Jumat, 10 Juli 2026

Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-2) Air Mengalir Dibawah Kakiku


Kajian Kitab Sajatining Mulyo Pasal Ke-4 Perjalanan Ruhaniyah Didalam Tujuh Tahapan (Bagian Ke-2) Air Mengalir Dibawah Kakiku


Penjelasan oleh: Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya

Kitab Sajatining Mulyo adalah kitab karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Air Mengalir Dibawah Kakiku

وَٱلْمَاءُ يَجْرِي تَحْتَ قَدَمَيَّ

"Seorang mukmin sejati adalah ia yang menyelaraskan antara syariat dan hakikat, memadukannya dalam keseimbangan yang hakiki. Syariat tanpa hakikat ibarat jasad tanpa ruh, sementara hakikat tanpa syariat adalah kesesatan yang berujung pada zindiq. Adapun jalan yang menghubungkan keduanya adalah tarekat"

Abah Leuweunggede (Raden Syair Langit)

Mutiara hikmah dari Abah Leuweunggede ini ditujukan kepada siapapun itu para salikin, yang menapaki jalan suci menuju makrifatullah.

Dalam bait syairnya, terpantul kebijaksanaan yang dalam, mengandung pelajaran ruhani yang agung, bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah jalan yang datar, melainkan lembah terjal yang penuh jebakan tersembunyi.

Seorang salik dalam pencarian kesejatian, harus menempuh jalur yang tepat dan berhati-hati. Bila salah menapak, bukan makrifat yang digapai, melainkan kesesatan yang membinasakan. Namun jika ia istiqamah di jalan yang benar, ia akan sampai pada puncak kesempurnaan, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan.

Semakin tinggi maqam seseorang dalam iman, semakin halus pula ujian dan bisikan yang datang padanya. Tidak lagi hanya ujian maksiat zahir, namun ujian kehalusan rasa, bisikan batin, dan ilusi keagungan diri yang samar.

Sebagian salikin tergelincir bukan karena syahwat dunia, melainkan karena merasa telah sampai padahal ia baru melangkah. Mereka mengira telah berada dalam derajat makrifat, hingga berani meninggalkan kewajiban syariat seperti shalat, lalu ia pun berkata. “Shalat hanyalah bagi orang awam, adapun aku telah sampai pada hakikatnya.”

Mereka pun tertipu oleh rasa keakuan, seolah seluruh capaian ruhani itu adalah hasil dari dirinya sendiri. Lebih tragis lagi, muncul perasaan “lebih suci” daripada sesama, merasa lebih dekat dengan Allah, dan meremehkan amal-amal syariat. Padahal, sesungguhnya ia telah jatuh dalam lubang tak terlihat, kesombongan ruhani yang lebih berbahaya dari maksiat lahir.

Sesungguhnya, semua itu adalah bentuk istidraj yang tersembunyi, ketika Allah membiarkan seorang hamba terlena dalam ilusi keberhasilan, padahal sejatinya ia sedang tersesat. Ia pun tanpa sadar mengenakan selendang kesombongan milik Allah, dan menyentuh mahkota keangkuhan yang bukan haknya.

Abah Leuweunggede pernah berkata, “Air mengalir di bawah kakiku.” Sebuah kiasan yang sarat makna bagi seorang salik, bahaya bisa datang dari arah yang tak disadari. Ia berdiri di atas tanah yang tampak kokoh, namun di bawahnya mengalir arus deras yang siap menyeretnya jatuh bila tidak waspada. Demikianlah halusnya tipu daya jalan ruhani yang seakan benar, terdengar benar, bahkan terasa benar, padahal menjerumuskan.

Maka wajib atas setiap salikin untuk bertarekat dengan ilmu, adab, dan bimbingan mursyid yang kamil. Bukan sekedar semangat, tetapi juga disertai disiplin spiritual yang bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, dan warisan para wali.

Seorang penempuh jalan ruhani harus terlebih dahulu melakukan takhalli (تخلي), membersihkan diri dari akhlak tercela dan dosa. Lalu dihiasi dengan tahalli (تحلي), menghias jiwa dengan akhlak yang luhur dan memperbanyak amal ibadah yang mengangkat derajat di sisi Allah. Setelah itu, ia akan sampai pada tajalli (تجلي), tersingkapnya cahaya Allah dalam qalbu, hingga ia mengenal Tuhannya dalam kehadiran yang hakiki.

Dan ketika tajalli menyinari relung jiwanya, Allah memanggilnya, “wahai hamba-Ku.” Maka dengan penuh cinta dan tunduk, ia pun menjawab, “labbaik, ya Rabbi” seruan yang lahir dari kedalaman fana' dan mahabbah.

Namun perlu di ingat, jalan ini bukan jalan main-main. Ini jalan para pecinta sejati, jalan para wali, jalan para kekasih Tuhan. Hanya yang jujur dalam adab dan tulus dalam mujahadah yang akan sampai. Maka jangan pernah lepas dari syariat, karena itulah pijakan awal dan akhir setiap perjalan ruhani. Hakikat dan tarekat tidak akan berdiri tanpa syariat.

Sebagaimana pesan Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami (الشيخ طيفور أبو يزيد البسطامي),

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ أَوْ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ، فَلَا تَنْخَدِعْ بِهِ، وَلَكِنِ انْظُرْ كَيْفَ حِفْظُهُ لِلشَّرِيعَةِ وَأَدَبِهِ مَعَ اللهِ

"Jika kamu melihat seseorang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, maka janganlah engkau terpedaya. Tetapi lihatlah bagaimana ia menjaga syariat dan adab kepada Allah."

Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi (سيد بكري شطا الدمياطي) menegaskan dalam kitab كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya:

وَالْمَعْنَى أَنَّ الطَّرِيقَةَ وَالْحَقِيقَةَ كِلَاهُمَا مُتَوَقِّفَتَانِ عَلَى الْشَّرِيعَةِ، فَلَا يَسْتَقِيمَانِ وَلَا يَحْصُلَانِ إِلَّا بِهَا، فَالْمُؤْمِنُ إِنْ بَلَغَ شَأْنًا وَارْتَفَعَتْ مَنْزِلَتُهُ وَصَارَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ، فَإِنَّ أَحْكَامَ الشَّرِيعَةِ كَمَا جَاءَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ تَبْقَى جَارِيَةً عَلَيْهِ.

“Tarekat dan hakikat bergantung pada pengamalan syariat. Keduanya takkan tegak dan hasil tanpa syariat. Sekalipun derajat dan kedudukan seseorang sudah mencapai level yang sangat tinggi, dan ia termasuk salah satu wali Allah, ibadah yang wajib sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an dan sunnah tidak gugur darinya.” 

Kutipan ini menjadi pengingat agung, bahwa antara ajaran lahir (syariat) dan pengalaman batin (tarekat dan hakikat), adalah inti ajaran tasawuf yang benar. Maka berhati-hatilah wahai penempuh jalan Allah, jangan biarkan air itu mengalir tanpa kau sadari ternyata derasnya air itu ada di bawah kakimu. Jangan sampai engkau tergelincir, karena menyangka telah sampai. Berpeganglah pada tali Allah, bimbingan Nabi, dan jejak para wali. Itulah jalan selamat, jalan suci, jalan pulang yang hakiki.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria)

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-50 (Sifat Seorang Kesatria) “Salah satu alasan kenapa seseorang di sebut kesatria itu karena mereka tet...