Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-1
(Belajar Hidup Didalam Mati & Mati Didalam Hidup)
“Adanya kita karena berawal dari tiada, tiadanya kita karena di tiadakan oleh yang Maha Ada. Ada karena diadakan, tiada karena ditiadakan, yang mengadakan dan mentiadakan adalah yang Maha Ada, yakni Allah ‘‘azza wa jalla.
Latihlah dirimu agar mampu hidup didalam mati, dan mati di dalam hidup. Tiadalah hidup jikalau tak merasakan mati, dan tiadalah mati jikalau tak merasakan hidup.
Ngelmning Roso, Rosone Sajatining Urip. Dzat Allah itu ada, mustahil Dia tiada. Bila menerima namun tak merasa, dustalah kenyataan sebenarnya, bila menerima dan memang merasa, maka keyakinan hakiki akan bersemayam didalam jiwa. Aku mengenal-Nya, dengan sebenar-benarnya”
Penjelasan:
وُجُودُنَا كَانَ بَعْدَ ٱلْعَدَمِ، وَعَدَمُنَا كَانَ بِإِعْدَامِ ٱلْوَاجِدِ.
Adanya kita berawal dari ketiadaan, dan tiadanya kita adalah karena ditiadakan oleh Yang Maha Wujud.
Penjelasan:
Ini menyentuh akar falsafah wujudiyah, manusia asalnya tiada, lalu diadakan oleh Allah. Kita tidak pernah punya keberadaan hakiki, keberadaan kita semata-mata karena kehendak-Nya.
فَنَحْنُ وُجِدْنَا بِإِيجَادِهِ، وَنُعْدَمُ بِإِعْدَامِهِ.
Kita diadakan karena Dia mengadakan, dan kita ditiadakan karena Dia yang mentiadakan.
Penjelasan:
Allah adalah Al-Mujid ٱلموجد (Yang Mengadakan), dan juga Al-Mumīt ٱلمميت (Yang Mematikan). Segala perubahan eksistensi kita bergantung pada kehendak-Nya. Di sinilah letak hakikat ubudiyyah عبودية (penghambaan) yang pasrah total kepada-Nya.
فَٱلْمُوجِدُ وَٱلْمُعْدِمُ هُوَ ٱلْوَاجِدُ، ٱللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Yang mengadakan dan mentiadakan itu adalah Al-Wajid, Allah ‘‘azza wa jalla.
Penjelasan:
Nama Allah: al-Wajid ٱلواجد, Yang Maha Ada dan Maha Menemukan. Ia satu-satunya yang benar-benar wujud, sementara selain-Nya hanyalah wujud bergantung (wujud ‘āridh وجود عرضي).
رَوِّضْ نَفْسَكَ عَلَىٰ أَنْ تَحْيَا فِي ٱلْمَوْتِ، وَتَمُوتَ فِي ٱلْحَيَاةِ.
Latihlah dirimu untuk hidup di dalam mati, dan mati di dalam hidup.
Penjelasan:
Ini adalah maqam fana’ dan baqa’, fana dalam kehidupan dunia (seakan mati dari hawa nafsu), dan baqa di dalam dzikir. Sebuah ajakan untuk mujahadah dan mati sebelum mati (al-mawt qabla al-mawt الموت قبل الموت).
فَلَا حَيَاةَ لِمَنْ لَا يَشْعُرُ بِٱلْمَوْتِ، وَلَا مَوْتَ لِمَنْ لَا يَشْعُرُ بِٱلْحَيَاةِ.
Tak ada hidup bagi yang tak merasakan mati, dan tak ada mati bagi yang tak merasakan hidup.
Penjelasan:
Siapa yang tak sadar bahwa dunia ini fana, maka ia belum benar-benar hidup dalam makna spiritual. Dan siapa yang mati tanpa pernah hidup dengan kesadaran, maka ia mati sia-sia.
ٱلْعِلْمُ بِٱلذَّوْقِ، وَٱلذَّوْقُ هُوَ حَقِيقَةُ ٱلْحَيَاةِ.
Ilmu sejati didapat dengan rasa (dzawq), dan rasa itulah hakikat kehidupan. (Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip).
Penjelasan:
Bukan sekadar tahu, tapi mengalami. Tasawuf menekankan dzawq sebagai jalan makrifat. Rasa yang lahir dari penyaksian (musyahadah) dan kehadiran qalbu di hadapan Allah.
وَٱللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْجُودٌ، وَمُسْتَحِيلٌ أَنْ يَكُونَ مَعْدُومًا.
Allah ‘‘azza wa jalla itu ada, dan mustahil Dia tiada.
Penjelasan:
Ini adalah pokok tauhid: wujudullah wajibun وجود الله واجب Wujud Allah adalah wajib, tidak bergantung pada makhluk, dan tidak akan pernah sirna.
فَمَنْ قَبِلَ وَلَمْ يَشْعُرْ، فَقَدْ كَذَّبَ ٱلْحَقِيقَةَ
Barang siapa menerima tanpa merasakan, maka sungguh ia telah mendustakan kebenaran sejati.
Penjelasan:
Menerima kebenaran secara lisan tapi tanpa dzawq dalam hati, adalah bentuk kemunafikan ruhani. Ia mungkin mengaku tahu, tapi sesungguhnya kosong dari makna.
وَمَنْ قَبِلَ وَشَعَرَ، فَٱلْيَقِينُ قَدْ أَقَامَ فِي جَوْفِهِ
Dan barang siapa menerima dan merasakan, maka keyakinan sejati telah menetap didalam jiwanya.
Penjelasan:
Inilah derajat yaqin, ilmu yang disertai dzawq ذوق (rasa yang terdalam) dan huḍur حضور (kehadiran). Ia mantap, tenang, dan kokoh, tak goyah oleh keraguan.
وَأَنَا عَرَفْتُهُ، حَقًّا وَصِدْقًا.
Dan aku telah mengenal-Nya, dengan sebenar-benarnya.
Penjelasan:
Pernyataan makrifat, bahwa si penempuh telah sampai pada cahaya pengenalan akan Dzat-Nya. Ini bukan kesombongan, tapi pernyataan cinta dan kesaksian ruhani.
فلسفة ٱلوجودية
Falsafatu al-Wujudiyyah
Makna harfiah: Filsafat tentang Wujud (eksistensi)
فَلْسَفَةُ ٱلْوُجُودِيَّةِ هِيَ تَأَمُّلٌ فِي حَقِيقَةِ ٱلْوُجُودِ، وَبِأَنَّ ٱلْوُجُودَ ٱلْحَقِيقِيَّ هُوَ ٱللّٰهُ وَحْدَهُ، وَأَنَّ كُلَّ مَا سِوَاهُ إِنَّمَا هُوَ وُجُودٌ مَجَازِيٌّ، ظِلِّيٌّ، مُسْتَمِدٌّ مِنْهُ، فَٱلْخَلْقُ فَانٍ، وَٱلْحَقُّ بَاقٍ.
Artinya:
Falsafah wujudiyyah adalah perenungan tentang hakikat wujud, bahwa wujud sejati hanyalah milik Allah semata, sedangkan segala sesuatu selain-Nya hanyalah wujud majazi (relatif), bayangan yang bergantung kepada-Nya. Makhluk adalah fana, dan Allah-lah yang Baqa’ (abadi).
Didalam tasawuf, falsafah ini menjadi dasar pemahaman maqam fana’ (lebur dalam ke-Esaan Allah) dan baqa’ (abadi bersama Allah). Siapa yang benar-benar memahami wujudiyyah, maka ia tak lagi terpaut pada makhluk atau dirinya sendiri, sebab yang nyata hanya Dia Al-Wajid, Al-Mujid, dan Al-Ḥaqq.
Diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuiryah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar