Kamis, 11 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44 (Omong Besar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-44

(Omong Besar)


“Rencanamu terlalu muluk-muluk, bicaramu terlalu banyak, namun sayang, rencana dan bicaramu tidak sesuai dengan realita.

Omonganmu sepanjang jalan, realisasinya nol besar. Hindari tipikal orang-orang semacam itu, karena mereka adalah tipikal orang-orang yang omong besar. Mereka hanya akan menjauhkan dirimu terhadap perkara yang dekat, dan mendekatkan dirimu terhadap perkara yang jauh”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Rabu, 10 Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43 (Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-43

(Dunia itu Laksana Ular yang Berbisa)


“Dunia ini bagaikan pasar, ada yang beruntung, ada yang merugi. Manusai didunia berjaya dengan hartanya, sedangkan manusia berjaya di akhirat dengan amalnya.

Dunia itu laksana ular yang berbisa, yang licin dan lembut sentuhannya. Namun bisa racunnya dapat mematikan.

Orang yang bodoh akan terpesona dengannya, sedangkan orang yang berakal akan berhati-hati darinya”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 08 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42 (Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-42

(Ulama Syariat dan Ulama Hakikat)


“Jangan sekali-kali memisahkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dan jangan pula menganggap ada perbedaan antara Ulama ahli syariat dan Ulama ahli hakikat. 

Ingatlah, syariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan, dan hakikat tanpa syariat adalah zindiq.

Jika aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa hakikat, padahal mereka bodoh terhadap hakikat itu sendiri, maka aku akan menjadi Sunan Kalijaga.

Sedangkan, bila aku menghadapi keangkuhan ulama su yang paling merasa syariat, maka aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.

Ngelmuning Sakti Kanjeng Syekh Sunan Kalijogo, Rosone Matih Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Penjelasan:

Mutiara ini menjelaskan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara syariat dan hakikat.

Syariat adalah jalan lahiriah: shalat, puasa, zakat, haji, halal, haram, dan semua tata aturan syar’i yang lainnya.

Hakikat adalah pemahaman batiniah: makna terdalam dari ibadah, penyaksian hati, makrifatullah.

Jika syariat dijalankan tanpa menyentuh hakikat, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, bila hanya mengejar hakikat tanpa syariat, seseorang akan tergelincir pada kesesatan (zindiq), karena menafikan aturan Allah.

Para wali Allah tidak pernah memisahkan keduanya, bahkan menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan yang menyatu: syariat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan keduanya bertemu dalam makrifatullah.

Makna Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam Hikmah Ini

Sunan Kalijaga dikenal dengan keluwesan, mampu menghadapi mereka yang menyalahgunakan hakikat. Beliau memakai bahasa rakyat, seni budaya, dan pendekatan bijaksana untuk mengajarkan bahwa hakikat tanpa syariat tidak bernilai.

Syekh Siti Jenar di sisi lain menjadi simbol keberanian menghadapi ulama yang hanya berpegang pada syariat tanpa memahami hakikat, hingga syariat dijadikan dogma kaku tanpa ruh.

Maka ungkapan Abah:

Jika aku menghadapi ulama su yang merasa hakikat, aku akan menjadi Sunan Kalijaga. Jika aku menghadapi ulama su yang merasa syariat, aku akan menjadi Syekh Siti Jenar.”

adalah keseimbangan sikap: lembut seperti Sunan Kalijaga di hadapan kebodohan hakikat, tegas seperti Syekh Siti Jenar di hadapan kejumudan syariat.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Buka halaman : 908

ttd. Penulis Jejak Makrifat

Parasmanan Orang Tarekat

 


Jumat, 05 Juni 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-41 (Harga Dirimu Akan Tetap Terpelihara)

“Harga dirimu akan tetap terpelihara, sedangkan yang akan merusaknya adalah permintaan mengemis. Oleh karena itu, perhatikanlah kepada siapa kamu meminta tolong, dan kepada siapa kamu mencucurkan air matamu”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat





Kamis, 04 Juni 2026

Dadan Eks Ketua MBG Tersandung Korupsi 1 Miliar Sehari, Raden Syair Langit Angkat Bicara

 


Dadan Eks Ketua MBG Tersandung Korupsi 1 Miliar Sehari, Raden Syair Langit Angkat Bicara

Raden Syair Langit bersuara, Asli, saya masih ngelus dada. Tiga tersangka sekaligus, Kepala BGN, Si Dadan Hindayana, dan dua wakilnya, Sony Sonjaya dan juga Lodewych Pusung, ternyata hanya kurang lebih 24 jam, mereka sudah memakai baju KOTORBLOK sudah diborgol oleh Kejaksaan Agung.

KOTORBLOK ( Koruptor G0bl0k)

Harus tahu kasusnya. Kejagung bilang ketiga tersangka melakukan pengaturan verifikasi pada portal mitra BGN, sehingga yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra SPPG adalah yayasan yang terafiliasi dengan pejabat atau pegawai BGN. Tahu kan kalian? Yayasan-yayasan itu ngelola program MBG dengan anggaran tahun 2025, 85 triliun lebih. 2026 melonjak 268 triliun.

Tiap hari mereka dapat insentif miliaran rupiah dari yayasan-yayasan itu. Gila enggak? 1 miliar sehari.

Gilanya lagi, ketiga tersangka ini juga melakukan intervensi penyusunan anggaran, sehingga pengadaan tidak sesuai kebutuhan nyata di lapangan dan mark up harga pengadaan. Tahu kan kemarin yang rame-rame? Pengadaan barang fiktif, mark up anggaran mulai dari puluhan ribu motor listrik—masih ingat nilainya? 1 triliun rupiah—hingga 30.000 pasang sepatu yang tidak sesuai peruntukan untuk program MBG.

Ketiganya dijerat Pasal 603, 604 KUHP, tindak pidana korupsi yang merugikan negara serta penyalahgunaan wewenang dalam jabatan (abuse of power). Ancaman hukuman maksimal 20 tahun atau seumur hidup penjara.

Sesusah itukah mencari orang yang betul-betul berintegritas, amanah saat sudah dikasih jabatan?

Diantara kebijakan si Dadan Eks Ketua MBG yang bikin kita sakit perut

1. Wacana Menu Serangga dan Ulat Sagu.

Dadan sempat membuat heboh publik dengan mengusulkan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein lokal dalam program MBG. Alih-alih fokus pada daging, telur, atau ikan yang umum di Indonesia, usulan menu ekstrem ini dinilai publik sangat aneh dan tidak layak untuk anak-anak sekolah

2. Klaim Anaknya Tinggi karena Minum Susu 2 Liter Sehari.

Dalam sebuah acara pondok pesantren, Dadan menyarankan anak-anak minum susu sebanyak dua liter setiap hari. Ia menyombongkan bahwa kedua anaknya bisa tumbuh tinggi hingga di atas 180 cm karena kebiasaan tersebut. Publik dan ahli gizi langsung mengkritik pernyataan ini karena minum susu berlebihan justru tidak sehat dan tidak realistis bagi anggaran masyarakat

3. Pengadaan Ribuan Motor Listrik Senilai Rp1 Triliun.

Di tengah carut-marutnya pembagian makanan, Dadan justru menyetujui kebijakan belanja 21.000 unit sepeda motor listrik. Motor tersebut diduga bermerek Emmo JVX GT dengan taksiran harga Rp42 juta hingga Rp56 juta per unit. Kebijakan ini dianggap publik sangat boros dan tidak ada hubungannya dengan esensi pemenuhan gizi anak.

4. Anggaran Kaos Kaki Petugas Rp6 Miliar.

Badan Gizi Nasional di era Dadan juga menuai kritik tajam setelah kedapatan menganggarkan dana hingga miliaran rupiah hanya untuk pengadaan kaos kaki petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Anggaran seragam yang berlebihan ini dinilai publik sebagai bentuk pemborosan anggaran negara yang sangat konyol.

5. Rencana Ekspansi Kirim Makan Gratis ke Arab Saudi.

Sesaat sebelum dicopot, Dadan melontarkan wacana untuk memperluas program Makan Bergizi Gratis ke Arab Saudi guna menyasar sekolah Indonesia di sana. Rencana ini dianggap sangat ngawur oleh publik karena program di dalam negeri saja masih berantakan, diwarnai kasus keracunan massal di berbagai daerah, dan anggarannya membengkak.

6. Impor Wadah Makanan (Food Tray) dari China.

Meskipun program MBG selalu menggembar-gemborkan pemberdayaan ekonomi lokal dan UMKM, BGN di bawah Dadan justru kedapatan mengimpor wadah makanan (food tray) secara besar-besaran dari China. Kebijakan kontradiktif ini memicu kemarahan karena mematikan potensi industri plastik dan UMKM dalam negeri.

Selengkapnya silahkan bisa disimak, video tanggapan Raden Syair Langit terkait masalah ini.







Cuplikan Ceramah Abah Raden Syair Langit "Ada Sholat yang Sah Ada Sholat yang Diterima ! Sholat yang Sah Belum Tentu Diterima Tetapi Sholat yang Diterima Pasti Sah"

Cuplikan Ceramah Abah Raden Syair Langit "Ada Sholat yang Sah Ada Sholat yang Diterima ! Sholat yang Sah Belum Tentu Diterima Tetapi Sh...