Bikin Mual! Abah Raden Syair Langit Bongkar ‘Kejahatan Intelektual’ Buku Islam ala Prabowo
Sedulur sedulur yang semoga diberkahi Allah. Belakangan ini media sosial kita bising oleh sebuah karya literasi yang jujur, membuat dahi saya berkerut dalam-dalam, dan terus terang bikin perut saya sedikit agak mual. Sebuah buku berjudul 'Islam ala Prabowo'.
Saat pertama kali mendengar judul ini, refleks intelektual saya langsung bertanya: Sejak kapan metodologi, pemikiran, dan amaliah keislaman di negeri ini bersandar pada nama seorang politisi model Prabowo?
Kalau kita bicara 'Islam ala Mbah Hasyim Asy'ari', kita paham. Ada sanad keilmuan, ada kitab-kitab yang ditulis, ada tradisi pesantren yang mengakar.
Kalau kita bicara 'Islam ala KH. Ahmad Dahlan', kita mengerti. Ada rekam jejak pembaharuan sosial dan pendidikan yang nyata.
Tapi... 'Islam ala Prabowo'? Maaf, landasan epistemologi agamanya dari mana?"
"Mari kita berpikir jernih dan elegan. Menempatkan nama seorang tokoh politik dalam frasa 'Islam ala...' seolah-olah mengesankan bahwa Prabowo adalah seorang ulama, seorang 'alim, atau pemikir orisinal Islam yang fatwa dan ijtihadnya layak dijadikan rujukan umat.
Kalian tau kan, Prabowo pernah dengan terang terangan. bahwa dia termasuk orang yang menyukai sosok Mustafa Kemal Ataturk (tokoh sekuler radikal yang meruntuhkan Kekhalifahan Turki Utsmani dan dinilai mayoritas ulama telah merusak tatanan Islam).
Terus saya mau tanya, tidak usah jauh-jauh. Saya mau tahu bagaimana pehaman Islam sosok Prabowo? minimal saya mau tau dan mendengar kualitas bacaan Al Quran nya, minimal saya mau tau pehamana fiqih dasar nya, atau saya mau tau pemahaman tauhid dasar nya. Setidaknya dia paham safinah sebagai fiqih dasar, dan paham tijan sebagai landasan dasar dalam urusan aqidah.
Kita semua mengakui kalau Prabowo sebagai Kepala Negara, sebagai pemimpin politik. Itu ranah dia. Tetapi, memaksakan branding politik ke dalam wilayah sakralitas agama dengan judul sementereng itu, justru terasa seperti lelucon intelektual yang dipaksakan. Ini bukan lagi soal menghargai pemimpin, ini namanya mengaburkan batasan antara otoritas keagamaan dan panggung kekuasaan.
Pertanyaannya: Apakah demi sebuah syahwat politik, sebuah mazhab pemikiran baru harus dipaksakan lahir dari balik meja tim sukses?"
Kejanggalan buku ini ternyata tidak berhenti di sampul luar yang menggelitik itu. Begitu buku ini dibuka, isinya justru menceritakan cacat etika yang luar biasa parah. Beberapa ulama besar, tokoh yang benar-benar punya otoritas keilmuan, seperti Gus Kautsar, TGB Zainul Majdi, hingga Kiai Said Aqil Siradj, satu per satu angkat bicara. Mereka melayangkan protes keras karena nama mereka dicatut sebagai penulis naskah tanpa izin dan tanpa konfirmasi.
Bayangkan, sebuah buku yang mengklaim ingin memotret cara mengamalkan ajaran Islam, justru lahir dari sebuah proses yang melanggar etika dasar kejujuran. Islam mengajarkan tabayyun dan amanah. Tapi buku ini justru diproduksi dengan cara mengklaim tulisan orang lain demi mencari legitimasi dari para ulama. Apakah menipu identitas penulis di dalam buku agama adalah bagian dari 'Islam ala' yang ingin diajarkan oleh tim penyusun ini?
Ini bukan sekadar kelalaian administrasi, ini adalah bentuk pelecehan terhadap integritas ilmiah."
Dan yang paling menyedihkan dari seluruh drama ini adalah keterlibatan institusi keagamaan tertinggi kita seperti MUI. Bagaimana mungkin proyek buku yang sarat akan kepentingan branding politik, dan terbukti cacat etika sejak dalam kandungan, bisa diinisiasi dan diluncurkan secara megah oleh elite Majelis Ulama Indonesia? Di mana marwah lembaga fatwa ketika mereka justru sibuk menjadi tim pemandu sorak untuk sebuah buku politik yang merugikan nama baik para ulama di jajarannya sendiri?"
Minim Jejak Intelektual Independen:
Profil mendalam dari ketiga penulis ini (Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas) tergolong sangat minim dan hampir tidak memiliki rekam jejak independen yang menonjol di dunia literasi, riset akademik, maupun kajian keislaman nasional sebelum buku ini terbit.
Banyak pengamat literasi di media sosial menilai mereka sebagai nama-nama baru yang rekam jejak independennya "kurang terdengar" di ruang publik.
Bagian dari Tim Penyusun Tim Sukses/Afiliasi Politik:
Penulisan buku ini tidak murni lahir dari inisiatif riset independen secara personal. Ketiganya bergerak sebagai sebuah tim penyusun atau tim penulis yang bekerja di bawah arahan inisiator utama. Diketahui bahwa proyek buku ini diinisiasi oleh Ketua MPR RI yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, bersama dengan unsur pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dengan demikian, posisi ketiga penulis ini lebih berperan sebagai eksekutor naskah (ghostwriter atau tim perumus) yang bertugas menghimpun opini, melakukan wawancara, dan mengumpulkan data terkait citra keislaman Prabowo Subianto.
Banyak pihak menyayangkan mengapa elite MUI ikut menggagas buku politik yang pada akhirnya justru tersandung masalah serius berupa "kejahatan intelektual" karena mencatut nama-nama ulama besar NU seperti Kiai Said Aqil tanpa izin.
Sedulur sedulur yang semoga diberkahi Allah, menghormati pemimpin itu wajib. Menghargai kinerjanya itu adil. Tetapi, memperlakukan figur politik seolah-olah dia adalah rujukan teologis, adalah sebuah lompatan logika yang kebablasan. Buku ini tidak sedang mengedukasi umat, buku ini sedang mempertontonkan bagaimana agama bisa dikemas dengan begitu murah demi sebuah kepentingan.
Umat Islam di Indonesia sudah cerdas. Kita tahu mana ulama yang bicaranya berlandaskan kitab, dan mana buku yang ditulis sekadar untuk memoles citra.
Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma’had thoriqotul Auliya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar