Sabtu, 04 Juli 2026

Mana nih pendukung Ronaldo dan Portugal ? ada kaos keren nih dari Raden Syair Langit

Mana nih pendukung Ronaldo dan Portugal ? ada kaos keren nih dari Raden Syair Langit

Untuk melihat videonya : Silahkan klik logo musik dan tulisan ( suara asli RSL Eleven ) 

@rsleleven Mana nih pendukung Ronaldo dan Portugal ? ada kaos keren nih #radensyairlangit #syairlangitstudio #rsleleven #cristianoronaldo #portugal ♬ suara asli - RSL Eleven

Hasil Pertandingan Grup D & Grup B (13 Juni 2026) | Amerika Serikat 4 - 1 Paraguay | Kanada 1 - 1 Bosnia & Herzegovina


Hasil Pertandingan Grup D & Grup B (13 Juni 2026)

Amerika Serikat 4 - 1 Paraguay

Pencetak Gol: Folarin Balogun (30', 45+4') dan Giovanni Reyna (90+7') | Paraguay: Damián Bobadilla (6' bunuh diri) dan Maurício (72').

Catatan: Amerika Serikat tampil sangat dominan di Stadion SoFi sejak menit awal meskipun diwarnai gol bunuh diri cepat di pembukaan laga.

Kanada 1 - 1 Bosnia & Herzegovina

Pencetak Gol: Cyle Larin (78') | Bosnia & Herzegovina: Jovo Lukić (21').

Catatan: Bermain di markas sendiri, Kanada harus puas berbagi poin setelah berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua.

Hasil Pertandingan Grup A (11-12 Juni 2026) | Meksiko 2 - 0 Afrika Selatan | Korea Selatan 2 - 1 Ceko

 


Hasil Pertandingan Grup A (11-12 Juni 2026)

Meksiko 2 - 0 Afrika Selatan

Pencetak Gol: Julián Quiñones (9') dan Raúl Jiménez (67').

Catatan: Laga pembuka di Stadion Azteca ini berlangsung sangat keras dengan dihujani 3 kartu merah (dua untuk Afrika Selatan, satu untuk Meksiko).

Korea Selatan 2 - 1 Ceko

Pencetak Gol: Hwang In-beom (67') dan Oh Hyeon-gyu (79') | Ceko: Ladislav Krejčí (58').

Catatan: Korea Selatan berhasil melakukan epic comeback setelah tertinggal lebih dulu di babak kedua.

Pembagian Grup Piala Dunia 2026

 Pembagian Grup Piala Dunia 2026



Jadwal Pembagian Fase Grup Piala Dunia 2026

 Jadwal Pembagian Fase Grup Piala Dunia 2026




Minggu, 28 Juni 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-1) Aku Berjalan di Atas Udara

 


Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4

Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-1)



أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ، وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ، أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ، وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

“Aku berjalan diatas udara, air mengalir dibawah kakiku, kulewati waktu dengan bijaksana, kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu.”

Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ

Aku berjalan di atas udara

وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ

Air mengalir di bawah kakiku

أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ

Kulewati waktu dengan bijaksana

وَأَخْتَرِقُ سَبْعَ مَرَاتِبَ فِي طَرِيقٍ مُغَبَّرٍ

Kutembus tujuh tahapan dengan jalan yang berdebu

Mutiara hikmah diatas adalah salah satu syair yang disampaikan oleh Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit), yang dimana syair itu memiliki makna yang dalam, dan penuh dengan pelajaran, bagi para salikin yang sedang melakukan perjalanan ruhaniyah menuju Allah.

Aku Berjalan Diatas Udara

أَمْشِي عَلَى ٱلْهَوَاءِ

Perjalanan menuju makrifatullah bukanlah tapak ringan di jalan tanah yang rata. Ia adalah lintasan sunyi yang tidak bisa dilalui oleh sembarang jiwa. Seorang salik, tatkala mengikrarkan niatnya untuk sampai kepada Allah SWT, niscaya akan dihadapkan pada ujian dan tempaan yang tidak ringan. Ia akan melewati medan tarbiyah yang keras, jalan pengguguran nafsu, dan samudra keheningan yang menyakitkan, demi menyucikan diri dan menyempurnakan kehambaannya.

Perjalanan ruhani ini laksana berjalan di atas udara, tidak ada tempat berpijak selain keyakinan. Tidak ada tumpuan selain cinta. Dan tidak ada penglihatan selain cahaya dari arah yang tak terlihat. Ini adalah perjalanan yang berbeda dari kebanyakan manusia yang menjadikan bumi sebagai pijakan, dunia sebagai tujuan, dan hawa nafsu sebagai penuntun.

Bagi para penempuh jalan hakikat, segala sesuatu yang terjadi bukanlah keanehan, tetapi kelaziman dalam dunia fana yang sedang diguncang oleh nur ilahi. Mereka mengalami hal-hal yang tidak dapat dinalar oleh akal biasa. Namun, semuanya masih dalam lingkup sunnatullah, tidak melanggar hukum syariat, hanya saja jalannya tidak serupa. Sebab hati mereka telah diikat oleh kerinduan yang dalam kepada Dzat Yang Maha Suci.

Betapa banyak manusia yang hidup hanya dalam pusaran syahwat, mengikuti hawa nafsunya tanpa pernah bertanya: untuk apa aku diciptakan? ke mana aku akan kembali? Mereka tidak pernah mengecap manisnya sajatining urip (kesejatian hidup). Maka, jangan heran bila banyak di antara mereka yang menjadikan Islam hanya sebatas identitas, hanya sebatas nama dalam dokumen dan ritual seremonial, tanpa ruh, tanpa cinta, tanpa makrifat.

Syair, "Aku berjalan di atas udara," bukanlah sekedar ungkapan puitis, melainkan simbol dari maqam seorang salik yang telah melepas kebergantungan pada dunia, dan menggantungkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah. Ketika yang lain berpijak pada dunia, ia berpijak pada keyakinan. Ketika yang lain berlari dengan logika, ia terbang dengan mahabbah.

Allah SWT berfirman:

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

(QS. Al-Baqarah: 46)

Para salikin telah meyakini ayat ini sepenuh hati, bukan hanya dengan bacaan lisan, tapi dengan langkah kehidupan. Islam bagi mereka bukan sekedar nama, tetapi jalan pengabdian yang disusuri siang dan malam. Mereka tidak hanya berdiri dalam shalat, tetapi larut dalam cinta. Tidak hanya menyebut nama Allah, tetapi tenggelam dalam zikir hingga fana. Mereka berjalan, berlari, bahkan merangkak demi mengenal siapa yang mereka sembah.

Sungguh, banyak yang mengaku menyembah Allah, namun sedikit yang benar-benar mengenal-Nya. Dan hanya yang mengenal, yang dapat mencinta. Dan hanya yang mencinta, yang rela menempuh perjalanan di atas udara.


Rabu, 24 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47 (Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-47

(Aku Belum Mampu Melanjutkan Ajaran Guru)


“Wahai Guru-Guruku tercinta, maafkanlah aku karena aku belum bisa seperti kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran-ajaran kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari wasiat-wasiat kalian. Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari perintah-perintah kalian. Dan aku merasa gagal karena belum berhasil melanjutkan perjuangan kalian.

Habis-habisan aku berdakwah kepada umat, habis-habisan aku mendidik seluruh murid, habis-habisan aku mengajak seluruh jamaah. Namun aku sadar, bahwa aku bukanlah kalian. Siapalah aku yang fakir dengan ilmu, yang lemah dan buruk dalam beribadah. Ilmuku, amalku, dan kebajikanku jauh tak seperti kalian.

maafkanlah aku wahai Guru-Guruku tercinta.

Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku disana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian ke surganya Allah ‘Azza Wajalla”


Penjelasan:

Mutiara ini adalah curahan hati seorang murid kepada para guru ruhaninya. Ia memuat kerendahan hati seorang salik yang menyadari bahwa dirinya belum mampu menyamai kemuliaan para masyayikh, ulama, dan mursyid yang membimbingnya di jalan Allah.

Seorang murid yang tulus akan selalu merasa kecil di hadapan gurunya. Semakin ia beramal, semakin ia mengajar, semakin ia berdakwah, semakin ia merasa belum layak. Inilah buah dari ilmu hakiki: bukan kesombongan, melainkan kerendahan diri.


Ungkapan “Aku belum bisa menjalankan secara keseluruhan dari ajaran, wasiat, dan perintah kalian” adalah cerminan kesadaran bahwa warisan ruhani para guru itu amat agung, sementara dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan. Ia telah berusaha sekuat tenaga berdakwah, mendidik, dan membimbing umat, tetapi ia tahu bahwa hasilnya tidak sebanding dengan jerih payah para guru yang menjadi matahari penerang jalan sufi.

Rasa gagal yang ia sebutkan bukanlah kegagalan sejati, melainkan tawadhu’. Sebab seorang murid sejati tidak pernah merasa berhasil, sekalipun orang banyak memujinya. Ia justru merasa hina, lemah, dan fakir di hadapan Allah. Kesadaran seperti inilah yang justru mengangkat derajatnya di sisi Allah dan para guru ruhani.

Kalimat penutup mutiara ini sangat menyentuh: “Jika kelak kalian berada di surga, dan kalian tidak menemukanku di sana, maka semoga kalian berkenan mengajak muridmu ini bersama kalian.”

Inilah puncak dari adab seorang murid: ia tidak meminta surga kepada Allah karena ibadahnya, tetapi berharap bisa bersama para gurunya di surga karena cinta dan tawasulnya. Ia sadar amalnya tak cukup, tetapi ia yakin kasih sayang guru akan menolongnya.

Para ulama sufi dahulu pun berdoa serupa,

“Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan guru-guruku di akhirat, karena jika Engkau memisahkan aku, niscaya aku binasa. Surga tanpa mereka bagiku adalah neraka.

Inti Hikmah

Mutiara ini mengajarkan tawadhu’ murid terhadap guru, meskipun sudah beramal besar. Ia menegaskan bahwa ilmu, amal, dan kebajikan murid tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para guru.

Harapan tertingginya bukan hanya surga, melainkan bersama para guru di surga Allah.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat



Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria) “Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tet...