Senin, 25 Mei 2026

Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة Didalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Abah Raden Syair Langit

 


Khalwat خلوة dan ‘uzlah عزلة


Secara umum, khalwat خلوة berarti menyendiri atau menarik diri dari keramaian. Khalwat juga merujuk pada keadaan diri untuk menyepi, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, melalui amalan-amalan ibadah yang khusus.

Sedangkan uzlah عزلة dalam tasawuf adalah sebuah praktik mengasingkan diri dari keramaian duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Jadi secara tidak langsung, khalwat ataupun uzlah memiliki makna dan tujuan yang sama. Ini bukan sekedar tentang menjauhi manusia, tetapi ini tentang membersihkan hati dari hal-hal yang melalaikan ibadah kepada Allah, dan untuk meningkatkan maqamat perjalanan ruhaniyah kita menuju kepada-Nya.

Secara bahasa, uzlah berarti menarik diri atau mengasingkan diri. Dalam terminologi tasawuf, uzlah adalah tindakan menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Uzlah bukan berarti lari dari tanggung jawab sosial, tetapi lebih kepada mencari waktu dan tempat untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan. 

Uzlah atau (mengasingkan diri) adalah suatu perbuatan yg termasuk disukai Allah. Karena barangsiapa yang dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan yang kelak Allah SWT berikan, dan segera menganggap hina kenikmatan dan semua kelezatan duniawi, yang sebenarnya terus menipu.

Begitu pun seseorang yang berakal akan mengabaikan keindahan dunia, kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan seseorang yang memahami akhirat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran, sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akhirat yang penuh dengan ridha-Nya.

Dalam urusan uzlah, para ulama terbagi tiga saat memandang keutamaannya. Sebagian dari mereka ada yang mengutamakan uzlah dari pada bercampur dengan masyarakat. Sebagian lagi lebih mengutamakan bercampur dengan masyarakat. Sedangkan yang lainnya lagi memilih jalan pertengahan, atau dengan kata lain menentukan kapan ia harus bercampur dengan masyarakat, dan kapan pula ia mesti uzlah. Mereka yang memilih untuk uzlah telah mendasarkan perbuatannya dengan dalil berikut,

Rasulullah saw ngadawuh,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hatinya dan tersembunyi”

HR Muslim)

Sedangkan mereka yang memilih bercampur dengan masyarakat, mendasarkan perbuatannya itu dengan dalil berikut,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang yang bercampur dengan masyarakat dan bersabar menanggung gangguan mereka, itu lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan masyarakat dan tidak bersabar menanggung gangguan mereka”

(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan mereka yang memilih jalan pertengahan, tentu mendasarkan perbuatannya pada kedua dalil di atas, untuk kemudian diambil sebagai kesimpulan yang terbaik. Yaitu memilih kedua hal diatas, lalu di pertimbangkan dengan penuh kesadaran diri. Mereka tidak berat kepada satu diantara kedua pandangan diatas, karena baginya keduanya tidak salah dan mendatangkan manfaat.

Jika seseorang uzlah, maka ia akan mendapatkan manfaat seperti dapat mencurahkan waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, merenung, mengoreksi diri, bermunajat kepada-Nya, serta memikirkan tentang kekuasaan-Nya. Dan semua itu hanya bisa maksimal dilakukan saat ia mau uzlah, atau memisahkan diri dari keramaian manusia.

Selain itu, uzlah juga dapat menyelamatkan diri seseorang dari perbuatan maksiat, yang biasa ia lakukan saat bercampur dengan orang lain. Seperti riya`, gibah, zinah, dan dosa-dosa lainnya. Uzlah juga bisa melepaskan seseorang dari kejahatan manusia, bahkan uzlah dapat pula menjaga diri dari pertikaian dan kerusuhan, atau melindungi Agama dari fitnah dan mara bahaya lainnya. Selain itu, pelaku uzlah juga dapat melepaskan diri dari kejahatan manusia, bahkan mengajak dirinya untuk terus menghilangkan ketamakan dan menjauhkannya dari kebodohan.

“Hati adalah cermin diri. Selama ia bersih dari debu dan karat, maka cahaya Ilahi dapat memantul di atasnya. Dan saat cahaya Ilahi telah memantul dari hati yang suci, tentu jalan kebenaran dapat diketahui. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat kehidupan”

Namun, bercampur dengan masyarakat juga sesuatu yang baik dilakukan. Ini merupakan perbuatan yang dulu terus dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan hingga beliau wafat. Sebagaimana hadist berikut ini,

وَعَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرِيضًا حَتَّى بَلَغَ أَقْصَى الْمَدِينَةِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjenguk orang sakit sampai ke ujung Madinah."

(HR. At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)

Sedulur-sedulur yang diberkahi Allah, dengan mencermati semuanya, maka bercampur dengan masyarakat adalah baik untuk dilakukan, sepanjang ia tidak melalaikan seseorang dari urusan yang menjadi ketentuan-Nya. Namun demikian pula, uzlah pun amatlah baik untuk dilakukan. Terutama di akhir zaman ini, dimana serangan dari tipu daya duniawi terus merangsek masuk ke dalam setiap lini kehidupan. Siapa saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan gemerlapnya kesenangan duniawi. Sehingga jika tidak hati-hati, yang tertinggal hanyalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kian menggunung.

Untuk itu, sudah saatnya kita sering uzlah dengan penuh kesadaran demi kebaikan diri. Cukupkanlah setiap kebutuhanmu agar dapat menjalani kehidupan ini secara normal.

Jangan berlebih-lebihan dalam menuruti setiap keinginan dari hawa nafsu, karena ia cenderung mengajakmu untuk melanggar semua aturan dan ketetapan-Nya.

Kanjeng Nabi Muhammad saw sering melakukan khalwat di gua hiro, begitupun Beliau berperan aktif dalam bersosial di masyarakat. Baginda Nabi mengajarkan kita untuk mengambil jalan tengah, antara uzlah dan bermasyarakat. Jika seandainya Beliau tidak bercampur baur dengan orang lain, pertanyaannya bagaimana Beliau bisa berdakwah?

Oleh karena itu, gunakanlah kedua-duanya. Hal itu selaras juga dengan apa yang diajarkan oleh Guru Agung Kanjeng Syekh Siti Jenar (الشيخ ستي جنر) terkait konsep madya (mengambil jalan tengah) seperti saat kita memandang dunia dan akhirat haruslah seimbang, tidak boleh terlalu condong terhadap salah satunya.

Saat kita sedang bergumul dengan masyarakat, maka fisik kita tetap bersosial, namun hati kita tetap uzlah. Dan saat kita mencari dunia, maka fisik kita tetap berusaha, tapi hati kita tidak tertunduk oleh dunia itu sendiri. Adapun dalam usaha mencari dunia, semuanya dilandasi untuk bekal beribadah kepada Allah SWT.


Sabtu, 23 Mei 2026

Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) Pernah Berkata : "Jalan Para Pencinta Allah Memang Keras Sepi dan Penuh Luka"

 


Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede) pernah berkata:

"Ada jalan yang memang tidak ditakdirkan untuk dipenuhi manusia-manusia lemah.

Jalan ini bukan tempat mencari tepuk tangan, bukan pula tempat memelihara pengkhianat yang datang saat butuh lalu pergi ketika diuji.

Tarekat ini adalah jalan ruhani tingkat tinggi…

jalan sunyi yang hanya mampu dipijak oleh jiwa-jiwa yang sanggup membakar egonya sendiri.

Maka ketika banyak yang pergi, itu bukan tanda jalan ini salah.

Justru itulah bukti… bahwa tidak semua manusia pantas sampai ke maqam yang tinggi.

Karena jalan para pecinta Allah memang keras, sepi, dan penuh luka…

tetapi di situlah lahir manusia-manusia pilihan yang derajat ruhnya berada di atas manusia biasa."


Rabu, 20 Mei 2026

Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit


Wara‘ (الورع) Mahkota Kehati-hatian Ruhani Di Dalam Amalan Tarekat - Kajian Kitab Sajatining Mulyo | Raden Syair Langit

Wara‘ adalah mahkota kebeningan jiwa, cahaya yang menerangi langkah para salik dalam perjalanan menuju Allah SWT. Ia bukan sekedar menjauhi yang haram, tapi juga bersikap waspada terhadap segala yang samar dan syubhat, dan apa pun yang berpotensi menggelapkan hati dan menjauhkan diri dari ridha-Nya.

الوَرَعُ طَرِيقُ الأَبْرَارِ، وَزَادُ السَّالِكِينَ، وَعِصْمَةُ الْمُقَرَّبِينَ

“Wara‘ adalah jalannya orang-orang shalih, bekal para penempuh, dan penjaga bagi mereka yang didekatkan kepada Allah.”

Wara‘ tumbuh dari akar rasa takut dan cinta kepada Allah. Ia bukan karena takut celaan manusia, melainkan karena malu kepada Tuhan Yang Maha Melihat. Hati yang memiliki wara‘ akan lebih memilih lapar daripada kenyang yang syubhat, lebih memilih sepi daripada keramaian yang menyesatkan, dan lebih memilih diam daripada kata-kata yang bisa menodai cahaya hatinya.

Dalam dunia tasawuf, wara‘ bukanlah sikap kaku atau menutup diri dari dunia, melainkan ekspresi dari kehalusan nurani yang telah disucikan. Ia adalah penjaga gerbang tazkiyatun nafs تَزْكِيَةُ النَّفْسِ (penyucian jiwa). Tanpa wara‘, jiwa mudah dikotori oleh kelalaian yang samar dan maksiat yang tersembunyi.

Antara Zuhud dan Wara‘

Zuhud dan wara‘ adalah dua sayap burung ruhani yang terbang menuju langit makrifat. Zuhud adalah sikap meninggalkan cinta dunia karena lebih cinta kepada akhirat, sementara wara‘ adalah penjagaan hati dari segala yang meragukan, meskipun tampak kecil atau sepele.

Bersama-sama, kedua sifat ini menjadi pilar utama dalam tazkiyatun-nafs (تَزْكِيَةُ النَّفْسِ), penyucian jiwa dari kotoran duniawi dan sifat-sifat tercela. Jiwa yang telah mengenal wara‘ akan enggan mencicipi yang tidak jelas asalnya, bahkan meski halal secara zahir, bila hatinya tidak tenang, maka ia tinggalkan demi kebersihan batin.

الوَرَعُ نُورٌ يَتَجَلَّى فِي الْقَلْبِ، فَيَهْدِي صَاحِبَهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْأَقْرَبِ إِلَى اللهِ

“Wara‘ adalah cahaya yang tampak di dalam hati, yang membimbing pemiliknya menuju jalan tercepat menuju Allah.”

مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ، لَا يُوثَقُ بِقَلْبِهِ، وَلَا يُنْتَظَرُ مِنْهُ قُرْبٌ

“Barang siapa tidak memiliki wara‘, maka tak dapat dipercaya hatinya, dan tak diharap darinya kedekatan dengan Allah.”

Wara‘ adalah diam yang penuh cahaya, menahan diri yang penuh kemuliaan, dan kehati-hatian yang melahirkan kedekatan. Ia menempatkan hamba di hadapan Allah dengan keadaan yang bersih, hati yang ringan, dan ruh yang siap menampung limpahan nur Ilahi.


Selasa, 19 Mei 2026

Di Antara Langit, Doa, dan Rahasia Cinta - Hikayat Ruhani di Balik Pembuatan Lagu “Mahabbatus Samawiyyah” Maha Karya Raden Syair Langit

 


Di Antara Langit, Doa, dan Rahasia Cinta - Hikayat Ruhani di Balik Pembuatan Lagu “Mahabbatus Samawiyyah” Maha Karya Raden Syair Langit


Di zaman ketika cinta sering dipermainkan oleh nafsu, dipertukarkan oleh kepentingan, dan dipermurah oleh kefanaan dunia, lahirlah sebuah karya yang tidak berasal dari keramaian manusia, melainkan dari kesunyian ruh yang sedang berbicara kepada Tuhannya.

Karya itu bernama:

Mahabbatus Samawiyyah — cinta yang berasal dari langit.


Ia bukan sekadar lagu.

Bukan hanya rangkaian nada dan lirik.

Tetapi sebuah doa yang hidup. Sebuah munajat panjang yang lahir dari kedalaman hati, dari air mata, dari penantian, dari keyakinan, dan dari penghambaan seorang hamba kepada Rabb-nya.


Pada malam-malam Ramadhan yang penuh cahaya, tepat pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H, doa ini mulai disusun oleh Raden Syair Langit. Bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, melainkan sebuah ilham ruhani yang diyakini sebagai petunjuk dan kelembutan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Di dalamnya terdapat pengakuan seorang pecinta yang memahami bahwa cinta sejati tidak boleh menjauhkan manusia dari Tuhannya. Bahwa mahabbah yang suci bukanlah cinta yang membakar akal dan melalaikan ibadah, melainkan cinta yang justru menghidupkan dzikir, menumbuhkan kesabaran, melembutkan jiwa, dan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb semesta alam.


“Jadikan cintaku kepadanya sebagai ibadah…

jadikan rinduku kepadanya sebagai dzikir…”


Kalimat itu bukan hanya lirik.

Ia adalah keadaan jiwa.

Ia adalah maqam rasa yang tidak semua manusia mampu memahaminya.


Dalam Mahabbatus Samawiyyah, cinta digambarkan bukan sebagai kepemilikan, melainkan titipan langit yang harus dijaga kesuciannya. Sebab cinta yang berasal dari Allah tidak akan pernah meminta manusia melupakan Allah. Dan hati yang benar-benar mencintai, pada akhirnya akan kembali bersujud.


Lagu ini juga menjadi saksi bahwa terkadang Allah menyimpan rahasia-Nya di dalam hati seseorang begitu lama, tanpa suara, tanpa penjelasan, namun tetap hidup dan tumbuh di dalam ruhnya. Sebuah rasa yang tidak dipaksakan, tetapi ditanamkan. Tidak direncanakan, tetapi dihadirkan.


Karena itulah Mahabbatus Samawiyyah tidak dibangun di atas syahwat dunia, melainkan di atas doa, kesabaran, keyakinan, dan keridhaan terhadap takdir Allah.


Ia adalah kisah tentang seseorang yang mencintai dengan cara bersujud.

Menunggu dengan cara berdoa.

Dan berharap dengan cara bertawakal.


Semoga karya ini menjadi penyejuk bagi hati-hati yang sedang terluka. Menjadi pengingat bagi para pecinta agar tidak menjadikan cinta lebih tinggi daripada Tuhannya. Dan menjadi saksi bahwa di antara jutaan cinta yang ada di muka bumi, masih ada cinta yang lahir dari langit dan kembali menuju langit.


Karya : Raden Syair Langit (Abah Leuweunggede)

Syair Langit Studio




Du’a ul Mahabbatis Samawiyyah  دُعَاءُ الْمَحَبَّةِ السَّمَاوِيَّةِ


بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

يَا ٱللَّهُ

Artinya: Wahai Allah.

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

Artinya: Engkaulah yang menanamkan rasa di dalam dada.

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

Artinya: Dan Engkaulah yang menumbuhkan cinta tanpa suara.

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

Artinya: Dan Engkaulah yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini.

يَا رَبِّ

Artinya: Wahai Tuhanku.

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

Artinya: Sesungguhnya cinta yang Engkau titipkan di dalam hatiku ini bukan sekadar keinginan dariku.

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

Artinya: Tetapi ia adalah anugerah dari-Mu yang Engkau pelihara dalam ruhku.

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

Artinya: Maka jangan Engkau jadikan ia sia-sia di sisi-Mu.

يَا ٱللَّهُ

Artinya: Wahai Allah.

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

Artinya: Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan keyakinan yang sempurna.

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

Artinya: Agar Engkau satukan aku dengannya dalam ikatan yang Engkau ridai.

وَاكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

Artinya: Dan tuliskan namaku di sisinya sebagai pasangan di dunia dan di surga yang Engkau pilihkan untuknya.

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

Artinya: Dan lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan dari-Mu.

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

Artinya: Dan dekatkan langkah-langkah kami dalam jalan yang Engkau berkahi.

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

Artinya: Wahai Allah, Wahai Yang Paling Mencintai di antara para pecinta, 

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

Artinya: Jadikan cintaku kepadanya sebagai ibadah.

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

Artinya: Dan jadikan rinduku kepadanya sebagai dzikir.

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

Artinya: Dan jadikan penantianku kepadanya sebagai kesabaran yang Engkau beri pahala atasnya.

يَا رَبِّ

Artinya: Wahai Tuhanku.

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

Artinya: Jangan Engkau jadikan cintaku kepadanya lebih besar daripada cintaku kepada-Mu.

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

Artinya: Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hatiku selamanya.

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

Artinya: Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada-Mu.

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

Artinya: Dan jangan Engkau jadikan dia sebab yang melalaikanku dari-Mu.

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

Artinya: Aku yakin kepada-Mu.

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

Artinya: Dan aku ridha atas ketetapan-Mu.

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

Artinya: Dan aku berserah diri kepada kekuasaan-Mu.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

Artinya: Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

آمِينَ

Artinya: Kabulkanlah.


Doa mahabah karya abah raden syair langit

(Doa hasil petunjuk Allah, dan disusun pada hari sabtu 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)


Mahabbatus Samawiyyah مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ


Judul: Mahabbatus Samawiyyah (مَحَبَّةٌ سَمَاوِيَّةٌ)

Cipta: Raden Syair Langit

Lagu ini dibuat pada: 28 Februari 2026 / 10 Ramadhan 1447 H)

“Cinta yang berasal dari langit, yaitu cinta yang suci dan bersifat ilahiah.”


(Intro)

(Spoken Word)

يَا ٱللَّهُ

أَنْتَ ٱلَّذِي زَرَعْتَ ٱلشُّعُورَ فِي ٱلصُّدُورِ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي أَنْبَتَّ ٱلْمَحَبَّةَ بِلَا صَوْتٍ

وَأَنْتَ ٱلَّذِي حَفِظْتَ سِرَّ ٱلْقَلْبِ طُولَ هَٰذِهِ ٱلْمُدَّةِ

يَا رَبِّ

إِنَّ هَٰذِهِ ٱلْمَحَبَّةَ ٱلَّتِي أَوْدَعْتَهَا فِي قَلْبِي لَيْسَتْ مُجَرَّدَ رَغْبَةٍ مِنِّي

بَلْ هِيَ عَطِيَّةٌ مِنْكَ حَفِظْتَهَا فِي رُوحِي

فَلَا تَجْعَلْهَا عِنْدَكَ ضَائِعَةً

يَا ٱللَّهُ

إِنِّي أَسْأَلُكَ بِيَقِينٍ تَامٍّ

أَنْ تَجْمَعَنِي بِهَا فِي رِبَاطٍ تَرْضَاهُ

وَٱكْتُبِ ٱسْمِي عِنْدَهَا زَوْجًا فِي ٱلدُّنْيَا وَفِي ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِي ٱخْتَرْتَهَا لَهَا

وَلَيِّنْ قَلْبَهَا لِي بِلُطْفٍ مِنْكَ

وَقَرِّبْ خُطَانَا فِي طَرِيقٍ بَارَكْتَهُ

يَا ٱللَّهُ يَا أَحَبَّ الْمُحِبِّينَ

ٱجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا عِبَادَةً

وَٱجْعَلْ شَوْقِي إِلَيْهَا ذِكْرًا

وَٱجْعَلِ ٱنْتِظَارِي لَهَا صَبْرًا تُثِيبُنِي عَلَيْهِ

يَا رَبِّ

لَا تَجْعَلْ مَحَبَّتِي لَهَا أَعْظَمَ مِنْ مَحَبَّتِي لَكَ

وَكُنْ أَنْتَ ٱلْأَعْلَى فِي قَلْبِي دَائِمًا

وَٱجْعَلْهَا سَبَبًا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ

وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا يُلْهِينِي عَنْكَ

أَنَا مُوقِنٌ بِكَ

وَرَاضٍ بِقَضَائِكَ

وَمُسْتَسْلِمٌ لِقُدْرَتِكَ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

آمِينَ


(Verse 1)

Wahai Allah

Engkau yang menanamkan rasa di dalam dada

Engkau yang menumbuhkan cinta tanpa suara

Engkau yang menjaga rahasia hati sepanjang waktu ini

(Verse 2)

wahai Tuhanku

sungguh cinta yang Kau titipkan di dalam hatiku

bukan sekedar keinginan pada diriku

tapi ini anugerah yang Kau pelihara di dalam ruhku

(Reff)

Wahai Allah

sesungguhnya aku memohon kepada-Mu

agar Engkau satukan aku dengannya

dalam ikatan yang Engkau ridoi

dan tuliskan

namaku di sisinya sebagai pasangan

di dunia dan abadi sampai di surga

kau pilihkan aku sebagai kekasih untuknya

(Intro)

(Verse 3)

Wahai Allah

lembutkan hatinya untukku dengan kelembutan-Mu

Dekatkan langkah kami dalam jalan yang Kau berkahi

Wahai Allah Yang Paling Mencintai di antara para pencinta

(Verse 4)

Jadikanlah

cintaku kepadanya sebagai ibadah

Jadikan rinduku padanya sebagai dzikir

Jadikan penantianku kesabaran yang Engkau beri pahala

(Reff)

Wahai Tuhanku.

Jangan Engkau jadikan cintaku padanya

lebih besar daripada cintaku kepada-Mu

Dan jadilah Engkau Yang paling tinggi di dalam hati

Dan jadikan dia sebab yang mendekatkanku kepada diri-Mu

jangan Engkau jadikan dia melalaikanku

Aku yakin pada-Mu

Dan aku rido atas ketetapan-Mu


Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip)

  Mira Maria feat Syair Langit Studio - Ada Rindu Ada Sayang (Official Video Clip) Syair Langit Studio ( Music, Film, Vlog, Entertainment ) ...