Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-11
(Mencintai Karena Allah)
“Jika engkau mencintai karena harta, maka harta ada habisnya. Jika engkau mencintai karena rupa, maka kecantikan ataupun ketampanan ada tuanya. Tapi jika engkau mencintai karena Allah, cinta itulah yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan yang sejati. Mencintai manusia itu fana. Mencintai Allah itu abadi. Jika engkau mencintai manusia, dasarilah karena Allah agar engkau tidak terjebak di dalam lautan kehampaan”
Penjelasan:
Hikmah ini menegaskan bahwa cinta yang murni hanya akan memberikan kebahagiaan hakiki bila tertaut pada Allah SWT. Segala bentuk cinta yang didasarkan pada dunia seperti harta, rupa, status sosial, pasti bersifat fana dan akan menimbulkan kekecewaan.
Cinta yang fana karena dunia
“Jika engkau mencintai karena harta, maka harta ada habisnya. Jika engkau mencintai karena rupa, maka kecantikan ataupun ketampanan ada tuanya.”
Ini mengingatkan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi pasti sementara. Menempatkan cinta pada hal-hal yang fana akan membuat hati rapuh dan mudah kecewa.
Allah SWT berfirman:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan bermain-main.”
(QS. Al-Ankabut: 64) (potongan ayat)
Cinta karena Allah sebagai kebahagiaan abadi
“Tapi jika engkau mencintai karena Allah, cinta itulah yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan yang sejati. Mencintai manusia itu fana. Mencintai Allah itu abadi.”
Cinta yang berlandaskan karena Allah (maḥabbat al-ḥaqq – مَحَبَّةُ الْحَقِّ) adalah cinta yang murni, suci, dan tidak bergantung pada keadaan dunia.
Cinta manusia yang didasari karena Allah
“Jika engkau mencintai manusia, dasarilah karena Allah agar engkau tidak terjebak di dalam lautan kehampaan.”
Hikmah ini menekankan bahwa mencintai sesama manusia boleh, tetapi harus diarahkan dan dilandasi karena Allah. Dengan cara ini, cinta tetap berada dalam batas syariat dan hati tidak terseret pada cinta yang fana dan melalaikan (ghaflah).
Pesan Hikmah
Hikmah ini mengajarkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang berlandaskan karena Allah. Segala cinta duniawi bersifat fana, sementara cinta karena Allah adalah abadi. Dengan mendasari setiap perasaan dan hubungan karena Allah, maka hati akan selamat dari kehampaan, rasa kecewa, dan kegelisahan, serta menuju kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan pernah pudar.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya
ttd. Penulis Jejak Makrifat
%20Pengarang%20Kitab%20Sajatinign%20Mulyo.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar