Mahabah محبة
Konsep mahabbah dalam tarekat, merujuk pada tingkatan cinta yang mendalam dan totalitas, pada pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Mahabbah bukan sekedar rasa cinta biasa, tetapi merupakan perwujudan cinta Ilahi yang menjadi tujuan tertinggi dalam tasawuf, yang melibatkan seluruh jiwa dan raga dalam mencintai Allah.
Didalam tarekat, mahabbah dipandang sebagai puncak perjalanan spiritual, di mana seorang sufi berusaha mencapai tingkatan cinta tertinggi kepada Allah. Mahabbah bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan nyata. Semua itu akan melibatkan kepatuhan, ketundukan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, serta menjauhi segala hal yang dapat menghalangi cinta tersebut.
Mahabbah dalam tasawuf berbeda dengan cinta dunia atau cinta karena mengharapkan imbalan. Mahabbah adalah cinta murni tanpa pamrih, yang didorong oleh kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Untuk mencapai mahabbah, seorang sufi akan melakukan amalan-amalan yang luar biasa, berbagai upaya ia lakukan demi sampai pada puncak cinta sejatinya cinta. Perilaku mahabbah dapat dilihat dalam ketaatan seorang salik dalam menjalankan ibadah. Para sufi seperti hal nya Rabi'ah Al-Adawiyah (رابعة العدوية), beliau menekankan pentingnya cinta Ilahi yang tulus, bukan cinta yang didorong oleh rasa takut atau mengharapkan imbalan.
Dengan demikian, mahabbah dalam tarekat adalah konsep cinta yang mendalam, total, dan murni kepada Allah, yang menjadi tujuan utama dalam perjalanan spiritual seorang sufi.
Inilah diantara syair-syair Rabiah Al-Adawiyah yang menggetarkan hati, berbicara tentang cinta murni kepada Allah, tanpa pamrih, tanpa mengharap surga atau takut neraka. Beliau menekankan ibadah karena kecintaan semata kepada Sang Pencipta.
1. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية
"Jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka, maka bakarlah aku didalam neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka tutuplah surga itu untukku. Namun jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangan palingkan wajah-Mu dariku"
2. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية
"Aku mencintai-Mu dengan dua macam cinta. Cinta karena diriku, dan cinta karena Engkau layak dicinta. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu. Sedangkan cinta karena Engkau, adalah keadaan-Mu yang menyingkapkan hijab dariku, hingga aku dapat memandang-Mu,"
3. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية
"Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu, hingga tak ada satupun yang menggangguku dalam jumpa-Mu,"
4. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية
"Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula mengharap surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya,"
Kisah dari Rabi’ah Al-Adawiyah yang ingin membakar Surga dan memadamkan api Neraka
Nama Rabiah Al-Adawiyah dalam jagad tasawuf cukup melegenda. Keikhlasannya didalam beribadah banyak dinukilkan di berbagai kitab tasawuf. Rabiah dikenal dengan keikhlasannya dalam beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.
Kecintaan Rabiatul Adawiyah kepada Allah SWT membuatnya kian dekat dari waktu ke waktu. Dikisahkan bahwa suatu hari, Rabiah Al-Adawiyah tengah berjalan di kota Baghdad, sambil menenteng air dan memegangi obor di kedua tangannya. Seseorang pun bertanya kepada Beliau, “hendak dikemanakan air dan obor tersebut wahai Rabiah?”
Rabiah pun menjawab, “aku hendak membakar surga dengan obor ini, dan aku akan memadamkan neraka dengan air ini. Agar manusia tidak lagi mengharapkan surga dan takut akan neraka didalam ibadahnya.”
Keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah merupakan bukti bahwa jiwanya tenang dan nyaman. Tak ada yang perlu ditakutkan dan tak ada yang perlu dirisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Mencintai Allah bagi Rabiah adalah segalanya.
Gusti Allah ngadawuh,
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
(QS. Ar-Ra'd:28)
Mereguk hikmah keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita, dimana kita masih sering beribadah dengan mengharap dunia, atau berharap surga dan takut akan neraka. Keikhlasan sang pencinta seperti Rabi’ah Al- Adawiyah memang layak menjadi teladan seluruh umat muslim di dunia.
Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah diperkirakan lahir pada tahun 717 Masehi atau 95 Hijriah. Dan beliau diperkirakan meninggal pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.
Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut masehi adalah 84 tahun. Sedangkan Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut hijriyah adalah 90 tahun.
Beliau bergelar:
السيدة رَبِيعَةُ الْأَدَوِيَّةِ شَهِيدَةُ الْعِشْقِ الإِلٰهِىِّ
Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah Sang Pencinta Ilahi.












.jpg)



.jpg)
.jpg)
%20-%20Ada%20Rindu%20Ada%20Sayang%20(%20Korea%20Version%20).jpg)
