Raden Syair Langit "Jangan Bangga Dengan Amalmu, Banggalah Dengan Rahmat Allah"
Salah satu hijab yang paling halus adalah ketika seseorang mulai memandang besar amal yang telah ia kerjakan.
Ia merasa telah banyak shalat, banyak bersedekah, banyak berdakwah, dan banyak berbuat baik. Padahal, semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin kecil ia memandang dirinya sendiri.
Para kekasih Allah tidak pernah bergantung kepada amal mereka. Mereka lebih menggantungkan harapan kepada rahmat-Nya.
Sebab mereka memahami, seandainya Allah tidak memberikan taufik, niscaya mereka pun tidak akan mampu bersujud walau hanya satu kali.
Maka janganlah engkau menghitung-hitung amalmu, tetapi hitunglah betapa banyak nikmat Allah yang belum mampu engkau syukuri.
Ketika engkau melihat amal sebagai karunia, bukan sebagai prestasi, saat itulah kesombongan mulai sirna, dan keikhlasan tumbuh di dalam hati.
Semoga Allah menjaga hati kita dari rasa ujub, melimpahkan keikhlasan dalam setiap amal, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya.
Raden Syair Langit "Jangan Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan Manusia"
Ada satu kelelahan yang tidak pernah selesai, yaitu ketika seseorang menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan hidupnya.
Ia akan terus berusaha terlihat hebat, ingin dipuji, ingin diakui, dan ingin dimengerti oleh semua orang. Padahal, hati manusia selalu berubah, sedangkan ridha Allah tidak pernah berubah.
Orang yang telah mengenal Tuhannya akan lebih sibuk memperbaiki batinnya daripada menghias penampilannya.
Sebab yang menjadikan seorang hamba mulia bukanlah banyaknya mata yang memandang, melainkan sejauh mana Allah berkenan memandangnya dengan rahmat.
Jangan gelisah apabila engkau tidak dikenal manusia. Gelisahlah apabila hatimu mulai jauh dari Allah.
Karena ketika hubunganmu dengan Allah telah baik, maka engkau tidak lagi hidup untuk mengejar tepuk tangan dunia. Engkau akan hidup dengan hati yang tenang, langkah yang ringan, dan jiwa yang telah mengerti akan makna dari hakikat hidup yang sebenarnya.
DRAMA 10 GOL DI PEREBUTAN JUARA KE-3 PIALA DUNIA 2026
Pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 menyajikan salah satu laga paling gila dalam sejarah sepak bola. Inggris sukses membungkam Prancis dengan skor ketat 6-4 lewat drama yang menguras emosi.
The Three Lions tampil kesetanan di babak pertama dan langsung unggul telak 4-0 berkat gol cepat Declan Rice, Ezri Konsa, serta brace dari Bukayo Saka. Namun, Les Bleus menolak menyerah di babak kedua. Dipimpin sang kapten Kylian Mbappé yang mencetak dua gol (brace) plus sumbangan gol Bradley Barcola, Prancis sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3.
Ketegangan memuncak di menit-menit akhir. Bukayo Saka berhasil melengkapi catatan hat-trick-nya lewat titik putih untuk memperlebar keunggulan Inggris.
Prancis sempat membalas lagi lewat aksi Ousmane Dembélé pada masa injury time, sebelum akhirnya Jude Bellingham mengunci kemenangan mutlak Inggris menjadi 6-4.
Dengan hasil ini, Inggris berhak membawa pulang medali perunggu, yang menjadi pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia sejak tahun 1966.
Di sisi lain, dua gol Kylian Mbappé di laga ini resmi membuatnya memimpin perburuan Sepatu Emas sekaligus memecahkan rekor gol sepanjang masa turnamen.
Pertandingan penutup yang luar biasa dari kedua tim.
“Jangan banyak berdebat dengan orang bodoh, agar engkau tidak kehilangan wibawamu. Dan jangan banyak bercanda apalagi berlebih-lebihan, semua itu agar engkau tidak dikurang ajari”
Penjelasan:
Mutiara ini mengajarkan adab seorang salik dalam menjaga kehormatan diri dan kemuliaan ilmu. Seorang murid jalan sufi tidak boleh membuang waktunya untuk berdebat dengan orang bodoh, yakni orang yang keras kepala, tidak mencari kebenaran, hanya ingin memenangkan ucapan, dan menutup diri dari hikmah. Berdebat dengan mereka tidak akan menghasilkan kebenaran, justru hanya menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan hilangnya wibawa. Ilmu seorang salik tidak akan nampak indah bila dihamburkan dalam perdebatan yang sia-sia.
Ulama salaf mengatakan: “Aku tidak pernah menang dalam berdebat dengan orang berilmu, dan tidak pernah kalah bila berdebat dengan orang bodoh.” Maksudnya, orang berilmu jika kalah akan menerima dan mengambil hikmah, tetapi orang bodoh walau kalah akan tetap membantah. Maka seorang yang berakal lebih memilih diam, karena diamnya lebih bijaksana daripada membuang tenaga untuk menghadapi kebodohan.
Demikian pula dalam pergaulan, seorang salik diajarkan untuk menjaga ucapannya dari terlalu banyak bercanda. Canda yang sedikit dapat menyenangkan hati, namun bila berlebihan akan menjatuhkan kewibawaan. Terlalu banyak canda membuat orang lain meremehkan, bahkan menganggapnya kurang ajar. Sementara hati seorang salik haruslah selalu terjaga, serius dalam ibadah, lembut dalam akhlak, dan bercanda secukupnya tanpa melampaui batas.
Jalan tasawuf adalah jalan keseimbangan. Seorang salik boleh bergurau untuk menghibur hati, tetapi tetap menjaga kesopanan. Ia boleh berbicara untuk menasihati, tetapi tidak tenggelam dalam debat kusir. Inilah adab yang memelihara wibawa, menjaga ilmu dari kehinaan, dan menjadikan lisannya cahaya kebaikan.
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan adab para hamba Allah yang arif: mereka tidak melayani kebodohan dengan kebodohan, melainkan dengan kedamaian dan meninggalkan perdebatan.
“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”
(HR. Tirmidzi)
Inti Hikmah
Mutiara ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang salik terletak pada diam yang bijaksana dan ucapan yang terjaga.
Jangan habiskan waktumu untuk berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu hanya menurunkan martabat.
Jangan berlebihan dalam bercanda, karena itu hanya akan menghilangkan kewibawaan.
Jagalah lisan, karena ia adalah cermin hati dan kunci kemuliaan seorang pencari Allah.
Penjelasannya diambil dari Kitab Sajatining Mulyo, Maha Karya: Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pendiri Majelis Tarekat Thaifuriyah Ma'had Thoriqotul Auliya