Senin, 08 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42 (Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42

(Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)


“Jangan sekali-kali memisahkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dan jangan pula menganggap ada perbedaan antara Ulama ahli syariat dan Ulama ahli hakikat. 

Ingatlah, syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

Jika aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa hakikat, padahal mereka bodoh terhadap hakikat itu sendiri, maka aku akan menjadi Sunan Kalijaga.

Sedangkan, bila aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa syariat, maka aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.

Ngelmuning Sakti Kanjeng Syekh Sunan Kalijogo, Rosone Matih Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Penjelasan:

Mutiara ini menjelaskan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara syariat dan hakikat.

Syariat adalah jalan lahiriah: shalat, puasa, zakat, haji, halal, haram, dan semua tata aturan syar’i yang lainnya.

Hakikat adalah pemahaman batiniah: makna terdalam dari ibadah, penyaksian hati, makrifatullah.

Jika syariat dijalankan tanpa menyentuh hakikat, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, bila hanya mengejar hakikat tanpa syariat, seseorang akan tergelincir pada kesesatan (zindiq), karena menafikan aturan Allah.

Para wali Allah tidak pernah memisahkan keduanya, bahkan menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan yang menyatu: syariat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan keduanya bertemu dalam makrifatullah.

Makna Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam Hikmah Ini

Sunan Kalijaga dikenal dengan keluwesan, mampu menghadapi mereka yang menyalahgunakan hakikat. Beliau memakai bahasa rakyat, seni budaya, dan pendekatan bijaksana untuk mengajarkan bahwa hakikat tanpa syariat tidak bernilai.

Syekh Siti Jenar di sisi lain menjadi simbol keberanian menghadapi ulama yang hanya berpegang pada syariat tanpa memahami hakikat, hingga syariat dijadikan dogma kaku tanpa ruh.

Maka ungkapan Abah:

Jika aku menghadapi ulama su yang merasa hakikat, aku akan menjadi Sunan Kalijaga. Jika aku menghadapi ulama su yang merasa syariat, aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.”

adalah keseimbangan sikap: lembut seperti Sunan Kalijaga di hadapan kebodohan hakikat, tegas seperti Syekh Siti Jenar di hadapan kejumudan syariat.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Buka halaman : 908

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar