Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 64 - Mungkinkah Aku mampu"
Judul Lagu: Mungkinkah Aku Mampu
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2019 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.
Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Kadang ku merasa
Lelah dalam menjalani semua
Cerita hidupku
Serasa hampa dan pilu
[Verse 2]
Hari demi hari
Terasa tanpa adanya arti
Hilang tanpa arah
Membuatku semakin jengah
[Reff]
Terlelap aku dalam mimpi-mimpi
Yang terkadang membuatku semakin menjadi-jadi
Selalu kucoba melawan semua
Rasa-rasa itu yang terus menghantuiku
Harus kusadar bahwa semua ini
Ujian terbesar dalam hidup yang kujalani
Mungkin kah aku mampu tuk menjalani
[Intro]
[Verse 3]
Kadang ku merasa
Lelah dalam menjalani semua
Cerita hidupku
Serasa hampa dan pilu
[Verse 4]
Hari demi hari
Terasa tanpa adanya arti
Hilang tanpa arah
Membuatku semakin jengah
[Reff]
Terlelap aku dalam mimpi-mimpi
Yang terkadang membuatku semakin menjadi-jadi
Selalu kucoba melawan semua
Rasa-rasa itu yang terus menghantuiku
Harus kusadari bahwa semua ini
Ujian terbesar dalam hidup yang kujalani
Mungkin kah aku mampu tuk menjalani
[Outro]
Mungkin kah aku mampu tuk menjalani
Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).
Susunan lagu ke-64 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Mungkinkah Aku mampu
Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 63 - Semakin Lama Semakin Dalam"
Judul Lagu: Semakin Lama Semakin Dalam
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2015 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.
Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Bukannya ku mengingkari dalamnya cintamu itu
Namun banyak duri menghalangiku
Dilema cinta yang telah terpendam
semakin lama semakin dalam
Semakin lama semakin dalam
[Verse 2]
Sekian lama aku merana
menunggu datangnya kasih dan cinta
Satu hati yang takkan terganti
Semakin lama kian menjadi
[Intro]
[Reff]
Ku akui aku cinta padamu
Ku tak sanggup terima bila kau tak di sisiku
Ku akui aku sayang padamu
Jerita cinta yang mengguncang hempaskan jiwaku ini
Apakah aku tak luka kau kira aku bahagia
Jiwa ini terguncang badai
Yang terhempas ombak di samudra
Bukan aku tak cinta, bukan pula ku tega
Ini semua catatan cinta dari yang kuasa
[Verse 3]
Bukannya ku mengingkari dalamnya cintamu itu
Namun banyak duri menghalangiku
Dilema cinta yang telah terpendam
Semakin lama semakin dalam
semakin lama semakin dalam
[Verse 4]
Sekian lama aku merana
menunggu datangnya kasih dan cinta
Satu hati yang takkan terganti
semakin lama kian menjadi
[Intro]
[Reff]
Ku akui aku cinta padamu
Ku tak sanggup terima bila kau tak di sisiku
Ku akui aku sayang padamu
Jerita cinta yang mengguncang hempaskan jiwaku ini
Apakah aku tak luka kau kira aku bahagia
Jiwa ini terguncang badai
Yang terhempas ombak di samudra
Bukan aku tak cinta, bukan pula ku tega
Ini semua catatan cinta dari yang kuasa
[Outro]
Dilema cinta yang telah terpendam
Luka dan duka kita rasakan
Catatan cinta begitu kelam
Semakin lama semakin dalam
Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).
Susunan lagu ke-63 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Semakin Lama Semakin Dalam
Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 62 - Bila Nanti Kau Disini"
Judul Lagu: Bila Nanti Kau Disini
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2012 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.
Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Teringatkah tentang cintaku pada dirimu
Begitu dalam tak tergantikan oleh apapun
Aku tahu tentang semua cinta untuk diriku
Begitu lama sungguh sempurna tiada yang terlupa
[Chorus]
Apakah kau tak rasakan pahit hidup tanpamu
Ku mengerti kini ku sadar dan ku cinta dirimu
[Reff]
Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya
Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku
Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu
Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku
[Verse 2]
Maafkan diriku ini yang tlah kecewakanmu
Dahulu aku belum mengerti tentang cintamu
Tak mengapa kini kurasakan arti bahagia
Yang tak kudapat saat dahulu kau menjauh dariku
[Chorus]
Kini ku sadar engkaulah belahan jiwaku
Aku pun sadar engkau adalah tulang rusukku
[Intro]
[Reff]
Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya
Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku
Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu
Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku
Bila nanti kau di sini dengan diriku selamanya
Kuharap engkau sayangi diriku jangan lepaskan aku
Ku berjanji kan di sini dengan dirimu yang kurindu
Aku kan selalu ada di dekatmu sampai akhir hidupku
[Outro]
Bila nanti kau di sini
Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).
Susunan lagu ke-62 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Bila Nanti Kau Disini
Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 61 - Suluk Wandatul Wujud"
Judul Lagu: Suluk Wahdatul Wujud
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2022 M
Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Jika kau kenal dirimu
Ombak dan lautan berasal dari yang satu
Bagai mutiara dan sebuah batu
Tamsil antara kita dan juga Ratu
[Verse 2]
Kita dan alam semesta
Hakikatnya tidak ada hanya bayang semu
Hanya Dia yang lain tak ada
Al-Wujud Al-Mutlaq Allah yang kurindu
[Chorus]
Hirup urang ukur darma wayang
(Hidup kita hanya sebatas wayang)
Sagala rupa ukur diatur ku dalang
(Segalanya hanya diatur oleh Dalang)
Usik malik abdi nampi papasten ti Gusti
(Segala yang terjadi saya menerima takdir dari Gusti)
[Verse 3]
Bagai mutu manikam
Yang menancap bagai duri menusuk dihati
Hakekat Syare'at jika tak bertempat
Intan dan permata menjadi neraka
[Reff]
Wahdatul Wujud ketiadaannya diri
Ittihad Hulul Manunggaling Kawulo Gusti
Ngelmuning Roso Rosone Sajatining Urip
Bukan bersatu tapi fanakan dirimu
[Bridge]
Yang to'at Allah yang to'atkan
Yang ingkar Allah yang ingkarkan
Syare'at tetap dijalankan
Hakekat tetap ditempatkan
[Chorus]
Ilange rogo
(Hilangnya diri)
Kari Hyang Moho Suci
(Tinggalah yang Maha Suci)
Ilange kekarepane menungso
(Hilangnya kehendak manusia)
Kari kekarepane Gusti
(Tinggalah kehendak Gusti)
Ilange kesadaran diri
(Hilangnya kesadaran diri)
Mung kari kesadarane kang Moho Sejati
(Tinggalah kesadaran yang Maha Sejati)
[Intro]
[Reff]
Wahdatul Wujud ketiadaannya diri
Ittihad Hulul Manunggaling Kawulo Gusti
Ngelmuning Roso Rosone Sajatining Urip
Bukan bersatu tapi fanakan dirimu
Wahdatus Syuhud kesaksian hanya satu
Tiada terlihat semua hanya bayang-bayang
Para pencinta yang mabuk didalam rindu
Tiada penghalang
Tiada yang menghalang
[Outro]
Allahumaj'al hadal 'alama shogiron amamana wada'ismaka yakifu da iman fiqulubina
Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).
Susunan lagu ke-61 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Suluk Wandatul Wujud"
Talqin Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)
Amalan di dalam tarekat, sebuah jalan ruhaniyah
Di dalam setiap tarekat yang bersanad dan berakar dari sumber yang murni, senantiasa terdapat amalan-amalan yang diwariskan secara turun-temurun kepada para muridnya. Amalan ini bukan sekedar rutinitas ibadah lahiriah, melainkan merupakan washilah, jembatan ruhani, yang mengantarkan sang salik menuju penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.
Setiap tarekat memiliki susunan amalan yang khas dan tersendiri, sesuai dengan warisan dari silsilah para mursyidnya. Namun secara hakikat, inti dari semua tarekat sejati tetaplah satu, yaitu menghidupkan hati dengan dzikir, memperkuat ikatan batin dengan Allah, serta membersihkan nafs dari kegelapan duniawi.
Secara umum, amalan-amalan tarekat mencakup unsur-unsur yang serupa: dzikir lisan dan dzikir qalbu, muraqabah, mujahadah, serta riyadhah yang terukur dan dibimbing. Perbedaan-perbedaan di antara tarekat hanyalah dalam rincian bentuk dan metode, namun semua berpulang pada tujuan yang sama, yaitu “Sajatining Mulyo”, kemuliaan sejati, yang hanya dapat diraih dengan taufik dan inayah dari Sang Maha Mulya.
Talqin Dzikir تلقين الذكر
Pengertian Talqin Dzikir
Secara bahasa, talqin (التلقين) berasal dari kata laqana yulaqinu talqinan (لَقَّنَ – يُلَقِّنُ – تَلْقِينًا) yang berarti mengajarkan sesuatu secara langsung dari guru kepada murid dengan cara menanamkan di hati dan lisan.
لَقَّنَ (laqana) jenis: Fi‘il maḍi (kata kerja lampau) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Memberitahukan dengan ucapan secara langsung. Membimbing lisan seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Menuntun atau menanamkan kalimat tertentu agar melekat di hati.
يُلَقِّنُ (yulaqqinu) jenis: Fi‘il muḍari‘ (kata kerja sekarang/akan datang) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Sedang atau akan mengajarkan secara langsung. Menuntun seseorang mengucapkan sesuatu saat ini atau di masa mendatang.
Contoh lughawi:
هُوَ يُلَقِّنُ الطِّفْلَ السُّورَةَ → “Dia sedang mengajarkan surat itu kepada anak kecil.”
تَلْقِينًا (talqinan) jenis: Maṣdar (kata benda dasar dari kata kerja) Akar kata: ل ق ن
Makna lughawi: Proses mengajarkan atau menuntun ucapan. Penanaman bacaan dalam ingatan dan hati. Mengulang-ulang agar seseorang hafal dan paham.
Contoh lughawi:
التَّلْقِينُ فِي التَّعْلِيمِ مُهِمٌّ → “Talqin dalam pengajaran adalah hal yang penting.”
Sedangkan dzikr (الذِكْر) berarti mengingat. Dalam konteks tasawuf, dzikir adalah mengingat Allah Ta‘ala dengan hati, lisan, dan seluruh wujud.
Jadi, talqin dzikir adalah proses pengajaran dzikir dari seorang guru tarekat kepada muridnya, dengan tata cara yang terjaga sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, dan memiliki tujuan agar dzikir itu masuk ke dalam qalbu, menembus sirr, dan menghidupkan ruhani murid di jalan suluk.
Talqin dzikir تلقين الذكر adalah salah satu amalan yang dilakukan didalam sebuah tarekat, yang melibatkan bimbingan atau pengajaran dzikir dari seorang guru kepada muridnya.
Jadi, "talqin dzikir" secara harfiah berarti "pengajaran dzikir" atau "mengajarkan untuk mengingat Allah.”
Didalam tarekat, talqin dzikir merujuk pada proses membimbing seseorang untuk mengucapkan dzikir tertentu, seperti kalimat tauhid لا إله إلا الله (la ilaha illallah) atau mengucapkan dzikir Ismu Dzat الله (Allah).
Talqin dzikir itu mendiktekan ismu Dzat Allah secara lahir dan bathin, jadi tidak hanya mencakup pengajaran dzikir secara lahir, karena kalau bicara lahir, orang yang bukan Islam pun tahu dan bisa menyebutkan lafadz lailahaillallah atau-pun lafadz Allah, karena memang lafadz-nya pendek dan mudah di hafal. Tetapi talqin dzikir ini harus berkaitan juga dengan mendiktekan ismu Dzat Allah secara batin.
Kedudukan Talqin Dzikir dalam Tarekat
Talqin dzikir adalah pintu gerbang utama dalam perjalanan seorang salik di jalan tarekat. Sebab, dzikir yang diajarkannya langsung diberikan oleh guru tarekat yang bersambung sanadnya, yang dimana hasil dari talqin tersebut, akan memberikan asrar (rahasia) dan barakah yang tidak didapatkan sekedar dari membaca sendiri.
Tujuan utama talqin dzikir adalah membersihkan hati dari kelalaian dan penyakit hati, serta membimbing seseorang untuk mengingat Allah secara lebih mendalam. Dalam arti lain, orang yang di talqin dzikir, berharap bisa menjadi ahli dzikir.
Ahli dzikir dan tukang dzikir itu beda. Ahli dzikir pasti tukang dzikir, sedangkan tukang dzikir belum tentu ahli dzikir. Ahli dzikir itu tak dibatasi lisan, tak dibatasi ruang, dan tak dibatasi waktu. Sedang apapun, sedang dimanapun, hati-nya selalu hidup untuk mengingat Allah. Dzikir nya tak terhalang pekerjaan. Jangankan sedang shalat, ataupun sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, sedang apapun ia, sedang mengobrol, sedang bekerja, hatinya tetap berdzikir kepada Allah.
Tukang dzikir itu baru mampu berdzikir saat dia memang sedang melafalkan kalimat-kalimat dzikir, seperti wiridan ba’da shalat fardhu, atau sedang menghadiri amaliyah di majelis-majelis yang ia datangi.
Mirisnya, terkadang sedang melafalkan dzikirpun, yang keluar dari lisannya adalah kalimat pujian kepada Allah, ternyata Allah tidak ada dihatinya. Allah hanya ada dilisannya.
Ahli dzikir itu, saat melafalkan dzikirnya, sembari hidup juga hatinya. Begitupun saat lisannya tidak sedang melafalkan dzikir, tapi hatinya tetap berdzikir, disetiap waktu yang ia lewati, disetiap hembusan nafas yang ia lalui.
Para ulama sufi menjelaskan:
مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
“Barang siapa tidak memiliki syekh (pembimbing), maka syekhnya adalah setan.”
Dengan talqin, seorang salik menerima warisan ruhani yang bersambung dari hati Rasulullah saw, dan bukan hanya sekedar rangkaian lafadz.
Dzikir itu bagaikan cahaya yang diterima dari cahaya sebelumnya. Sehingga cahayanya terus berpindah, sambung menyambung dari qalbu guru ke qalbu murid-muridnya.
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa yang mencintai untuk menaiki kapal-kapal keselamatan, berpegang teguh pada tali-tali iman, dan menempuh jalan-jalan petunjuk, maka hendaklah ia mencintai waliku, memusuhi musuhku, dan mengikuti para pemimpin (imam) setelahku."
Hadits ini meskipun tidak secara eksplisit menyebut talqin, namun memberi isyarat bahwa mengikuti pimpinan ruhani (imam/mursyid) adalah kunci keselamatan.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mentalqin Sayyidina ‘Ali dengan dzikir la ilaha illallah, dengan meletakkan tangan beliau di dada ‘Ali, seraya bersabda:
“Tutup matamu, dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illallah.”
Inilah yang menjadi dasar praktik talqin dalam tarekat.
Ijma’ Ulama Tasawuf
Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah menegaskan, bahwa dzikir yang diambil langsung dari guru tarekat, akan membawa nur (cahaya) yang berbeda dengan dzikir yang hanya dibaca tanpa bimbingan sanad.
Proses Talqin Dzikir
Pelaksanaan talqin dzikir dalam tarekat memiliki adab yang tinggi. Dan pada pelaksanaannya, disetiap tarekat memiliki metode yang mungkin berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Persiapan: Murid berwudhu, membersihkan hati dari kesibukan dunia, dan duduk dengan penuh adab di hadapan orang yang akan mentalqin.
Izin guru: Talqin dilakukan dengan izin dan kesiapan batin kedua belah pihak.
Pembacaan Dzikir: Guru mengucapkan dzikir dengan tartil, menghembuskan nafas ruhani ke qalbu murid.
Penanaman Rahasia Dzikir: Guru terkadang meletakkan tangan di dada, atau tangan memegang tangan, atau juga memegang kepala murid sebagai simbol perpindahan sir.
Pengulangan: Murid mengulangi lafadz dzikir sesuai bimbingan guru, hingga terasa hidup di dalam hati.
Wasiyyah: Guru memberi pesan adab dalam menjaga dzikir itu sepanjang hidup.
Hikmah Talqin Dzikir
Menghubungkan sanad ruhani dari Rasulullah saw kepada salik. Menghidupkan qalbu sehingga dzikir menjadi hadir, bukan sekedar lafadz. Menanamkan adab dalam berdzikir. Mendapat limpahan barakah dari guru dan silsilah tarekat. Dan membuka pintu makrifat dengan izin Allah.
“Talqin adalah pintu masuk ke hadirat Allah. Siapa yang masuk tanpa talqin, bagaikan masuk ke rumah tanpa pintunya.”
Dengan demikian, talqin dzikir bukan sekedar formalitas, melainkan warisan agung dari hati ke hati yang telah berjalan sejak zaman Rasulullah saw, dipelihara oleh para sahabat, tabi’in, hingga sampai kepada para mursyid di zaman ini.
Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla ngadawuh didalam Al-Quran,
“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Talqin dzikir dapat memberikan berbagai manfaat spiritual, dan bisa menjadi sala satu sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
“Jika engkau telah mencapai usia 40 tahun atau lebih, dan berada pada suatu perangai atau sikap tertentu, maka engkau akan sulit berubah. Dan itulah gambaran akhir kematianmu.
Jadi jika dalam usia 40 tahun engkau masih menjadi manusia yang ingkar kepada Allah, masih suka dengan maksiat, masih malas dalam beribadah kepada Allah, maka itu adalah gambaran besar kelak kematianmu seperti itu.
Namun jika sebaliknya, di usiamu yang bahkan sebelum 40 tahun engkau yang masih muda sudah mampu menjadi orang yang rajin dan ahli dalam beribadah, maka insyaAllah itu adalah gambaran kelak kematianmu, meninggal dalam keadaan husnul khatimah”
Penjelasan:
Mutiara ini mengandung pesan yang sangat dalam, sebab usia empat puluh tahun adalah titik penting dalam perjalanan seorang hamba. Usia itu bukan sekedar angka, melainkan sebuah gerbang menuju kematangan ruhani dan ketetapan watak. Apa yang tertanam di usia itu ibarat ukiran pada batu: sulit dihapus, sulit pula diubah.
Apabila seseorang telah mencapai umur empat puluh tahun, namun tetap berada dalam kelalaian, tenggelam dalam maksiat, dan enggan kembali kepada Allah, maka itu pertanda keras dari Allah. Sebab hati yang keras di usia itu akan semakin jauh dari cahaya iman. Namun sebaliknya, jika sejak usia muda ia menghiasi hidupnya dengan ibadah, dzikrullah, dan amal saleh, maka InsyaAllah, ia akan dipelihara Allah hingga akhir hayatnya dalam keadaan husnul khatimah.
Dengan kata lain, usia empat puluh adalah cermin kematian: bagaimana engkau hidup, demikian pula engkau akan wafat.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanyA, hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar aku tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”
Ayat ini memberi isyarat bahwa usia 40 tahun adalah waktu taubat besar dan peneguhan amal saleh.
"Barangsiapa yang telah mencapai usia 40 tahun, namun kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah menuju neraka."
(HR. Abu Ya’la, Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Hadis mengenai peringatan usia 40 tahun ini adalah hadist yang dinilai lemah (ḍaʻif) atau bahkan ada yang tidak jelas status periwayatannya, karena keterbatasan sanad dan periwayatan yang kurang kuat dari kitab-kitab hadist yang kredibel, meskipun maknanya sering dijadikan renungan untuk lebih bertaqwa di usia matang, seperti yang dicontohkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang doa bersyukur di usia 40 tahun.
Status Hadis:
Hadis Da'if/Tidak Jelas:
Sebagian ulama hadist menyatakan bahwa hadist ini memiliki status yang lemah (ḍaʻif) atau bahkan tidak jelas periwayatannya.
Tidak Ada Sumber Kuat:
Ketidakjelasan ini disebabkan oleh sanad (rantai periwayatan) yang tidak memenuhi syarat hadist sahih, seperti yang ada pada kitab-kitab hadis primer yang terpercaya.
Makna dan Renungan:
Meskipun status hadisnya tidak kuat, maknanya mengandung pesan moral yang sangat penting.
Usia 40 tahun dianggap sebagai usia "kematangan" di mana seseorang diharapkan memiliki kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 15: Ayat ini mengabadikan doa Nabi Muhammad SAW ketika usia Beliau dan sahabat Abu Bakar mencapai 40 tahun, yang memohon bimbingan untuk bersyukur atas nikmat Allah dan dapat beramal saleh yang diridai-Nya.
Pesan yang Disampaikan:
Hadist ini meskipun lemah, dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah dan amal baik, meniru teladan para Nabi dan Sahabat yang menjadikan usia 40 tahun sebagai titik tolak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan
Usia 40 adalah puncak ujian sekaligus cermin kematian. Barangsiapa yang masih lalai, maka hatinya semakin sulit berubah. Namun barangsiapa yang menempuh jalan taubat, mengokohkan ibadah, dan menjaga diri dari maksiat, maka Allah akan menjaganya hingga akhir hayat.
Perlu digarisbawahi dengan penuh kehati-hatian, jangan sampai mutiara hikmah ini disalahpahami. Ia bukanlah isyarat bahwa sebelum usia empat puluh tahun manusia boleh bersantai dalam kelalaian. Tidak demikian. Sebab umur adalah rahasia Allah, dan kematian tidak pernah bertanya: “Apakah engkau masih muda atau telah renta, sedang sehat atau sedang sakit” Hakikat ajal hanyalah Allah yang mengetahuinya, dan ia datang tanpa menunggu kesiapan hamba.
Mutiara ini hanya menegaskan satu perkara: apabila seseorang telah melewati usia empat puluh tahun, namun masih juga gemar mengingkari Allah, masih bergelimang dalam maksiat, dan belum juga tersentuh oleh ingatan akan kematian, maka sungguh betapa buruk perangainya. Umur yang seharusnya menjadi lentera pengingat justru dibiarkan redup tanpa cahaya. Ia telah beranjak tua, namun jiwanya tetap kanak-kanak dalam kelalaian.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 60 - Tentang Dia Sang Maha Cinta"
Judul Lagu: Tentang Dia Sang Maha Cinta
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2023 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.
Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Jika tiba suatu hari nanti kau kan mengerti
Bukan lagi berharap untuk senang
Melainkan berharap tuk tenang
[Verse 2]
Kumerasa lebih baik kubisa dimengerti
Bukan lagi berharap dicintai
Lebih baik diterima bukan dipuja
[Reff]
Saat itu kita berada pada kepahaman
Bahwa hati bukanlah tentang bahagia didunia
Yang Sementara
Melainkan yang hakiki ini tentang Dia
Sang Maha Cinta Allah Azza wa jalla
Yang slalu ada didalam jiwa
[Bridge]
Aku dan kamu hanya bayang semu
Tak ada kecuali Dia
Tak apa tak mengapa aku pun rela
Yang kuharap hanya Ridha-Nya.
[Intro]
[Reff]
Saat itu kita berada pada kepahaman
Bahwa hati bukanlah tentang bahagia didunia
Yang Sementara
Melainkan yang hakiki ini tentang Dia
Sang Maha Cinta Allah Azza wa jalla
Yang slalu ada didalam jiwa
[Bridge]
Aku dan kamu hanya bayang semu
Tak ada kecuali Dia
Tak apa tak mengapa aku pun rela
Yang kuharap hanya Ridha-Nya.
Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).
Susunan lagu ke-60 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Tentang Dia Sang Maha Cinta