Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-12
(Tidak Perlu Memikirkan Orang yang Membenci Kita)
“Tidak perlu fokus memikirkan orang yang membenci kita, karena masih banyak orang yang menyayangi kita. Ketika orang lain membencimu tanpa alasan, ingatlah, ada Allah yang akan selalu mencintaimu tanpa alasan. Lagian hidup ini sudah sunatullah. Ada yang suka, ada yang benci. Hidupmu jauh lebih penting daripada mengurusi orang-orang yang hidupnya hanya dihabiskan, untuk ikut campur terhadap hidup orang lain. Terkecuali dalam ranah urusan kita berwasiat dalam kebaikan. Karena itu ada kewajiban dari Allah. Rumusnya sederhana. Jika engkau disibukkan untuk memikirkan cinta Allah Sang Maha Cinta, maka engkau akan mudah melupakan kebencian-kebencian yang dilontarkan sampah, yang hidupnya tak jelas arah. Yang kita cari itu bukan ridha manusia, melainkan ridha Allah ‘‘azza wa jalla”
Penjelasan:
Mutiara hikmah ini menegaskan prinsip hidup seorang hamba yang bijak: tidak terjebak oleh kebencian manusia, tetapi menempatkan Allah sebagai pusat perhatian dan cinta sejati.
Fokus pada yang memberi manfaat
terlalu singkat untuk selalu memikirkan orang yang membenci kita. Energi yang terbuang untuk membalas dendam atau mengkhawatirkan kebencian orang lain tidak akan memberi manfaat. Sebaliknya, fokuslah pada mereka yang menyayangi dan mendukung kita, serta pada kebaikan yang bisa kita lakukan.
Cinta Allah sebagai penawar kebencian
Ketika manusia menolak atau membenci kita tanpa alasan, Allah tetap mencintai kita tanpa syarat. Menyadari ini memberi ketenangan batin. Jika hati tertambat pada cinta-Nya, kebencian manusia menjadi ringan atau bahkan tidak terasa.
Hidup sesuai sunatullah
Hidup ini memang sudah tersusun dalam hukum alam dan tabiat manusia: ada yang menyukai, ada yang membenci. Memahami hal ini membantu kita menerima kenyataan tanpa tersiksa oleh opini atau kebencian orang lain.
Prioritas hidup yang benar
Hidupmu jauh lebih penting daripada mengurusi orang-orang yang hidupnya hanya dihabiskan untuk ikut campur terhadap hidup orang lain.” Kita diajarkan untuk menata diri, mengurus amal, dan berfokus pada tujuan akhir, yaitu ridha Allah.
Kewajiban berwasiat dalam kebaikan
Satu-satunya pengecualian adalah bila kita punya tanggung jawab menasehati dalam kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar). Dalam hal ini, kita tetap terlibat karena ada tuntunan dari Allah.
Rumus sederhana kebahagiaan batin
Jika hati tersibukkan oleh cinta Allah, maka kebencian manusia akan terasa ringan atau bahkan tidak memengaruhi. Fokus pada ridha-Nya, bukan ridha manusia, karena hanya Allah lah yang Maha Penuh Cinta dan tak Bersyarat.
Hikmah
Hidup ini terlalu berharga untuk dicemari kebencian orang lain. Hati yang terikat pada Allah akan selalu damai, bebas dari beban dendam atau iri, dan mampu menebarkan kasih sayang serta kebaikan tanpa pamrih.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar