Selasa, 02 Juni 2026

Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip)

 



Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip)
Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )

Judul Lagu: Ada Rindu Ada Sayang
Cipta: Raden Syair Langit
Lagu ini dibuat pada tahun 2015 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.

Lirik:
[Intro]
[Verse 1]
Betapa, dalamnya cintaku ini kepadamu.
Begitu lama ku mengenalmu, tak pernah aku lupa.
Mengapa, kini rasa cinta ni semakin gila.
Hantui hariku bayangi jiwaku, begitu dalam membuatku kelam.
[Verse 2]
Harusnya, aku terima sakit di hati ini.
Sungguh ku tak tahu yang terjadi, sungguh aku tak mengerti.
Cobalah, kau pahami rasa di hatiku ini.
Tak sadarkah bila aku yang mencinta, cintaku begitu besar kepadamu.
[Reff]
Cintaku, begitu dalam, tak akan pernah tergantikan.
Walaupun, ombak di samudra, menerjang ku akan bertahan.
Cintaku, begitu besar, dirimu selalu di hatiku.
Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu.
[Intro]
[Verse 3]
Baiknya, ada ikatan di antara kita.
Agar tidak ada yang kecewa, ku harap bahagia.
Mungkinkah, engkaupun mengharap semua terjadi.
Adanya rindu adanya sayang, ikatan cinta di antara kita.
[Intro]
[Reff]
Cintaku, begitu dalam, tak akan pernah tergantikan.
Walaupun, ombak di samudra, menerjang ku akan bertahan.
Cintaku, begitu besar, dirimu selalu di hatiku.
Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu.
[Outro]
Cintaku, begitu dalam, adanya rindu ada sayang.
Walaupun, ombak di samudera, menerjang ku akan bertahan.
Tingginya, gunung Mahameru, kan kudaki hanya untukmu.

Minggu, 31 Mei 2026

Mahabah محبة Didalam Amalan Tarekat (Bagian Ke-1) - Kajian Kitab Sajatining Mulyo

 


Mahabah محبة

Konsep mahabbah dalam tarekat, merujuk pada tingkatan cinta yang mendalam dan totalitas, pada pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Mahabbah bukan sekedar rasa cinta biasa, tetapi merupakan perwujudan cinta Ilahi yang menjadi tujuan tertinggi dalam tasawuf, yang melibatkan seluruh jiwa dan raga dalam mencintai Allah. 


Didalam tarekat, mahabbah dipandang sebagai puncak perjalanan spiritual, di mana seorang sufi berusaha mencapai tingkatan cinta tertinggi kepada Allah. Mahabbah bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan nyata. Semua itu akan melibatkan kepatuhan, ketundukan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, serta menjauhi segala hal yang dapat menghalangi cinta tersebut. 

Mahabbah dalam tasawuf berbeda dengan cinta dunia atau cinta karena mengharapkan imbalan. Mahabbah adalah cinta murni tanpa pamrih, yang didorong oleh kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk mencapai mahabbah, seorang sufi akan melakukan amalan-amalan yang luar biasa, berbagai upaya ia lakukan demi sampai pada puncak cinta sejatinya cinta. Perilaku mahabbah dapat dilihat dalam ketaatan seorang salik dalam menjalankan ibadah. Para sufi seperti hal nya Rabi'ah Al-Adawiyah (رابعة العدوية), beliau menekankan pentingnya cinta Ilahi yang tulus, bukan cinta yang didorong oleh rasa takut atau mengharapkan imbalan.

Dengan demikian, mahabbah dalam tarekat adalah konsep cinta yang mendalam, total, dan murni kepada Allah, yang menjadi tujuan utama dalam perjalanan spiritual seorang sufi.

Inilah diantara syair-syair Rabiah Al-Adawiyah yang menggetarkan hati, berbicara tentang cinta murni kepada Allah, tanpa pamrih, tanpa mengharap surga atau takut neraka. Beliau menekankan ibadah karena kecintaan semata kepada Sang Pencipta.

1. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka, maka bakarlah aku didalam neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka tutuplah surga itu untukku. Namun jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangan palingkan wajah-Mu dariku"

2. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Aku mencintai-Mu dengan dua macam cinta. Cinta karena diriku, dan cinta karena Engkau layak dicinta. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu. Sedangkan cinta karena Engkau, adalah keadaan-Mu yang menyingkapkan hijab dariku, hingga aku dapat memandang-Mu,"

3. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية

"Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu, hingga tak ada satupun yang menggangguku dalam jumpa-Mu,"

4. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah رابعة العدوية 

"Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula mengharap surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya,"

Kisah dari Rabi’ah Al-Adawiyah yang ingin membakar Surga dan memadamkan api Neraka

Nama Rabiah Al-Adawiyah dalam jagad tasawuf cukup melegenda. Keikhlasannya didalam beribadah banyak dinukilkan di berbagai kitab tasawuf. Rabiah dikenal dengan keikhlasannya dalam beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.

Kecintaan Rabiatul Adawiyah kepada Allah SWT membuatnya kian dekat dari waktu ke waktu. Dikisahkan bahwa suatu hari, Rabiah Al-Adawiyah tengah berjalan di kota Baghdad, sambil menenteng air dan memegangi obor di kedua tangannya. Seseorang pun bertanya kepada Beliau, “hendak dikemanakan air dan obor tersebut wahai Rabiah?” 

Rabiah pun menjawab, “aku hendak membakar surga dengan obor ini, dan aku akan memadamkan neraka dengan air ini. Agar manusia tidak lagi mengharapkan surga dan takut akan neraka didalam ibadahnya.”

Keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah merupakan bukti bahwa jiwanya tenang dan nyaman. Tak ada yang perlu ditakutkan dan tak ada yang perlu dirisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Mencintai Allah bagi Rabiah adalah segalanya.

Gusti Allah ngadawuh, 

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

(QS. Ar-Ra'd:28)

Mereguk hikmah keikhlasan ibadah Rabiah Al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita, dimana kita masih sering beribadah dengan mengharap dunia, atau berharap surga dan takut akan neraka. Keikhlasan sang pencinta seperti Rabi’ah Al- Adawiyah memang layak menjadi teladan seluruh umat muslim di dunia.

Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah diperkirakan lahir pada tahun 717 Masehi atau 95 Hijriah. Dan beliau diperkirakan meninggal pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.

Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut masehi adalah 84 tahun. Sedangkan Usia Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah menurut hijriyah adalah 90 tahun.

Beliau bergelar:

السيدة رَبِيعَةُ الْأَدَوِيَّةِ شَهِيدَةُ الْعِشْقِ الإِلٰهِىِّ

Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah Sang Pencinta Ilahi.


Sabtu, 30 Mei 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39 (Sakarepmu)

 Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-39

(Sakarepmu)


“Kalian memang bebas mengatur hidup kalian, tapi ingat, ada Allah yang mengatur hidupku, hidup kita dan hidup kalian.

Seandainya seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersujud kepada Allah, Allah tidak untung. Dan sebaliknya, jika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini ingkar kepada Allah, Allah pun tidak rugi. Karena keuntungan atau pun kerugian itu ada pada diri kita, bukan pada Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla.

Kalian taat, Allah sediakan surga. Kalian ingkar, Allah sediakan neraka. Silahkan, kalian bebas mengambil jalan hidup kalian masing-masing”

Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Where is Allah?

 


Where is Allah?




Selasa, 26 Mei 2026

Besok Itu Hari Raya Kurban Atau Hari Arisan Hewan? Hakekat Berkurban Menurut Abah Raden Syair Langit

 


Besok Itu Hari Raya Kurban Atau Hari Arisan Hewan? Hakekat Berkurban Menurut Abah Raden Syair Langit

HIKMAH DI BALIK QURBAN


Tidak semua orang yang menyembelih hewan, benar-benar sedang berqurban.

Sebab hakikat qurban bukan terletak pada darah yang mengalir, bukan pula pada daging yang dibagikan.

Tetapi pada apa yang sedang disembelih di dalam dirinya sendiri.

Banyak manusia bergembira menyambut hari raya, namun kegembiraannya hanya berhenti pada perut dan jamuan.

Rumah ramai oleh asap bakaran, lidah sibuk memuji rasa, tetapi hati tetap keras, sombong, tamak, dan jauh dari Allah.

Padahal sejak awal, Allah telah memberi isyarat bahwa yang sampai kepada-Nya bukan dagingnya, bukan darahnya.

Melainkan ketakwaan yang bersemayam di dalam jiwa.

Maka orang arif memandang qurban bukan sekadar penyembelihan kambing atau sapi.

Namun penyembelihan sifat kebinatangan yang hidup dalam dirinya.

Kesombongan disembelih.

Keangkuhan dipotong.

Ketamakan dikuliti.

Riya dihancurkan.

Nafsu dipatahkan.

Sebab selama ego masih duduk di singgasana hati, maka manusia sejatinya belum berqurban.

Ia hanya memindahkan darah hewan ke tanah, namun tidak pernah memindahkan hijab dari ruhnya.

Lihatlah Nabi Ibrahim عليه السلام.

Yang Allah uji bukan tentang hewan, melainkan tentang cinta terbesar di dalam hatinya.

Karena perjalanan menuju Allah tidak akan terbuka selama masih ada sesuatu yang lebih dicintai selain Dia.

Maka qurban adalah madrasah keikhlasan.

Sekolah untuk menghancurkan “aku”.

Latihan agar manusia belajar melepaskan apa yang paling dicintainya demi ridha Allah.

Orang yang benar-benar memahami qurban akan menjadi lembut hatinya.

Ia tidak sibuk memamerkan hewan terbesar, tidak pula haus pujian manusia.

Karena yang ia cari bukan pengakuan makhluk, melainkan pandangan Allah kepadanya.

Dan ketahuilah…

Betapa banyak orang miskin yang tidak mampu membeli hewan qurban, namun hatinya jauh lebih dekat kepada Allah dibanding orang kaya yang setiap tahun menyembelih sapi tetapi masih gemar menyakiti sesama.

Sebab di mata Allah, nilai qurban bukan pada besar kecilnya hewan.

Melainkan seberapa besar keikhlasan dan seberapa banyak nafsu yang berhasil disembelih.

Maka jangan jadikan hari qurban hanya sebagai pesta daging.

Karena jika yang hidup hanya syahwat makan dan kebanggaan dunia, maka manusia sedang merayakan hawa nafsunya sendiri.

Belajarlah menjadi hamba seperti Ibrahim.

Yang rela kehilangan demi mendapatkan Allah.

Yang rela mengorbankan dunia demi hidupnya cahaya ketuhanan di dalam jiwa.

Karena hakikat qurban sejatinya adalah:

“Ketika seekor hewan disembelih di bumi, maka seharusnya nafsu juga disembelih di dalam diri.”

Senin, 25 Mei 2026

Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة Didalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Abah Raden Syair Langit

 


Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة


Secara umum, khalwat خلوة berarti menyendiri atau menarik diri dari keramaian. Khalwat juga merujuk pada keadaan diri untuk menyepi, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, melalui amalan-amalan ibadah yang khusus.

Sedangkan uzlah عزلة dalam tasawuf adalah sebuah praktik mengasingkan diri dari keramaian duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Jadi secara tidak langsung, khalwat ataupun uzlah memiliki makna dan tujuan yang sama. Ini bukan sekedar tentang menjauhi manusia, tetapi ini tentang membersihkan hati dari hal-hal yang melalaikan ibadah kepada Allah, dan untuk meningkatkan maqamat perjalanan ruhaniyah kita menuju kepada-Nya.

Secara bahasa, uzlah berarti menarik diri atau mengasingkan diri. Dalam terminologi tasawuf, uzlah adalah tindakan menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Uzlah bukan berarti lari dari tanggung jawab sosial, tetapi lebih kepada mencari waktu dan tempat untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan. 

Uzlah atau (mengasingkan diri) adalah suatu perbuatan yg termasuk disukai Allah. Karena barangsiapa yang dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan yang kelak Allah SWT berikan, dan segera menganggap hina kenikmatan dan semua kelezatan duniawi, yang sebenarnya terus menipu.

Begitu pun seseorang yang berakal akan mengabaikan keindahan dunia, kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan seseorang yang memahami akhirat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran, sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akhirat yang penuh dengan ridha-Nya.

Dalam urusan uzlah, para ulama terbagi tiga saat memandang keutamaannya. Sebagian dari mereka ada yang mengutamakan uzlah dari pada bercampur dengan masyarakat. Sebagian lagi lebih mengutamakan bercampur dengan masyarakat. Sedangkan yang lainnya lagi memilih jalan pertengahan, atau dengan kata lain menentukan kapan ia harus bercampur dengan masyarakat, dan kapan pula ia mesti uzlah. Mereka yang memilih untuk uzlah telah mendasarkan perbuatannya dengan dalil berikut,

Rasulullah saw ngadawuh,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hatinya dan tersembunyi”

HR Muslim)

Sedangkan mereka yang memilih bercampur dengan masyarakat, mendasarkan perbuatannya itu dengan dalil berikut,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang yang bercampur dengan masyarakat dan bersabar menanggung gangguan mereka, itu lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan masyarakat dan tidak bersabar menanggung gangguan mereka”

(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan mereka yang memilih jalan pertengahan, tentu mendasarkan perbuatannya pada kedua dalil di atas, untuk kemudian diambil sebagai kesimpulan yang terbaik. Yaitu memilih kedua hal diatas, lalu di pertimbangkan dengan penuh kesadaran diri. Mereka tidak berat kepada satu diantara kedua pandangan diatas, karena baginya keduanya tidak salah dan mendatangkan manfaat.

Jika seseorang uzlah, maka ia akan mendapatkan manfaat seperti dapat mencurahkan waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, merenung, mengoreksi diri, bermunajat kepada-Nya, serta memikirkan tentang kekuasaan-Nya. Dan semua itu hanya bisa maksimal dilakukan saat ia mau uzlah, atau memisahkan diri dari keramaian manusia.

Selain itu, uzlah juga dapat menyelamatkan diri seseorang dari perbuatan maksiat, yang biasa ia lakukan saat bercampur dengan orang lain. Seperti riya`, gibah, zinah, dan dosa-dosa lainnya. Uzlah juga bisa melepaskan seseorang dari kejahatan manusia, bahkan uzlah dapat pula menjaga diri dari pertikaian dan kerusuhan, atau melindungi Agama dari fitnah dan mara bahaya lainnya. Selain itu, pelaku uzlah juga dapat melepaskan diri dari kejahatan manusia, bahkan mengajak dirinya untuk terus menghilangkan ketamakan dan menjauhkannya dari kebodohan.

“Hati adalah cermin diri. Selama ia bersih dari debu dan karat, maka cahaya Ilahi dapat memantul di atasnya. Dan saat cahaya Ilahi telah memantul dari hati yang suci, tentu jalan kebenaran dapat diketahui. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat kehidupan”

Namun, bercampur dengan masyarakat juga sesuatu yang baik dilakukan. Ini merupakan perbuatan yang dulu terus dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan hingga beliau wafat. Sebagaimana hadist berikut ini,

وَعَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرِيضًا حَتَّى بَلَغَ أَقْصَى الْمَدِينَةِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjenguk orang sakit sampai ke ujung Madinah."

(HR. At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, dengan mencermati semuanya, maka bercampur dengan masyarakat adalah baik untuk dilakukan, sepanjang ia tidak melalaikan seseorang dari urusan yang menjadi ketentuan-Nya. Namun demikian pula, uzlah pun amatlah baik untuk dilakukan. Terutama di akhir zaman ini, dimana serangan dari tipu daya duniawi terus merangsek masuk ke dalam setiap lini kehidupan. Siapa saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan gemerlapnya kesenangan duniawi. Sehingga jika tidak hati-hati, yang tertinggal hanyalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kian menggunung.

Untuk itu, sudah saatnya kita sering uzlah dengan penuh kesadaran demi kebaikan diri. Cukupkanlah setiap kebutuhanmu agar dapat menjalani kehidupan ini secara normal.

Jangan berlebih-lebihan dalam menuruti setiap keinginan dari hawa nafsu, karena ia cenderung mengajakmu untuk melanggar semua aturan dan ketetapan-Nya.

Kanjeng Nabi Muhammad saw sering melakukan khalwat di gua hiro, begitupun Beliau berperan aktif dalam bersosial di masyarakat. Baginda Nabi mengajarkan kita untuk mengambil jalan tengah, antara uzlah dan bermasyarakat. Jika seandainya Beliau tidak bercampur baur dengan orang lain, pertanyaannya bagaimana Beliau bisa berdakwah?

Oleh karena itu, gunakanlah kedua-duanya. Hal itu selaras juga dengan apa yang diajarkan oleh Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar (الشيخ ستي جنر) terkait konsep madya (mengambil jalan tengah) seperti saat kita memandang dunia dan akhirat haruslah seimbang, tidak boleh terlalu condong terhadap salah satunya.

Saat kita sedang bergumul dengan masyarakat, maka fisik kita tetap bersosial, namun hati kita tetap uzlah. Dan saat kita mencari dunia, maka fisik kita tetap berusaha, tapi hati kita tidak tertunduk oleh dunia itu sendiri. Adapun dalam usaha mencari dunia, semuanya dilandasi untuk bekal beribadah kepada Allah SWT.


Sabtu, 23 Mei 2026

Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pernah Berkata : "Jalan Para Pencinta Allah Memang Keras Sepi dan Penuh Luka"

 


Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) pernah berkata:

"Ada jalan yang memang tidak ditakdirkan untuk dipenuhi manusia-manusia lemah.

Jalan ini bukan tempat mencari tepuk tangan, bukan pula tempat memelihara pengkhianat yang datang saat butuh lalu pergi ketika diuji.

Tarekat ini adalah jalan ruhani tingkat tinggi…

jalan sunyi yang hanya mampu dipijak oleh jiwa-jiwa yang sanggup membakar egonya sendiri.

Maka ketika banyak yang pergi, itu bukan tanda jalan ini salah.

Justru itulah bukti… bahwa tidak semua manusia pantas sampai ke maqam yang tinggi.

Karena jalan para pecinta Allah memang keras, sepi, dan penuh luka…

tetapi di situlah lahir manusia-manusia pilihan yang derajat ruhnya berada di atas manusia biasa."


Rabu, 20 Mei 2026

Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit


Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit

Wara‘ adalah mahkota kebeningan jiwa, cahaya yang menerangi langkah para salik dalam perjalanan menuju Allah SWT. Ia bukan sekedar menjauhi yang haram, tapi juga bersikap waspada terhadap segala yang samar dan syubhat, dan apa pun yang berpotensi menggelapkan hati dan menjauhkan diri dari ridha-Nya.

الوَرَعُ طَرِيقُ الأَبْرَارِ، وَزَادُ السَّالِكِينَ، وَعِصْمَةُ الْمُقَرَّبِينَ

“Wara‘ adalah jalannya orang-orang shalih, bekal para penempuh, dan penjaga bagi mereka yang didekatkan kepada Allah.”

Wara‘ tumbuh dari akar rasa takut dan cinta kepada Allah. Ia bukan karena takut celaan manusia, melainkan karena malu kepada Tuhan Yang Maha Melihat. Hati yang memiliki wara‘ akan lebih memilih lapar daripada kenyang yang syubhat, lebih memilih sepi daripada keramaian yang menyesatkan, dan lebih memilih diam daripada kata-kata yang bisa menodai cahaya hatinya.

Dalam dunia tasawuf, wara‘ bukanlah sikap kaku atau menutup diri dari dunia, melainkan ekspresi dari kehalusan nurani yang telah disucikan. Ia adalah penjaga gerbang tazkiyatun nafs تَزْكِيَةُ النَّفْسِ (penyucian jiwa). Tanpa wara‘, jiwa mudah dikotori oleh kelalaian yang samar dan maksiat yang tersembunyi.

Antara Zuhud dan Wara‘

Zuhud dan wara‘ adalah dua sayap burung ruhani yang terbang menuju langit makrifat. Zuhud adalah sikap meninggalkan cinta dunia karena lebih cinta kepada akhirat, sementara wara‘ adalah penjagaan hati dari segala yang meragukan, meskipun tampak kecil atau sepele.

Bersama-sama, kedua sifat ini menjadi pilar utama dalam tazkiyatun-nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ), penyucian jiwa dari kotoran duniawi dan sifat-sifat tercela. Jiwa yang telah mengenal wara‘ akan enggan mencicipi yang tidak jelas asalnya, bahkan meski halal secara zahir, bila hatinya tidak tenang, maka ia tinggalkan demi kebersihan batin.

الوَرَعُ نُورٌ يَتَجَلَّى فِي الْقَلْبِ، فَيَهْدِي صَاحِبَهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْأَقْرَبِ إِلَى اللهِ

“Wara‘ adalah cahaya yang tampak di dalam hati, yang membimbing pemiliknya menuju jalan tercepat menuju Allah.”

مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ، لَا يُوثَقُ بِقَلْبِهِ، وَلَا يُنْتَظَرُ مِنْهُ قُرْبٌ

“Barang siapa tidak memiliki wara‘, maka tak dapat dipercaya hatinya, dan tak diharap darinya kedekatan dengan Allah.”

Wara‘ adalah diam yang penuh cahaya, menahan diri yang penuh kemuliaan, dan kehati-hatian yang melahirkan kedekatan. Ia menempatkan hamba di hadapan Allah dengan keadaan yang bersih, hati yang ringan, dan ruh yang siap menampung limpahan nur Ilahi.


Selasa, 19 Mei 2026

Di Antara Langit, Doa, dan Rahasia Cinta - Hikayat Ruhani di Balik Pembuatan Lagu “Mahabbatus Samawiyyah” Maha Karya Raden Syair Langit

 


Di Antara Langit, Doa, dan Rahasia Cinta - Hikayat Ruhani di Balik Pembuatan Lagu “Mahabbatus Samawiyyah” Maha Karya Raden Syair Langit


Di zaman ketika cinta sering dipermainkan oleh nafsu, dipertukarkan oleh kepentingan, dan dipermurah oleh kefanaan dunia, lahirlah sebuah karya yang tidak berasal dari keramaian manusia, melainkan dari kesunyian ruh yang sedang berbicara kepada Tuhannya.

Karya itu bernama:

Mahabbatus Samawiyyah — cinta yang berasal dari langit.


Ia bukan sekadar lagu.

Bukan hanya rangkaian nada dan lirik.

Tetapi sebuah doa yang hidup. Sebuah munajat panjang yang lahir dari kedalaman hati, dari air mata, dari penantian, dari keyakinan, dan dari penghambaan seorang hamba kepada Rabb-nya.


Pada malam-malam Ramadhan yang penuh cahaya, tepat pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H, doa ini mulai disusun oleh Raden Syair Langit. Bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, melainkan sebuah ilham ruhani yang diyakini sebagai petunjuk dan kelembutan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Di dalamnya terdapat pengakuan seorang pecinta yang memahami bahwa cinta sejati tidak boleh menjauhkan manusia dari Tuhannya. Bahwa mahabbah yang suci bukanlah cinta yang membakar akal dan melalaikan ibadah, melainkan cinta yang justru menghidupkan dzikir, menumbuhkan kesabaran, melembutkan jiwa, dan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb semesta alam.


“Jadikan cintaku kepadanya sebagai ibadah…

jadikan rinduku kepadanya sebagai dzikir…”


Kalimat itu bukan hanya lirik.

Ia adalah keadaan jiwa.

Ia adalah maqam rasa yang tidak semua manusia mampu memahaminya.


Dalam Mahabbatus Samawiyyah, cinta digambarkan bukan sebagai kepemilikan, melainkan titipan langit yang harus dijaga kesuciannya. Sebab cinta yang berasal dari Allah tidak akan pernah meminta manusia melupakan Allah. Dan hati yang benar-benar mencintai, pada akhirnya akan kembali bersujud.


Lagu ini juga menjadi saksi bahwa terkadang Allah menyimpan rahasia-Nya di dalam hati seseorang begitu lama, tanpa suara, tanpa penjelasan, namun tetap hidup dan tumbuh di dalam ruhnya. Sebuah rasa yang tidak dipaksakan, tetapi ditanamkan. Tidak direncanakan, tetapi dihadirkan.


Karena itulah Mahabbatus Samawiyyah tidak dibangun di atas syahwat dunia, melainkan di atas doa, kesabaran, keyakinan, dan keridhaan terhadap takdir Allah.


Ia adalah kisah tentang seseorang yang mencintai dengan cara bersujud.

Menunggu dengan cara berdoa.

Dan berharap dengan cara bertawakal.


Semoga karya ini menjadi penyejuk bagi hati-hati yang sedang terluka. Menjadi pengingat bagi para pecinta agar tidak menjadikan cinta lebih tinggi daripada Tuhannya. Dan menjadi saksi bahwa di antara jutaan cinta yang ada di muka bumi, masih ada cinta yang lahir dari langit dan kembali menuju langit.


Karya : Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Syair Langit Studio




Du’a ul Mahabbatis Samawiyyah  دُعَاءُ الْمَحَبَّةِ السَّمَاوِيَّةِ


بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

يَا ٱللَّهُ

Artinya: Wahai Allah.

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

Artinya: Engkaulah yang menanamkan rasa di dalam dada.

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

Artinya: Dan Engkaulah yang menumbuhkan cinta tanpa suara.

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

Artinya: Dan Engkaulah yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini.

يَا رَبِّ

Artinya: Wahai Tuhanku.

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

Artinya: Sesungguhnya cinta yang Engkau titipkan di dalam hatiku ini bukan sekadar keinginan dariku.

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

Artinya: Tetapi ia adalah anugerah dari-Mu yang Engkau pelihara dalam ruhku.

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

Artinya: Maka jangan Engkau jadikan ia sia-sia di sisi-Mu.

يَا ٱللَّهُ

Artinya: Wahai Allah.

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

Artinya: Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan keyakinan yang sempurna.

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

Artinya: Agar Engkau satukan aku dengannya dalam ikatan yang Engkau ridai.

وَاكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

Artinya: Dan tuliskan namaku di sisinya sebagai pasangan di dunia dan di surga yang Engkau pilihkan untuknya.

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

Artinya: Dan lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan dari-Mu.

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

Artinya: Dan dekatkan langkah-langkah kami dalam jalan yang Engkau berkahi.

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

Artinya: Wahai Allah, Wahai Yang Paling Mencintai di antara para pecinta, 

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

Artinya: Jadikan cintaku kepadanya sebagai ibadah.

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

Artinya: Dan jadikan rinduku kepadanya sebagai dzikir.

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

Artinya: Dan jadikan penantianku kepadanya sebagai kesabaran yang Engkau beri pahala atasnya.

يَا رَبِّ

Artinya: Wahai Tuhanku.

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

Artinya: Jangan Engkau jadikan cintaku kepadanya lebih besar daripada cintaku kepada-Mu.

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

Artinya: Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hatiku selamanya.

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

Artinya: Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada-Mu.

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

Artinya: Dan jangan Engkau jadikan dia sebab yang melalaikanku dari-Mu.

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

Artinya: Aku yakin kepada-Mu.

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

Artinya: Dan aku ridha atas ketetapan-Mu.

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

Artinya: Dan aku berserah diri kepada kekuasaan-Mu.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

Artinya: Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

آمِينَ

Artinya: Kabulkanlah.


Doa mahabah karya abah raden syair langit

(Doa hasil petunjuk Allah, dan disusun pada hari sabtu 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)


Mahabbatus Samawiyyah مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ


Judul: Mahabbatus Samawiyyah (مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ)

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada: 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)

“Cinta yang berasal dari langit, yaitu cinta yang suci dan bersifat ilahiah.”


(Intro)

(Spoken Word)

يَا ٱللَّهُ

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

يَا رَبِّ

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

يَا ٱللَّهُ

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

وَٱكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

يَا رَبِّ

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

آمِينَ


(Verse 1)

Wahai Allah

Engkau yang menanamkan rasa di dalam dada

Engkau yang menumbuhkan cinta tanpa suara

Engkau yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini

(Verse 2)

wahai Tuhanku

sungguh cinta yang Kau titipkan di dalam hatiku

bukan sekedar keinginan pada diriku

tapi ini anugerah yang Kau pelihara di dalam ruhku

(Reff)

Wahai Allah

sesungguhnya aku memohon kepada-Mu

agar Engkau satukan aku dengannya

dalam ikatan yang Engkau ridoi

dan tuliskan

namaku di sisinya sebagai pasangan

di dunia dan abadi sampai di surga

kau pilihkan aku sebagai kekasih untuknya

(Intro)

(Verse 3)

Wahai Allah

lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan-Mu

Dekatkan langkah kami dalam jalan yang Kau berkahi

Wahai Allah Yang Paling Mencintai di antara para pencinta

(Verse 4)

Jadikanlah

cintaku kepadanya sebagai ibadah

Jadikan rinduku padanya sebagai dzikir

Jadikan penantianku kesabaran yang Engkau beri pahala

(Reff)

Wahai Tuhanku.

Jangan Engkau jadikan cintaku padanya

lebih besar daripada cintaku kepada-Mu

Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hati

Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada diri-Mu

jangan Engkau jadikan dia melalaikanku

Aku yakin pada-Mu

Dan aku rido atas ketetapan-Mu


Minggu, 17 Mei 2026

Mahabbatus Samawiyyah "Simfoni Cinta dari Langit Ruhani" Maha Karya Lagu Raden Syair Langit Ke-72


Di tengah dunia yang semakin riuh oleh gemerlap fana, lahirlah sebuah karya yang tidak sekadar bernama lagu, melainkan untaian doa, tetesan rindu, dan bisikan ruh yang mengembara menuju langit cinta-Nya.

Mahabbatus Samawiyyah hadir sebagai persembahan jiwa — sebuah perjalanan batin tentang cinta yang tidak lahir dari nafsu dunia, melainkan dari getaran langit yang suci, lembut, dan abadi.

Setiap liriknya mengandung tafakur.

Setiap nadanya menyimpan kerinduan.

Dan setiap detiknya adalah napas spiritual yang mengajak hati kembali mengenal hakikat cinta yang sebenar-benarnya cinta.

Official Video Clip kini telah hadir.

Semoga karya ini menjadi penyejuk bagi hati-hati yang lelah, penerang bagi jiwa yang gelap, dan pengingat bahwa di atas segala cinta manusia, masih ada cinta samawi yang tidak pernah padam.


Judul: Mahabbatus Samawiyyah (مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ)

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada: 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)


“Cinta yang berasal dari langit, yaitu cinta yang suci dan bersifat ilahiah.”


(Intro)

(Spoken Word)

يَا ٱللَّهُ

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

يَا رَبِّ

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

يَا ٱللَّهُ

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

وَٱكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

يَا رَبِّ

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

آمِينَ


(Verse 1)

Wahai Allah

Engkau yang menanamkan rasa di dalam dada

Engkau yang menumbuhkan cinta tanpa suara

Engkau yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini

(Verse 2)

wahai Tuhanku

sungguh cinta yang Kau titipkan di dalam hatiku

bukan sekedar keinginan pada diriku

tapi ini anugerah yang Kau pelihara di dalam ruhku

(Reff)

Wahai Allah

sesungguhnya aku memohon kepada-Mu

agar Engkau satukan aku dengannya

dalam ikatan yang Engkau ridoi

dan tuliskan

namaku di sisinya sebagai pasangan

di dunia dan abadi sampai di surga

kau pilihkan aku sebagai kekasih untuknya

(Intro)

(Verse 3)

Wahai Allah

lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan-Mu

Dekatkan langkah kami dalam jalan yang Kau berkahi

Wahai Allah Yang Paling Mencintai di antara para pencinta

(Verse 4)

Jadikanlah

cintaku kepadanya sebagai ibadah

Jadikan rinduku padanya sebagai dzikir

Jadikan penantianku kesabaran yang Engkau beri pahala

(Reff)

Wahai Tuhanku.

Jangan Engkau jadikan cintaku padanya

lebih besar daripada cintaku kepada-Mu

Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hati

Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada diri-Mu

jangan Engkau jadikan dia melalaikanku

Aku yakin pada-Mu

Dan aku rido atas ketetapan-Mu



Rabu, 13 Mei 2026

Zuhud زهد Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit

 


Zuhud زهد Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit


Zuhud adalah sebuah sikap meninggalkan keterikatan duniawi, dan tidak terlalu terpaku pada kesenangan dunia, serta lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Zuhud bukan berarti menolak atau meninggalkan dunia, atau tidak boleh memiliki dunia, tetapi zuhud itu lebih pada cara pandang dan sikap hati yang tidak dikuasai oleh keinginan duniawi.

Zuhud tidak mengajarkan kita miskin atau compang camping. Zuhud mengajarkan kita agar hati tidak tunduk kepada sesuatu selain Allah.


Umat Islam dipersilahkan memiliki kekayaan dunia, agar tujuannya bisa menjadi bekal untuk ibadah. Jadi jika ada ajaran tarekat mencerca orang yang banyak hartanya, maka perlu dipertanyakan lagi ajaran tarektnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (الشيخ عبدالقادرالجيلاني البغدادي) itu kaya, banyak hartanya. Begitupun juga dengan Syekh Ibnu Arrabi (الشيخ ابن عربي), beliau pun memiliki banyak harta, padahal beliau termasuk pencetus ajaran wahdatul wujud.

Banyak para wali yang memiliki harta banyak, tetapi mereka tidak tertunduk oleh dunia, justru dunia yang tertunduk kepada mereka. Yang tidak boleh itu الوَهْنُ (al-wahn) salah satu penyakit hati, cinta dunia dan takut mati.

Penyakit al-wahn ini telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw dalam sabdanya yang shahih, dari Tsauban bin Bujdud (ثوبان بن بجدد),

Beliau ngadawuh,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah saw bersabda,

“’Hampir-hampir umat-umat (kafir) menyeru untuk menguasai kalian (umat Islam) sebagaimana mereka memperebutkan makanan yang berada di dalam piring’. Seorang laki-laki berkata, ‘Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?’ Beliau menjawab, ‘bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di lautan. Sungguh, benar-benar Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn’. Seseorang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?’ beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.

Pada hadits ini, Nabi Muhammad saw mengumpamakan kaum muslimin kelak terlihat seperti santapan orang-orang kafir. Kaum muslimin saat itu lemah, sehingga orang-orang kafir ingin berebut mengambil kekuasaan.

Apakah kondisi ini telah terjadi atau belum? Sebagian ulama memandang bahwa hal ini telah terjadi, bahkan kondisi ini tidak hanya terjadi satu kali, namun bisa berulang-ulang.

Di antara kisah yang disebutkan oleh para ulama sebagai contoh adalah kisah kaum tatar, penaklukan Hulagu Khan terhadap umat Islam di Persia, yang padahal di masa itu umat Islam sedang berjaya, namun banyak diantara mereka yang lacut dan terlena oleh dunia, termasuk para pejabatnya seperti Khalifah Al-Musta'sim.

(pembahasan ini sudah di ulas di bab sebelumnya terkait sejarah tarekat didalam Islam).

Kita juga diingatkan dengan kisah runtuhnya Andalusia. Runtuhnya Andalusia, atau jatuhnya Granada sebagai wilayah terakhir kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia, terjadi pada 2 Januari 1492 M. Pada tanggal tersebut, Sultan terakhir Granada, Abu Abdullah (أبو عبد الله) (Muhammad XII), menyerah kepada pasukan Kristen yang dipimpin oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella.

Dengan jatuhnya Granada, berakhirlah kekuasaan Islam di Andalusia, yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh abad (711M-1492M). Penaklukan ini menandai akhir dari periode Reconquista, yaitu upaya penguasaan kembali wilayah Semenanjung Iberia oleh kekuatan Kristen.

Semua itu tidak berhenti disana, termasuk di zaman sekarang. Banyak orang-orang kafir yang sudah terlihat mulai menguasai kaum muslimin. Mungkin kita melihat bahwa kondisi-kondisi tersebut tidak sama persis, namun kita katakan bahwa hadits tersebut benar-benar terjadi, disetiap zaman yang umat Islam lalui.

Kemudian, para sahabat didalam hadits ini yang mendengar dawuh Nabi Muhammad saw, mereka bertanya, apakah jumlah kaum muslimin ketika itu sedikit atau banyak? Ternyata Nabi Muhammad saw menepis hal tersebut, jumlah kaum muslimin saat itu ternyata lebih banyak, hanya saja kaum muslimin seperti buih di lautan, mereka banyak, namun tidak bisa berbuat apa-apa, sangat mudah diatur dan sangat mudah untuk dihancurkan. Kemudian Nabi Muhammad saw menyebutkan bahwasanya rasa takut orang-orang kafir terhadap kaum muslimin akan hilang, padahal seharusnya orang-orang kafir itu gentar terhadap kaum muslimin. Ternyata, Nabi Muhammad saw menyebutkan sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin akan diserang dan didominasi oleh orang-orang kafir itu. Diantaranya adalah karena banyaknya umat Islam yang cinta dunia dan takut mati. الوَهْنُ (al-wahn) telah menguasai kaum muslimin.

الوَهْنُ (al-wahn). Penyakit halus yang melemahkan ruh

الوَهْنُ secara bahasa berarti kelemahan, namun dalam timbangan ruhani para arif, ia adalah penyakit batin yang halus namun mematikan. Ia bukan sekedar lemahnya tubuh, melainkan lunturnya semangat jiwa untuk menuju Allah. Ia mengendap dalam hati yang lelah mencintai dunia, dan tumbuh dalam jiwa yang takut berpisah darinya.

الوَهْنُ adalah ketika ruh tidak lagi bertenaga karena hatinya terlalu berat menengok ke belakang, yaitu menuju ke dunia yang fana, dan terlalu takut menatap ke depan, yaitu ke akhirat yang abadi. Ia adalah kabut yang menghalangi mata batin dari cahaya keyakinan, dan tali halus yang mengikat kaki manusia agar tidak mampu melangkah menuju hadirat Tuhan.

Orang yang terkena wahn akan mudah letih dalam ibadah, cepat kecewa dalam perjuangan, dan ragu dalam pengorbanan. Padahal, jalan ini adalah jalan para kekasih yang menyerahkan segalanya demi meraih liqa’ Allah لِقَاءُ اللَّهِ (perjumpaan dengan Allah).

Berkata seorang arif,

مَنْ عَلِقَ قَلْبُهُ بِالدُّنْيَا، ضَعُفَتْ رُوحُهُ عَنِ الْمَسِيرِ إِلَى اللهِ

"Barang siapa hatinya tergantung pada dunia, maka ruhnya akan lemah dalam menempuh perjalanan menuju Allah."

Obat dari al-Wahn

Obat dari al-wahn adalah mujahadah مُجَاهَدَةٌ (kesungguhan melawan hawa nafsu), dzikrullah ذِكْرُ اللَّهِ (selalu menghadirkan Allah dalam hati), muraqabah مُرَاقَبَةٌ (merasa diawasi Allah), dan dzikrul maut ذِكْرُ الْمَوْتِ (mengingat kematian). Bila ruh disiram dengan dzikir dan harapan akhirat, maka kelemahan akan berganti menjadi kekuatan, ketakutan menjadi keberanian, dan cinta dunia berganti menjadi kerinduan kepada Tuhan semesta alam.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Selasa, 12 Mei 2026

Mengamalkan Syariat عمل الشريعة Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Mengamalkan Syariat عمل الشريعة Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Di dalam khazanah thariqah yang hakiki, yang diwarisi dari para pewaris Nabi, pengamalan syariat bukan sekedar kewajiban lahiriyah, tetapi merupakan pintu awal bagi perjalanan ruhani menuju Allah. Ia adalah pondasi utama yang tak bisa digantikan oleh maqam atau hal apa pun. Para sufi sunni yang mukhlis memandang bahwa setiap langkah menuju hakikat dan makrifat harus bertumpu pada tegaknya syariat.

Syariat bukanlah kulit yang dibuang ketika isi telah diperoleh, tetapi ia adalah tubuh bagi ruh tasawuf. Siapa yang menanggalkan syariat demi merasa cukup dengan hakikat, maka sesungguhnya ia telah terjerumus ke dalam ilusi batin yang menyesatkan. Karena hakikat yang tidak disinari oleh cahaya syariat, itu hanya akan menjadi bayang-bayang hawa nafsu yang menjelma dalam rupa keruhanian.

Bagi para salikin, para penempuh jalan Allah, ibadah-ibadah syariat, baik yang bersifat wajib maupun sunnah, adalah madrasah pembentukan ruh dan pembersih cermin hati. Bersuci dari hadast adalah simbol pensucian dari kekeruhan dosa, shalat adalah mi'raj ruhani yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya, puasa adalah pengendalian syahwat untuk menata batin agar lebih peka terhadap getaran ilahiah. Setiap amal lahir menjadi jembatan menuju keterbukaan batin.

Salik yang sungguh-sungguh tidak akan membedakan antara wajib dan sunnah dalam rasa tanggung jawab. Ia akan memandang ibadah sunnah seperti ibadah wajib, bukan dari sisi hukum fiqih, melainkan dari kedalaman mahabbah (cinta) dan  kerinduan kepada Tuhannya.

Ibadah-ibadah sunnah menjadi tempat ia mengungkapkan rasa rindu dan kerelaan untuk selalu hadir di hadapan-Nya. Ia melatih jiwanya untuk istiqamah dalam khidmah kepada Sang Kekasih, bahkan dalam hal yang tidak diwajibkan secara hukum.

Dengan demikian, syariat bukan sekedar perintah formal, tetapi merupakan latihan rohani untuk tahdzib al-nafs تَهْذِيبُ النَّفْسِ (pembinaan jiwa), tazkiyah al-qalb تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ (penyucian hati), dan taqwiyah al-ruḥ تَقْوِيَةُ الرُّوحِ (penguatan ruh).

Setiap gerak dalam syariat, jika dilakukan dengan niat ikhlas dan pandangan batin yang jernih, akan membuka jalan menuju hakikat. 


Inilah yang disebut sebagai,

ٱلشَّرِيعَةُ أَصْلٌ، وَٱلطَّرِيقَةُ سُلُوكٌ، وَٱلْحَقِيقَةُ ذَوْقٌ 

“Syariat adalah akar, thariqah adalah jalan, dan hakikat adalah rasa.”

Maka, siapa yang hendak meraih cahaya makrifat, wajib baginya menegakkan tiang-tiang syariat dalam hidupnya. Tidak ada makrifat tanpa syariat, dan tidak ada kesempurnaan ruhani tanpa pengabdian zahir yang ikhlas dan tertib. Inilah jalan para kekasih Allah, jalan yang menggabungkan zahir dan batin, syariat dan hakikat, cinta dan takut, harap dan rindu.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Telah Hadir Karya Lagu ke-72 Dari Raden Syair Langit “مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ” Mahabbatus Samawiyyah

 


Telah Hadir Karya Lagu ke-72 Dari Raden Syair Langit “مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ” Mahabbatus Samawiyyah


Sebuah karya yang lahir bukan sekadar dari untaian kata dan nada, melainkan dari kedalaman ruh yang sedang mengetuk pintu langit dengan doa, cinta, dan kepasrahan.


Pada 28 Februari 2026 bertepatan dengan 10 Ramadhan 1447 H, Raden Syair Langit kembali mempersembahkan sebuah mahakarya spiritual bertajuk “Mahabbatus Samawiyyah”, dan baru di ekspos pada hari selasa 12 Mei 2026 M, — cinta langit yang suci, cinta yang tidak hanya berakar pada rasa manusia, tetapi tumbuh dari cahaya Ilahiah yang ditanamkan langsung ke dalam relung jiwa.


Lagu ini bukan hanya sebuah lantunan religi. Ia adalah munajat. Ia adalah bisikan hati yang dijaga dalam diam. Ia adalah perjalanan seorang hamba yang memohon agar cintanya tidak menjadi hijab dari Tuhannya, melainkan menjadi jalan yang semakin mendekatkannya kepada Allah.


Dalam setiap baitnya, “Mahabbatus Samawiyyah” menghadirkan nuansa sufistik yang lembut namun dalam. Mengajarkan bahwa cinta sejati bukan sekadar memiliki, melainkan menjaga kesucian rasa agar tetap berada di bawah naungan ridha-Nya.


Karya ke-72 ini menjadi penanda perjalanan panjang Raden Syair Langit dalam merajut syair-syair ruhani yang memadukan cinta, doa, dzikir, dan penghambaan dalam satu harmoni yang agung. Sebuah persembahan yang tidak hanya ingin didengar oleh telinga, tetapi juga ingin menetap di dalam hati.


“Jadikan cintaku kepadanya sebagai ibadah,

jadikan rinduku kepadanya sebagai dzikir.”


Semoga karya ini menjadi wasilah kebaikan, penyejuk jiwa, dan pengingat bahwa cinta paling indah adalah cinta yang tetap menempatkan Allah di atas segala-galanya.


Raden Syair Langit

Pencipta Syair-Syair Ruhani



مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ

Mahabbatus Samawiyyah


Judul: Mahabbatus Samawiyyah (مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ)

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada: 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)


“Cinta yang berasal dari langit, yaitu cinta yang suci dan bersifat ilahiah.”


(Intro)

(Spoken Word)

يَا ٱللَّهُ

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

يَا رَبِّ

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

يَا ٱللَّهُ

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

وَٱكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

يَا رَبِّ

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

آمِينَ


(Verse 1)

Wahai Allah

Engkau yang menanamkan rasa di dalam dada

Engkau yang menumbuhkan cinta tanpa suara

Engkau yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini

(Verse 2)

wahai Tuhanku

sungguh cinta yang Kau titipkan di dalam hatiku

bukan sekedar keinginan pada diriku

tapi ini anugerah yang Kau pelihara di dalam ruhku

(Reff)

Wahai Allah

sesungguhnya aku memohon kepada-Mu

agar Engkau satukan aku dengannya

dalam ikatan yang Engkau ridoi

dan tuliskan

namaku di sisinya sebagai pasangan

di dunia dan abadi sampai di surga

kau pilihkan aku sebagai kekasih untuknya

(Intro)

(Verse 3)

Wahai Allah

lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan-Mu

Dekatkan langkah kami dalam jalan yang Kau berkahi

Wahai Allah Yang Paling Mencintai di antara para pencinta

(Verse 4)

Jadikanlah

cintaku kepadanya sebagai ibadah

Jadikan rinduku padanya sebagai dzikir

Jadikan penantianku kesabaran yang Engkau beri pahala

(Reff)

Wahai Tuhanku.

Jangan Engkau jadikan cintaku padanya

lebih besar daripada cintaku kepada-Mu

Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hati

Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada diri-Mu

jangan Engkau jadikan dia melalaikanku

Aku yakin pada-Mu

Dan aku rido atas ketetapan-Mu


Jumat, 08 Mei 2026

언젠가 네가 여기 있다면 (Bila Nanti Kau Di Sini) Versi Korea: Karya Raden Syair Langit yang Menyentuh Hingga Negeri K-Pop


언젠가 네가 여기 있다면 (Bila Nanti Kau Di Sini) Versi Korea: Karya Raden Syair Langit yang Menyentuh Hingga Negeri K-Pop


Syair Langit Studio - Eonjenga Nega Yeogi Itdamyeon (언젠가 네가 여기 있다면) -Bila Nanti Kau Disini (Korea Version)

Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )


Judul Lagu: Eonjenga nega yeogi itdamyeon (언젠가 네가 여기 있다면)

Cipta: Raden Syair Langit


[Intro]

[Verse 1]

기억하나요 나의 사랑을

Gieokhanayo naye sarangeul

Masihkah kau ingat cintaku


그 누구로도 채울 수 없던 마음

Geu nugurodo chaeul su eopdeon maeum

Yang tak bisa digantikan oleh siapa pun


난 알고 있었죠 그대의 사랑을

Nan algo isseotjyo geudae-ui sarangeul

Aku sebenarnya tahu tentang cintamu


오래도록 완벽했던 우리 기억들

Oraedorok wanbyeokaetdeon uri gieokdeul

Kenangan kita yang begitu lama dan sempurna


[Chorus]

그대 없이 사는 이 삶이 아픈 걸

Geudae eopsi saneun i salmi apeun geol

Hidup tanpa dirimu terasa menyakitkan


이제야 난 깨달아 사랑한단 걸

Ijeya nan kkaedara saranghandan geol

Kini aku sadar bahwa aku mencintaimu


[Reff]

언젠가 네가 내 곁에 돌아온다면

Eonjenga nega nae gyeote doraondamyeon

Jika suatu saat kau kembali di sisiku


영원히 나를 사랑해줘 떠나지 말아줘

Yeongwonhi nareul saranghaejwo tteonaji marajwo

Cintailah aku selamanya, jangan tinggalkan aku


약속할게 여기서 널 기다릴게

Yaksokhalge yeogiseo neol gidarilge

Aku berjanji akan menunggumu di sini


내 삶이 끝날 때까지 곁에 있을게

Nae salmi kkeutnal ttaekkaji gyeote isseulge

Aku akan selalu di dekatmu sampai akhir hidupku


[Verse 2]

미안해요 그댈 아프게 한 나를

Mianhaeyo geudael apeuge han nareul

Maafkan aku yang telah menyakitimu


그땐 사랑을 잘 몰랐었죠

Geuttaen sarangeul jal mollasseotjyo

Dulu aku belum mengerti tentang cinta


이제야 알겠죠 행복의 의미를

Ijeya algetjyo haengbog-ui uimireul

Kini aku mengerti arti kebahagiaan


그대 떠난 후에야 느낄 수 있었죠

Geudae tteonan hu-e-ya neukkil su isseotjyo

Yang baru kurasakan setelah kau pergi


[Chorus]

이제 난 알아 그대는 나의 전부

Ije nan ara geudaeneun naui jeonbu

Kini aku tahu kau adalah segalanya bagiku


이제 난 알아 그대는 나의 운명

Ije nan ara geudaeneun naui unmyeong

Kini aku sadar kau adalah takdirku


[Reff]

언젠가 네가 내 곁에 돌아온다면

Eonjenga nega nae gyeote doraondamyeon

Jika suatu saat kau kembali di sisiku


영원히 나를 사랑해줘 떠나지 말아줘

Yeongwonhi nareul saranghaejwo tteonaji marajwo

Cintailah aku selamanya, jangan tinggalkan aku


약속할게 여기서 널 기다릴게

Yaksokhalge yeogiseo neol gidarilge

Aku berjanji akan menunggumu di sini


내 삶이 끝날 때까지 곁에 있을게

Nae salmi kkeutnal ttaekkaji gyeote isseulge

Aku akan selalu di dekatmu sampai akhir hidupku


[Outro]

언젠가 네가 내 곁에

Eonjenga nega nae gyeote

Suatu saat kau kembali di sisiku

Kamis, 07 Mei 2026

한 조각의 이야기 (Seberkas Kisah) Versi Korea: Karya Raden Syair Langit yang Menyentuh Hingga Negeri K-Pop

 


한 조각의 이야기 (Seberkas Kisah) Versi Korea: Karya Raden Syair Langit yang Menyentuh Hingga Negeri K-Pop


Syair Langit Studio - Han Jo gak ui I ya gi ( 한 조각의 이야기 ) - Seberkas Kisah ( Korea Version )

Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )


Judul Lagu: Han Jo gak ui I ya gi ( 한 조각의 이야기 )

Cipta: Raden Syair Langit


[Intro]

[Verse 1]

한 조각 이야기 너를 향한 내 사랑

Han jo-gak i-ya-gi neo-reul hyang-han nae sa-rang

Seberkas kisah, cintaku padamu


아픔과 눈물로 가득 차 있어

A-peum-gwa nun-mul-lo ga-deuk cha i-sseo

Penuh dengan luka dan derita


네가 알았다면 이 깊은 내 사랑

Ne-ga a-rat-da-myeon i gi-peun nae sa-rang

Andai engkau tahu dalamnya cintaku


바다보다 깊어 헤아릴 수 없어

Ba-da-bo-da gi-peo he-a-ril su eop-seo

Tak terukur dalamnya samudra


[Verse 2]

조금만이라도 내 사랑 느껴줘

Jo-geum-man-i-ra-do nae sa-rang neu-kyeo-jwo

Sedikit saja hargai cintaku


사라지지 않아 널 향한 그리움

Sa-ra-ji-ji a-na neol hyang-han geu-ri-um

Rindu yang selalu menghantuiku


왜 이렇게 나를 혼자 두는 거야

Wae i-reo-ke na-reul hon-ja du-neun geo-ya

Apakah kau tega membiarkan aku


이렇게 오래 널 기다리는데

I-reo-ke o-rae neol gi-da-ri-neun-de

Terlalu lama merindukanmu


[Chorus]

얼마나 오래 사랑을 숨겨왔는지

Eol-ma-na o-rae sa-rang-eul sum-gyeo-wat-neun-ji

Betapa lamanya ku memendam cinta


왜 아직도 몰라주니

Wae a-jik-do mol-la-ju-ni

Tak kah kau sadari itu


[Reff]

왜 이렇게 너는 차갑기만 해

Wae i-reo-ke neo-neun cha-gap-gi-man hae

Mengapa kau begitu tega


나를 혼자 울게 만들어

Na-reul hon-ja ul-ge man-deu-reo

Membiarkan ku merana


아픔과 눈물이 날 무너뜨려

A-peum-gwa nun-mul-i nal mu-neo-tteu-ryeo

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa


정말 너는 너무 잔인해

Jeong-mal neo-neun neo-mu ja-nin-hae

Sungguh kejamnya dirimu


조금의 마음도 없다면

Jo-geum-ui ma-eum-do eop-da-myeon

Apa kau tak punya rasa


이대로 난 사랑에 아파할게

I-dae-ro nan sa-rang-e a-pa-hal-ge

Biarkan kumerana menelan pedih cinta


[Bridge]

넌 계속 나를 아프게 할 거니

Neon gye-sok na-reul a-peu-ge hal geo-ni

Apakah kau akan selalu menyakitiku


그리움은 너 하나뿐이야

Geu-ri-um-eun neo ha-na-ppu-ni-ya

Rindu hanya padamu


[Intro]

[Verse 3]

조금만이라도 내 사랑 느껴줘

Jo-geum-man-i-ra-do nae sa-rang neu-kyeo-jwo

Sedikit saja hargai cintaku


사라지지 않아 널 향한 그리움

Sa-ra-ji-ji a-na neol hyang-han geu-ri-um

Rindu yang selalu menghantuiku


왜 이렇게 나를 혼자 두는 거야

Wae i-reo-ke na-reul hon-ja du-neun geo-ya

Apakah kau tega membiarkan aku


이렇게 오래 널 기다리는데

I-reo-ke o-rae neol gi-da-ri-neun-de

Terlalu lama merindukanmu


[Chorus]

얼마나 오래 사랑을 숨겨왔는지

Eol-ma-na o-rae sa-rang-eul sum-gyeo-wat-neun-ji

Betapa lamanya ku memendam cinta


왜 아직도 몰라주니

Wae a-jik-do mol-la-ju-ni

Tak kah kau sadari itu


[Reff]

왜 이렇게 너는 차갑기만 해

Wae i-reo-ke neo-neun cha-gap-gi-man hae

Mengapa kau begitu tega


나를 혼자 울게 만들어

Na-reul hon-ja ul-ge man-deu-reo

Membiarkan ku merana


아픔과 눈물이 날 무너뜨려

A-peum-gwa nun-mul-i nal mu-neo-tteu-ryeo

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa


정말 너는 너무 잔인해

Jeong-mal neo-neun neo-mu ja-nin-hae

Sungguh kejamnya dirimu


조금의 마음도 없다면

Jo-geum-ui ma-eum-do eop-da-myeon

Apa kau tak punya rasa


이대로 난 사랑에 아파할게

I-dae-ro nan sa-rang-e a-pa-hal-ge

Biarkan kumerana menelan pedih cinta


왜 이렇게 너는 차갑기만 해

Wae i-reo-ke neo-neun cha-gap-gi-man hae

Mengapa kau begitu tega


나를 혼자 울게 만들어

Na-reul hon-ja ul-ge man-deu-reo

Membiarkan ku merana


아픔과 눈물이 날 무너뜨려

A-peum-gwa nun-mul-i nal mu-neo-tteu-ryeo

Sakit luka dan derita menyakiti jiwa


정말 너는 너무 잔인해

Jeong-mal neo-neun neo-mu ja-nin-hae

Sungguh kejamnya dirimu


조금의 마음도 없다면

Jo-geum-ui ma-eum-do eop-da-myeon

Apa kau tak punya rasa


이대로 난 사랑에 아파할게

I-dae-ro nan sa-rang-e a-pa-hal-ge

Biarkan kumerana menelan pedih cinta

[Outro]


Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip)

  Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip) Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment ) ...