Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-55 (Saat Terluka dan Kecewa)
“Saat kita terluka, saat kita kecewa, adakalanya kita menangis, tidak apa-apa, namanya juga manusia, asalkan air mata yang menetes itu engkau curahkan kepada yang Maha Memiliki kita, yakni Allah ‘azza wa jalla, maka setiap tetesan air mata yang mengalir, kelak akan menjadi saksi, bahwa engkau adalah hamba yang lemah, yang selalu memasrahkan segala sesuatunya hanya kepada Dia Sang Maha Cinta yakni Allah SWT.”
“Hati itu ibarat Ibu Kota sebuah Negara, jika Ibu Kotanya hancur, maka Negara-pun ikut hancur. Begitulah juga dengan hati manusia, jika hati rusak dan sakit, maka badan-pun akan ikut rusak dan sakit. Yang lebih berbahaya, adalah ketika mental, akhlak dan kelakuan manusia menjadi hancur rusak dan sakit.
Marodul qulub مرض القلوب bisa menyebabkan marodul abdan مرض الأبدان, sedangkan marodul abdan tidak menjadikan marodul qulub”
Hati itu laksana ibu kota sebuah negara. Jika ibu kotanya hancur, maka seluruh negara pun ikut hancur.
Penjelasan:
Dalam tatanan wujud manusia, hati (qalb) adalah pusat komando batin, tempat lahirnya niat, cinta, makrifat, dan arah perjalanan spiritual. Sebagaimana ibu kota menjadi pusat kekuasaan dan pengatur segala urusan negara, hati pun mengatur seluruh laku, ucapan, dan arah hidup seseorang. Jika hati rusak, maka semua aspek hidup pun rusak.
"Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik; dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati."
Penyakit hati (hasad, riya', ujub, ghurur) bisa menimbulkan penyakit jasmani karena menyiksa batin, memunculkan stres, dan memutus ketenangan ruhani.
Dan yang lebih berbahaya dari itu adalah: jika rusak jiwa, akhlak, dan perilaku.
Penjelasan:
Kerusakan hati yang tidak segera diobati akan merusak nafsiyah (mental spiritual), lalu menjalar ke akhlak (moral), dan akhirnya terlihat nyata dalam suluk (perilaku). Ini adalah kehancuran berlapis: dari dalam batin, keluar menjadi keburukan sosial dan moral. Dalam tasawuf, ini disebut tadarruj fi al-suquṭ التدرّج في السقوط (jatuhnya ruhani secara bertahap).
. فَإِنَّهَا تُدَمِّرُ ٱلْإِنسَانَ تَدْمِيرًا
Maka sesungguhnya itu akan menghancurkan manusia sehancur-hancurnya.
Penjelasan:
Ini adalah peringatan spiritual. Rusaknya jiwa dan akhlak akan membawa manusia menuju kehancuran total, tidak hanya secara fisik dan sosial, tapi juga di hadapan Allah. Ia kehilangan jati diri sebagai ‘abd (hamba), kehilangan cahaya ruhaniyah, dan akhirnya terpuruk dalam gelapnya hawa nafsu dan syahwat.
Dalam dunia medis pun, telah terbukti bahwa stres, dengki, marah, dan perasaan negatif lainnya berdampak langsung pada kondisi fisik: tekanan darah naik, jantung terganggu, imunitas melemah. Dalam pandangan tasawuf, qalbun maridh akan menarik bala (ujian), karena hatinya sudah menyimpang dari fitrah dzikir dan tawakal.
Tetapi penyakit badan tidak menyebabkan penyakit hati.
Penjelasan:
Penyakit badan adalah ujian lahir, dan tidak serta-merta menjadikan seseorang berdosa atau rusak secara batin. Justru banyak auliya’ Allah diuji dengan penyakit fisik, namun hati mereka bersih, sabar, ridha, dan makin dekat kepada Allah. Maka siapa yang menjaga hatinya tetap sehat, ia tetap mulia di sisi Allah, meski raga lemah dan sakit.