Beredar Vidoe Uu Ruzhanul Ulum Klaim "Saya Layak Menjadi
Gubernur JABAR" Tanggapan Raden Syair Langit "Ini Panglima Santri
Atau Panglima hibah?"
Beredar video lama, Uu Ruzhanul Ulum sedang orasi menggebu-gebu,
teriak-teriak mengklaim dirinya paling layak jadi Gubernur Jawa Barat karena
punya segudang pengalaman.
Sebelum ditanggapi, perlu diketahui, bahwa ini video lama. Kejadian
aslinya itu awal 2023 di Bekasi saat dia masih menjabat. Tapi, gak ada salahnya
untuk dibahas lagi sekarang. Biar publik tidak lupa.
Mantan wakil gubernur ini yang suka disebut Panglima Santri, kalau
menurut saya sih lebih cocok disebut Panglima Hibah, apalagi kalau mendengar
narasinya yang berteriak lantang, "Saya layak jadi gubernur Jawa
Barat." Jujur, telinga saya langsung geli. Orang yang di depan publik
masih berani mengaku-ngaku, "Aku layak," "Aku bisa,"
"Aku hebat," itu sejatinya adalah cerminan dari kesombongan yang
nyata.
Di dalam sejarah dan peradaban manusia, ada tiga tipikal manusia
yang suka sekali menonjolkan kalimat "Aku":
Pertama, manusia yang kelakuannya persis seperti Firaun, yang
dengan keakuannya berani merasa paling tinggi di atas segalanya.
Kedua, manusia yang kelakuannya mirip Abu Jahal, yang menutup mata
dari kebenaran hanya karena ego keakuannya yang terlalu besar.
Dan yang ketiga, ya itu kamu, kalian, atau siapapun yang
teriak-teriak di podium merasa paling bisa dan paling layak memimpin rakyat.
Uu ini katanya ustadz, keluarga pesantren, punya pondok, dekat
dengan dunia pendidikan Islam. Masa tidak paham? Di dalam ajaran tarekat dan
pengamalan tasawuf yang mendalam, terkhusus ajaran yang kami amalkan di Tarekat
Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya, terkhusus yang di wariskan oleh Guru
Agung Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al Busthami dan Guru
Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, hal mendasar yang pertama kali harus
dihancurkan adalah ego. Ada konsep ajaran untuk melepaskan segala bentuk
"keakuan" atau ananiyah. Menghilangkan rasa merasa diri penting,
merasa diri mampu, demi bisa membersihkan hati untuk mencapai derajat wahdatul
wujud, yang menjadi puncak keimanan sekaligus penutup dari segala ilmu.
Kalau hatinya masih dipenuhi rasa "Aku layak," berarti
ngajinya belum tuntas, atau jangan-jangan tasawufnya cuma jadi pajangan politik
saja? Lucu sih, seekarang banyak para pemuka Agama mengadakan kajian salah satu
kitab tasawuf seperti kitab Hikam, tapi kajian atau pasarannya hanya jadi ajang
gaya-gayaan, nih gue hebat, Pesantren gue ngadain rutinan kajian Hikam, tapi
prilakunya keluar dari isi ajarannya itu sendiri. Kayaknya mereka harus
mengkaji Kitab Sajatining Mulyo yang Abah buat, agar setidaknya mereka merasa
tertampar dengan kelakuan meereka yang hidup dari Agama bukan hidup untuk
Agama.
Perlu digarisbawahi dengan tinta tebal, salah satu ciri pemimpin
yang baik itu bukan mereka yang menjajakan dirinya sendiri sambil mengatakan
"Aku bisa." Justru dalam sejarah Islam dan kearifan para ulama,
pemimpin yang tulus itu untuk mencalonkan diri pun mereka tidak mau. Mereka
tidak pernah berambisi mengejar jabatan. Yang ada, mereka justru dipaksa oleh
umat, didorong oleh masyarakat karena kredibilitas, ketulusan, dan rekam jejak
mereka yang sudah terbukti, bukan karena mereka yang meminta-minta jabatan.
Pemimpin yang baik dan mengerti agama itu, bahkan jika pada
akhirnya terpilih, dia tidak akan menggelar pesta pora kegirangan. Dia justru
akan menangis dan mengatakan bahwa jabatan ini adalah sebuah musibah dan
tanggung jawab yang berat kelak di akhirat, bukan sebuah anugerah untuk ajang
gagah-gagahan. Itulah konsep berpikir orang-orang tasawuf yang benar-benar
mengerti arti hakikat hidup yang sebenarnya. Bukan malah haus kekuasaan sambil
memamerkan keakuan di atas podium.
Kenapa saya bilang begitu? Di saat orasi dulu gayanya paling
merakyat dan peduli umat, ternyata di balik layar, aliran dana pemerintah
daerah justru mengalir deras ke lingkaran sendiri. Ini bukan fitnah, ini data
resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Bayangkan, Yayasan Perguruan Al-Ruzhan yang didirikan dan dikelola
keluarga besarnya di Tasikmalaya, tercatat menelan dana hibah dengan total
fantastis mencapai kurang lebih Rp45,16 miliar! Angka puluhan miliar itu
dikuras bertahap selama lima tahun berturut-turut, dari tahun 2020 sampai 2024.
Pas sekali dengan masa-masa dia sedang berkuasa dan setelah lengser.
Mari kita bedah datanya biar makin jelas:
Tahun 2020, yayasan ini mencicipi dana lewat SMKS Al-Ruzhan sebesar
Rp59,4 juta dan SMK Al-Ruzhan Manonjaya sebesar Rp600 juta.
Tahun 2021, lewat Dinas Perumahan dan Permukiman, langsung cair
modal jumbo Rp10 miliar untuk bangun gedung Sekolah Tinggi Agama Islam atau
STAI Al-Ruzhan.
Masuk tahun 2022 sampai 2023, lewat Biro Kesra, kucurannya makin
tidak masuk akal. Anggaran sebesar Rp30 miliar cair untuk kampus STAI
Al-Ruzhan, ditambah lagi bonus Rp2,5 miliar untuk pondok pesantrennya.
Dan puncaknya di tahun 2024, aliran dana itu masih terus berlanjut
untuk pemantapan fasilitas mereka.
Pertanyaannya sederhana:
di mana asas keadilan bagi masyarakat Jawa Barat? Di luar sana, ada
ribuan Madrasah, Pesantren kecil, dan yayasan keagamaan yang atapnya mau roboh,
fasilitasnya memprihatinkan, dan harus berdarah-darah mengajukan proposal
bantuan yang sering kali berujung ditolak.
Tapi kenapa yayasan milik pejabat tinggi bisa dengan mudahnya
mendapatkan puluhan miliar rupiah setiap tahun? Makanya, saya angkat jempol
tinggi-tinggi buat langkah berani Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang langsung
mengambil tindakan ekstrem. Di bawah kepemimpinannya, Pemprov Jabar secara
tegas memutuskan untuk menghentikan sementara pos dana hibah keagamaan dan
melakukan pemangkasan anggaran secara besar-besaran. Langkah ini ibarat menabur
garam di atas luka para penikmat anggaran instan, tapi bagi saya, ini adalah
keadilan yang sesungguhnya.
Keputusan membekukan dana hibah ini bukan tanpa alasan kuat.
Pemprov Jabar menemukan fakta lapangan yang bikin geleng-geleng kepala:
Ada yayasan baru yang belum terverifikasi, tapi bisa mencairkan
miliaran rupiah, bahkan ditemukan adanya dugaan yayasan fiktif alias bodong
yang ikut menguras uang rakyat. Kang Dedi Mulyadi sendiri sampai menyentil
keras bahwa selama ini, distribusi dana hibah itu pincang, karena hanya
dinikmati oleh lembaga-lembaga yang punya kedekatan atau akses politik kuat.
Bayangkan saja, saking serakahnya, ada satu lembaga yang total akumulasi
bantuannya bisa menembus angka 25 hingga 50 miIiar rupiah! Sementara itu,
ribuan pesantren kecil di pelosok Jabar sama sekali tidak tersentuh bantuan.
Lebih menohok lagi, Gubernur sekarang tidak cuma menyetop
anggarannya, tapi juga menagih pembuktian fisik dan audit investigatif. Beliau
menegaskan, laporan di atas kertas itu gampang dimanipulasi. Kalau ada yayasan
yang menerima puluhan miliar untuk pembangunan tapi kualitas atau kuantitas
bangunan fisiknya tidak kelihatan, maka laporan administrasinya sudah pasti
fiktif alias palsu! Hasil temuan dari audit investigatif ini pun tidak
main-main, karena langsung diserahkan kepada pihak penyidik kepolisian.
Jadi, kebijakan pembersihan sistem ini wajib kita dukung penuh.
APBD itu uang rakyat, bukan warisan nenek moyang pejabat yang bisa dibagi-bagi
ke keluarga sendiri dengan kedok dana aspirasi partai. Bantuan ke depan harus
transparan, adil, berbasis kebutuhan riil di masyarakat, dan bebas dari
kepentingan politik dinasti.
Jadi, kalau sekarang potongan videonya viral lagi dan dia teriak "Saya layak jadi gubernur", mungkin kita harus ingatkan si Panglima Hibah ini: rakyat Jawa Barat tidak butuh pemimpin yang jago orasi di podium, tapi lebih butuh pemimpin yang adil membagi anggaran untuk seluruh umat, bukan cuma buat memakmurkan yayasan pribadi. Sok, silakan mikir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar