Kamis, 20 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-53 (Kami atau Kalian yang Gila)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-53

(Kami atau Kalian yang Gila)


“Sejatinya, merekalah manusia yg tak mengenal Allah yg gila, mereka melihat kami gila, karena justru merekalah yang gila dan tak sampai kepada maqam kami.

Pada hakikatnya, orang yg gila itu adalah orang yg mengaku ber-Tuhan kepada Allah, tapi mereka tidak ber-makrifat kepada-Nya, ingkar kepada-Nya, dan tak mau taat kepada-Nya. Dan mereka itu belum mampu memahami, dan belum mampu untuk mengerti, tentang hakikat sajatining urip yang sebenanrya.

Kalian melihat kegilaan dari kegilaan kalian sendiri, sedangkan kami melihat kegilaan dari kewarasan kami sendiri”


Penjelasan:

Sejak dahulu para pecinta Allah (ahlullah) sering dituduh “gila” oleh manusia biasa. Mereka dianggap aneh, bahkan tidak waras, karena hidup mereka berbeda dari kebanyakan orang. Namun, yang sesungguhnya gila adalah orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi tidak mengenal-Nya, tidak taat kepada-Nya, bahkan mengingkari-Nya.

Hakikat kegilaan menurut para arif adalah keterputusan dari Allah. Sebab, bila hati tidak mengenal Allah, ruh tidak mengingat Allah, dan hidup tidak diarahkan kepada Allah, maka sejatinya ia berada dalam kegilaan yang lebih dalam daripada sekadar sakit jiwa.

Sedangkan kewarasan sejati ialah mengenal Allah, mencintai-Nya, dan tenggelam dalam cahaya makrifat. Itulah sebabnya, Abah mengatakan: “Jika cinta kami kepada Allah disebut gila, maka biarlah dunia menyebut kami gila, karena dalam kegilaan itu kami menemukan kewarasan yang sejati.”

Mereka yang belum mencapai maqam makrifat hanya menilai lahiriah: cara bicara, cara ibadah, atau sikap zahir para pecinta Allah. Padahal, hakikat sejati (sajatining urip) hanya bisa dipahami dengan hati yang jernih, bukan dengan akal yang dangkal.

Gusti Allah ngadawuh di dalam Al-Qur’an:

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

 “Tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabut: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa memahami hakikat, hanya mereka yang diberi ilmu dan makrifat oleh Allah.

Tuduhan Kaum Kafir kepada Rasulullah saw:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

 Dan mereka berkata: ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar gila’.”

(QS. Al-Hijr: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tuduhan “gila” kepada orang yang dekat dengan Allah sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda:

أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْمَجَانِينُ

 “Kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang yang (dulu dianggap) gila.”

(HR. Ad-Dailami)

Maknanya: orang-orang yang oleh manusia dinilai gila karena zuhud, ibadah, dan cintanya kepada Allah, padahal merekalah yang waras di sisi Allah.

Inti Hikmah

Gila yang hakiki: mengaku ber-Tuhan tapi tidak mengenal Allah.

Waras yang hakiki: mengenal, mencinta, dan taat kepada Allah.

Dunia melihat para pencinta Allah sebagai gila, padahal kewarasan sejati ada di pihak mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9