Untuk penjelasan selengkapnya, silahkan buka video yang sudah dicantumkan, penjelasan yang langsung disampaikan oleh Abah Raden Syair Langit, dan juga untuk versi lengkapnya, silahkan bisa dilihat di Kitab karya Abah Raden Syair Langit alias Abah leuweunggede, didalam Kitab Sajatining Mulyo.
Nama Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar hingga hari ini masih menjadi salah satu nama yang paling banyak diperdebatkan dalam sejarah Islam di tanah Jawa. Ironisnya, semakin banyak orang membicarakan beliau, justru semakin banyak pula fitnah yang disandarkan kepada beliau.
Ada yang mengatakan beliau lahir dari seekor cacing. Ada yang mengatakan beliau tidak pernah shalat. Ada yang mengatakan beliau meninggalkan puasa. Bahkan ada yang menuduh beliau mengaku sebagai Tuhan melalui ajaran *Manunggaling Kawulo Gusti*. Semua tuduhan itu terus beredar dari generasi ke generasi, hingga akhirnya banyak orang membenci Syekh Siti Jenar tanpa pernah mengkaji sejarahnya secara utuh.
Padahal, jika kita meneliti berbagai naskah kuno, tradisi lisan, dan berbagai sumber sejarah Nusantara secara lebih mendalam, akan terlihat bahwa persoalan Syekh Siti Jenar bukan hanya persoalan ajaran tasawuf, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan pergolakan politik pada masa awal Kesultanan Demak.
Pada masa itu terjadi berbagai konflik perebutan kekuasaan, perselisihan antare lit kerajaan, hingga muncul ketegangan antara pihak kerajaan dengan kelompok masyarakat yang dipimpin para murid Syekh Siti Jenar, khususnya dari wilayah Pengging di bawah Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenongo.
Selain itu, Syekh Siti Jenar dikenal melakukan perubahan sosial yang sangat besar. Beliau menghapus sistem yang membedakan antara *gusti* dan *kawulo*. Di desa-desa Lemah Abang yang beliau bina, rakyat diperlakukan sebagai manusia yang memiliki hak, kehormatan, keluarga, tanah, dan kebebasan menjalankan agama, bukan sekadar objek kekuasaan kerajaan.
Perubahan sosial inilah yang kemudian dianggap sebagai ancaman politik. Maka tidak mengherankan apabila nama Syekh Siti Jenar kemudian menjadi sasaran berbagai fitnah sejarah.
Namun fitnah terhadap beliau ternyata tidak berhenti di situ.
Ada persoalan lain yang sering dilupakan banyak orang, yaitu munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Pada masa itu belum ada kamera, belum ada dokumentasi sebagaimana sekarang. Sangat mudah seseorang mengaku sebagai tokoh tertentu, lalu mengajarkan pemikiran yang sebenarnya bukan berasal dari tokoh tersebut.
Salah satu nama yang disebut dalam beberapa tradisi adalah San Ali Anshar, yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Ia mengajarkan bahwa setelah mencapai hakikat, seseorang tidak lagi wajib shalat, tidak lagi wajib puasa, dan syariat dianggap tidak diperlukan.
Inilah ajaran yang kemudian diluruskan sendiri oleh Syekh Siti Jenar bersama Sunan Kalijaga dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pertemuan Agung di Tri Tingal. Di sanalah Ki Ageng Pengging yang sempat mengikuti guru palsu akhirnya mengetahui bahwa selama ini ia telah tertipu.
Di Tri Tingal ditegaskan kembali bahwa **Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah meninggalkan syariat, melainkan menyempurnakan syariat dengan hakikat.**
Karena itu, wahai sedulur sedayana...
Hari ini banyak orang mengaku sebagai pengikut Syekh Siti Jenar. Namun marilah kita mengujinya dengan pertanyaan yang sangat sederhana.
**Apakah Syekh Siti Jenar menegakkan shalat?**
Kalau benar beliau shalat, mengapa mereka meninggalkan shalat?
**Apakah beliau berpuasa?**
Kalau benar beliau berpuasa, mengapa mereka justru menganggap puasa tidak lagi wajib?
**Apakah beliau senantiasa berdzikir kepada Allah?**
Kalau benar demikian, mengapa mereka lebih sibuk membicarakan maqam dirinya daripada mengingat Allah?
Maka ketahuilah wahai sedulur sedayana...
Orang yang meninggalkan syariat dengan alasan sudah mencapai hakikat, bukanlah murid Syekh Siti Jenar.
Sebab Syekh Siti Jenar yang sejati justru mengajarkan bahwa **syariat adalah fondasi, hakikat adalah isi, sedangkan makrifat adalah buahnya. Tidak mungkin seseorang memetik buah apabila ia menebang batang pohonnya.**
Sesungguhnya mereka tidak sedang mengikuti Syekh Siti Jenar, tetapi sedang mengikuti hawa nafsunya sendiri, lalu meminjam nama Syekh Siti Jenar untuk membenarkan kesesatan yang mereka buat.
Adapun ajaran **Manunggaling Kawulo Gusti** yang sebenarnya, bukan berarti manusia menjadi Tuhan.
Ajaran itu memiliki tujuan yang sama dengan konsep **fana', baqa', ittihad, hulul**, maupun **Wahdatul Wujud** sebagaimana dijelaskan para ulama tasawuf, yaitu lenyapnya ego seorang hamba di hadapan kebesaran Allah.
Yang hilang adalah kesombongan dirinya, bukan syariatnya.
Yang hancur adalah keakuannya, bukan shalatnya.
Yang sirna adalah hawa nafsunya, bukan puasanya.
Yang lenyap adalah ujub dan riya', bukan dzikirnya kepada Allah.
Semakin tinggi maqam seseorang, justru semakin sempurna syariatnya.
Karena orang yang benar-benar mengenal Allah akan semakin takut kepada Allah, semakin istiqamah dalam ibadah, semakin rendah hati kepada sesama manusia.
Itulah sebabnya Syekh Siti Jenar sepanjang hidupnya tetap dikenal sebagai ahli ibadah, ahli dzikir, ahli tahajud, dan seorang wali Allah yang sangat menjaga syariat.
Beliau bahkan meninggalkan wasiat yang sangat tegas agar para muridnya tidak mengkultuskan dirinya.
Beliau melarang mencium kaki guru secara berlebihan, melarang mengambil berkah dengan cara-cara yang melampaui syariat, serta melarang menjadikan manusia sebagai objek pengagungan yang berlebihan.
Beliau menegaskan bahwa siapa saja yang mengkultuskan dirinya, maka orang itu bukanlah muridnya.
Inilah wajah Syekh Siti Jenar yang sebenarnya.
Bukan tokoh yang anti syariat.
Bukan tokoh yang mengaku Tuhan.
Bukan tokoh yang menghalalkan meninggalkan shalat.
Tetapi seorang wali Allah yang memperjuangkan tauhid, keadilan sosial, penyucian hati, dan keseimbangan antara syariat, hakikat, serta makrifat.
Karena itu, marilah kita bersikap adil dalam membaca sejarah.
Jangan mudah mempercayai cerita yang hanya bersumber dari film, cerita rakyat, atau potongan kisah yang tidak pernah diteliti kembali.
Kembalilah kepada kajian, kepada naskah, kepada ilmu, dan kepada akhlak para ulama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membimbing kita semua untuk mencintai para wali-Nya tanpa berlebihan, menghormati mereka tanpa mengkultuskan mereka, serta mengikuti jejak mereka dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, syariat, hakikat, dan makrifat yang benar.
Penjelasannya lengkapnya ada didalam Kitab Sajatining Mulyo karya Raden Syair Langit
Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar