribadi.

Tafwiḍh berarti: “Menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, dalam keyakinan bahwa tidak ada yang lebih tahu, lebih bijak, dan lebih sayang kepada hamba selain Dia.”

Hakikat Maqam Tafwiḍh

Seorang yang sampai pada maqam ini telah melampaui keluh kesah, bahkan melampaui harapan-harapan pribadi.

Ia hidup dalam ayat:

فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢ بِالْعِبَادِ ۝٤٤

Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

(QS: Ghafir: 44)

Di maqam ini, hamba tidak hanya bersabar, tapi juga rela, karena ia telah percaya secara mutlak kepada takdir Allah.

Buah dari Tafwiḍh:

Hati menjadi tenang, karena yakin bahwa semua dari Allah adalah baik. Jiwa menjadi ringan, karena telah lepas dari beban "mengatur sendiri.” Hamba menjadi orang yang pasrah, namun tetap aktif, tetap berusaha, tetapi tak pernah menggugat hasil.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...