أَجْتَازُ ٱلزَّمَانَ بِحِكْمَةٍ
Pada kalimat ketiga tertulis: “Kulewati waktu dengan bijaksana.” Sebuah ungkapan yang bukan sekedar barisan kata, melainkan pancaran maqam ruhani seorang salik yang telah mengarungi samudra perjalanan menuju Sang Kekasih. Kalimat ini mengisyaratkan sampainya seorang penempuh jalan (salik) pada puncak tujuan hidupnya: makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dengan pengenalan yang diliputi cahaya tauhid, kesadaran Ilahiah, dan ketundukan total kepada Yang Maha Ada.
Kepahaman itu tak diperoleh dalam satu malam, tapi merupakan buah dari proses panjang, tarbiyah demi tarbiyah, mujahadah demi mujahadah, dalam bimbingan mursyid dan penjagaan terhadap syariat yang lurus. Ia menempuh jalan yang tak menyelisihi batas-batas Allah dan sunnah Nabi-Nya. Maka ketika sampai pada derajat ini, langkahnya kokoh, pandangannya jernih, dan hatinya terjaga. Ia tak mudah tergelincir oleh bisikan dunia, sebab ia telah menempuhnya dengan ilmu, adab, dan mahabbah.
Kebijaksanaan yang memancar dari dirinya bukan berasal dari retorika atau buku-buku filsafat, melainkan dari pancaran nur hakikat, hasil perjalanannya dalam mencari makna cinta yang murni dari Sang Pemilik Cinta, yakni Allah ʿ’azza wa jalla. Betapa dalam rasa itu. Sulit dijelaskan dengan kata, tak terlukis oleh pena. Sebab apa yang terjadi dalam batin seseorang yang tengah jatuh cinta kepada Allah, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang juga sedang diliputi cinta-Nya. Dalam cinta itu, jiwa menjadi tentram, hati menjadi damai, karena ia sedang bersama Dzat yang menciptakan rasa damai itu sendiri.
Dan ketika sampai pada tahapan ini, perjalanannya menjadi ringan. Hatinya hanya tertuju kepada-Nya. Ia hidup untuk Allah, bergerak karena Allah, dan kembali kepada Allah. Seluruh denyut hidupnya adalah لِلَّهِ، بِاللَّهِ، مِنَ اللَّهِ، إِلَى اللَّهِ
لِلَّهِ Untuk Allah
بِاللَّهِ Dengan (pertolongan/kuasa) Allah
مِنَ اللَّهِ Dari Allah
إِلَى اللَّهِ Menuju kepada Allah
Keempat ungkapan ini adalah intisari dari jalan para salik dan ruh kalimat ikhlas, yaitu: seluruh amal diniatkan untuk Allah, dilakukan dengan pertolongan Allah, sadar bahwa semua berasal dari Allah, dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Ia memulai dengan kehendak untuk mencari ("Aku berjalan di atas udara"), lalu ia melangkah dengan kewaspadaan dan kehati-hatian ("Air mengalir di bawah kakiku"). Lalu ia berkata penuh kesadaran ruhani ("Kulewati waktu dengan bijaksana"), karena ia mencari dengan niat yang murni, melangkah dengan waspada, maka akhirnya ia menemukan. Ia menemukan dan ia larut dalam cahaya perjumpaan.
Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad Saʿid Ramadhan Al-Buṭi (الشيخ محمد سعيد رمضان البوطي)
العَارِفُ بِاللَّهِ هُوَ الَّذِي يَبْلُغُ بِالتَّوْحِيدِ وَالثِّقَةِ وَالتَّوَكُّلِ وَالتَّفْوِيضِ إِلَى اللَّهِ دَرَجَةً تَفْنَى فِيهَا إِرَادَاتُهُ تَحْتَ إِرَادَةِ اللَّهِ، وَتَذُوبُ الْأَسْبَابُ تَحْتَ قُدْرَتِهِ، وَيَنْصَهِرُ كُلُّ مَا يَظْهَرُ تَحْتَ نُورِ شُهُودِهِ.
“ʿArif billah adalah orang yang dengan tauhid, kepercayaan, tawakal, dan kepasrahannya kepada Allah, mencapai derajat di mana kehendaknya fana dalam kehendak Allah. Segala sebab meleleh di bawah kekuasaan-Nya, dan segala yang tampak meleleh dalam cahaya penyaksian-Nya”
%20-%20Kajian%20Kitab%20Sajatining%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar