Jumat, 13 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-7 (Berpalinglah Dari Segala Sesuatu Selain Allah)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-7

(Berpalinglah Dari Segala Sesuatu Selain Allah)


“Pada umumnya, manusia berpaling dari hakikat kebenaran, dan malah menuju pada pernyataan-pernyataan yang semu. Melarikan diri dari Sang Pelindung, mengkhawatiri tanda-tanda yang tak jelas. Tujuan hidup mereka akhirnya terperdaya, dan justru jatuh pada jurang kesesatan. Sedangkan bagi orang-orang yang suluk, mereka akhirnya menempuh, berawal dari ketakjuban awal menuju pencerahan, dari pencerahan menuju hakikat ketakjuban yang sebenarnya. Pada akhirnya kita akan menyaksikan Allah atas kehendak dari kesaksian yang diberikan oleh-Nya. Kita berpisah dan melepas segalanya. Yang tertinggal hanyalah Allah, dan kita pun lebur karena sampai kepada-Nya”

Penjelasan:

Hikmah ini menegaskan perjalanan spiritual seorang hamba menuju pengenalan hakikat Allah dengan melepaskan keterikatan pada segala sesuatu selain-Nya. Abah mengingatkan bahwa manusia pada umumnya terjerat oleh semu nya dunia, hawa nafsu, dan pandangan makhluk, sehingga mereka terperdaya dari tujuan hidup yang sejati.

Manusia terperdaya oleh yang semu

“Pada umumnya, manusia berpaling dari hakikat kebenaran, dan malah menuju pada pernyataan-pernyataan semu. Melarikan diri dari Sang Pelindung, mengkhawatiri tanda-tanda yang tak jelas. Tujuan hidup mereka akhirnya terperdaya, dan justru jatuh pada jurang kesesatan.”

Ini menegaskan bahwa keterikatan manusia pada dunia dan simbol-simbol semu membuat hati jauh dari Sang Pencipta. Allah SWT berfirman:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan bermain-main. Dan sungguh, akhirat itulah yang kekal, sekiranya mereka mengetahui.”

(QS. Al-Ankabut: 64)

Ini menegaskan bahwa melarikan diri kepada sesuatu yang fana hanya akan menyesatkan manusia dari tujuan hakiki.

Jalan suluk menuju pencerahan

“Sedangkan bagi orang-orang yang suluk, mereka akhirnya menempuh, berawal dari ketakjuban awal menuju pencerahan, dari pencerahan menuju hakikat ketakjuban yang sebenarnya.”

Para sufi menekankan bahwa perjalanan spiritual (suluk) dimulai dari rasa kagum dan takjub pada ciptaan Allah, yang kemudian berkembang menjadi pencerahan batin, hingga puncaknya adalah ketakjuban yang sejati, menyaksikan Allah dalam kesucian batin (mushahadah). Seperti apa yang disampaikan oleh Syekh Ibnu ‘Arabi:

مَنْ تَعَجَّبَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ ابْتَدَأَ بِهِ الْحَقَّ، وَمَنْ بَلَغَ حَقِيقَتَهُ انْتَهَى بِهِ إِلَى الْحَقِّ 

“Barangsiapa kagum terhadap ciptaan Allah, ia memulai dari sana menuju kebenaran, dan barangsiapa mencapai hakikat itu, ia berakhir pada Allah.”

Puncak pengalaman: berpisah dengan yang semu, lebur pada Allah

“Pada akhirnya kita akan menyaksikan Allah atas kehendak dari kesaksian yang diberikan oleh-Nya. Kita berpisah dan melepas segalanya. Yang tertinggal hanyalah Allah, dan kita pun lebur karena sampai kepada-Nya.”

Inilah inti fana’ fi Allah, lenyapnya segala sesuatu kecuali Allah. Para sufi menjelaskan bahwa kesadaran ini membawa hamba pada keadaan dimana dirinya bersatu dengan Allah secara spiritual, lepas dari segala keterikatan dunia.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” 

Pesan Hikmah

Hikmah ini menuntun para saliqin untuk berpaling dari segala sesuatu yang bersifat semu dan fana, menundukkan hati pada Allah semata, dan menempuh jalan suluk yang menuntun dari takjub kepada ciptaan menuju ketakjuban hakiki pada Pencipta. Hanya dengan melepas keterikatan duniawi, hati dapat mengalami pencerahan batin, menyaksikan Allah, dan lebur dalam kehadiran-Nya yang Maha Sempurna.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

  Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini) “Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketig...