Kamis, 11 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46 (Tasawuf itu Bukan Teori)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46

(Tasawuf itu Bukan Teori)


“Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.

Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.

Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Penjelasan:

Tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam mutiara ini, bukanlah ilmu yang bisa dimiliki hanya dengan menghafal istilah atau membaca kitab. Ia bukan teori yang bisa diperdebatkan, bukan pula retorika indah yang bisa dibanggakan di hadapan orang banyak. Tasawuf adalah jalan hidup, ia harus dialami, dirasakan, dijalani, dan dibuktikan dengan akhlak serta laku yang nyata.

Seorang salik yang baru mengenal tasawuf seringkali terjebak pada kesombongan ilmu. Ia merasa telah memahami hakikat karena membaca kitab-kitab para ulama sufi, lalu berbicara panjang lebar tentang fana’, baqa’, wujudiyyah, atau makrifatullah. Padahal semua itu hanya kata-kata di bibir, sementara hati dan amalnya jauh dari kenyataan hakikat. Inilah yang diperingatkan: jangan sampai tasawuf menjadi sekadar bualan belaka.

Hakikat tasawuf bukanlah terletak pada lidah, melainkan pada kerendahan hati. Seorang sufi sejati adalah ia yang memandang dirinya hina dibandingkan orang lain, tidak merasa lebih mulia meski mungkin banyak beribadah. Kerendahan diri inilah inti tasawuf, karena ia lahir dari kesadaran bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, sedangkan keburukan semata-mata dari kelemahan diri sendiri.

Tasawuf juga tampak pada sikap tidak membalas kedengkian dengan kedengkian. Seorang sufi tidak menyimpan dendam meski disakiti, karena ia sadar bahwa semua perlakuan makhluk hanyalah perantara dari Allah. Ia memandang bahwa orang yang iri, dengki, dan memusuhi, hanyalah cermin untuk menguji kejernihan hatinya. Bila ia mampu membalas dengan doa, sabar, dan kasih sayang, maka ia telah berjalan di atas jalan tasawuf yang benar.

Lebih dalam lagi, tasawuf adalah kesadaran yang membongkar tabir keakuan. Seorang salik dituntun untuk menyadari bahwa dirinya hanyalah bangkai yang diberi nyawa. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari tubuh ini, sebab hakikatnya hanyalah jasad fana yang suatu saat akan kembali menjadi tanah. Ruh yang ada di dalamnya bukan miliknya, melainkan titipan Allah. Maka siapa yang sombong dengan dirinya, sesungguhnya ia sombong dengan sesuatu yang bukan miliknya.

Puncaknya, tasawuf adalah ketika kata “aku”, “kamu”, dan “kita” lenyap. Hilang segala dualitas, hilang segala sekat, dan yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’, di mana ego luluh, keakuan sirna, dan seorang hamba hanya menyaksikan Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘azza wa jalla yang Maha Hidup, Maha Kekal, dan Maha Berdiri Sendiri. Pada maqam ini, hamba tidak lagi berkata “aku mencintai Allah”, karena “aku” sudah tiada; yang ada hanyalah Allah Yang Mencintai dan Allah Yang Dicintai.

Maka benar adanya, tasawuf bukanlah sekadar teori untuk dipelajari, melainkan laku yang mesti dijalani. Ia adalah perjalanan panjang: dari ilmu menuju amal, dari amal menuju akhlak, dari akhlak menuju fana’, dari fana’ menuju baqa’ billah. Barangsiapa berhenti pada teori, ia hanya akan menjadi orang alim yang sombong; tetapi barangsiapa berjalan dengan rendah hati, maka Allah sendiri yang akan membimbingnya menuju makrifatullah yang hakiki.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45 (Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-45

(Berputus asa lah Terhadap Cintamu Kepada Makhluk)


“Jika cintamu kepada makhluk tidak berbalas, maka yakinlah, bahwa cintamu kepada Allah akan selalu berbalas.

Berputus asa lah terhadap cintamu kepada makhluk. Dengan berputus asa, hatimu akan beristirahat, dan melupakan segala kesakitan yang tidak berujung.

Tergila-gila lah terhadap cintamu kepada Allah, dengan tergila-gila, hatimu akan tenang, dan mengerti terhadap kesejatian cinta yang sebenarnya.

Cintamu kepada makhluk adalah fana, cintamu kepada Allah adalah abadi. Cintamu kepada makhluk bagaikan lautan kehampaan, dan cintamu kepada Allah, bagaikan lautan kebahagiaan”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44 (Omong Besar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44

(Omong Besar)


“Rencanamu terlalu muluk-muluk, bicaramu terlalu banyak, namun sayang, rencana dan bicaramu tidak sesuai dengan realita.

Omonganmu sepanjang jalan, realisasinya nol besar. Hindari tipikal orang-orang semacam itu, karena mereka adalah tipikal orang-orang yang omong besar. Mereka hanya akan menjauhkan dirimu terhadap perkara yang dekat, dan mendekatkan dirimu terhadap perkara yang jauh”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Rabu, 10 Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43 (Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43

(Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)


“Dunia ini bagaikan pasar, ada yang beruntung, ada yang merugi. Manusai didunia berjaya dengan hartanya, sedangkan manusia berjaya di akhirat dengan amalnya.

Dunia itu laksana ular yang berbisa, yang licin dan lembut sentuhannya. Namun bisa racunnya dapat mematikan.

Orang yang bodoh akan terpesona dengannya, sedangkan orang yang berakal akan berhati-hati darinya”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 08 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42 (Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42

(Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)


“Jangan sekali-kali memisahkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dan jangan pula menganggap ada perbedaan antara Ulama ahli syariat dan Ulama ahli hakikat. 

Ingatlah, syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

Jika aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa hakikat, padahal mereka bodoh terhadap hakikat itu sendiri, maka aku akan menjadi Sunan Kalijaga.

Sedangkan, bila aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa syariat, maka aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.

Ngelmuning Sakti Kanjeng Syekh Sunan Kalijogo, Rosone Matih Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Penjelasan:

Mutiara ini menjelaskan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara syariat dan hakikat.

Syariat adalah jalan lahiriah: shalat, puasa, zakat, haji, halal, haram, dan semua tata aturan syar’i yang lainnya.

Hakikat adalah pemahaman batiniah: makna terdalam dari ibadah, penyaksian hati, makrifatullah.

Jika syariat dijalankan tanpa menyentuh hakikat, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, bila hanya mengejar hakikat tanpa syariat, seseorang akan tergelincir pada kesesatan (zindiq), karena menafikan aturan Allah.

Para wali Allah tidak pernah memisahkan keduanya, bahkan menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan yang menyatu: syariat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan keduanya bertemu dalam makrifatullah.

Makna Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam Hikmah Ini

Sunan Kalijaga dikenal dengan keluwesan, mampu menghadapi mereka yang menyalahgunakan hakikat. Beliau memakai bahasa rakyat, seni budaya, dan pendekatan bijaksana untuk mengajarkan bahwa hakikat tanpa syariat tidak bernilai.

Syekh Siti Jenar di sisi lain menjadi simbol keberanian menghadapi ulama yang hanya berpegang pada syariat tanpa memahami hakikat, hingga syariat dijadikan dogma kaku tanpa ruh.

Maka ungkapan Abah:

Jika aku menghadapi ulama su yang merasa hakikat, aku akan menjadi Sunan Kalijaga. Jika aku menghadapi ulama su yang merasa syariat, aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.”

adalah keseimbangan sikap: lembut seperti Sunan Kalijaga di hadapan kebodohan hakikat, tegas seperti Syekh Siti Jenar di hadapan kejumudan syariat.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Buka halaman : 908

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Parasmanan Orang Tarekat

 


Cuplikan Ceramah Raden Syair Langit "Mubaligh Ceramah Karena Amplop Masyarakat Ngaji Hayang Rame GEMBRUNG GALENDO Nu Burung jeung Nu Gelo"

Cuplikan Ceramah Raden Syair Langit "Mubaligh Ceramah Karena Amplop Masyarakat Ngaji Hayang Rame GEMBRUNG GALENDO Nu Burung jeung Nu Ge...