Mengamalkan Syariat عمل الشريعة Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Di dalam khazanah thariqah yang hakiki, yang diwarisi dari para pewaris Nabi, pengamalan syariat bukan sekedar kewajiban lahiriyah, tetapi merupakan pintu awal bagi perjalanan ruhani menuju Allah. Ia adalah pondasi utama yang tak bisa digantikan oleh maqam atau hal apa pun. Para sufi sunni yang mukhlis memandang bahwa setiap langkah menuju hakikat dan makrifat harus bertumpu pada tegaknya syariat.
Syariat bukanlah kulit yang dibuang ketika isi telah diperoleh, tetapi ia adalah tubuh bagi ruh tasawuf. Siapa yang menanggalkan syariat demi merasa cukup dengan hakikat, maka sesungguhnya ia telah terjerumus ke dalam ilusi batin yang menyesatkan. Karena hakikat yang tidak disinari oleh cahaya syariat, itu hanya akan menjadi bayang-bayang hawa nafsu yang menjelma dalam rupa keruhanian.
Bagi para salikin, para penempuh jalan Allah, ibadah-ibadah syariat, baik yang bersifat wajib maupun sunnah, adalah madrasah pembentukan ruh dan pembersih cermin hati. Bersuci dari hadast adalah simbol pensucian dari kekeruhan dosa, shalat adalah mi'raj ruhani yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya, puasa adalah pengendalian syahwat untuk menata batin agar lebih peka terhadap getaran ilahiah. Setiap amal lahir menjadi jembatan menuju keterbukaan batin.
Salik yang sungguh-sungguh tidak akan membedakan antara wajib dan sunnah dalam rasa tanggung jawab. Ia akan memandang ibadah sunnah seperti ibadah wajib, bukan dari sisi hukum fiqih, melainkan dari kedalaman mahabbah (cinta) dan kerinduan kepada Tuhannya.
Ibadah-ibadah sunnah menjadi tempat ia mengungkapkan rasa rindu dan kerelaan untuk selalu hadir di hadapan-Nya. Ia melatih jiwanya untuk istiqamah dalam khidmah kepada Sang Kekasih, bahkan dalam hal yang tidak diwajibkan secara hukum.
Dengan demikian, syariat bukan sekedar perintah formal, tetapi merupakan latihan rohani untuk tahdzib al-nafs تَهْذِيبُ النَّفْسِ (pembinaan jiwa), tazkiyah al-qalb تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ (penyucian hati), dan taqwiyah al-ruḥ تَقْوِيَةُ الرُّوحِ (penguatan ruh).
Setiap gerak dalam syariat, jika dilakukan dengan niat ikhlas dan pandangan batin yang jernih, akan membuka jalan menuju hakikat.
Inilah yang disebut sebagai,
ٱلشَّرِيعَةُ أَصْلٌ، وَٱلطَّرِيقَةُ سُلُوكٌ، وَٱلْحَقِيقَةُ ذَوْقٌ
“Syariat adalah akar, thariqah adalah jalan, dan hakikat adalah rasa.”
Maka, siapa yang hendak meraih cahaya makrifat, wajib baginya menegakkan tiang-tiang syariat dalam hidupnya. Tidak ada makrifat tanpa syariat, dan tidak ada kesempurnaan ruhani tanpa pengabdian zahir yang ikhlas dan tertib. Inilah jalan para kekasih Allah, jalan yang menggabungkan zahir dan batin, syariat dan hakikat, cinta dan takut, harap dan rindu.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar