Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48
(Seseorang yang Selalu di Rindukan)
“Tidak sedikit manusia yang telah tiada namun nama baik mereka tetap terjaga, kehidupannya dikenang sepanjang masa, meninggalkan kebaikan kepada sesama.
Jasad mereka telah mati, namun hakikatnya mereka tetap hidup. Kenangan mereka selalu di hati, dan cerita hidupnya tak pernah redup.
Lalu sebaliknya, banyak manusia yang masih hidup, tapi sekaan-akan mereka ini telah mati. Kehidupannya tidak berguna, ke-ingkarannya semakin merajalela. Saat ada, mereka dibenci. Saat mati, mereka disyukuri.
Jadilah manusia yang disaat engkau meninggal, semua orang menangisimu, dan saat engkau hidup, semua orang merindukanmu”
Penjelasan:
Mutiara ini mengajarkan bahwa ukuran hidup manusia bukanlah panjang pendeknya usia, bukan pula banyak sedikitnya harta, melainkan jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Ada manusia yang telah wafat ratusan tahun, tetapi nama mereka tetap harum, doa-doa terus dipanjatkan untuknya, dan manfaat ilmu serta amalnya terus mengalir hingga hari kiamat. Inilah tanda kehidupan yang hakiki: meski jasad telah kembali ke tanah, ruh dan amalnya tetap hidup di hati manusia.
Sebaliknya, ada manusia yang meski masih hidup, namun seakan-akan ia telah mati. Hidupnya tidak memberi manfaat, kehadirannya menjadi beban, ucapannya menyakiti, tindakannya merusak. Orang-orang tidak merindukannya, bahkan merasa lega bila ia tiada. Hidup semacam ini sesungguhnya adalah kematian dalam kehidupan, karena yang bergerak hanyalah jasad, sementara hatinya mati dari cahaya Allah.
Oleh karena itu, seorang salik diingatkan agar menjadi manusia yang dikenang kebaikannya, dirindukan amalnya, ditangisi kepergiannya, dan disyukuri keberadaannya. Hidupnya menjadi rahmat, wafatnya menjadi kehilangan, karena di dalam dirinya ada cahaya Allah yang selalu memberi manfaat bagi sesama.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
(QS. Ali ‘Imran: 169)
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan bukanlah jasad, tetapi ruh yang terhubung dengan Allah.
Rasulullah saw bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa meskipun jasad terkubur, amalnya tetap hidup dan terus mengalir manfaatnya.
Rasulullah saw juga bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, Thabrani)
Maka ukuran kemuliaan hidup adalah seberapa besar manfaat yang ia berikan.
Inti Hikmah
Kehidupan sejati adalah yang meninggalkan jejak kebaikan. Kematian sejati bukanlah ketika ruh keluar dari jasad, melainkan ketika hati mati dari dzikrullah.
Manusia yang dirindukan adalah manusia yang menghadirkan cahaya Allah dalam hidupnya, hingga ia tetap hidup meski jasad telah terkubur.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar