“Kalian memang bebas mengatur hidup kalian, tapi ingat, ada Allah yang mengatur hidupku, hidup kita dan hidup kalian.
Seandainya seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersujud kepada Allah, Allah tidak untung. Dan sebaliknya, jika seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini ingkar kepada Allah, Allah pun tidak rugi. Karena keuntungan atau pun kerugian itu ada pada diri kita, bukan pada Gusti Sajatining Mulyo Allah ‘‘azza wa jalla.
Kalian taat, Allah sediakan surga. Kalian ingkar, Allah sediakan neraka. Silahkan, kalian bebas mengambil jalan hidup kalian masing-masing”
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
Besok Itu Hari Raya Kurban Atau Hari Arisan Hewan? Hakekat Berkurban Menurut Abah Raden Syair Langit
HIKMAH DI BALIK QURBAN
Tidak semua orang yang menyembelih hewan, benar-benar sedang berqurban.
Sebab hakikat qurban bukan terletak pada darah yang mengalir, bukan pula pada daging yang dibagikan.
Tetapi pada apa yang sedang disembelih di dalam dirinya sendiri.
Banyak manusia bergembira menyambut hari raya, namun kegembiraannya hanya berhenti pada perut dan jamuan.
Rumah ramai oleh asap bakaran, lidah sibuk memuji rasa, tetapi hati tetap keras, sombong, tamak, dan jauh dari Allah.
Padahal sejak awal, Allah telah memberi isyarat bahwa yang sampai kepada-Nya bukan dagingnya, bukan darahnya.
Melainkan ketakwaan yang bersemayam di dalam jiwa.
Maka orang arif memandang qurban bukan sekadar penyembelihan kambing atau sapi.
Namun penyembelihan sifat kebinatangan yang hidup dalam dirinya.
Kesombongan disembelih.
Keangkuhan dipotong.
Ketamakan dikuliti.
Riya dihancurkan.
Nafsu dipatahkan.
Sebab selama ego masih duduk di singgasana hati, maka manusia sejatinya belum berqurban.
Ia hanya memindahkan darah hewan ke tanah, namun tidak pernah memindahkan hijab dari ruhnya.
Lihatlah Nabi Ibrahim عليه السلام.
Yang Allah uji bukan tentang hewan, melainkan tentang cinta terbesar di dalam hatinya.
Karena perjalanan menuju Allah tidak akan terbuka selama masih ada sesuatu yang lebih dicintai selain Dia.
Maka qurban adalah madrasah keikhlasan.
Sekolah untuk menghancurkan “aku”.
Latihan agar manusia belajar melepaskan apa yang paling dicintainya demi ridha Allah.
Orang yang benar-benar memahami qurban akan menjadi lembut hatinya.
Ia tidak sibuk memamerkan hewan terbesar, tidak pula haus pujian manusia.
Karena yang ia cari bukan pengakuan makhluk, melainkan pandangan Allah kepadanya.
Dan ketahuilah…
Betapa banyak orang miskin yang tidak mampu membeli hewan qurban, namun hatinya jauh lebih dekat kepada Allah dibanding orang kaya yang setiap tahun menyembelih sapi tetapi masih gemar menyakiti sesama.
Sebab di mata Allah, nilai qurban bukan pada besar kecilnya hewan.
Melainkan seberapa besar keikhlasan dan seberapa banyak nafsu yang berhasil disembelih.
Maka jangan jadikan hari qurban hanya sebagai pesta daging.
Karena jika yang hidup hanya syahwat makan dan kebanggaan dunia, maka manusia sedang merayakan hawa nafsunya sendiri.
Belajarlah menjadi hamba seperti Ibrahim.
Yang rela kehilangan demi mendapatkan Allah.
Yang rela mengorbankan dunia demi hidupnya cahaya ketuhanan di dalam jiwa.
Karena hakikat qurban sejatinya adalah:
“Ketika seekor hewan disembelih di bumi, maka seharusnya nafsu juga disembelih di dalam diri.”
Secara umum, khalwat خلوة berarti menyendiri atau menarik diri dari keramaian. Khalwat juga merujuk pada keadaan diri untuk menyepi, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, melalui amalan-amalan ibadah yang khusus.
Sedangkan uzlah عزلة dalam tasawuf adalah sebuah praktik mengasingkan diri dari keramaian duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jadi secara tidak langsung, khalwat ataupun uzlah memiliki makna dan tujuan yang sama. Ini bukan sekedar tentang menjauhi manusia, tetapi ini tentang membersihkan hati dari hal-hal yang melalaikan ibadah kepada Allah, dan untuk meningkatkan maqamat perjalanan ruhaniyah kita menuju kepada-Nya.
Secara bahasa, uzlah berarti menarik diri atau mengasingkan diri. Dalam terminologi tasawuf, uzlah adalah tindakan menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Uzlah bukan berarti lari dari tanggung jawab sosial, tetapi lebih kepada mencari waktu dan tempat untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan.
Uzlah atau (mengasingkan diri) adalah suatu perbuatan yg termasuk disukai Allah. Karena barangsiapa yang dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan yang kelak Allah SWT berikan, dan segera menganggap hina kenikmatan dan semua kelezatan duniawi, yang sebenarnya terus menipu.
Begitu pun seseorang yang berakal akan mengabaikan keindahan dunia, kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan seseorang yang memahami akhirat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran, sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akhirat yang penuh dengan ridha-Nya.
Dalam urusan uzlah, para ulama terbagi tiga saat memandang keutamaannya. Sebagian dari mereka ada yang mengutamakan uzlah dari pada bercampur dengan masyarakat. Sebagian lagi lebih mengutamakan bercampur dengan masyarakat. Sedangkan yang lainnya lagi memilih jalan pertengahan, atau dengan kata lain menentukan kapan ia harus bercampur dengan masyarakat, dan kapan pula ia mesti uzlah. Mereka yang memilih untuk uzlah telah mendasarkan perbuatannya dengan dalil berikut,
“Orang yang bercampur dengan masyarakat dan bersabar menanggung gangguan mereka, itu lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan masyarakat dan tidak bersabar menanggung gangguan mereka”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dan mereka yang memilih jalan pertengahan, tentu mendasarkan perbuatannya pada kedua dalil di atas, untuk kemudian diambil sebagai kesimpulan yang terbaik. Yaitu memilih kedua hal diatas, lalu di pertimbangkan dengan penuh kesadaran diri. Mereka tidak berat kepada satu diantara kedua pandangan diatas, karena baginya keduanya tidak salah dan mendatangkan manfaat.
Jika seseorang uzlah, maka ia akan mendapatkan manfaat seperti dapat mencurahkan waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, merenung, mengoreksi diri, bermunajat kepada-Nya, serta memikirkan tentang kekuasaan-Nya. Dan semua itu hanya bisa maksimal dilakukan saat ia mau uzlah, atau memisahkan diri dari keramaian manusia.
Selain itu, uzlah juga dapat menyelamatkan diri seseorang dari perbuatan maksiat, yang biasa ia lakukan saat bercampur dengan orang lain. Seperti riya`, gibah, zinah, dan dosa-dosa lainnya. Uzlah juga bisa melepaskan seseorang dari kejahatan manusia, bahkan uzlah dapat pula menjaga diri dari pertikaian dan kerusuhan, atau melindungi Agama dari fitnah dan mara bahaya lainnya. Selain itu, pelaku uzlah juga dapat melepaskan diri dari kejahatan manusia, bahkan mengajak dirinya untuk terus menghilangkan ketamakan dan menjauhkannya dari kebodohan.
“Hati adalah cermin diri. Selama ia bersih dari debu dan karat, maka cahaya Ilahi dapat memantul di atasnya. Dan saat cahaya Ilahi telah memantul dari hati yang suci, tentu jalan kebenaran dapat diketahui. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat kehidupan”
Namun, bercampur dengan masyarakat juga sesuatu yang baik dilakukan. Ini merupakan perbuatan yang dulu terus dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan hingga beliau wafat. Sebagaimana hadist berikut ini,
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjenguk orang sakit sampai ke ujung Madinah."
(HR. At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)
Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, dengan mencermati semuanya, maka bercampur dengan masyarakat adalah baik untuk dilakukan, sepanjang ia tidak melalaikan seseorang dari urusan yang menjadi ketentuan-Nya. Namun demikian pula, uzlah pun amatlah baik untuk dilakukan. Terutama di akhir zaman ini, dimana serangan dari tipu daya duniawi terus merangsek masuk ke dalam setiap lini kehidupan. Siapa saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan gemerlapnya kesenangan duniawi. Sehingga jika tidak hati-hati, yang tertinggal hanyalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kian menggunung.
Untuk itu, sudah saatnya kita sering uzlah dengan penuh kesadaran demi kebaikan diri. Cukupkanlah setiap kebutuhanmu agar dapat menjalani kehidupan ini secara normal.
Jangan berlebih-lebihan dalam menuruti setiap keinginan dari hawa nafsu, karena ia cenderung mengajakmu untuk melanggar semua aturan dan ketetapan-Nya.
Kanjeng Nabi Muhammad saw sering melakukan khalwat di gua hiro, begitupun Beliau berperan aktif dalam bersosial di masyarakat. Baginda Nabi mengajarkan kita untuk mengambil jalan tengah, antara uzlah dan bermasyarakat. Jika seandainya Beliau tidak bercampur baur dengan orang lain, pertanyaannya bagaimana Beliau bisa berdakwah?
Oleh karena itu, gunakanlah kedua-duanya. Hal itu selaras juga dengan apa yang diajarkan oleh Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar (الشيخ ستي جنر) terkait konsep madya (mengambil jalan tengah) seperti saat kita memandang dunia dan akhirat haruslah seimbang, tidak boleh terlalu condong terhadap salah satunya.
Saat kita sedang bergumul dengan masyarakat, maka fisik kita tetap bersosial, namun hati kita tetap uzlah. Dan saat kita mencari dunia, maka fisik kita tetap berusaha, tapi hati kita tidak tertunduk oleh dunia itu sendiri. Adapun dalam usaha mencari dunia, semuanya dilandasi untuk bekal beribadah kepada Allah SWT.