Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-27
(Banyak Ilmu Bagaikan Mutu Manikam)
“Banyak ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebarluaskan bukan pada maqamnya, niscaya orang-orang akan menganggapku gila dan sesat. Ilmu itu adalah apa yang pernah kita selami dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah, yang di mana sebagian di antaranya tidak boleh disampaikan kalau bukan pada tempatnya. Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya, dan bukan pada tempatnya. Seperti halnya mengupas Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar keilmuan syariat yang kuat, dan tarekat yang benar, justru akan menyebabkan gagal paham dan sesat menyesatkan”
Penjelasan:
Ilmu yang hakiki itu ibarat mutu manikam, permata suci yang berkilauan. Namun, sebagaimana permata tidak boleh dipersembahkan kepada sembarang tangan, demikian pula ilmu tidak layak dibuka kepada setiap telinga. Ada ilmu yang dapat disampaikan kepada khalayak, ada pula yang mesti dijaga dalam dada, hanya untuk mereka yang memiliki kesiapan maqam dan kelayakan ruhani.
Rasulullah saw sendiri bersabda:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(HR. Bukhari no. 127)
Hadist ini menegaskan bahwa ilmu harus diletakkan pada tempatnya, jangan dipaksakan pada jiwa yang belum siap. Sebab bila rahasia ruhaniah dibuka pada orang awam, niscaya mereka akan menuduh gila, sesat, atau bahkan kafir, padahal hakikatnya mereka hanya tidak memahami.
Ilmu Lahir dan Ilmu Batin
Ilmu itu ada dua sisi: ilmu lahir yang bersandar pada syariat, dan ilmu batin yang menyingkap rahasia hakikat. Syariat adalah pagar, tarekat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan makrifat adalah penyaksian. Barangsiapa mengupas rahasia batin (Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip) tanpa fondasi syariat yang kokoh dan perjalanan tarekat yang benar, maka yang muncul bukanlah cahaya, melainkan kegelapan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(QS. al-Isra’: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa mengobral rahasia ilmu tanpa dasar adalah kezaliman terhadap ilmu itu sendiri.
Kerusakan dan Kebinasaan Ilmu
Mutiara ini juga mengingatkan bahwa kerusakan ilmu terjadi ketika ia hilang dari hati, sedangkan kebinasaan ilmu terjadi ketika ia diajarkan kepada yang bukan ahlinya.
Imam ‘Ali karramallahu wajhah berkata:
لَا تُعْطُوا الْحِكْمَةَ غَيْرَ أَهْلِهَا فَتَظْلِمُوهَا، وَلَا تَمْنَعُوهَا أَهْلَهَا فَتَظْلِمُوهُمْ
“Jangan berikan hikmah kepada orang yang bukan ahlinya, karena engkau menzalimi hikmah itu. Dan jangan pula engkau menahannya dari ahlinya, karena engkau menzalimi mereka.”
Inilah makna sejati mutiara: ilmu adalah amanat, ia harus dijaga, disampaikan sesuai maqam, agar ia menjadi cahaya penunjuk, bukan api yang membakar.
Kesimpulan
Mutiara ini mengajarkan kehati-hatian dalam menebarkan ilmu. Sebab tidak semua orang siap menanggung rahasia, dan tidak semua telinga layak mendengar kebenaran yang dalam. Ilmu adalah permata, dan permata hanya indah bila berada di tangan yang tepat. Karena itu, seorang murid harus menempuh jalan syariat dan tarekat terlebih dahulu sebelum menyentuh hakikat. Barangsiapa mendahului maqam, niscaya ia akan tersesat oleh bayangannya sendiri.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar