Senin, 20 Juli 2026

Sabtu, 18 Juli 2026

DRAMA 10 GOL DI PEREBUTAN JUARA KE-3 PIALA DUNIA 2026


DRAMA 10 GOL DI PEREBUTAN JUARA KE-3 PIALA DUNIA 2026

Pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 menyajikan salah satu laga paling gila dalam sejarah sepak bola. Inggris sukses membungkam Prancis dengan skor ketat 6-4 lewat drama yang menguras emosi.

The Three Lions tampil kesetanan di babak pertama dan langsung unggul telak 4-0 berkat gol cepat Declan Rice, Ezri Konsa, serta brace dari Bukayo Saka. Namun, Les Bleus menolak menyerah di babak kedua. Dipimpin sang kapten Kylian Mbappé yang mencetak dua gol (brace) plus sumbangan gol Bradley Barcola, Prancis sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3.

Ketegangan memuncak di menit-menit akhir. Bukayo Saka berhasil melengkapi catatan hat-trick-nya lewat titik putih untuk memperlebar keunggulan Inggris.

Prancis sempat membalas lagi lewat aksi Ousmane Dembélé pada masa injury time, sebelum akhirnya Jude Bellingham mengunci kemenangan mutlak Inggris menjadi 6-4.

Dengan hasil ini, Inggris berhak membawa pulang medali perunggu, yang menjadi pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia sejak tahun 1966.

Di sisi lain, dua gol Kylian Mbappé di laga ini resmi membuatnya memimpin perburuan Sepatu Emas sekaligus memecahkan rekor gol sepanjang masa turnamen.

Pertandingan penutup yang luar biasa dari kedua tim. 


Jumat, 17 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49 (Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-49

(Jangan Banyak Berdebat Dengan Orang Bodoh)

“Jangan banyak berdebat dengan orang bodoh, agar engkau tidak kehilangan wibawamu. Dan jangan banyak bercanda apalagi berlebih-lebihan, semua itu agar engkau tidak dikurang ajari”


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan adab seorang salik dalam menjaga kehormatan diri dan kemuliaan ilmu. Seorang murid jalan sufi tidak boleh membuang waktunya untuk berdebat dengan orang bodoh, yakni orang yang keras kepala, tidak mencari kebenaran, hanya ingin memenangkan ucapan, dan menutup diri dari hikmah. Berdebat dengan mereka tidak akan menghasilkan kebenaran, justru hanya menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan hilangnya wibawa. Ilmu seorang salik tidak akan nampak indah bila dihamburkan dalam perdebatan yang sia-sia.

Ulama salaf mengatakan: “Aku tidak pernah menang dalam berdebat dengan orang berilmu, dan tidak pernah kalah bila berdebat dengan orang bodoh.” Maksudnya, orang berilmu jika kalah akan menerima dan mengambil hikmah, tetapi orang bodoh walau kalah akan tetap membantah. Maka seorang yang berakal lebih memilih diam, karena diamnya lebih bijaksana daripada membuang tenaga untuk menghadapi kebodohan.

Demikian pula dalam pergaulan, seorang salik diajarkan untuk menjaga ucapannya dari terlalu banyak bercanda. Canda yang sedikit dapat menyenangkan hati, namun bila berlebihan akan menjatuhkan kewibawaan. Terlalu banyak canda membuat orang lain meremehkan, bahkan menganggapnya kurang ajar. Sementara hati seorang salik haruslah selalu terjaga, serius dalam ibadah, lembut dalam akhlak, dan bercanda secukupnya tanpa melampaui batas.

Jalan tasawuf adalah jalan keseimbangan. Seorang salik boleh bergurau untuk menghibur hati, tetapi tetap menjaga kesopanan. Ia boleh berbicara untuk menasihati, tetapi tidak tenggelam dalam debat kusir. Inilah adab yang memelihara wibawa, menjaga ilmu dari kehinaan, dan menjadikan lisannya cahaya kebaikan.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا 

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”

 (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini menunjukkan adab para hamba Allah yang arif: mereka tidak melayani kebodohan dengan kebodohan, melainkan dengan kedamaian dan meninggalkan perdebatan.

Rasulullah saw bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia berada di pihak yang benar.”

(HR. Abu Dawud)

Dan tentang bercanda, Rasulullah saw bersabda:

لَا تُكْثِرِ الضِّحْكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضِّحْكِ تُـمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”

(HR. Tirmidzi)

Inti Hikmah

Mutiara ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang salik terletak pada diam yang bijaksana dan ucapan yang terjaga.

Jangan habiskan waktumu untuk berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu hanya menurunkan martabat.

Jangan berlebihan dalam bercanda, karena itu hanya akan menghilangkan kewibawaan.

Jagalah lisan, karena ia adalah cermin hati dan kunci kemuliaan seorang pencari Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Jadwal Perebutan Tempat Ketiga & Final Piala Dunia 2026


Jadwal Perebutan Tempat Ketiga & Final Piala Dunia 2026

Perebutan Tempat Ketiga

Pertandingan: Prancis vs Inggris

Hari & Tanggal: Minggu, 19 Juli 2026

Waktu Kick-off: Pukul 04.00 WIB

Stadion: Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat

Babak Final

Pertandingan: Spanyol vs Argentina

Hari & Tanggal: Senin, 20 Juli 2026

Waktu Kick-off: Pukul 02.00 WIB (Dini Hari)

Stadion: Stadion MetLife, New York/New Jersey, Amerika Serikat


Sang CR7 Criatiano Ronaldo Menjadi Orang Pertama di Dunia yang Memiliki 1 Miliyar Pengikut


Sang CR7 Criatiano Ronaldo Menjadi Orang Pertama di Dunia yang Memiliki 1 Miliyar Pengikut

@rsleleven Sang CR7 Criatiano Ronaldo Menjadi Orang Pertama di Dunia yang Memiliki 1 Miliyar Pengikut #radenayairlangit #syairlangitstudio #rsleleven #cristianoronaldo #cr7 ♬ suara asli - RSL Eleven

Rabu, 15 Juli 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48 (Seseorang yang Selalu di Rindukan)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-48

(Seseorang yang Selalu di Rindukan)


“Tidak sedikit manusia yang telah tiada namun nama baik mereka tetap terjaga, kehidupannya dikenang sepanjang masa, meninggalkan kebaikan kepada sesama.

Jasad mereka telah mati, namun hakikatnya mereka tetap hidup. Kenangan mereka selalu di hati, dan cerita hidupnya tak pernah redup.

Lalu sebaliknya, banyak manusia yang masih hidup, tapi sekaan-akan mereka ini telah mati. Kehidupannya tidak berguna, ke-ingkarannya semakin merajalela. Saat ada, mereka dibenci. Saat mati, mereka disyukuri.

Jadilah manusia yang disaat engkau meninggal, semua orang menangisimu, dan saat engkau hidup, semua orang merindukanmu” 


Penjelasan:

Mutiara ini mengajarkan bahwa ukuran hidup manusia bukanlah panjang pendeknya usia, bukan pula banyak sedikitnya harta, melainkan jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Ada manusia yang telah wafat ratusan tahun, tetapi nama mereka tetap harum, doa-doa terus dipanjatkan untuknya, dan manfaat ilmu serta amalnya terus mengalir hingga hari kiamat. Inilah tanda kehidupan yang hakiki: meski jasad telah kembali ke tanah, ruh dan amalnya tetap hidup di hati manusia.

Sebaliknya, ada manusia yang meski masih hidup, namun seakan-akan ia telah mati. Hidupnya tidak memberi manfaat, kehadirannya menjadi beban, ucapannya menyakiti, tindakannya merusak. Orang-orang tidak merindukannya, bahkan merasa lega bila ia tiada. Hidup semacam ini sesungguhnya adalah kematian dalam kehidupan, karena yang bergerak hanyalah jasad, sementara hatinya mati dari cahaya Allah.

Oleh karena itu, seorang salik diingatkan agar menjadi manusia yang dikenang kebaikannya, dirindukan amalnya, ditangisi kepergiannya, dan disyukuri keberadaannya. Hidupnya menjadi rahmat, wafatnya menjadi kehilangan, karena di dalam dirinya ada cahaya Allah yang selalu memberi manfaat bagi sesama.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

(QS. Ali ‘Imran: 169)

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat kehidupan bukanlah jasad, tetapi ruh yang terhubung dengan Allah.

Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Hadist ini menegaskan bahwa meskipun jasad terkubur, amalnya tetap hidup dan terus mengalir manfaatnya.

Rasulullah saw juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Ahmad, Thabrani)

Maka ukuran kemuliaan hidup adalah seberapa besar manfaat yang ia berikan.

Inti Hikmah

Kehidupan sejati adalah yang meninggalkan jejak kebaikan. Kematian sejati bukanlah ketika ruh keluar dari jasad, melainkan ketika hati mati dari dzikrullah.

Manusia yang dirindukan adalah manusia yang menghadirkan cahaya Allah dalam hidupnya, hingga ia tetap hidup meski jasad telah terkubur.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria) “Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tet...