Kamis, 12 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-6 (Ketiadaan)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-6

(Ketiadaan)


“Pada hakikatnya, kita ini tidak ada. Yang ada di dekat kita juga tidak ada. Yang selalu kita kejar-kejar juga tidak ada. Yang segala kita lakukan untuk mencukupi syahwat, keinginan, hawa nafsu, semuanya juga tidak ada. Karena yang Ada hanyalah Allah ‘‘azza wa jalla. Jadi tak usahlah repot-repot mencari sesuatu yang tidak ada. Lebih baik kita mencari yang sejatinya Ada, yakni Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla”

Penjelasan:

Hikmah ini menegaskan bahwa segala yang kita anggap ada dalam kehidupan ini pada hakikatnya bersifat fana, sementara yang benar-benar ada hanyalah Allah ‘‘azza wa jalla. Abah mengajarkan bahwa ketenangan batin lahir dari pemahaman akan ketiadaan yang semu ini, dan dari penyerahan total kepada Yang Maha Ada.

Ketiadaan makhluk dan dunia

“Pada hakikatnya, kita ini tidak ada. Yang ada di dekat kita juga tidak ada. Yang selalu kita kejar-kejar juga tidak ada.”

Ini menegaskan bahwa semua makhluk dan segala sesuatu yang dikejar di dunia hanyalah fana. Dalam perspektif tasawuf, pemahaman ini dikenal sebagai fanâ’ fi Allah, memahami ketiadaan diri agar bisa mengenal Yang Maha Ada.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang di bumi pasti binasa, dan tetap kekal hanya Wajah Tuhanmu Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.”

(QS. Ar-Rahman: 26-27)

كُلُّ شَیۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”

(QS. Al-Qasas: 88) (potongan ayat)

Ini menunjukkan bahwa segala yang kita kejar dan segalanya yang kita miliki adalah sementara, sedangkan Allah SWT adalah satu-satunya yang abadi.

Ketiadaan hawa nafsu, syahwat, dan keinginan

“Yang segala kita lakukan untuk mencukupi syahwat, keinginan, hawa nafsu, semuanya juga tidak ada.”

Hikmah ini mengingatkan bahwa segala usaha manusia yang semata-mata untuk memuaskan nafsu dan keinginan duniawi adalah sia-sia, jika tidak ditempatkan dalam konteks penghambaan kepada Allah. Seperti kata para ulama sufi, segala yang fana tidak akan membawa kebahagiaan yang hakiki.

مَا هَذَا الدُّنْيَا إِلَّا فَتْرَةٌ وَمَا فِيهَا إِلَّا فَانٍ، وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَبَاقٍ

“Dunia ini hanyalah sementara, dan semua yang ada di dalamnya pasti lenyap, sedangkan yang di sisi Allah adalah baik dan kekal.” (dikutip dari kaidah ulama tasawuf)

Yang sejati ada hanyalah Allah

“Karena yang Ada hanyalah Allah ‘‘azza wa jalla. Jadi tak usahlah repot-repot mencari sesuatu yang tidak ada. Lebih baik kita mencari yang sejatinya Ada, yakni Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla.”

Dalam pemahaman sufi, kesadaran akan ketiadaan diri dan makhluk memurnikan hati untuk sepenuhnya menautkan cinta, pengharapan, dan pengetahuan kepada Yang Maha Ada. Ini adalah inti makrifatullah, memahami bahwa hanya Allah yang benar-benar ada, sementara segala yang lain adalah bayangan dan fenomena yang fana.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. Al-Hadid: 3)

Pesan Hikmah

Hikmah ini mengajarkan bahwa upaya mengejar dunia, mengikat hati pada makhluk, dan memburu hawa nafsu adalah sia-sia jika tidak diimbangi dengan kesadaran akan Yang Maha Ada. Dengan menyadari ketiadaan yang semu dan menautkan pengharapan hanya kepada Allah, hati akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Inilah inti dari tasawuf makrifatullah, menyingkap hakikat fana dan menemukan hakikat Abadi, yakni Gusti Sajatining Mulyo, Allah ‘‘azza wa jalla.


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini)

  Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-33 (Jangan Bersahabat Dengan Tiga Macam Orang ini) “Berhati-hatilah, jangan bersahabat dengan ketig...