Minggu, 02 Agustus 2026

Raden Syair Langit Mengungkap Sejarah Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar yang Sebenarnya

 


Raden Syair Langit Mengungkap Sejarah Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar yang Sebenarnya

Tulisan ini diambil dari Kitab Sajatining Mulyo karya: Abah Leuweunggede Raden Syair Langit, Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

pada PASAL KE-18 MANAQIB GURU AGUNG KANJENG SYEKH SITI JENAR

Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar adalah keturunan dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Nasab lengkapnya adalah:

Syekh Siti Jenar الشيخ ستي جنر bin

Sayyid Shalih السيد صالح bin

Sayyid ’Isa ’Alawi السيد عيسى العلوي bin

Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin السيد أحمد شاه جلال الدين bin

Sayyid ’Abdullah Khan السيد عبد الله خان bin

Sayyid Abdul Malik Azmat Khan السيد عبدالملك أژمت خان bin

Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih السيد علوي عامل فقيه bin

Sayyid Muhammad Shohib Mirbath السيد محمد صاحب مرباط bin

Sayyid 'Ali Kholi Qasam السيد علي خالع قسم bin

Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair السيد علوي صهيب بيتي جبير bin

Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah السيد محمد مولى الصومعة bin

Sayyid 'Alwi Al-Mubtakir السيد علوي المبتكر bin

Sayyid 'Ubaidillah السيد عبيد الله bin

Sayyid Ahmad Al-Muhajir السيد أحمد المهاجر bin

Sayyid 'Isa An-Naqib السيد عيسى النقيب bin

Sayyid Muhammad An-Naqib السيد محمد النقيب bin

Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi السيد علي العُريضي bin

Imam Ja'far Ash-Shidiq الإمام جعفر الصادق bin

Imam Muhammad Al-Baqir الإمام محمد الباقر bin

Imam 'Ali Zainal 'Abidin الإمام علي زين العابدين bin

Imam Husain الإمام الحسين bin

Sayyidah Fathimah Az-Zahra السيدة فاطمة الزهراء binti

Kanjeng Nabi Muhammad SAW نبي محمد صلى ٱلله عليه وسلم

Jika Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami dikenal dengan ajaran Ittihad, dan Kanjeng Syekh Husein Mansur Al-Hallaj dikenal dengan ajaran Hulul, lalu Kanjeng Syekh Ibnu Arabi dikenal dengan ajaran Wahdatul Wujud, maka Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar dikenal dengan ajaran Manunggaling Kawulo Gusti.

Semua konsep itu memiliki tujuan yang sama saja, hanya metode dan istilah yang berbeda. Kesemuanya adalah ajaran penutup segala ilmu.

Syekh Siti Jenar memiliki beberapa nama, dan nama asli beliau adalah Sayyid Hasan Ali Al-Husaini السيد حسن علي الحسيني.

Sedangkan nama-nama lain beliau adalah:

Syekh Siti Jenar الشيخ ستي جنر

Syekh Lemah Abang الشيخ لماح اباڠ

Syekh Lemah Brit الشيخ لماح بريت

Syekh Datuk Abdul Jalil الشيخ داتوك عبد الجليل

Syekh Jabarantas الشيخ جبارانتاس

Syekh Sunan Jepara الشيخ سنان جفارا

Nama lengkap dan gelar Beliau adalah:

Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar Qaddasallahu Sirrahu

(ٱلشيخ ٱلأعظم كنجڠ الشيخ ست جنر قدس الله سره)

Kanjeng Syekh Siti Jenar, Guru Agung yang menjadi pelita cahaya bagi para pencari hakikat. Beliau diperkirakan lahir pada tahun 807 H / 1404 M di Persia (sekarang Iran) dan wafat pada tahun 901 H / 1495 M di Caruban (sekarang Cirebon).

Usia beliau menurut perhitungan masehi adalah 91 tahun, sedangkan usia beliau menurut perhitungan hijriyah adalah 94 tahun.

Beliau telah menebarkan cahaya Ittihad, Hulul dan Wahdatul Wujud, yang dikemas dengan ajaran agung nya, yaitu ajaran Manunggaling Kawulo Gusti, dan menuntun murid-muridnya menembus lapisan-lapisan dunia lahiriyah menuju hakikat Ilahi.

Beliau dikenal sebagai sosok sufi yang menonjol dalam ketundukan penuh kepada Allah. Segala amal lahir dan batin Beliau, senantiasa diarahkan hanya untuk Allah, menampilkan hati yang bagaikan cermin memantulkan cahaya Ilahi.

Beliau memiliki penguasaan ilmu hakikat yang mumpuni. Setiap ucapan dan perbuatan Beliau mengandung makna mendalam, menuntun murid-murid memahami hakikat Allah dalam diri manusia.

Kesabarannya di tengah perselisihan begitu sangat luar biasa. Walau menghadapi penentangan dari berbagai pihak, Beliau tetap sabar, tidak tergoyahkan, dan menanggapi fitnah dengan hikmah.

Beliau telah menyebarkan cahaya Manunggaling Kawulo Gusti. Ajaran Beliau menekankan bahwa segala sesuatu yang ada adalah manifestasi Dzat Yang Maha Esa, sehingga Beliau mengajarkan manusia, untuk kembali kepada hakikat diri yang sejati.

Beliau adalah teladan spiritual bagi umat manusia. Kehadiran Beliau memberi ilmu sekaligus menyejukkan hati, menumbuhkan cinta kepada Allah, dan meluruskan niat dalam setiap amal.

Catatan Sejarah:

Beberapa literatur menyebutkan versi lain. Ada yang berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar lahir di Cirebon pada tahun 1426 M. Perbedaan ini sangatlah wajar, mengingat keterbatasan pencatatan pada masa itu. Namun inti ajaran dan manaqib Beliau tetap konsisten dalam menyinari jalan para pencari hakikat.

(catatan tahun lahir dan tahun wafat Syekh Siti Jenar banyak memilik perbedaaan. والله أعلمُ بالـصـواب Dan Allah Maha Mengetahui segala kebenaran)

Sejak kecil Syekh Siti Jenar berguru kepada ayahnya sendiri yaitu Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syekh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 12 tahun.

Pada usia 17 tahun (di kisaran tahun 1421 M / 824 H), Sayyid Hasan Ali Al-Husaini alias Syekh Siti Jenar bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka, ayahnya yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka, oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. (Sultan Muhammad Iskandar Syah, berkuasa di Kesultanan Malaka pada tahun 1414 M-1424 M) Saat itu Kesultanan Malaka ada di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. (Khalifah Muhammad I Turki Utsmani, juga dikenal sebagai Mehmed I, memerintah dari tahun 1413 M-1421 M), Akhirnya Syekh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Selang beberapa tahun kemudian, ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah, dikarenakan Sultan Muhammad Iskandar Syah meninggal dunia pada tahun 1424 M, dan tahta diserahkan kepada putranya, yaitu Sultan Mudzaffar Syah, sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih ayah Syekh Siti Jenar kepada Syekh Syamsuddin Ahmad.

---------------------------------------------------------------------------------

- Khalifah Muhammad 1 atau Mehmed I adalah Sultan Turki Utsmani yang ke-5. Setelah masa Interregnum Ottoman, beliau berhasil menyatukan kembali wilayah kekaisaran, dan berkuasa dari tahun 1413 M sampai 1421 M.

- Kesultanan Turki Usmani berkuasa selama hampir 6 abad / 623 tahun, tepatnya dari tahun 1299 M sampai 1922 M. Secara lebih merinci, masa kekuasaan ini dibagi menjadi beberapa periode.

Priode ekspansi (1299 M-1453 M),

priode kejayaan (1453 M-1683 M),

priode kemunduran serta keruntuhan (1683 M-1922 M)

- Sultan Muhammad Iskandar Syah dikenal juga sebagai Parameswara, Raja terakhir Kerajaan Singapura dan pendiri Kesultanan Malaka.

- Sultan Mudzaffar Syah adalah putra dari Sultan Muhammad Iskandar Syah.

---------------------------------------------------------------------------------

Pada akhirnya Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Caruban (sekarang Cirebon). Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Datuk Kahfi bin Sayyid Ahmad, atau kita kenal dengan nama Syekh Datuk Kahfi الشيخ داتوك كهفي.

Posisi Syekh Datuk Kahfi di Cirebon adalah sebagai Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Makrifatullah kepada Syekh Siti Jenar yang pada waktu itu kurang lebih berusia 21 tahun.

Diantara kitab-kitab yang dipelajari oleh Syekh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah:

Fusus Al-Hikam فصوص الحكم karya Syekh Ibnu ’Arabi,

Insan Kamil الإنسان الكامل karya Abdul Karim Al Jilli,

Ihya’ Ulumuddin إحياء علوم الدين karya Imam Al-Ghazali,

Risalah Qushairiyah الرسالة القشيرية karya Imam Al Qushairi,

Tafsir Makrifatullah تفسير معرفة الله karya Syekh Ruzbihan Baqli,

At Thawasin الطواسين karya Syekh Husein bin Mansur Al-Hallaj,

Quth Al Qulub قوت القلوب karya Abu Thalib al-Makkiy.



Penjelasan Abah Raden Syair Langit Dalam Ceramhanya ( bagian-1 )


Penjelasan Abah Raden Syair Langit Dalam Ceramhanya ( bagian-2 )


Penjelasan Abah Raden Syair Langit Dalam Ceramhanya ( bagian-3 )


Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam الفقه الإسلامي, Kanjeng Syekh Siti Jenar berguru kepada Kanjeng Syekh Sunan Ampel, alias Kanjeng Syekh Raden Rahmat رادين رحمت الشيخ سونان امفيل selama 8 tahun.

Tujuan utama Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar adalah mengajak manusia agar mengerti terhadap sejatinya hidup. Istilah yang digunakan Kanjeng Syekh Siti yang disampaikan kepada Abah Leuweunggede adalah, “Ngelmuning Roso, Rosone Sajatining Urip”, ilmu rasa dan ilmu kesejatian hidup.

Guru Agung Kanjeng Syekh Lemah Abang mengajarkan kepada manusia, untuk selalu tumbuh berkembang seperti pohon sidratul muntaha, yang selalu aktif, progresif dan positif. Membangkitkan pribadi “insun sejati” melalui tauhid al-wujud, atau yang dikenal dengan ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti.”

Gerakan yang dilakukan Syekh Datuk Abdul Jalil itu bersumbu pada pembebasan kultural, yang meliputi pembebasan kemanusiaan dari kungkungan struktur politik yang berdalih agama, sekaligus pembebasan dari pasungan keagamaan yang formalistik.

Syekh Lemah Brit memang bukan seorang penyebar agama Islam awal di Nusantara, tetapi jasa Beliau didalam syi’ar dakwah, mendapatkan hasil yang sangat luar biasa, dan bisa mengambil hati umat Islam dimasa itu, bahkan sampai masa sekarang.

Beliau bergelar Guru Agung yang sangat dihormati, karena memang ajarannya yang aplikatif secara lahir dan batin, mampu membawa kepahaman secara hakiki bagi para pengikutnya. Dan unsur ajaran sejati ini, menjadi mutiara yang termahal didalam kehidupan.

Para pengikut Syekh Sunan Jepara menegaskan, bahwa Beliau tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan (terkecuali saat muncul syathahat). Ajaran ini bukan dianggap sebagai bercampurnya Dzat Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan sifat-sifat Tuhan yang memancar pada manusia, ketika manusia sudah sampai pada tahap fana (hancurnya sifat-sifat buruk dan keakuan pada dirinya).

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, ketika Demak masih sibuk dalam penaklukan, ajaran Syekh Siti Jenar lebih bisa diterima oleh rakyat dan raja-raja Jawa yang telah memeluk agama Islam.

Inilah diantara orang-orang besar yang menjadi murid Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.

1. Ki Ageng Pengging II yang juga dikenal sebagai Raden Ki Kebo Kenongo (Ayahnya Mas Karebet alias Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya alias Raja Pajang)

2. Ki Ageng Tingkir (Ayah angkat Mas Karebet alias Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya alias Raja Pajang)

3. Syekh Muhammad Abdullah Burhanpuri,

4. Syekh Ali Fansuri,

5. Syekh Hamzah Fansuri,

6. Syekh Syamsuddin Pasai,

7. Syekh Abdul Ra’uf Sinkiliy,

8. Ki Ageng Banyubiru,

9. Ki Ageng Getas Aji,

10. Ki Ageng Balak,

11. Ki Ageng Butuh,

12. Ki Ageng Ngerang,

13. Ki Ageng Jati,

14. Ki Ageng Watalunan,

15. Ki Ageng Pringapus,

16. Kiai Ageng Nganggas,

17. Ki Ageng Ngamba,

18. Ki Ageng Babadan,

19. Ki Ageng Wanantara,

20. Ki Ageng Majasta,

21. Ki Ageng Baya,

22. Ki Ageng Baki,

23. Ki Ageng Tembalang,

24. Ki Ageng Karanggayam.

25. Ki Ageng Ngargaloka,

26. Ki Ageng Kayupuring,

27. Ki Ageng Selandaka,

28. Ki Ageng Purwasada,

29. Ki Kebo Kangan,

30. Kiai Ageng Kebonalas,

31. Ki Ageng Waturante,

32. Kiai Ageng Taruntum,

33. Kiai Ageng Pataruman,

34. Kiai Ageng Purna,

35. Kiai Ageng Gugulu.

36. Kiai Ageng Gunung Pragota,

37. Kiai Ageng Ngadibaya,

38. Kiai Ageng Karungrungan,

39. Kiai Jatingalih,

40. Kiai Ageng Wandadi,

41. Kiai Ageng Tambangan,

42. Kiai Ageng Ngampuhan,

43. Kiai Ageng Bangsri,

Kesalahan Sejarah Tentang Syekh Siti Jenar yang Menjadi Fitnah

Di antara riwayat-riwayat sejarah yang beredar, terselip banyak kesalahan yang mengaburkan hakikat Syekh Siti Jenar, menjadikannya sasaran fitnah yang menodai kemuliaan seorang waliyullah. Sejarah yang tidak dibangun atas dasar ilmu, akal, dan kesaksian yang terpercaya, sering menyesatkan manusia dari pemahaman yang haq. Maka, patutlah kita luruskan, agar nur hikmah tetap bersinar bagi setiap hati yang mencari kebenaran.

Asal-usul yang Salah dan Fitnah yang Menyesatkan

Terdapat riwayat yang menyebut Syekh Siti Jenar lahir dari cacing. Pernyataan ini tidak lebih dari dongeng kosong yang bertentangan dengan akal sehat dan syari’at Islam. Tidak ada bukti yang sahih, dan itu hanyalah dusta yang lahir dari hawa nafsu atau kebodohan. Dalam naskah klasik Serat Candhakipun Riwayat Jati (Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah, tahun 2002, hal.1) ditegaskan:

“Wondene kacariyos yen Lemah Abang punika asal saking cacing, punika sajatisipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dusun Lemah Abang.”

yang artinya:

“Benarlah, Syekh Siti Jenar adalah manusia sejati, yang lahir dalam wujud manusia, bertempat tinggal di Lemah Abang, dekat dengan rakyat jelata.”

Beliau hidup sederhana, penuh kasih sayang, dan dekat dengan manusia biasa, namun hatinya selalu terhubung dengan cahaya Ilahi. Segala riwayat yang merendahkan hakikatnya menjadi mitos bayangan kelam yang menutupi cahaya hakikat.

Hakikat Ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti”

Banyak penulis sejarah memelintir makna Manunggaling Kawulo Gusti, menafsirkan secara dangkal, bahkan menyalahi syariat. Padahal, inti ajaran ini adalah pengalaman tauhid sejati, yaitu fana’ dalam Dzat Ilahi dan tetap ada bersama-Nya (fana’ wal baqa’). 

Sebagaimana firman Allah:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Allah.”

Syekh Siti Jenar menapaki jalan ini dengan penuh kesadaran, meneladani penghulunya, yakni Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami. Beliau adalah pengamal tauhid yang sejati, memurnikan ajaran hakikat tanpa mengabaikan syari’at.

Warisan spiritual ini diteruskan hingga hari ini melalui Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit). Penjelasan tentang hakikat Manunggaling Kawulo Gusti harus dibuka secara benar, agar tidak disalahpahami oleh mereka yang hanya melihat permukaan.

Ketaatan Syekh Siti Jenar dalam Syari’at

Beberapa penulis menuduh bahwa Syekh Siti Jenar meninggalkan shalat, puasa, haji, dan ibadah lahiriyah lainnya. Tuduhan ini diluruskan oleh Syekh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri (hal. 19), yang berkata:

“Saya berguru kepada Syekh Siti Jenar selama sembilan tahun. Saya menyaksikan sendiri bahwa beliau adalah pengamal syari’at sejati. Shalat sunnah beliau lebih banyak daripada manusia biasa, bibirnya tidak pernah berhenti berdzikir ‘Allah Allah Allah’, dan beliau tidak pernah meninggalkan puasa senin-kamis maupun shalat Jum’at.”

Syekh Siti Jenar adalah teladan kesempurnaan ibadah lahir dan batin. Tidak hanya melaksanakan kewajiban, tetapi sunnah pun menjadi bagian dari kehidupan yang mengalir bagai sungai nurani. Kesungguhan ini meneladani gurunya, yang sejak kecil istiqamah dalam tahajud seratus raka’at per malam, hingga akhir hayatnya.

Kematian dan Kehormatan Waliyullah

Riwayat yang menyebut Syekh Siti Jenar dibunuh oleh Wali Songo dan jenazahnya berubah menjadi anjing adalah dusta yang sangat keji. Ini menghina kemuliaan seorang waliyullah, bahkan seorang keturunan Rasulullah saw. Dalam pandangan akal dan syari’at, manusia lahir dari manusia dan akan kembali menjadi manusia. Berdasarkan riwayat terpercaya dari para Habaib, Sayyid, Ulama, dan Ajengan yang wara’ nya teruji, Syekh Siti Jenar wafat dalam keadaan bersujud di pengimaman Masjid Cirebon setelah shalat tahajud. Para santri mengetahuinya ketika bersiap melaksanakan shalat Subuh.

Kisah bahwa Beliau dibunuh oleh sembilan Waliyullah adalah karangan fiktif, lahir demi dramatisasi dan sensasi. Sungguh tidak mungkin sembilan Waliyullah, yang sebagian besar keturunan dari Nabi Muhammad saw, membunuh seorang mukmin sejati. Syari’at Islam menegaskan pemeliharaan kehidupan, dan melarang membunuh seorang mukmin yang di dalam hatinya terdapat iman kepada Allah SWT.

Sejarah yang jernih mengajarkan kita untuk meneladani nur Syekh Siti Jenar tentang kesederhanaan lahir, kedalaman batin, tauhid yang murni, dan ketaatan tanpa cela. Ia adalah cermin cahaya Ilahi bagi setiap hati yang merindu kebenaran, dan pengingat bagi manusia agar berhati-hati dalam menyebarkan kabar, karena dusta bisa memadamkan cahaya nur yang suci.

Sedulur-sedulur yang di berkahi Allah, penghancuran sejarah Syekh Siti Jenar ini, menurut ahli sejarah Islam Indonesia, Azyumardi Azra, merupakan ulah penjajah Belanda yang bertujuan memecah belah umat Islam agar senantiasa berseteru. Penjajah Belanda menerapkan Politik Divide et Impera (politik pecah belah) dengan membagi umat Islam Indonesia menjadi tiga kelas:

Kelas Abangan, yang di identikkan dengan Syekh Siti Jenar.

Kelas Santri, yang di identikkan dengan sembilan Wali.

Kelas Priyayi, yang di identikkan dengan Raden Patah dan para Sultan atau Raja di Nusantara.

Sedulur sedayana, berhati-hatilah dalam menghukumi sesuatu. Gunakan ilmu yang benar dan rujukan yang sahih.

Perlu digarisbawahi, bahwa maksud dari “ulah Belanda” bukan berarti Belanda telah hadir di Nusantara pada zaman Syekh Siti Jenar. Fitnah terhadap Beliau sebenarnya telah berkembang sejak zaman Syekh Siti Jenar sendiri, dibuat oleh kelompok-kelompok yang tidak menyukai pengaruh beliau di masyarakat, bahkan hal ini dipengaruhi oleh sosok yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar, lalu memelintir ajaran Syekh Siti Jenar, sehingga menyebabkan fitnah di kalangan umat Islam pada waktu itu.

Ketiga kelompok ini mulai diadu domba, dan pada zaman penjajahan Belanda, perpecahan tersebut semakin diperkuat. Penjajah Belanda memahami bahwa cara paling efektif untuk melemahkan umat Islam adalah melalui politik adu domba, karena jika langsung dihadapkan pada perlawanan, mereka akan kalah oleh kekuatan umat Islam Nusantara.

Hakikatnya, politik pecah belah ini masih terus dijalankan oleh musuh-musuh Islam dan musuh bangsa yang berupaya untuk terus menjajah di tanah Nusantara ini.

Saya masih teringat tentang ungkapan dari Kanjeng Syekh Sunan Kalijaga. Beliau mengatakan, "Wahai Syekh Lemah Abang, engkau bagaikan rembulan walau dilihat dari sisi yg gelap.”

Ini adalah bahasa kiasan yg kurang lebih mempunyai arti, bahwa Syekh Siti banyak dianggap sesat, padahal insyaAllah Beliau itu mulia di hadapan Allah.

---------------------------------------------------------------------------------

Belanda pertama kali datang ke Nusantara pada tahun 1596 M, dipimpin oleh Cornelis de Houtman, saat mendarat di pelabuhan Banten. Tujuan utama mereka adalah untuk berdagang rempah-rempah dan mencari keuntungan ekonomi. Meskipun ekspedisi ini menandai awal interaksi Eropa dengan Nusantara, ekspedisi ini tidak berjalan mulus. Banyak awak kapal Belanda yang ditangkap dan ditahan, dan Cornelis de Houtman harus membayar denda untuk membebaskan mereka. 

Kemudian, pada tahun 1602 M, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk menghilangkan persaingan dan memonopoli perdagangan rempah-rempah. Meskipun VOC mulai beroperasi pada tahun 1602 M, kedatangan pertama Belanda di Nusantara pada tahun 1596 M menandai dimulainya hubungan antara Belanda dan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia.

---------------------------------------------------------------------------------

Ketahuilah wahai sedulur sedayana, bahwa kisah wafatnya Syekh Siti Jenar sering diselimuti simpang siur, bukan semata-mata karena ajaran Beliau yang dipermasalahkan, tetapi juga oleh pergolakan politik pada masa itu.

Pada masa awal Kesultanan Demak, berbagai intrik perebutan kekuasaan mewarnai kerajaan. Salah satu kisah yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi adalah konflik antara Sultan Trenggono dan kakaknya, Pangeran Sekar Seda Ing Lepen (Raden Kikin). Beberapa sumber menyebutkan bahwa kematian Pangeran Sekar Seda Ing Lepen memicu dendam dari putranya, yaitu Arya Penangsang, yang kemudian menuntut balas terhadap pihak yang berperan dalam kematian ayahnya.

Kisah ini hendaknya dibaca dengan hati-hati. Nama-nama, urutan peristiwa, dan pelaku bisa berbeda antar sumber. Tujuannya bukan untuk menuduh atau menyudutkan, melainkan memberi konteks politik yang turut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Syekh Siti Jenar.

Setelah Raden Patah, sebagai raja Demak pertama, beberapa sumber menyebutkan bahwa tahta diberikan kepada menantunya yaitu Pati Unus, yang dikenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor, karena kemampuan kepemimpinan dan pengalaman militernya yang menonjol. Pati Unus tercatat memimpin ekspedisi ke Malaka untuk melawan Portugis, yang pertama kali mendarat di wilayah tersebut pada tahun 1511 M.

Menurut tradisi yang berkembang dalam Babad dan catatan masyarakat, Pati Unus adalah putra dari Raden Muhammad Yunus, yang konon merupakan keturunan ulama Persia, yaitu Syekh Khaliqul Idrus, yang berdakwah di Jepara. Ia menikahi Ratna Gumilah (Ratu Mas Nyawa), putri dari Raden Patah, dan memiliki dua putra, yaitu Raden Abu Bakar dan Raden Abu Syahid (Raden Barakat).

Perlu ditekankan, garis keturunan dan beberapa peristiwa ini bersumber dari tradisi dan literatur Jawa, sehingga tidak selalu tercatat dalam dokumen sejarah mutlak. Namun demikian, tradisi ini tetap memberi kita gambaran bagaimana konflik politik dan dinamika kekuasaan pada masa itu turut membentuk persepsi masyarakat terhadap Syekh Siti Jenar.

Oleh karena itu, sedulur sedayana, berhati-hatilah dalam menilai sejarah. Pahami konteks sosial dan politik, gunakan ilmu yang benar, dan ambillah hikmah dari kehidupan para ulama tanpa terjerumus pada fitnah atau prasangka. Dengan demikian, kita dapat meneladani Syekh Siti Jenar sebagai hamba Allah yang mulia, yang menegakkan syariat Islam di tanah Nusantara.

---------------------------------------------------------------------------------

Raja Demak pertama adalah Raden Patah, lalu tahta diberikan kepada menantunya yaitu Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor).

Pati Unus menjadi Raja Demak menggantikan mertuanya yaitu Raden Patah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan Raden Patah lebih memilih menantunya yang naik tahta. Salah satunya adalah kepemimpinan dan pengalaman militernya yang lebih menonjol dibandingkan Pangeran Surowiyoto atau pun Pangeran Trenggono. Walaupun Raden Patah memiliki putra-putra mahkota, tetapi mereka belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin kerajaan. Pati Unus yang dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, telah banyak membuktikan kualitasnya, melalui berbagai keberhasilan dalam memimpin ekspedisi militer, termasuk dua kali penyerangan ke Malaka melawan Portugis.

- Bangsa Portugis pertama kali masuk ke Nusantara pada tahun 1511 M dengan awal nya mendarat di Malaka.

- Dulu, Malaka termasuk kedalam wilayah Nusantara. Dalam konteks sejarah, Malaka, khususnya Kerajaan Malaka, pernah menjadi bagian integral dari wilayah Nusantara, terutama pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Meskipun saat ini Malaka adalah negara bagian Malaysia, sejarahnya terkait erat dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

- Pati Unus adalah putra dari Raden Muhammad Yunus (Penguasa Jepara) dan Raden Muhammad Yunus adalah putra dari Syekh Khaliqul Idrus (Ulama yang berasal dari Persia, yang berdakwah ke tanah jawa dan menetap di jepara pada tahun 1400-san M)

- Putri Raden Patah yang dinikahi oleh Pati Unus adalah Ratna Gumilah, anak dari Raden Patah yang juga dikenal sebagai Ratu Mas Nyawa. Dari pernikahannya dengan Pati Unus, Ratna Gumilah memiliki dua putra, yaitu Raden Abu Bakar dan Raden Abu Syahid (Raden Barakat)

- Pangeran Sabrang Lor (gelar yang diberikan kepada Pati Unus, karena kehebatannya melawan portugis di Malaka, walaupun beliau harus gugur disana pada perang yang kedua)

Catatan-catatan

Perlu digarisbawahi wahai sedulur sedayana, bahwa catatan sejarah Nusantara hadir dalam berbagai versi dan pandangan. Seringkali, satu peristiwa dicatat dengan cerita yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Abah menekankan, hakikat kebenaran sejarah sejatinya hanyalah milik Allah semata. Jika ada kekeliruan dalam penulisan sejarah ini, semoga Allah melimpahkan ampunan-Nya, dan sedulur sedayana pun berlapang hati memaafkan, sehingga tidak memberatkan hisaban Abah kelak di hadapan Allah.

---------------------------------------------------------------------------------

Urusan politik di Demak, termasuk hal yang sangat berpengaruh terhadap pemalsuan Sejarah Syekh Siti Jenar. Selain penjelasan diatas, hal ini berkaitan juga dengan tidak mau tunduknya masyarakat Pengging kepada Demak. Pengging itu di sesepuhi oleh Ki Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging II, dan Beliau adalah salah satu murid utama dari Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Kisruh politik di Demak, berimbas kepada segala hal, termasuk pengaruh Kanjeng Syekh Siti yang lebih banyak mendapatkan simpatik masyarakat, ketimbang pihak Kerajaan.

Kurang baiknya hubungan antara Sang Guru Agung dengan pihak Kerajaan, itu sudah terjadi semenjak Raden Patah berkuasa. Kanjeng Syekh Siti yang bahkan tadinya termasuk anggota Wali Songo, sampai-sampai harus mengundurkan diri dari dewan majelis tersebut, karena diantaranya, ada silang sengketa pendapat yang sering terjadi antara mereka, terkhusus dalam urusan kebijakan penguasa.

---------------------------------------------------------------------------------

Perlu di garis bawahi, bahwa Wali Songo itu bukan hanya sembilan orang, tetapi anggota nya selalu sembilan orang. Wali Songo adalah dewan kehormatan Ulama, yang berperan memberikan nasihat, yang disepuhkan, yang diambil kebijakannya oleh para penguasa Islam di tanah Nusantara, terkhusus di tanah Jawa. Dan Syekh Siti Jenar juga pernah masuk kedalam anggota Wali Songo

---------------------------------------------------------------------------------

Pihak Majelis Wali Songo yang berusaha bijak, tidak ingin ada persengketaan antara kelompok Abangan dan kelompok Kerajaan. Mengingat Islam yang baru masuk di tanah Jawa, hal ini akan menyebabkan kemunduran dalam mendakwahkan Islam di bumi Nusantara.

Konflik antara para pengikut Syekh Siti dengan para penguasa terus berlanjut, bahkan setelah Syekh Siti Jenar wafat.

Kanjeng Syekh Siti Jenar itu banyak melakukan perubahan sosial di masyarakat Nusantara, terkhusus masyarakat Jawa.

Dimasa itu umat terbagi pada dua kelompok.

1. Orang yang tinggal di keraton disebut gusti.

2. Orang yang tinggal diluar keraton disebut kawulo.

Gusti itu tuan, kawulo itu budak. Dulu, kawulo itu gak punya yang namanya hak milik, semuanya itu adalah milik penguasa, kawulo itu hanya sebatas hak guna pakai.

Perlu digaris bawahi, istilah kawulo dan gusti ini bukan terjadi hanya sejak berdirinya Kerajaan Demak, tetapi istilah ini memang sudah ada sejak dahulu kala, sejak ada Kerajaan-Kerajaan di tanah Nusantara. Secara garis besarnya, semua memiliki konsep yang sama, ada perbedaan kasta antara penguasa dan rakyat jelata, yang kalau di Jawa, disebutlah dengan istilah kawulo dan gusti.

Dulu, kalau ada pihak penguasa, apakah dia seorang raja, adipati, senopati, tumenggung, mau dari pejabat tingkat atas sampai tingkat bawah, ketika mereka punya keinginanan dari rakyta jelata, semisal mereka menginginkan anak gadisnya, maka mau tidak mau si anak gadis itu akan dibawa untuk dijadikan selir.

Rakyat jelata yang istilahnya disebut kawulo, mereka itu tidak memiliki hak tanah, atau hak kepemilikan tanah, mereka hanya memiliki hak guna pakai, karena semua tanah di kerajaan itu adalah milik para penguasa, dalam arti lain milik kerajaan.

Semua ketidak adilan itu dilawan oleh Syekh Siti Jenar, makanya Beliau adalah orang yang sangat berjasa, dalam melakukan perlawanan terhadap ketidak adilan, juga dalam melakukan perubahan sosial.

Cara pertama yang Beliau gunakan adalah dengan membangun desa Lemah Abang. Setiap daerah-daerah yang berdiri desa Lemah Abang, yang kesemuanya mengikuti aturan Guru Agung, maka di desa itu sudah tidak ada lagi yang namanya kawulo, tetapi yang ada adalah istilah masyarakat atau rakyat.

Secara tidak langsung, munculnya bahasa masyarakat atau rakyat di tanah jawa, umumnya di tanah nusantara, itu adalah jasa Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar.

Kata "masyarakat" dalam bahasa Indonesia memiliki kaitan erat dengan kata "musyarakah" yang berasal dari bahasa Arab, yaitu "syirkah" (شِرْكَة). Secara etimologis, "syirkah" berarti persekutuan, kerjasama, atau pencampuran. Dalam konteks ini, "masyarakat" dapat dipahami sebagai sekelompok orang yang bersekutu atau bekerja sama dalam berbagai bidang kehidupan, membentuk suatu kesatuan sosial.

Perbedaan masyarakat dan kawulo, memiliki ciri didalam dua kosa kata yang tidak ada didalam bahasa lokal.

Masyarakat itu punya hak dan milik. Hak tanah, hak keluarga, hak agama dan yang lainnya. Tidak ada aturan yang tidak adil bagi penghuni Lemah Abang. Sementara Kawulo itu tidak punya hak dan milik tersebut.

Ketika semakin banyaknya daerah-daerah yang dinamakan Lemah Abang, dalam arti lain bahwa Desa Lemah Abang itu berdiri dimana-mana, maka hal ini lah yang di anggap oleh pihak-pihak Kerajaan sebagai sebuah ancaman, yang bisa mengancam stabilitas didalam politik Kerajaan.

Setelah semua itu terjadi, maka terjadilah konflik-konfilk antara pihak Lemah Abang dan pihak kerajaan.

Konflik itu terjadi misalkan saat pihak kerajaan mau mengambil anak gadis warga, atau mau menyerobot tanah milik warga, maka warga masyarakat yang ada di Lemah Abang melakukan perlawanan.

Setelah semakin banyaknya perlawanan dari pihak para pengikut Syekh Siti Jenar yang berada di setiap daerah yang bernama Lemah Abang, maka pada akhirnya pihak kerajaan menganggap kalau Syekh Siti Jenar beserta para pengikutnya sebagai pemberontak.

Padahal apa yang dilakukan oleh kelompok Abangan ini, adalah sebagai bentuk perubahan sosial, untuk menolak segala bentuk ketidak adilan yang dilakukan oleh para penguasa.

Jika seandainya tidak ada perjuangan dari kelompok Lemah Abang ini, maka mungkin sampai sekarang kita tidak akan pernah mengenal istilah masyarakat, dan mungkin kita akan bernasib sama seperti orang-orang dulu sebagai seorang kawulo, yang dimana kita tidak memiliki hak dan juga milik.

Coba kita lihat, sejak dari jaman kerajaan sampai datang jaman Belanda, itu di daerah selatan, yang kita kenal dengan vorstenlanden, mereka belum mengenal istilah hak milik, dan penyebutan masyarakat. Karena disana masih menggunakan istilah kawulo dan gusti. Berbeda dengan umat Islam yang ada di pesisir utara, disana sudah banyak berdiri desa-desa yang bernama Lemah Abang, yang melakukan perubahan sosial terkait hal itu.

Orang-orang di daerah selatan, mereka para kawulo yang punya rumah, punya tanah, statusnya tetap masih milik kerajaan. Baru setelah ada ordonansi, masyarakat disana memiliki hak dan juga milik. Diwaktu itu, ada pembagian tanah kerajaan kepada masyarakat, dan itu pun baru terjadi di tahun 1916 M setelah politik etis, ketika undang-undang pokok agraria dibuat oleh Belanda pada tahun 1870 M.

Ternyata orang-orang Belanda juga baru tahu, bahwa orang-orang Djogja, Surakarta, mereka tidak punya hak milik rumah, hak milik tanah, dan juga yang lainnya. Berbeda dengan orang-orang Pantura (penduduk daerah pesisir utara) sejak mengikuti pergerkaan Lemah Abang, dibawah pimpinan Syekh Siti jenar, mereka sudah memiliki itu sedari dulu.

- (Vorstenlanden adalah istilah dalam sejarah Jawa yang mengacu pada empat wilayah kerajaan pecahan Dinasti Mataram Islam, pada masa Hindia Belanda. Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogykarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman)

- Ordonansi adalah peraturan atau perintah dari pihak yang berwenang, seringkali berupa aturan yang ditetapkan oleh pemerintah atau otoritas lain yang memiliki kekuatan hukum. Dalam konteks sejarah Indonesia, khususnya pada masa penjajahan Belanda, ordonansi merujuk pada peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah kolonial.

- Politik Etis, atau Politik Balas Budi, adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20 sebagai bentuk tanggung jawab moral atas eksploitasi yang dilakukan terhadap rakyat pribumi. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Hindia Belanda.

- Undang-Undang Pokok Agraria, dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870 M. Undang-undang ini merupakan bagian dari kebijakan ekonomi liberal, yang diterapkan oleh Belanda di Hindia Belanda (yang sekarang disebut Indonesia)

---------------------------------------------------------------------------------

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, dari hal-hal ini lah yang menjadi salah satu asbah wasilah, kenapa sejarah Guru Agung begitu simpang siur, bahkan catatan sejarah yang mencatat kematian Beliau itu sampai ada 7 versi, dan disetiap versinya tidak sedikit yang menceritakan kematian Beliau dengan sangat keji dan sangat tidak pantas, seperti ada cerita yang mengatakan kalau Syekh Siti lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing.

Ingat sedulur, yang menulis sejarah itu kebanyakan nya adalah para pemenang, dalam arti lain, disini adalah pihak penguasa. Tidak mungkin lah mereka mencatat sejarah menjelek-jelekan pihak mereka sendiri. Dan tidak mungkin lah pihak penguasa menulis sejarah yang baik, kepada pihak yang merugikan mereka sendiri.

Jadi ketika kita berbicara sejarah, maka sejarah itu ada sejarah yang benar, dan ada sejarah yang di palsukan. Walau pun tidak selalu, bahwa para pemenang memalsukan catatan sejarahnya.

Untuk lebih menggaris bahawi apa yang sudah disampaikan diatas, bahwa pada hakikatnya, tidak ada itu konflik Dewan Majelsi Wali Songo dengan Syekh Siti Jenar, dengan cerita konflik yang selama ini kita pahami, seperti cerita Syekh Siti Jenar di hukum mati oleh Wali Songo.

Konflik yang benar-benar terjadi, adalah konflik antara Syekh Siti Jenar dengan pihak penguasa.

Ketika tujuan mereka untuk menjatuhkan Syekh Siti sulit di lakukan, maka diambilah langkah yang mudah, diantaranya dengan memelintir makna ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti.”

Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti yang diajarkan kepada umat, itu memiliki dua kacamata. Dari kaca mata syari’at yang diajarkan kepada awam, dan dari kacamata hakikat yang diajarkan kepada murid-murid Beliau yang memang sudah sampai pada maqamat nya.

Makna ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti” dari kacamata syari’at adalah, Beliau mengajarkan kepada umat, bahwa antara kawulo dan gusti itu tida ada perbedaan. Dimata Allah semua manusia sama, yang membedakan itu hanyalah iman dan taqwa. Masyarakat dulu, jika bertemu para pejabat kerajaan, itu mereka sampai menyembah-nyembah. Mereka merunduk hampir sujud, sembari mengatakan ‘punten dalem sewu kanjeng prabu’ punten dalem sewu kanjeng adipati’ dan yang lainnya.

Syekh Siti mengajarkan bahwa menghormati pemimpin itu harus, tapi jangan sampai menyembah-nyembah, karena Islam telah mengatur, bagaimana cara menghormati makhluk, dan bagaimana cara menyembah Allah. Jangan sampai antara menyembah dan menghormati disamakan.

Hal-hal sekecil ini pun dijadikan masalah oleh para penguasa, mereka menganggap bahwa Syekh Siti melakukan perubahan adat istiadat, yang dianggap merubah perilaku kawulo, yang dulu sangat menghormati para penguasa. Padahal jika berbicara adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Namun ketika ada adat istiadat yang bertentangan dengan syari’at, maka itu harus diperbaiki.

Perubahan sosial yang dilakukan Sang Guru Agung memang begitu sangat luar biasa, termasuk urusan hak dan milik yang diperjuangkan Beliau agar masyarakat memilikinya.

Kawulo adalah rakyat, gusti adalah pejabat. Maka kawulo dan gusti itu manunggal, harusnya bersatu, derajat nya haruslah sama, tidak ada perbedaan, selain iman dan taqwa.

Sedangkan makna ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti” dari kacamata hakikat, yang diajarkan oleh Guru Agung kepada murid-muridnya yang memang sudah sampai pada maqamatnya, itu sudah dijelaskan di pasal-pasal sebelumnya, terkait masalah ajaran Ittihad, Hulul, Wahdatul Wujud, ataupun Manunggaling Kawulo Gusti, yang pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yaitu ajaran sejati yang menjadi penutupnya segala ilmu.

Mahkota Syair “Tanda Cinta Raden Syair Langit bagi Sang Guru Agung Syekh Siti Jenar”

Di antara gulita sejarah, terselip dusta dan fitnah yang menodai cahaya hakikat. Syekh Siti Jenar, bintang yang bersinar di langit tauhid, tak layak digelapkan bayangan yang salah, karena nur Ilahi menembus setiap sudut hati yang tulus, dan setiap dusta akan hancur oleh kebenaran yang abadi.

Sebuah asal-usul yang keliru

Ada yang berkata, “Beliau lahir dari cacing,” oh sungguh dusta, yang menyesatkan akal dan nurani.

Sang Guru Agung adalah manusia sejati, lahir dengan darah dan daging laykanya manusia biasa. Bertempat di Lemah Abang, dekat dengan rakyat jelata, hatinya seluas samudra, penuh kasih sayang, namun terpaut pada Dzat Yang Maha Tinggi.

Naskah kuno menegaskan

“Wondene kacariyos yen Lemah Abang punika asal saking cacing, punika sajatisipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dusun Lemah Abang.”

Dusta yang lahir dari mulut manusia bodoh tidak akan mampu menutupi sinar hakikat.

Hakikat Ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti”

Banyak yang memelintir makna ajaran ini, menukik pada permukaan, tanpa menyelami laut batinnya. Padahal, inti ajaran Syekh Siti Jenar adalah fana’ wal baqa’, menyadari hancurnya segala sesuatu kecuali Wajah Allah Yang Maha Suci.

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Segala yang tampak lenyap, namun nur-Nya kekal abadi.

Beliau meneladani Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, menyinari jalan para pencari, menuntun jiwa pada samudra tauhid. Dan warisan ini menjadi lentera bagi hati yang merindu cahaya hakiki.

Ketaatan dalam syari’at

Beberapa pendusta berkata, bahwa Sang Guru Agung meninggalkan shalat dan puasa, tapi dusta itu tak bertahan di hadapan mata yang menyaksikan.

“Selama aku mengikuti, dan mengambil berkah dan juga hikmah kepada Beliau, tidak pernah kulihat beliau meninggalkan shalat, puasa, atau pun dzikir. Bibirnya tak henti menyebut Allah, dan malamnya selalu dihiasi tahajud hingga kening nya tak pernah lelah untuk bersujud.”

Beliau bukan hanya pengamal syari’at lahiriyah, tetapi hatinya pun shalat tanpa henti, menyatu dengan cahaya Ilahi, seperti sungai yang mengalir tanpa lelah, menyejukkan jiwa yang haus akan hakikat.

Kematian dan kehormatan Waliyullah

Ada dusta keji yang berkata Syekh Siti Jenar dibunuh, dan jasadnya berubah menjadi anjing.

Oh, betapa hina dan tak masuk akal! Manusia lahir dari manusia, dan akan kembali menjadi manusia. Nur hakikat tetap abadi meski jasad kembali pada bumi.

Beliau wafat dalam sujud, saat malam berselimut sejuk.

Sebuah pelajaran bagi hati yang mencari cahaya, Syekh Siti Jenar adalah lentera, bukan bayangan. Beliau mengajarkan kesederhanaan lahir, dan kedalaman batin, tauhid yang murni, dan ketaatan tanpa cela.

Bagi jiwa yang merindu hakikat, bacalah kisahnya seperti doa, resapi setiap kata seperti embun yang menyejukkan bumi hati, dan jangan biarkan dusta menutupi cahaya yang Allah pancarkan melalui Sang Guru Sejati, yang telah mengenalkan kita kepada Gusti Allah Rabbul ‘Izzati.

Tri Tingal Menjadi Salah Satu Bukti Dalam Meluruskan Sejarah Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar

Kisah Syekh Siti Jenar tidak sekedar ajaran spiritual semata. Sejarah mencatat, Beliau adalah korban politik busuk para penguasa, intrik dari perebutan kekuasaan, dan juga korban dari manipulasi sejarah.

Perlu diketahui oleh sedulur-sedulur sedayana, selain urusan politik, upaya menghancurkan citra Syekh Siti itu juga datang dari beberapa orang yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar, lalu menyebarkan kesesatan atas nama Syekh Siti itu sendiri.

Sudah kita maklumi bersama, di zaman dulu itu tidak ada kamera untuk mengabadikan momen apapun itu. Dalam arti lain, sungguh sangat wajar, jika ada orang yang mengaku sebagai seseorang, lalu mudah dipercayai, karena tidak sedikit masyarakat, yang tau nama seorang tokoh, tapi belum pernah bertemu, termasuk kepada Syekh Siti Jenar. Dan suatu kewajaran, jika ada yang mengaku-ngaku, maka masyarakat awam akan mudah mempercayainya.

Pertemuan Agung di Situs Tri Tingal

Di tanah Blitar, tepatnya di Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, terhampar sebuah situs yang dinamai Tri Tingal. Ia bukan sekadar tanah tua yang bisu, melainkan saksi agung dari peristiwa ruhani yang pernah menggetarkan jagat Jawa. Situs ini telah dikukuhkan sebagai cagar budaya oleh Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan diyakini sebagai bekas pesanggrahan, padepokan tempat bersemayamnya Ki Ageng Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, cucu Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, sebelum kelak ia diangkat sebagai Adipati Pengging.

Di sinilah tercatat peristiwa yang tak ternilai, pertemuan tiga tokoh besar yang kelak menjadi tiang-tiang penyangga ruhani tanah Jawa, yakni Syekh Abdul Jalil atau Syekh Siti Jenar, Raden Mas Sa’id atau Sunan Kalijaga, dan sang pewaris darah Majapahit, Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging

Pertemuan di Tri Tingal bukanlah sekadar perjumpaan lahir, melainkan persinggungan cahaya dengan cahaya, untuk meluruskan fitnah yang mengaburkan ajaran sejati.

Kala itu, Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga melakukan sebuah perjalanan guna membenahi penyimpangan ajaran palsu yang disebarkan oleh San Ali Anshar, yang mengaku-aku sebagai Syekh Siti Jenar.

Jejak kesesatan itu di berikan tanda, pohon jenar atau kemuning tua yang tumbuh di beberapa tempat, batu gilang sebagai penanda, serta nama-nama tanah seperti Lemah Abang, Tanah Putih, Tanah Kuning, dan Tanah Hitam. Semua menjadi prasasti bisu dari ajaran yang telah dipelintir.

Adapun Ki Kebo Kenongo, adalah seorang pengembara jiwa, yang haus akan ilmu dan kebenaran. Dalam pencarian itu, ia sempat terjerat oleh ajaran San Ali Anshar, yang mengumbar manisnya kata “Manunggaling Kawula Gusti,” namun tanpa fondasi syari’at. Baginya shalat tak perlu, puasa tak wajib, seakan hakikat bisa dicapai tanpa aturan. Padahal hakikat tanpa syari’at hanyalah fatamorgana, cahaya semu yang menyesatkan.

Namun, Allah menuntun langkahnya. Ketika Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga tiba di Kadipaten Kanigoro, Ki Kebo Kenongo bergegas menyambut. Ia terperanjat, sebab sosok yang hadir di hadapannya jauh berbeda dengan guru yang selama ini ia ikuti. Maka tersingkaplah hijab, bahwa selama ini ia berguru kepada penipu.

Di Dusun Centong, dalam pertemuan sakral itu, Sunan Kalijaga berkata dengan suara bening namun berwibawa:

“Ketahuilah wahai Ki Kebo Kenongo, guru yang kau ikuti bukanlah Syekh Siti Jenar sejati, melainkan San Ali Anshar, seorang penipu yang memutarbalikkan ajaran hakikat dengan menanggalkan syariat. Ingatlah, jalan yang benar adalah keseimbangan antara syariat dan hakikat. Tanpa syariat, manusia akan tersesat dalam ilusi kedekatan semu, padahal justru ia menjauh dari Allah.”

Seketika itu pula, kesadaran Ki Kebo Kenongo tercerahkan. Air mata penyesalan jatuh, membasuh debu kesesatan yang lama melekat. Di hadapan guru sejati, ia menemukan kebenaran yang murni, bahwa penyatuan hamba dengan Tuhannya tidak berarti menolak syariat, melainkan menegakkan syariat dengan cinta, lalu menyingkap rahasia batinnya.

Maka di sanalah, Syekh Siti Jenar kembali membabarkan ajaran agung tentang Manunggaling Kawulo Gusti, dengan menegaskan bahwa jalan tengah, atau Konsep Madya, adalah keseimbangan antara lahir dan batin, syariat dan hakikat, amal dan makrifat.

Pertemuan itu ditandai dengan simbol-simbol suci. Sunan Kalijaga meletakkan batu gilang sebagai palenggahan untuk bermunajat, sedangkan Syekh Siti Jenar menanamkan pohon jenar dan kemuning, lambang ajaran murni yang akan tumbuh dan berakar.

Lalu mereka bertiga menyelenggarakan kenduri suci dengan tumpeng nasi gurih, ingkung ayam jago putih, serta gereh petek sebanyak tiga ekor, sebagai lambang pertemuan tiga tokoh besar yang bertemu di jalan Allah.

Sejak saat itu, tempat ini disebut Tri Tingal: “Tri” bermakna tiga tokoh agung, dan “Tingal” bermakna gamblang, terang, jernih, lambang terbukanya hijab kegelapan menuju cahaya kebenaran.

Di Tri Tingal, Ki Ageng Kebo Kenongo menemukan kesejatian yang ia dambakan, bukan kebebasan tanpa aturan, melainkan kesempurnaan iman yang menyatukan syariat dan hakikat.

Kini, Situs Tri Tingal bukan sekadar peninggalan purbakala, melainkan mihrab sejarah. Ia menyimpan jejak pertemuan suci yang menegakkan kebenaran, meluruskan simpang-siurnya ajaran, serta menjadi lentera bagi siapa pun yang mencari cahaya tauhid di bumi Jawa.

__________________________*__________________________

Tri Tingal Menjadi Titik Balik Pemahaman Ajaran Syekh Siti Jenar

Perkiraan Garis Waktu

1. Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar

Lahir: 807 H / 1404 M

Wafat: 901 H / 1495 M

Usia saat wafat: 94 tahun (Hijriyah) 91 tahun (Masehi)

Pertemuan di Tri Tingal: sekitar tahun 1485 M

Usia saat pertemuan: 78 tahun (Hijriyah) 81 tahun (Masehi)

2. Kanjeng Syekh Sunan Kalijaga

Lahir: 854 H / 1450 M

Wafat: 988 H / 1580 M

Usia saat wafat: 134 tahun (Hijriyah) 130 tahun (Masehi)

Pertemuan di Tri Tingal: sekitar tahun 1485 M

Usia saat pertemuan: 31 tahun (Hijriyah) 35 tahun (Masehi)

3. Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenongo)

Lahir: 864 H / 1460 M

Wafat: 934 H / 1529 M

Usia saat wafat: 70 tahun (Hijriyah) 69 tahun (Masehi)

Pertemuan di Tri Tingal: sekitar tahun 1485 M

Usia saat pertemuan: 21 tahun (Hijriyah) 25 tahun (Masehi)

Catatan kronologi:

Pertemuan Tri Tingal terjadi ketika Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar sudah cukup sepuh, Sunan Kalijaga masih muda, dan Ki Ageng Pengging masih relatif muda.

Ki Ageng Pengging berguru kepada Kanjeng Syekh Siti Jenar kurang lebih selama 10 tahun. Dan Ki Ageng Pengging kemudian melanjutkan belajar kepada Sunan Kalijaga setelah Kanjeng Syekh Siti Jenar wafat, untuk terus memperdalam ilmu spiritual.

__________________________*__________________________

Setelah pertemuan di Tri Tingal, Ki Ageng Pengging benar-benar memahami ajaran hakikat yang sejati dari Syekh Siti Jenar. Ia menyadari bahwa penyatuan antara hamba dan Tuhan bukanlah pembebasan dari syariat, melainkan pemahaman spiritual yang mendalam, yang menjadikan syariat sebagai fondasi utama. Dengan bimbingan langsung dari Syekh Siti Jenar dan pendampingan Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pengging mulai menapaki jalan spiritual dengan disiplin, menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya dengan istiqamah.

Sementara itu, Sunan Kalijaga yang telah lama menekuni ilmu hakikat, terus menguatkan pemahaman murid-muridnya, termasuk Ki Ageng Pengging, agar selalu menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat. Beliau menekankan bahwa ajaran hakikat tanpa syariat akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, sebagaimana yang pernah terjadi dengan pengajar palsu San Ali Anshar.

Pertemuan ini juga menandai dimulainya periode penguatan ajaran Islam di tanah Jawa, yang melibatkan penguatan spiritual murid-murid Syekh Siti Jenar. Tri Tingal menjadi simbol penyatuan pemahaman, di mana pohon jenar dan kamuning yang ditanam, serta batu gilang yang diletakkan, menjadi penanda spiritual yang mengingatkan generasi berikutnya akan keseimbangan antara hakikat dan syariat.

Dari Tri Tingal, Ki Ageng Pengging kemudian melanjutkan perjalanannya, menerapkan ajaran yang benar dalam kehidupan sehari-hari, sambil menjadi panutan bagi murid-muridnya. Sejak saat itu, setiap langkahnya selalu didasarkan pada prinsip Manunggaling Kawulo Gusti yang sejati, persatuan antara hamba dan Tuhan tetap dalam koridor syariat yang benar.

Sejarah mencatat, bahwa Tri Tingal bukan sekadar tempat pertemuan fisik, tetapi menjadi titik balik pemahaman yang menyatukan tiga tokoh besar. Syekh Siti Jenar, Sunan Kalijaga, dan Ki Ageng Pengging. Tempat ini menyaksikan koreksi ajaran yang salah, penguatan spiritual murid sejati, dan mewariskan legitimasi spiritual yang akan mempengaruhi perkembangan kerajaan-kerajaan Islam selanjutnya di Jawa, seperti Pajang, Mataram, Surakarta, dan Yogyakarta.

Hingga kini, Tri Tingal tetap dianggap sakral. Para peziarah dan pencari ilmu yang memahami simbolisme situs ini, akan menyadari bahwa ajaran Syekh Siti Jenar yang asli adalah ajaran yang menekankan keseimbangan, kesabaran, dan keteguhan dalam syariat serta hakikat, membimbing umat untuk mencapai pemahaman spiritual yang benar dan selaras dengan Islam.

Wasiat Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar 

Sebelum Beliau menutup perjalanan hidup di dunia yang fana, Sang Guru Agung, Syekh Siti Jenar, menitipkan mutiara wasiat kepada murid-muridnya serta mereka yang mengaku pengikutnya. Wasiat ini ibarat pelita yang tak akan pernah padam, penunjuk jalan agar manusia tidak tergelincir ke lembah kesesatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Beliau ngadawuh dengan suara yang teduh, penuh kasih dan wibawa,

“Sebelum aku meninggalkan kalian, biarlah kutinggalkan pusaka abadi. Peganglah ia erat, jangan lepaskan walau badai melanda. Dengan pusaka ini, kalian akan selalu berjalan di jalan yang benar, hingga bertemu dengan-Nya, Sang Kekasih Sejati. Jadikanlah wasiat ini sebagai bekal hidupmu, sebagai pusaka suci yang menyertai setiap langkah.”

Inti dari pusaka itu adalah prinsip madya, atau jalan tengah. Ini tentang keseimbangan,dan keteguhan untuk tidak melampaui batas. Karena sesungguhnya segala sesuatu di alam semesta ini fana, tiada yang mutlaq selain Allah. Maka barang siapa hidup berlebih-lebihan, niscaya ia akan terperangkap dalam jebakan duniawi, dan tersesat dari jalan kebenaran.

Dalam perkara duniawi, prinsip madya mengajarkan kesederhanaan. Jangan menimbun harta hingga menutup mata hati, jangan membiarkan nafsu perut dan syahwat menjerat akal sehat, jangan terjebak dalam ambisi kuasa yang membinasakan. Ukurlah hidup dengan keseimbangan, hiasi dengan akal budi, dan hormatilah kehidupan dengan lapang hati.

Demikian pula dalam perkara ruhani. Syekh Siti Jenar melarang murid-muridnya menenggelamkan diri berlebihan dalam laku pertapaan, menahan lapar di luar batas, menolak tidur, menjauhi perkawinan, mengasingkan diri dari manusia, hingga melupakan hak jasmani. Sebab ruhani dan jasmani memiliki hak yang sama, dan keduanya harus ditunaikan secara adil. Jalan sufi bukanlah pelarian dari dunia, melainkan mengolah dunia dengan keseimbangan, tetap bergaul dengan sesama, tetap menikah, tetap bekerja, sembari hati senantiasa terikat dengan Allah.

Dalam perkara makrifatullah, prinsip madya lebih-lebih harus dijaga. Ada golongan yang hanya memandang Allah sebagai Maha Kasih, Maha Baik, Maha Suci, seakan-akan dari-Nya tak mungkin lahir kemurkaan, keburukan, atau cobaan. Pandangan semacam itu tampak indah, namun sejatinya menjerumuskan pada jurang syirik yang halus. Sebab jika menolak Asma Allah yang tampak bertentangan, seperti di antaranya Allah lah Yang Maha Menyesatkan, Yang Maha Membinasakan, dan Yang Maha Memberi Sempit. Maka jika ia mengingkari, sejatinya ia telah mengingkari kesempurnaan nama-nama Allah yang meliputi segalanya, majmu’ al-asma al-mutaqobilah مَجْمُوعُ ٱلْأَسْمَاءِ ٱلْمُتَقَابِلَةِ

---------------------------------------------------------------------------------

مَجْمُوعُ ٱلْأَسْمَاءِ ٱلْمُتَقَابِلَةِ

Artinya adalah kumpulan nama-nama yang berpasangan (Saling berlawanan atau saling melengkapi)

Biasanya istilah ini digunakan dalam kajian tasawuf atau filsafat Islam, merujuk pada sifat-sifat Allah atau nama-nama yang tampak berlawanan namun sejatinya saling melengkapi, yang jika di pisahkan justru bisa menjadikan kita syirik khofi.

contoh:

ٱلْمُعْطِي – ٱلْمَانِعُ

Yang Maha Memberi - Yang Maha Menahan

ٱلْقَابِضُ – ٱلْبَاسِطُ

Yang Maha Menyempitkan - Yang Maha Melapangkan

ٱلْمُعِزُّ – ٱلْمُذِلُّ

Yang Maha Memuliakan - Yang Maha Menghinakan

ٱلْمُحْيِي – ٱلْمُمِيتُ

Yang Maha Menghidupkan - Yang Maha Mematikan

ٱلنَّافِعُ – ٱلضَّارُّ

Yang Maha Memberi Manfaat - Yang Maha Menimpakan Mudharat

ٱلظَّاهِرُ – ٱلْبَاطِنُ

Yang Maha Nyata - Yang Maha Tersembunyi

ٱلْأَوَّلُ – ٱلْآخِرُ

Yang Maha Awal - Yang Maha Akhir

ٱلْقَهَّارُ – ٱللَّطِيفُ

Yang Maha Mengalahkan - Yang Maha Lembut

---------------------------------------------------------------------------------

Coba kita dalami, jika ada manusia yang menganggap bahwa Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Membinasakan, Yang Maha Mematikan itu bukanlah Allah, maka mereka akan mencari sumber selain Allah untuk menjelaskan keburukan dan kesengsaraan, seolah ada kuasa lain di luar Allah. Padahal segala sesuatu, terang dan gelap, baik dan buruk, nikmat dan musibah, semuanya dari Allah, dan kepada-Nya lah ia akan kembali.

Syekh Siti Jenar juga menegaskan, janganlah sekali-kali pengikutnya memperlakukannya secara berlebihan. Jangan menciumi kakinya, mengusap jubahnya, mengambil tanah bekas telapak kakinya, atau menjadikannya berhala hidup. Itu adalah thaghut, pelecehan terhadap ajaran yang beliau bawa, yakni ajaran Rasulullah saw, sebagai manusia agung junjungan kita, yang selalu menolak perlakuan berlebih-lebihan dari para sahabat, meski tetap dihormati dengan ta’dziman watakriman yang wajar.

Maka Syekh Siti Jenar menutup wasiatnya dengan tegas,

“Barangsiapa memperlakukanku, atau manusia lain, dengan pengkultusan berlebih-lebihan, maka ia bukanlah muridku, dan bukan pula pengikut jalanku.”

Ingatlah, hidup ini punya aturan, adab ada batasnya. Hormatilah gurumu, muliakanlah orang tuamu, namun jangan sampai melampaui syariat. Pegang teguhlah ajaran madya, sebab di situlah kalian akan menemukan letak kesejatian.”

“Manunggaling Kawula Gusti” Ajaran Ruhani Warisan Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar

Dalam sejarah suluk tanah Jawa, nama Kanjeng Syekh Siti Jenar senantiasa harum dibicarakan. Beliau adalah sang guru agung yang menyingkap rahasia terdalam dari hakikat kehidupan, yakni ajaran tentang Manunggaling Kawula Gusti. Suatu puncak pemahaman ruhani yang menyingkap tirai antara hamba dan Tuhannya, hingga tersingkaplah hakikat bahwa tiada jarak yang sesungguhnya antara manusia dengan Sang Pencipta.

Pada hakikatnya, ajaran Manunggaling Kawulo Gusti memiliki tujuan yang sama dengan ajaran Ittihad, Hulul, ataupun Wahdatul Wujud. Dan Penjelasan mengenai itu semua sudah di bahas di pasal-pasal sebelumnya.

Manunggaling Kawula Gusti bukanlah semata-mata penyatuan jasad dengan Tuhan, sebagaimana dipahami secara dangkal oleh orang awam. Ia adalah penyatuan rasa, penyatuan kesadaran, penyatuan ruh dalam samudra tauhid, sehingga segala gerak, segala nafas, segala lintasan hati, hanyalah cermin dari kehendak-Nya. Seorang murid yang menempuh jalan ini akan lenyap egonya, hancur keakuannya, dan luluh dalam samudra takdir Ilahi. Itu semua bisa dipahami karena mereka sudah masuk pada pemahaman yang sejati, bahwasannya, Al-Wujud Al-Mutlaq hanyalah Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘Azza wa jalla. Kita dan alam semesta hanyalah manifestasi atau bayang-bayang semu.

Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah tajalli Allah, pantulan dari cahaya-Nya. Sebagaimana bayangan tidak pernah lepas dari wujud pemiliknya, demikianlah diri manusia tidak pernah terpisah dari Allah. Namun, karena tabir nafsu dan syahwat, manusia merasa seakan dirinya berdiri sendiri, seakan-akan memiliki daya dan kehendak. Padahal, yang sejati berkuasa hanyalah Allah semata.

Ajaran ini mengandung mutiara hikmah:

“Barang siapa mengenali dirinya dengan sebenar-benarnya pengenalan, maka ia akan mengenal Tuhannya. Barang siapa menyelami hatinya, ia akan menemukan cermin tempat cahaya Allah bersemayam. Dan barang siapa tenggelam dalam dzikrullah, ia akan menyaksikan bahwa tiada wujud yang hakiki kecuali Allah.”

Dalam bahasa sufistik, Manunggaling Kawulo Gusti adalah keadaan fana’ fillah (lenyap dalam Allah) dan baqa’ billah (hidup dengan Allah). Hamba tidak lagi memandang dirinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Segala amal, segala gerak, bahkan diamnya, hanyalah penampakan dari kehendak Tuhan yang bekerja melalui dirinya.

Namun, ajaran ini bukanlah untuk ditafsirkan secara lahiriah, melainkan untuk diselami dengan hati yang bening. Sebab, jika dipahami secara dangkal, ia dapat menyeret kepada kesalahpahaman. Maka, Kanjeng Syekh Siti Jenar senantiasa menekankan bahwa Manunggaling Kawulo Gusti bukan berarti manusia menjadi Tuhan, tetapi menyadari sepenuhnya bahwa dirinya tiada apa-apa kecuali dalam genggaman Tuhan.

Ibarat setetes air yang jatuh ke samudra, ia tidak lagi disebut sebagai setetes, melainkan samudra itu sendiri. Demikianlah manusia, bila larut dalam samudra cinta Ilahi, ia tidak lagi menyebut dirinya "aku", tetapi yang tersisa hanyalah "Dia".

Ajaran luhur ini adalah inti dari perjalanan ruhani seorang salik. Ia mengajak kita meninggalkan kesombongan diri, menghancurkan berhala ego, dan menundukkan nafsu yang membutakan. Sebagai gantinya, hati dipenuhi cahaya, jiwa dipenuhi kedamaian, dan langkah dipenuhi kesadaran Ilahi.

Dengan demikian, ajaran Syekh Siti Jenar tentang Manunggaling Kawulo Gusti, adalah doa yang hidup, syair yang mengalir dalam jiwa, dan hikayat yang tak pernah padam di tengah umat manusia. Ia adalah panggilan abadi bagi setiap insan yang merindukan Tuhan, bahwa tiada jarak antara kita dengan Dia, kecuali kabut nafsu yang kita pelihara. Bila kabut itu sirna, yang tersisa hanyalah terang cahaya-Nya.

Syair Sufi Manunggaling Kawulo Gusti Maha Karya Raden Syair Langit

Wahai jiwa yang merindu

dengarkan bisikan rahasia ini

bahwa tiada jarak antara engkau dengan Tuhan,

hanya kabut nafsu yang membuatmu buta,

hanya dinding ego yang membuatmu lupa.

Hamba bukanlah hamba, dan Tuhan tiada terpisah

seperti bayang-bayang dengan pemiliknya

seperti cahaya dengan matahari

Aku tidak ada tanpa Dia

dan Dia senantiasa nyata tanpa aku

Manunggaling Kawulo Gusti adalah fana

lenyapnya aku dalam samudra-Mu

hancurnya segala rasa kepemilikan

hingga yang tersisa hanyalah Dia

Manunggaling Kawula Gusti adalah baqa

hidupnya aku dengan hidup-Mu

bergeraknya aku dengan gerak-Mu

berdiamnya aku dengan diam-Mu

segala wujudku hanyalah saksi atas Wujud-Mu

Wahai jiwa, janganlah engkau salah faham

ini bukan berarti manusia menjadi Tuhan

tetapi manusia sadar bahwa dirinya tiada

dan yang hakiki hanyalah Dia

Ibarat setetes air jatuh ke samudra

ia tak lagi di sebut tetesan

ia menjadi samudra itu sendiri

Demikian pula seroang hamba

tatkala tenggelam dalam cinta Ilahi

hilanglah aku, yang tinggal hanyalah Dia

Maka barang siapa mengenal dirinya

ia akan mengenal Tuhannya

Barang siapa menundukkan nafsunya

ia menyaksikan cahaya-Nya

Barang siapa hidup dengan dzikir

ia hidup dengan Allah selamanya

Inilah ajaran Guru Agung Syekh Siti Jenar

bahwa jalan menuju Allah bukanlah keluar dari dirimu

tetapi masuk ke dalam hatimu

menyelam hingga ke samudra ruhani

dan menemukan di sana

Engkau tiada lain kecuali dalam genggaman-Nya

Inti Sari Ajaran dan Mutiara Hikmah Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar dikenal sebagai seorang wali Allah yang ajarannya mengguncang jagat, menembus sekat-sekat lahiriah, dan membawa manusia kepada inti hakikat. Beliau tidak sekedar mengajarkan syariat yang tampak, melainkan mengajak menembus tabir, menyelami hakikat, hingga merasakan manisnya makrifat.

Bagi Syekh Siti Jenar, hidup sejati bukanlah sekadar keberadaan jasad, melainkan kesadaran ruh yang menyatu dengan Sang Sumber Kehidupan. Ia mengajarkan bahwa manusia tiada lain hanyalah bayang, sedang yang sejati hanyalah Allah Yang Maha Ada.

Beliau menekankan bahwa ibadah tidak berhenti pada gerak lahiriah. Ibadah yang sejati lahir dari hati yang ikhlas, penuh cinta, dan tunduk tanpa pamrih. Tanpa itu, ibadah hanyalah gerakan kosong, sebagaimana wayang tanpa dalang, bergerak tanpa makna.

Konsep Manunggaling Kawulo Gusti yang Beliau ajarkan bukanlah pelebur manusia menjadi Tuhan, melainkan lenyapnya keakuan hamba, sehingga yang tampak hanyalah Allah semata. Dalam fana itulah hamba kembali menemukan dirinya, tidak lagi sebagai makhluk yang terpisah, melainkan sebagai cermin tempat cahaya Ilahi memantul.

Syekh Siti Jenar juga menekankan bahwa jalan menuju Allah adalah menundukkan hawa nafsu, membersihkan hati dari kesombongan, ujub, dan riya. Amal kecil yang lahir dari keikhlasan lebih mulia daripada gunungan amal yang penuh dengan kepentingan diri.

Dengan ajarannya, Syekh Siti Jenar mengingatkan bahwa hidup sejati adalah hidup yang senantiasa eling lan waspada, hidup yang dipenuhi kesadaran akan kehadiran Allah setiap saat, hingga tiada ruang bagi kelalaian dan kegelapan.

Mutiara Hikmah Syekh Siti Jenar

“Sapa ngerti marang awaké, bakal ngerti marang Pangerané.”

(Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya)

“Urip sejati iku dudu saka daging lan getih, nanging saka roh kang asalé saka Allah.”

(Hidup sejati bukanlah jasad dan darah, melainkan ruh yang berasal dari Allah)

“Manungsa iku sejatine ora ana, kang ana mung Allah kang Maha Ana.”

(Manusia sejatinya tiada, yang ada hanyalah Allah Yang Maha Ada)

“Ibadah tanpa ikhlas iku kaya wayang tanpa dalang, mung gerak tanpa makna.”

(Ibadah tanpa ikhlas bagaikan wayang tanpa dalang, hanya gerak tanpa arti)

“Manunggaling Kawulo Gusti iku dudu kawulo dadi Gusti, nanging kawulo sirna, kang katon mung Gusti.”

(Kesatuan hamba dan Tuhan bukan berarti hamba menjadi Tuhan, melainkan hamba lenyap, dan yang tampak hanyalah Tuhan)

“Sing sejati urip iku wong kang tansah éling, amarga ing éling ana panggonan kang ora bakal sirna.”

(Yang sejati hidup adalah mereka yang senantiasa ingat, sebab dalam ingat ada tempat yang tak pernah lenyap)

“Amal kang cilik nanging ikhlas luwih mulyo tinimbang gunung amal nanging kebak riya.”

(Amal kecil namun ikhlas lebih mulia daripada gunungan amal yang penuh riya)

“Sapa bisa ngalahake hawa nepsu, dheweke bakal weruh cahyané Gusti.”

(Barang siapa mampu menundukkan hawa nafsu, ia akan melihat cahaya Tuhannya)

Syathahat Sang Guru Agung Kisah Fana’ Kanjeng Syekh Siti Jenar

Wahai para pencari cahaya, ada sebuah kisah agung yang menghiasi perjalanan ruhani Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar, Sang kekasih Allah yang nama dan maqamnya masih menjadi rahasia bagi banyak orang. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan ibrah yang menyibak tirai hakikat, sebagaimana mutiara yang hanya dapat dijumpai oleh mereka yang berani menyelam ke samudra terdalam.

Dahulu, Kanjeng Syekh Siti Jenar termasuk dari anggota majelis Wali Songo. Perlu diketahui, bahwa Wali Songo ini bukan sekadar sembilan orang, melainkan sebuah dewan mulia yang senantiasa beranggotakan sembilan wali pada zamannya. Jika ada yang meninggal atau mengundrukan diri, maka akan selalu ada penggantinya. Namun Beliau, dengan kerendahan hati dan kecenderungan ruhani yang dalam, memilih keluar dari majelis itu bukan karena wafat, melainkan karena mengundurkan diri. Sebab jiwanya lebih senang menyepi, menyatu dengan sunyi, meskipun tetap tidak meninggalkan dakwahnya di tengah masyarakat. Antara khalwat dan tabligh, antara uzlah dan syiar, beliau menapaki keduanya dengan seimbang.

Suatu ketika, Dewan Wali Songo hendak bermusyawarah di Masjid Agung Demak. Mereka pun mengutus dua orang santri untuk memanggil Syekh Siti Jenar yang sedang beruzlah di sebuah gunung. Saat sampai di lereng, para santri itu melihat sebuah gubuk kecil di atas bukit batu yang tinggi. Karena letih mendaki, mereka menyeru dari bawah dengan suara lantang,

"Assalamu‘alaikum Kanjeng Syekh Siti Jenar, engkau ditunggu rapat di Masjid Agung Demak!"

Dari atas gubuk, terdengar jawaban yang mengejutkan,

"Di sini tidak ada Siti Jenar. Yang ada hanyalah Allah!"

Kagetlah kedua santri itu. Hati mereka berguncang, sangka buruk pun muncul, “Apakah guru ini sesat dengan mengaku dirinya Allah?” Dengan kebingungan, mereka pun kembali ke Demak, melaporkan ucapan itu kepada para wali. Namun, alangkah terherannya mereka ketika dewan Wali Songo tidak gusar, tidak marah, bahkan tersenyum mendengarnya.

Mereka lalu berkata, “kembalilah kalian, dan sampaikan salam begini, Assalamu‘alaikum, Gusti Allah, ditunggu rapat di Masjid Agung Demak.”

Kedua santri makin terheran, tetapi mereka menuruti perintah. Sesampainya di gunung, mereka menyeru kembali,

"Assalamu‘alaikum Gusti Allah, ditunggu rapat di Masjid Demak!"

Jawaban pun turun dari atas,

"Di sini tidak ada Gusti Allah. Yang ada hanyalah Siti Jenar!"

Kian terperanjatlah kedua santri itu. Mereka kembali lagi ke Demak, melaporkan semua kejadiannya, sementara para wali masih tetap tersenyum teduh, seakan memahami apa yang tengah terjadi.

Akhirnya, dewan Wali Songo bersepakat memberi petunjuk khusus, “Panggillah Beliau dengan nama yang lengkap, sebagaimana yang Allah muliakan.” Maka pergilah kedua santri itu sekali lagi, dengan ucapan yang agung,

"Assalamu‘alaikum, wahai Kanjeng Syekh Sayid Hasan Ali Al-Husaini, alias Kanjeng Syekh Siti Jenar, alias Kanjeng Syekh Lemah Abang, alias Kanjeng Syekh Abdul Jalil, alias Kanjeng Syekh Jabarantas, alias Kanjeng Syekh Sunan Jepara, alias Gusti Allah Sajatining Mulyo, engkau ditunggu rapat di Masjid Agung Demak!"

Mendengar panggilan itu, barulah beliau menjawab lembut,

"Wa‘alaikumsalam, insyaAllah. Kalian berangkatlah lebih dulu, aku akan menyusul."

Betapa terkejut kedua santri itu, sebab ketika mereka kembali ke Masjid Agung Demak, Syekh Siti Jenar sudah lebih dulu hadir di sana, tanpa diketahui jalan masuknya. Maka tersingkaplah bahwa Beliau memiliki karamah, dan para wali pun banyak memaklumi, bahwa ucapannya sebelumnya adalah syathahat, ungkapan fana seorang hamba yang larut dalam cinta Ilahi.

Hikmah yang Tersingkap

Para wali tidak terkejut, sebab mereka mengenali maqam ruhani Syekh Siti Jenar berada diatas mereka. Apa yang diucapkan oleh Syekh Siti Jenar sama halnya dengan ucapan Syekh Abu Yazid Al-Busthami yang berkata, “Ma fi jubbati illallah, tiada dalam jubahku selain Allah.” Begitupun dengan ucapan Al-Hallaj, yang berseru, “Ana Al-Haqq, Akulah Yang Maha Benar.” Itu semua bukanlah pengakuan diri sebagai Tuhan, melainkan luapan kerinduan, tenggelamnya ego pribadi hingga lenyap dalam samudra wujud Allah.

Wahai para pencari, ketahuilah, ketika seorang hamba fana, hilanglah aku dalam Diri-Nya, karena Tidak tersisa selain Dia. Apa yang terucap bukanlah ucapan manusia biasa, melainkan gema cinta Ilahi yang tak bisa dipahami dengan logika awam. Barangsiapa membaca kisah ini dengan hati yang jernih, ia akan tahu bahwa di balik ucapan yang tampak aneh, tersimpan mutiara hikmah tentang Ajaran Agung Manunggaling Kawulo Gusti, sebagai ajaran penutupnya segala ilmu.

Akhir Hayat Sang Guru Agung

Setiap insan arif senantiasa menapaki jalan hidupnya dengan penuh makna, namun hanya sedikit yang mampu menutup tirai kehidupannya dengan kilau keabadian. Demikianlah yang terjadi pada Syekh Siti Jenar, Sang Guru Agung yang ajarannya telah mengguncang hati para pencari kebenaran, sekaligus menggugah kalbu umat manusia untuk mengenal Sang Maha Esa dalam cahaya hakikat yang murni.

Dikisahkan, ketika ruh agung beliau dipanggil pulang ke hadirat Allah, langit seakan menunduk khidmat. Kehidupan yang penuh dengan perjuangan, pengajaran, dan penuh luka itu pun berakhir dengan sebuah tanda kemuliaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Saat jasad beliau terbujur, ribuan bunga seakan menaburkan keharuman yang meliputi segenap ruang. Dari tubuh yang suci itu terpancar cahaya kemilau, bagaikan kilatan nur Ilahi yang tak terperikan, menyinari wajah-wajah yang hadir, menundukkan hati mereka yang menyaksikan.

Para murid dan pencinta hakikat termenung dalam kesyahduan. Mereka menyaksikan bahwa guru yang selama hidupnya berbicara tentang rahasia Allah, kini dalam wafatnya pun tetap menunjukkan keagungan tanda-tanda ilahi. Tidak ada air mata yang menetes, melainkan sebuah rasa takzim, sebab semua yang hadir seolah mengerti bahwa perpisahan itu bukanlah ketiadaan, melainkan perpindahan menuju kehidupan hakiki yang abadi.

Namun, yang menarik dari perjalanan akhir beliau ialah misteri yang terus hidup hingga masa kini, di manakah sebenarnya jasad Syekh Siti Jenar dimakamkan? Riwayat-riwayat yang beredar berbeda-beda, sebagian menyebutkan di satu tempat, sebagian lagi menunjuk lokasi lain. Ada yang mengatakan Beliau dimakamkan di tanah Demak, ada pula yang menyebut di daerah Cirebon, begitupun tidak sedikit yang menyebutkan kalau jasad mulia nya di kebumikan di Jepara, bahkan ada yang meyakini jasad beliau tak pernah benar-benar ditemukan.

Semua kisah itu seakan menyiratkan pesan gaib, bahwa keberadaan Sang Guru Agung tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Sebagaimana ajarannya yang menembus batas lahiriah menuju samudra batin, demikian pula rahasia pemakamannya menjadi tanda bahwa beliau telah lebur ke dalam keabadian, tidak lagi dimiliki oleh satu daerah, satu golongan, atau satu garis sejarah. Beliau telah menjadi milik seluruh jiwa yang mencari kebenaran.

Para ahli hikmah memandang, rahasia wafat dan pemakaman Syekh Siti Jenar adalah bagian dari pelajaran luhur. Sebab, sebagaimana hakikat ajaran Beliau yang mengajarkan peleburan diri ke dalam lautan wujud Allah, demikian pula jasadnya pun seakan “dilebur” dari jejak bumi, hingga manusia tidak dapat menunjuk dengan pasti di mana Beliau disemayamkan. Inilah simbol sejati fana’ dan baqa’: lenyap dari pandangan dunia, namun kekal dalam nur ke-Tuhanan.

Sejak itu, nama Syekh Siti Jenar tidak pernah pudar. Ajaran-ajarannya tetap hidup, mutiara-mutiara hikmah yang diwariskan terus menjadi bahan renungan para arifin, meski ditutup kabut fitnah dan perbedaan pandangan. Justru dari situ terlihat, bahwa kehadiran Beliau adalah cahaya yang tidak dapat dibatasi oleh garis sejarah, tidak dapat dipenjara oleh kebencian, dan tidak dapat dihapus oleh waktu.

Akhir hayat Beliau bukanlah penutupan, melainkan sebuah pembukaan. Tirai yang jatuh bukanlah tanda kegelapan, melainkan awal bagi cahaya yang lebih terang. Karena pada detik wafatnya, Syekh Siti Jenar justru mewariskan sebuah pelajaran agung, bahwa kehidupan sejati adalah hidup dalam Allah, dan kematian sejati hanyalah kembali ke pangkuan Allah.

Maka, jika sampai kini umat manusia masih bertanya-tanya tentang di mana makam Beliau berada, sesungguhnya pertanyaan itu hanyalah pertanyaan lahiriah. Sebab, makam sejati Syekh Siti Jenar adalah di hati setiap pencinta Allah, di dada setiap pengelana ruhani yang menempuh jalan makrifat. Selama ada manusia yang mencari kebenaran, selama ada jiwa yang rindu pada Tuhannya, di situlah Syekh Siti Jenar hidup, abadi di dalam sebuah cahaya yang tak akan pernah padam.


Sumber : Kitab Sajatining Mulyo karya Abah Leuweunggede raden Syair Langit ( Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9

Tutur Abah Raden Syair Langit ke-9