Tampilkan postingan dengan label Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit). Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2026

Hisab dan Rukyat dalam Penetapan 1 Syawal - Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Hisab dan Rukyat dalam Penetapan 1 Syawal - Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Perbedaan penetapan 1 Syawal bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, melainkan cerminan dari dinamika ijtihad dalam memahami hubungan antara nash syariat dan realitas kosmik. Ia bukan perdebatan sederhana, tetapi pertemuan antara teks, pengamatan, dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Dalam konteks ini, dua pendekatan utama yang dikenal dalam penentuan awal bulan Hijriyah adalah rukyat dan hisab—masing-masing berdiri di atas landasan epistemologis yang berbeda.

Rukyat: Kepastian Berbasis Penglihatan

Rukyat merupakan metode yang berangkat dari praktik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, yaitu menetapkan awal bulan dengan melihat langsung hilal.

Pendekatan ini menempatkan penglihatan sebagai dasar kepastian, sehingga keberlakuannya sangat bergantung pada faktor eksternal:

Kondisi atmosfer

Posisi hilal

Kemampuan visual manusia

Ketika hilal tidak terlihat, syariat menetapkan mekanisme istikmal, yaitu menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari. Dengan demikian, rukyat tidak semata berbicara tentang keberadaan hilal secara hakikat, tetapi tentang validitas kesaksian indrawi manusia.

Dalam perspektif ini, kebenaran ditentukan oleh apa yang dapat disaksikan, bukan semata-mata oleh apa yang secara ilmiah telah ada.

Hisab: Membaca Kepastian dalam Hukum Langit

Berbeda dengan rukyat, hisab berdiri di atas fondasi rasionalitas matematis dan kepastian astronomi. Ia berkembang dari tradisi ilmu falak yang dirintis oleh para ilmuwan Muslim seperti Al-Battani dan Al-Khwarizmi.

Dalam perkembangan modern, hisab telah mencapai tingkat presisi yang sangat tinggi. Posisi bulan dapat dihitung secara akurat melalui parameter ilmiah seperti:

Ijtimak (konjungsi)

Ketinggian hilal

Elongasi

Umur bulan

Dengan demikian, hisab tidak lagi berada dalam wilayah dugaan, melainkan telah masuk pada ranah kepastian ilmiah (qat’i).

Dalam kerangka ini, hilal yang belum terlihat bukan berarti belum ada, melainkan belum terjangkau oleh keterbatasan indra manusia.

Landasan Al-Qur’an: Isyarat terhadap Hisab

Al-Qur’an memberikan isyarat kuat tentang keteraturan peredaran benda langit:

ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (hisab).”

(QS. Ar-Rahman: 5)

Dan juga:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءً وَٱلْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, serta menetapkan manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”

(QS. Yunus: 5)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa:

Peredaran bulan bersifat terukur dan sistematis

Waktu dapat diketahui melalui perhitungan (hisab)

Dengan demikian, penggunaan hisab bukanlah sesuatu yang asing dalam syariat, melainkan justru memiliki akar langsung dalam petunjuk Al-Qur’an.

Dialektika Ijtihad: Antara Ta’abbudi dan Ta’aqquli

Perbedaan antara rukyat dan hisab pada dasarnya merupakan perbedaan dalam pendekatan ushul fiqih:

Pendekatan ta’abbudi

Menekankan kepatuhan literal terhadap perintah “melihat hilal”

Pendekatan ta’aqquli

Memahami bahwa tujuan utama adalah mengetahui masuknya waktu secara pasti

Sejumlah ulama seperti Ibnu Suraij dan Taqi al-Din al-Subki telah menunjukkan bahwa ketika hisab mencapai tingkat kepastian, maka ia tidak dapat diabaikan begitu saja.

Di sinilah muncul satu pemahaman penting:

Bahwa teks tidak berdiri dalam ruang hampa, tetapi selalu berinteraksi dengan perkembangan ilmu dan realitas.

Realitas Kosmik vs Keterbatasan Indrawi

Secara astronomis, keberadaan hilal adalah fakta objektif yang tidak bergantung pada apakah ia terlihat atau tidak. Ia tetap eksis dalam orbitnya sesuai hukum langit yang pasti.

Namun dalam rukyat, keberadaan tersebut belum dianggap sah jika belum terlihat. Maka lahirlah sebuah pertanyaan mendasar:

Apakah kebenaran ditentukan oleh keberadaan itu sendiri, atau oleh kemampuan manusia untuk menyaksikannya?

Hisab menjawab: kebenaran bersandar pada realitas kosmik yang pasti

Rukyat menjawab: kebenaran bersandar pada kesaksian indrawi yang nyata

Penegasan Sikap: Menuju Kepastian Ilmiah

Dalam konteks zaman yang menuntut kepastian, konsistensi, dan keteraturan, pendekatan hisab menawarkan landasan yang lebih stabil. Ia tidak terpengaruh oleh faktor cuaca, tidak berubah-ubah, dan mampu memberikan kepastian jauh sebelum waktu itu tiba.

Atas dasar pertimbangan tersebut, dapat dipahami bahwa kecenderungan kepada hisab bukan sekadar pilihan praktis, melainkan pilihan yang berakar pada pertimbangan ilmiah yang matang.

Dan dalam hal ini, Abah sendiri lebih cenderung menggunakan metode hisab, sebagai pendekatan yang dirasa lebih mendekati kepastian hakikat, serta lebih memberikan ketenangan dalam menetapkan waktu ibadah.

Kecenderungan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan rukyat, melainkan sebagai bentuk ijtihad yang melihat bahwa:

ketika ilmu telah mencapai kepastian, maka menjadikannya sebagai dasar adalah bagian dari kesempurnaan memahami tanda-tanda Allah di langit.

Penutup: Dari Langit ke Keyakinan

Rukyat dan hisab bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan dua cara manusia membaca ayat-ayat kauniyah.

Namun dalam perjalanan waktu, ketika ilmu telah mampu mengungkap realitas dengan tingkat presisi yang tinggi, maka kecenderungan untuk berpegang pada kepastian ilmiah menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.

Dan di titik itulah, pilihan terhadap hisab bukan sekadar pilihan metode, tetapi menjadi bagian dari perjalanan menuju keyakinan.

berpijak pada ilmu, dan bersandar pada kepastian yang ditunjukkan oleh langit itu sendiri.


Sumber : Raden Syair Langit ( Abah Leuwuenggede )
Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Selasa, 17 Maret 2026

Mutiara ini Adalah Ajaran Penutup Segala Ilmu Dari Abah Raden Syair Langit

 


Mutiara ini Adalah Ajaran Penutup Segala Ilmu Dari Abah Raden Syair Langit


Abah Raden Syair Langit pernah menyampaikan, jika manusia memahami ini, maka ia akan mencapai puncak penutup dari segala ilmu.

Silahakn simak video nya sampai selesai.


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Minggu, 15 Maret 2026

Karakter Manusia Langka yang Berbahaya & Mematikan Menurut Abah Raden Syair Langit

 


Karakter Manusia Langka yang Berbahaya & Mematikan Menurut Abah Raden Syair Langit


Ada karakter manusia yang langka, berbahaya dan mematikan menurut Raden Syair Langit.
Silahkan simak video diatas sampai selesai.


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Sabtu, 14 Maret 2026

Karekteristik Penyuka Warna Hitam Menurut Abah Raden Syair Langit


Karekteristik Penyuka Warna Hitam Menurut Abah Raden Syair Langit


Ada karakter unik orang yang fanatik terhadap warna hitam. Menurut Raden Syair Langit ada delapan ciri padanya.
Silahkan simak video diatas sampai selesai.


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Kamis, 12 Maret 2026

"Zuhud itu Bukan Berarti Harus Miskin Zuhud itu Orang yang Sudah Patah Hati Terhadap Dunia" Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

 


"Zuhud itu Bukan Berarti Harus Miskin Zuhud itu Orang yang Sudah Patah Hati Terhadap Dunia" Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)


    Banyak orang memahami zuhud secara keliru. Sebagian mengira bahwa zuhud berarti harus hidup miskin, meninggalkan harta, atau menjauh dari kehidupan dunia sepenuhnya. Padahal hakikat zuhud tidaklah sesederhana itu.

    Dalam kajian ini, Raden Syair Langit yang juga dikenal sebagai Abah Leuweunggede, menjelaskan bahwa zuhud bukanlah tentang memiliki atau tidak memiliki harta. Zuhud adalah keadaan hati yang tidak lagi bergantung kepada dunia. Seseorang boleh saja memiliki kekayaan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan hidup, namun hatinya tetap tidak terikat kepada semua itu.

    Zuhud sejatinya adalah ketika hati sudah “patah” terhadap dunia. Bukan berarti membenci dunia, tetapi tidak lagi menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan. Dunia hanya dipandang sebagai sarana perjalanan, bukan tempat bersandar. Hati seorang yang zuhud tetap hidup di tengah kehidupan, tetapi orientasinya telah tertuju kepada Allah dan kehidupan akhirat.

    Dalam kajian ini dijelaskan pula bahwa banyak orang terlihat meninggalkan dunia, tetapi hatinya masih dipenuhi keinginan duniawi. Sebaliknya, ada pula orang yang hidup berkecukupan namun hatinya bersih dari ketergantungan terhadap dunia. Di situlah letak hakikat zuhud yang sesungguhnya.

    Kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah keadaan lahiriah semata, melainkan keadaan hati manusia. Zuhud adalah perjalanan batin untuk memerdekakan hati dari belenggu dunia, agar ia lebih mudah menuju kedekatan dengan Allah.

    Semoga kajian ini menjadi renungan yang membuka pemahaman kita tentang makna zuhud yang sebenarnya, sehingga kita dapat menjalani





ttd. Penulis Jejak Makrifat

Rabu, 11 Maret 2026

"Loba Jalma Nu Jiga Teu Butuh Ku Allah" Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

 


"Loba Jalma Nu Jiga Teu Butuh Ku Allah" Kajian Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)    


Di zaman sekarang, kita sering menyaksikan fenomena yang sangat memprihatinkan. Banyak manusia hidup seakan-akan tidak membutuhkan Allah dalam kehidupannya. Ketika diberi kesehatan, harta, dan kelapangan hidup, sebagian orang justru semakin jauh dari mengingat Sang Pencipta.

    Padahal pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Setiap nafas, setiap langkah, bahkan setiap detak jantung terjadi karena izin dan kehendak-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tidak akan mampu menjalani kehidupan walau hanya sekejap. Dalam ajaran Islam sendiri ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah dan mengenal Tuhannya.

    Melalui potongan video ceramah ini, Raden Syair Langit mencoba mengingatkan kembali sebuah kenyataan yang sering dilupakan: bahwa manusia tidak pernah benar-benar mandiri tanpa Allah. Ketika seseorang merasa cukup dengan dirinya, merasa kuat dengan hartanya, atau merasa aman dengan kekuasaannya, justru di situlah sering muncul kelalaian yang menjauhkan hati dari Tuhan.

Kajian ini menjadi sebuah renungan spiritual. Ia mengajak kita untuk kembali melihat ke dalam diri: apakah kita termasuk orang yang selalu membutuhkan Allah, atau justru termasuk mereka yang hanya mengingat-Nya ketika sedang kesulitan.

Semoga karya ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menjadi manusia yang lalai. Sebab pada akhirnya, hanya kepada Allah tempat manusia kembali, dan hanya kepada-Nya pula segala pertolongan sejati berasal.


ttd. Penulis Jejak Makrifat

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...