Rabu, 09 September 2026

Abah Raden Syair Langit (Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar) Skakmat Abah Setu yang Telah Melakukan Penghinaan Kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

 


Abah Raden Syair Langit (Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar) Skakmat Abah Setu yang Telah Melakukan Penghinaan Kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

 


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam takzim bagi para pencari kebenaran.

Akhir-akhir ini, jagat media sosial sering dihebohkan oleh celotehan yang keluar dari congor congor menyesatkan seeperti Si Setu.

Sebenanrya bukan hanya dia, karena bannyak makhluk makhluk model manusia ini yang celotehannya banyak membahayakan umat.

Tapi kali ini saya akan membahas khusus terkait si tua bangka ini. yang makin tua bukan nya makin merendah tapi malah makin pongah.

Mulai dari menafsirkan agama sesuka isi kepalanya, hingga puncaknya kemarin—dengan lancang, congornya menyebut Nabi Muhammad tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Melihat fenomena ini, saya tidak bisa tinggal diam. Perkenalkan, saya Raden Syair Langit. Sebagian besar dari Anda pasti sudah tahu siapa saya, dan apa yang selama ini saya perjuangkan.

Saya adalah orang yang berdiri di garda terdepan untuk meluruskan sejarah palsu Syekh Siti Jenar—sang wali yang selama ini difitnah seolah-olah meninggalkan syariat agama.

Dengarkan baik-baik, Setu! Anda ini tipikal orang yang sok bicara thariqah, sok bicara tasawuf, tapi isi kepala Anda justru menyepelekan syariat! Anda merasa sudah sampai ke puncak spiritual lalu menganggap enteng rukun Islam dan merendahkan kedudukan Baginda Rasulullah. Ingat Gusti Allah mboten sare.

Sebelum video penghinaan Nabi ini viral, kelakuan Anda juga sudah bikin gaduh karena dengan bodohnya menyebut salat lima waktu tidak ada di dalam Al-Qur'an. Ini adalah ciri nyata dari orang yang buta sanad dan ingkar sunnah! Memang angka lima waktu tidak ditulis secara ejaan matematika dalam satu ayat, tetapi perintahnya tersebar jelas di berbagai ayat Al-Qur'an, (seperti QS. Al-Isra: 78 dan QS. Hud: 114) dan detail rakaat serta waktunya diturunkan mutlak melalui hadis dan praktik langsung Nabi Muhammad SAW.

Menolak salat lima waktu sama saja Anda sedang merubuhkan fondasi Islam. Saya berbicara di sini sebagai pelaku tarekat khash. Saya adalah penganut Tarekat Thaifuriyah, tarekat pertama yang ada di muka bumi, pelanjut dari ajaran luhur Sultan al-Arifin Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, dan Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Di dalam lingkaran kami, kami memahami betul apa itu ajaran puncak: Ittihad, Hulul, Wahdatul Wujud, hingga Manunggaling Kawulo Gusti.

Tetapi, kami melihatnya dari kacamata yang haq, kacamata yang benar, bukan kacamata sesat seperti pemahaman Anda.

Dalam spiritualitas yang lurus, semakin tinggi tauhid seseorang, semakin ia fana di hadapan syariat, bukan malah mengangkanginya. Syariat tanpa hakikat adlaah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan.

Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku sampai pada maqam Fana’ wal Baqo’, tapi lisannya masih kotor merendahkan Rasulullah? Nabi Muhammad adalah pintu gerbang utama dari segala makrifat. Menolak sang pintu, berarti Anda sedang tersesat di dalam kegelapan ilusi Anda sendiri.

Secara hakikat, ya, siapapun termasuk Baginda Nabi Muhammad SAW tidak bisa menolong dirinya sendiri, karena hakikatnya hanya Allah Sang Maha penolong. Tapi adab mu kepada Baginda Nabi, dengan mengatakan Muhammad orang madinah itu, caramu menyembuut manusia mulia, sudah sangat meerendahkan dan bikin sakit hati seluruh umat Islam yang otaknya waras tidak terpapar virus kesesatan.

Bagi saya, Setu ini hanyalah makhluk yang sok thariqah padahal thothoriqohan, sok tasawuf padahal tak sanggup. ngaku Ahlussunnah wal Jama'ah, padahal aslinya Ahlul Jabrah wal Gagabah. Kamu itu sama dengan yang lainnya, kaum perusak yang hanya mengandalkan omong kosong tanpa dasar sanad keilmuan yang jelas.

Sadar diri Setu. Makrifatmu itu palsu, dan apa yang keluar dari mulutmu hanyalah racun yang sangat berbahaya bagi umat.

Sebagai penutup, kepada kaum muslimin wal muslimat, jika kalian melihat ada makhluk makhluk macam si Setu ini yang suka ngomong thoriqoh, ngomong tasawuf, ngomong makrifat, jangan kalian pukul rata semua pelaku thoriqoh. Karena pada hakikatnya, orang yang benar-benar ber-thoriqoh itu bukan macam si Setu atau siapapuun yang sejenisnya.

Orang yang benar berthoriqoh akan tetap apik didalam syariat Agama. Orang yang benar berthoriqoh akan ssemakin me rasa rendah, selalu menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya.

Ingat,

Didalam Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46, yang kesemuanya sudah tersimpan didalam Kitab Sajatining Mulyo karangan saya. Disana saya menjelaskan,

 

          “Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.

Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.

Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Dan Didalam Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58, yang kesemuanya juga sama, sudah tersimpan didalam Kitab Sajatining Mulyo karangan saya.

Disana saya menjelaskan,

 

 “Wali Allah itu ibadahnya semakin luar biasa, berbeda dengan manusia biasa, jangankan yang wajib, yang sunnah pun serasa wajib. Jadi tidak ada Wali Allah yang menyepelekan urusan-urusan wajib seperti shalat.

Kalau kalian menemukan orang yang disebut Wali atau mengaku-ngaku Wali tetapi meninggalkan shalat atau perkara-perkara lainnya yang diwajibkan oleh Allah, maka dia bukanlah Wali Allah, tetapi hanya pecundang yang mengaku-ngaku Wali Allah, diikuti oleh orang-orang bodoh, disanjung oleh orang-orang linglung.

Maha Guru Mursyid kami Syekh Siti Jenar dan Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami adalah pelaku amal ibadah yang luar biasa, jangankan shalat wajib, yang sunnah-pun serasa wajib. Diceritakan dalam manaqbinya, shalat sunnah tahajud Beliau semenjak dari usia tujuh tahun tidak pernah putus semalam seratus raka’at.

Ucapan seorang Wali adalah hikmah, diamnya adalah tafakkur, penglihatannya adalah pelajaran dan amalnya adalah kebaikan.

Apa penjelasannya,

          Hakikat seorang Wali adalah manusia yang paling tunduk, taat, dan patuh terhadap perintah Allah. Kedekatan mereka dengan Allah tidak menjadikan mereka bebas dari syariat, justru semakin kuat berpegang pada syariat. Karena syariat adalah pondasi, dan hakikat adalah buahnya.

Seorang Wali sejati tidak akan pernah menyepelekan shalat, karena shalat adalah tiang agama.

Rasulullah saw bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ

"Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama."

(HR. Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman)

Allah SWT juga berfirman - menegaskan tanda para Wali:

إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."

(QS. Yunus: 62–63)

Ketakwaan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan di lisan, melainkan ketaatan penuh terhadap perintah dan larangan Allah. Sehingga tidak mungkin seorang yang benar-benar Wali Allah menyepelekan syariat.

Adapun orang yang mengaku Wali tetapi meninggalkan shalat, ataupun menyepelekan masalah adab dan perkara-perkara syariat, maka sesungguhnya mereka hanyalah tukang tipu yang memperdaya orang-orang jahil. Maka jangan kaget saudara, orang-orang yang doyan mengikuti kelompok nyeleneh, tidak kurang tidak lebih, hanyalah orang-orang bahlul murokab, yang gak punya otak.

Ulama besar seperti Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:

كُلُّ طَرِيقٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ زَنْدَقَةٌ

"Setiap jalan (tarekat) yang tidak disaksikan (didukung) oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah zindiq (sesat)."

Wali Allah justru menambah amal-amal sunnah hingga terasa wajib dalam dirinya. Seperti yang dicontohkan oleh Syekh Abu Yazid al-Busthami, yang sejak kecil melatih diri dengan shalat sunnah ratusan rakaat setiap malam. Itu adalah bukti bahwa cinta kepada Allah melahirkan pengabdian tanpa batas.

 

Maaf jika kalian menganggap apa yang saya sampaikan terkesan sombong atau terlalu jumawa.

Ingat Setu, para ulama kekasih Allah telah menanamkan satu kaidah yang sangat kuat:

اَلتَّكَبُّـرُ عَلَى الْمُتَكَبِّـرِ صَدَقَـةٌ

Menyombongi orang yang sombong, menghantam orang yang takabur dengan kesesatannya, adalah ibadah sedekah!

Jika di hadapan makhluk angkuh dan ingkar sunnah seperti Anda kami bersikap tawadhu atau lemah lembut, itu sama saja kami membiarkan Anda semakin tenggelam dalam kesesatan.

Maka ketegasan dan hantaman keilmuan yang saya lontarkan hari ini adalah sedekah terbaik untuk menyadarkan ketololan berpikir Anda!

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَذَااْلعَالمَ َصَغِيْرًا اَ مَامَنَا وَدَعْ اِسْمَكَ يَقِفُ  دَائِمًافِيْ قُلُوْبِنَا, كُلُّ شَيْءٍ هَاِلكٌ اِ لاَّ وَجْهَهُ

رَبِّ يَسِّرْ لَنَا وَلاَ تُعَسِّرْ عَلَيْنَا رَبِّ تَمِّمْ لَنَا بِالـْخَيْرِ أَعْمَالَنَا

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had Thoriqotul Auliya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9