Rabu, 19 Agustus 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-52 (Menganggap Allah Ada Tapi Merasa Allah Tiada)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-52 (Menganggap Allah Ada Tapi Merasa Allah Tiada)

“Bagaimana bisa engkau menyebut Allah itu ada tapi sekaligus engkau merasa Dia tidak ada? Dan bagaimana mungkin engkau menganggap Allah itu nampak, namun dirimu tidak melihat Allah nampak?

Kosongkan dirimu dari khayalan semu, angkatlah tubuhmu dari manusia serta makhluk lainnya.

Bicaralah tentang Allah sesuai dengan pengetahuanmu, dan tenggelamkanlah dirimu dalam lautan cinta kepada-Nya, agar engkau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”

Penjelasan:
Banyak orang meyakini bahwa Allah itu ada (wujudullah), tetapi dalam kehidupan sehari-harinya ia merasa seakan-akan Allah tiada. Bibir mengucapkan “Allah ada”, namun hati tidak menghadirkan-Nya dalam rasa dan kesadaran. Itulah yang disebut dengan iman yang hanya sebatas lisan dan pikiran, tetapi belum turun ke dalam hati dan ruh.
Orang yang benar-benar mengenal Allah (arif billah), ia tidak hanya berhenti pada ucapan, melainkan hatinya senantiasa hadir bersama Allah. Baginya, Allah lebih nyata daripada segala sesuatu, meski Allah tidak bisa dijangkau oleh pancaindra.
Kekosongan hati dari kesadaran Allah membuat seseorang terjebak pada ilusi, khayalan, dan keterikatan dengan makhluk. Sebaliknya, jika ia mengosongkan dirinya dari segala bayangan semu, melepaskan ketergantungannya pada manusia dan makhluk, maka jiwanya akan terangkat kepada Allah, hingga ia merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupannya.
Mengenal Allah bukanlah sekedar wacana, melainkan pengalaman batin yang lahir dari cinta, dzikir, dan penyerahan diri total. Ketika seorang hamba tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, ia akan mencapai maqam makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Gusti Allah ngadawuh:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu ada dan menyertai, namun banyak manusia lalai hingga merasa seolah Allah tidak ada.
Gusti Allah ngadawuh di dalam Hadis Qudsi:
أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari Muslim)
Ini menegaskan pentingnya menghadirkan Allah dalam hati. Barang siapa menyangka Allah dekat dan ada, maka ia akan merasakan kehadiran-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9