Abah Raden
Syair Langit (Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar) Skakmat Abah Setu yang Telah
Melakukan Penghinaan Kepada Baginda Nabi Muhammad SAW
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam takzim
bagi para pencari kebenaran.
Akhir-akhir
ini, jagat media sosial sering dihebohkan oleh celotehan yang keluar dari
congor congor menyesatkan seeperti Si Setu.
Sebenanrya
bukan hanya dia, karena bannyak makhluk makhluk model manusia ini yang celotehannya
banyak membahayakan umat.
Tapi kali ini
saya akan membahas khusus terkait si tua bangka ini. yang makin tua bukan nya
makin merendah tapi malah makin pongah.
Mulai dari
menafsirkan agama sesuka isi kepalanya, hingga puncaknya kemarin—dengan
lancang, congornya menyebut Nabi Muhammad tidak bisa menolong dirinya sendiri.
Melihat
fenomena ini, saya tidak bisa tinggal diam. Perkenalkan, saya Raden Syair
Langit. Sebagian besar dari Anda pasti sudah tahu siapa saya, dan apa yang
selama ini saya perjuangkan.
Saya adalah
orang yang berdiri di garda terdepan untuk meluruskan sejarah palsu Syekh Siti
Jenar—sang wali yang selama ini difitnah seolah-olah meninggalkan syariat
agama.
Dengarkan
baik-baik, Setu! Anda ini tipikal orang yang sok bicara thariqah, sok bicara
tasawuf, tapi isi kepala Anda justru menyepelekan syariat! Anda merasa sudah
sampai ke puncak spiritual lalu menganggap enteng rukun Islam dan merendahkan
kedudukan Baginda Rasulullah. Ingat Gusti Allah mboten sare.
Sebelum video
penghinaan Nabi ini viral, kelakuan Anda juga sudah bikin gaduh karena dengan
bodohnya menyebut salat lima waktu tidak ada di dalam Al-Qur'an. Ini adalah
ciri nyata dari orang yang buta sanad dan ingkar sunnah! Memang angka lima
waktu tidak ditulis secara ejaan matematika dalam satu ayat, tetapi perintahnya
tersebar jelas di berbagai ayat Al-Qur'an, (seperti QS. Al-Isra: 78 dan QS.
Hud: 114) dan detail rakaat serta waktunya diturunkan mutlak melalui hadis dan
praktik langsung Nabi Muhammad SAW.
Menolak salat
lima waktu sama saja Anda sedang merubuhkan fondasi Islam. Saya berbicara di
sini sebagai pelaku tarekat khash. Saya adalah penganut Tarekat Thaifuriyah,
tarekat pertama yang ada di muka bumi, pelanjut dari ajaran luhur Sultan
al-Arifin Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, dan Guru
Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.
Di dalam
lingkaran kami, kami memahami betul apa itu ajaran puncak: Ittihad, Hulul,
Wahdatul Wujud, hingga Manunggaling Kawulo Gusti.
Tetapi, kami
melihatnya dari kacamata yang haq, kacamata yang benar, bukan kacamata sesat
seperti pemahaman Anda.
Dalam
spiritualitas yang lurus, semakin tinggi tauhid seseorang, semakin ia fana di
hadapan syariat, bukan malah mengangkanginya. Syariat tanpa hakikat adlaah
kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan.
Bagaimana
mungkin seorang hamba mengaku sampai pada maqam Fana’ wal Baqo’, tapi lisannya
masih kotor merendahkan Rasulullah? Nabi Muhammad adalah pintu gerbang utama
dari segala makrifat. Menolak sang pintu, berarti Anda sedang tersesat di dalam
kegelapan ilusi Anda sendiri.
Secara hakikat,
ya, siapapun termasuk Baginda Nabi Muhammad SAW tidak bisa menolong dirinya
sendiri, karena hakikatnya hanya Allah Sang Maha penolong. Tapi adab mu kepada
Baginda Nabi, dengan mengatakan Muhammad orang madinah itu, caramu menyembuut
manusia mulia, sudah sangat meerendahkan dan bikin sakit hati seluruh umat
Islam yang otaknya waras tidak terpapar virus kesesatan.
Bagi saya, Setu
ini hanyalah makhluk yang sok thariqah padahal thothoriqohan, sok tasawuf
padahal tak sanggup. ngaku Ahlussunnah wal Jama'ah, padahal aslinya Ahlul
Jabrah wal Gagabah. Kamu itu sama dengan yang lainnya, kaum perusak yang hanya
mengandalkan omong kosong tanpa dasar sanad keilmuan yang jelas.
Sadar diri
Setu. Makrifatmu itu palsu, dan apa yang keluar dari mulutmu hanyalah racun yang
sangat berbahaya bagi umat.
Sebagai
penutup, kepada kaum muslimin wal muslimat, jika kalian melihat ada makhluk
makhluk macam si Setu ini yang suka ngomong thoriqoh, ngomong tasawuf, ngomong
makrifat, jangan kalian pukul rata semua pelaku thoriqoh. Karena pada
hakikatnya, orang yang benar-benar ber-thoriqoh itu bukan macam si Setu atau
siapapuun yang sejenisnya.
Orang yang
benar berthoriqoh akan tetap apik didalam syariat Agama. Orang yang benar
berthoriqoh akan ssemakin me rasa rendah, selalu menganggap orang lain lebih
baik daripada dirinya.
Ingat,
Didalam Mutiara
Hikmah Raden Syair Langit ke-46, yang kesemuanya sudah tersimpan didalam Kitab
Sajatining Mulyo karangan saya. Disana saya menjelaskan,
“Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu
bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya
sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau
sudah mampu menguasainya.
Tasawuf itu
adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah
tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk
melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh
Allah.
Tasawuf itu
adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah
Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”
Dan Didalam Mutiara
Hikmah Raden Syair Langit ke-58, yang kesemuanya juga sama, sudah tersimpan
didalam Kitab Sajatining Mulyo karangan saya.
Disana saya
menjelaskan,
“Wali Allah itu ibadahnya semakin luar biasa,
berbeda dengan manusia biasa, jangankan yang wajib, yang sunnah pun serasa
wajib. Jadi tidak ada Wali Allah yang menyepelekan urusan-urusan wajib seperti
shalat.
Kalau kalian
menemukan orang yang disebut Wali atau mengaku-ngaku Wali tetapi meninggalkan
shalat atau perkara-perkara lainnya yang diwajibkan oleh Allah, maka dia
bukanlah Wali Allah, tetapi hanya pecundang yang mengaku-ngaku Wali Allah,
diikuti oleh orang-orang bodoh, disanjung oleh orang-orang linglung.
Maha Guru
Mursyid kami Syekh Siti Jenar dan Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami adalah pelaku
amal ibadah yang luar biasa, jangankan shalat wajib, yang sunnah-pun serasa
wajib. Diceritakan dalam manaqbinya, shalat sunnah tahajud Beliau semenjak dari
usia tujuh tahun tidak pernah putus semalam seratus raka’at.
Ucapan seorang
Wali adalah hikmah, diamnya adalah tafakkur, penglihatannya adalah pelajaran
dan amalnya adalah kebaikan.
Apa
penjelasannya,
Hakikat seorang Wali adalah manusia
yang paling tunduk, taat, dan patuh terhadap perintah Allah. Kedekatan mereka
dengan Allah tidak menjadikan mereka bebas dari syariat, justru semakin kuat
berpegang pada syariat. Karena syariat adalah pondasi, dan hakikat adalah
buahnya.
Seorang Wali
sejati tidak akan pernah menyepelekan shalat, karena shalat adalah tiang agama.
Rasulullah saw
bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ
الدِّينِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ
هَدَمَ الدِّينَ
"Shalat
adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama.
Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama."
(HR. Baihaqi
dalam Syu‘ab al-Iman)
Allah SWT juga
berfirman - menegaskan tanda para Wali:
إِنَّ
أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ
آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
"Sesungguhnya
para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka
bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."
(QS. Yunus:
62–63)
Ketakwaan yang
dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan di lisan, melainkan ketaatan penuh
terhadap perintah dan larangan Allah. Sehingga tidak mungkin seorang yang
benar-benar Wali Allah menyepelekan syariat.
Adapun orang
yang mengaku Wali tetapi meninggalkan shalat, ataupun menyepelekan masalah adab
dan perkara-perkara syariat, maka sesungguhnya mereka hanyalah tukang tipu yang
memperdaya orang-orang jahil. Maka jangan kaget saudara, orang-orang yang doyan
mengikuti kelompok nyeleneh, tidak kurang tidak lebih, hanyalah orang-orang
bahlul murokab, yang gak punya otak.
Ulama besar
seperti Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:
كُلُّ طَرِيقٍ
لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ زَنْدَقَةٌ
"Setiap
jalan (tarekat) yang tidak disaksikan (didukung) oleh Al-Qur’an dan Sunnah,
maka itu adalah zindiq (sesat)."
Wali Allah
justru menambah amal-amal sunnah hingga terasa wajib dalam dirinya. Seperti
yang dicontohkan oleh Syekh Abu Yazid al-Busthami, yang sejak kecil melatih
diri dengan shalat sunnah ratusan rakaat setiap malam. Itu adalah bukti bahwa
cinta kepada Allah melahirkan pengabdian tanpa batas.
Maaf jika
kalian menganggap apa yang saya sampaikan terkesan sombong atau terlalu jumawa.
Ingat Setu,
para ulama kekasih Allah telah menanamkan satu kaidah yang sangat kuat:
اَلتَّكَبُّـرُ
عَلَى الْمُتَكَبِّـرِ صَدَقَـةٌ
Menyombongi
orang yang sombong, menghantam orang yang takabur dengan kesesatannya, adalah
ibadah sedekah!
Jika di hadapan
makhluk angkuh dan ingkar sunnah seperti Anda kami bersikap tawadhu atau lemah
lembut, itu sama saja kami membiarkan Anda semakin tenggelam dalam kesesatan.
Maka ketegasan
dan hantaman keilmuan yang saya lontarkan hari ini adalah sedekah terbaik untuk
menyadarkan ketololan berpikir Anda!
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَذَااْلعَالمَ َصَغِيْرًا اَ مَامَنَا وَدَعْ
اِسْمَكَ يَقِفُ دَائِمًافِيْ
قُلُوْبِنَا, كُلُّ شَيْءٍ هَاِلكٌ اِ لاَّ وَجْهَهُ
رَبِّ يَسِّرْ لَنَا وَلاَ تُعَسِّرْ عَلَيْنَا رَبِّ تَمِّمْ لَنَا
بِالـْخَيْرِ أَعْمَالَنَا
Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Raden Syair
Langit (Abah Leuweunggede)
Pendiri Majelis
Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya
%20Skakmat%20Abah%20Setu%20yang%20Tak%20Beradab%20Kepada%20Nabi.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar