“Sejatinya, merekalah manusia yg tak mengenal Allah yg gila, mereka melihat kami gila, karena justru merekalah yang gila dan tak sampai kepada maqam kami.
Pada hakikatnya, orang yg gila itu adalah orang yg mengaku ber-Tuhan kepada Allah, tapi mereka tidak ber-makrifat kepada-Nya, ingkar kepada-Nya, dan tak mau taat kepada-Nya. Dan mereka itu belum mampu memahami, dan belum mampu untuk mengerti, tentang hakikat sajatining urip yang sebenanrya.
Kalian melihat kegilaan dari kegilaan kalian sendiri, sedangkan kami melihat kegilaan dari kewarasan kami sendiri”
Penjelasan:
Sejak dahulu para pecinta Allah (ahlullah) sering dituduh “gila” oleh manusia biasa. Mereka dianggap aneh, bahkan tidak waras, karena hidup mereka berbeda dari kebanyakan orang. Namun, yang sesungguhnya gila adalah orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi tidak mengenal-Nya, tidak taat kepada-Nya, bahkan mengingkari-Nya.
Hakikat kegilaan menurut para arif adalah keterputusan dari Allah. Sebab, bila hati tidak mengenal Allah, ruh tidak mengingat Allah, dan hidup tidak diarahkan kepada Allah, maka sejatinya ia berada dalam kegilaan yang lebih dalam daripada sekadar sakit jiwa.
Sedangkan kewarasan sejati ialah mengenal Allah, mencintai-Nya, dan tenggelam dalam cahaya makrifat. Itulah sebabnya, Abah mengatakan: “Jika cinta kami kepada Allah disebut gila, maka biarlah dunia menyebut kami gila, karena dalam kegilaan itu kami menemukan kewarasan yang sejati.”
Mereka yang belum mencapai maqam makrifat hanya menilai lahiriah: cara bicara, cara ibadah, atau sikap zahir para pecinta Allah. Padahal, hakikat sejati (sajatining urip) hanya bisa dipahami dengan hati yang jernih, bukan dengan akal yang dangkal.
Gusti Allah ngadawuh di dalam Al-Qur’an:
وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
“Tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
(QS. Al-‘Ankabut: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa memahami hakikat, hanya mereka yang diberi ilmu dan makrifat oleh Allah.
Raden Syair Langit Menanggapi Ada Seorang Kuwu Di Sukamantri Ciamis yang Mengadakan Hiburan di Pelataran Masjid & Menyuruh Pemuda Untuk Mabok di Peringatan HUT RI ke-81
Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-52 (Menganggap Allah Ada Tapi Merasa Allah Tiada)
“Bagaimana bisa engkau menyebut Allah itu ada tapi sekaligus engkau merasa Dia tidak ada? Dan bagaimana mungkin engkau menganggap Allah itu nampak, namun dirimu tidak melihat Allah nampak?
Kosongkan dirimu dari khayalan semu, angkatlah tubuhmu dari manusia serta makhluk lainnya.
Bicaralah tentang Allah sesuai dengan pengetahuanmu, dan tenggelamkanlah dirimu dalam lautan cinta kepada-Nya, agar engkau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”
Penjelasan:
Banyak orang meyakini bahwa Allah itu ada (wujudullah), tetapi dalam kehidupan sehari-harinya ia merasa seakan-akan Allah tiada. Bibir mengucapkan “Allah ada”, namun hati tidak menghadirkan-Nya dalam rasa dan kesadaran. Itulah yang disebut dengan iman yang hanya sebatas lisan dan pikiran, tetapi belum turun ke dalam hati dan ruh.
Orang yang benar-benar mengenal Allah (arif billah), ia tidak hanya berhenti pada ucapan, melainkan hatinya senantiasa hadir bersama Allah. Baginya, Allah lebih nyata daripada segala sesuatu, meski Allah tidak bisa dijangkau oleh pancaindra.
Kekosongan hati dari kesadaran Allah membuat seseorang terjebak pada ilusi, khayalan, dan keterikatan dengan makhluk. Sebaliknya, jika ia mengosongkan dirinya dari segala bayangan semu, melepaskan ketergantungannya pada manusia dan makhluk, maka jiwanya akan terangkat kepada Allah, hingga ia merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupannya.
Mengenal Allah bukanlah sekedar wacana, melainkan pengalaman batin yang lahir dari cinta, dzikir, dan penyerahan diri total. Ketika seorang hamba tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, ia akan mencapai maqam makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.