Ciamis, Indonesia — Sebuah kitab baru berjudul “Sajatining Mulyo” karya Abah Leuweunggede – Raden Syair Langit tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan spiritual, pesantren, dan pegiat tasawuf. Kitab ini disebut-sebut akan membangkitkan kembali getaran ajaran Wahdatul Wujud, sekaligus menyingkap tabir hakikat yang dulu pernah diungkap oleh tokoh-tokoh besar seperti Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthasmi, Syekh Husein Mansur Al-Hallaj, Syekh Ibnu Arabi, dan Syekh Siti Jenar.
Kitab Sajatining Mulyo bukan sekadar karya sastra sufistik, melainkan perjalanan ruhani yang dalam — menembus lapisan syariat, tarekat, hingga makrifat. Dalam lembar-lembar kitab ini, Abah Leuweunggede mengajak pembaca kembali mengenal diri, mengenal Tuhan, dan memahami rahasia di balik kalimat “Ana al-Haqq” bukan sebagai kesombongan, melainkan sebagai kesaksian hakikat keberadaan.
“Kitab ini bukan untuk mereka yang ingin sekadar membaca, tetapi bagi mereka yang ingin menyaksikan kebenaran dari dalam diri,”
ujar Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit), penulis Sajatining Mulyo.
Sejumlah kalangan menilai kitab ini berani dan kontroversial, karena menyentuh ajaran-ajaran yang pernah dianggap tabu untuk diangkat kembali. Namun di sisi lain, banyak pula yang menyebut Sajatining Mulyo sebagai nafas baru bagi kebangkitan tasawuf Nusantara — sebuah pemurnian kembali makna “Manunggaling Kawulo Gusti” dalam bentuk yang murni dan tidak menyimpang.
Fenomena ini membuat kitab Sajatining Mulyo mulai dilirik oleh media, peneliti spiritual, hingga komunitas lintas pesantren. Banyak yang penasaran — apakah kitab ini akan menjadi gelombang kesadaran baru, ataukah menghadirkan polemik besar di dunia tasawuf kontemporer Indonesia.
Kini, Abah Leuweunggede bersama para sahabat media tengah mempersiapkan langkah untuk mempublikasikan kitab ini secara resmi ke khalayak, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Tentang Penulis,
Raden Syair Langit (nama asli: Renren Rohmatul Aziz), dikenal juga sebagai Abah Leuweunggede, lahir di Ciamis pada Senin, 28 Maret 1988.
Ia adalah pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya, serta penulis karya-karya sufistik yang menekankan dimensi hakikat dan makrifat.
Melalui Sajatining Mulyo, beliau ingin menghidupkan kembali ruh pencarian Ilahi yang sejati — ruh yang dulu pernah bersemayam dalam ajaran para wali dan arif billah.
ttd. Penulis Jejak Makrifat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar