Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-46
(Tasawuf itu Bukan Teori)
“Tasawuf itu bukan teori, tasawuf itu bukan retorika, tasawuf itu bukan bualan belaka, dan tasawuf itu bukan hanya sekedar membaca kitab karangan ulama-nya, lalu kau sombongkan seakan engkau sudah mampu menguasainya.
Tasawuf itu adalah kerendahan dirimu dibandingkan dengan orang lain, tasawuf itu adalah tidak membalas kedengkian orang lain, tasawuf itu adalah kesadaran diri untuk melepas keakuan, bahwasannya engkau hanyalah bangkai yang diberikan nyawa oleh Allah.
Tasawuf itu adalah saat kata aku, kamu, dan kita sudah tidak ada, karena yang ada hanyalah Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”
Penjelasan:
Tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam mutiara ini, bukanlah ilmu yang bisa dimiliki hanya dengan menghafal istilah atau membaca kitab. Ia bukan teori yang bisa diperdebatkan, bukan pula retorika indah yang bisa dibanggakan di hadapan orang banyak. Tasawuf adalah jalan hidup, ia harus dialami, dirasakan, dijalani, dan dibuktikan dengan akhlak serta laku yang nyata.
Seorang salik yang baru mengenal tasawuf seringkali terjebak pada kesombongan ilmu. Ia merasa telah memahami hakikat karena membaca kitab-kitab para ulama sufi, lalu berbicara panjang lebar tentang fana’, baqa’, wujudiyyah, atau makrifatullah. Padahal semua itu hanya kata-kata di bibir, sementara hati dan amalnya jauh dari kenyataan hakikat. Inilah yang diperingatkan: jangan sampai tasawuf menjadi sekadar bualan belaka.
Hakikat tasawuf bukanlah terletak pada lidah, melainkan pada kerendahan hati. Seorang sufi sejati adalah ia yang memandang dirinya hina dibandingkan orang lain, tidak merasa lebih mulia meski mungkin banyak beribadah. Kerendahan diri inilah inti tasawuf, karena ia lahir dari kesadaran bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, sedangkan keburukan semata-mata dari kelemahan diri sendiri.
Tasawuf juga tampak pada sikap tidak membalas kedengkian dengan kedengkian. Seorang sufi tidak menyimpan dendam meski disakiti, karena ia sadar bahwa semua perlakuan makhluk hanyalah perantara dari Allah. Ia memandang bahwa orang yang iri, dengki, dan memusuhi, hanyalah cermin untuk menguji kejernihan hatinya. Bila ia mampu membalas dengan doa, sabar, dan kasih sayang, maka ia telah berjalan di atas jalan tasawuf yang benar.
Lebih dalam lagi, tasawuf adalah kesadaran yang membongkar tabir keakuan. Seorang salik dituntun untuk menyadari bahwa dirinya hanyalah bangkai yang diberi nyawa. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari tubuh ini, sebab hakikatnya hanyalah jasad fana yang suatu saat akan kembali menjadi tanah. Ruh yang ada di dalamnya bukan miliknya, melainkan titipan Allah. Maka siapa yang sombong dengan dirinya, sesungguhnya ia sombong dengan sesuatu yang bukan miliknya.
Puncaknya, tasawuf adalah ketika kata “aku”, “kamu”, dan “kita” lenyap. Hilang segala dualitas, hilang segala sekat, dan yang tersisa hanyalah Allah semata. Inilah maqam fana’, di mana ego luluh, keakuan sirna, dan seorang hamba hanya menyaksikan Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘azza wa jalla yang Maha Hidup, Maha Kekal, dan Maha Berdiri Sendiri. Pada maqam ini, hamba tidak lagi berkata “aku mencintai Allah”, karena “aku” sudah tiada; yang ada hanyalah Allah Yang Mencintai dan Allah Yang Dicintai.
Maka benar adanya, tasawuf bukanlah sekadar teori untuk dipelajari, melainkan laku yang mesti dijalani. Ia adalah perjalanan panjang: dari ilmu menuju amal, dari amal menuju akhlak, dari akhlak menuju fana’, dari fana’ menuju baqa’ billah. Barangsiapa berhenti pada teori, ia hanya akan menjadi orang alim yang sombong; tetapi barangsiapa berjalan dengan rendah hati, maka Allah sendiri yang akan membimbingnya menuju makrifatullah yang hakiki.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar