Selasa, 08 September 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58 (Tidak Ada Wali yang Meyepelekan Syariat)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-58

(Tidak Ada Wali yang Meyepelekan Syariat)


 “Wali Allah itu ibadahnya semakin luar biasa, berbeda dengan manusia biasa, jangankan yang wajib, yang sunnah pun serasa wajib. Jadi tidak ada Wali Allah yang menyepelekan urusan-urusan wajib seperti shalat.

Kalau kalian menemukan orang yang disebut Wali atau mengaku-ngaku Wali tetapi meninggalkan shalat atau perkara-perkara lainnya yang diwajibkan oleh Allah, maka dia bukanlah Wali Allah, tetapi hanya pecundang yang mengaku-ngaku Wali Allah, diikuti oleh orang-orang bodoh, disanjung oleh orang-orang linglung.

Maha Guru Mursyid kami, Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, beigitupun Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, adalah pelaku amal ibadah yang luar biasa, jangankan shalat wajib, yang sunnah-pun serasa wajib. Diceritakan dalam manaqbinya, shalat sunnah tahajud Beliau semenjak dari usia tujuh tahun tidak pernah putus semalam seratus raka’at.

Ucapan seorang Wali adalah hikmah, diamnya adalah tafakkur, penglihatannya adalah pelajaran dan amalnya adalah kebaikan.


Penjelasan:

Hakikat seorang Wali adalah manusia yang paling tunduk, taat, dan patuh terhadap perintah Allah. Kedekatan mereka dengan Allah tidak menjadikan mereka bebas dari syariat, justru semakin kuat berpegang pada syariat. Karena syariat adalah pondasi, dan hakikat adalah buahnya.

Seorang Wali sejati tidak akan pernah menyepelekan shalat, karena shalat adalah tiang agama.

Rasulullah saw bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ

"Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama."

(HR. Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman)

Allah SWT juga berfirman - menegaskan tanda para Wali:

إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."

(QS. Yunus: 62–63)

Ketakwaan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan di lisan, melainkan ketaatan penuh terhadap perintah dan larangan Allah. Sehingga tidak mungkin seorang yang benar-benar Wali Allah menyepelekan syariat.

Adapun orang yang mengaku Wali tetapi meninggalkan shalat, maka sesungguhnya mereka hanyalah tukang tipu yang memperdaya orang-orang jahil. Ulama besar seperti Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:

كُلُّ طَرِيقٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ زَنْدَقَةٌ

"Setiap jalan (tarekat) yang tidak disaksikan (didukung) oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah zindiq (sesat)."

Wali Allah justru menambah amal-amal sunnah hingga terasa wajib dalam dirinya. Seperti yang dicontohkan oleh Syekh Abu Yazid al-Busthami, yang sejak kecil melatih diri dengan shalat sunnah ratusan rakaat setiap malam. Itu adalah bukti bahwa cinta kepada Allah melahirkan pengabdian tanpa batas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9