Muraqabah مراقبة
Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.
Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.
Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Ḥadid: 4)
Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.
Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.
---------------------------------------------------------------------------------
Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:
Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):
Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.
Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):
Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.
---------------------------------------------------------------------------------
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
(HR. Muslim, no. 8)
Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.
Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.
Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar