Rabu, 29 Juli 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-4) KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu



Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-4) KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu

KutembusTujuh Tahapan Dengan Jalan yang Berdebu

وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَنِيَتْ نَفْسُهُ

"Barangsiapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenali Tuhannya, maka binasalah (fana) dirinya.

(Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razi الشيخ يحيى بن معاذ الرازي)

Setelah seorang salikin berjalan dalam penempuhan dan penempahannya, maka ia akan masuk pada puncak kepahaman “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” (ilmu rasa, rasanya kesejatian hidup), dimana posisi maqamat itu akan mengantarkan seorang salikin pada martabat “Sajaning Mulyo” (kemuliaan yang sejati). Pelaku suluk yang sudah memahami sejatinya hidup, ia telah mengenali dirinya sendiri, dan ia juga telah mengenali Allah sebagai Penciptanya, ia juga akan masuk dan memahami elmu roso, yaitu ilmu luhur tentang kesejatian rasa, puncak kecintaan seorang hamba yang tidak lagi terganti dengan apapun, tidak tergeser oleh apapun, dan tidak terpengaruh oleh badai kehidupan sebesar apapun, karena baginya hanya Allah-lah yang ia cinta, hanya Allah-lah yang ia damba, dan walaupun ada rasa cinta terhadap selain Allah, semisal cinta terhadap makhluk, apakah cintanya seorang suami kepada istri, cintanya istri kepada suami, cintanya orang tua kepada anak, cinta seorang anak kepada orang tua, maka semua itu akan ia dasari atas dasar karena Allah. Jelaslah sudah, semuanya benar-benar untuk Allah, cinta terhadap makhluk pun karena Allah. Semua itu membuktikan bahwa ia berhasil melewati dan menembus tujuh tahapan yang telah ia jalani, telah ia tempuh, telah ia lewati dan juga sedang ia nikmati.

Ingatlah, mengenal Allah itu bukan dengan mata, telinga ataupun diraba. Tetapi mengenal Allah itu hanya bisa dilakukan dengan rasa (elmu roso). Maka orang yang sampai kepada maqam “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip”, walaupun posisinya baru berada di maqam muhadharah, maka ia akan benar-benar sampai pada tahapan bermakrifat kepada Allah, walaupun baru ditahap dasar. Apalagi jika posisinya sudah berada di maqam mukasyafah dan maqam musyahadah.

Muhadharah merupakan kehadiran hati, selanjutnya setelah itu terjadi mukasyafah, yakni kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), lalu timbulah musyahadah, yakni adanya kehadiran Al-Haqq (dalam hati) tanpa bingung dan linglung.

إِذَا صَفَا سَمَاءُ السِّرِّ مِنَ الغَمَامِ، طَلَعَتْ شَمْسُ الشُّهُودِ مِنْ نَجْمِ الكَرَامَةِ

“Apabila langit sirri (rahasia ke-Tuhanan) bersih dari mendung, maka matahari kesaksian akan muncul atau terbit dari bintang kemuliaan.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

السِّرّ adalah rahasia batin terdalam seorang hamba dalam kaitannya dengan Tuhan)

الغَمَام adalah awan mendung, simbol dari hijab atau kegelapan batin

الشُّهُود adalah penyaksian spiritual (musyahadah)

نَجْمُ الكَرَامَةِ adalah bintang kemuliaan, simbol dari puncak anugerah Ilahiyah

Kalimat ini menggambarkan bahwa saat hati (batin sirri) telah jernih dari hijab duniawi, maka cahaya penyaksian Ilahi akan tampak jelas, lahir dari anugerah kemuliaan Allah. Ini adalah ungkapan Abah Leuweunggede yang menggambarkan keadaan ruhani maqamat kaum Arifin.

وُجُودُ الْحَقِّ مَعَ فَنَائِكَ، وَالسَّالِكُ الَّذِي يُدْرِكُ الْمُحَاضَرَةَ مُرْتَبِطٌ بِآيَاتِهِ، وَالَّذِي يَصِلُ إِلَى الْمُكَاشَفَةِ مُنْفَتِحٌ بِصِفَاتِهِ، وَالَّذِي يَحْصُلُ عَلَى الْمُشَاهَدَةِ يُوجَدُ بِذَاتِهِ

“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu. Salik yang mengalami muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan Salik yang memiliki musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya.”

(Syekh Junaidi Al-Baghdadi)

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, salik yang muhadharah akal menunjukannya. Salik yang mukasyafah ilmu mendekatkannya. Dan salik yang musyahadah makrifat menghapusnya.

Tidaklah bertambah penjelasan mengenai hakikat musyahadah kecuali diperkuat dengan apa yang diutarakan.

Inti dari ungkapan yang disampaikan adalah menerangkan bahwa hakikat musyahadah adalah cahaya tajalli Dzat yang datang susul-menyusul pada hati seorang salikin tanpa disusupi mendung dan keterputusan, sebagaimana susul-menyusulnya kedatangan kilat. Malam yang gelap gulita dengan disertai kilat yang datang susul-menyusul dan sambung­menyambung, itu semua dapat menjadikan malam menjadi terang seperti siang.

Demikian juga hati, jika senantiasa diterangi dengan keabadian tajalli, maka kenikmatan “anugerah siang” akan selalu ada, sehingga malam tidak lagi ada.

----------------------------------------------------------------------------------------

1. “anugerah siang” disana adalah kiasan tentang kontinuitas anugerah ke-Ilahian dan ketersingkapan ke-Tuhanan dengan pemanjangan waktu siang hingga menjangkau malam hari.

2. “Kontinuitas” adalah keadaan atau sifat sesuatu yang berlangsung secara terus menerus dan tidak terputus.

---------------------------------------------------------------------------------

لَيْلِي بِوَجْهِكَ أَشْرَقَ، وَتَلَأْلَأَ بِالْأَنْوَارِ

“malamku dengan wajah-Mu, terbit bersinar penuh dengan cahaya.”

Kegelapan pada manusia biasa berjalan di waktu malam. Pada umumnya, manusia berada dalam kepekatan malam yang gelap gulita, sedangkan kami berada dalam cahaya siang yang bisa menembus sampai waktu malam.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Jika melihat dari syair-syair di atas, maka sudah jelas bahwa muhadharah mukasyafah dan musyahadah merupakan kondisi spiritual seorang salik untuk sampai kepada Al-Haq, yakni Allah SWT (wushul), bukan berkaitan dengan supranatural kebatinan yang tercampur kesesatan, yang oleh sebagian orang “di plintir” untuk kepentingan kelompok-nya, seakan-akan mereka itu golongan ahli tasawuf.

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu” adalah kalimat terakhir pada Suluk Raden Syair Langit.

Sedangkan tujuh tahapan itu adalah,

1. Perjanjian عَهْدٌ (Di Alam Azali)

2. Pelepasan ٱلِٱنْفِصَالُ (Saat kita lahir kedunia)

3. Perjalanan السَّفَرُ (Menjalani kehidupan)

4. Penempuhan السُّلُوكُ (Menjadi seorang salik)

5. Pemastian الْـتَثْبِيتُ (Meyakini atas apa yang ia jalani)

6. Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ (Menempah diri atas apa yang sudah ia jalani)

7. Pendalaman تَعَمُّق (Mendalami dan memastikan hasil dari perjalan itu sendiri)

Perjanjian عَهْدٌ adalah peristiwa di alam azali saat manusia meridhai ketentuan Allah yang telah ditentukan kepadanya saat ia akan hidup didunia fana.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Dan penuhilah perjanjian. Sesungguhnya perjanjian itu akan diminta pertanggungjawabannya."

(QS. Al-Isra: 34)

Pelepasan ٱلِٱنْفِصَالُ adalah saat manusia terlahir dari rahim ibunya untuk memulai perjalanan hidup di dunia yang fana.

خُرُوجُ ٱلرُّوحِ وَٱلْجَسَدِ مِنْ حَضْنِ ٱلرَّحِمِ، وَٱلِٱنْفِصَالُ عَنْ عَالَمِ ٱلْغَيْبِ إِلَى ظُلُمَاتِ ٱلدُّنْيَا

“Keluarnya ruh dan jasad dari pelukan rahim, sebagai pelepasan dari alam gaib menuju kegelapan dunia.”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Perjalanan السَّفَرُ adalah semua hal yang akan kita lewati dalam menjalankan kehidupan didunia ini untuk berbakti kepada Allah dan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Dalam konteks syariat, manusia diberikan pilihan. Kalian ingkar Allah tak rugi, kalian ta’at Allah tak untung. Kerugian dan keuntungan itu bukan terletak pada Allah, tetapi kerugian dan keuntungan itu terletak pada kita. Kita ingkar Allah sediakan neraka, kita ta’at Allah sediakan surga.

سَفَرُ ٱلْإِنْسَانِ فِي طَرِيقِ ٱلْحَقِّ، بَيْنَ ظُلُمَاتِ ٱلدُّنْيَا وَنُورِ ٱلْآخِرَةِ

“Perjalanan manusia di jalan al-Haqq, antara kegelapan dunia dan cahaya akhirat”

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Penempuhan السُّلُوكُ adalah garis hidup yang akan ia pilih, kemana ia akan melangkah, hitam kah atau putih kah, ridha Allah kah atau murka Allah kah, melaksanakan atau mengingkari, menghadap pada kewajiban atau berpaling menuju kemungkaran. Dan bagi pelaku tarekat sendiri, atau pelakunya kita sebut salikin, maka pada penempuhan ini disebut juga sebagai suatu awal atau permulaan ia mencari Allah.

هَلْ سَيَسْلُكُ طَرِيقَ ٱلنُّورِ أَمِ ٱلظُّلْمَةِ، نَحْوَ رِضْوَانِ اللهِ أَمْ سَخَطِهِ

Akankah ia menempuh jalan cahaya atau kegelapan, menuju keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya?

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pemastian الْـتَثْبِيتُ adalah jalan yang harus ia yakini agar mendapat ridha Allah, sehingga ia akan berpedoman teguh terhadap apa yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Ia akan mempunyai prinship yang kuat terhadap apa yang telah ia tentukan, karena ia telah berhasil dan memiliki kepastian sebagai langkah awal menuju makrifatullah (berawal dari maqam muhadharah).

Untuk seorang salikin, semua itu sudah berarti bahwa tarekat yang ia jalani sudah benar-benar ia yakini kebaikannya, dan diapun sudah yakin bahwa tarekat yang ia jalani tidaklah sesat dan menyesatkan.

وَٱلثَّبَاتُ عَلَى ٱلطَّرِيقِ يَحْتَاجُ إِلَى تَثْبِيتٍ وَيَقِينٍ لَا يَزُولُ، لِكَيْ يَبْلُغَ ٱلرِّضْوَانَ الإِلٰهِيّ

Keteguhan di atas jalan (kebenaran) memerlukan pemastian (peneguhan) dan keyakinan yang tak tergoyahkan, agar sampai pada ridha Ilahi.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Penempahan تَهْذِيبُ النَّفْسِ adalah perkara berat yang akan dirasakan oleh seorang salikin, karena badai besar akan selalu menerpa, rintangan datang bertubi-tubi, bisikan-bisikan sesat menjadi makanan sehari-hari, jiwa dan raganya akan ditempah begitu dalam, sehingga ketika ia berhasil, ia akan semakin mudah dalam melangkah menuju puncak kenikmatan hakikat makrifatullah.

Pada tahap ini ia akan di sudutkan dari berbagai rasa, kesesatan dan kesucian seakan menjadi hal yang sama, bagaikan dua insan yang terhalang satu helai keretas, begitu mirip, begitu samar, membuat hati penuh dengan seribu pertanyaan. Dan apabila ia lulus ditahapan ini, maka ia akan dengan mudah menuju tahap selanjutnya yaitu tahap pendalaman.

وَتَهْذِيبُ ٱلنَّفْسِ وَتَصْفِيَتُهَا هُوَ ٱلطَّرِيقُ إِلَى ٱلْمَعْرِفَةِ بِٱللَّهِ، فَلَا مَعْرِفَةَ صَادِقَةَ إِلَّا بَعْدَ صَقْلِ ٱلرُّوحِ وَتَزْكِيَةِ ٱلنَّفْسِ.

Penempahan dan pembersihan jiwa adalah jalan menuju makrifat kepada Allah. Tiada makrifat yang sejati kecuali setelah ruh ditempa dan jiwa disucikan.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pendalaman تَعَمُّق adalah segala hal yang telah ia tempuh dari enam tahapan sebelumnya. Tahap perjanjian, pelepasan, perjalanan, penempuhan, pemastian, dan penempahan. Setelah itu ia akan masuk ke tahapan yang ketujuh yaitu tahap pendalaman.

فِي سَفَرِ ٱلسَّالِكِ إِلَى ٱللّٰهِ، يَكُونُ ٱلتَّعَمُّقُ فِيمَا مَضَى مِنَ ٱلطَّرِيقِ سَبَبًا لِلتَّجَلِّي وَٱلرُّقِيِّ

Dalam perjalanan seorang salik menuju Allah, pendalaman terhadap apa yang telah dilaluinya adalah sebab munculnya tajalli dan kemajuan ruhani.

Kasauran Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Segala yang telah ia lewati akan ia dalami, dari situlah ia akan sampai pada “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip” dalam tiga posisi maqam, yang diawali dari maqam muhadharah, lalu mukasyafah dan puncak musyahadah.

Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian setelah itu terjadi mukasyafah, yaitu kehadiran hati yang disertai kejelasan (ketersingkapan), kemudian timbul musyahadah, yaitu kehadiran Al-Haqq Allah SWT dalam hati tanpa bingung dan linglung.

Pendalaman yang telah matang, akan mengantarkan seorang salikin mencapai kedekatan dengan Allah ‘azza wa jalla. Semua itu sudah jelas bahwa pada pelaksanaanya akan dilewati dengan jalan yang berdebu, dimana jalan yang berdebu mempunyai maksud, semua yang dilakukannya akan penuh dengan halangan dan badai yang menerjang.

Seorang salikin juga harus berhasil melewati tujuh lembah kasal, tujuh gunung riya, tujuh rimba sum’ah, tujuh samudra ujub dan tujuh benteng hajbun.

Kasal كسل 

Kasal (كسل): Penyakit malas dalam beribadah

Kasal (الكسل) adalah salah satu penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya dalam perjalanan ruhani seorang salik menuju Allah. Ia merupakan bentuk kemalasan dalam menunaikan ibadah dan melakukan ketaatan, yang pada hakikatnya adalah hijab batiniah yang menghalangi cahaya tajalli Ilahi menyinari hati hamba.

Kasal bukan sekadar enggan bergerak secara jasmani, namun lebih dalam lagi, ia adalah kelemahan semangat ruhani, kehilangan gairah untuk bermunajat, dan kelalaian dalam menyambut panggilan cinta dari Sang Kekasih Abadi.

Rasulullah saw sendiri memohon perlindungan kepada Allah dari sifat ini. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan"

(HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 2706)

Sungguh, tidaklah seseorang terjatuh dalam kasal, kecuali karena hatinya telah dirundung kabut kelalaian (ghaflah غَفْلَة), yang menutupi cita-cita tinggi dalam ubudiyah. Seorang salik yang sejati tidak boleh membiarkan satu pun titik kemalasan bersarang di dalam qalbunya, sebab itu pertanda surutnya mahabbah dan lemahnya rasa butuh kepada Allah SWT.


Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ۝١٤٢

Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.

(QS. An-Nisa’: 142)

Lihatlah, disana Allah menyandingkan kasal dengan kemunafikan. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kemalasan dalam beribadah bukan sekedar kekurangan, tetapi sebuah penyakit yang bisa menyeret hati pada kehampaan makna ubudiyah عبودية (penghambaan), dan bisa menyebabkan kemunafikan.

Dalam khazanah tasawuf, para arifin menyebut kasal sebagai satu dari banyak hijab antara hamba dengan Tuhannya. Imam Abu Thalib Al-Makki (الإمام أبو طالب المكي) dalam Qut al-Qulub قوت القلوب menekankan bahwa kemalasan dalam amal salih adalah buah dari kelemahan niat dan lemahnya keyakinan terhadap janji Allah.

Bagi para salik, melawan kasal adalah bagian dari mujahadah (perjuangan jiwa). Barangsiapa yang malas berdzikir, maka jiwanya akan kering dari cahaya, dan barangsiapa malas shalat, maka ia akan terhalang dari kemanisan munajat. Karena itu, para guru suluk selalu menanamkan semangat kepada murid-muridnya agar senantiasa menjaga himmah همة (cita-cita ruhani) dan tidak membiarkan hari-harinya kosong dari dzikrullah.

Obat dari Kasal

1. Menanamkan rasa cinta dan takut kepada Allah secara seimbang. Cinta mendorong untuk mendekat, takut mencegah dari berpaling.

2. Mengingat mati dan menyandari akan pendeknya waktu hidup di dunia, agar hati terjaga dan senantiasa bersiap menuju akhirat.

3. Bersahabat dengan orang-orang yang semangat dalam ketaatan, karena semangat itu menular, sebagaimana malas pun menular.

4. Berdoa memohon perlindungan dari kasal, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sebagaimana hadits beliau yang lain:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di masa tua, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur."

(HR. Bukhari no. 6376)

Wahai para salikin, jangan biarkan kasal membelenggu langkahmu. Bangkitlah! bersihkan hati dari karat lalai dan peliharalah semangat ibadah seperti api yang menyala dalam dada. Setiap rakaat yang engkau dirikan, setiap dzikir yang engkau lantunkan, adalah jejakmu menuju Sang Kekasih, jangan biarkan satu pun langkahmu tertinggal oleh kemalasan.

Riya’ الرياء 

Riya’ (الرِّيَاء): Bahaya tersembunyi di dalam amal

Riya’ (الرِّيَاء) adalah racun halus dalam amal saleh, sebuah penyakit hati yang menjelma dalam wujud indah namun membawa kehancuran ruhani. Ia adalah memperlihatkan kebaikan dan amal ibadah kepada manusia, bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan sanjungan, pujian, atau kedudukan di mata makhluk. Maka tidaklah dinamakan ubudiyah jika pandangannya tertuju kepada selain Allah.

Para salaf menyebut riya’ sebagai "syirik khafī" (الشِّرْكُ الْخَفِيُّ), syirik yang tersembunyi, karena ia menyekutukan Allah dalam niat dan tujuan amal.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Riya’.”

(HR. Ahmad)

Dalam pandangan ruhani, riya’ adalah pengkhianatan terhadap ikhlas. Ia adalah noda pada cermin amal, yang merusak pantulan nur Ilahi dalam hati seorang salik. Amal yang dibangun di atas riya’ ibarat istana megah di atas pasir, tampak indah namun rapuh tak berakar.

Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ  ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”

(QS. Al-Ma’un: 4-6)

Betapa banyak orang yang amalnya terlihat indah di mata manusia, namun kosong nilainya di sisi Tuhan. Riya’ menjadikan amal bukan lagi persembahan cinta kepada Allah, melainkan sekedar pementasan di hadapan manusia. Ia adalah bentuk lain dari penjajahan ego, ketika hamba lebih senang dipuji makhluk daripada diridhai oleh Al-Khaliq.

Hakikat Riya’ menurut salah satu ulama sufi, yaitu Hujjatul Isalm Imam Al-Ghazali (حجة الإسلام الإمام الغزالي), dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din إحياء علوم الدين berkata:

الرِّيَاءُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِالطَّاعَةِ لِلَّهِ

“Riya’ adalah mencari kedudukan dalam hati manusia melalui ketaatan kepada Allah.”

Dan Imam Dzun-Nun al-Miṣri (الإمام ذو النون المصري) berkata:

ثَلَاثَةٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْمُرَائِي: يَكْسَلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ مَعَ النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ

“Tiga tanda orang yang riya’: ia malas beramal saat sendiri, semangat saat bersama orang lain, dan menambah amalnya saat dipuji.”

Maka, salik sejati harus waspada terhadap segala bentuk upaya mencuri perhatian makhluk dalam ibadahnya. Tidak ada yang lebih layak menjadi tujuan kecuali Allah. Amal yang dilakukan karena selain-Nya adalah seperti tubuh tanpa ruh, bergerak namun mati.

Tazkiyatun Nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ): Menyucikan Niat dari Riya’

Menghindari riya’ bukan dengan meninggalkan amal, tetapi dengan menyucikan niat dan menundukkan ego. Obatnya adalah muraqabah المُرَاقَبَةُ, merasa diawasi Allah setiap saat, dan muhasabah المُحَاسَبَةُ, mengoreksi niat sebelum, saat, dan setelah beramal.

Para guru suluk mengajarkan agar salik senantiasa berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا حَظًّا لِغَيْرِكَ

“Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami murni karena-Mu semata, dan jangan Engkau biarkan ada bagian untuk selain-Mu di dalamnya.”

Wahai para salikin, amalmu adalah persembahan cintamu kepada Dzat Yang Maha Melihat. Jangan kotori persembahan itu dengan harapan pujian makhluk, karena hanya wajah Allah yang pantas dijadikan tujuan. Beribadahlah seolah tidak ada yang melihatmu selain Dia. Dan beramallah seperti seorang kekasih yang sedang membisikkan cinta kepada Sang Kekasih dalam kesunyian malam.

Jauhilah riya’, karena ia adalah pencuri pahala dan pemutus hubungan batin dengan Tuhanmu. Sungguh, hanya amal yang dibangun di atas ikhlas yang akan sampai kepada-Nya.

Sum’ah سمعة 

Sum‘ah (السُّمْعَة): Suara amal yang dirusak oleh ego

Sum‘ah (السُّمْعَة) berasal dari kata sami‘a (سَمِعَ) yang berarti mendengar, namun dalam istilah ruhani, ia menjelma menjadi suatu penyakit hati, yakni keinginan agar manusia mendengar tentang amal kebaikan yang dilakukan seorang hamba, yang sebelumnya tersembunyi dan dilakukan dalam kesendirian.

Sum‘ah adalah ketika seorang hamba menceritakan amalnya sendiri, bukan karena niat menyebar manfaat atau menasihati, melainkan agar dikenal, dipuji, atau dihormati oleh manusia. Ia adalah jerat halus dari hawa nafsu yang menyelinap ke dalam niat, dan membelokkan tujuan amal dari Allah menuju makhluk.

Maka, sum‘ah adalah saudara kandung dari riya’, hanya berbeda dalam bentuknya:

Riya’ terjadi saat amal diperlihatkan langsung di hadapan manusia, sedangkan sum‘ah terjadi saat amal diceritakan atau diperdengarkan setelahnya, agar manusia menaruh kekaguman.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ سَمَّعَ، سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي، يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan sum‘ah (ingin didengar amalnya oleh orang lain), maka Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barang siapa yang berbuat riya’, maka Allah akan memperlihatkan keburukannya.”

(HR. Bukhari no. 6134, Muslim no. 2987)

Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya penyakit ini. Bukan hanya amalnya tidak diterima, bahkan aibnya akan disingkap oleh Allah, karena ia telah menukar keikhlasan dengan ambisi duniawi.

Allah SWT juga berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

(QS. Al-Kahfi: 110)

Imam al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menjelaskan, bahwa sum‘ah termasuk cabang dari riya’, dan sama-sama menghapus nilai keikhlasan.

Beliau ngadawuh:

الرِّيَاءُ أَنْ تَرَى وَالسُّمْعَةُ أَنْ تُسْمِعَ، وَكِلَاهُمَا طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ النَّاسِ

“Riya’ adalah engkau memperlihatkan, dan sum‘ah adalah engkau memperdengarkan. Keduanya adalah upaya mencari kedudukan di hati manusia.”

Para sufi menegaskan, bahwa orang yang suka membanggakan amalnya bukan sedang memperdengarkan kebaikannya, melainkan menyerahkan hatinya pada pujian, dan itu adalah awal dari kehancuran batin. Amal yang dahulu murni, berubah arah karena hasrat disanjung.

Untuk membersihkan diri dari sum‘ah, seorang salik harus menempuh jalan tazkiyah nafs (penyucian jiwa) melalui:

Ikhlas yang terus diperbarui, niat harus diawasi sebelum, saat, dan setelah amal.

Muraqabah (المراقبة), merasa selalu diawasi oleh Allah.

Muhasabah (المحاسبة), mengoreksi apakah dalam ucapan tersembunyi keinginan dipuji.

Menutupi amal dari manusia, kecuali jika maslahatnya besar dan niatnya murni.

Dan hendaklah seorang salik senantiasa berdoa, sebagaimana diajarkan para guru ruhani:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْعُجْبِ، وَاجْعَلْ نِيَّتِي خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ

“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari riya’, sum‘ah, dan ujub, serta jadikanlah niatku tulus karena wajah-Mu yang mulia.”

Wahai para salik, jangan rusak mutiara amalmu hanya demi kilau sorotan manusia. Amalmu adalah persembahan cinta, maka persembahkanlah ia hanya kepada Sang Kekasih yang Maha Mendengar, bukan kepada telinga makhluk yang terbatas.

Jika engkau ingin didengar oleh langit, jangan sibuk memperdengarkan amalmu di bumi. Biarlah malaikat yang menulisnya, dan biarlah Allah yang menilainya. Sebab tiada kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan di sisi-Nya.

‘Ujub عجب 

‘Ujub (عُجْب): Keangkuhan Tersembunyi di Balik Amal

‘Ujub (عُجْب) adalah penyakit hati yang sangat halus namun amat berbahaya. Ia muncul ketika seorang hamba mengagumi dirinya sendiri, merasa bahwa amal, ilmu, atau kelebihannya adalah keistimewaan yang menjadikan dirinya lebih utama dari orang lain. Padahal, segala yang ada pada diri kita, baik ilmu, ibadah, atau kebaikan, hanyalah anugerah dari Allah, bukan hasil dari kekuatan kita semata.

Secara hakikat, ‘ujub adalah penggelapan terhadap nikmat Allah, karena seseorang yang ‘ujub, lupa bahwa semua kebaikan bersumber dari taufik dan inayah Ilahi, bukan dari kehebatannya pribadi.

Perbedaan Halus Antara ‘riya’, sum‘ah, dan ‘ujub

Riya’ (الرِّيَاء): Beramal agar dilihat manusia.

Sum‘ah (السُّمْعَة): Menceritakan amal agar dipuji manusia.

‘Ujub (العُجْب): Merasa bangga dengan amal, walau tidak dilihat atau dipuji manusia.

Maka, ‘ujub adalah akar yang tersembunyi. Riya’ dan sum‘ah bisa dihentikan dengan menyembunyikan amal. Tapi ‘ujub mengendap di dalam dada, meski amal itu tersembunyi. Ia tetap merusak karena menganggap amal itu adalah hasil dari kehebatannya sendiri.

Rasulullah saw bersabda:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

(HR. Al-Bazzar dan Al-Bayhaqi)

Perhatikanlah wahai salik, bahwa ‘ujub disebut sebagai hal yang membinasakan, karena ia adalah racun ruhani yang mematikan hati pelan-pelan, menghancurkan keikhlasan, dan menghapus pahala amal tanpa disadari.

Imam al-Ghazali berkata di dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din:

العُجْبُ يَكُونُ بِالنِّعْمَةِ، وَيَكُونُ بِالدِّينِ، وَكِلَاهُمَا هَلَاكٌ

‘Ujub bisa terjadi karena nikmat duniawi, dan bisa pula karena urusan agama. Keduanya adalah jalan kehancuran.”

Imam Ibnu ‘Aṭa’illah As-Sakandari (الإمام ابن عطاء الله السكندري) berkata di dalam Al-Hikam الحكم:

رُبَّ مَعْصِيَةٍ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَٱنْكِسَارًا خَيْرٌ مِّن طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَٱسْتِكْبَارًا

“Betapa banyak maksiat yang menimbulkan rasa hina dan hancur, maka itu lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan sombong.”

Betapa mendalam kalimat ini. Sebab tujuan utama amal adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan menebalkan ego. Maka ketika amal menumbuhkan ‘ujub, ia kehilangan cahaya dan makna.

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati dari ‘Ujub, sadar bahwa semua amal adalah taufik dari Allah. Jangan pernah merasa “aku telah melakukan ini,” tetapi katakanlah, “Ini semua karena pertolongan Rabb-ku.”

Selalu melihat kekurangan diri, jangan lihat berapa banyak amal yang telah dilakukan, tetapi lihat sejauh mana ia diterima.

Bandingkan amalmu dengan amal para kekasih Allah, maka engkau akan tahu bahwa kita belum ada apa-apanya di hadapan mereka.

Berdoa agar Allah menjaga dari ‘ujub dan sombong,

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْنِي عَبْدًا فَقِيرًا إِلَيْكَ فِي كُلِّ حَالٍ

“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari ‘ujub dan kesombongan, dan jadikanlah aku hamba yang fakir kepada-Mu dalam setiap keadaan.”

Wahai para salikin, jangan kagum pada amalmu, sebab engkau hanyalah alat di tangan Tuhanmu. Jika engkau diberi taufik untuk taat, bersyukurlah, bukan membanggakan diri. Sebab yang paling utama bukan banyaknya amal, melainkan sejauh mana ia dilakukan karena Allah, dengan kerendahan dan pengakuan akan kelemahan. Oleh karena itu, siapa pun yang masih menyimpan ‘ujub dalam hatinya, hendaknya segera bertaubat sebelum amalnya menjadi debu yang berterbangan.

Hajbun الحجب 

Hijab yang Menghalangi Perjalanan Menuju Allah

Dalam perjalanan ruhani menuju Allah, seorang salik (penempuh jalan spiritual) akan senantiasa mendaki maqam demi maqam untuk meraih kedekatan dengan-Nya. Namun di antara bahaya terbesar dalam suluk ini adalah "al-ḥujub", hijab-hijab batin yang menutupi hati dari menyaksikan cahaya kehadiran Allah.

Inilah yang disebut dengan istilah الحجب (hajbun), yaitu segala sesuatu yang menjadi tirai penghalang antara hamba dan Rabb-nya.

الحجب bukan sekedar dosa lahiriah, namun bisa berupa sifat-sifat batin yang halus namun berbahaya: kekaguman terhadap amal sendiri, cinta pujian, keterikatan kepada dunia, bahkan merasa telah sampai. Semua ini dapat menjadi hijab, walau amal zahirnya tampak mulia.

Makna Hajbun dalam Pandangan Para Arifin

Imam Ibnu ‘Aṭa’illah as-Sakandari berkata dalam Al-Ḥikam:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tiada yang lebih bermanfaat bagi hati seperti uzlah (menyendiri) yang membawanya ke medan tafakkur.”

Karena dalam keheningan dan pengasingan itulah, hijab-hijab batin dapat disingkap. Sebaliknya, sibuk dengan makhluk, popularitas, atau amal yang diselimuti ujub dan riya, itu semua hanya akan menebalkan tirai hati.

Al-Imam Al-Ghazali juga menjelaskan dalam Iḥya’ ‘Ulum ad-Din:

وَمِنَ الْحُجُبِ مَا يَكُونُ مِنْ صُورَةِ الطَّاعَاتِ، إِذَا كَانَتْ خَالِيَةً مِنَ الْإِخْلَاصِ

“Termasuk hijab adalah bentuk ketaatan yang kosong dari keikhlasan.”

Amal-amal yang zahirnya baik namun batinnya tertipu, itulah hijab yang paling samar, namun paling halus dan sangat menyesatkan.

Allah SWT berfirman:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup (terhijab) dari (melihat) Tuhan mereka.”

(QS. Al-Muthaffifin: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa hijab dari Allah adalah hukuman bagi hati yang kotor dan berpaling, bahkan di akhirat kelak.

Dalam hadits qudsi Allah juga berfirman:

مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku fardukan kepadanya”

(HR. Bukhari)

Ini adalah petunjuk bahwa jalan untuk menyingkap hijab adalah dengan istiqamah dalam fardhu dan ikhlas dalam ibadah, bukan semata amal banyak, namun kosong dari kehadiran hati.

“Menyingkap Hijab, Menemukan Wujud”

Wahai jiwa yang merindu Tuhan, ketahuilah, bahwa Allah tidak jauh, namun hijab-hijab kitalah yang menjauhkan kita dari-Nya. Maka sucikanlah niat, hancurkanlah berhala ego, dan kembalilah ke hadirat-Nya dengan hati yang tunduk dan penuh kerinduan. Karena di balik setiap hijab, ada lautan cinta-Nya yang menanti untuk kita selami.

وَلَوْ كُشِفَتِ الْحُجُبُ، مَا ازْدَدْتُ يَقِينًا

“Seandainya hijab-hijab itu disingkap, aku tidak akan bertambah yakin.”

Kasauran Sayyidina ‘Ali bin Abi Ṭhalib كرم الله وجهه

Itulah makna dari “kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.” Sebuah renungan di ujung perjalanan maqam keimanan.

"Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu", kalimat ini bukan sekedar metafora puitis. Ia adalah isyarat agung bagi perjalanan panjang yang melelahkan, mendaki bukit-bukit tajalli, menyusuri lembah-lembah mujahadah, hingga menapaki gurun pengingkaran terhadap nafsu dan dunia.

Debu di jalan itu adalah simbol dari fana-nya diri. Sebuah pertanda bahwa jalan menuju Allah tidak akan pernah bersih dari luka, sakit, air mata, dan penolakan terhadap segala selain Dia. Debu itu adalah saksi bisu dari perjuangan seorang salik (penempuh jalan ruhani) yang membakar ego, menanggalkan hijab-hijab, dan melepaskan ketergantungan terhadap selain Allah.

Dan ketika seorang salik benar-benar menempuh jalan ini dengan sungguh-sungguh, dengan adab yang terjaga, dengan bimbingan mursyid yang warasatul anbiya, serta dengan keikhlasan yang murni, maka insyaAllah, ia akan sampai kepada tujuan tertinggi yang selama ini dicari, dan dirindukan oleh jiwa, yaitu hakikat makrifatullah.

Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi:

مَنْ طَلَبَنِي وَجَدَنِي، وَمَنْ وَجَدَنِي عَرَفَنِي، وَمَنْ عَرَفَنِي أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي عَبَدَنِي، وَمَنْ عَبَدَنِي أَسْكَنْتُهُ جَنَّتِي

"Barangsiapa mencari-Ku, niscaya ia akan menemukan-Ku. Barangsiapa telah menemukan-Ku, ia akan mengenal-Ku. Barangsiapa mengenal-Ku, niscaya ia akan mencintai-Ku. Barangsiapa mencintai-Ku, niscaya ia akan menyembah-Ku. Dan barangsiapa menyembah-Ku, niscaya Aku akan tempatkan ia di Surga-Ku."

Kitab Syu‘ab al-Iman (شُعَبِ الإِيمَانِ), karya agung dari Imam Al-Bayhaqi (الإمام البيهقي)

Maka wahai para kekasih Allah, sebelum lembaran pasal ini kita tutup, izinkan satu pesan agung ditanamkan dalam sanubari: Bahwa siapa pun yang ingin menempuh jalan menuju Allah, hendaklah ia menjaga keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Ketiganya adalah tiga mata air yang satu hulunya. Jika salah satu ditinggalkan, maka perjalanan itu akan pincang.

Syariat adalah pagar keselamatan. Tarekat adalah jalan pengolahan jiwa. Hakikat adalah cahaya penyaksian.

مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

“Barangsiapa bertasawuf namun tidak mempelajari fiqh, ia telah menjadi zindiq (sesat). Barangsiapa mempelajari fiqh namun tidak bertasawuf, ia telah menjadi fasiq. Dan barangsiapa menggabungkan keduanya, maka sungguh ia telah mencapai hakikat.”

Wahai para salikin, jangan terjebak dalam fatamorgana maqam, jangan tertipu oleh ilusi kebatinan, dan jangan merasa sampai sebelum benar-benar sampai. Pegang teguh syariat, istiqamah dalam tarekat, dan mohonkan cahaya hakikat. Sesungguhnya Allah tidak menilai seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa tulus niatmu menuju kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.”

(QS. Al-Insyiqaq: 6)

Semoga jalan yang berdebu itu membawa kita pada taman keabadian. Di sana tiada lagi hijab, tiada lagi kesamaran. Hanya ada Dia, yang selama ini menjadi tujuan segala rindu.

Kasauran ini ngamuat hikmah klasik nu mindeng diucapkeun ku para Masyaikh sufi, serta parantos sering dikedalkeun deui ku Abah Leuweunggede dina piwulang tasawufna,

ٱلشَّرِيعَةُ بِغَيْرِ ٱلْحَقِيقَةِ هَبَاءٌ، وَٱلْحَقِيقَةُ بِغَيْرِ ٱلشَّرِيعَةِ زِنْدَقَةٌ

Syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abah Raden Syair Langit Meluruskan Sejarah dan Ajaran Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar yang Selama ini di Palsukan

Abah Raden Syair Langit Meluruskan Sejarah dan Ajaran Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar yang Selama ini di Palsukan Untuk penjelasan selen...