Rabu, 25 Maret 2026

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 58 - Dilema (Antara Kamu dan Dia)"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 58 - Dilema (Antara Kamu dan Dia)"


Judul Lagu: Dilema (Antara Kamu dan Dia)

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2026 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Garis hidupku terlintas begitu dalam

Tersurat di raga tersirat di dalam jiwa

Antara dia yang menemani hidupku

Dan kamu cinta yang slalu kutunggu

[Verse 2]

Aku tak ingin sakiti salah satunya

Kebaikan dia yang slalu menemaniku

Namun kamu slalu ada didalam hatiku

Aku dilema harus bagaimana

[Reff]

Aku hilang tanpa arah

Melewati pilihan yang menyakitkan

Aku rapuh jiwa pun runtuh

Ku dilema antara kamu dan dia

[Intro]

[Verse 3]

Yang ku inginkan dia ada bersamaku

Begitupun kamu bisa mendampingi aku

Bukan  ku serakah bukan aku tak terarah

Aku dilema harus bagaimana

[Reff]

Aku hilang tanpa arah

Melewati pilihan yang menyakitkan

Aku rapuh jiwa pun runtuh

Ku dilema antara kamu dan dia

Berdosakah jika begini

Ini bukan keinginanku semata

Takdir Tuhan yang menyuratkan

Ku dilema antara kamu dan dia

[Outro]

Aku tak bisa apa-apa, kuserahkan semua, kepada yang Maha Kuasa, jangan salahkanku apalagi menyakitiku, aku hanya ingin kamu, dan pertahankan slalu dia, bukan ingin menyakiti, apalagi ingin melukai.

Aku tak bisa apa-apa, kuserahkan semua, kepada yang Maha Kuasa, jangan salahkanku apalagi menyakitiku, aku hanya ingin kamu, dan pertahankan slalu dia, bukan ingin menyakiti, apalagi ingin melukai.


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-58 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Dilema (Antara Kamu dan Dia)


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 57 - Cukup Cukuplah Kamu"

 


Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 57 - Cukup Cukuplah Kamu"


Judul Lagu: Cukup Cukuplah Kamu

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2026 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Tak bisakah kau tunda dulu kepergian dirimu

Agar ku bisa ikhlas melepasmu

Meskipun aku tahu ku tak bisa jauh darimu

Namun ku slalu ingin didekatmu

[Chorus]

Mau tak mau aku harus menerima semua ini

Walau harus ku rela hari ku tanpa adanya kamu

[Reff]

Waktu pun berjalan tanpa ada kamu

Sungguh ku sakit dan aku  merindu

Aku tak sanggup hidup tanpamu

Kutempuh melangkah membawa kenangan

Masih berharap dan terus meminta

Smoga Tuhan persatukan kita

[Bridge]

Cukup bagiku cukup cukuplah kamu

Jangan pergi tinggalkan aku

[Intro]

[Chorus]

Tiada lagi cinta yang bersemi di dalam hatiku

Cukup cukuplah kamu yang terindah di dalam hidupku

[Reff]

Waktu pun berjalan tanpa ada kamu

Sungguh ku sakit dan aku  merindu

Aku tak sanggup hidup tanpamu

Kutempuh melangkah membawa kenangan

Masih berharap dan terus meminta

Smoga Tuhan persatukan kita

Waktu pun berjalan tanpa ada kamu

Sungguh ku sakit dan aku  merindu

Aku tak sanggup hidup tanpamu

Kutempuh melangkah membawa kenangan

Masih berharap dan terus meminta

Smoga Tuhan persatukan kita

[Outro]

Cukup cukuplah cukup kamu untukku

Tak ada yang lain selain kamu


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-57 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Cukup Cukuplah Kamu


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 56 - Salahkah Bila Ku Berharap"


 

Maha Karya Lagu Raden Syair Langit "Lagu Ke 56 - Salahkah Bila Ku Berharap"


Judul Lagu: Salahkah Bila Ku Berharap

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada tahun 2006 M, dan di aransemen ulang pada tahun 2025 M.


Lirik:

[Intro]

[Verse 1]

Salahkah bila ku berharap

Memilikimu ingin bersamamu

Salahkah bila ku bermimpi

Hidupku bisa mendampingimu

[Chorus]

Yang ku inginkan

Hanyalah dirimu tiada yang lain

Yang kuharapkan

Milikimu bersamamu selamanya

[Reff]

Oh Tuhan berikan dia untuku

Aku kan selalu menyayanginya

Hanya pada-Mu aku memohon

Hanya pada-Mu aku berlindung

[Intro]

[Verse 2]

Mungkinkah engkau jadi bagian

Didalam hidupku slalu bersamaku

Tiada yang lain dihati ini

Hanya dirimu yang aku rindu

[Chorus]

Yang ku inginkan

Hanyalah dirimu tiada yang lain

Yang kuharapkan

Milikimu bersamamu selamanya

[Reff]

Oh Tuhan berikan dia untuku

Aku kan selalu menyayanginya

Hanya pada-Mu aku memohon

Hanya pada-Mu aku berlindung

Oh Tuhan kabulkan harapan ini

Tak sanggup bila ku hidup tanpanya

Hanya pada-Mu aku memohon

Hanya pada-Mu aku berlindung

[Outro]


Selain sebagai seorang Da'i, Guru Tarekat, Penulis Buku, Raden Syair Langit juga dikenal sebagai seorang musisi dan pencipta lagu. Tercatat sudah 70 lebih, lagu yang dibuat Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) sejak tahun 2005 M sampai tulisan ini dibuat (Maret 2026 M).

Susunan lagu ke-56 pada Maha Karya Lagu Raden Syair Langit adalah lagu yang berjudul : Salahkah Bila Ku Berharap


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-19 (Jangan Pernah Merasa Penting Didalam Kehidupan Orang Lain)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-19

(Jangan Pernah Merasa Penting Didalam Kehidupan Orang Lain)


“Jangan pernah merasa engkau adalah orang yang penting di kehidupan orang lain. Kenapa? karena ingat, sekarang bisa saja engkau dianggap berharga, tapi esok, tidak menutup kemungkinan engkau akan dianggap tidak berguna.

Oleh karena itu, konsepnya sederhana. Ketika kita berhubungan dengan orang lain, siapapun itu, terlalu dekat jangan, terlalu jauh jangan, sineger tengah, agar engkau tidak kecewa”
















Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-18 (Memilih di Mengerti Bukan Lagi di Cintai)

 


Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-18

(Memilih di Mengerti Bukan Lagi di Cintai)


“Suatu hari nanti, kamu tidak lagi berharap senang, melainkan berharap tenang. Memilih dimengerti bukan lagi dicintai. Lebih peduli diterima daripada dipuja.

Pada saat itu kamu berada pada maqam kepahaman, bahwa hati bukanlah tentang kebahagiaan dunia, melainkan kebahagiaan hakiki tentang Dia Sang Maha Cinta, Allah ‘‘azza wa jalla, yang selalu ada di dalam jiwa tanpa terhalang jeda”









Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


Selasa, 24 Maret 2026

Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-17 (Seseorang itu Gampang Berubah Pada Tiga Kondisi)


 Mutiara Hikmah Raden Syair Langit ke-17

(Seseorang itu Gampang Berubah Pada Tiga Kondisi)


“Seseorang itu gampang berubah pada tiga kondisi. Saat dekat dengan penguasa, saat memegang jabatan, dan saat mendadak kaya setelah miskin. Barang siapa yang pernah mengalami ketiga hal itu, lalu tidak berubah pendiriannya, tidak berubah perangainya, berarti dialah orang yang lurus.

Kasauran Sayidina Ali karamallahu wajhah












Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat







Minggu, 22 Maret 2026

Sejarah Tarekat Didalam Islam - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

 


Sejarah Tarekat Didalam Islam - Kajian Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)


Sejarah mencatat, bahwa tarekat yang pertama kali muncul di dunia Islam itu ada pada abad ke-9 M di Persia (Persia itu kalau sekarang adalah Iran dan Iraq), dan tarekat pertama yang ada didunia adalah Tarekat Thaifuriyah (طريقة طيفورية) yang di istbatkan kepada Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami, atau lebih dikenal dengan nama Syekh Abu Yazid Al-Busthami.

Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami (الشيخ طيفور أبو يزيد البسطامي) adalah seorang ulama sufi besar dari Persia, yang lahir pada tahun 804 M/188 H. Di kalangan sufi, Beliau dikenal sebagai "Sulthan Al Arifin (سلطان العارفين) rajanya orang-orang bijak, atau Rajanya para ahli makrifat.” Beliau juga bergelar sebagai Guru Agung (ٱلشيخ ٱلأعظم), dan Gurunya para Wali (الشيخ الأولياء). Beliau wafat pada tahun 874 M/261 H di Bustham Iran. Usia Beliau menurut perhitungan hijriah adalah 73 tahun, sedangkan usia Beliau menurut perhitungan masehi adalah 70 tahun.


Gelar Beliau secara lengkap adalah:

سلطان ٱلعارفين ٱلشيخ ٱلأعظم شيخ ٱلأولياء ٱلغوث ٱلأعظم قطب ٱلعالمين كنجڠ ٱلشيخ طيفور بن عيسى بن سروسيان أبي يزيد ٱلبسطامي قدس ٱلله سره

"Rajanya para ‘Arif (Sulṭan al-‘Arifin), Guru Agung (asy-Syekh al-A‘ẓam), Gurunya para Wali (Syekh al-Awliya’), Penolong Tertinggi (al-Ghawts al-A‘ẓam), Kutubnya seluruh alam (Quṭb al-‘Alamin), yaitu Kanjeng Syekh Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan, Abu Yazid Al-Buṣṭhami, semoga Allah mensucikan rahasianya (Qaddasallahu Sirrah)"

Tarekat dalam Islam muncul sebagai sebuah metode atau praktik tasawuf yang sistematis. Munculnya tarekat tidak terlepas dari perkembangan tasawuf itu sendiri, yang pada awalnya lebih bersifat personal, kemudian berkembang menjadi bentuk perkumpulan, untuk memudahkan pengamalan dan penyebaran ajaran tasawuf.

Latar belakang munculnya tarekat di dunia Islam

Jika ditela’ah secara sosiologis dengan lebih mendalam, tampak ada hubungan antara latar belakang lahirnya pola hidup sufistik dengan perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat. Sebagai contoh adalah munculnya gerakan kehidupan zuhud dan ‘uzlah yang dipelopori oleh Imam Hasan Al-Bashri (إمام الحسن البصري) (110 H) dan Syekh Ibrahim bin Adam (الشيخ إبراهيم بن آدم) (159 H).

Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoya-foya), yang dipraktekkan oleh para pejabat Bani Umayyah. Lalu setelah itu mucul pengaruh ajaran tasawuf dari Guru Agung Kanjeng Syekh Thoifur Abu Yazid Al-Busthami, kemudian setelah itu tasawuf semakin berkembang dengan munculnya Syekh Husein Mansur Al-Hallaj (الشيخ حسين منصور الحلاج), dan Syekh Ibnu Arabi (الشيخ ابن عربي), dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini tidak bisa lepas dari adanya pengaruh gaya hidup baru didalam masyarakat Islam, yang cenderung tersilaukan oleh tipu muslihat dunia.

Dikala itu banyak pemimpin-pemimpin lacut, masyarakat yang semakin carut marut, mereka menggunakan Islam hanya sebatas identitas dan seremonial saja. Kemunculan tarekat didalam Islam bukan sebatas catatan sejarah, karena kemunculannya memiliki latar belakang yang cukup beralasan, baik secara sosiologis, maupun politis di waktu itu. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada masa itu, yaitu faktor kultural dan struktural. Dari segi politik, dunia Islam sedang mengalami krisis hebat. Di bagian barat dunia Islam, seperti wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir, mereka sedang menghadapi serangan orang-orang Kristen Eropa, yang terkenal dengan Perang Salib, selama kurang lebih dua abad (490-656 H / 1096-1258 M) dan dikurun waktu itu telah terjadi delapan kali peperangan yang dahsyat.

            Di bagian timur, dunia Islam menghadapi serangan Bangsa Mongol yang haus darah dan kekuasan. Gerombolan pasukan tatar itu melahap setiap wilayah yang dijarahnya. Demikian juga halnya di Baghdad, sebagai pusat kekuasaan dan peradaban Islam di masa itu. Situasi politik kota Baghdad tidak menentu, karena  selalu terjadi perebutan kekuasan di antara para amir (Turki dan Dinasti Buwihi). Secara formal, khalifah memang masih diakui, tetapi secara praktis penguasa, yang sebenarnya berkuasa adalah para amir dan para sultan. Keadaan yang buruk ini disempurnakan keburukannya dengan penyerangan Hulagu Khan yang memporak porandakan pusat peradaban Umat Islam. Tragedi ini terjadi pada tahun 1258 M, para ulama tarekat dan jutaan umat Islam dibunuh, Baghdad yang pada waktu itu menjadi salah satu tempat peradaban umat Islam, berhasil di luluh lantahkan oleh kekejaman Hulagu Khan.

Dalam tragedi penyerbuan Hulagu Khan ke wilayah dunia Islam, khususnya dalam penaklukan Baghdad tahun 1258 M, korban dari kalangan umat Islam sangat besar, dan dianggap sebagai salah satu bencana paling kelam dalam sejarah peradaban Islam.

Perkiraan jumlah korban bervariasi dalam sumber-sumber sejarah, karena catatan pada masa itu tidak selalu konsisten. Namun, para sejarawan sepakat bahwa:

Jumlah korban di Baghdad saja diperkirakan antara 200.000 hingga lebih dari 1.000.000 jiwa. Mayoritas korban adalah umat Islam, termasuk ulama fuqaha, ulama sufi, santri, wanita, anak-anak, dan warga sipil.

Banyak madrasah, masjid, perpustakaan, dan karya ilmu pengetahuan dihancurkan. Bahkan perpustakaan Bayt al-Hikmah بيت الحكمة yang menyimpan ribuan manuskrip dibakar dan dilempar ke Sungai Tigris.

Sumber-sumber sejarah:

Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam Al-Bidayah wan-Nihayah (البداية والنهاية) menyebut pembantaian ini sangat luas dan kejam.

Al-Dhahabi (الذهبي) dan Ibnu al-Athir (ابن الأثير) menggambarkan suasana mencekam, kota penuh mayat, sungai Tigris berubah warna karena tinta kitab dan darah. Steven Runciman dan sejarawan barat memperkirakan sekitar 800.000 - 1.000.000 jiwa tewas.

Hulagu adalah cucu Jenghis Khan, yang memimpin ekspedisi Mongol ke barat. Ia menggulingkan tahta Khalifah Al-Mu’tashim (الخليفة المعتصم), khalifah Abbasiyah terakhir di Baghdad.

Tragedi ini mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah secara de facto, dan merupakan awal runtuhnya supremasi politik Islam Sunni di kawasan tersebut.

Dimasa itu yang berkuasa adalah Kekhalifahan Abbasyiyah. Pimpinan Kekhalifahan Abbasiyah saat dibantai oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M adalah Khalifah Al-Musta'sim. Ia adalah khalifah terakhir dari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Penyerangan dan penjarahan Baghdad oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan mengakhiri kekuasaan Abbasiyah dan menandai berakhirnya era kejayaan mereka.



Hikmah ruhani di balik runtuhnya Baghdad

Tragedi berdarah di tahun 656 H / 1258 M telah tercatat dalam lembaran sejarah umat, bahwa pada tahun 656 Hijriah, kota Baghdad sebagai mahkota peradaban Islam, pusat ilmu dan cahaya kebijaksanaan, telah tenggelam dalam lautan darah dan abu kehancuran, di tangan pasukan Hulagu Khan, cucu dari Jenghis Khan yang datang seperti badai dari Timur.

Di singgasana yang sepi dari kewibawaan ruhani, duduk seorang khalifah yang bernama Al-Musta‘ṣim Billah. Ia adalah pewaris tahta agung Bani Abbas, namun tidak mewarisi kejernihan basirah para pendahulunya.

Diceritakan oleh para imam sejarawan, bahwa ia seorang yang lemah dalam عَزْمٌ (keteguhan), tumpul dalam kebijakan, dan terkepung oleh para pembisik istana yang menjauhkan dia dari suara ulama dan orang-orang saleh.

Dalam masa pemerintahannya, suara adzan masih menggema, namun ruh syariat mulai memudar di jantung kekuasaan. Kitab-kitab masih ditulis dan dibacakan, namun tidak lagi menjadi suluh penerang dalam kegelapan kebijakan. Majelis-majelis masih ramai, tapi ruhnya kosong dari hakikat dan makrifat. Maka turunnya musibah, bukanlah semata-mata peristiwa duniawi, melainkan isyarat langit bahwa bangunan yang ditinggalkan ruhnya pasti akan runtuh.

Imam Ibnu al-Jawzi (الإمام ابن الجوزي) berkata:

"Kerajaan tanpa adab adalah bangkai yang belum dikubur, dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan adalah fitnah yang ditunggu ajalnya."

Apakah Allah tidak kuasa menjaga kota suci ilmu seperti Baghdad? tentu kuasa-Nya meliputi segala sesuatu. Namun ketika para pemimpin lalai, dan umat menjauh dari hakikat ubudiyyah, maka Allah datangkan cambuk sejarah, agar mereka yang hidup sesudahnya bisa mengambil pelajaran.

Dalam nalar suluk, tragedi ini adalah bentuk dari tajalli al-Qahhar (تَجَلِّي القَهَّارِ), penampakan sifat Maha Perkasa-Nya yang menghancurkan bangunan sombong, agar ruh kebenaran kembali mencari jalan pulang.

Pelajaran Ruhani yang bisa kita ambil:

Kekuasaan tanpa ruh adalah debu. Bila pemimpin hanya menjadi simbol, tanpa jiwa kepemimpinan yang bersandar pada ilmu, hikmah, dan amanah, maka kekuasaan itu hanya tinggal menunggu saat kehancurannya.

Umat yang jauh dari ilmu dan suluk akan terjebak pada dunia lahir yang fana. Ketika kitab dibaca tanpa diamalkan, dan masjid ramai namun pasar lebih menggema, maka hancurnya peradaban adalah pengingat, bukan sebuah kebetulan.

Allah tidak menzalimi siapapun. Tapi manusia lah yang menzalimi dirinya sendiri, dengan membiarkan kegelapan batin melingkupi cahaya Ilahi dalam jiwa dan masyarakatnya.

Maka menangisnya langit Baghdad bukan hanya karena darah yang tumpah, tapi karena cahaya makrifat telah lama redup sebelum pedang Mongol tiba.

Dan barang siapa membaca sejarah hanya dengan mata lahir, ia akan melihat kehancuran semata. Tapi barang siapa membacanya dengan mata batin, ia akan melihat tajalli Allah yang mengajarkan kebangkitan lewat kehancuran.



Tragedi Baghdad dan kebangkitan ruhani melalui trah Mongolia Sultan Berke Khan

Nasab dan Latar Belakang Keluarga Hulagu Khan

Hulagu Khan (1217–1265 M) adalah cucu dari Jenghis Khan (1162–1227 M), pendiri dan pemimpin pertama Kekaisaran Mongolia yang dikenal luas karena kekuatan militernya yang brutal dan ekspansi imperiumnya yang luar biasa.

Jenghis Khan memiliki empat orang putra utama:

1. Jochi Khan (1179–1227 M)

2. Chagatai Khan (1183–1241 M)

3. Ogedei Khan (1186–1241 M)

4. Tolui Khan (1192–1232 M)

Dari putra keempatnya, yaitu Tolui Khan, lahirlah empat putra penerus dinasti, yaitu:

1. Möngke Khan (1208–1259 M)

2. Kubilai Khan (1215–1294 M)

3. Hulagu Khan (1217–1265 M)

4. Ariq Böke Khan (1219–1285 M)

Maka nasab Hulagu Khan secara lengkap adalah:

Hulagu Khan bin Tolui Khan bin Jenghis Khan.

Sultan Berke Khan, cahaya Islam dalam Dinasti Mongol

Di tengah kekerasan dan gelapnya kekuasaan Mongol, muncullah satu sosok cucu Jenghis Khan yang justru menjadi cahaya petunjuk bagi umat Islam.

Sultan Berke Khan (السلطان بركي خان) (1209–1266 M), putra dari Jochi Khan, anak pertama Jenghis Khan.

Nasab lengkapnya:

Berke Khan bin Jochi Khan bin Jenghis Khan.

Sultan Berke Khan merupakan pemimpin Horde Emas (Golden Horde), salah satu pecahan besar Kekaisaran Mongol yang menguasai wilayah Rusia, Kaukasus (Daerah Kaukasus sekarang terletak di perbatasan antara Eropa Timur dan Asia Barat, tepatnya di utara Iran, selatan Rusia, dan di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia), dan Eropa Timur.

Hidayah Islam menyinari hatinya melalui perantara seorang wali agung, yaitu Syekh Saifuddin Al-Bakharzi (الشيخ سيف الدين الباخرزي), seorang ulama sufi, mursyid dari Tarekat Kubrawiyyah (الطريقة الكبروية), yang merupakan murid langsung dari Sufi Agung Syekh Najmuddin Al-Kubra (الشيخ نجم الدين الكبرى), pendiri dan pemegang sanad itsbat tarekat tersebut.

Perang Saudara Mongol dan Tragedi Baghdad

Tahun 1258 M, dunia Islam mengalami malapetaka besar yang mengguncang sendi ruhani dan intelektualnya. Hulagu Khan, dengan pasukannya yang brutal, menyerbu Baghdad, sebagai pusat kekhalifahan Abbasiyah, dan menghancurkan kota itu hingga rata dengan tanah. Ribuan ulama fuqaha, ulama sufi, wanita, dan anak-anak dibantai. Khalifah al-Musta‘ṣim terbunuh, dan Perpustakaan Bayt al-Hikmah dibakar.

Tragedi ini menandai tajalli sifat al-Qahhar (Yang Maha Menghancurkan), sebagai pelajaran ruhani atas lemahnya kepemimpinan umat dan jauhnya masyarakat dari hakikat agama.

Berke Khan yang telah memeluk Islam merasa marah dan tersayat hati melihat kehancuran Baghdad. Ia menganggap serangan itu bukan hanya serangan politik, tapi juga agresi terhadap umat Islam dan kehormatan kaum muslimin.



Latar Belakang Perang Berke - Hulagu

1. Tragedi Baghdad (1258 M). Penjarahan dan pembunuhan massal oleh Hulagu terhadap umat Islam.

2. Kematian Mongke Khan (1259 M). Menyebabkan perebutan takhta antara Kubilai Khan dan Ariq Boke Khan, yang pada akhirnya memicu Perang Saudara Toluid.

3. Keislaman Berke Khan. Hatinya terpaut pada Islam, dan ia tidak rela melihat saudaranya sesama cucu Jenghis Khan menindas kaum Muslimin.

Perang Berke - Hulagu dan Perubahan Sejarah

Karena itu, Sultan Berke Khan bangkit. Ia menolak ekspansi Hulagu ke negeri Syam (Palestina, Yordania, Suriah, Libanon). Meskipun sempat terlambat menghentikan invasi ke Persia, ia tidak ingin kecolongan kedua kalinya.

Sultan Berke Khan bersekutu dengan Dinasti Mamluk di Mesir, yang juga tengah bersiap menghadapi ancaman Mongol. Ia juga mendukung saudaranya, Ariq Boke Khan, dalam perang melawan Kubilai Khan, sebagai bagian dari strategi membelah kekuatan musuh.

Pasukan Berke Khan, dipimpin oleh adiknya Nogai Khan, menyerbu wilayah Ilkhanat (kekuasaan Hulagu). Pertempuran besar terjadi di dekat Sungai Terek, sungai yang mengalir melalui Kaukasus hingga Laut Kaspia. Dalam pertempuran ini, pasukan Hulagu mengalami kekalahan telak.

Dampak Perang Berke - Hulagu

1. Menghentikan ekspansi Hulagu ke wilayah Islam.

2. Memperkuat posisi umat Islam di Mesir dan Syam.

3. Memecah Kekaisaran Mongol menjadi wilayah-wilayah independen, terutama Golden Horde dan Ilkhanat.

4. Menandai babak baru, masuknya unsur Islam dalam struktur kekuasaan Mongol.

Hulagu Khan mati pada tahun 1265 M, tak lama setelah kekalahan tersebut. Maka berakhirlah kekejaman kekuasaannya, dan sejarah mencatat, seorang cucu Jenghis Khan menghancurkan Baghdad, dan cucu yang lain membelanya.

Hikmah dari Sejarah

Peristiwa ini bukan sekadar perang saudara antar keturunan Mongol. Ia adalah medan tajalli Allah, tempat di mana iman menundukkan darah, dan hidayah menundukkan kekuasaan.

Sultan Berke Khan menjadi simbol bahwa kekuasaan tak selalu melahirkan kezaliman, dan hidayah dapat bersinar bahkan di dalam istana kekaisaran paling kejam sekalipun.

            Kerunyaman politik dan krisis kekuasaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat Islam di wilayah tersebut. Pada masa itu umat Islam mengalami masa disintegrasi sosial yang sangat parah, pertentangan antar golongan banyak terjadi, seperti antara golongan sunni dengan syi’ah, golongan Turki dan golongan Arab dan juga Persia. Selain itu, keadaan semakin di perparah oleh suasana banjir yang melanda sungai Dajlah yang mengakibatkan separuh dari tanah Iraq menjadi rusak. Akibatnya, kehidupan sosial merosot, keamanan terganggu, dan kehancuran umat Islam semakin terasa di mana-mana.

            Masyarakat Islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya, yang dapat digunakan sebagai pegangan. Mereka kembali kepada ajaran tasawuf yang dikemas dalam ajaran tarekat. Dan yang tidak kalah pentingnya, adalah kepedulian para ulama sufi, mereka memberikan pengayoman kepada masyarakat Islam yang sedang mengalami krisis moral yang sangat hebat (ibarat anak ayam kehilangan induk).

Dengan dibukanya kembali ajaran tasawuf kepada orang awam, secara praktis akan lebih berfungsi sebagai psikoterapi yang bersifat massal. Maka kemudian banyak orang awam yang memasuki majelis dzikir dan halaqahnya para ulama sufi, yang lama kelamaan berkembang menjadi suatu kelompok tersendiri (eksklusif) yang disebut dengan tarekat.

            Di antara ulama sufi yang kemudian memberikan pengayoman kepada masyarakat umum untuk mengamalkan tasawuf secara praktis (tasawuf ‘amali), dan bisa dikatakan menjadi penyempurna ajaran tasawuf yang diajarkan oleh ulama-ulama sebelumnya adalah, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (حجة الإسلام الإمام أبو حامد محمد الغزالي). Kemudian diikuti oleh ulama sufi berikutnya, seperti  Shultonul Auliya Kanjeng Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (الشيخ عبدالقادرالجيلاني), dan Syekh Ahmad Ali Al-Rifa’i (الشيخ أحمد علي الرفاعي). Ketiga tokoh sufi tersebut kemudian dianggap sebagai pendiri Tarekat Ghazaliyah (طريقة الغزالية) Tarekat Qadiriyah (طريقة القادرية) dan Tarekat Rifa’iyah (طريقة الرفاعية), yang tetap berkembang sampai sekarang.



Sejarah perkembangan tarekat

            Sejarah perkembangan tarekat secara garis besar dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap khanqah (خانقاه), tahap thariqah (طريقة) dan tahap tha’ifah (طائفة).

a. Tahap khanaqah (خانقاه)

Secara makna, khanaqah adalah bangunan atau tempat yang secara khusus digunakan sebagai pusat kegiatan dan pertemuan bagi para sufi, terutama dalam tradisi tarekat. Di khanaqah, para sufi melakukan ritual spiritual, belajar, dan beruzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

     Tahap khanaqah (pusat pertemuan para ulama sufi), dimana seorang syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama dibawah peraturan. Aturan dari syekh mursyid harus di ikuti oleh para murid. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual ataupun berjamaah. Ini terjadi dan dimulai sekitar abad 9 M. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

b. Tahap thariqah (طريقة)

Thariqah, atau tarekat dalam bahasa Arab, secara harfiah berarti "jalan" atau "metode.” Dalam konteks tasawuf, thariqah mengacu pada jalan atau metode yang ditempuh oleh seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyucian jiwa dan hati. Thariqah juga bisa merujuk pada organisasi atau perkumpulan yang didirikan berdasarkan ajaran seorang mursyid (guru spiritual) dalam aliran tarekat tertentu.

            Sekitar abad 9 M, di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Pada akhirnya berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Allah SWT. Disini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk, pola ataupun cara, agar pengikutnya bisa menyempurnakan syariat dan hakikat, yang dimana tarekat menjadi jembatannya agar sampai pada maqam makrifat.

c. Tahap tha’ifah (طائفة)

Dalam konteks tarekat dan perjalanan spiritual (suluk), tha’ifah (الطائفة) merupakan tahap awal dalam meniti jalan menuju Allah (سلوك إلى الله). Kata ṭha’ifah secara bahasa berarti kelompok atau golongan, namun dalam istilah tasawuf, ia mengacu pada:

Tahapan ketika seorang murid (salik) mulai bergabung dengan komunitas spiritual atau jamaah tarekat yang membimbingnya menuju makrifatullah.

Disini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada masa ini muncul kelompok tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah, tarekat mengandung arti lain, yaitu kelompok sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Tercatatlah tarekat-tarekat yang ada didunia, dan berkembang secara pesat dikalangan umat Islam.

Diantara beberapa tarekat yang ada di dunia

1. Tarekat Thaifuriyah طريقة طيفورية

Didirikan oleh Kanjeng Syekh Thoifur bin Isa bin Surusyan Abu Yazid Al-Busthami

(الشيخ طيفور بن عيس بن سوروسيان ابويزيد البسطامي)

(804 M/188 H - 874 M/261 H)

2. Tarekat Junaidiyah طريقة الجنيدية

Didirikan oleh Syekh Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Baghdadi

(الشيخ أبو القاسم الجنيد بن محمد البغدادي)

(825 M/210 H - 910 M/298 H)

3. Tarekat Ghazaliyah طريقة الغزالية

Didirikan oleh Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali

(حجة الإسلام الإمام أبو حامد محمد الغزالي)

(1058M/450 H - 1111 M/505 H)

4. Tarekat Qadiriyah طريقة القادرية

Didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdadi

(الشيخ عبدالقادرالجيلاني البغدادي)

(1078 M/470 H - 1166 M/561 H) 

5. Tarekat Rifa'iyah طريقة الرفاعية

Didirikan oleh Syekh Ahmad bin Ali Abu Al-Abbas Ar-Rifa'i

(الشيخ أحمد بن علي أبو العباس الرفاعي)

(1118 M/512 H - 1182 M/578 H)

6. Tarekat Kubrowiyah طريقة كبروية

Didirikan oleh Syekh Najmuddin Kubro

(الشيخ نجم الدين الكبرى)

(1145 M/540 H - 1221 M/618 H)

7. Tarekat Syadziliyah الطريقة الشاذلية

Didirikan oleh Tuan Syekh Imam Abu Hasan Asy Syadzili

(الشيخ الإمام أبو الحسن الشاذلي)

(1197 M/593 H - 1258 M/656 H)

8. Tarekat Maulawiyah طريقة المولويّة

Didirikan oleh Syekh Jalaluddin Rumi

(الشيخ جلال الدين الرومي)

(1207 M/604 H - 1273 M/672 H )

9. Tarekat Naqsyabandiyah طريقة النقشبندية

Didirikan oleh Syekh Muhammad Bahauddin an Naqsyabandi

(الشيخ محمد بهاء الدين النقشبندي)

(1317 M/717 H - 1389 M/791 H)

10. Tarekat Syattariyah طريقة الشطارية

Didirikan oleh Syekh Abdullah Asy Syattari

(الشيخ عبد الله الشطار)

( kelahiran beliau tidak diketahui - 1485 M/890 H)

11. Tarekat Samaniyah طريقة السمانية

Didirikan oleh Syekh Muhammad Abdul Karim as Samani

(الشيخ محمد عبد الكريم السماني)

(1718 M/1130 H - 1775 M/1189 H)

12. Tarekat Tijaniyah الطريقة التيجانية

Didirikan oleh Syekh Ahmad at Tijani

(الشيخ أحمد التجاني)

(1737 M/1150 H - 1815 M/1230 H)

13. Tarekat Idrisiyah طريقة الإدريسية

Didirikan oleh Sayyid Ahmad bin Idris Al-Fasi Al-Hasani

(السيد أحمد بن إدريس الفاسي الحسني)

(1758 M/1172 H - 1837 M/1253 H)

14. Tarekat Sanusiyah طريقة السنوسية         

Didirikan oleh Syekh Muhammad bin Ali Sanusi

(الشيخ محمد بن علي السنوسي)

(1787 M/1202 H - 1858 M/1276 H)

Dan masih banyak lagi tarekat-tarekat lainnya yang tersebar diseluruh dunia, yang tidak mungkin dijabarkan disini semua karena saking banyaknya, apalagi jika dijabarkan dengan cabang-cabang tarekat nya.

Pada hakikatnya, semua tarekat memiliki tujuan yang sama. Dan yang membedakan hanyalah cara, jalan, atau metode yang berbeda. Setiap pendiri tarekat yang menjadi istbat tarekat tersebut, memiliki cara pola jalan atau metode masing-masing untuk sampai bermakrifat kepada Allah. Dan cara-cara itulah yang diajarkan kepada murid-muridnya.

Suatu yang menjadi kepastian, bahwa metode atau jalan tarekat-tarekat tersebut, tetap akan bersandar kepada Al-Quran dan Sunnah.   

Sebenarnya, munculnya banyak tarekat didalam Islam, pada dasarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak madzhab dalam urusan fiqih. Termasuk didalam urusan teologi, berkembanglah madzhab-madzhab yang disebut dengan firqoh, seperti murji’ah, mu’tazillah, khawarij, syi’ah, farrabi, asy’ariyah, maturidiyah, qadariyah dan jabariyah. Di sini istilah yang digunakan bukan mazhab tetapi firqoh.

Didalam fiqih juga berkembang banyak firqoh yang disebut dengan madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zhahiri dan Syi’i.

Di dalam tasawuf juga berkembang banyak madzhab yang disebut dengan thariqah atau tarekat. Thariqah dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perkembangan madzhab dan firqah dalam urusan fiqih dan kalam (teologi). Oleh karena itu dapat dikatakan juga, bahwa tarekat memiliki kedudukan atau posisi yang sama, sebagaimana madzhab dan firqoh di dalam syari’at Islam.

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah. Perlu diingat juga, bahwa kita harus berhati-hati terhadap orang-orang yang mencatut nama tarekat, namun tarekatnya sesat.

Peringatan untuk berhati-hati terhadap tarekat sesat adalah penting, karena tarekat atau thariqah dapat menyimpang dari ajaran Islam yang benar, jika tidak berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah. Tarekat yang menyimpang dapat menyesatkan pengikutnya, dan membawa mereka pada ajaran yang batil. Pentingnya memahami tarekat, dimana tarekat itu adalah sebagai jalan. Yaitu jalan atau metode yang ditempuh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tujuan utama tarekat adalah membersihkan hati dari sifat-sifat buruk, dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, serta berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Diantara tanda-tanda tarekat sesat

1. Menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah

Tarekat yang tidak berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, atau bahkan bertentangan dengan keduanya, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.

2. Penyimpangan Aqidah

Jika tarekat mengajarkan keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam yang benar, seperti mengakui adanya Nabi baru, atau ajaran lain yang menyimpang, dan tarekatnya keluar dari aqidah ahlussunah wal jamaaah, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.



3. Menyepelkan urusan syariat

Jika ada tarekat yang menyepelekan urusan syariat Islam, seperti mengatakan tidak perlu shalat, karena shalat hanya untuk tingkatan awam, maka tarekat itu patut ditinggalkan dan jangan diikuti.

Sikap terhadap tarekat-tarekat yang sesat:

1. Waspada dan hati-hati

Masyarakat perlu waspada dan berhati-hati terhadap tarekat yang ajarannya sesat dan menyimpang. 

2. Meminta bimbingan ulama

Jika ragu terhadap suatu tarekat, mintalah bimbingan dari ulama yang terpercaya, dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam. 

3. Meninggalkan tarekat sesat

Jika terbukti ada tarekat yang menyimpang dari ajaran Islam, segera tinggalkan dan jauhi tarekat tersebut. 

Kesimpulannya, tarekat adalah jalan yang baik jika ditempuh dengan cara yang baik, dengan berlandaskan pada ajaran Islam yang benar. Bahkan mengikuti tarekat bisa menjadi wajib, untuk menyempurnakan syariat dan hakikat agar sampai pada makrifat.

كل ما يتوصل به إلى الواجب فهو واجب

"segala sesuatu yang menjadi perantara untuk mencapai suatu kewajiban, maka perantara tersebut juga menjadi wajib"

(kaedah ushul fiqih)


Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya


ttd. Penulis Jejak Makrifat


71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi

71 Karya Lagu Raden Syair Langit & 24 lagu Edisi Transformasi  Cerita Dibalik Lagu - Alhamdulillah Selesai 71 Karya Lagu & 24 Edisi ...