Sabtu, 11 April 2026

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi 


Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi Transformasi

Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment )


Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, rangkaian karya musik Raden Syair Langit telah sampai pada satu fase yang patut disyukuri.

Sebanyak 71 karya lagu utama, serta 24 lagu edisi transformasi dalam berbagai nuansa dan warna,

kini telah tersusun dan dipersembahkan melalui kanal resmi Syair Langit Studio.

Setiap karya bukan sekedar rangkaian nada, namun jejak perjalanan rasa, doa, dan makna yang diikat dalam syair.

InsyaAllah perjalanan ini belum usai. Apabila waktu dan ilham kembali beriring, karya-karya baru akan kembali dihadirkan.

Bahkan saat ini, proses penggarapan karya ke-72 tengah berlangsung,

sebagai kelanjutan dari alur rasa yang belum selesai.

Ke depan, kami juga akan menghadirkan kisah-kisah di balik setiap lagu, agar makna yang tersembunyi dapat lebih dekat dirasakan, bukan hanya didengar.

Terima kasih atas setiap doa dan dukungan. Semoga setiap nada yang mengalun, menjadi jalan kebaikan dan pengingat akan-Nya.

Jumat, 10 April 2026

Rabithah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Rabithah رابطة

Dalam konteks tarekat, rabithah secara harfiah berarti ikatan atau hubungan. Secara khusus, rabithah merujuk pada ikatan batin yang kuat antara seorang murid dengan gurunya dalam sebuah tarekat, serta ikatan dengan Rasulullah SAW, dan akhirnya dengan Allah SWT. Tujuan dari ikatan ini adalah untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritualnya, membantu melawan hawa nafsu, serta mempererat hubungan dengan Allah.

Rabithah juga bisa dilaksanakan dengan mengingat rupa guru (Syekh) dalam ingatan seorang murid. Praktek rabithah ini merupakan adab dalam pelaksanaan dzikir seorang salik, yaitu sebelum seorang salik berdzikir untuk melaksanakan dzikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mengingat gurunya yang telah menalqin dzikir kepadanya. Mengingat itu bisa dilakukan seperti mengingat  wajah guru, mengingat seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Ingat, hal ini tidak boleh dilakukan dalam shalat, rabithah hanya dilakukan saat kita akan melakukan amaliyah seperti dzikir, atau amaliyah-amaliyah lainnya yang diajarkan guru mursyid. Maksud dari rabithah ini adalah sebagai bentuk mengingat guru yang menjadi wasilah pelantara Allah kepadanya, sehingga ia berharap mendapatkan  keberkahan dari Allah dengan rabithah itu sendiri.

Sedangkan dalam urusan shalat, maka semuanya harus disandarkan secara utuh kepada Allah.

Maksudnya adalah, jangan sampai ada pelaku tarekat yang sedang melakukan shalat malah mengingat guru, ini adalah pemahaman yang salah kaprah, bahkan pada dasarnya, dalam melakukan amaliyah apapun diluar shalat, melakukan rabithah itu maksudnya adalah diawal, selain mengingat guru, kita bisa tawasul mengirimkan fatihah kepada guru, agar semoga mendapatkan keberkahan dari Allah. Namun saat pelaksanaan dzikir, semua nya harus tetap tertuju kepada Allah, sudah tidak ada lagi guru, tidak ada lagi kita, tidak ada lagi seluruh alam semesta dan isinya, karena dihati hanya ada Allah, tidak ada lagi tempat untuk yang lainnya.

Rabithah yang paling utama itu dengan mengaplikasan adab kita terhadap Guru. Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, apalagi kepada guru tarekat, maka semua itu akan menimbulkan dampak yang buruk kepadanya. Seperti diantaranya hilang berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, tidak dapat menyebarkan ilmunya, dan dia tidak bisa mencicipi manisnya makrfiat walaupun setetes.

Syariatnya, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu tarekat, karena guru yang mengajarkan ilmu tarekat, mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu lahir dan ilmu bathin agar engkau mengenal Allah.

Para pewaris Nabi, begitulah julukan mereka para pemegang kemulian ilmu Agama Allah, dan mereka itu memiliki derajat yang tinggi dihadapan Allah SWT.

Ketahuilah sedulur-sedulur, para pengajar Agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, pada hakikatnya mereka semua ada didalam pesan Rasulullah saw.

Beliau ngadawuh,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama”

(HR. Ahmad)

Tersirat dari kasauran Kanjeng Nabi Muhammad saw, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Para ulama adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya. Karena mereka telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru.

Sahabat Abu Sa’id Al Khudri (أبو سعيد الخدري) berkata,

كُنَّا جُلُوساً فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَينَا فَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَيْرُ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ مِنَّا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara”

(HR. Bukhari)

Ibnu Abbas (ابن عباس), seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari ahli bait Nabi, beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit Al-Anshari (زيد بن ثابت الأنصاري) dan berkata,

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami.”

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al-Aslami (عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي),

“Tidaklah seorangpun berani bertanya kepada Said bin Musayyib (سعيد بن المسيب), sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang Raja.”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman (الربيع بن سليمان) berkata,

 “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Guruku Asy-Syafi’i (الإمام الشافعي) melihatku karena segan kepadanya.”


Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي), bahwasannya Umar bin Khattab (عمر بن الخطاب) mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ العِلْمَ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang kalian pelajari ilmu darinya.”

Imam Syafi’i (الإمام الشافعي) berkata,

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan guruku Imam Malik bin Anas (الإمام مالك بن أنس) dengan sangat lembut, karena segan padanya, dan supaya dia tak mendengarnya.”

Abu ‘Ubaid Al Qosim (أبو عبيد القاسم) berkata,

“Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS. Al-Hujurat: 5)

Sungguh mulia akhlak mereka semua, diantara yang menjadi suri tauladan untuk kaum muslimin. Tidaklah heran mengapa mereka semua menjadi ulama besar, sungguh keberkahan ilmu yang mereka dapat, diantaranya karena akhlak mulia mereka terhadap guru-gurunya.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama tasawuf menafsirkan, bahwa mahabbah ruhaniyyah yang mendalam kepadaNabi Muhammad saw atau kepada mursyid akan menghadirkan kebersamaan ruhani (rabithah), meskipun secara fisik berjauhan.

Penjelasan Ulama Tasawuf:

Imam an-Nabhani dan Syekh Ahmad Zarruq menegaskan bahwa rabithah merupakan bagian dari adab dan ta’alluq ruhani antara murid dan mursyid.

Di dalam setiap tarekat, rabithah diajarkan sebagai latihan untuk menghadirkan mursyid dalam hati, agar hati tidak kosong dan tetap terjaga dalam muraqabah. 


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Kamis, 09 April 2026

Muraqabah Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 

Muraqabah مراقبة


Muraqabah artinya merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keadaan. Diantara pengaplikasian dari muraqabah adalah bertafakkur, atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini, seorang salikin akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.

Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan tiga macam tingkatan, ada yang empat, ada yang tujuh, dan bahkan ada yang lebih banyak macam tingkatannya didalam muraqabah itu sendiri.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Ayat ini mengandung rahasia agung bagi para salik. Bahwa Allah tidak hanya menciptakan jasad manusia, tetapi Dia juga Maha Mengetahui segala lintasan hati yang paling tersembunyi. Bahkan, Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri.

Muraqabah tumbuh dari keyakinan bahwa tidak ada ruang bagi hati untuk bersembunyi dari pengawasan Allah. Maka siapa yang menanamkan ayat ini dalam lubuk jiwanya, niscaya ia akan hidup dalam kesadaran ilahiyah yang terus menyala, dan kehinaan maksiat akan menjadi aib yang tak berani dilakukan.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

(QS. Al-Ḥadid: 4)

Kehadiran Allah bersama hamba-Nya tidaklah terbatas oleh ruang dan waktu. Ia adalah ma'iyyah khashshah, kebersamaan istimewa yang diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa.

Ayat ini meneguhkan keyakinan para penempuh jalan ruhani bahwa dalam sepi maupun ramai, dalam sujud maupun diam, Allah senantiasa hadir. Muraqabah menjadi pintu untuk memasuki alam batin yang teduh, tempat seorang hamba merasa tidak pernah sendiri. Rasa ma’iyyah ini yang menumbuhkan adab, malu, khusyuk, dan cinta.

---------------------------------------------------------------------------------

Kata معيّة berasal dari akar kata م-ع-ي yang berarti bersama. Dalam konteks tasawuf dan teologi Islam, ma‘iyyah merujuk pada kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, yang terbagi menjadi dua:

Ma‘iyyah ‘Ammah (المعية العامة):

Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu, kekuasaan, dan pengawasan-Nya. Berlaku umum bagi semua makhluk.

Ma‘iyyah Khaṣṣah (المعية الخاصة):

Kebersamaan istimewa yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para nabi, wali, dan orang-orang yang bertakwa. Ini mencakup penjagaan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya secara khusus.

---------------------------------------------------------------------------------

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Muslim, no. 8)

Inilah maqam ihsan, puncak tertinggi dalam perjalanan seorang salik. Muraqabah menjadi awalnya, musyahadah menjadi puncaknya.

Ketika seorang hamba mampu beribadah dengan perasaan seolah-olah ia melihat Allah, maka seluruh gerak hidupnya menjadi dzikir. Namun bila belum sampai pada maqam itu, maka cukup baginya untuk yakin bahwa Allah melihatnya, dan keyakinan itu saja sudah cukup untuk menjaga hati dari kekosongan makna.

Hadits ini mengajarkan bahwa hakikat muraqabah bukanlah pengawasan yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menghidupkan. Hamba yang senantiasa merasa diawasi, akan menjauhi kegelapan, dan berjalan menuju cahaya yang abadi.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 07 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32 (Kebaikan Didalam Tiga Perkara)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-32

(Kebaikan Didalam Tiga Perkara)


“Ada kebaikan didalam tiga perkara. Penglihatan, diam, dan pembicaraaan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil pelajarannya, itu semua adalah kesia-siaan. Sedangkan pembicaraan yang bukan dzikir, itu juga adalah kesia-siaan. Dan diam yang tidak disertai pemikiran, itu adalah kelalaian. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil pelajaran, diamnya karena berfikir, dan pembicaraannya berisi kan dzikir, sembari menangisi dan menyesali kesalahan-kesalahannya.






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Senin, 06 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31 (Antara Melihat dan Mendengar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-31

(Tanda Orang yang Arif & Bijaksana)


“Tanda orang arif dan bijak itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristigfar”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Minggu, 05 April 2026

Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)

 


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Halal Bihalal (Cipaku Ciamis, 23 Maret 2026)


Acara: Halal Bihalal

Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Alamat: Dusun Banjaransari Desa Selacai Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis




Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)

 


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Baleendah Bandung, 07 Februari 2026)


Acara: Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Alamat: Majelis Ta'lim Nurul Iman, Rt. 05 Rw. 06 Baleendah Bandung


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Rajadesa Ciamis, 03 Januari 2026)

 


Jadwal Ceramah Abah Raden Syair Langit - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Rajadesa Ciamis, 03 Januari 2026)


Acara: Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Penceramah: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede), Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Alamat: Masjid Nurul Iman, Cibulakan Parakan Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30 (Antara Melihat dan Mendengar)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-30

(Antara Melihat dan Mendengar)


“Tidak sedikit manusia yang mudah terhasut dengan hasutan orang lain. Padahal apa yang ia dengar, belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Ingatlah, manusia itu diberikan dua mata oleh Allah. Maka jangan sampai engkau menilai orang lain dengan telingamu. Nilailah manusia dengan apa yang engkau lihat, bukan dengan apa yang engkau dengar”









Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Sabtu, 04 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-29 (Ini Tentang Apa yang Kita Jalani)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-29

(Ini Tentang Apa yang Kita Jalani)


“Tidak perlu memikirkan apa yang dibicarakan oleh orang lain tentang dirimu. Ini kehidupan. Ada yang suka, ada yang tidak. Yang penting kamu hidup di jalan Allah. Ingatlah, hidup ini tentang apa yang kita jalani, bukan tentang apa yang mereka komentari”







Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Jumat, 03 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-28 (Diantara Sifat Orang yang Berakal)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-28

(Diantara Sifat Orang yang Berakal)


“Orang yang berakal itu tidak akan berbicara dengan orang yang akan mendustakannya. Dan dia juga tidak akan meminta kepada orang yang akan menolaknya, serta tidak akan berjanji pada orang atas sesuatu yang tidak disanggupinya. Dan dia tidak akan berbuat hal-hal yang akan merusak harapannya, serta tidak akan memikul hal-hal yang tidak sanggup memikulnya”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-27 (Banyak Ilmu Bagaikan Mutu Manikam)


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-27

(Banyak Ilmu Bagaikan Mutu Manikam)


“Banyak ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebarluaskan bukan pada maqamnya, niscaya orang-orang akan menganggapku gila dan sesat. Ilmu itu adalah apa yang pernah kita selami dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah, yang di mana sebagian di antaranya tidak boleh disampaikan kalau bukan pada tempatnya. Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya, dan bukan pada tempatnya. Seperti halnya mengupas Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip, tanpa dasar keilmuan syariat yang kuat, dan tarekat yang benar, justru akan menyebabkan gagal paham dan sesat menyesatkan”


Penjelasan:

Ilmu yang hakiki itu ibarat mutu manikam, permata suci yang berkilauan. Namun, sebagaimana permata tidak boleh dipersembahkan kepada sembarang tangan, demikian pula ilmu tidak layak dibuka kepada setiap telinga. Ada ilmu yang dapat disampaikan kepada khalayak, ada pula yang mesti dijaga dalam dada, hanya untuk mereka yang memiliki kesiapan maqam dan kelayakan ruhani.

Rasulullah saw sendiri bersabda:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

(HR. Bukhari no. 127)

Hadist ini menegaskan bahwa ilmu harus diletakkan pada tempatnya, jangan dipaksakan pada jiwa yang belum siap. Sebab bila rahasia ruhaniah dibuka pada orang awam, niscaya mereka akan menuduh gila, sesat, atau bahkan kafir, padahal hakikatnya mereka hanya tidak memahami.

Ilmu Lahir dan Ilmu Batin

Ilmu itu ada dua sisi: ilmu lahir yang bersandar pada syariat, dan ilmu batin yang menyingkap rahasia hakikat. Syariat adalah pagar, tarekat adalah jalan, hakikat adalah tujuan, dan makrifat adalah penyaksian. Barangsiapa mengupas rahasia batin (Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip) tanpa fondasi syariat yang kokoh dan perjalanan tarekat yang benar, maka yang muncul bukanlah cahaya, melainkan kegelapan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

(QS. al-Isra’: 36)

Ayat ini mengingatkan bahwa mengobral rahasia ilmu tanpa dasar adalah kezaliman terhadap ilmu itu sendiri.

Kerusakan dan Kebinasaan Ilmu

Mutiara ini juga mengingatkan bahwa kerusakan ilmu terjadi ketika ia hilang dari hati, sedangkan kebinasaan ilmu terjadi ketika ia diajarkan kepada yang bukan ahlinya.

Imam ‘Ali karramallahu wajhah berkata:

لَا تُعْطُوا الْحِكْمَةَ غَيْرَ أَهْلِهَا فَتَظْلِمُوهَا، وَلَا تَمْنَعُوهَا أَهْلَهَا فَتَظْلِمُوهُمْ

“Jangan berikan hikmah kepada orang yang bukan ahlinya, karena engkau menzalimi hikmah itu. Dan jangan pula engkau menahannya dari ahlinya, karena engkau menzalimi mereka.”

Inilah makna sejati mutiara: ilmu adalah amanat, ia harus dijaga, disampaikan sesuai maqam, agar ia menjadi cahaya penunjuk, bukan api yang membakar.

Kesimpulan

Mutiara ini mengajarkan kehati-hatian dalam menebarkan ilmu. Sebab tidak semua orang siap menanggung rahasia, dan tidak semua telinga layak mendengar kebenaran yang dalam. Ilmu adalah permata, dan permata hanya indah bila berada di tangan yang tepat. Karena itu, seorang murid harus menempuh jalan syariat dan tarekat terlebih dahulu sebelum menyentuh hakikat. Barangsiapa mendahului maqam, niscaya ia akan tersesat oleh bayangannya sendiri.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Rabu, 01 April 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-26 (Allah Menyembunykan Ridha-Nya Didalam Taat Seorang Hamba)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-26

(Allah Menyembunykan Ridha-Nya Didalam Taat Seorang Hamba)


“Allah menyembunyikan ridha-Nya di dalam perbuatan taat seseorang kepada Allah. Maka jangan sekali-kali meremehkan atau menghina perbuatan taat seseorang. Karena banyak sekali ketaatan seseorang yang diremehkan. Justru itu yang diridhai oleh Allah. Sesungguhnya kita semua tidak tahu taat siapa, perbuatan taat kita yang bagaimana, dan yang seperti apa yang diterima oleh Allah Subhanahu wa taala”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 31 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-25 (Berlomba-lomba di Dalam Kebaikan)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-25

(Berlomba-lomba di Dalam Kebaikan)


“Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajiban mereka, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan urusan akhirat. Apabila manusia sibuk mengurusi aib cela orang lain, maka uruslah aibmu sendiri. Jika manusia saling memperindah dunianya, maka hiasilah akhiratmu. Dan jika engkau melihat manusia sibuk dengan memperbanyak amal, maka beramallah yang ikhlas. Dan ketika engkau melihat manusia menjadikan makhluk sebagai sesembahannya, maka jadikanlah Allah sebagai sesembahanmu”



Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Senin, 30 Maret 2026

Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Dzikir Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Dzikir الذكر


Kata dzikir sebenarnya merupakan ungkapan dan pemendekkataan dari kalimat “dzikrullah” (mengingat Allah). Ia merupakan amalan khas yang mesti ada di dalam setiap tarekat.

Yang dimaksud dengan dzikir dalam suatu tarekat, adalah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahr dan sirri/khafi).

Dzikir Jahar (ذكر جهر) adalah "dzikir dengan suara keras" atau "dzikir yang diucapkan dengan lantang.”

Dzikir Khafi (ذكر خفي) atau Dzikir Sirri (ذكر سرِي) adalah "dzikir yang tersembunyi" atau "dzikir rahasia", yang merujuk pada dzikir yang dilakukan dalam hati tanpa suara.

Di dalam tarekat, dzikir diyakini sebagai cara yang paling efektif dan efesien untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoron dan penyakit-penyakitnya, sehingga hampir semua tarekat mempergunakan metode ini. Bahkan dalam istilah tasawuf, setiap yang disebut tarekat, maka yang dimaksudkan adalah tarekat dzikir.

Keutamaan dzikir didalam tarekat dibanding dzikir orang yang tidak bertarekat

Ketahuilah wahai salik yang mengharap ridha Allah, sesungguhnya dzikir adalah ruh dari seluruh amal ibadah, dan kunci pembuka segala pintu kedekatan kepada-Nya. Namun, dzikir yang diambil melalui talqin dari seorang guru tarekat, yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah saw, apakah melalui jalan taraqqi ataupun jalan tanazul, maka itu semua memiliki derajat dan kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding dzikir yang dilakukan tanpa bimbingan dan sanad ruhani. Sebab dzikir dalam tarekat mengandung tiga unsur agung: (1) Lafadz yang sahih, (2) Adab yang terjaga, (3) Sirr dan barakah yang diberikan dari qalbu guru ke qalbu murid.

Dalil Al-Qur’an

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًۭا

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang ia pilih, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”

(QS. An-Nisa’: 115)

Sabilul Mu’minin adalah jalan para pewaris Nabi saw, yaitu para ulama dan mursyid yang mengajarkan dzikir secara bersanad. Mengikuti mereka adalah bagian dari kesempurnaan dzikir.

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang, mengharap wajah-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini memerintahkan duduk bersama ahli dzikir. Ini adalah majelis dzikir yang dipimpin oleh guru tarekat, bukan dzikir sendirian yang rawan lalai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ.

Dari Abu Hurairah raḍiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan, mencari orang-orang yang berzikir kepada Allah. Maka apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling menyeru: ‘Mari, temuilah apa yang kalian cari!’”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits talqin Sayyidina ‘Ali

غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثًا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Pejamkan matamu dan dengarkan dariku tiga kali: la ilaha illa Allah.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa dzikir yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw mengandung transfer ruhani yang tidak bisa didapat hanya dengan membaca sendiri.

Penjelasan Ulama Tasawuf, Imam al-Qusyairi الإمام القشيري:

“Dzikir yang diambil dari ahlinya dengan sanad bersambung, itu lebih kuat dalam membersihkan hati, daripada dzikir yang hanya dihafalkan, karena yang pertama disertai adalah warisan sirr dari guru kepada murid.”

Imam al-Ghazali الإمام الغزالي:

“Dzikir bersama seorang Syekh mursyid bagaikan api yang diambil dari api yang menyala, sedangkan dzikir tanpa mursyid bagaikan menyalakan api tanpa sumber, bisa menyala, tetapi kecil dan cepat padam.”

Syekh Ahmad Zarruq الشيخ احمد زروق:

مَنْ لَمْ يَتَلَقَّ الذِّكْرَ مِنْ أَهْلِ النَّقْلِ وَأَهْلِ الْحَالِ، كَانَ ذِكْرُهُ أَقَلَّ بَرَكَةً وَأَثَرًا

“Siapa yang tidak menerima dzikir dari ahli sanad dan ahli hal (mursyid), maka dzikirnya lebih sedikit keberkahan dan pengaruhnya.”


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24 (Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-24

(Kesombongan Hanya Akan Menghinakan Dirimu Sendiri)


“Sifat kesombongan yang ada pada seseorang hanya akan menambah kehinaan bagi penyandangnya. Andai yang ada di tanganmu itu adalah biji-bijian, kemudian ada orang yang mengatakan bahwa yang ada di tanganmu itu adalah permata, maka kata-kata itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagimu. Sebab engkau pun mengetahui bahwa itu hanyalah biji-bijian. Dan andai yang ada di tanganmu itu adalah permata. Lalu manusia berkata bahwa itu hanyalah biji-bijian, maka kata-kata itu pun tidak akan berpengaruh untukmu. Sebab apa? Sebab engkau tahu bahwa itu adalah permata”






Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Minggu, 29 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23 (Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-23

(Jangan Mudah Terkesima Melihat Seseorang)


“Janganlah mudah terkesima dengan seseorang yang engkau nilai hanya dari ucapannya ataupun tulisannya. Sehingga engkau menyimpulkan bahwa orang itu adalah manusia yang luar biasa.


Jangankan hanya baru sekedar rangkaian kata-kata indah bak mutiara, yang dirangkai melalui ucapan ataupun tulisan. Walaupun engkau telah melihat seseorang yang diberikan perkara luar biasa, sampai-sampai dia mampu terbang di atas udara, ataupun berjalan di atas air, maka janganlah tertipu dengannya, sebelum engkau dapat melihat kesungguhannya, dalam melaksanakan perintahan Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan juga dalam menjaga batasan-batasan hukum Allah”





Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Sabtu, 28 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22 (Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-22

(Sejatinya Kita Tidak Pernah Kehilangan Apapun)


“Pada umumnya, manusia akan merasakan sakit saat ia kehilangan apa yang ia cintai. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, sangat manusiawi. Namun agar hati ini tidak jauh lebih terluka, maka ingatlah, sejatinya kita tidak pernah kehilangan apapun. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun.

Allah Subhanahu wa taala berfirman,

 "Miliknyalah apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah." Quran surah Thaha ayat 6.

Jika kita mengingat firman Allah tersebut, maka kita akan sadar, bahwa apa yang ada di dalam diri kita, dan apa yang selama ini kita akui milik kita, semuanya hanyalah titipan. Karena hakikatnya kita tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah milik Allah Subhanahu wa taala”




Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Jumat, 27 Maret 2026

Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Amalan Khusus Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Yang dimaksud dengan amalan khusus di sini adalah amalan yang benar-benar harus diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat, dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat, atau pengikut tarekat lain. Amalan khusus ini bisa jadi bersifat individual, maupun berjamaah.

Yang dimaksud dengan amalan individual adalah amalan yang harus dikerjakan oleh seorang murid (pengikut) tarekat, yang dimana amalan itu bisa saja hanya diberikan kesebagian diantara murid tarekat, yang sudah dianggap layak oleh guru mursyid untuk menerimanya.

Setiap murid pasti memiliki maqamat (tingkatan tahapan spiritual) yang berbeda-beda. Maka amalan khusus akan diberikan kepada murid yang sudah dianggap layak, karena telah lulus mengikuti tarbiyah-tarbiyah yang dilakukan olehnya.

Sedangkan amalan khusus secara umum, adalah amalan di tarekat tersebut, yang hanya bisa diamalkan oleh murid-murid pengikut tarekat tersebut, setelah mendapatkan talqin dzikir, dan mendapatkan ijazah untuk mengamalkannya, sehingga orang yang diluar tarekat tersebut tidak bisa mengamalkannya, kecuali atas izin dari guru mursyidnya.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21 (Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-21

(Manusia yang Hanya Memikirkan Dunia)


“Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngadawuh, barangsiapa yang bangun dipagi hari, namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat haq Allah padanya, maka ingat, Allah akan menanamkan 4 penyakit pada dirinya.

Kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tiada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan keinginan yang tidak tercapai”











Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...