Acara : Tabligh Akbar Memperingati Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW
Waktu : Minggu Malam Senin. 23 Agustus 2026 M, Pukul 20:00 sampai selesai
Lokasi : Cilumping Kecamatan Dayeh Luhur Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah
Acara : Tabligh Akbar Memperingati Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW
Waktu : Minggu Malam Senin. 23 Agustus 2026 M, Pukul 20:00 sampai selesai
Lokasi : Cilumping Kecamatan Dayeh Luhur Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah
(Kami atau Kalian yang Gila)
“Sejatinya, merekalah manusia yg tak mengenal Allah yg gila, mereka melihat kami gila, karena justru merekalah yang gila dan tak sampai kepada maqam kami.
Pada hakikatnya, orang yg gila itu adalah orang yg mengaku ber-Tuhan kepada Allah, tapi mereka tidak ber-makrifat kepada-Nya, ingkar kepada-Nya, dan tak mau taat kepada-Nya. Dan mereka itu belum mampu memahami, dan belum mampu untuk mengerti, tentang hakikat sajatining urip yang sebenanrya.
Kalian melihat kegilaan dari kegilaan kalian sendiri, sedangkan kami melihat kegilaan dari kewarasan kami sendiri”
Penjelasan:
Sejak dahulu para pecinta Allah (ahlullah) sering dituduh “gila” oleh manusia biasa. Mereka dianggap aneh, bahkan tidak waras, karena hidup mereka berbeda dari kebanyakan orang. Namun, yang sesungguhnya gila adalah orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi tidak mengenal-Nya, tidak taat kepada-Nya, bahkan mengingkari-Nya.
Hakikat kegilaan menurut para arif adalah keterputusan dari Allah. Sebab, bila hati tidak mengenal Allah, ruh tidak mengingat Allah, dan hidup tidak diarahkan kepada Allah, maka sejatinya ia berada dalam kegilaan yang lebih dalam daripada sekadar sakit jiwa.
Sedangkan kewarasan sejati ialah mengenal Allah, mencintai-Nya, dan tenggelam dalam cahaya makrifat. Itulah sebabnya, Abah mengatakan: “Jika cinta kami kepada Allah disebut gila, maka biarlah dunia menyebut kami gila, karena dalam kegilaan itu kami menemukan kewarasan yang sejati.”
Mereka yang belum mencapai maqam makrifat hanya menilai lahiriah: cara bicara, cara ibadah, atau sikap zahir para pecinta Allah. Padahal, hakikat sejati (sajatining urip) hanya bisa dipahami dengan hati yang jernih, bukan dengan akal yang dangkal.
Gusti Allah ngadawuh di dalam Al-Qur’an:
وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
“Tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
(QS. Al-‘Ankabut: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa memahami hakikat, hanya mereka yang diberi ilmu dan makrifat oleh Allah.
Tuduhan Kaum Kafir kepada Rasulullah saw:
وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ
Dan mereka berkata: ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar gila’.”
(QS. Al-Hijr: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa tuduhan “gila” kepada orang yang dekat dengan Allah sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda:
أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْمَجَانِينُ
“Kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang yang (dulu dianggap) gila.”
(HR. Ad-Dailami)
Maknanya: orang-orang yang oleh manusia dinilai gila karena zuhud, ibadah, dan cintanya kepada Allah, padahal merekalah yang waras di sisi Allah.
Inti Hikmah
Gila yang hakiki: mengaku ber-Tuhan tapi tidak mengenal Allah.
Waras yang hakiki: mengenal, mencinta, dan taat kepada Allah.
Dunia melihat para pencinta Allah sebagai gila, padahal kewarasan sejati ada di pihak mereka.
Raden Syair Langit Menanggapi Ada Seorang Kuwu Di Sukamantri Ciamis yang Mengadakan Hiburan di Pelataran Masjid & Menyuruh Pemuda Untuk Mabok di Peringatan HUT RI ke-81
“Bagaimana bisa engkau menyebut Allah itu ada tapi sekaligus engkau merasa Dia tidak ada? Dan bagaimana mungkin engkau menganggap Allah itu nampak, namun dirimu tidak melihat Allah nampak?
Kosongkan dirimu dari khayalan semu, angkatlah tubuhmu dari manusia serta makhluk lainnya.
Bicaralah tentang Allah sesuai dengan pengetahuanmu, dan tenggelamkanlah dirimu dalam lautan cinta kepada-Nya, agar engkau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”
“KDM Minta Maaf Kepada Rakyat Pejabat Berdiri Orang Susah Duduk di VIV | Sikap Luar Biasa di HUT RI ke-81, Tanggapan Abah Raden Syair Langit”
Sikap kesatria seroang Dedi mulyadi ini mendapatkan pujian dari Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya, Abah Leuweunggede Raden Syair Langit
Saat diwawancaara tim Jejak Makrifat, Beliau berpendapat seperti ini :
Ada kurang lebih sekitar 433.000 pejabat di Indoensia dari skup baawah sampai atas. Dari ke 433.000 pejabaat itu, ada kurag lebih sektiar 92.000 pejabat yang memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi Inspektur Upacara pada Hari Kemerdekaan Indonesia.
Tapi maaf jika saya salah data, karena tidak semua terekspos media. kemungkinan hanya ada satu orang yang dalam pidato peringatan hari kemerdekaan Indoensia meminta maaf kepada rakyatnya. Dialah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dulu di kisaran tahun 2016 saya sangat membencinya, namun kebencian itu berubah saat melihat sosok KDM yang suka berbagi kepada rakyat kecil, menolong tanpa melihat siapa yang di tolong, lebih memuliakan orang susah, ketimbang jadi penjilat orang-orang yang berkuasa di atasnya.
Maaf, sekali lagi saya minta maaf, jika ternyata ada yang berpidato dengan redaksi yang hampir sama, selain KDM di peringtaan upacara Kemerdekaaan Indoensia yang ke-81. Karena sekali lagi saya tegaskan, banyak yang menjadi inspektur upacara, namun tidak semua terekspos media.
Satu hal lagi yang ingin saya garis bawahi di peringatan hari kemerdekana Indoensia yang ke 81 ini. Kayaknya hanya di jawa barat, yang rakyat kecil nya di suruh duduk di panggung kehormatan kelas VIP, dan justru para pejabatnya yang disuruh berdiri di lapangan, merasakan panasnya teerik matahari.
Di tengah riuhnya seremonial, kepulan asap jabat tangan, dan klaim keberhasilan yang dibacakan dari teks yang hampir seragam, mungkin hanya ada satu orang pejabat tinggi yang justru menggunakan podium kemerdekaan untuk mengetuk pintu kesadaran kita semua.
Beliau berani menundukkan kepala dan meminta maaf secara terbuka kepada rakyatnya. Dialah Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
Mungkin baru pertama kali dalam sejarah upacara resmi negara, aturan protokoler dibalik total atas nama kemanusiaan.
Di Jawa Barat, tenda megah dan kursi empuk panggung kehormatan kelas VIP yang biasanya diisi oleh barisan jas mewah para pejabat, hari itu diserahkan sepenuhnya untuk diduduki oleh rakyat kecil. Para petani, nelayan, kuli bangunan, hingga petugas kebersihan jalan.
Sementara para pejabat, anggota dewan, dan petinggi instansi? Mereka diminta mengalah. Berdiri di lapangan terbuka, merasakan langsung teriknya matahari, persis seperti apa yang dirasakan rakyatnya setiap hari selama puluhan tahun.
Tentu, ruang media kita terbatas. Saya memohon maaf jika ada redaksi serupa atau ada inspektur upacara di pelosok desa lain yang juga berpidato meminta maaf namun tidak terekspos kamera.
Tetapi poin utamanya bukan sekedar siapa yang masuk berita. Poin utamanya adalah pesan kuat yang dikirimkan dari halaman Gedung Sate:
Bahwa kemerdekaan bukan tentang seberapa nyaman pejabatnya duduk di dalam tenda, melainkan seberapa menderita pejabatnya saat rakyatnya belum merdeka.
Untuk para pejabat yang soleh, saya doakan kalian masuk kedalam golongan para pemimpin yang adil, yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah, di hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya.
Namun untuk kalian para pejabat b4ngsat, upacara sudah selesai. Sekarang saatnya berkaca.
Kematian tidak pernah bertanya kalian masih muda, sudah tua, sedang sakit atau dalam keadaan sehat. lebih baik segera bertaubat, jatuhkan ambisi dan keserakahanmu, mumpung nyawa masih di badan, karena saat kalian mati, penyesalan tidak akan pernah berarti.
Cuplikan Ceramah Raden Syair Langit "Mubaligh Ceramah Karena Amplop Masyarakat Ngaji Hayang Rame GEMBRUNG GALENDO Nu Burung jeung Nu Ge...