Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4
Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-1)
أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ، وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ، أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ، وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ
“Aku berjalan diatas udara, air mengalir dibawah kakiku, kulewati waktu dengan bijaksana, kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.”
Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)
أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ
Aku berjalan di atas udara
وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ
Air mengalir di bawah kakiku
أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ
Kulewati waktu dengan bijaksana
وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ
Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu
Mutiara hikmah diatas adalah salah satu syair yang disampaikan oleh Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit), yang dimana syair itu memiliki makna yang dalam, dan penuh dengan pelajaran, bagi para salikin yang sedang melakukan perjalanan ruhaniyah menuju Allah.
Aku Berjalan Diatas Udara
أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ
Perjalanan menuju makrifatullah bukanlah tapak ringan di jalan tanah yang rata. Ia adalah lintasan sunyi yang tidak bisa dilalui oleh sembarang jiwa. Seorang salik, tatkala mengikrarkan niatnya untuk sampai kepada Allah SWT, niscaya akan dihadapkan pada ujian dan tempaan yang tidak ringan. Ia akan melewati medan tarbiyah yang keras, jalan pengguguran nafsu, dan samudra keheningan yang menyakitkan, demi menyucikan diri dan menyempurnakan kehambaannya.
Perjalanan ruhani ini laksana berjalan di atas udara, tidak ada tempat berpijak selain keyakinan. Tidak ada tumpuan selain cinta. Dan tidak ada penglihatan selain cahaya dari arah yang tak terlihat. Ini adalah perjalanan yang berbeda dari kebanyakan manusia yang menjadikan bumi sebagai pijakan, dunia sebagai tujuan, dan hawa nafsu sebagai penuntun.
Bagi para penempuh jalan hakikat, segala sesuatu yang terjadi bukanlah keanehan, tetapi kelaziman dalam dunia fana yang sedang diguncang oleh nur ilahi. Mereka mengalami hal-hal yang tidak dapat dinalar oleh akal biasa. Namun, semuanya masih dalam lingkup sunnatullah, tidak melanggar hukum syariat, hanya saja jalannya tidak serupa. Sebab hati mereka telah diikat oleh kerinduan yang dalam kepada Dzat Yang Maha Suci.
Betapa banyak manusia yang hidup hanya dalam pusaran syahwat, mengikuti hawa nafsunya tanpa pernah bertanya: untuk apa aku diciptakan? ke mana aku akan kembali? Mereka tidak pernah mengecap manisnya sajatining urip (kesejatian hidup). Maka, jangan heran bila banyak di antara mereka yang menjadikan Islam hanya sebatas identitas, hanya sebatas nama dalam dokumen dan ritual seremonial, tanpa ruh, tanpa cinta, tanpa makrifat.
Syair, "Aku berjalan di atas udara," bukanlah sekedar ungkapan puitis, melainkan simbol dari maqam seorang salik yang telah melepas kebergantungan pada dunia, dan menggantungkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah. Ketika yang lain berpijak pada dunia, ia berpijak pada keyakinan. Ketika yang lain berlari dengan logika, ia terbang dengan mahabbah.
Allah SWT berfirman:
ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 46)
Para salikin telah meyakini ayat ini sepenuh hati, bukan hanya dengan bacaan lisan, tapi dengan langkah kehidupan. Islam bagi mereka bukan sekedar nama, tetapi jalan pengabdian yang disusuri siang dan malam. Mereka tidak hanya berdiri dalam shalat, tetapi larut dalam cinta. Tidak hanya menyebut nama Allah, tetapi tenggelam dalam zikir hingga fana. Mereka berjalan, berlari, bahkan merangkak demi mengenal siapa yang mereka sembah.
Sungguh, banyak yang mengaku menyembah Allah, namun sedikit yang benar-benar mengenal-Nya. Dan hanya yang mengenal, yang dapat mencinta. Dan hanya yang mencinta, yang rela menempuh perjalanan di atas udara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar