Rabu, 24 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47 (Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47

(Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)


“Wahai Guru-Guruku tercinta, maafkanlah aku karena aku belum bisa seperti kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran-ajaran kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari wasiat-wasiat kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari perintah-perintah kalian. Dan aku merasa gagal karena belum berhasil melanjutkan perjuangan kalian.

Habis-habisan aku berdakwah kepada umat, habis-habisan aku mendidik seluruh murid, habis-habisan aku mengajak seluruh jamaah. Namun aku sadar, bahwa aku bukanlah kalian. Siapalah aku yang fakir dengan ilmu, yang lemah dan buruk dalam beribadah. Ilmuku, amalku, dan kebajikanku jauh tak seperti kalian.

maafkanlah aku wahai Guru-Guruku tercinta.

Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku disana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian ke surganya Allah ‘Azza Wajalla”


Penjelasan:

Mutiara ini adalah curahan hati seorang murid kepada para guru ruhaninya. Ia memuat kerendahan hati seorang salik yang menyadari bahwa dirinya belum mampu menyamai kemuliaan para masyayikh, ulama, dan mursyid yang membimbingnya di jalan Allah.

Seorang murid yang tulus akan selalu merasa kecil di hadapan gurunya. Semakin ia beramal, semakin ia mengajar, semakin ia berdakwah, semakin ia merasa belum layak. Inilah buah dari ilmu hakiki: bukan kesombongan, melainkan kerendahan diri.


Ungkapan “Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran, wasiat, dan perintah kalian” adalah cerminan kesadaran bahwa warisan ruhani para guru itu amat agung, sementara dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan. Ia telah berusaha sekuat tenaga berdakwah, mendidik, dan membimbing umat, tetapi ia tahu bahwa hasilnya tidak sebanding dengan jerih payah para guru yang menjadi matahari penerang jalan sufi.

Rasa gagal yang ia sebutkan bukanlah kegagalan sejati, melainkan tawadhu’. Sebab seorang murid sejati tidak pernah merasa berhasil, sekalipun orang banyak memujinya. Ia justru merasa hina, lemah, dan fakir di hadapan Allah. Kesadaran seperti inilah yang justru mengangkat derajatnya di sisi Allah dan para guru ruhani.

Kalimat penutup mutiara ini sangat menyentuh: “Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku di sana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian.”

Inilah puncak dari adab seorang murid: ia tidak meminta surga kepada Allah karena ibadahnya, tetapi berharap bisa bersama para gurunya di surga karena cinta dan tawasulnya. Ia sadar amalnya tak cukup, tetapi ia yakin kasih sayang guru akan menolongnya.

Para ulama sufi dahulu pun berdoa serupa,

“Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan guru-guruku di akhirat, karena jika Engkau memisahkan aku, niscaya aku binasa. Surga tanpa mereka bagiku adalah neraka.

Inti Hikmah

Mutiara ini mengajarkan tawadhu’ murid terhadap guru, meskipun sudah beramal besar. Ia menegaskan bahwa ilmu, amal, dan kebajikan murid tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para guru.

Harapan tertingginya bukan hanya surga, melainkan bersama para guru di surga Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria) “Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tet...